• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Teori Masa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Teori Masa"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

Ukuran rahim mengecil dengan cepat setelah 2 hari setelah melahirkan setinggi pusar, setelah 4 minggu berpindah ke panggul, dan pada hari ke 10 hingga 2 minggu kemudian, rahim tidak lagi teraba dari luar atau kembali lagi. . ukurannya sebelum hamil. Ibu yang baru melahirkan memerlukan mekanisme coping terhadap perubahan fisik dan ketidaknyamanan pada masa nifas, termasuk kebutuhan untuk kembali ke tubuh sebelum hamil dan perubahan hubungan dengan keluarga. Menurut Reva Rubin, seorang ibu yang baru melahirkan melakukan penyesuaian psikologis pada masa nifas dengan melalui tiga tahap adaptasi ibu (maternal behavior) terhadap perannya sebagai seorang ibu.

Marcé Society, sebuah organisasi internasional yang berdedikasi untuk melakukan penelitian tentang gangguan kejiwaan pascakelahiran, mendefinisikan penyakit kejiwaan pascakelahiran sebagai suatu episode yang terjadi dalam waktu satu tahun setelah kelahiran seorang anak. Postpartum blues, sering juga disebut dengan maternity blues atau baby syndrome, merupakan suatu kondisi sementara selama periode depresi akibat peningkatan respon emosional yang dialami separuh wanita dan sering terjadi pada beberapa hari pertama atau dalam waktu seminggu setelah melahirkan dan cenderung lebih parah. pada hari ketiga dan keempat (Suririnah, 2008). Berdasarkan pengertian dari beberapa sumber maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan postpartum blues adalah suasana hati yang dirasakan wanita setelah melahirkan yang berlangsung selama 3-6 hari dalam kurun waktu 14 hari setelah melahirkan, dimana perasaan tersebut berkaitan dengan bayinya. . Gejala baby blues antara lain. , ibu mengalami perubahan emosi, menangis, cemas, kesepian, mengkhawatirkan bayinya, tidak mampu beradaptasi, sensitif, tidak nafsu makan, sulit tidur, penurunan gairah seks dan kurang percaya diri terhadap kemampuan menjadi seorang ibu.

Sedangkan postpartum blues sering terjadi pada ibu sulung, mengingat mereka baru saja memasuki peran sebagai ibu, namun... tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi pada ibu yang pernah melahirkan, yaitu jika ibu memiliki riwayat postpartum blues sebelumnya. Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara faktor demografi ini dan depresi pasca melahirkan di Asia. Dimana laki-laki lebih dominan dalam keluarga, ibu mertua yang menjadi kepala rumah tangga, pembatasan aktivitas pasca melahirkan, pertolongan persalinan dengan menggunakan tenaga kerja tradisional dapat meningkatkan kejadian depresi pasca melahirkan.

Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang terjadi saat melahirkan dan penyebab kompleks lainnya.Beberapa teori mengatakan bahwa etiologi depresi pasca melahirkan berasal dari sudut pandang biologis atau psikologis. Perubahan hormon dan pola tidur mungkin berperan dalam permulaan dan faktor depresi pascapersalinan. Psikosis pascapersalinan umumnya merupakan gangguan bipolar, namun bisa juga merupakan eksaserbasi gangguan depresi mayor.

Hubungan Perubahan Hormonal dengan Gangguan Psikologis

Pasalnya, wanita yang mengalami gangguan jiwa tidak bisa atau tidak mau berbicara dengan orang di sekitarnya. Berdasarkan percobaan pada hewan, estradiol meningkatkan fungsi neurotransmitter dengan meningkatkan sintesis dan menurunkan pemecahan serotonin, sehingga secara teoritis penurunan kadar estradiol akibat melahirkan berperan menyebabkan depresi pasca melahirkan. Namun sebuah penelitian menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan perubahan estradiol atau estriol bebas pada akhir kehamilan dan pasca melahirkan pada wanita depresi dan tidak depresi.

Kadar prolaktin meningkat selama kehamilan, mencapai puncaknya saat melahirkan, dan pada wanita tidak menyusui, kembali ke tingkat sebelum hamil dalam waktu 3 minggu pascapersalinan. Dengan melepaskan oksitosin, hormon yang menstimulasi sel laktotropik di kelenjar hipofisis anterior, menyusui menjaga kadar prolaktin tetap tinggi. Prolaktin juga diduga berperan dalam timbulnya perasaan cemas, depresi, dan perilaku kekerasan pada wanita tidak hamil dengan hiperprolaktinemia.

Hormon Oksitosin .1 Pengertian

Fungsi

Ringkasnya, fungsi oksitosin membantu kontraksi otot rahim, merangsang keluarnya ASI dari kelenjar susu, mengurangi stres dan perasaan cemas, meningkatkan libido seksual serta dapat menimbulkan perasaan gembira, bahagia dan empati. Pengendalian emosi diatur oleh hipotalamus, baik emosi positif maupun negatif akan memberikan respon yang berbeda pada tubuh.

Regulasi

Mekanisme Kerja Hormon Oksitosin

Penatalaksanaan Gangguan Psikologis Pasca Persalinan

Wanita yang sedang menyusui dapat memilih terapi ini daripada terapi medis untuk mengobati depresi pascapersalinan ringan. Hambatan dalam terapi ini adalah adanya kesan stigma negatif akibat konseling, kurangnya terapis yang terlatih untuk memberikan psikoterapi, pengaturan waktu dan biaya terapi. Pro dan kontra pemberian obat antidepresan harus diperhatikan karena obat antidepresan, seperti SRSI, sulit dikeluarkan melalui ASI dan mungkin menimbulkan efek samping pada bayi.

Terapi elektrokonvulsif (ECT) adalah metode penanganan wanita dengan depresi berat pascapersalinan yang tidak memberikan respons terhadap pengobatan farmakologis, meskipun efek terapeutik ECT adalah 78%.

Pijat Oksitosin .1 Pengertian

Mekanisme Pijat Oksitosin

Sumsum tulang belakang terletak di ruas tulang belakang dari tulang belakang leher hingga vertebra lumbal kedua. Sumsum tulang belakang (Medulla Spinalis) berperan sebagai pusat gerak refleks dan menyalurkan impuls dari organ ke otak dan dari otak ke organ tubuh.Selama pemijatan tulang belakang, refleks neurogenik tercipta, yang mempercepat kerja saraf parasimpatis ke mengirimkan perintah ke bagian belakang otak. Oleh karena itu, kami melakukan pijat oksitosin pada tulang belakang di sepanjang sumsum tulang belakang untuk merangsang produksi hormon oksitosin.

Hormon oksitosin akan mengalir ke seluruh tubuh bersama darah dan ditransfer ke dua titik utama, yaitu payudara dan rahim. Sedangkan hormon oksitosin yang ditransfer ke rahim bekerja dengan mengaktifkan myosin light chain kinase (MLCK) yang dapat menyebabkan kontraksi rahim sehingga menyebabkan pembuluh darah di rahim menyempit.

Manfaat Pijat Oksitosin

Hal ini terjadi karena pijat meningkatkan pelepasan hormon endorfin dan oksitosin endogen yang merupakan faktor penting dalam menghilangkan stres (Kundarti, 2014). Pijat oksitosin yang dapat dilakukan oleh suami/orang tua bagi ibu menyusui berupa pijat punggung pada punggung ibu. Pijat oksitosin yang dilakukan suami akan memberikan rasa nyaman pada ibu sehingga memberikan kenyamanan pada bayi yang disusui (Suherni, 2007).

Oleh karena itu, teknik pijat atau akupresur dapat mengurangi rasa nyeri dengan meningkatkan jumlah hormon endorfin, yaitu hormon yang secara alami dapat memberikan rasa rileks pada tubuh. Peningkatan hormon endorfin dapat menghalangi reseptor rasa sakit di otak sehingga dapat membantu pelepasan hormon oksitosin. Seperti ditulis dalam European Journal of Neuroscience, pijat punggung berulang kali dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin.

Langkah - Langkah Pijat Oksitosin

Pijat kedua sisi tulang belakang dengan gerakan melingkar kecil dengan kedua ibu jari secara bersamaan. Gerakan pemijatan sepanjang garis tulang belakang, dimulai dari leher (serviks 7) hingga ke tulang belikat (toraks 12) atau tulang rusuk kelima-enam lalu kembali lagi ke tulang belakang. atas Ulangi gerakan tersebut selama 15 menit.

Teknik Skrining Psikologis Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS)

  • Pengertian
  • Keuntungan EPDS
  • Cara Pengisian EPDS
  • Instruksi

Hal ini terdapat pada The British Journal of Psychiatry dan telah digunakan pada penelitian sebelumnya dengan jumlah item sebanyak 10 item yang pertanyaannya mudah dipahami sehingga memudahkan responden untuk menyelesaikannya dan tidak melelahkan responden saat menjawab kuesioner. Selain itu, penelitian lain juga dilakukan di tiga rumah sakit umum yaitu RSU Dr. Ciptomangunkusumo, RSU Persahabatan, RSU Fatmawati Jakarta. Konsistensi internal EPDS dengan dua teknik pengukuran pada minggu pertama dan minggu ketiga setelah kelahiran memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam tes sebagai alat skrining awal depresi pasca melahirkan di ruang bersalin.

EPDS yang dilakukan pada minggu pertama pada wanita yang tidak menunjukkan gejala depresi dapat memprediksi kemungkinan terjadinya depresi pasca melahirkan pada minggu ke 4 dan 8. Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab sendiri oleh ibu dan dapat diselesaikan rata-rata dalam waktu 5 menit. soal diklasifikasikan dengan tanda (*) dan tanpa tanda. Soal tanpa titik (*) yaitu soal nomor 1, 2 dan 4, kotak jawaban paling atas mendapat nilai nol (0) dan kotak jawaban paling bawah mendapat nilai 3.

Dengan menggunakan cutoff skor > 10 dari total 30, diperoleh nilai sensitivitas 64% dan spesifisitas 85% dalam mendeteksi depresi. Wanita dengan skor > 10 tanpa keinginan bunuh diri harus dievaluasi kembali setelah 2 minggu untuk menentukan apakah episode depresinya memburuk atau membaik. Didapatkan nilai 0, 1, 2 atau 3 dengan kotak atas mendapat nilai 0 dan kotak bawah bernilai 3.

Hal ini merupakan skor yang berbanding terbalik, dimana bingkai atas mendapat nilai 3 dan kotak bawah mendapat nilai 0. Dari teori yang telah dijelaskan di atas, pijat oksitosin adalah pijatan yang diberikan kepada ibu nifas langsung pada ruas tulang belakang sepanjang sumsum tulang belakang (Syaifuddin , 2012). Pijat yang dilakukan pada sumsum tulang belakang menimbulkan sinyal sensorik bersama dengan reseptor perifer yang mengirimkan neurotransmitter yaitu oksitosin.

Hormon yang disintesis selama proses pijat oksitosin antara lain oksitosin, endorfin, dan PIF (hormon penghambat prolaktin). Hal inilah yang memungkinkan ibu menjadi lebih rileks dan mengurangi risiko terjadinya memar pasca melahirkan sehingga lebih mudah menyusui bayinya (Astuti, 2011). Berdasarkan kisaran efek psikologis pijat oksitosin, peneliti ingin mengetahui apakah pijat oksitosin mempengaruhi skor EPDS.

Gambar 2.6Kerangka Konsep Penelitian
Gambar 2.6Kerangka Konsep Penelitian

Hipotesis

Gambar

Gambar 2.4.1. The Vertebral Column  kurang  lebih  1-2  jari  dan  dari  titik  tersebut,  geser  lagi  ke  kanan  dan  kiri  masing-masing 1-2 jari
Gambar 2.4.4. Pijat Oksitosin
Gambar 2.6Kerangka Konsep Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan menurut (Sagala, 2010:12) ranah afektif adalah kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari

Film adalah gambar-hidup yang juga sering disebut movie. Film secara kolektif sering disebut sebagai sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau

Virtual Reality Box atau sering disebut VR BOX merupakan peralatan yang digunakan untuk meletakkan handphone agar pengguna dapat melihat aplikasi secara virtual dalam

Osteoarthritis primer yang sering disebut osteoarthritis idiopatik yaitu osteoarthritis yang tidak diketahui penyebabnya dan tidak ada kaitannya dengan penyakit sistemik

gangguan mood atau perasaan yang sangat ekstrim dengan dua kutub depresi dan mania yang mengganggu keberfungsian sosial subjek dan merupakan pemicu kuat upaya bunuh

Penilaian gejala depresi seperti perasaan sedih atau kekecewaan yang kuat dan terus menerus yang mempengaruhi aktivitas normal, menunjukan prevalensi seumur hidup

Didalam saluran distribusi terdapat perantara yang disebut dengan pedagang grosir (disebut juga distributor), menurut Kotler dan Keller (2009:158), pedagang grosir adalah

lain. Melalui proses ini seseorang dapat menghubungkan keinginan tak tertahankan, perasaan emosional, atau motivasi kepada orang lain. j) Reaksi formasi: pengembangan pola