• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Mahesa Rifqi

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Teori Fiksi Psikologi

Fiksi merupakan cerita rekaan yang tidak berdasarkan pada kejadian yang sebenarnya (Ida Rochani Adi, 2011: 24). Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama, interaksinya dengan diri sendiri serta interaksinya dengan Tuhan (Burhan Nurgiyantoro, 2012: 3). Pengertian ini tidak berarti bahwa pengarang tidak menggunakan data non fiksi untuk menyusun cerita fiksinya. Peristiwa-peristiwa yang sebenarnya terjadi telah diubah oleh pengarang untuk memberikan arti tertentu.

Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral agama dan bahkan logika. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan tidak dianggap benar di dunia nyata, dapat terjadi dan dianggap benar di dunia fiksi (Burhan Nurgiyantoro, 2012: 5). Salah satu jenis fiksi adalah fiksi psikologi.

Fiksi psikologi merupakan salah satu aliran sastra yang berusaha mengeksplorasi pikiran sang tokoh utama, terutama pada bagiannya yang terdalam yaitu alam bawah sadar. Menurut Minderop (2011:53) karya fiksi psikologis merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu novel yang bergumul dengan spiritual, emosional, dan mental para tokoh dengan cara lebih banyak mengkaji perwatakan daripada alur atau peristiwa. Fiksi psikologis sering menggunakan teknik bernama arus kesadaran. Istilah ini sering

(2)

commit to user

digunakan untuk menggambarkan kepingan-kepingan impresi, gagasan, kenangan dan sensasi yang membentuk kesadaran manusia (Stanton, 2012:134).

Piwelinge Puranti merupakan salah satu fiksi psikologi yang berbentuk novel. Novel menurut Ni Nyoman Karmini (2011:102) adalah cerita yang mengisahkan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan seseorang sehingga menimbulkan perubahan nasib. Novel merupakan cerita prosa tentang kehidupan semua manusia seperti halnya cerpen dan roman. Berbeda dengan cerpen dan roman, menurut Stanton (2012:90) novel memiliki kemampuan untuk menciptakan satu semesta yang lengkap sekaligus rumit. Novel sebagai bentuk sastra merupakan jagad realita yang diantaranya terjadi peristiwa dan perilaku yang diakui dan diperbuat manusia (tokoh) (Minderop, 2011:78). Menurut Ahyar Anwar (2010:215), novel yang baik terletak pada realisme psikologis yang berpusat pada teka-teki diri.

Teori fiksi psikologi ini digunakan untuk membuktikan bahwa objek penelitian ini adalah karya sastra fiksi psikologi. Teori ini juga digunakan untuk membuktikan bahwa novel Piwelinge Puranti merupakan novel yang baik Dikatakan novel yang baik sebab novel Piwelinge Puranti memiliki realisme psikologi yang berpusat pada tokoh utamanya. Hal ini sebagaimana pendapat Ahyar Anwar (2010) tentang novel yang baik.

B. Teori Strukturalisme

Strukturalisme merupakan satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antar unsur pembangun karya fiksi yang bersangkutan.

Menurut Nyoman Kutha Ratna (2012 :76-77), dalam strukturalisme konsep fungsi

(3)

dengan adanya fungsi, dalam rangka menunjukkan hubungan antar unsur terlibat.

Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri, unsur dapat dipahami semata- mata dalam proses antar hubungannya.

Strukturalisme memiliki latar belakang sejarah evolusi yang cukup panjang dan berkembang secara dinamis (Kasnadi dan Sutejo, 2010: 3-4). Paham strukturalis secara langsung maupun tidak langsung telah mencuatkan konsep bentuk dan makna. Kedua unsur itu selalu berhubungan dan merajut makna secara keseluruhan. Kedua unsur penting itu tidak dapat dipisahkan dalam penafsiran sastra. Penelitian struktural dipandang lebih objektif karena hanya berdasarkan karya sastra itu sendiri. Penelitian ini menekankan pada aspek intrinsik karya sastra dengan memandang karya sastra sebagai teks mandiri (Suwardi Endraswara, 2013:50-51).

Sebuah kajian struktural dapat dikaji dengan cara melakukan identifikasi, pengkajian, dan pendeskripsian fungsi dan unsur intrinsik yang membangun sebuah prosa fiksi (Burhan Nurgiyantoro, 2012: 37). Kajian strukturalisme sastra digunakan untuk memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar komponen di dalam karya fiksi tersebut. Hal yang terpenting adalah bagaimana pengkaji mampu menunjukkan hubungan antar unsur itu ke dalam formulasi estetis yang bermakna dalam lingkaran totalitas fiksinya (Kasnadi dan Sutejo, 2010: 5-6).

Teori strukturalisme ini digunakan sebagai acuan analisis struktural novel Piwelinge Puranti. Analisis terhadap struktural novel Piwelinge Puranti dianggap perlu, sebab unsur-unsur pembangun novel Piwelinge Puranti saling terlibat satu sama lain. Keterlibatan ini mampu memberikan sebuah totalitas makna yang padu.

(4)

Hal ini sebagaimana pendapat Teeuw (1984:157) bahwa analisis struktur merupakan satu langkah, satu sarana atau alat dalam proses pemberian makna dan dalam usaha ilmiah untuk memahami proses situasi dengan sesempurna mungkin.

Langkah itu tidak boleh dimutlakan tetapi tidak boleh ditiadakan dan dilampaui.

Kajian struktur formal fiksi dalam kajian struktural penelitian ini menggunakan teori Stanton. Menurut Stanton metode yang digunakan untuk membaca dan mendiskusikan sebuah karya fiksi dikelompokkan menjadi tiga subjudul sebagai berikut :

1. Fakta-Fakta Cerita

Karakter, alur dan latar merupakan fakta-fakta cerita. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Elemen-elemen ini jika dirangkum menjadi satu dinamakan struktur faktual. Struktur faktual adalah cerita yang disorot dari satu sudut pandang (Stanton, 2012:22).

a. Karakter

Karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita, sedangkan konteks yang kedua merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi dan prinsip moral dari individu-individu (Stanton, 2012:33).

Identifikasi karakter tokoh didasarkan pada konsistensi atau keajegannya dalam artian konsistensi sikap, moralitas, perilaku dan pemikiran dalam memecahkan memandang dan bersikap dalam menghadapi setiap peristiwa (Zainuddin Fananie, 2002: 87).

Karakter dapat dibedakan menjadi dua yaitu utama dan bawahan. Karakter utama yaitu karakter yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung

(5)

dalam cerita (Stanton, 2012: 33). Karakter bawahan adalah karakter tambahan yang mendampingi karakter utama dalam berlangsungnya cerita.

Motivasi adalah alasan seorang karakter untuk bertindak sebagaimana yang ia lakukan. Motivasi menurut Stanton dibagi menjadi dua yaitu motivasi spesifik dan motivasi dasar. Motivasi spesifik adalah alasan spontan seorang karakter yang mungkin tidak disadari. Alasan ini ditunjukkan oleh adegan atau dialog tertentu.

Motivasi dasar adalah aspek umum dari satu karakter atau dengan kata lain hasrat dan maksud yang memandu sang karakter dalam melewati keseluruhan cerita (Stanton, 2012:33).

b. Alur

Alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal.

Peristiwa kausal adalah peristiwa yang menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain dan tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya.

Alur dapat membuktikan dirinya sendiri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah analisis. Ada dua elemen dasar yang membangun alur yaitu konflik dan klimaks. Setiap karya fiksi setidak-tidaknya memiliki konflik internal yang hadir melalui hasrat dua orang karakter atau hasrat seorang karakter dengan lingkungannya. Klimaks adalah saat ketika konflik terasa sangat intens sehingga ending tidak dapat dihindari lagi (Stanton, 2012: 26-32).

c. Latar

Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung.

Latar dapat berwujud dekor, waktu-waktu tertentu (hari, bulan, dan tahun) atau

(6)

satu periode sejarah (Stanton, 2012:35). Aminuddin dalam Wahyudi Siswanto (2008: 149) memberi batasan setting (latar) sebagai latar peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis. Latar cerita dikemukakan Abrams (1981:173) sebagai sebuah tempat umum (general locale), waktu kesejarahan (historical time) dan kebiasaan masyarakat (social circumtances) dalam setiap episode atau bagian-bagian tempat.

2. Tema

Menurut Stanton, tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan makna dalam pengalaman manusia, sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman perlu diingat. Tema menyorot dan mengacu pada aspek-aspek kehidupan sehingga nantinya akan ada nilai-nilai tertentu yang melingkupi cerita. Cara paling efektif untuk mengenali tema sebuah karya sastra adalah dengan mengamati secara teliti setiap konflik yang ada di dalamnya. Pengamatan harus dilakukan pada semua hal seperti peristiwa-peristiwa, karakter-karakter, atau bahkan objek-objek yang sekilas tidak relevan dengan alur utama (2012: 36-43).

Tema dapat diungkapkan melalui berbagai cara seperti melalui dialog tokoh-tokohnya, melalui konflik-konflik yang dibangun atau melalui komentar secara tidak langsung. Tema yang baik pada hakikatnya adalah tema yang tidak diungkapkan secara langsung dan jelas (Zainuddin Fananie, 2002: 84).

Tokoh-tokoh dalam cerita fiksi berfungsi untuk memainkan cerita, di samping juga berperan untuk menyampaikan ide, motif, plot, dan tema yang sedang diangkat oleh pengarangnya (Kasnadi dan Sutejo, 2010:12-13).

(7)

3. Sarana-Sarana Sastra

Sarana-sarana sastra dapat diartikan sebagai metode (pengarang memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna (Stanton, 2012:46). Sarana-sarana sastra meliputi :

a. Judul

Judul mengacu pada karakter utama atau satu latar tertentu, namun terkadang judul mengacu pada satu detail yang tidak menonjol. Judul semacam ini mampu menjadi petunjuk makna cerita yang bersangkutan (Stanton, 2012:51).

b. Sudut Pandang

Sudut Pandang (Point of View). Sudut pandang ialah sebuah cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi (Kasnadi dan Sutejo, 2010: 22).

Menurut Stanton (2012: 53-54), pusat kesadaran tempat memahami setiap peristiwa dalam cerita , dinamakan sudut pandang. Dari sisi tujuan, sudut pandang terbagi menjadi empat yaitu orang pertama-utama, orang pertama sampingan, orang ketiga terbatas, dan orang ketiga-tidak terbatas. Sudut pandang terkadang digambarkan melalui dua cara yaitu subyektif dan obyektif. Dikatakan subyektif ketika pengarang langsung menilai atau menafsirkan karakter. Dikatakan obyektif jika menghindari campur tangan pengarang.

c. Gaya dan Tone

Gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah tone. Tone merupakan sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa nampak dalam berbagai

(8)

wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi ataupun penuh perasaan (Stanton, 2012: 61-63).

d. Simbolisme

Simbol berwujud detail-detail konkret, faktual dan memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan dan emosi dalam pikiran pembaca. Simbol juga dapat berwujud apa saja, dari sebutir telur hingga latar cerita seperti satu objek, beberapa objek bertipe sama, substansi fisis, bentuk, gerakan, warna, suara, atau keharuman (Stanton, 2012: 64).

Simbolisme dalam fiksi dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung pada bagaimana simbol yang bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukan makna peristiwa tersebut. Kedua, satu simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Ketiga, sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema (Stanton, 2012: 65).

e. Ironi

Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya. Ironi dapat ditemukan dalam hampir semua cerita. Ironi dapat memperkaya cerita seperti menjadikannya menarik, menghadirkan efek-efek tertentu, humor, memperdalam karakter dan menguatkan tema (Stanton, 2012: 71).

Ada dua jenis ironi yang dikenal luas yaitu ironi dramatis dan tone ironi.

Ironi dramatis atau ironi alur dan situasi biasanya muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan realitas, antara maksud dan tujuan seorang

(9)

karakter dengan hasilnya, atau antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Tone ironis atau ironi verbal digunakan untuk menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna secara berkebalikan (Stanton, 2012:71-72).

C. Teori Psikologi Sastra

Psikologi berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang berarti jiwa, dan

“logos” yang berarti ilmu. Jadi psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia (Atkinson, 1996: 7). Menurut Clifford dalam Usman dan Juhaya (2012: 1-2) “Psychology is the science of human and animal behavior”. Artinya: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dan hewan.

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan (Suwardi Endraswara, 2013: 96). Menurut Nyoman Kutha Ratna (2012: 349) psikologi sastra adalah model penelititan interdisiplin dengan menetapkan karya sastra memiliki posisi yang lebih dominan. Atas dasar khazanah sastra yang sangat luas, yang dievokasi melalui tradisi yang berbeda- beda, unsur-unsur psikologis menampilkan aspek-aspek yang berbeda-beda.

Mempelajari psikologi sastra sebenarnya sama dengan mempelajari manusia atau tokoh dalam cerita tersebut dari dalam. Daya tarik dalam psikologi sastra ini adalah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi juga bisa mewakili jiwa orang lain.

Pengarang dalam karyanya sering menambahkan pengalamannya sendiri atau pengalaman yang sering dialami oleh orang lain. Seorang seniman, penyair atau pengarang, sejatinya menyampaikan ajaran tentang kebaikan, dalam penyampaian

(10)

kisah diperlukan berbagai karakter tokoh yang juga dapat menampilkan tingkah laku yang tidak selalu dapat diambil contoh (Minderop, 2011: 63).

Psikologi sastra adalah telaah karya sastra yang diyakini mencerminkan proses dan aktivitas kejiwaan (Suwardi Endraswara, 2013: 96). Dalam menelaah suatu karya psikologis hal penting yang perlu dipahami adalah sejauh mana keterlibatan psikologi pengarang dan kemampuan pengarang menampilkan para tokoh rekaan yang terlibat dengan masalah kejiwaan (Minderop, 2011: 55).

Menurut Wellek Werren dalam Kasnadi dan Sutejo (2010: 64) psikologi sastra mempunyai empat pengertian, yang pertama studi psikologi pengarang. Kedua studi tentang proses kreatif. Ketiga, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra dan keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca.

Tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung di dalam suatu karya. Melalui pemahaman terhadap para tokoh, misalnya masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi dan penyimpangan-penyimpangan lain yang terjadi di masyarakat, khususnya yang terkait dengan psike.

Ada tiga cara yang dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dengan sastra, yaitu : a) memahami unsur-unsur pengarang sebagai penulis, b) memahami unsur-unsur kejiwaan para tokoh, c) memahami unsur-unsur kejiwaan para pembaca. Prinsip-prinsip penalaran efek sastra untuk memahami sebab-sebab psikologis, pertama, muatan tema yang signifikan. Tiap kepribadian memiliki kunci utama dalam menampilkan watak tokoh sehingga memiliki ciri khas dan daya tarik karena adanya gelora perasaan yang dominan. Kedua, muatan

(11)

identifikasi tokoh utama atau protagonis. Perasaan tokoh tersebut merupakan pantulan kepribadian si pencipta. Ketiga, muatan rasa persahabatan dan ketulusan yang disampaikan pengarang melalui caranya sendiri dengan melepaskan diri dari peraturan konvensional; pengarang berhak memilih gaya penyampaian sesuai dengan selera masing-masing. Keempat, muatan pencitraan. Pikiran dan perasaan pengarang dapat ditelusuri tidak semata melalui kisahan tetapi juga melalui pencitraan dan perbandingan yang digalinya dari berbagai sudut deengan berbagai pilihan gaya bahasa sehingga menjadikan karyanya indah dan penuh gaya.

Pencitraan mampu melukiskan kepribadian, temperamen, dan kualitas nalar seorang pengarang. Metafor dan simile yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh dramatik ternyata merupakan cerminan kejiwaan dari seorang pengarang. Kelima, muatan gaya kisahan merupakan cetusan jiwa dari si pencipta (Minderop, 2011:

54-58).

Suwardi Endraswara (2008: 89) berpendapat, bahwa langkah pemahaman teori psikologi sastra dapat melalui tiga cara, pertama, melalui pemahaman teori- teori psikologi kemudian dilakukan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk digunakan. Ketiga, secara simultan menemukan teori dan objek penelitian.

Selanjutnya, memperlihatkan bahwa teks yang ditampilkan melalui suatu teknik dalam teori sastra ternyata dapat mencerminkan suatu konsep dari psikologi yang diusung oleh tokoh fiksional.

Terkait dengan hubungan antara sastra dan psikologi menurut Abrams dalam Minderop (2011: 61), terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

(12)

Pertama, suatu karya sastra harus merefleksikan kekuatan, kekaryaan dan kepakaran penciptanya. Kedua, karya sastra harus memiliki keistimewaan dalam hal gaya dan masalah bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang. Ketiga, masalah gaya, struktur dan tema karya sastra harus saling terkait dengan elemen-elemen yang mencerminkan pikiran dan perasaan individu, tercakup di dalamnya: pesan utama, gelora jiwa, kesenangan dan ketidaksenangan yang memberikan kesinambungan dan koherensi terhadap kepribadian.

Penelitian psikologi sastra menurut Suwardi Endraswara (2013: 99), memang memiliki landasan pijak yang kokoh. Baik sastra maupun psikologi sama-sama mempelajari hidup manusia. Bedanya, sastra mempelajari manusia sebagai ciptaan imajinasi pengarang, sedangkan psikologi mempelajari manusia sebagai ciptaan Illahi secaraa riil. Sifat-sifat manusia dalam psikologi maupun sastra sering menunjukkan kemiripan, sehingga psikologi sastra memang tepat dilakukan. Pengarang sadar atau tidak memang telah menerapkan teori psikologi secara diam-diam dalam karyanya.

Istilah psikoanalisis dipakai untuk menunjukkan suatu metode penelitian terhadap proses-proses psikis yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah (Bertens, 2006: 3).

Menurut Minderop psikoanalisis adalah disiplin ilmu yang dimulai sekitar tahun 1900-an oleh Sigmund Freud. Teori psikoanalisis berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia. Ilmu ini merupakan bagian dari psikologi yang memberikan kontribusi besar dan dibuat untuk psikologi manusia selama ini (2011:11). Psikoanalisis mempertegas dinamikan intra-psikis pada ego

(13)

commit to user

dan id, pikiran sadar dan bawah sadar. Pendekatan psikoanalitik menarik untuk mempelajari ekspresi menggejala pada konflik antara bagian-bagian sadar dan bawah sadar diri (Ryan, 2007: 139).

Psikoanalisis memiliki tujuan untuk mengubah kesadaran individu, sehingga sumber permasalahan intrapsikis yang semula tidak sadar menjadi sadar.

Penyadaran dalam hal ini menjadi sasaran utama, sebab bila individu menyadari dan mengingat kembali konflik intrapsikisnya, individu tidak perlu menggunakan banyak energi psikisnya untuk upaya defence mechanism. Alasan kedua, penyadaran memungkinkan terjadinya reintegrasi bagian-bagian kepribadian yang semula terpisah-pisah satu sama lain (Iman Setiadi Arif, 2011:87).

Teori psikologi sastra yang meliputi pengertian psikologi sastra dan psikoanalisis ini digunakan sebagai rujukan untuk meneliti novel Piwelinge Puranti. Penelitian ini meneliti bentuk dan dampak defense mechanism tokoh utama dalam novel Piwelinge Puranti yang memiliki hubungan dengan psikologi, sehingga teori psikologi sastra sangat penting digunakan sebagai landasan pijak, mengingat objek kajian ini adalah sebuah karya sastra.

D. Teori Defense Mechanism

Defense mechanism bila diuraikan berasal dari kata defense yang berarti pertahanan dan mechanism yang berarti mekanisme. Defense mechanism yang berarti mekanisme pertahanan menurut Iman Setiadi Arif (2011:19), mengacu pada mekanisme pertahanan psikis pada individu. Defense mechanism (mekanisme pertahanan diri) menurut Clark (1991) dalam Komalasari (2011:7), mendefinisikan sebagai gangguan ketidaksadaran dari realitas yang bertujuan

(14)

otomatis dan sudah menjadi kebiasaan. Defense mechanism menjadi aktif setelah manusia dilahirkan yaitu menyusul aktifnya insting mati. Defense mechanism terjadi karena adanya dorongan atau perasaan beralih untuk mencari objek pengganti (Minderop, 2011: 29).

Defense mechanism berkaitan erat pada penciptaan karya sastra. Menurut Freud, penciptaan karya sastra merupakan hasil kerja alam bawah sadar.

Penciptaan karya sastra dengan wilayah tak sadar ini memiliki kaitan yang cukup erat. Karya sastra memberikan hiburan dan kelegaan kepada para pembaca karena apa yang pembaca nikmati termasuk peristiwa mengerikan, bisa menjadi milik diri pembaca sendiri maupun orang lain (Minderop, 2011:68).

Defense mechanism berkaitan erat dengan ego dan kesehatan mental.

Penggunaan defense mechanism tidaklah terhindarkan dalam upaya menjaga keseimbangan kepribadian seseorang dalam keberadaannya di dunia (Iman Setiadi Arif, 2011: 31). Kepribadian akan mengaktifkan defense mechanism ketika realitas eksternal dirasa menuntut terlalu banyak melebihi kapasitas diri untuk mengatasinya. Hal ini menunjukkan bahwa defense mechanism memiliki kaitan yang erat dengan dunia psikologi.

Menurut Gemae (2006) dalam Gely Nurmurey Idzha (2013:116) faktor utama digunakannya defense mechanism (mekanisme pertahanan) antara lain, melindungi seseorang dari situasi yang cenderung membahayakan baginya, untuk mengatasi batin (perasaan) yang terluka, perasaan marah, sedih dan kecewa yang dialami seseorang, menghapus kecemasan yang dialami seseorang, membantu penyesuaian diri yang normal dalam kehidupan sehari-hari.

(15)

Pokok-pokok yang perlu diperhatikan dalam defense mechanism antara lain, defense mechanism merupakan konstruk psikologis berdasarkan observasi terhadap perilaku individu, perilaku seseorang membutuhkan informasi deskriptif.

Hal ini penting untuk memahami mengapa seseorang bersandar pada mekanisme ketika ia bergumul dengan masalah, semua mekanisme dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari orang normal. Bila mekanisme menjadi keutamaan dalam penyelesaian masalah maka ada indikasi si individu tidak dapat menyesuaikan diri (Minderop, 2010: 30).

Defense mechanism merupakan karakteristik yang cenderung kuat dalam setiap orang. Ada 9 jenis defense mechanism menurut Minderop (2011:32-39).

1. Represi

Represi merupakan mekanisme pertahanan yang paling kuat dan luas.

Tugas represi mendorong keluar impuls-impuls id yang tidak diterima dari alam sadar dan kembali ke alam bawah sadar.

2. Sublimasi

Sublimasi terjadi bila tindakan-tindakan yang bermanfaat secara sosial menggantikan perasaan tidak nyaman.

3. Proyeksi

Mekanisme yang tidak disadari dan melindungi dari pengakuan terhadap kondisi yang tidak menyenangkan disebut proyeksi. Proyeksi terjadi bila individu menutupi kekurangannya dan masalah yang dihadapi dilimpahkan kepada orang lain.

(16)

4. Pengalihan

Pengalihan adalah pengalihan perasaan tidak senang terhadap suatu objek ke objek lainnya yang lebih memungkinkan.

5. Rasionalisasi

Rasionalisasi terjadi bila motif nyata dari perilaku individu tidak dapat diterima oleh ego.

6. Reaksi Formasi

Reaksi formasi adalah represi akibat impuls anxitas yang kerap kali diikuti oleh kecenderungan yang berlawanan dan bertolak belakang dengan tendensi yang ditekan.

7. Regresi

Terdapat dua jenis regresi, yang pertama retrogressive behavior yaitu perilaku seseorang yang mirip anak kecil. Kedua, primitivation yaitu ketika seorang dewasa bersikap tidak berbudaya dan kehilangan kontrol.

Pada regresi, membuat seseorang mundur dari tahapan emosional atau reaksi emosional yang lebih sesuai di masa lalu. Bukannya menghadapi kekecewaan dengan rasional seseorang justru merengek agar mendapatkanapa yang diinginkan. (Ryan, 2007:133).

8. Agresi dan Apatis

Agresi langsung adalah agresi yang diungkapan secara langsung kepada seseorang atau objek yang merupakan sumber frustasi. Agresi yang dialihkan adalah bila seseorang mengalami frustasi namun tidak dapat mengungkapkan secara puas kepada sumber frustasi. Apatis adalah bentuk lain dari reaksi terhadap frustasi yaitu sikap menarik diri dan bersikap seakan-akan pasrah.

(17)

9. Fantasi dan Stereotype

Fantasi yaitu cara penyelesaian masalah dengan masuk ke dunia khayal.

Stereotype adalah konsekuensi lain dari frustasi yaitu memperlihatkan perilaku pengulangan terus menerus.

Menurut Iman Setiadi Arif (2011:32-41) teori defense mechanism pada ilmu psikologi murni dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Defense mechanism yang tergolong matang (mature). Defense mechanism ini meliputi: Sublimasi, yaitu mengubah atau mentrasnformasi dorongan primitif menjadi dorongan yang lebih sesuai dengan budaya dan norma- norma yang berlaku di realitas eksternal. Kompensasi, yaitu upaya untuk mengatasi suatu inferiority (kekurangan) dalam suatu bidang dengan cara mengupayakan superiority (keunggulan) dalam bidang yang lain. Supresi, adalah upaya meredam kembali suatu dorongan libidinal yang berpotensi konflik dengan realitas eksternal, setelah menyadari dorongan tersebut.

Humor, adalah mengubah penghayatan akan suatu peristiwa dari tidak menyenangkan menjadi menyenangkan.

2. Defense mechanism yang tergolong tidak matang (immature). Defense mechanism ini meliputi: Represi, adalah upaya meredam suatu dorongan libidinal yang berpotensi konflik dengan realitas eksternal tanpa membiarkan sadar terlebih dahulu. Proyeksi, yaitu suatu defense mechanism dimana seseorang secara psikis menolak dan mengeluarkan bagian dari dirinya yang tidak dikehendakinya. Introyeksi, adalah suatu defense mechanism dimana sesorang mengambil alih suatu ciri kepribadian yang ditemuinya pada orang lain menjadi miliknya sendiri. Reaksi

(18)

Formasi, yaitu upaya untuk melawan suatu dorongan libidinal yang dipersepsikan dapat menimbulkan konflik, dengan cara melakukan kebalikannya. Undoing, adalah upaya simbolik untuk membatalkan suatu impuls yang telah terwujud menjadi tingkah laku. Displacement, yaitu mengganti objek yang menjadi sasaran. Denial, adalah menyangkal bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi. Regresi, yaitu sebagai proses yang sangat menentukan dalam kemunculan psikopatologi.

3. Defense mechanism yang tergolong primitif (archaic). Defense mechanism ini meliputi: Splitting, adalah mekanisme yang dilakukan bayi untuk memudahkannya mengorganisir dan menangani berbagai pengalaman yang dialaminya. Projective Identification, yaitu salah satu defense mechanism primitif yang biasanya ditemui pada kepribadian yang terganggu. Primitive idealization, dilakukan seseorang untuk mempertahankan harga diri mendasarnya ketika mengalami ancaman dengan cara mengidealisasi orang lain dan kemudian mengembangkan fantasi kesatuan dengan orang tersebut.

Dampak defense mechanism yang dikutip dari Semiun (2006) dalam Gely Nurmurey Idzha (2013: 116) diantaranya yaitu reaksi-reaksi mekanisme pertahanan ego mungkin sangat konstruktif, tekanan tetap melindungi diri secara psikologis menyebabkan tidak relaks, usaha pada mekanisme pertahanan ego mempengaruhi keadaan sekitar (manipulatif), cenderung akan diterapkan lagi bila dirasa menguntungkan.

Dampak defense mechanism yang lain menurut McGill (2008) dalam Gely Nurmurey Idzha (2013: 116) yang terjadi dalam diri seseorang antara lain,

(19)

defense mechanism melibatkan penipuan dan distorsirealitas, ketika kecemasan ditekan, diwujudkan dengan cara lain seperti fobia, serangan kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif, mengurangi kecemasan dan mempertahankan citra diri yang positif , mengurangi aktifitas fisiologis yang tidak sehat.

Kepribadian menurut psikologi bisa mengacu pada pola karakteristik perilaku dan pola pikir yang menentukan penilaian seseorang terhadap lingkungan (Minderop, 2011: 4). Salah satu unsur kepribadian adalah perasaan. Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaaan positif atau negatif. Perasaan dapat menimbulkan kehendak yaitu keadaan untuk mendapatkan suatu kenikmatan (kehendak positif) atau menghindari hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan membawa perasaan tidak nikmat (kehendak negatif) (Koentjaraningrat, 1986:106- 108).

Metode dasar yang dipakai untuk meneliti perubahan yang sangat banyak dalam jiwa adalah introspeksi, yakni suatu observasi teliti dan sistematik yang dilakukan oleh seseorang terhadap pengalaman diri sendiri. Introspeksi yang tidak teliti dapat menimbulkan perkiraan bahwa suatu keadaan jiwa seperti hawa nafsu dapat berlangsung tanpa putus-putus dalam jangka waktu lama (Kifudyartanto, 2003: 12).

Defense mechanism merupakan inti dari penelitian ini, sehingga teori defense mechanism sangat diperlukan sebagai penunjang penelitian terhadap novel Piwelinge Puranti. Teori defense mechanism juga digunakan untuk memperkuat hasil penelitian yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan agar penelitian ini tidak diragukan kualitasnya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tinjauan pustaka tersebut, dapat diketahui penelitian kepribadian tokoh utama melalui pendekatan psikologi sastra dengan psikoanalitis Carl Gustav Jung sudah

Aminudin (2010: 79) berpendapat bahwa tokoh utama atau tokoh sentral merupakan tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita. Tokoh utama merupakan tokoh

BENTUK-BENTUK PERJUANGAN TOKOH UTAMA MENGEJAR IMPIAN DALAM NOVEL BIRU KARYA AGNES JESSICA: KAJIAN PSIKOLOGI.. SASTRA Oleh Bima

Analisis Novel Cinta di Ujung Sajadah karya Asma Nadia dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra, yaitu mengkaji aspek psikologi tokoh utama dalam sebuah karya sastra

BENTUK-BENTUK PERJUANGAN TOKOH UTAMA UNTUK MERAIH IMPIAN DALAM NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA: ANALISIS..

Alasan peneliti menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk menganalisis aspek kepribadian tokoh utama dalam novel Senja dan Pagi karena psikologi sastra dan

Hubungannya dengan tinjauan psikologi sastra dalam penelitian ini peneliti berupaya mendeskripsikan dan menjelaskan penokohan, konflik tokoh baik internal maupun

Sebagai satu bentuk kegiatan ilmiah, penelitian sastra memerlukan landasan kerja dalam bentuk teori. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam, tersistem, dan