10 BAB II
KONTEKS KONSEPTUAL
2.1. Kajian Terdahulu
Kajian terdahulu merupakan tinjauan penelitian terdahulu yang berfungsi sebagai dasar acuan peneliti dalam melakukan penelitian. Bagi peneliti, kajian terdahulu sangat diperlukan guna memahami penelitian sebelumnya serta sebagai acuan peneliti dalam mengkaji lebih jauh sudut pandang para peneliti terdahulu.
Studi penelitian terdahulu melalui jurnal-jurnal penelitian dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti yang akan melakukan penelitiam. Berikut ini merupakan kajian terdahulu peneliti, diantaranya :
1. Sri Wahyuning Astuti, Universitas Mercu Buana Jakarta, jurnal.fkip.unila.ac.id, Jurnal Promedia, Volume 03, Nomor 02, 2017:236-251, Pendidikan Seks pada Anak Taman Kanak-kanak Melalui Metode Permainan Ular Tangga “Aku Anak Berani” (Studi Deskripsi Komunikasi Interpersonal Anak dalam Bermain Ular Tangga “Aku Anak Berani”).
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penanaman pemahaman pendidikan seksual yang dilakukan oleh lingkungan pendidik. Guru sebagai pendidik, diharapkan dapat memberikan pemahaman seksual kepada anak didik dengan menggunakan pendekatan yang benar-benar dapat dipahami oleh usia anak- anak diantaranya dengan menggunakan permainan ular tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dapat diperoleh melalui wawancara, rekaman, dokumentasi, dan lain sebagainya. Analisis data pada
11
penelitian ini menggunakan triangulasi, selain melakukan wawancara dengan informan, juga dilakukan observasi terlibat. Hasil penelitian in menunjukkan bahwa pendidikan seksual terhadap anak TK belum diberikan secara optimal selain karena keterbatasan pemahaman maupun pola komunikasi guru, fasilitas yang ada juga kurang mendukung.
2. Hestutyani Putri Sholicha, Siti Fatonah dan Muhammad Edy Susilo, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, jurnal.upnyk.ac.id, eJournal Ilmu Komunikasi, Volume 13, Nomor 03, 2015: 224-233, Pola Komunikasi Antara Guru dan Murid Dalam Menyampaikan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengikut sertakan Taman Kanak-Kanak sebagai Lembaga Pendidikan dengan memberikan pendidikan seks bagi anak usia dini. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dan metode penelitian deskriptif, di mana metode ini menitikberatkan pada observasi. Analisis data secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk uraian yang disusun secara detail dan sistematis. Dari hasil penelitian diketahui bahwa, dalam proses pembelajaran materi pendidikan seksual antara guru dengan siswa di TK Puspita Bima I menggunakan proses komunikasi secara kelompok dan secara interpersonal. Proses komunikasi secara kelompok dilakukan pada saat guru menerangkan materi di dalam kelas, pada saat yang sama terjadi pula komunikasi interpersonal antarasiswa dengan siswa. Selain itu komunikasi interpersonal juga terjadi pada saat toilet training yang sifatnya sangat pribadi.
12
3. Muhammad Yasser Harrits Guntur, Universitas Telkom Bandung, openlibrary.telkomuniversity.ac.id, e-Proceeding of Management, Volume 02, Nomor 01, 2015: 109-119, Komunikasi Interpersonal Antara Guru Dan Murid Tk Tentang Pendidikan Seks Usia Dini (Studi Kasus di TK Islam Darul Hikam Bandung).
Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana pendidikan seks usia dini diberikan kepada anak sebagai salah satu bentuk tindakan preventif yang dilakukan oleh TK sebagai lembaga formal yang menempa anak pada saat mereka berusia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dimana pengambilan data dilakukan dengan cara melakukan observasi pastisipasi pasif selama sebulan kurang dan wawancara semi terstruktur kepada 5 orang Informan yang berkaitan dengan penelitian ini, dimana 4 orang merupakan informan utama, dan 1 orang informan sebagai informan tambahan. Hasil penelitian jika dilihat mulai dari bentuk pesan yang disampaikan dan diterima, serta saluran komunikasi yang digunakan, proses komunikasi pada toilet training dan materi aku terjadi secara primer, dan sirkular, dimana terjadi umpan balik dari murid kepada guru yang menyebabkan terjadinya proses komunikasi yang baru.
4. Trinita Anggraini, Skripsi 2017, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Pendidikan Seks Untuk Anak Usia 4-5 Tahun Di PAUD IT Qurrota A’yun Kota Bandar Lampung.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan seks pada anak usia dini di PAUD IT Qurrota A’yun Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data yang diperoleh diperiksa keabsahan datanya dengan menggunakan triangulasi dan dianalisis dengan metode
13
analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) Perencanaan pendidikan seks dilakukan dengan merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan materi pembelajaran, dan memilih kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. 2) Pelaksanaan pendidikan seks dilakukan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada anak dan guru, strategi pembelajaran tematik terpadu, serta menggunakan metode bercerita, diskusi atau tanya jawab, menggambar, bermain permainan, bernyanyi, syair, dan nonton bareng dengan berbagai media pembelajaran. 3) Faktor pendukung adalah kesiapan guru, sedangkan faktor penghambatnya adalah kemampuan guru yang berbeda-beda.
5. Nurlela, Skripsi 2019, Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, Universitas BSI Bandung. Strategi Komunikasi Pendidikan Seks Pada Anak (Studi Deskriptif Strategi Komunikasi Guru Untuk Mencegah Terjadinya Pelecehan Seksual Melalui Pendidikan Seks Usia Dini Di TK Telkom Buah Batu).
Tujuan penelitian berdasarkan maraknya kasus kekerasan/pelecehan seksual pada anak dibawah umur. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh peneliti adalah TK Telkom Buah Batu berupaya menerapkan pendidikan seks pada anak melalui berbagai program kegiatan ditunjang oleh beberapa fasilitas yang disediakan. Proses komunikasi dengan anak selain menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, metode dan media turut serta menunjang pelaksanaan pembelajaran tersebut. Yang dimana didalam prosesnya ditemukan beberapa hambatan serta cara mengatasi masalah tersebut.
14 Tabel II.1
Matriks Perbandingan Penelitian
Peneliti Judul Instansi/Tahun Tujuan Metode Teori Hasil Persamaan Perbedaan
Sri
Wahyuning Astuti
Pendidikan Seks pada Anak Taman Kanak-kanak Melalui Metode Permainan Ular Tangga “Aku Anak Berani” (Studi Deskripsi
Komunikasi
Interpersonal Anak dalam Bermain Ular Tangga “Aku Anak Berani”).
Universitas Mercu Buana
Jakarta/2017 Volume 03, Nomor 02, 2017: 236-251
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penanaman pemahaman
pendidikan seksual yang dilakukan oleh lingkungan pendidik menggunakan permainan ular tangga.
Kualitatif Deskriptif
- Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pendidikan seksual terhadap anak TK belum diberikan secara optimal, selain karena
keterbatasan pemahaman maupun pola komunikasi guru, fasilitas yang ada juga kurang mendukung.
Persamaannya adalah sama- sama meneliti tentang pendidikan seksual pada anak
dilingkungan sekolah.
Metode pembelajaran pendidikan seksual diterapkan melalui permainan
“ular tangga”.
15 Hestutyani
Putri Sholicha, Siti Fatonah, Muhammad Edy Susilo.
Pola Komunikasi Antara Guru dan Murid Dalam Menyampaikan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini.
Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran”
Yogyakarta/2015 Volume 13, Nomor 03, 2015: 224-233
Pada penelitian ini bertujuan untuk mengikut sertakan Taman Kanak- Kanak sebagai Lembaga
Pendidikan dengan memberikan pendidikan seks bagi anak usia dini.
Kualitatif Deskriptif
- Dari hasil penelitian diketahui bahwa, dalam proses
pembelajaran materi
pendidikan seksual antara guru dengan siswa di TK Puspita Bima I menggunakan proses
komunikasi secara kelompok dan secara interpersonal.
Metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah.
Penelitian ini meneliti mengenai pola komunikasinya, sedangkan peneliti mengenai strategi komunikasi.
Muhammad Yasser Harrits Guntur
Komunikasi Interpersonal Antara Guru Dan Murid Tk Tentang Pendidikan Seks Usia Dini (Studi
Universitas Telkom
Bandung/2015 Volume 02, Nomor 01, 2015: 109-119
Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana pendidikan seks usia dini diberikan kepada anak sebagai
Studi Kasus
- Hasil penelitian jika dilihat mulai dari bentuk pesan yang
disampaikan dan
Penelitian ini sama-sama dilakukan dilingkungan sekolah.
Penelitian ini dilakukan di lokasi yang berbeda.
16 Kasus di TK Islam
Darul Hikam Bandung).
salah satu bentuk tindakan preventif yang dilakukan oleh TK sebagai lembaga formal yang
menempa anak pada saat usia dini.
diterima, serta saluran komunikasi yang digunakan, proses
komunikasi pada toilet training dan materi aku terjadi secara primer, dan sirkular, dimana terjadi umpan balik dari murid kepada guru yang
menyebabkan terjadinya proses komunikasi yang baru.
Trinita Anggraini
Pendidikan Seks Untuk Anak Usia 4- 5 Tahun Di PAUD
Universitas Lampung/2017
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
Kualitatif Deskriptif.
Model Interaktif Miles dan Huberman
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
Penelitian ini menggunakan media sebagai
Penelitian ini mengkaji mengenai
17 IT Qurrota A’yun
Kota Bandar Lampung.
pelaksanaan pendidikan seks pada anak usia dini di PAUD IT Qurrota A’yun Bandar Lampung.
pendidikan seks menggunakan pendekatan pembelajaran metode bercerita, diskusi atau tanya jawab, menggambar, bermain,
bernyanyi, syair, dan nonton bareng dengan berbagai media pembelajaran.
Faktor pendukung adalah kesiapan guru, faktor penghambatnya adalah
kemampuan guru, anak yang tertutup, dan
metode pembelajaran.
faktor penghambat dan faktor pendukung guru dalam memberikan pendidikan seks usia dini.
18 kesadaran dari
orang tua atau wali.
Nurlela Strategi Komunikasi
Pendidikan Seks Pada Anak (Studi Deskriptif Strategi Komunikasi Guru Untuk Mencegah Terjadinya
Pelecehan Seksual Melalui Pendidikan Seks Usia Dini Di TK Telkom Buah Batu).
Universitas BSI Bandung/2019
Tujuan dari penelitian berdasarkan maraknya kasus kekerasan/pelecehan seksual pada anak dibawah umur, dapat dicegah melalui penerapan pendidikan seks sejak usia dini melalui lingkungan sekolah.
Studi Deskriptif
Teori
Konstruktivisme
Hasil penelitian menunjukkan strategi komunikasi terbentuk karena perencaan pesan menggunakan metode dan media. Lalu di dalam proses perencanaan pesan terdapat respon dan hambatan.
Selain itu anak memotivasi tindakan yang diberikan guru dengan cara mengaplikasikan secara eksplisit.
Persamaan dari penelitian ini adalah sama- sama ingin mengetahui pendidikan seksual usia dini
dilingkungan sekolah.
Perbedaan penelitian ini ada di objek dan strategi komunikasi yang berbeda dengan peneliti sebelumnya.
19
2.2. Kajian Literatur
2.2.1. Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi antarpribadi merupakan suatu proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, seperti yang dinyatakan R. Wayne Pace (1979) dalam Cangara (2006:31) yang menyatakan bahwa,
“Interpersonal communication is communication involving two or more people in a face to face setting.” Terjemahan (Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang melibatkan dua orang atau lebih dalam pengaturan tatap muka.)
Sedangkan menurut Iriantara, “Komunikasi, secara sederhana bisa kita artikan, sebagai proses pertukaran pesan antara komunikator dan komunikan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan antarpribadi dapat diartikan sebagai “berhubungan dengan atau melibatkan relasi personal atau sosial yang mengembangkan sistem-sistem ekspektasi bersama, pola-pola keterikatan emosional, dan cara-cara penyesuaian sosial”. Apabila dipadukan, kedua kata itu dalam istilah komunikasi antarpribadi maka bisa diartikan sebagai proses pertukaran pesan antara komunikator dan komunikan untuk mengembangkan sistem ekspektasi bersama, pola-pola keterikatan secara emosional, dan cara-cara penyesuaian sosial”. (2008:1.7) Sebagaimana pendapat masing-masing para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi antarpribadi merupakan suatu proses penyampaian pesan mengenai pendidikan seks usia dini antara guru dan murid yang memiliki tujuan preventif seperti mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak. Menurut sifatnya, komunikasi antarpribadi terbagi menjadi dua bagian, yaitu komunikasi diadik dan komunikasi kelompok kecil. Jika komunikasi diadik berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka yang terjadi melalui percakapan, dialog, dan wawancara, contohnya ketika guru mengajak ngobrol anak murid sekaligus memberikan pendidikan tersebut kepadanya. Lain halnya dengan komunikasi kelompok kecil yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka
20
yang dimana anggotanya saling berinteraksi satu sama lain, contohnya ketika belajar mengenai pendidikan seks pada saat dikelas.
Untuk memahami komunikasi antarpribadi yang terjadi pada diri kita pada saat komunikasi tersebut berlangsung, kita bisa melihatnya melalui Model Proses Individual Komunikasi Antarpribadi (Baskin & Aronoff, 1980:7) seperti berikut:
Komunikator Individual Fungsi
Penerima
Fungsi Decoder
Ekspektasi
Pribadi Kebutuhan
Persepsi Nilai
Fungsi Encoder
Fungsi Penyampaian
Pesan Pesan
Umpan-balik
Sumber: Baskin dan Aronoff, (1980:7)
Gambar II.1 Model Proses Individu Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antar pribadi terjadi antara guru dan murid yang berada di dalam lingkungan sekolah TK Telkom Buah Batu melalui pendidikan seks usia dini, yang mana terdapat beberapa fungsi didalamnya guna mencapai tujuan isi pesan tersebut. Umpan balik yang didapat dari penyampaian pesan tersebut adalah ketika pesan yang disampaikan diterima oleh anak melalui stimulusnya.
2.2.2. Strategi dan Taktik dalam Komunikasi Antarpribadi
Dalam sebuah kamus, strategi merupakan ilmu (science) dan seni (art).
Selain itu juga dijelaskan bahwa strategi adalah suatu metode atau rencana yang kadang dalam menjalankannya dibutuhkan sebuah seni agar rencana tersebut bisa berjalan dengan baik. (Iriantara, 2008:9.24) Perlu diperhatikan bahwa dalam
Stimulus Stimulus
21
menentukan suatu strategi pada dasarnya berorientasi pada suatu tujuan. Penetapan sebuah rencana diperlukan guna mencapai tujuan tertentu, misalnya dengan menyusun rencana biasanya terjadi perubahan sikap setelah melakukan komunikasi. Kemudian yang dimaksud dengan taktik pada dasarnya merupakan sebuah penjabaran strategi. Pengalaman dan pengetahuan guru sangat menentukan jenis taktik yang akan dipakai guna menjalankan strategi sehingga tindakan bisa mencapai tujuan yang diharapkan untuk diterapkan kepada anak-anak murid.
Menurut Iriantara (2008:9.24-9.25) dalam menyusun atau menetapkan strategi komunikasi tersebut, biasanya diajukan beberapa pertanyaan sederhana seperti berikut ini.
1) Apa yang akan kita komunikasikan?
2) Pada siapa?
3) Kapan kita menyampaikannya?
4) Bagaimana cara kita mengomunikasikannya?
5) Di mana kita menyampaikannya?
6) Apa maksud dan tujuan komunikasi tersebut?
Peneliti menyimpulkan bahwa yang akan dikomunikasikan adalah mengenai pendidikan seks pada anak usia dini, targetnya adalah anak-anak yang berada pada usia 4-6 tahun. Waktu menyampaikan pada saat pembelajaran dikelas atau bisa juga ketika anak sedang bermain. Cara menyampaikan melalui pembelajaran dikelas atau obrolan santai yang disampaikan ketika berada di TK Telkom Buah Batu, serta tujuannya untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak.
22
2.2.3. Strategi Komunikasi
Strategi komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy (2017:32) yaitu :
“Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja, melainkan harus mampu menunjukan bagaimana taktik operasionalnya.”
Adapun menurut Pearce dan Robin (1997:20) “Strategi sebagai kumpulan keputusan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi/perusahaan.” (Pearce dan Robin, 1997 dikutip dalam Ananda Paulina Naslani, 2012:8)
Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa strategi komunikasi adalah suatu perpaduan yang dimulai dari perencanaan komunikasi dengan manajemen komunikasi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama.
Maka dari itu, melalui strategi ini, peneliti ingin mengetahui seperti apa dan bagaimana strategi komunikasi yang diberikan oleh guru kepada anak murid terkait penyampaian pendidikan seks pada anak usia dini pada saat proses belajar pendidikan seks pada anak usia dini.
2.2.4. Fungsi Strategi Komunikasi
Strategi komunikasi baik secara makro (planed multi-media strategy) maupun secara mikro (single communication medium strategy) memiliki fungsi ganda yaitu: Pertama, menyebarluaskan pesan komunikasi yang besifat informatif, persuasif dan instruktif secara sistematik kepada sasaran guna memperoleh hasil yang optimal. Kedua, menjembatani cultural gap akibat kemudahan diperolehnya
23
dan kemudahan dioperasionalkannya media massa yang begitu ampuh, yang jika dibiarkan akan merusak nilai-nilai budaya. (Effendy, 1993:300 dikutip dalam Turhamun, 2015:60)
1) Tujuan Sentral dalam Strategi Komunikasi
Tujuan sentral strategi komunikasi menurut R. Wayne Pace, Brent D.
Peterson, dan M. Dallas Burnett dalam bukunya Techniques for Effective Communication sebagaimana dikutip oleh Effendy menyatakan bahwa tujuan sentral kegiatan komunikasi terdiri atas tiga tujuan utama, yaitu:
a) to secure understanding b) to establish acceptance c) to motivate action
Pertama adalah to secure understanding, memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang disampaikan oleh komunikator. Kemudian jika komunikan sudah mengerti dan menerima, maka penerimanya itu harus dibina (to establish acceptance). Hingga pada akhirnya kegiatan dimotivasikan (to motivate action).
(2017:32)
Oleh karena itu, orang yang menyampaikan pesan yaitu komunikator, ikut menentukan berhasilnya komunikasi. Dalam hubungan ini faktor source credibility komunikator memegang peranan yang sangat penting. Istilah kredibilitas ini merupakan suatu istilah yang menunjukan nilai terpadu dari keahlian dan kelayakan untuk dipercaya (a term denoting the resultant value expertness and trust worthiness). Seorang komunikator memiliki kredibilitas etos pada dirinya, yaitu apa yang dikemukakan oleh Aristoteles dan yang hingga kini dijadikan pedoman adalah good sense, good moral, and good character, yang kemudian diformulasikan oleh cendikiawan modern menjadi itikad baik (good intensions), kelayakan untuk dipercaya, (trustworthinnes) serta kecakapan atau keahlian (competence or expertness). (Effendy, 2017:34)
24
2) Korelasi Antarkomponen dalam Strategi Komunikasi
Menurut Effendy, “Komunikasi merupakan proses yang rumit. Dalam rangka menyusun strategi komunikasi diperlukan suatu pemikiran dengan memperhitungkan faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat.
Akan lebih baik apabila dalam strategi itu diperhatikan komponen- komponen komunikasi dan faktor-faktor pendukung dan penghambat pada setiap komponen tersebut. Kita mulai secara berturut-turut dari komunikan sebagai sasaran komunikasi, media, pesan, dan komunikator.” (2017:35) a) Mengenali Sasaran Komunikasi
Ada baiknya jika kita mempelajari terlebih dahulu mengenai siapa-siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi kita. Sudah pasti hal ini bergantung pada tujuan komunikasi, apakah komunikan hanya sekedar mengetahui atau komunikan melakukan tindakan tertentu.
b) Pemilihan Media Komunikasi
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, media komunikasi banyak jumlahnya mulai dari yang tradisional hingga modern. Oleh karena itu, untuk mencapai sasaran komunikasi kita dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media, tergantung dari tujuan yang akan dicapai, pesan yang disampaikan, juga teknik yang akan digunakan.
c) Pengkajian Tujuan Pesan Komunikasi
Pesan komunikasi (message) memiliki tujuan tertentu. Ini menentukan teknik yang harus diambil, apakah teknik informasi, teknik persuasi, atau teknik instruksi. Apapun tekniknya, pertama-tama komunikasi harus mengerti pesan tersebut. (Effendy, 2017:37)
Sebagaimana fungsi dari strategi komunikasi yang disampaikan R. Wayne Pace dkk, peneliti melihat adanya usaha guru dalam memberikan pendidikan seks kepada anak murid melalui proses komunikasi yang mudah dipahami, selain itu guru melakukan pembinaan pesan dengan menanamkan pembiasaan sejak dini,
25
serta ditunjang oleh media sebagai pendidikan. Kemudian pesan yang telah sampai dimotivasikan kedalam tindakan disertai reward yang diberikan oleh guru seperti kata-kata pujian dan acungan jempol untuk anak muridnya.
2.2.5. Gangguan dan Rintangan Komunikasi
Menurut Shannon dan Weaver (1949) sebagaimana dikutip oleh Cangara dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi mengemukakan bahwa gangguan komunikasi terjadi jika terdapat intervensi yang mengganggu salah satu elemen komunikasi, sehingga proses komunikasi tidak dapat berlangsung secara efektif. Sedangkan rintangan komunikasi dimaksudkan ialah adanya hambatan yang membuat proses komunikasi tidak dapat berlangsung sebagaimana harapan komunikator dan penerima. (2006:131) Walaupun gangguan komunikasi dan rintangan komunikasi itu berbeda, namun sebenenarnya rintangan komunikasi juga bisa terjadi karena adanya gangguan. Gangguan atau rintangan komunikasi dapat dibedakan menjadi tujuh macam yaitu: (Cangara, 2006:131-132)
1) Gangguan Teknis 2) Gangguan Semantik 3) Gangguan Ssikologis
4) Rintangan Fisik atau Organik 5) Rintangan Status
6) Rintangan Kerangka Berpikir 7) Rintangan Budaya
Gangguan semantik menjadi salah satu penghambat dalam keberlangsungan pada penelitian ini. Hal ini terjadi ketika guru menyampaikan pesan, anak masih kurang memahami apa yang dijelaskan. Oleh karena itu diperlukan adanya penguatan terutama dalam persamaan makna antara guru dan anak murid. Serta diperlukan kerjasama dengan orang tua ketika di rumah.
26
2.2.6. Pendidikan Seks Usia Dini
Pada dasarnya, seksualitas merupakan suatu perbedaan berdasarkan jenis kelamin antara pria dan wanita. Beberapa hal yang menyangkut seksualitas diantaranya yang pertama adalah dimensi biologis. Seksualitas menyangkut segala hal yang berkaitan dengan organ reproduksi seperti cara merawat kebersihan dan menjaga kesehatan organ vital. Kedua, dimensi psikologis.
Hal ini berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan terhadap lawan jenis, begitu juga menjalankan fungsi manusia sebagai mahluk seksual.
Ketiga, dimensi sosial. Dimensi ini berkaitan dengan perbedaan sudut pandang antarmanusia mengenai seksualitas seperti yang terjadi di negeri barat dan di Indonesia. Selain itu lingkungan turut serta mempengaruhi manusia dalam membentuk perilaku seks. Keempat, dimensi kultural.
Perilaku seks merupakan bagian dari budaya masyarakat yang berkaitan dengan norma adat maupun agama. (Andika, 2010:12-13)
Jika pengetahuan reproduksi berhubungan dengan proses perkembangbiakkan serta kelangsungan mahluk hidup, maka pendidikan seks bertujuan guna mengenalkan anak tentang jenis kelamin dan cara menjaganya baik dari segi kesehatan, keselamatan, kebersihan, serta keamanannya. Penerapan pendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi bisa didapatkan melalui keluarga maupun kurikulum sekolah, terutama di TK Telkom Buah Batu.
2.2.7. Pendidikan Seks Berdasarkan Usia
Pendidikan seks bisa diajarkan kepada anak ketika mulai mengajukan pertanyaan. Jawaban yang diberikan tentunya sesuai dengan usia si anak. Sigmund Freud, pakar psikolog membagi tahapan perkembangan psikoseksual anak menjadi beberapa fase.
Fase Pragenital
Pada fase ini, anak belum menyadari fungsi dan perbedaan alat kelamin antara laki-laki dan perempuan. Masa ini dibagi menjadi dua, yaitu masa oral (0-2 tahun) dan masa anal (2-4 tahun).
27
1) Fase Oral
Masa oral ditandai dengan kepuasan yang didapat oleh anak melalui daerah oral atau mulut. Ditahap ini anak memperoleh informasi seksual melalui aktivitas mulutnya. Pada usia 0-1 tahun, bayi memperoleh kenikmatan ketika menyusu melalui puting susu ibunya. Sedangkan usia 1-2 tahun, anak cenderung antusias memasukkan apa saja ke dalam mulutnya.
2) Fase Anal
Masa anal ditandai dengan kepuasan yang didapat oleh anak melalui daerah anusmya. Rasa nikmat didapatkan melalui aktivitas pada proses pembuangan.
Selain berlama-lama dikamar mandi, anak usia 2-4 tahun juga sering menahan buang air kecil dan buang air besar. (Andika, 2010:45-46)
3) Fase Phallus
Anak sudah mulai menyadari perbedaan jenis kelamin ketika memasuki usia 4 tahun. Anak akan merasakan nikmat ketika alat kelaminnya disentuh atau diraba. Anak mulai suka membandingkan miliknya dengan temannya. Dimasa ini pula anak mulai mengeksplorasi bagian-bagian tubuhnya secara menyeluruh.
Namun ada baiknya mengalihkan perhatian anak ke aktivitas motorik seperti berolahraga.
Sebagai orang tua, penting untuk mengetahui motivasi seksual anak dari perilakunya tersebut. Salah satu alasan dari perilaku penyimpangan seksual anak bisa saja disebabkan oleh rasa ketidaknyamanan atau ketidakharmonisan keluarga dirumah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebaiknya mintalah bantuan pada psikolog. Selain itu, berilah pengertian pada anak untuk menjaga daerah intimnya agar tidak sembarang dilihat atau disentuh orang lain. (Andika, 2010:46-47)
28
4) Fase Laten
Fase ini umumnya berlangsung pada saat anak memasuki usia sekolah 6-10 tahun. Minat seksual berkembang kedalam berbagai bentuk sublimasi dari kemampuan psikis anak. Fase ini terbagi menjadi dua bagian, fase awal dan fase akhir. Pada bagian awal, anak tidak lagi memperhatikan sensasi yang dirasakan pada alat kelaminnya. Sedangkan di bagian akhir, anak akan mulai merasakannya kembali. Hal ini dikarenakan anak mulai beranjak mengenal dorongan dan keterkaitan terhadap lawan jenis. Oleh karena ada baiknya untuk memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan ketika mereka memasuki usia 10 tahun.
(Andika, 2010:47-48) 5) Fase Genital
Merupakan tahapan terakhir dari keseluruhan proses perkembangan seksual seorang anak. Masa ini ditandai dengan adanya puncak perkembangan dan kematangan seksual anak, dimana seluruh kesenangan seksual akan terpusat di daerah genital atau kelamin. (Sigmund Freud dalam jurnal Sri Ainani Masroh, 2011:19)
Anak murid yang berada di TK Telkom Buah Batu umumnya berusia 4-6 tahun dimana usia tersebut sedang berada pada fase phallus.
2.2.8. Tujuan Pendidikan Seksual
Tujuan pendidikan seks adalah memberikan informasi yang tepat dan benar sesuai kebutuhan untuk memasuki masa baligh (dewasa), menjauhkan generasi muda dari kesalahpahaman tentang seksual, mengatasi penyimpangan seksual, dan supaya generasi muda memahami batas hubungan dengan lawan jenis (Utsman, 1997 dalam jurnal Nhimas Ajeng Putri Aji, dkk, 2018:113)
29
Berikut adalah beberapa tujuan pendidikan seks:
1) Memberikan pemahaman materi pendidikan seks diantaranya memahami organ reproduksi, menjaga kebersihan diri, juga melindungi diri dari orang-orang yang tidak dikenal.
2) Menepis pandangan miring khalayak umum tentang pendidikan seks yang dianggap tabu untuk dibicarakan kepada anak-anak.
3) Pemahaman materi pendidikan seks dianggap mampu meminimalisir terjadinya pelecehan seksual. (Taat Rifani, 2014:27-28)
Maka dari itu pendidikan seks menjadi sangat penting. Strategi komunikasi dan tujuan menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan seks usia dini. Terlebih ketika pendidikan seks menjadi sebuah formulasi atau jawaban untuk memerangi berbagai macam persoalan penyimpangan seksualitas yang terjadi belakangan ini.
Oleh karena itu TK Telkom memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan seks pada anak usia dini.
2.2.9. Pelecehan Seksual
Banyaknya kasus pelecehan seksual menurut salah satu penelitian, anak di bawah 14 tahun yang melihat hubungan seks, sedikitnya lebih dari sepertiga pelaku pelecehan seksual pada anak dan pemerkosa melakukannya akibat terangsang oleh adegan seks yang telah ditonton sebelumnya. (Andika, 2010:30)
Dalam sebuah penelitian terhadap para narapidana yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak, 77% dari mereka dilakukan kepada anak laki-laki dan 87% dilakukan kepada anak perempuan. (Andika, 2010:30)
Mereka mengaku terbiasa menggunakan pornografi sebagai pendorongnya.
Bahkan pornografi juga mempermudah pelecehan seksual pada anak dalam
30
berbagai cara. Misalnya ketika akan melancarkan aksinya, biasanya para pedofilia menggunakan foto/gambar porno untuk menunjukkan kepada korbannya bahwa suatu aktivitas seksual tersebut tidak menyakitkan dan boleh dilakukan. Kasus seperti ini menjadi alasan utama peneliti mengapa memilih ini sebagai tema dalam penyusunan skripsi yang dilakukan. Pentingnya mengenalkan pendidikan seks usia dini pada anak dapat mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak.
2.2.10. TK Telkom Buah Batu
TK Sandhy Putra merupakan sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di bawah naungan Yayasan Sandhykara Putra TELKOM. Menyesuaikan dengan nama yayasan, kini TK Sandhy Putra telah berganti nama menjadi TK Telkom Buah Batu. TK Telkom Buah Batu merupakan 1 dari 32 TK Telkom yang ada diseluruh Indonesia. TK Telkom Buah Batu yang beralamat di Jl. BKR No 11 Buah Batu Bandung ini berdiri pada tanggal 16 Agustus 1953.
Pendidikan seks yang diberikan oleh sekolah ini diadakan setiap dimulainya tahun ajaran baru melalui tema “Aku”. Guru-guru di TK Telkom Buah Batu berperan sebagai pelaksana program pendidikan seks tersebut. Metode yang diajarkan antara lain seperti menyanyi, mendongeng, menonton, mengamati, toilet learnig, serta dilakukan pembiasaan diri untuk mengenal batasan-batasan anggota tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Untuk kelas A, diisi oleh murid dengan rentang usia 4-5 tahun, sedangkan di kelas B, diisi oleh murid dengan usia 5-6. Jika kelas A hanya diajarkan mengenai pengenalan diri secara dasar, lain halnya dengan kelas B yang diajarkan sedikit lebih rinci mengenai pengenalan diri.
31
Sumber: Peneliti 2019
Gambar II.2 TK Telkom Buah Batu 2.3. Kajian Teoritis
2.3.1. Teori Konstruktivisme
Menurut George Kelly (1955) dalam buku Littlejohn, Teori Komunikasi menyatakan bahwa “Konstruktivisme adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh Jesse Delia dan koleganya, memiliki pengaruh yang kuat pada bidang komunikasi.”
(2017:179)
Teori Konstruktivisme menyatakan bahwa individu menafsir dan bertindak menurut kategori konseptual yang ada di dalam pikiran. Realitas yang ada berdasarkan cara seseorang melihat sesuatu. (Littlejohn, 2017:180)
Menurut Morissan “Teori Konstruktivisme dibangun berdasarkan teori yang ada sebelumnya, yaitu konstruksi pribadi atau konstruksi personal (personal construct) oleh George Kelly.” (2013:107)
Delia dan rekan menunjukkan bahwa pesan memiliki variasi berdasarkan kompleksitasnya. Jika pesan sederhana hanya membahasa pada satu tujuan, lain halnya dengan pesan kompleks yang lebih terstruktur sesuai tujuan dan menangani setiap tujuan secara bergantian. Pesan yang paling tepat akan mengintegrasikan berbagai tujuan kedalam satu pesan saja. Guru melakukan strategi komunikasi
32
untuk menyampaikan pesan secara kompleks, melalui pesan dan perbuatan untuk melihat seberapa jauh pesan itu tersampaikan kepada anak-anak muridnya. Maka dari itu perbedaan kognitif bisa mempengaruhi tingkat komplesitas pesan yang disampaikan.
Lebih jauh pesan persuasif sederhana hanya membahas tujuan pribadi, sedangkan pesan persuasif kompleks dirancang tidak saja untuk memenuhi kebutuhan seseorang tapi juga kebutuhan orang lain. (Morissan, 2013:109)
Konstruksi pribadi antara individu menjadi sangat penting karena dapat memandu kita dalam memahami orang lain. Hal ini dikarenakan oleh perbedaan setiap individu pada tingkat kompleksitasnya dalam memandang orang lain. Sistem kognitif yang lebih kompleks yang dimiliki oleh guru dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap cara pandang anak dalam menjaga tubuhnya. Disertai dengan kemampuan guru dalam membingkai pesan sehingga lebih mudah dipahami oleh murid-murid yang umumnya berusia 4-6 tahun. Seseorang yang memiliki kemampuan menyesuaikan tingkat komunikasi dengan tingkat komunikasi lawan bicaranya disebut dengan person-centered communication.
Komunikasi guna mendapat kepatuhan merupakan salah satu tipe komunikasi berdasarkan perspektif komunikasi yang terpusat pada orang. Pesan persuasif dapat diukur contohnya pada tingkat yang lebih kompleks (lebih terpusat) seperti guru yang mencoba mencapai satu tujuan yaitu menumbuhkan rasa aware pada murid-murid melalui program pembelajaran pendidikan seks usia dini yang telah diadakan oleh pihak sekolah. Ketika pesan menjadi lebih kompleks, maka pesan itu akan lebih terpusat sehingga menimbulkan kenyamanan daripada pesan sederhana. Teori Konstruktivisme pada dasarnya adalah teori dalam memilih
33
strategi. Kita akan melihat bagaimana gagasan memilih strategi ini dapat diterapkan ke berbagai aspek kehidupan sosial manusia. (Morissan, 2013:110)
Adapun keterkaitan penelitian dengan Teori Konstruktivisme dalah strategi komunikasi guru dalam menyampaikan pendidikan seks usia dini, guru-guru yang mengajar di TK Telkom Buah Batu berupaya menyampaikan pembelajaran melalui kemampuannya dalam mengelola pesan yang menyesuaikan pada tingkat komunikasi lawan bicaranya yaitu anak-anak berusia dini.
34
2.3.2. Kerangka Pemikiran
Sumber : Peneliti 2019
Gambar II.3 Kerangka Pemikiran
STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK
Studi Deskriptif
Strategi komunikasi guru dalam
proses pelaksanaan
pesan Strategi
komunikasi guru dalam membentuk perencanaan
pesan
Strategi komunikasi guru dalam melakukan evaluasi
pesan
Teori Konstruktivisme
Strategi Komunikasi Guru Untuk Mencegah Terjadinya Pelecehan Seksual Melalui Pendidikan Seks Usia Dini
Di TK Telkom Buah Batu sudah cukup efektif.ndhy Putra Telkom
35
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka peneliti akan memberikan deskripsi secara singkat perihal bentuk kerangka pemikiran yang dibuat oleh peneliti. Secara garis besar alur dari penelitian diawali dengan strategi komunikasi pendidikan seks pada anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi deskriptif untuk memberikan penjelasan terkait strategi komunikasi yang dibahas menggunakan strategi komunikasi melalui bentuk perencanaan pesan, proses pelaksanaan, hingga bagaimana memotivasi tindakan setelah pesan dari strategi tersebut sampai. Untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi pendidikan seks pada anak, peneliti merangkum kedalam beberapa pertanyaan penelitian seperti, bagaimana strategi komunikasi guru dalam bentuk perencanaan pesan, bagaimana strategi komunikasi guru dalam proses pelaksanaan pesan, bagaimana strategi komunikasi guru dalam memotivasi tindakan, juga hambatan yang ditemui dari upaya strategi komunikasi pendidikan seks pada anak.
Kemudian teori yang digunakan oleh peneliti guna menunjang hasil pengolahan data penelitian, maka didukung menggunakan Teori Konstruktivisme.
Teori ini menekankan pada seseorang yang memiliki kemampuan menyesuaikan tingkat komunikasinya dengan tingkat komunikasi lawan bicaranya yang disebut dengan person-centered communication. Teori ini dipilih sebagai salah satu teori didalam komunikasi antarpribadi interpersonal massage. Strategi komunikasi yang diberikan oleh guru-guru kepada anak murid melalui tema yang menarik, isi pesan yang mudah dimengerti, jenis komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal guna memperjelas pesan, dan bagaimana cara guru dalam menghadapi hambatan pada saat proses strategi komunikasi berlangsung.