• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: Tinjauan Pustaka

N/A
N/A
Muhammad Abdi Usman

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II: Tinjauan Pustaka"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

Partai politik sebagai peserta pemilu dinilai akuntabilitasnya setiap 5 (lima) tahun sekali oleh masyarakat secara jujur ​​dan adil sehingga partai politik dapat membuktikan eksistensinya dengan diuji melalui penyelenggaraan pemilu. Tentu saja akan ada seleksi terhadap partai politik agar tetap dapat berpartisipasi dalam pemilu, baik pemilu presiden maupun pemilu anggota Parlemen Norwegia. Oleh karena itu, karena merupakan tempat persaingan yang paling adil, maka pemilu seharusnya hanya mengikutsertakan partai politik yang dinilai mampu mengemban aspirasi masyarakat, sehingga efektivitas pemilu dapat terus terjaga dengan baik.

2 Muhadam Labolo dan Teguh Ilham, 2015, Partai Politik dan Sistem Pemilihan Umum di Indonesia, PT Raja Gravindo Persada, Jakarta, hal. Oleh karena itu, pemilu merupakan ajang dimana kita saling berkompetisi sekaligus memilih partai politik untuk ikut serta dalam pemilu, yang efektifitasnya sangat bergantung pada penyelenggaraan sistem pemilu, jumlah dan informasi kinerja partai politik. Sebagai peserta pemilu, tingkat kematangan masyarakat untuk memilih, serta kredibilitas penyelenggara pemilu dalam hal ini adalah KPU. Sifat independen atau mandiri Komisi Pemilihan Umum (KPU) didasarkan pada pemahaman bahwa penyelenggara pemilu harus netral dan tidak memihak serta tidak berada di bawah kendali partai politik atau pejabat negara.

Peserta pemilu sendiri terdiri dari partai politik dan anggotanya yang mencalonkan diri pada acara pemilu, calon atau anggota DPR, calon atau anggota DPD, calon atau anggota DPRD, calon atau presiden dan wakil presiden, calon atau wakil presiden. gubernur dan wakil gubernur, calon atau bupati dan wakil bupati, KPU mendaftarkan calon atau walikota dan wakil walikota sebagai penyelenggara, sehingga KPU tidak boleh terpengaruh oleh peserta pemilu tersebut di atas. Oleh karena itu, terdapat hubungan langsung antara rakyat, partai politik, dan wakil rakyat, sehingga partai politik mempunyai tugas untuk menjabarkan keinginan rakyat dalam suatu program politik, yang selanjutnya akan diusulkan kepada DPR dan para wakil rakyat di DPR akan berunding bagaimana mewujudkan keinginan tersebut menjadi keputusan politik. Mereka abstain dalam pilihan politik yang menganggap pemilu tidak ada gunanya, hanya membuang-buang anggaran negara, hanya menjadi sarana bagi partai politik dan calon wakil rakyat untuk menyampaikan janji-janji politik kosong yang akan terlupakan begitu terpilih.

Ketiga, partai politik diamanatkan UU Pemilu untuk dapat meminta salinan Daftar Pemilih Sementara (DPS) kepada Komisi Pemungutan Suara (PPS) agar partai politik dapat memeriksa calon per pemilih yang terdaftar.

Pilkada

Ketiga, KPU hendaknya bertindak sesuai dengan kewenangannya dalam mengawasi dan menegakkan peraturan yang berkaitan dengan proses penyelenggaraan pemilu, dalam hal ini KPU harus mampu menjadi lembaga yang independen sehingga mampu mengambil keputusan atau peraturan yang diambilnya sesuai dengan apa yang dikehendaki. diwajibkan secara hukum dan melaksanakannya dalam penyelenggaraan pemilu. Ketentuan mengenai pemilihan kepala daerah diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang, juncto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan. Sehubungan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Negara Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang, juncto Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 2015 tentang ketentuan peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati, dan walikota menjadi undang-undang. Namun yurisdiksi terhadap pilkada harus didasarkan pada pemahaman sistem antar pasal undang-undang.

Terlebih lagi, pemilu secara materiil mirip dengan pemilu daerah baik dari segi isi maupun pelaksanaannya.10 Pasangan calon walikota dan wakil walikota merupakan peserta pemilu yang diajukan oleh partai politik atau kelompok partai politik yang memenuhi syarat. Pemilihan kepala daerah yang diharapkan dapat memahami dan melaksanakan kehendak masyarakat sesuai dengan keputusan kolektif masyarakat di daerahnya. Pilkada merupakan sarana akuntabilitas sekaligus sarana penilaian dan kontrol politik terhadap pemimpin daerah dan partai politik pengusungnya.

Namun demokrasi bisa lebih nyata dirasakan oleh masyarakat ketika pemilihan kepala daerah ditentukan secara langsung melalui pilkada untuk menentukan calon kepala daerah yang cocok memegang kekuasaan tersebut. Pilkada sebagai mekanisme pergantian penguasa di tingkat daerah Diharapkan terjadi pergantian kepala daerah dan wakil kepala daerah secara demokratis dan kompetitif pada saat pilkada. Pemilihan umum langsung memberikan peluang sebesar-besarnya bagi calon kepala daerah yang sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.

Banyaknya kepala daerah yang berurusan dengan aparat penegak hukum atas berbagai persoalan terkait korupsi merupakan fakta yang sulit terbantahkan. Penguatan legitimasi kepala daerah misalnya membuktikan bahwa pilkada langsung masih sangat mungkin terus dilaksanakan. Menambah rasa percaya diri seorang bupati karena mendapat amanah langsung dari rakyat.

Pilkada Serentak adalah proses pemilihan kepala daerah yang dilakukan secara bersamaan atau bersamaan.16 Diselenggarakan sejak DPR menyetujui Pilkada Serentak diselenggarakan pada bulan Desember 2015.17 Dasar hukum penyelenggaraan Pilkada Serentak adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015. tentang Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang tentang Penetapan Deputi Peraturan Negara. Kemudian undang-undang ini diubah menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 hingga akhirnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016. Pilkada serentak gelombang pertama digelar untuk memilih kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada tahun 2015 dan Januari-Juni 2016 pada tahun 269 ​​wilayah tersebar di 9 provinsi, 36 kota, dan 224 kabupaten atau sekitar 53% dari total jumlah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Pilkada serentak gelombang kedua dilaksanakan pada 17 Februari 2017 untuk memilih kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada Juli–Desember 2016 di 101 daerah yang tersebar di 7 provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten. Pilkada serentak gelombang ketiga dilaksanakan pada 27 Juni 2018 untuk memilih kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada tahun 2018 dan 2019 di 171 daerah yang tersebar di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.

Partisipasi Masyarakat

21 Mifta Farid, Antikowati dan Rosita Indrayati, Kewenangan Pemerintah Daerah dan Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Potensi Daerah, e-Journal Lentera Hukum, Vol. Hal ini akan semakin kuat apabila penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan secara partisipatif dan memungkinkan adanya partisipasi masyarakat dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan daerah. Peraturan Bawaslu Nomor 13 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pengawasan Pemilu yang mengatur tentang bentuk-bentuk partisipasi masyarakat.

23 Muhamad Azhar, Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pilkada, Jurnal Hukum Administrasi & Pemerintahan, Vol. Partisipasi politik adalah suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang terlibat dalam kegiatan politik, termasuk dengan memilih seorang pemimpin negara dan, secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Kegiatan tersebut mencakup kegiatan seperti memberikan suara dalam pemilu, bergabung dengan suatu partai atau kelompok kepentingan, membina hubungan dengan pejabat pemerintah atau parlemen, dan lain-lain.24 Partisipasi politik di sini tidak berarti hanya untuk satu orang saja, bisa juga untuk orang-orang tertentu. kelompok yang tujuannya memilih seseorang, untuk menjadi pemimpin.

Partisipasi politik merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan politik suatu negara, terutama bagi negara-negara yang menganut sistem demokrasi, karena partisipasi politik erat kaitannya dengan hak dan kewajiban individu atau kelompok sebagai warga negara untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. proses yang dilakukan oleh pemerintah. Semakin tinggi tingkat partisipasi politik menunjukkan bahwa masyarakat mengikuti, memahami dan melibatkan diri dalam kegiatan pemerintahan. Di zaman modern ini, partisipasi politik dapat dilakukan secara online, antara lain dengan memposting sesuatu yang berhubungan dengan politik di media sosial dan juga mengikuti perkembangan politik di media sosial.26 Menurut Surbakti, partisipasi merupakan suatu tindakan yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu partisipasi aktif. dan partisipasi pasif.

Selain itu, ada sebagian anggota masyarakat yang tidak masuk dalam kategori partisipasi politik karena merasa masyarakat dan sistem politik yang ada tidak demikian. 26 Fatimah Akmal dan Ali Salman, Partisipasi Politik Pemuda 'Online' Melalui Ruang Demokrasi New Media Information, Malaysian Journal of Communication Journal of Communication, bagian hal. Peran masyarakat dalam mewujudkan pemilu yang bersih dan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang demokratis dan akuntabel sangatlah penting.

Sejak adanya otonomi daerah, partisipasi masyarakat dalam penyelesaian permasalahan daerah menjadi lebih terkonsentrasi dan bebas, termasuk dalam pemilihan kepala daerah itu sendiri. Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pilkada dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk pengawasan terhadap pelaksanaan pilkada. Hal ini semakin kuat jika pemerintahan daerah dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan atau kebijakan di daerah.

Untuk itu partai politik mempunyai peranan yang besar dalam meningkatkan partisipasi politik, karena ukuran keberhasilan suatu partai dalam pemilu dilihat dari jumlah partisipasi politik masyarakat dalam pemilu. 28 Damanhuri, Ikman Nur Rahman, Ronni Juwandi, Kaji Peran Partai Politik dalam Upaya Peningkatan Partisipasi Politik Warga pada Pilkada di Banten, UCEJ, Vol.

Partisipasi Pemilih

Referensi

Dokumen terkait

Saklar jenis ini pada umumnya tersedia dua, tiga atau empat pilihan posisi, dengan berbagai tipe knop. Saklar pemilih biasanya dipasang pada panel kontrol untuk memilih jenis

Menurut Syukron (2012) mengatakan bahwa peraturan Bank Indonesia dengan Malaysia tidak ada perbedaan termasuk peraturan tentang jumlah rapat DPS hanya saja Dewan

Dengan adanya keempat produk konversi tersebut, perusahaan dapat mengimplementasikan tacit knowledge yang dimiliki oleh setiap individu untuk dapat di kelola menjadi

Kesempatan promosi dapat menimbulkan keuntungan berantai (multiplier effect) dalam perusahaan karena timbulnya lowongan berantai. memberikan kesempatan kepada karyawan

Untuk itu perlu dilaksanakan promosi (promotion) atau komunikasi guna menciptakan kesadaran dan ketertarikan konsumen kepada produk bersangkutan. Sejumlah ahli menempatkan

Kegiatan Rehabilitasi Sosial - Rumah Tidak Layak Huni bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial penduduk miskin melaui pemberian kepada yang bersangkutan

Dari keempat literatur diatas peneliti menyimpulkan bahwa aksesibilitas pada bangunan perlu memperhatikan beberapa kondisi yaitu kondisi untuk menempatkan akses

44 No Tanggal Tahapan Pilkades 7 11-13 November 2019 Penyempurnaan DPS dan Pendaftaran Pemilih yang Belum Masuk DPS untuk Dimasukan dalam Daftar Pemilih Tambahan 8 14-18 November