BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Inflasi
Inflasi yaitu suatu keadaan perekonomian yang menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan harga secara umum (price level) dan bersifat secara terus-menerus dan mempengaruhi individu , bisnis dan pemerintah, tidak dapat disebut inflasi apa bila kenaikan harga dari satu atau dua barang saja kecuali jika kenaikan tersebut menyebabkan harga-harga lain juga naik (Miftahuddin, 2018).
Naiknya harga dari waktu kewaktu disebut juga dengan laju inflasi, laju inflasi sendiri dinyatakan dalam presentase (%). Laju inflasi sendiri dibedakan berdasarkan besar presentasenya menurut Sutawijaya (2012) dikatakan ringan apabila inflasi dibawah 10% , inflasi sedang 10%-30% , inflasi tinggi 30-100% dan hyper Inflation jika inflasi diatas 100%.
Inflasi terjadi karena adanya demand pull Inflation dan cost push Inflation (Septiatin, Mawardi,
& Rizki, 2016). Demand pull Inflation terjadi akibat besarnya permintaan yang ada atau besarnya permintaan agregat namun tidak dapat dimbangi dengan penawaran agregat yang ada, sedangkan cost push Inflation adanya kenaikan biaya produksi sehingga menyebabkan kuantitas produksi turun.
2.2 Teori Inflasi
Menurut Mishkin (2000) teori inflasi dibagi menjadi dua yakni teori monetaris yang merupakan bagian dari teori klasik dan teori Keynesian. Pada teori monetaris menyatakan bahwa yang menyebabkan inflasi itu adalah jumlah permintaan agregat yang meningkat namun penawaran agregat yang cenderung tetap sehingga membuat harga naik, dalam teori monetaris berpendapat kenaikan permintaan agregat disebabkan oleh peningkatan jumlah uang beredar di masyarakat (Mishkin, 2000). Teori Keynesian tidak begitu berbeda dengan pandangan teori monetaris yakni bahwa yang menyebabkan inflasi itu adalah jumlah permintaan agregat yang meningkat namun penawaran agregat yang cenderung tetap sehingga membuat harga naik.
Perbedaan teori Keynes dengan Teori Klasik adalah bahwa kenaikan permintaan agregat tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah uang beredar tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti kenaikan pengeluaran pemerintah. Selain itu juga inflasi bisa terjadi karena adanya goncangan dalam penawaran. Namun demikian adanya peningkatan pengeluaran pemerintah adan adanya
gocangan penawaran hanya akan menyebabkan kenaikan harga secara sesaat jika tidak disertai dengan peningkatan jumlah uang beredar (Mishkin, 2000).
2.3 Target Inflasi
Target inflasi merupakan merupakan salah satu kebijakan moneter untuk mencapai sasaran tingkat inflasi yang ditetapkan periode depan dan target yang ada diumumkan Bank Indonesia kepada publik atau masyarakat, penetuan target inflasi ditetapkan dengan menggunakan kebijakan suku bunga dan suku bunga pasar uang antar bank (PUAB), dan diharap dapat menjadi acuan bagi masyarakat dan para pelaku usaha dalam kegiatan perekonomian, juga untuk menjaga tingkat inflasi agar stabil (Bank Indonesia, 2020).
Penetapan target inflasi sendiri diawali atau berkaca dari kejadian krisis moneter pada tahun 1997 sampai 1998 (Hakim, 2017). Awal tahun 1997 krisis yang terjadi menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank sehingga masyarakat melakukan penarikan dana secara besar-besaran yang menyebabkan inflasi naik (Anggoro, 2017). Target inflasi sendiri merupakan bagian dari kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, kebijakan ini ada setelah keluarnya UU Nomer 3 tahun 2004 mengenai Bank Indonesia (Sriyono, 2013). Dalam pelaksanaannya Bank Indonesia membentuk Tim Pengendalian inflasi (TPI) yang terdiri dari Bank Indonesia dan departemen teknis pemerintahan (Hadi, 2017).
2.4 Pengangguran
Pengangguran adalah kondisi di mana seseorang dalam angkatan kerja ingin mendapat pekerjaan. Pengangguran merupakan penduduk yang bekerja kurang dari dua hari selama seminggu atau tidak bekerja sama sekali (Susanto et al. 2017). Penganguran juga mempengaruhi individunya secara langsung hal ini dikarenakan jika seseorang tidak bekerja dan tidak memiliki pendapatan maka tidak akan bisa memenuhi kebutuhannya. Selain itu orang yang kehilangan pekerjaan atau menganggur akan merasa mengalami penurunan standar hidup (Mayra et al., 2019).
Menurut Susanto et al. (2017) pengangguran merupakan penduduk yang bekerja kurang dari dua hari selama seminggu atau tidak bekerja sama sekali. Sedangkan menurut Badan Pusat Stastistik (BPS) pengangguran di indikator ketenagakerjaan orang yang sedang mencari pekerjaan juga tergolong ada pengangguran atau juga penduduk yang sudah baru saja mendapat pekerjaan tapi belum memulai pekerjaan tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan pengangguran seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi aktif mencari pekerjaan (Kalsum,
2017). Adapun jenis-jenis pengangguran yakni pengangguran terselubung orang yang tidak bekerja secara optimal karena sesuatu hal misal karena tidak sesuai dengan keahliannya , pengangguran setengah menganggur tidak bekerja karena minimnya lapangan kerja atau seseorang
yang bekerja kurang dari 35 jam dalam satu minggu misal seperti bekerja paruh waktu dan pengangguran terbuka orang yang tidak bekerja sama sekali (Muhdar, 2018).
2.5 Inflation Targeting Framework (ITF)
Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia untuk mengatur tingkat inflasi dimasa yang akan datang dengan cara menetapkan target tingkat inflasi yang ingin dicapai pada periode mendatang datang (Ismail, 2006). Penerapan ITF sendiri secara implisit sebenarnya sudah ditetapkan pada tahun 2000 yakni Bank Indonesia mengumumkan target inflasi ke public pada periode mendatang. Kebijakan ITF resmi ditetapkan oleh Bank Indonesia pada tanggal 1 Juni 2005 sebagai kebijakan moneter (Bank Indonesia, 2020).
2.6 Teori Kurva Philips
Menurut Mankiw (2014) Kurva Phillips dicetuskan oleh ekonom bernama A.W. Phillips dalam penelitiannya phillips menunjukan adanya korelasi hubungan pengangguran dan inflasi terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dalam hubungan jangka pendek antara inflasi dan pengangguran memiliki hubungan negatif dan ada kaitannya dengan permintaan agregat jika permintaan agregat naik maka kurva permintaan agregat geser ke kanan sehingga terjadilah inflasi lalu untuk output yang harus dihasillkan ikut naik untuk memenuhi permintaan yang ada sehingga penyerapan tenaga kerja meningkat (Mankiw, 2014). Selain itu dalam hubungan negatif kurva phillips jangka pendek juga dipengaruhi dengan harapan inflasi melalui kebijakan moneter dengan mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat (Mankiw, 2014). Hal ini sama dengan penetian Maichal (2012) yang menyatakan Teori kurva Philips adalah teori yang membahas korelasi antara pengangguran dan inflasi ,yang ternyata mengalami trade off.
Gambar 1. Kurva Phillips Jangka Pendek.
Namun Kurva Phillips dalam jangka panjang tidak memiliki hubungan negatif atau trade off antara pengangguran dan inflasi, dikarenakan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan moneter.
Kebijakan moneter seperti menambah jumlah uang beredar maka didalam jangka pendek.
Permintaan agregat naik sehingga menyebabkan peningkatan output dan terjadi penggurangan pengangguran namun saat itu juga berdampak harga naik atau inflasi naik melihat inflasi dalam jangka panjang hasil produksi cenderung tidak laku dan menyebabkan pengurangan tenaga kerja sehingga pengangguran kembali ke tingkat alamiah (Mankiw, 2014).
Gambar 2. Kurva Phillips Jangka Panjang.
2.7 Hubungan Kausalitas Inflasi dan Pengangguran
Pada teori yang pernah dicetuskan oleh Keynes bahwa inflasi itu terjadi karena masyarakat ingin hidup diluar kemampuan ekonominya. Hal ini ternyata juga memberi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika tingkat inflasi naik maka harga-harga akan naik maka akan berdampak pada turunnya investasi yang menyebabkan tutupnya usaha-usaha yang ada sehingga berdampak pada naiknya pengangguran (Septiatin et al., 2016). Sedangkan jika terjadi inflasi maka harga- harga naik maka penawaran agregat juga naik sehingga lapangan kerja juga makin bertambah sehingga mengurangi pengangguran (Sutawijaya, 2012).
Menurut penelitian Syamsuar dan Sumitro (2020) dengan metode penelitian GMM di Negara Indonesia tahun 1970 sampai 2018 menyatakan bahwa terjadi trade off antara pengangguran dan inflasi hal ini mengindikasi terjadinya kurva phillips. Lalu di Negara Malaysia hasil penelitian Furuoka (2007) dengan metode VECM tahun penelitian 1975 sampai 2004 membuktikan terjadi hubungan dua arah antara pengangguran dan inflasi, hal ini mengindikasi adanya fenomena kurva
phillips. Selain itu Arshad dan Sukkur (2014) dengan menggunakan metode penelitian VAR di Negara Paskistan pada periode penelitian tahun 1980-2014, juga menyatakan bahwa kurva phillips terbukti dalam jangka pendek dan jangka panjang, inflasi dan pengangguran di negara Pakistan juga memiliki hubungan dua arah. Begitu pula menurut penelitian Sukanto (2012) menyatakan bahwa di Indonesia pada tahun 1984 sampai 2013 dengan metode penelitan VAR menyatakan terjadi trade off antara pengangguran dan inflasi hal ini mengindikasi terjadinya kurva Phillips.
Annissa Nabella (2017) pada penelitiannya di Indonesia tahun 2005 sampai tahun 2016 menyatakan terjadi hubungan dua arah antara inflasi dan pengangguran, hal ini juga mengidentifikasi adanya fenomena kurva phillips. Sasongko et al., (2019) dengan metode penelitian panel granger kausalitas pada 34 Provinsi Indonesia periode penelitian tahun 2013-2015 juga menyatakan ada hubungan satu arah antara inflasi dan tingkat pengangguan terbuka dalam jangka pendek, hal ini mengindikasi adanya fenomena kurva phillips. Penelitian Damayanti &
Purwanti, (2021) pada 16 negara terbuka tahun 2015 sampai 2018 dengan metode data panel statis menyatakan ada hubungan negatif antara pengangguran dan inflasi, hal ini juga mengindikasi adanya fenomena kurva phillips. Dengan mengaitkan dengan pembelakuan kebijakan target inflasi, penelitian (Gozgor, 2013) dengan menggunakan metode GMM dan dengan periode waktu 2005.1-2012.6 membuktikan bahwa fenomena kurva phillips jangka pendek terjadi pada perekonomian Turki. Namun hasil berbeda ditunjukkan oleh penelitian (Clifton et al., 2005) yang membuktikan bahwa tidak terjadi fenomena kurva phillips pada negara OECD yang menerapkan kebijakan moneter target inflasi.
Sedangkan Hazell et al., (2020) pada negara Amerika Serikat tahun penelitian 1960 sampai 2019 menggunakan metode regresi menemukan hubungan antara inflasi dan pengangguran berbentuk datar hal ini menunjukan bahwa fenomena kurva phillips tidak terbukti. Menurut Nüß (2013) di Jerman dengan metode penelitian ECM pada tahun penelitian 1970 sampai 2012 juga menyatakan tidak terbukti adanya hubungan antara inflasi dan pengangguran hal ini mengindikasi bahwa fenomena kurva phillips tidak terbukti dijerman. Begitu pula menurut Astuti (2016) di negara Indonesia menggunakan metode analisis korelasi pada tahun 1986 sampai 2016 tidak terjadi hubungan antara inflasi dan pengangguran sehingga tidak mengindikasi adanya fenomena kurva phillips. Penelitian Afriandi & Triani, (2019) tahun 1986 sampai 2017 di Indonesia menggunakan metode OLS menyatakan inflasi dan pengangguran memiliki hubungan positif sehingga hal ini tidak mengindikasi adanya fenomena kurva phillips. Lalu menurut Anwar &
Setiawan (2020) menggunakan metode analisis regresi dan korelasi tahun penelitain 2014-2018 di mana 34 Provinsi di Indonesia tidak menujukan adanya fenomena kurva phillips, tidak mengindikasi fenomena kurva Phillips.
Berdasarkan kajian teori dan tinjauan pustaka diatas, maka hipotesis yang dibangun dalam penelitian ini adalah :
H10: Tidak terdapat hubungan kausalitas antara inflasi dengan pengangguran di Indonesia sebelum penetapan kebijakan target inflasi.
H1a: Terdapat hubungan kausalitas antara inflasi dengan pengangguran di Indonesia sebelum penetapan kebijakan target inflasi.
H20: Tidak terdapat hubungan kausalitas antara inflasi dengan pengangguran di Indonesia setelah penetapan kebijakan target inflasi.
H2a: Terdapat hubungan kausalitas antara inflasi dengan pengangguran di Indonesia setelah penetapan kebijakan target inflasi.
2.8 Kerangka Berpikir
Gambar 3. Kerangka Berpikir Penelitian.
Kerangka ITF
Inflasi
Pengangguran Terbuka