• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2005:588), konsep didefenisikan sebagai berikut, “konsep /konsep/ n 1 rancangan atau buram surat dsb; 2 ide atau pengertian yang diabstrakkan di peristiwa konkret: satu istilah dapat mengandung dua – yang berbeda; 3 gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain”. Dari beberapa defenisi di atas, penulis menilai bahwa defenisi ketiga adalah yang paling tepat untuk menggambarkan konsep dalam skripsi ini yaitu, gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Dengan demikian, konsep digunakan sebagai kerangka atau pijakan untuk menjelaskan, mengungkapkan, menggambarkan, atau pun memaparkan suatu objek atau topik pembahasan. Dalam hal ini, konsep yang dimaksudkan adalah gambaran dari objek berupa novel berjudul Nora yang akan dibedah dalam suatu pembahasan skripsi yang berjudul “Gangguan Kejiwaan Tokoh Utama Novel NORA Karya Putu Wijaya : Analisis Psikologi Sastra”.

Skripsi ini akan melibatkan beberapa konsep yang akan menjadi dasar pembahasan pada bab selanjutnya, yaitu:

a. Psikologi Sastra

(2)

2.1.1 Psikologi Sastra

Psikologi secara sempit dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa. Sedangkan sastra adalah ilmu tentang karya seni dengan tulis-menulis. Maka jika diartikan secara keseluruhan, psikologi sastra merupakan ilmu yang mengkaji karya sastra dari sudut kejiwaannya. Menurut Wellek dan Austin (1989:90),

Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan yang keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca).

Pendapat Wellek dan Austin tersebut memberikan pemahaman akan begitu luasnya cakupan ilmu psikologi sastra. Psikologi sastra tidak hanya berperan dalam satu unsur saja yang membangun sebuah karya sastra. Namun jika dicermati dalam penerapan, psikologi sastra lebih cenderung memberikan perhatian pada masalah yang ketiga yaitu, pembicaraan dalam kaitannya dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya. Sebagai dunia dalam kata, karya sastra memasukkan berbagai aspek kehidupan di dalamnya, khususnya manusia. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra pada umumnya sebab dalam diri manusia yang berperan sebagai tokoh itulah yang menjadi aset ditanamkannya aspek kejiwaan tersebut.

Poin ketiga dari pendapat Wellek dan Austin tersebut juga sesuai dengan pokok pembahasan penulis dalam penelitian kali ini. Penulis akan meneliti pengertian yang ketiga terhadap novel Nora karya Putu Wijaya tersebut, yaitu unsur kejiwaan tokoh utama protagonis Nora yang akan dibahas secara khusus dan mendalam dari segi bentuk gangguan kejiwaan, faktor penyebab, dan ciri-ciri yang ditunjukkan oleh tokoh Nora.

(3)

Melalui pembahasan dalam penelitian novel Nora ini, akan dapat dilihat aplikasi nyata dari pendekatan psikologi sastra tersebut dalam karya-karya sastra sebagai medianya dengan meminjam teori kepribadian Freud yang lazim disebut dengan teori Psikoanalisis.

Psikoanalisis pertama kali dimunculkan oleh “Bapak Psikoanalisis” terkenal Sigmund Freud yang berasal dari Austria. “Psikoanalisis adalah istilah khusus dalam penelitian psikologi sastra” (Endraswara, 2008:196). Artinya, psikoanalisis ini banyak diterapkan dalam setiap penelitian sastra yang mempergunakan pendekatan psikologis. Umumnya, dalam setiap pelaksanaan pendekatan psikologis terhadap penelitian sastra, yang diambil dari teori psikoanalisis ini hanyalah bagian-bagian yang berguna dan sesuai saja, terutama yang berkaitan dengan pembahasan sifat dan perwatakan manusia. Pembahasan sifat dan perwatakan manusia tersebut meliputi cakupan yang relatif luas karena manusia senantiasa menunjukkan keadaan jiwa yang berbeda-beda. Psikoanalisis juga menguraikan kelainan atau gangguan jiwa, “Namun dapat dipastikan bahwa Psikoanalisis bukanlah merupakan keseluruhan dari ilmu jiwa, tetapi merupakan suatu cabang dan mungkin malahan dasar dari keseluruhan ilmu jiwa” (Calvin, 1995:24). Berdasarkan pernyataan tersebut secara umum dapat disimpulkan bahwa psikoanalisis merupakan tombak dasar penelitian kejiwaan dalam mencapai tahap penelitian yang lebih serius, khususnya karya sastra dalam hal ini.

Psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk menganalisis tokoh-tokoh dalam drama atau novel secara psikologis. Tokoh-tokoh tersebut umumnya merupakan imajinasi atau khayalan pengarang yang berada dalam kondisi jiwa yang sehat maupun terganggu, lalu dituangkan menjadi sebuah karya yang indah. Keadaan jiwa yang sehat dan terganggu inilah yang menjadi cermin lahirnya karya dengan tokoh berjiwa sehat maupun terganggu.

(4)

Teori Psikoanalisis yang dikemukakan Freud membagi kepribadian menjadi tiga bagian yaitu, id, ego, dan superego. Id adalah bagian kepribadian yang tersembunyi dan tak dapat dimasuki dan sebagian kecil yang diketahui mengenai hal itu didapat sebagai hasil penyelidikan tentang impian dan gejala-gejala penyakit saraf. Id berfungsi untuk mengusahakan segera tersalurkannya kumpulan-kumpulan energi atau ketegangan, yang dicurahkan dalam jasad oleh rangsangan-rangsangan, baik dari dalam maupun luar.

Ego adalah pelaksana dari kepribadian, yang mengontrol dan memerintah id dan superego dan memelihara hubungan dengan dunia luar untuk kepentingan seluruh kepribadian yang kepentingannya luas. Jika ego melakukan fungsinya dengan bijaksana, akan terdapatlah harmoni dan keselarasan. Bila ego mengalah atau menyerahkan kekuasaannya terlalu banyak kepada id dan superego atau kepada dunia luar, akan terjadi kejanggalan dan keadaan tidak teratur.

Superego adalah lembaga ketiga yang penting dari kepribadian yang merupakan cabang moril atau cabang keadilan dari kepribadian. Superego merupakan kode moril dari seseorang. Superego berkembang dari ego sebagai akibat dari perpaduan yang dialami seseorang anak dari ukuran-ukuran orangtuanya mengenai apa yang baik dan saleh serta apa yang buruk dan batil (Calvin, 1995:29-51).

Berlandaskan pengklasifikasian kepribadian Freud ini akan dapat direka apakah ketiga aspek kepribadian yang dimiliki tokoh Nora berperan atau berfungsi dengan baik. Ditilik dari pola tingkah laku yang ditunjukkan tokoh Nora, disimpulkan bahwa lembaga id, ego, dan superego tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan tidak saling mengacu pada pembentukan pribadi yang sehat atau normal.

(5)

2.1.2 Schizophrenia Hebeprenik

Perkataan hebeprenik berasal dari bahasa Yunani yang berarti “jiwa muda”, sedangkan schizophrenia berarti “jiwa yang terpecah atau terbagi” (Mahmud, 1990:270-272). Menurut Durand dan David Barlow (2007:229), “Skizofrenia Hebeprenik adalah emosionalitas yang dungu atau tidak matang yang khas bagi beberapa tipe schizophrenia”. Gangguan semacam ini ditunjukkan dengan tingkah laku kemunduran seperti anak-anak bagi pasien yang mengalaminya. Lebih lanjut dipaparkan oleh Mahmud (1990:272), “Gejala-gejala yang tampak biasanya berupa kedunguan, ketololan, emosi terpisah dari intelek, delusi dan halusinasi yang ganjil”. Faktor penyebab gangguan ini bisa disebabkan oleh pengalaman atau masa lalu penderita yang banyak menerima tekanan, perlakuan buruk, ketegangan, serta ketidakadilan baik dari orang-orang terdekat maupun lingkungan sosial penderita. Berdasarkan pendapat Durand dan David Barlow di atas, ditafsirkan bahwa tokoh utama protagonis Nora dalam novel karya Putu Wijaya tersebut mengalami gangguan kejiwaan “Skizofrenia Hebeprenik”. Gangguan ini dapat dilihat dari kejanggalan sikap dan respon emosi tokoh Nora dalam setiap interaksi terhadap tokoh lain yang akan dipaparkan pada bab pembahasan selanjutnya.

Gangguan kejiwaan schizophrenia hebeprenia di atas merupakan salah satu tipe atau golongan schizophrenia yang merupakan gangguan kegilaan atau keabnormalan suatu pribadi. Penyakit kejiwaan Schizophrenia pertama sekali ditemukan oleh Eugene Bleuler, seorang psikiatrist Jerman yang mendefenisikannya sebagai “jiwa yang terpecah atau terbagi” (Mahmud, 1990:270). Kesimpulan ini didasarkan pada kenyataan bahwa kondisi jiwa terpecah itu umum sekali terlihat pada pasien gangguan schizophrenia. Penyakit schizophrenia ini terbagi atas tiga kategori yaitu schizophrenia hebefrenik, schizophrenia

(6)

katatonik, schizophrenia paranoid. Gangguan kejiwaan jenis Schizophrenia Hebeprenik inilah yang akan dibahas lebih lanjut pada bab pembahasan berikutnya dengan mempergunakan teori schizophrenia Bleuler yang akan ditemukan pada cabang ilmu psikologi abnormal. Secara umum, psikologi abnormal dikatakan sebagai ilmu yang membahas tentang berbagai bentuk ganggan kejiwaan manusia. Defenisi terhadap psikologi abnormal sama halnya dengan pendefenisian terhadap sastra, yakni tidak adanya kemutlakan. Beberapa ahli kejiwaan mendefenisikan psikologi abnormal sesuai dengan penelitian mereka terhadap berbagai jenis karakter atau gejala yang ditunjukkan oleh manusia yang dianggap bertingkah laku kurang wajar atau tidak normal. Biasanya psikologi abnormal ini disinonimkan dengan “perilaku abnormal”. Mahmud (1990:251) mendefenisikan, “Mereka yang tingkah lakunya sangat berbeda dari norma-norma yang berlaku di dalam suatu masyarakat disebut abnormal”. Artinya, setiap individu yang menunjukkan pola-pola tingkah laku melanggar norma-norma yang diterapkan dalam masyarakat digolongkan pada keabnormalan atau manusia dengan kejiwaan tidak normal. Karena itu di dalam masyarakat, perlawanan terhadap hukum baik yang tertulis maupun tidak tertulis, dianggap sebagai suatu tanda abnormalitas.

2.2 Landasan Teori

Dalam sebuah penelitian dibutuhkan landasan teori yang mendasarinya karena landasan teori merupakan kerangka dasar sebuah penelitian. Landasan teori yang digunakan diharapkan mampu menjadi kerangka dasar seluruh pembahasan. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dipergunakan Teori Psikologi Sastra sebagai teori utama yang kemudian akan dilanjutkan dengan Teori Psikoanalisis untuk menemukan bentuk gangguan kejiwaan

(7)

tokoh Nora. Melalui teori ini, diharapkan bentuk gangguan kejiwaan Schizofrenia Hebefrenik akan dapat ditelanjangi secara gamblang sehingga jelas bagaimana gejala dan sebab-akibat gangguan kejiwaan tersebut terjadi, khususnya pada tokoh utama protagonis novel Nora tersebut.

Menurut Ratna (2004:350), “Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis”. Artinya, psikologi turut berperan penting dalam penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur pengarang, tokoh, maupun pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra. Wellek dan Austin (2004:350) juga menyebutkan, “Dalam sebuah karya sastra yang berhasil, psikologi sudah menyatu menjadi karya seni, oleh karena itu, tugas peneliti adalah menguraikannya kembali sehingga menjadi jelas dan nyata apa yang dilakukan oleh karya tersebut”. Secara umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan “Psikologi Sastra”. Artinya, dengan meneliti sebuah karya sastra melalui pendekatan Psikologi Sastra, secara tidak langsung kita telah membicarakan psikologi karena dunia sastra tidak dapat dipisahkan dengan nilai kejiwaan yang mungkin tersirat dalam karya sastra tersebut.

Analisis Teori Psikologi Sastra yang dilanjutkan dengan Teori Psikoanalisis tersebut diaplikasikan dengan meminjam teori kepribadian ahli psikologi terkenal Sigmund Freud. Dengan meletakkan teori Freud sebagai dasar penganalisisan, maka pemecahan masalah akan gangguan kejiwaan tokoh utama akan dapat dijembatani secara bertahap. Berpijak dari

(8)

teori kepribadian Freud ini akan ditemukan pokok persoalan yang sesungguhnya yakni, gangguan kejiwaan Schizophrenia Hebeprenik.

Schizophrenia Hebeprenik tersebut akan berkaitan dengan emosionalitas yang dungu, yang diperinci atas kebebalan, kecemburuan, dan kekanak-kanakan (regresi/kemunduran). Menurut Sudarsono (1997:28), cemburu didefenisikan sebagai “Bentuk khusus dari kekhawatiran yang didasari oleh adanya keyakinan terhadap diri sendiri, ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari seseorang”. Berdasarkan defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa cemburu merupakan akumulasi dari rasa cemas dan takut. Bebal menurut Kamus Basar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005:118) didefenisikan, “sukar mengerti; tidak cepat menanggapi sesuatu; tidak tajam pikiran” sedangkan kekanak-kanakan atau dalam psikologi lazim disebut dengan istilah kemunduran (regresi), didefenisikan sebagai “1.Usaha menghindarkan kelemahan dan kegagalan dengan cara kembali ke taraf yang lebih rendah; 2.Suatu proses kembalinya ke tingkat lebih muda, pada taraf kekanak-kanakan dari pertumbuhan kepribadian sebagai alat untuk beradaptasi pada masalah-masalah personal” (Sudarsono, 1997:198). Ketiga unsur emosionalitas yang dungu tersebut akan dibahas lebih seksama pada bab pembahasan berikutnya.

2.3 Tinjauan Pustaka

Novel Nora karya Putu Wijaya ini sebenarnya adalah novel yang sangat menarik untuk dikaji, diteliti, dan diulas karena sarat dengan masalah-masalah kehidupan yang tidak asing lagi bagi pembaca.

Novel Nora ini sebenarnya sudah pernah dibahas sebelumnya. Namun pembahasan mengenai novel ini masih hanya seputar kritik para pembaca yang dituangkan dalam bentuk

(9)

forum diskusi maupun resensi mengenai pemikiran dan gaya bercerita Putu Wijaya dalam karya-karyanya yang terbilang unik. Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada yang meneliti novel ini secara khusus dalam rupa skripsi. Selain itu, pembahasan yang sudah ada mengenai novel ini juga cenderung membahas masalah kehidupan seks tokoh utama Nora, sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis kali ini lebih cenderung kepada unsur psikologis gangguan kejiwaan yang dialami tokoh utama protagonis Nora yang terkandung dalam novel Nora tersebut. Pembahasan yang telah membicarakan novel Nora ini masih hanya sebatas komentar atau forum diskusi di dunia maya di antaranya,

1. Nora : Abstraksisme Seks atau Konflik Pikiran Ala Putu Wijaya

Blog tersebut (www.bookoopedia.com) ditulis pada tanggal 25 januari 2008 oleh Emshi, salah satu pembaca novel Nora. Mengawali komentar, disebutkan bahwa novel Nora terbitan Kompas yang diberi label Bacaan Khusus Dewasa ini memiliki penyajian cerita yang sangat abstrak, sehingga membuat novel tersebut sangat berat. Dikomentari lebih lanjut, “Sulit untuk memahami latar cerita yang tidak sesuai kelaziman umum, seperti gambaran cerita di awal soal perkawinan tak terduga, tidak jelas motif keluarga si gadis, atau motif si pria yang sebenarnya, yang malahan dipersepsikan sebagai kegilaan eksperimental dari masing-masing pihak. Sebagian besar isi cerita berupa pertarungan pikiran baik dalam diri sendiri sang tokoh ataupun perang dengan pikiran tokoh lain. Terkait dengan label Bacaan Khusus Dewasa, boleh dibilang novel ini sebagai abstraksisme seks”. Disimpulkan oleh Emshi adanya kelemahan mendasar yang agak mengganggu, apakah itu kesengajaan Putu Wijaya atau proses edit yang kurang sempurna bahwa setidaknya ada dua bagian script cerita berulang kembali, namun bukan merupakan flashback.

(10)

2. Review of Nora by Endah’s

Blog tersebut (www.goodreads.com) dituliskan pada tanggal 6 Oktober 2008 oleh Endah, salah satu pembaca setia karya-karya Putu Wijaya. Pada halaman tersebut disebutkan oleh Endah komentar akan sikap cipta seorang Putu Wijaya terhadap karyanya yang dianggap absurd. Dikatakan bahwa setelah membaca novel tersebut, ditemukan sejumlah ganjalan yang tidak dapat ditemukan pembenarannya. Dikomentari lebih lanjut, “Maksud saya, ketika di dalam Nora saya mendapati hal-hal yang saya tidak sepakat karena kelewat dramatis, saya berusaha melihatnya dengan kacamata yang lain kendati tidak selalu berhasil”. Bagian yang paling mengejutkan, secara gamblang dikatakan bahwa novel Nora tersebut terkesan dilebih-lebihkan pada beberapa bagian meskipun diakui bahwa novel tersebut berpijak pada realisme.

3. Jurnal Asep Setiawan : Putu Wijaya tentang Novel Terbarunya

Blog tersebut (www.asepsetiawan.com/archives/333) memuat berbagai komentar akan alur cerita novel Nora karya Putu Wijaya yang dituliskan pada tanggal 6 Maret 2008. Salah satu komentator novel tersebut adalah Kennedy Nurhan seorang wartawan Kompas. Disebutkan bahwa Putu Wijaya mengungkapkan kenakalan-kenakalan pikirannya untuk menuangkan Nora dalam novel Tetraloginya tersebut. Disimpulkan bahwa novel Nora adalah campuran antara keunikan dan khayalan Putu Wijaya. Lebih lanjut dikatakan oleh Kennedy Nurhan, bahwa novel Nora ini lebih condong dapat dimengerti daripada novel Putu sebelumnya yang banyak bereksperimen.

Penelitian dengan menggunakan Teori Psikologi Sastra telah banyak dilakukan oleh para penikmat sastra sebelumnya, khususnya para mahasiswa sastra yang ingin meraih

(11)

gelar sarjananya. Namun sepanjang pengetahuan penulis, penelitian dengan menggunakan Teori Psikologi Sastra terhadap novel Nora ini belum pernah ada. Penelitian yang menggunakan teori psikologi sastra adalah berupa skripsi mahasiswa, antara lain:

1. Kursi Pemilu Karya S.Sinansari Ecip : Analisis Psikologi

Skripsi ini disusun oleh mahasiswa Fakultas Sastra USU angkatan tahun 1999 bernama Rahmat Efendi Siregar. Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah aspek-aspek atau nilai-nilai psikologis yang terdapat dalam novel Kursi Pemilu karya S.Sinansari Ecip.

Penelitian diawali pada pembahasan aspek intrinsik sastra yang dianggap perlu seperti plot, perwatakan, alur, dan tema, kemudian dilanjutkan pada pembahasan ekstrinsik sastra yang berkaitan dengan berbagai teori psikologis. Penelitian difokuskan pada pembahasan gambaran ambisi pribadi dan kecemasan tokoh utama yang mendukung cerita. Aspek kejiwaan tersebut dibedah dengan meminjam teori kepribadian Carl Gustav Jung. Analisis psikologi sastra yang dilakukan terhadap novel Kursi Pemilu hanya terbatas pada tipe-tipe manusia, ambisi pribadi, dan kecemasan. Dari pengumpulan data dan penjelasan, disimpulkan bahwa ambisi pribadi mengarah pada perlakuan negatif, sedangkan kecemasan sebenarnya sesuatu yang dapat diarahkan jika kondisi kepribadian seseorang dapat menghadapi impul-impuls yang aktif menurut kehendaknya masing-masing. Disimpulkan secara subjektif oleh peneliti bahwa tokoh-tokoh yang dihadirkan kurang dapat disejajarkan dengan teori-teori kepribadian Jung dan Freud.

2. Kepribadian dan Trauma Tokoh dalam Novel Simfoni Bulan Karya Feby Indriani : Analisis Psikosastra

Skripsi ini disusun oleh mahasiswi Fakultas Sastra USU angkatan tahun 2005 bernama Juli Artaty Hutabarat. Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah bagaimana

(12)

kondisi kepribadian tokoh-tokoh serta bagaimana dampak trauma terhadap tokoh anak dalam novel Simfoni Bulan.

3. Novelet Rembulan Perak Karya Lila Fitri Ali : Konflik Kejiwaan Wanita Karir

Skripsi ini disusun oleh mahasiswi Fakultas Sastra USU angkatan tahun 1999 bernama Sri Wahyuni. Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah bagaimana konflik kejiwaan tokoh utama dalam novelet Rembulan Perak. Masalah dibatasi hanya pada konflik batin yaitu cemburu, kecemasan, dan rasa sesak yang sangat mempengaruhi kejiwaan tokoh utama novelet Rembulan Perak.

Penelitian terhadap konflik kejiwaan tokoh utama dilakukan dengan meminjam teori kecemasan Freud yang membagi kecemasan menjadi tiga macam yaitu, kecemasan tentang kenyataan atau kecemasan objektif, kecemasan neurotis, dan kecemasan moril. Pembahasan terhadap novelet Rembulan Perak diakhiri dengan ditariknya kesimpulan bahwa kecemburuan yang dirasakan tokoh utama didasarkan pada rasa kebutuhannya akan kasih sayang dan kebahagiaan yang tidak dimilikinya, sementara teman-temannya memiliki semua itu. Kecemasan tersebut disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang pahit sehingga tokoh utama merasa tidak percaya diri. Disimpulkan lebih lanjut bahwa rasa sesak dalam novelet tersebut diakibatkan oleh pengaruh pekerjaan, kota besar yang padat, dan beban pikiran yang menekan batin.

Berdasarkan tinjauan tersebut maka diputuskan untuk membedah dan menemukan akar permasalahan novel Nora dengan menggunakan Teori Psikologi Sastra sebagai pisau bedahnya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembuatan Kepala Kepala Madrasah termasuk dalam kategori sangat baik

Penerimaan Pegawai Subag Umum dan Kepegawaian Subag Umum dan Kepegawaian Setiap ada perubahan Soft copy dan hard copy v Selama berlaku website. Ringkasan Kinerja Program dan

Analisis data menggunakan statistik deskriptif untuk melihat skor perilaku agresif pada tiga kategori (tinggi, sedang dan rendah), skor perilaku agresif berdasarkan

didik pada kelas yang akan menjadi obyek penelitian. 2) Menyusun waktu yang tepat untuk melakukan pelaksanaan tindakan. 3) Menentukan materi yang akan dibantu dengan media

Laporan ini disusun sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di Program Diploma 3 Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengantisipasi masalah-masalah yang menjadi penghambat pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi sehingga diperoleh strategi

Informasi lain yang berhasil dikumpulkan adalah bahwa harga jual ditetapkan sebesar Rp 15.000,- Dari data tersebut, hitunglah berapa titik impas atau break event point (BEP) dalam

Setiap pelanggaran terhadap pedoman perilaku dan ketentuan- ketentuan pelanggaran disiplin perusahaan yang berlaku, yang dapat secara langsung maupun tidak langsung