• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Urbanisasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Urbanisasi"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

Semakin beragam penggunaan lahan di suatu wilayah perkotaan, semakin tinggi interaksinya, maka semakin rendah pula konsumsi bahan bakarnya. Pola sektarian: Pengelompokan penggunaan lahan di kota menyebar dari pusat hingga pinggiran kota.

Gambar 3.  Perencanaan Transportasi Empat Tahap  Sumber: Miro, 2005
Gambar 3. Perencanaan Transportasi Empat Tahap Sumber: Miro, 2005

Pembebanan Lalu lintas (Trip Assignment)

Jika menggunakan angkutan umum, jenis apa yang akan digunakan (angkot, bus, kereta api, pesawat, kapal laut);

Pendekatan Sistem Untuk Perencanan Transportasi

Konsep struktur Kota

Pola ini didasarkan pada satu inti yang kemudian meluas sehingga zona pertumbuhan masing-masing meluas secara paralel secara bertahap dalam bentuk kolonisasi menuju zona terluar. Pertumbuhan perkotaan dimulai dari suatu pusat, yang kemudian berkembang dengan pusat-pusat tambahan yang sifatnya lebih kompleks.

Konsep Permodelan Distribusi Perjalanan

Transportasi Berkelanjutan

Ditegaskan pula oleh Sutip (2011) bahwa transportasi berkelanjutan harus memenuhi tiga pilar utama, yaitu pilar efisiensi, pilar keadilan, dan pilar lingkungan hidup. Menurut Kapoen, dalam mencapai transportasi berkelanjutan harus diintegrasikan dengan rencana penggunaan lahan, sehingga konsep keberlanjutan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat tercapai.

Gambar 6. Tiga Pilar Transportasi berkelanjutan
Gambar 6. Tiga Pilar Transportasi berkelanjutan

Strategi Traffic Demand Management (TDM)

Transportasi dan Emisi CO 2

Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuhan, jamur dan mikroorganisme dalam proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Sumber yang berasal dari aktivitas manusia antara lain pembakaran bahan bakar fosil (70-90%) sebagai sumber energi dan konversi penggunaan lahan (10-30%). Hal ini juga membenarkan informasi dari IPCC (2007) bahwa sumber utama produksi gas CO2 berasal dari aktivitas manusia.

Faktor emisi dapat diartikan sebagai berat total suatu polutan tertentu yang dihasilkan pada proses pembakaran dalam jangka waktu tertentu. Dari definisi tersebut diketahui bahwa jika faktor emisi pencemar diketahui, maka banyaknya pencemar yang keluar dari proses pembakaran dapat diketahui dalam kuantitas per satuan waktu. Dalam kebanyakan kasus, faktor ini merupakan rata-rata dari seluruh data kualitas udara yang tersedia dan umumnya diasumsikan sebagai rata-rata yang mewakili dalam jangka waktu yang lama untuk berbagai kategori sumber.

Rata-rata jumlah kendaraan setiap jenis jalan yang akan dianalisis adalah jumlah rata-rata kendaraan yang disurvei untuk setiap jenis jalan kemudian dikonversi ke smp dengan cara mengalikan jumlah kendaraan yang disurvei dengan faktor konversi. 46 Nilai faktor emisi menurut jenis bahan bakar dan jenis kendaraan dapat dilihat pada tabel sebelumnya. Mengenai konsumsi bahan bakar disesuaikan dengan jenis kendaraan, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Faktor Emisi Jenis Bahan Bakar dari Kendaraan  Tipe
Tabel 5. Faktor Emisi Jenis Bahan Bakar dari Kendaraan Tipe

Effek Gas Rumah Kaca (Green House Gas Effect)

Konsep Konsumsi BBM

Energi fosil merupakan salah satu jenis energi yang tidak terbarukan, energi jenis ini dikenal dengan bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan cadangan bahan bakar ini sifatnya terbatas, karena merupakan energi yang tidak terbarukan sehingga lama kelamaan tidak dapat mencukupi kebutuhan atau bahkan habis sama sekali (Departemen Perhubungan, 2008). Haryono (2006) menjelaskan selain perlunya penghematan konsumsi bahan bakar, juga perlu adanya inovasi pada bahan bakar terbarukan.

Konsumsi bahan bakar pada operasional kendaraan mendominasi seluruh konsumsi bahan bakar di semua sektor transportasi. Indonesia sendiri, jika pada tahun 1993 konsumsi bahan bakarnya sebesar 200 juta barel minyak (BOE), pada tahun 2003 meningkat dua kali lipat menjadi 400 juta BOE (Kementerian ESDM, 2004). Departemen Perhubungan Darat (2006) menyatakan bahwa beberapa hal yang mempengaruhi besarnya konsumsi bahan bakar di jalan raya adalah karakteristik kendaraan, karakteristik jalan, dan aspek pengguna kendaraan.

Jika konsumsi bahan bakar dianggap berbanding lurus dengan emisi gas buang kendaraan bermotor, maka konsumsi bahan bakar meningkat pada kecepatan rendah atau terjadi kemacetan. Pengaruh sistem transportasi perkotaan terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di wilayah ibu kota dilakukan dengan menggunakan pendekatan model yang terdiri dari 3 komponen model yaitu Tipologi Kota (y1) dan Sistem Transportasi Kota (y2) serta konsumsi bahan bakar ( kamu3). Dari pemodelan di atas, Handajani, 2011 menjelaskan bahwa pengaruh sistem transportasi kota terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Metropolitan sebesar 70%, sedangkan di kota sebesar 14,2%, dan saat ini mengkonsumsi 15,67% disebabkan oleh hal tersebut. . terhadap pengaruh jumlah penduduk, PDRB, jumlah kendaraan dan panjang jalan.

Parameter Faktor dan Variabel Penting yang Berpengaruh

Trend Iklim di Kota Semarang

Perhitungan Gas Rumah Kaca (GRK) di Kota Semarang

Perhitungan emisi dengan metode bottom-up bertujuan untuk mengurangi tingkat emisi CO2 pada kegiatan transportasi berupa konsumsi bahan bakar kendaraan. Keterbatasan informasi ini tidak dapat mewakili jumlah kendaraan, lama perjalanan, topografi jalan, tingkat kemacetan dan sistem lalu lintas yang mempengaruhi jumlah emisi CO2. 59 Oleh karena itu, tujuan studi ini adalah untuk memungkinkan analisis mendalam mengenai emisi CO2 dari sektor transportasi dengan informasi yang lebih akurat dan mendalam.

Beberapa referensi terkait transportasi dan emisi CO2 dapat dirangkum dalam tabel berikut dengan beberapa penjelasannya. Morrow et.al., Analisis Kebijakan 2009 tentang Pengurangan Penggunaan Minyak dan Emisi Gas Karbon dari Sektor Transportasi AS. Nocera dan Cavallaro, 2011 Kebijakan efektif untuk emisi CO2 di sektor transportasi Takeshita, 2012 Menilai manfaat mitigasi CO2 dalam emisi polusi udara.

Lu et.al., 2009 Peningkatan jumlah kendaraan, kebutuhan energi dan emisi CO2 sektor transportasi di Taiwan. Brondfield, dkk, 2011 Pemodelan dan validasi inventarisasi emisi CO2 jalan pada skala regional perkotaan. Zuo et.al., 2013 Model transportasi agregat besar di Inggris dan Wales: Mencari inisiatif untuk mengurangi emisi CO2.

Pemanasan Global

63 Perubahan iklim merupakan fenomena peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer akibat berbagai aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, perubahan penggunaan lahan dan hutan, serta aktivitas pertanian dan peternakan. Salah satu gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global dan perubahan iklim adalah CO2. Susandi, 2004, mengatakan bahwa saat ini diperkirakan konsentrasi CO2 di atmosfer telah mengakibatkan lebih dari 50% total efek rumah kaca.

Sedangkan di Indonesia, total gas CO2 di atmosfer tidak kurang dari 70 juta metrik ton karbon. Sedangkan Kobert, 2006 melaporkan bahwa pada musim panas tahun 2002 terjadi pencairan es di Kutub Utara, termasuk wilayah terdekatnya yaitu Greenland yang 80% wilayahnya tertutup oleh es. Sementara itu, direktur Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (NCSR, Paris, Perancis) Jean-Claude Gascard mengungkapkan penelitian bahwa pada musim panas tahun 2008 pencairan es di Kutub Utara dan Greenland meningkat, dan ditemukan faktanya dalam penelitian. di Arktik selama 16 bulan sehingga 20% lapisan es terakhir mencair dalam 20 tahun.

Menurut para ilmuwan juga menyatakan bahwa dengan mencairnya es di Kutub Utara dan mencairnya Greenland, maka kenaikan permukaan laut bisa mencapai 7 meter. Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH, 2010) kenaikan permukaan laut hanya 1 meter dapat menyebabkan Indonesia kehilangan 346.808 hektar sawah dan menyebabkan petani kehilangan pekerjaan dan penurunan produksi sekitar 2.080.848 ton.

Perubahan Iklim

BMKG (2012) menyatakan bahwa kondisi iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh keseimbangan panas yang terjadi di bumi itu sendiri. Aliran panas dalam sistem iklim bumi saat ini bekerja karena adanya proses radiasi, dan sumber radiasi utama adalah matahari. . Dari seluruh jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi, sepertiganya dipantulkan ke luar angkasa oleh atmosfer dan permukaan bumi. Dua pertiga dari radiasi yang tidak dipantulkan, sekitar 240 Watt/m2 energi, diserap oleh permukaan bumi dan atmosfer.

Untuk menjaga keseimbangan panas, bumi memancarkan kembali panas yang diserap dalam bentuk radiasi gelombang pendek. Sebagian radiasi gelombang pendek yang dipancarkan bumi diserap oleh gas-gas tertentu di atmosfer yang disebut gas rumah kaca. Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan suhu bumi relatif hangat rata-rata 14oC, tanpa efek rumah kaca suhu bumi hanya berkisar -19oC.

Gas rumah kaca lainnya adalah metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), ozon (O3) dan gas-gas lainnya dalam jumlah yang lebih kecil.Dengan demikian, konsep pemanasan global pada dasarnya adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer. Berdasarkan pengamatan selama 157 tahun terakhir dari IPCC (2007), menunjukkan bahwa suhu permukaan bumi secara global mengalami peningkatan sebesar 0,05oC/dekade. Dampak pemanasan juga terlihat dengan meningkatnya suhu laut, naiknya permukaan air laut, mencairnya es, dan berkurangnya hujan salju di belahan bumi utara.

Model Matematis perhitungan emisi CO 2

  • Motor Vehicle Emission Inventory (MVEI) : model deskripsiand paramaters
  • Model Penggunaan Energi dan Emisi CO 2
  • Model Mobile Combustion
  • Model Mobile 6

ARB, 1996 menjelaskan bahwa versi MVE17 G yang digunakan diluncurkan pada tahun 1996 dan merupakan versi pertama dari model estimasi emisi CO2. Selain itu juga memperkirakan jumlah emisi CO2 dan bahan bakar. CF: kandungan karbon dalam bahan bakar (g) CCO2: emisi karbon sebagai CO2 (g) Cco: emisi karbon sebagai CO (g) CVOCs: emisi karbon sebagai VOC (g). EF i,j,k : Faktor emisi panas, kategori kendaraan tipe i j, tipe jalan tipe k. Model konsumsi energi dan emisi CO2.

Persamaan model penentuan besarnya konsumsi energi dan emisi CO2 sektor penumpang perkotaan yang digunakan dalam hal ini adalah sebagai berikut: a) i,j melambangkan moda perjalanan i dengan bahan bakar j,. IPCC, 2007, menggunakan Mobile Combustion sebagai model udara dengan perhitungan matematis untuk memprediksi emisi CO2. EFa = Faktor emisi CO2 tiap jenis bahan bakar (kg/TJ) Emisi = total emisi CO2 (kg).

Jumlah bahan bakar diambil dari jumlah total bahan bakar yang ada datanya di kota semarang, dan datanya diambil dari PT persero pertamina di semarang. Faktor emisi CO2 setiap jenis bahan bakar (kg/TJ) diperoleh dari jurnal yang diterbitkan berdasarkan IPCC (2007). ERn = Faktor emisi CO2 tiap jenis kendaraan bermotor (g/l) e = Emisi CO2 untuk 1 liter kendaraan (smp.kg/l).

Gambar 10.  Skema Model perhitungan CO 2
Gambar 10. Skema Model perhitungan CO 2

Kota yang kompak (Compact City)

Hipotesis pengelolaan emisi CO 2 dan transportasi berkelanjutan

Zahabi et.al., 2012 Perhitungan emisi CO2 yang merupakan pengaruh karakteristik akses dan mobilitas perkotaan terhadap emisi GRK di tingkat perumahan dibandingkan dengan pengaruh penggunaan teknologi ramah lingkungan. Ong et.al., 2011 mengulas penggunaan model COPERT 4 dan kemungkinan strategi mitigasi emisi, dimana hasilnya menjelaskan bahwa mobil pribadi merupakan penyumbang utama emisi CO2, No2 dan CO, sedangkan kendaraan bermotor menyumbang emisi hidrokarbon yang besar. . Strategi promosi penggunaan angkutan umum dapat menurunkan emisi CO2 sebesar 7%, sedangkan strategi lain yang ditawarkan adalah pembaharuan armada dan promosi penggunaan kendaraan bertenaga gas, yang akan meningkatkan pengurangan emisi di Malaysia.

Dimana E adalah emisi CO2 harian dan I adalah permukaan kedap air dalam %, P adalah kepadatan penduduk (per km2) dan WR adalah volume lalu lintas dalam km2. Hasil dari kedua metode ini berbeda dalam hal pemetaan untuk menggambarkan hasil pemodelan yang ada. UE menggunakan model CFD untuk mengurangi risiko emisi karbon dari sektor transportasi dengan CCS.

Penurunan emisi ini merupakan kombinasi kebijakan pemerintah yang dapat memberikan perubahan signifikan terhadap laju pertumbuhan kendaraan bermotor.

Gambar

Gambar 3.  Perencanaan Transportasi Empat Tahap  Sumber: Miro, 2005
Gambar 4. Bangkitan dan tarikan pergerakan  Sumber: Wells, 1975
Tabel 3. Matriks asal Tujuan (MAT)
Gambar 5. Visualisasi Definisi Transportasi yang berkelanjutan
+7

Referensi

Dokumen terkait

CAPAIAN PENGURANGAN EMISI GRK SEKTORAL TERHADAP TARGET CM1 DI TAHUN2019 Dari tabel tersebut diketahui bahwa sektor energi dan pertanian telah dapat memenuhi target pengurangan emisi