Dalam melakukan tindak pidana pencucian uang, pelaku tidak terlalu memperhitungkan akibat yang akan dicapainya karena tujuannya. Objek pencucian uang adalah harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. Sanksi pidana terhadap pelaku yang berbuat melawan hukum dengan melakukan tindak pidana pencucian uang dapat dikenakan sanksi berupa pidana penjara sampai dengan denda paling banyak Rp.
Tindak pidana pencucian uang yang semakin marak terjadi di kalangan masyarakat, menimbulkan dampak negatif antara lain akibat dari tindak pidana tersebut. Pelaku kejahatan pencucian uang harus memanfaatkan ruang dan cara mereka melakukan kejahatan tersebut. Sedangkan dalam perkara pencucian uang, menurut Pasal 8 Tahun 2010 digunakan Pasal 3 (pengolahan, pencucian uang), Pasal 4 (penyembunyian, penyembunyian) dan Pasal 5 (penerimaan, penempatan pemeriksaan).
Alat yang biasa digunakan pelaku tindak pidana pencucian uang adalah rekening ATM, token, internet, telepon genggam, internet banking dan juga laptop. Cara pelaku melakukan tindak pidana pencucian uang antara lain melalui transaksi tunai atau transfer kawat. Blokade sesuai UU No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang tidak mengenal pemblokiran rekening yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 2010 tentang Dana.
Nilai atau besarnya harta yang diblokir sama dengan harta yang diketahui merupakan hasil tindak pidana seperti pencucian uang dan peredaran narkotika.
PPATK Sebagai Lembaga Pemberantas Tindak Pidana Pencucian Uang
Tugas pokok PPATK sesuai Pasal 39 UU TPPU adalah mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. PPATK memegang peranan kunci yang sangat penting dalam mekanisme pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia yang berada di tangan PPATK. Meminta keterangan mengenai perkembangan penyidikan atau penuntutan tindak pidana pencucian uang yang dilaporkan kepada penyidik atau penuntut umum.
40 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Modul 2, Penuntutan Pencucian Uang dan Pendanaan Teroris di Indonesia, hal. Kemudian PPATK melakukan analisa atau penyidikan dan meneruskan hasil analisa atau penyidikan tersebut kepada penyidik, dalam hal ini terdapat tanda-tanda adanya tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang. Di sinilah terjadi transaksi keuangan yang tergolong tindak pidana pencucian uang dan bertempat di rekening keuangan pelaku.
Persidangan merupakan suatu proses identifikasi permasalahan, analisa dan evaluasi yang dilakukan secara mandiri, obyektif dan profesional untuk menilai adanya tindak pidana. Menurut pengertian audit, tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh PPATK adalah untuk mengetahui adanya indikasi atau tanda-tanda terjadinya tindak pidana atau untuk memastikan dugaan awal terjadinya suatu tindak pidana berdasarkan hasil analisis transaksi keuangan. PPATK sangat membutuhkan hasil analisis data tersebut sebagai tambahan informasi untuk memperjelas adanya tindak pidana atau memperkuat dugaan tindak pidana pencucian uang.
Kegiatan atau fungsi pengujian PPATK merupakan salah satu fungsi penyidikan pada awal penyusunan RUU tentang tindak pidana pencucian uang. Berdasarkan peninjauan yang dilakukan PPATK, penyidik bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk mengetahui dugaan asal muasal dan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan pelaku. Informasi yang diberikan oleh badan intelijen dan PPATK lainnya diharapkan dapat membantu aparat penegak hukum dalam memperoleh bukti-bukti yang diperlukan, sehingga memudahkan pembuktian tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana peredaran narkoba sebagai tindak pidana terdahulu.
Data PPATK hanya dapat digunakan untuk kepentingan proses penyidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh anggota kepolisian terhadap dugaan tindak pidana pencucian uang atau peredaran narkoba sebagai tindak pidana yang sudah ada sebelumnya dan berkaitan satu sama lain, dan hasil PPATK tidak dapat dijadikan alat bukti. dalam proses persidangan di pengadilan; Aparat penegak hukum tidak dapat menggunakan dokumen tersebut sebagai alat bukti dalam perkara jika informasi dalam dokumen tersebut tidak memungkinkan adanya keterkaitan antara tindak pidana pencucian uang dengan tindak pidana peredaran narkoba. Selain itu, penyidik juga dapat meminta surat keterangan bank dari tersangka sebagai bukti adanya transaksi pencucian uang dan/atau peredaran narkoba.
Berdasarkan Pasal 12 ayat. baik secara langsung maupun tidak langsung. Sementara itu, Pasal 12 ayat. bagaimanapun juga kepada pihak lain.
UPAYA PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN PEREDARAN NARKOTIKA
Upaya preventif dalam peredaran narkoba merupakan salah satu tindakan yang dilakukan untuk menghindari tindakan yang melanggar norma agama, norma hukum, norma sosial, dan lain-lain. Selain UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, pemerintah juga memperkuat peraturan hukum lainnya melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 25 Tahun 2011 tentang Pemberlakuan Wajib Lapor Bagi Pecandu Narkotika. Agar pemerintah melakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan dan perdagangan gelap narkoba antar kelompok lalu lintas.
Namun, terdapat tingginya kejadian orang yang menderita OHD (orang dengan HIV/AIDS) yang menyalahgunakan narkoba dengan berbagi jarum suntik di antara sesama penggunanya. Pada tanggal 8 Desember 2003, BNN menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan KPA (Komisi Pencegahan HIV/AIDS) no. 21 Kep/Menko/Kesra/XII/BNN yang bertujuan untuk membangun kerjasama antar Komisi Pencegahan AIDS (CPA). dan BNN dalam rangka pencegahan HIV/AIDS dalam pemberantasan penyalahgunaan narkoba.47. Ketika pengguna sudah menggunakan narkoba, maka akan sulit untuk lepas dari narkoba tersebut, bahkan pengguna rela melakukan perbuatan melawan hukum lainnya demi mendapatkan salah satu jenis narkotika tersebut untuk dikonsumsi.
Kerusakan ini dapat berdampak pada kelainan otak, kelainan kulit, kelainan fungsi hati, kelainan mata, dan kelainan mulut. Pengguna atau pecandu narkotika dalam kacamata hukum di Indonesia adalah pelaku tindak pidana. Pecandu merupakan salah satu segmen pasar yang menjadi sasaran utama para bandar narkoba sebagai “pelanggan tetap”.
Pengguna narkotika merupakan pelaku tindak pidana dan dapat juga dikatakan sebagai korban, berdasarkan Pasal 103 UU No. 07 Tahun 2009 tentang penempatan pengguna narkoba di rumah terapi dan rehabilitasi sebagaimana tertuang dalam Surat No. Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia (SEMA) No. 04 Tahun 2010 tentang Penetapan Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika di Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial (selanjutnya disingkat SEMA No. 94 Tahun 2010).
Sedangkan SEMA Nomor 07 Tahun 2009 tentang Penempatan Pemakai Narkoba di Rumah Terapi dan Rehabilitasi, bagi Pecandu dan Pemakai. Namun surat edaran tersebut tidak mewajibkan setiap hakim untuk memberikan sanksi kepada terdakwa dalam perkara tersebut, melainkan hanya mewajibkan agar pecandu dan pengguna narkoba sebagai pelaku tindak pidana narkotika dan psikotropika dikirim ke pusat rehabilitasi. Rumah rehabilitasi yang dimaksud dalam hal ini adalah Rumah Rehabilitasi Kementerian Sosial RI dan UPTD, rumah sakit jiwa di seluruh Indonesia, dan tempat rujukan rumah rehabilitasi yang dikelola oleh masyarakat yang telah mendapat akreditasi dan Kementerian Kesehatan atau Kementerian Sosial ( dengan biaya sendiri).
Secara tidak langsung, surat edaran tersebut juga membenarkan sanksi pidana atas perbuatannya di depan persidangan. Namun hal tersebut masih belum bersifat wajib dan masih memberikan ruang bagi hakim untuk menghadirkan saksi tindak pidana terhadap pelaku atau pengguna, karena surat edaran tersebut hanya berupa panggilan Ketua Mahkamah Agung kepada seluruh hakim di semua pengadilan.