8 | P a g e
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1 Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan KK Dampingan, wajib dilaksanakan oleh mahasiswa untuk mendapingi dan berkunjung ke keluarga terpilih minimal sebanyak 15 kali. Pendampingan keluarga Ibu Ni Wayan Sarni telah terlaksana sebanyak 20 kali terhitung sejak melakukan kunjungan hingga berpamitan dengan keluarga Ibu Ni Wayan Sarni jika diakumulasikan KK Dampingan dilakukan dalam 5 minggu kegiatan KKN-PPM Universitas Udayana sebagai berikut:
4.1.1 Waktu
Pelaksanaan Keluarga Dampingan dimulai sejak tanggal 21 Juli 2023 hingga 27 Agustus 2023. Diminta kunjungan di siang hari atau sore hari hingga malam, yang dilakukan setelah kegiatan program kerja KKN-PPM atau program bantu dilaksanakan.
4.1.2 Lokasi
Setelah mendapat saran dan masukan dari kepala desa terkait dengan keluarga dampingan serta survey langsung bersama bapak Kadus Br. Kayupadi Bapak I Made Merta, maka lokasi KK Dampingan yang terpilih adalah Br. Kayupadi, Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Dimana Keluarga yang Terpilih adalah Keluarga Ibu Ni Wayan Sarni.
4.1.3 Kegiatan Pelaksanaan
Pelaksanaan Kegiatan Keluarga Dampingan yang dilaksanakan di Desa Belantih yang dimulai dari prmbagian KK Dampingan ke masing-masing mahasiswa KKN-PPM XXVII Universitas Udayana pada tanggal 17 Juli 2023. Mahasiswa diberikan waktu sepenuhmya dalam melaksanakan KK Dampingan yang telah dikoordinir oleh Kepala Desa Belantih, Bapak I Nengah Wardana. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa berupa kunjungan ke rumah keluarga di Desa Belantih. Kunjungan pertama KK Dampingan mahasiswa ditemani oleh Ketua Dusun Br. Kayupadi bapak I Made Merta untuk bertemu ke rumah KK Dampingan. Selama kunjungan tersebut, dilakukan perkenalan santai bersama Keluarga untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi keluarga tersebut dalam menceritakan permasalahan yang dialami dan menerima solusi yang ditawarkan.
Membantu dalam pengecekan kesehatan dan edukasi kesehatan serta membantu kegiatan dikebunnya. Pengecekan tekanan darah dilakukan secara rutin dan juga dilakukan pemberian obat penurunan tekanan darah. Dari pengecekan tekanan darah yang dilaksanakan Ibu Ni Wayan Sarni memiliki rata-rata 140/80 mmhg, Bapak I Nengah Sube 135/80 mmhg, dan Ibu Ni Ketut Terima memiliki rata-rata 125/70 mmhg, sehingga dapat dikatakan diusia beliau tekanan darah tergolong cukup tinggi.
9 | P a g e 4. 2 Hasil dan Pembahasan Pendampingan Keluarga
Hasil dari pendampingan keluarga Ibu Ni Wayan Sarni selama lebih dari satu bulan, adapun hasil yang didapatkan sebagai berikut:
No. Program Kerja Hasil Kerja
1. Pengecekan Kesehatan dan edukasi terkait Tekanan darah dan batuk.
Pihak Keluarga mengetahui tekanan darah dan kondisi kesehatan anggota keluarga serta mengetahui pentingnya untuk menjaga kesehatan melalui pengaturan pola makan dan minum agar tekanan darah tidak meningkat dan menimbulkan batuk.
2. Pemberian obat penurun darah dan batuk. Pihak keluarga merasa terbantu dan mengurangi pengeluaran keuangan.
3. Membantu Ibu Ni Wayan Sarni ke kebun dan edukasi terkait cara menabung agar mempunyai dana darurat serta
pemaksimalan dalam pengolahan kebun.
Membantu meringankan pekerjaan di kebun dan keluarga lebih memahami dalam
mengatur keuangan dan menyisihkan sedikit penghasilannya. Mulai
memaksimalkan untuk mengelola kebun dengan merawat dengan baik kebun jeruk dan kopinya.
Dari seluruh program yang telah dikerjakan dan diterapkan kepada keluarga Ibu Ni Wayan Sarni dan adiknya, program dapat memberikan setidaknya sedikit efek yang berdampak positif yaitu program pengecekan tekanan darah secara rutin dan membantu memberikan obat penurun darah serta catatan tekanan darah. Adapun program lain yang juga memberikan dampak positif kepada keluarga Ibu Ni Wayan Sarni yaitu pelaksanaan program membantu kekebun dan edukasi terkait cara menabung di LPD terdekat agar mempunyai dana darurat serta pemaksimalan dalam pengolahan kebun yang dapat meningkatkan hasil kebun yang didapatkan.
Selama dalam pendampingan ini keluarga Ibu Ni Wayan Sarni mempunyai dua permasalahan yaitu kesehatan terkait tekanan darah Ibu Ni Wayan Sarni dan adiknya Bapak I Made Suba dan permasalahan ekonomi dari Ibu Ni Wayan Sarni yang sudah tidak bekerja dan menunggu dana yang diberikan oleh adiknya. Untuk jadwal pertemuan dengan keluarga damping sendiri juga tidak mengalami kendala karena anggota keluarga sangat antusias dan memberikan respon yang positif pada setiap kunjungan yang dilakukan.