• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Lokasi Penelitian"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

72 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum KecamatanSukoharjo

a. Letak Geografis dan Luas Wilayah Kecamatan Sukoharjo

Kecamatan Sukoharjo merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Sukoharjo yang terletak di dataran tinggi, dengan tinggi 105 meter di atas permukaan laut. Luas Wilayah Kecamatan Sukoharjo pada tahun 2012 tercatat 4.458 Ha atau sekitar 9,55 persen dari luas Kabupaten Sukoharjo (46.666 Ha). Jarak dari Barat ke Timur ± 5,0 Kilometer dan dari Utara ke Selatan ± 6,0 Kilometer dan secara astronomis terletak antara 110º 46’ 39.72º hingga 110º 52’ 32.43” Bujur Timur dan 7º 37’ 57.54º hingga 7º 43’ 00” Lintang Selatan. Luas wilayah tersebut terdiri dari 2.363 Ha atau 53,01 persen Lahan Sawah dan 2.095 Ha atau 46,99 persen bukan Lahan Sawah, dibandingkan luas kabupaten. Dibandingkan dengan tahun 2011 luas lahan sawah tidak mengalami perubahan. Luas Bukan Lahan Sawah yang digunakan untuk pekarangan sebesar 75,70 persen dari total luas lahan bukan lahan sawah. Presentase tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan presentase penggunaan bukan lahan sawah yang lain.

Kecamatan Sukoharjo terbagi dalam 14 Kelurahan, wilayah tersebut terdiri dari 52 lingkungan, 137 RW (Rukun Warga) dan 437 RT (Rukun Tetangga). Menurut klasifikasinya semua kelurahan di Kecamatan Sukoharjo termasuk Desa Swakarya. Jarak dari Kecamatan Sukoharjo ke Ibukota Kabupaten Sukoharjo ± 1,5 Km. Batas-batas Kecamatan Sukoharjo adalah : Sebelah Utara : Kecamatan Grogol

Sebelah Timur : Kecamatan Bendosari

Sebelah Selatan : Kecamatan Nguter dan Kecamatan Tawangsari Sebelah Barat : Kecamatan Juwiring dan Kabupaten Klaten

(2)

commit to user

Gambar 4.1 Peta Lokasi Penelitian Kecamatan Sukoharjo

Adapun Kelurahan yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo antara lain :

a. Kelurahan Kenep b. Kelurahan Banmati c. Kelurahan Mandan d. Kelurahan Begajah e. Kelurahan Gayam f. Kelurahan Joho g. Kelurahan Jetis h. Kelurahan Combongan i. Kelurahan Kriwen j. Kelurahan Bulakan k. Kelurahan Dukuh l. Kelurahan Sukoharjo m. Kelurahan Bulakrejo n. Kelurahan Sonorejo

(3)

commit to user

Kecamatan Sukoharjo merupakan suatu kawasan dengan pembagian luas wilayah yang berbeda-beda di setiap kelurahannya. Disamping itu, jarak yang harus ditempuh oleh setiap Kelurahan ke Kecamatan juga berbeda-beda di setiap kelurahannya. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo, jarak dari masing-masing Kelurahan ke Kecamatan Sukoharjo dan luas wilayah dari setiap Kelurahan di Kecamatan Sukoharjo, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 4.1 Jarak Desa/Kelurahan ke Ibukota Kecamatan dan Luas Wilayah Menurut Desa Tahun 2012

No. Kelurahan Jarak Dari Desa Ke

Kecamatan (Km) Luas (Ha)

1. Kenep 4,80 283 2. Banmati 4,20 239 3. Mandan 2,60 318 4. Begajah 2,20 317 5. Gayam 1,90 211 6. Joho 0,80 216 7. Jetis 2,70 191 8. Combongan 3,80 325 9. Kriwen 5,60 313 10. Bulakan 7,20 301 11. Dukuh 6,60 394 12. Sukoharjo 3,80 495 13. Bulakrejo 5,40 411 14. Sonorejo 7,70 444 JUMLAH 4.485

Sumber: Kecamatan Sukoharjo Dalam Angka 2013 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo

Berdasarkan tabel mengenai jarak Kelurahan ke Ibukota Kecamatan dan luas wilayah masing-masing Kelurahan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jarak dari Kelurahan ke Ibukota Kecamatan yang paling jauh adalah Kelurahan Sonorejo, yang memiliki jarak tempuh 7,70 Km ke Ibukota Kecamatan Sukoharjo. Keadaan yang berbeda ada pada Kelurahan Joho yang hanya berjarak 0,80 Km dari Ibukota Kecamatan Sukoharjo. Faktor jarak dari Kelurahan ke Ibukota Kecamatan Sukoharjo akan mempengaruhi akses

(4)

commit to user

interaksi masyarakat ke wilayah Kecamatan Sukoharjo. Berkaitan dengan pembagian wilayah administrasi pemerintahan Kecamatan Sukoharjo menurut Desa atau Kelurahan, dapat diidentifikasi jumlah Rukun Tangga dan Rukun Warga dari masing-masing Kelurahan, jumlah RW dan RT yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo, dapat dilihat dalam tebel berikut:

Tabel 4.2 Jumlah Rukun Warga Dan Rukun Tetangga Dalam Wilayah Administrasi Kecamatan Sukoharjo Menurut Desa Tahun 2012

No. Kelurahan Lingkungan Rukun Warga Rukun

Tetangga 1. Kenep 3 9 29 2. Banmati 4 9 24 3. Mandan 3 9 29 4. Begajah 4 12 31 5. Gayam 4 14 43 6. Joho 4 9 26 7. Jetis 3 8 29 8. Combongan 3 6 23 9. Kriwen 4 10 34 10. Bulakan 4 10 32 11. Dukuh 3 9 36 12. Sukoharjo 6 13 43 13. Bulakrejo 4 8 24 14. Sonorejo 3 11 34 JUMLAH 52 137 437

Sumber: Kecamatan Sukoharjo dalam angka 2013 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo

Dari adanya rincian mengenai kelurahan-kelurahan yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo di atas, maka dapat dijabarkan bahwa wilayah-wilayah Kelurahan itulah yang mampu mendukung terselenggaranya segala macam kebijakan yang dibuat di wilayah kecamatan Sukoharjo. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Kecamatan Sukoharjo tidak akan mampu berjalan di setiap daerahnya apabila tidak didukung oleh kinerja dari masing-masing Kelurahan. Masing-masing kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Sukoharjo memiliki potensi-potensi alam yang

(5)

berbeda-commit to user

beda sesuai dengan karakteristik masing-masing Kelurahan. Potensi alam di masing Kelurahan dapat dipengaruhi oleh luas wilayah dari masing-masing Kelurahan di Kecamatan Sukoharjo. Berkaitan dengan hal tersebut, luas wilayah masing-masing Kelurahan di wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.3 Luas Wilayah menurut Desa/Kelurahan dan Status di Kecamatan Sukoharjo Tahun 2012 Kecamatan Desa/ Kelurahan Status (D/K) Luas (Km²) Persentase terhadap luas Kecamatan Sukoharjo Kenep Kelurahan 2,83 6,35

Banmati Kelurahan 2,39 5,36 Mandan Kelurahan 3,18 7,13 Begajah Kelurahan 3,17 7,11 Gayam Kelurahan 2,11 4,73 Joho Kelurahan 2,16 4,85 Jetis Kelurahan 1,91 4,28 Combongan Kelurahan 3,25 7,29 Kriwen Kelurahan 3,13 7,02 Bulakan Kelurahan 3,01 6,75 Dukuh Kelurahan 3,94 8,84 Sukoharjo Kelurahan 4,95 11,10 Bulakrejo Kelurahan 4,11 9,22 Sonorejo Kelurahan 4,44 9,96 Jumlah 44,58 100,00

Sumber : Kecamatan Sukoharjo dalam angka 2013 Badan Pusat Statistik --Kabupaten Sukoharjo

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa setiap kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Sukoharjo memiliki luas wilayah yang berbeda-beda. Kelurahan dengan luas wilayah paling besar di wilayah Kecamatan Sukoharjo adalah Kelurahan Sukoharjo. Kelurahan Sukoharjo memiliki luas wilayah 4,95 Km2 dengan persentase luas wilayah 11,10% jika dilihat dari luas keseluruhan Kecamatan. Berdasarkan tabel di atas dapat pula, dapat dilihat Keluarahan dengan luas wilayah terkecil di Kecamatan Sukoharjo. Kelurahan dengan luas wilayah terkecil di wilayah Kecamatan

(6)

commit to user

Sukoharjo adalah Kelurahan Jetis yang memiliki luas wilayah hanya 1,91 Km2 dengan persentase luas wilayah 4,28% jika dilihat dari luas keseluruhan Kecamatan Sukoharjo.

Dari rincian luas wilayah masing-masing Kelurahan di wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo di atas, dapat pula diidentifikasi penggunaan lahannya dari masing-masing Kelurahan. Karena pada dasarnya setiap Kelurahan memiliki bermacam-macam kebijakan untuk memanfaatkan lahan yang ada di masing-masing Kelurahan. Dari data yang telah dihimpun Peneliti dari hasil studi lapangan, maka penggunaan lahan di setiap Kelurahan di wilayah Kecamatan Sukoharjo dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 4.4 Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Tanah Per Desa Tahun 2012 (Ha) No Kelurahan Tanah Sawah Tanah Tegal Pekara -ngan Hutan Negara Lainnya Jumlah 1. Kenep 143 20 103 0 17 283 2. Banmati 123 0 80 0 36 239 3. Mandan 190 0 104 0 24 318 4. Begajah 142 0 158 0 17 317 5. Gayam 75 0 107 0 29 211 6. Joho 90 0 94 0 32 216 7. Jetis 45 0 123 0 23 191 8. Combongan 174 0 102 0 49 325 9. Kriwen 136 55 103 0 19 313 10. Bulakan 132 0 120 0 49 301 11. Dukuh 257 0 114 0 23 394 12. Sukoharjo 296 0 155 0 44 495 13. Bulakrejo 258 0 112 0 41 411 14. Sonorejo 302 0 111 0 31 444 JUMLAH 2.363 75 1.586 0 434 4.458

Sumber: Kecamatan Sukoharjo Dalam Angka 2013 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo

Berdasarkan data penggunaan lahan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa penggunaan lahan Kelurahan untuk tanah sawah yang terbesar adalah di Kelurahan Sonorejo yaitu 302 Ha dari luas total wilayah Kelurahan Sonorejo yaitu 444 Ha. Dengan data di atas pula, dapat diketahui wilayah

(7)

commit to user

Kelurahan dengan penggunaan lahan untuk tanah sawah yang terkecil adalah Kelurahan Jetis yang hanya memanfaatkan lahannya dari total 191 Ha untuk tanah sawah hanya 45 Ha. Sehingga berdasarkan data yang sama dapat disimpulkan bahwa masing-masing Kelurahan memiliki penggunaan lahan untuk tanah persawahan yang berbeda-beda, artinya tidak ada ketentuan khusus dari pemerintah yang mengatur mengenai penggunaan lahan untuk tanah persawahan. Sehingga berdasarkan tabel di atas, maka penggunaan total lahan untuk persawahan di Kecamatan Sukoharjo adalah 2.363 Ha dari total luas lahan kecamatan Sukoharjo 4.458 Ha.

Dari Data Statistik Kecamatan Sukoharjo Tahun 2013, hanya 2 Kelurahan dari 14 Kelurahan yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo yang memilki tanah tegal didalamnya. Dua Kelurahan tersebut adalah Kelurahan Kenep dan Kelurahan Kriwen. Di Kelurahan Kenep terdapat 20 Ha tanah dari luas total Kelurahan Kenep yaitu 283 Ha. Di Kelurahan Kriwen juga terdapat tanah tegal seluas 55 Ha dari jumlah luas tital Kelurahan Kriwen yaitu 313 Ha. Sedangkan untuk kelurahan yang lain yaitu Kelurahan Mandan, Kelurahan Banmati, Kelurahan Begajah, Kelurahan Gayam, Kelurahan Joho, Kelurahan Jetis, Kelurahan Combongan, Kelurahan Bulakan, Kelurahan Dukuh, Kelurahan Sukoharjo, Kelurahan Bulakrejo, dan Kelurahan Sonorejo tidak terdapat tanah atau lahan yang digunakan sebagai lahan tegal. Sehingga penggunaan total lahan untuk tanah tegal di Kecamatan Sukoharjo adalah 75 Ha dari luas total Kecamatan Sukoharjo yaitu 4.458 Ha.

Berbeda dengan penggunaan lahan tegal yang hanya terdapat dua Kelurahan saja di wilayah Kecamatan Sukoharjo, dilihat dari penggunaan lahan untuk pekarangan semua Kelurahan di wilayah Kecamatan Sukoharjo memiliki lahan pekarangan. Yang menjadi pembeda dari masing-masing Kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Sukoharjo hanyalah luas penggunaan lahannya. Kelurahan dengan pekarangan terluas adalah Kelurahan Begajah, yang memiliki luas lahan pekarangan 158 Ha dari luas total Kelurahan Begajah yaitu 317 Ha. Berbeda dengan Kelurahan Begajah yang memiliki pekarangan terluas, Kelurahan Banmati justru menjadi

(8)

commit to user

Kelurahan dengan luas pekarangan terkecil, yaitu hanya 80 Ha dari luas total Kelurahan Banmati yaitu 239 Ha. Total penggunaan lahan untuk pekarangan di Kecamatan Sukoharjo adalah 1.586 Ha dari luas total Kecamatan Sukoharjo 4.458 Ha.

b. Keadaan Penduduk KecamatanSukoharjo

Kecamatan Sukoharjo merupakan salah satu Kecamatan yang ada dalam wilayah administrasi Kabupaten Sukoharjo. Kecamatan Sukoharjo, karakteristik yang berbeda dengan daerah-daerah lain di wilayah Kabupaten Sukoharjo. Selain karena Kecamtan Sukoharjo terletak di area Kabupaten kota atau dalam kata lain akses untuk menuju ke pusat kota relatif lebih dekat, menjadikan Kecamatan Sukoharjo sebagai Kecamatan Kota di wilayah Kabupaten Sukoharjo. Berkaitan dengan jumlah penduduk yang berada di wilayah Kecamatan Sukoharjo, dapat dilihat dari data yang berhasil dihimpun dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo Tahun 2013, bahwa jumlah Penduduk Kecamatan Sukoharjo pada tahun 2012 tercatat 86.153 jiwa yang terdiri dari 42.570 penduduk laki - laki atau 49,41 persen dan 43.583 penduduk perempuan atau 50,59 persen. Adapun jumlah rumahtangga sebanyak 24.168. Dilihat dari kepadatannya (jiwa / Km2), Kelurahan Gayam merupakan desa yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi yaitu 4.517 jiwa setiap Kilometer persegi, sedangkan yang terendah yaitu Kelurahan Sonorejo sebesar 1.051 jiwa setiap Kilometer persegi. Pada tahun 2012, penduduk pendatang baru di Kecamatan Sukoharjo sebanyak 964, sebaliknya penduduk yang pindah sebesar 887. Dilihat dari Angka Kelahiran Kasar (CBR)-nya, dari tiap 1000 penduduk terjadi kelahiran sebanyak 12 orang, sementara Angka Kematian Kasarnya 8 orang per 1000 penduduk.

Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk disuatu daerah per satuan luas. Kepadatan penduduk disuatu daerah bisa dihitung dengan rumus (Kepadatan penduduk : jumlah penduduk total / luas wilayah). Adapun kepadatan penduduk di setiap Kelurahan di Kecamatan Sukoharjo dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

(9)

commit to user

Tabel 4.5 Luas, Jumlah Penduduk, Kepadatan Penduduk Dirinci Menurut Desa/Kelurahan Tahun 2012

No. Kelurahan Luas Wilayah (Km²) Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk (Jiwa/ Km²) 1. Kenep 2,83 4.950 1.755 2. Banmati 2,39 4.969 2.079 3. Mandan 3,18 5.325 1.675 4. Begajah 3,17 5.676 1.791 5. Gayam 2,11 9.531 4.517 6. Joho 2,16 6.105 2.826 7. Jetis 1,91 7.138 3.737 8. Combongan 3,25 4.706 1.448 9. Kriwen 3,13 5.416 1.730 10. Bulakan 3,01 7.214 2.389 11. Dukuh 3,94 5.718 1.451 12. Sukoharjo 4,95 9.434 1.906 13. Bulakrejo 4,11 5.304 1.291 14. Sonorejo 4,44 4.667 1.051 JUMLAH 44,58 86.153 1933

Sumber: Kecamatan Sukoharjo Dalam Angka 2013 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo

Berdasarkan tabel jumlah penduduk di atas, maka dapat dianalisis bahwa, jumlah penduduk yang ada di wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo tersebar di 14 Kelurahan dan memiliki kepadatan penduduk yang beragam. Jumlah penduduk yang paling banyak adalah di Kelurahan Gayam dengan jumlah penduduk sejumlah 9.531 jiwa. Jumlah penduduk yang ada di Kelurahan Gayam sangat berbeda dengan jumlah penduduk di Kelurahan Sonorejo, yang hanya memiliki jumlah penduduk 4.667 jiwa, dengan keadaan jumlah penduduk seperti itu Kelurahan Sonorejo tercatan sebagai Kelurahan dengan jumlah penduduk yang paling sedikit di wilayah Kecamatan Sukoharjo, sebaliknya Kelurahan Gayam tercatat sebagai Kelurahan dengan juml;ah penduduk yang paling banyak di Kecamatan Sukoharjo.

Dengan jumlah penduduk yang telah dipaparkan di atas, maka rincian jumlah penduduk jenis kelamin dan sex ratio di setiap Kelurahan di

(10)

commit to user

Kecamatan Sukoharjo juga dapat diketahui. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo Tahun 2013, jumlah penduduk laki-laki dan perempuan serta sex ratio dari setiap Kelurahan di Kecamatan Sukoharjo dapat dirinci dalam tabel berikut:

Tabel 4.6 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Sex Ratio Ririnci Menurut Desa/Kelurahan Tahun 2012

No. Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah Sex Ratio

1. Kenep 2.460 2.490 4.950 98,80 2. Banmati 2.425 2.544 4.969 95,32 3. Mandan 2.628 2.697 5.325 97,44 4. Begajah 2.848 2.828 5.676 100,71 5. Gayam 4.586 4.945 9.531 92,74 6. Joho 2.952 3.153 6.105 93,63 7. Jetis 3.567 3.571 7.138 99,89 8. Combongan 2.435 2.271 4.706 107,22 9. Kriwen 2.633 2.783 5.416 94,61 10. Bulakan 3.632 3.582 7.214 101,40 11. Dukuh 2.823 2.895 5.718 97,51 12. Sukoharjo 4.679 4.755 9.434 98,40 13. Bulakrejo 2.592 2.712 5.304 95,58 14. Sonorejo 2.310 2.357 4.667 98,01 JUMLAH 42.570 43.583 86.153 97,68

Sumber: Kecamatan Sukoharjo Dalam Angka 2013 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo

Berdasarkan data mengenai jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan sex ratio di atas, maka dapat dilihat bahwa penduduk laki-laki terbanyak yang tinggal di Kecamatan Sokoharjo terletak di Kelurahan Gayam dengan jumlah penduduk laki-laki sejumlah 4.586 jiwa. Berbeda dengan jumlah penduduk yang ada di Kelurahan Gayam, di Kelurahan Sonorejo justru hanya 2.310 jiwa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa populasi penduduk laki-laki yang paling banyak adalah di Kelurahan Gayam dan jumlah populasi penduduk laki-laki yang paling sedikit jumlahnya ada di Kelurahan Sonorejo. Berkaitan dengan jumlah penduduk perempuan yang ada di setiap Kelurahan di Kecamatan Sukoharjo, dapat dianalisis bahwa jumlah populasi penduduk

(11)

commit to user

perempuan terbanyak ada di Kelurahan Gayam yang memiliki jumlah penduduk perempuan sejumlah 4.945 jiwa. Sedangkan, Kelurahan di Kecamatan Sukoharjo yang memiliki jumlah penduduk perempuan paling sedikit adalah Kelurahan Combongan yang memiliki populasi penduduk perempuan 2.271 jiwa dari total jumlah penduduk keseluruhan 4.706 jiwa.

Seperti penjelasan sebelumnya, bahwa secara keseluruhan jumlah penduduk Kecamatan Sukoharjo adalah 86.153 jiwa dengan rincian penduduk laki-laki sejumlah 42.570 jiwa dan penduduk perempuan 43.583 jiwa. Berdasarkan Data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo Tahun 2013, secara spesifik banyaknya penduduk Kecamatan Sukoharjo menurut kelompok umur tahun 2012 dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 4.7 Banyaknya Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2012

Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah

L P 0 – 4 3.417 3.321 6.738 5 – 9 3.760 3.518 7.341 10 – 14 3.594 3.391 6.985 15 – 19 3.224 3.368 6.592 20 – 24 3.026 3.562 6.588 25 – 29 3.784 4.150 7.934 30 – 34 3.815 4.059 7.874 35 – 39 3.414 3.514 6.928 40 – 44 3.329 3.355 6.684 45 – 49 2.876 2.870 5.746 50 – 54 2.443 2.244 4.687 55 – 59 1.875 1.669 3.544 60 – 64 1.168 1.334 2.502 65 – 69 1.048 1.146 2.194 70 – 74 783 916 1.699 75+ 1.014 1.103 2.117 JUMLAH 42.570 43.583 86.153

Sumber: Kecamatan Sukoharjo Dalam Angka 2013 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo

(12)

commit to user

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk yang ada di wilayah Kecamatan Sukoharjo pada tahun 2012 berdasarkan kelompok umurnya, memiliki jumlah yang beagam di setiap rentang umurnya. Dengan melihat tampilan data yang ada pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penduduk usia 25 – 30 tahun dengan jumlah total 7.934 jiwa dengan rincian 3.784 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 4.150 jiwa berjenis kelamin perempuan. Selain itu, melalui data dalam tabel di atas dapat diketahui pula bahwa penduduk dengan rentang usia 70 – 75 tahun menjadi penduduk dengan populasi paling sedikit jika dibandingkan dengan rentang usia yang lain. Penduduk dengan rentang usia antara 70 sampai dengan 75 tahun hanya perjumlah 1.699 jiwa dengan rincian 783 jiwa adalah penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 916 jiwa yang memiliki jenis kelamin perempuan. Dengan melihat populasi kependudukan seperti pada tabel di atas, dapat dilihat jumlah penduduk dengan usia produktif dan tidak produktif. Data kependudukan berdasarkan jenjang usia juga dapat berfungsi sebagai data acuan penentuan kebijakan pemerintah. Dengan melihat data kependudukan yang tersaji secara rinci dapat pula dilakukan analisis bagi pemerintah untuk menanggulangi ledakan penduduk serta gejala-gejala sosial lainnya yang berhubungan dengan masalah kependudukan.

Penduduk Kecamatan Sukoharjo mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2011 yang memiliki jumlah penduduk 85.636 jiwa. Selisih penduduk Kecamatan Sukoharjo dari rentang waktu 2011 sampai dengan 2012 mengalami kenaikan populasi penduduk sejumlah 517 jiwa. Kenaikan jumlah penduduk di Kecamatan Sukoharjo harus di tanggulangi agar keberadaannya bukan menjadi beban tanggungan melainkan mampu menjadi penggerak roda perekonomian yang ada. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan penyedeiaan lapangan pekerjaan yang lebih banyak bagi masyarakat agar kualitas kehidupannya dapat meningkat.

(13)

commit to user c. PemerintahandiKecamatanSukoharjo

Kecamatan Sukoharjo terbagi dalam 14 Kelurahan, wilayah tersebut terdiri dari 52 lingkungan, 137 RW (Rukun Warga) dan 437 RT (Rukun Tetangga). Menurut klasifikasinya semua Kelurahan di Kecamatan Sukoharjo termasuk Desa Swakarya. Dalam pelaksanaan pemerintahan di Kecamatan Sukoharjo, jumlah aparat kecamatan ada 19 orang, sedangkan aparat desa ada 114 orang. Dari data Pemerintahan Kecamatan Sukoharjo dapat pula dianalisis mengenai banyaknya aparat Kecamatan Sukoharjo dirinci menurut seksi atau bidang dan tingkat pendidikannya pada tahun 2013. Berkaitan dengan jumlah aparat Kecapatan Sukoharjo, dalam data yang berhasil dihimpun dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo Tahun 2013, jumlah aparat Kecamatan Sukoharjo dirinci berdasarkan pendidikannya dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.8 Banyaknya Aparat Kecamatan Dirinci Menurut Seksi dan Pendidikan Tahun 2013

No. Seksi Tingkat Pendidikan Jumlah

S1+ DIII SMA SMP

1. Camat 1 0 0 0 1

2. Sekretariat 1 0 0 0 1

3. Sie Pelayanan Umum 1 0 2 0 3

4. Sie Pemerintahan 3 1 0 0 4

5. Sie PMD 1 0 2 0 3

6. Sie Kesos 2 1 0 0 3

7. Sie Trantip 1 0 2 1 4

JUMLAH 10 2 6 1 19

Sumber: Kecamatan Sukoharjo Dalam Angka 2013 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo

(14)

commit to user

2. Gambaran Umum Tentang Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni

PNPM Mandiri Perkotaan merupakan program nasional pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan pemerintah sejak 2007, sebelumnya yakni pada tahun 1999 program ini dikenal dengan nama P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan). P2KP saat itu dilaksanakan untuk mempercepat upaya penanggulangan kemiskinan, yang tidak hanya bersifat reaktif terhadap keadaan darurat akibat krisis ekonomi tetapi juga bersifat strategis, (karena disiapkan landasan berupa institusi masyarakat yang menguat bagi perkembangan masyarakat di masa mendatang). Bagi Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, program ini dinilai sangat strategis. Melalui PNPM Mandiri Perkotaan, Ditjen Cipta Karya mengarahkan Pemerintah Daerah agar makin responsif dalam menanggulangi kemiskinan di wilayah masing-masing. Selain itu dilakukan pula pendampingan secara intensif terhadap masyarakat, agar mereka mampu berupaya menanggulangi kemiskinan di wilayahnya, sehingga diharapkan ke depan Pemerintah Daerah menjadi mandiri, dan pada akhirnya mampu menciptakan masyarakat madani.

Hingga saat ini, PNPM Mandiri Perkotaan terus mendampingi Pemda dan masyarakat dengan memberikan technical assistance atau bantuan teknis. Langkah ini dilakukan agar dukungan serta peran serta Pemda terhadap PNPM Mandiri Perkotaan terus menguat dari waktu ke waktu. Berikut ini sejumlah kisah sukses atau best practice dari Pemda maupun masyarakat yang layak dijadikan contoh dalam melaksanakan PNPM Mandiri Perkotaan. Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni atau yang di singkat RTLH merupakan suatu program yang diberikan pemerintah melalui PNPM-MP atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan. Program ini diberikan atau diterapkan di masyarakat sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dalam segi papan. Program kebijakan seperti ini sangat perlu dilakukan, untuk memberikan akses kepada masyarakat agar memiliki rumah yang layak untuk dihuni. Permintaan

(15)

commit to user

terhadap rumah akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, karena rumah merupakan kebutuhan dasar bagi manusia di samping pakaian dan makanan. Meningkatnya kebutuhan rumah bagi masyarakat harus diikuti dengan kebijakan pemerintah yang dapat membenatu tercukupinya kebutuhan masyarakat terhadap rumah. Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni ini merupakan salah satu upaya yang tepat untuk dilakukan agar kebutuhan masyarakat terutama masyarakat miskin terhadap rumah dapat tercapai.

Renovasi dan pembangunan perumahan merupakan salah satu komponen kegiatan lingkungan PNPM Mandiri Perkotaan, rehabilitasi dan pembangunan perumahan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat miskin di kelurahan PNPM Perkotaan yang memiliki hak atas tanah dan memiliki rumah yang tidak layak huni bila dilihat dari aspek kesehatan, kenyamanan dan keamanan penghuninya. Hasil evaluasi Konsultan Manajemen Pusat (KMP) menunjukkan bahwa kegiatan rehabilitasi dan pembangunan rumah yang didanai oleh PNPM Mandiri Perkotaan telah memberikan manfaat yang sangat baik kepada masyarakat miskin. Sebagai investasi terbesar ketiga di bidang lingkungan, tren rehabilitasi dan pembangunan perumahan menunjukkan peningkatan sejak tahun 2007 hingga 2011, dari 12,00% menjadi 18,38% secara nasional, data tersebut diambil dari buku Prosedur Operasional Baku pembangunan rumah tidak layak huni PNPM Mandiri Perkotaan. Selama kurun waktu tersebut lebih dari 85.648 rumah telah direhabilitasi. Selain jumlah rumah yang meningkat investasi per rumah juga terjadi peningkatan dari Rp. 5,049 juta per rumah pada tahun 2007 menjadi Rp. 7,747 juta per rumah pada tahun 2011. Dari sejumlah rumah tersebut telah dimanfaatkan bagi warga miskin sebanya 159.160 KK miskin.

Penerapan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Kabupaten Sukoharjo, selalu bekerjasama dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) termasuk di wilayah Kecamatan Sukoharjo. Dalam penerapan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni ini terdapat sasaran dan pembiayaannya bagi masyarakat penerima manfaat. Adapun sasaran serta penjelasan mengenai pembiayaannya adalah sebagai berikut:

(16)

commit to user a. Sasaran

Renovasi dan pembangunan rumah di diperuntukkan khusus bagi masyarakat miskin (PS2) di kelurahan PNPM Mandiri Perkotaan dengan ketentuan:

1) Penerima manfaat memiliki lahan untuk kebutuhan pembangunan rumah

2) Penerima manfaat memiliki bukti surat syah atas kepemilikan tanah 3) Penerima manfaat memiliki bukti atas kepemilikan rumah yang

kurang layak bila dilihat dari aspek kesehatan dan keamanan penghuninya.

b. Biaya

Biaya rehabilitasi dan pembangunan rumah yang berasal dari BLM PNPM Perkotaan hanya sebagai stimulan bagi masyarakat untuk merehabilitasi / membangun rumahnya sesuai yang sudah mereka rencanakan dan sepakati bersama, oleh karena itu diperlukan adanya tambahan biaya swadaya dari warga yang lebih mampu untuk menolong masyarakat miskin yang memiliki rumah tinggal yang tidak layak huni. Pembangunan rumah ini dikelompokkan menjadi 2 (dua) kategori yaitu, pertama rehabilitasi dan kedua pembangunan baru (rekonstruksi), penentuan kategori ini berdasarkan pada tingkat kerusakan sesuai hasil survey yang dilaksanakan sebelumnya. Adapun besaran alokasi pagu dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan untuk rehabilitasi (tingkat kerusakan mencapai 50 %) maksimal sebesar Rp. 7,5 juta per unit dan pembangunan rumah baru (rekonstruksi) maksimal sebesar Rp. 15 juta per unit.

Berdasarkan penjelasan mengenai Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di atas, maka dapat diketahui bahwa mulai dari ketentuan penerima program (sasaran) dan juga rincian biaya yang dikeluarkan telah diatur secara pasti. Selain itu salah satu program PNPM-MP ini juga bekerjasama dengan BKM yang ada di setiap Kelurahan. hal ini juga dipertegas oleh pernyataan Agus Suyadi, selaku Koordinator Badan

(17)

commit to user

Keswadayaan Masyarakat “Sumber Makmur” Kelurahan Sonorejo, sebagai berikut:

Jadi memang beberapa program yang diterapkan oleh PNPM-Mandiri Perkotaan selalu menggandeng BKM. Termasuk Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni ini, hal ini saya acungi jempol karena dengan bekerjasama dengan BKM berarti pemerintah telah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk merencanakan, melaksanakan serta memantau sendiri pembangunan yang dilakukan di daerah mereka masing-masing Mas. (Wawancara, Senin 9 Desember 2013)

Bentuk koordinasi yang dijalin antara PNPM Mandiri Perkotaan dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) merupakan langkah yang strategis. Karena, BKM merupakan salah satu wadah bagi masyarakat untuk aktif menyampaikan gagasan dalam proses pembangunan daerah, dengan begitu masyarakat dapat mengemukakan gagasannya secara langsung dan ikut serta di dalamnya. Dengan komunikasi dan pendekatan yang baik antara pihak BKM dan masyarakat, maka segala macam program kebijakan yang ingin diterapkan dalam kehidupan masyarakat dapat diketahui oleh masyarakat luas, serta memungkinkan adanya partisipasi aktif masyarakat terhadap program kebijakan yang diterapkan.

PNPM-Mandiri Perkotaan merupakan salah satu mitra bagi masyarakat untuk membantu kehidupan masyarakat menjadi lebih berdaya, melalui program kebijakan yang dilakukan. Pemberdayaan terhadap masyarakat, menjadi salah satu tujuan diterapkannya program-program PNPM-Mandiri Perkotaan. Salah satu program PNPM-Mandiri Perkotaan yang dilakukan untuk memberdayakan masyarakat adalah adanya penerapan Program Bantuan Renovasi Rumah Tidak Layak Huni, salah satunya diterapkan di Kecamatan Sukoharjo. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Indrasna selaku Unit Pengelola Lingkungan BKM Kelurahan Kriwen, sebagai berikut:

PNPM Mandiri Perkotaan memang memiliki andil besar untuk memberdayakan masyarakat melalui kegiatannya. Banyak program yang melibatkan masyarakat secara mandiri, mulai dari pembangunan talut, perbaikan jalan, ada juga bantuan perbaikan rumah dan lain-lain, dari program itu masyarakat selalu diikutsertakan. Sejak ada kegiatan PNPM-Mandiri Perkotaan, masyarakat menjadi tahu dan mampu untuk ikut serta dalam pembangunan.(Wawancara: Selasa 31 Desember 2013)

(18)

commit to user

Pelaksanaan program PNPM-Mandiri Perkotaan, terutama Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni, memberikan dampak secara langsung bagi masyarakat, yaitu dampak bagi terpenuhinya kebutuhan akan rumah yang layak huni dan dampak bagi masyarakat yang semakin berdaya karena keterlibatannya dalam setiap program yang dilakukan. Penerapan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Kecamatan Sukoharjo memberikan dampak yang nyata, yang ditunjukkan dalam sebuah dokumen yang menyatakan adanya penurunan jumlah/volume perbaikan rumah tidak layak huni yang dilaksanakan di Kecamatan Sukoharjo. Kebutuhan akan rumah yang layak huni menjadi pendorong bagi masyrakat untuk mengajukan permohonan bantuan renovasi rumah tinggal layak huni, namun dengan adanya kerjasama dan sikap saling tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat, menjadikan di setiap pelaksanaan pembangunannya menjadi lancar. Adanya penurunan jumlah permintaan atau permohonan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kecamatan Sukoharjo antara tahun 2012 dan 2013, menunjukkan bahwa program ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Jumlah penerima Renovasi RTLH Tahun 2012 berjumlah 390, sedangkan pada tahun 2013 hanya berjumlah 169 rumah. Selain dari dokumen yang menyatakan bahwa penerima program RTLH mengalami penurunan, hal tersebut juga ditunjang dengan adanya data wawancara dengan Sabari selaku Ketua RW V Kelurahan Sonorejo sebagai berikut:

Yang saya tahu, setiap tahun itu ya berbeda-beda jumlah penerimanya, tergantung usulan atau dananya juga. Tapi yang saya tahu dari tahun ke tahun rumah di daerah sini mengalami perbaikan, mungkin dua atau tiga tahun yang lalu rumah gedhek (dinding dari bambu) masih banyak, tapi sekarang ini mungkin hanya tinggal empat atau lima rumah saja per RT yang masih menggunakan gedhek (dinding dari bambu). Dengan program seperti itu, dampak yang ditimbulkan sangat besar terutama bagi pemilik rumah akan semakin aman dan nyaman, karena mendapat bantuan perbaikan rumah yang layak. (Wawancara: Jumat 20 Desember 2013)

(19)

commit to user

Tabel 4.9 Rekap Data Kegiatan Perbaikan RTLH Kecamatan Sukoharjo PNPM-Mandiri Perkotaan Tahun Anggaran 2012

Sumber: Dokumen PNPM-Mandiri Perkotaan Kabupaten Sukoharjo Tahun 2012

Tabel 4.10 Rekap Data Kegiatan Perbaikan RTLH Kecamatan Sukoharjo PNPM-Mandiri Perkotaan Tahun Anggaran 2013

(20)

commit to user

B. Deskripsi Temuan Penelitian

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang dilakukan di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Partisipasi dalam hal ini secara spesifik membahas mengenai partisipasi masyarakat dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan rumah tidak layak huni sangat dibutuhkan, karena dengan melibatkan masyarakat dalam pembangunan maka masyarakat dapat menentukan sendiri arah pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam arti lain, masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai pihak yang menikmati pembangunan saja tetapi juga diposisikan sebagai pelaku pembangunan. Dengan melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan rumah layak huni, masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan karena mereka dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya. Selain itu, mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek pembangunan dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek pembangunan tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Mudi Basori mengenai pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sebagai berikut:

Terlibatnya masyarakat dalam pembangunan terutama berkaitan dengan pembangunan rumah yang layak huni bagi warga miskin memang sangat diperlukan, karena partisipasi dari masyarakat akan sangat mempengaruhi lama tidaknya proses pengerjaan dan juga banyak tidaknya dana yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pembangunan rumah yang layak huni. (Wawancara, Minggu 8 Desember 2013)

Mariyono, selaku Unit Pengelola Lingkungan Badan Keswadayaan Masyarakat Kelurahan Sonorejo Kecamatan Sukoharjo juga menyatakan pendapatnya mengenai perlunya partisipasi masyarakat dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni, sebagai berikut:

Partisipasi masyarakat terutama dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni harus dilakukan, karena masyarakat perlu diberdayakan dan tidak hanya sekedar menerima hasil pembangunan saja tetapi harus terlibat didalamnya, mulai dari awal sampai akhir. Dengan melibatkan masyarakat dalam program-program semacam ini masyarakat akan mau

(21)

commit to user

berpikir, minimal berpikir mengenai penanganan-penanganan masalah pembangunan rumah dilingkungan tempat dia tinggal. Nah, kalau partisipasi masyarakat sudah bisa berjalan dampaknya nanti bukan hanya sekedar masyarakat yang semakin berdaya, tetapi lebih dari itu masyarakat menjadi mandiri dalam program-program lain kedepannya. (Wawancara, Selasa 10 Desember 2013)

Berdasarkan hasil wawancara di atas mengenai perlunya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan rumah yang layak huni, dapat disimpulkan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat dalam program-program pembangunan terutama dalam hal ini adalah pembangunan rumah layak huni, maka akan ada beberapa keuntungan bagi kehidupan masyarakat yang didapatkan. Dengan melibatkan masyarakat dalam program pembangunan maka masyarakat dapat merencanakan, melaksanakan, dan mengontrol sendiri pembangunan yang dilakukan, sehingga arah pembangunan akan sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat dapat mengetahui seluk-beluk program kebijakan pembangunan yang telah dicanangkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat dapat melakukan kontrol yang nyata terhadap program kebijakan yang diberlakukan. Terakhir, masyarakat menjadi berdaya, karena telah mampu berpartisipasi dalam program pembangunan. Dengan demikian partisipasi masyarakat dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni sangat dibutuhkan dalam rangka menunjang keberhasilan program dan pada akhirnya akan mampu memberdayakan masyarakat dalam program-program lainnya.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya, partisipasi masyarakat dalam program pembangunan rumah yang layak huni menuai banyak permasalahan yang pada akhirnya menghambat keterlibatan masyarakat dalam program pembangunan. hal tersebut, didasarkan pada hasil observasi yang dilakukan di lapangan, yang menunjukkan keadaan yang kurang maksimal. Hal tersebut dikarenakan banyak masyarakat yang sibuk melakukan kegiatan-kegiatan pribadi, misalnya melanjutkan usaha mereka di rumah, bahkan ada juga yang bersantai bersama keluarga di rumah. Sesuai dengan hal tersebut, menurut

(22)

commit to user

salah seorang warga bernama Riyadi, berpendapat mengenai beberapa penghambat partisipasi masyarakat dalam program pembangunan rumah layak huni, sebagai berikut:

Sebenarnya kalau ada kerepotan di lingkungan saya, keinginan untuk membantu itu ada ya, tetapi memang ada beberapa hal yang mengakibatkan keterlibatan itu tidak maksimal. Beberapa diantaranya adalah kurangnya sosialisasi program kebijakan, kalau di lingkungan tempat saya tinggal Ketua RT atau RW memang sudah mengumumkan beberapa agenda gotong royong, termasuk gotong royong untuk membantu pembangunan rumah yang hendak di renovasi, tetapi pengumuman tersebut disampaikan secara mendadak, misalnya pada saat ada pertemuan rutin setiap malam Jum’at, Ketua RT baru menyampaikan agenda gotong royong padahal pelaksanaannya adalah hari minggunya. Kalau sudah menjadi keputusannya seperti itu agenda-agenda yang lebih penting yang sebelumnya sudah dijadwalkan jadi tidak bisa ditinggalkan, sehingga tidak bisa menghadiri kegiatan gotong royong tersebut. Selain itu, setahu saya banyak masyarakat yang memilih beristirahat daripada menghadiri gotong royong karena setelah 6 hari masuk kerja mungkin menurut mereka hari minggu adalah hari yang harus dimanfaatkan untuk beristirahat. (Wawancara, Selasa 10 Desember 2013)

Berdasarkan hasil wawancara mengenai penghambat tercapainya partisipasi masyarakat dalam pembangunan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam rangka menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat dalam program pembangunan harus memperhatikan aspirasi dari masyarakat mengenai kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan pembangunan secara gotong royong. Selain itu, sosialisasi di tingkat basis (RT atau RW) juga harus dilaksanakan secara rutin agar agenda-agenda kemasyarakatan dapat diketahui oleh semua warga masyarakat. Yang terakhir, masyarakat harus diberikan motivasi atau dorongan agar pola pikir masyarakat juga ikut terbangun ke arah yang lebih baik bagi masyarakat luas.

Selain data wawancara di atas, melalui observasi yang dilakukan peneliti di lapangan juga menggambarkan bahwa terdapat beberapa anggota masyarakat yang tidak hadir dalam pelaksanaan pembangunan (gotong royong). Hal tersebut diketahui dari pengamatan peneliti, bahwa peserta yang hadir pada saat itu sangat sedikit. Sehingga pelaksanaan gotong royong pada

(23)

commit to user

saat itu terkesan kurang semarak. Data observasi yang lain juga memperlihatkan terdapat beberapa masyarakat yang memilki kegiatan usaha di rumah seperti berjualan, bengkel, dan kerajinan kayu, memilih melanjutkan pekerjaan mereka dari pada berpartisipasi dalam pembangunan yang ada.

Maka dari itu untuk mempermudah pengkajian permasalahan, maka penulis memilih data yang benar-benar dapat dipakai dalam memecahkan permasalahan, sehingga data-data tersebut dapat menjawab rumusan masalah yang ditentukan. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini membahas tentang beberapa aspek diantaranya:

1. Partisipasi masyarakat Kecamatan Sukoharjo dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni

2. Dampak penerapan pembangunan partisipatif terhadap Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Kecamatan Sukoharjo

3. Hambatan penyelenggaraan partisipasi masyarakat dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Kecamatan Sukoharjo.

Berdasarkan aspek-aspek yang sudah disebutkan di atas, dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. PartisipasiMasyarakatKecamatanSukoharjoDalam Program RenovasiRumahTidakLayakHuni

Kecamatan Sukoharjo merupakan salah satu bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Sukoharjo yang juga turut serta melaksanakan kebijakan-kebijakan di wilayah Kabupaten Sukoharjo. Salah satu kebijakan yang juga dilaksanakan oleh wilayah administrasi Kecamatan Sukoharjo adalah pelaksanaan kebijakan renovasi rumah tidak layak huni bagi keluarga miskin. Program kebijakan ini merupakan salah satu cara pemerintah untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan lingkungan kumuh yang ada di Kecamatan Sukoharjo dengan memberdayakan masyarakat dalam usaha tersebut. Dengan dilaksanakannya Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni tersebut masyarakat akan terbantu dalam hal perbaikan papan dan terwujud keinginannya untuk singgah atau bertempat tinggal di dalam rumah

(24)

commit to user

yang layak huni. Kebijakan pemerintah seperti ini selaras dengan tujuan nasional Negara Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum, dalam hal ini adanya kebijakan pemerintah untuk merenovasi rumah warga masyarakatnya, maka pemerintah telah membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan membantu penyediaan rumah layak huni bagi masyarakat yang membutuhkan.

Pemerintah melalui Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, memiliki banyak kewenangan untuk mengatur dan mengelola sumber daya yang ada di daerahnya. Dengan adanya kewenangan ini pemerintah daerah diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi di daerah itu, termasuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat mensejahterakan masyarakat. Salah satu kebijakan yang tidak boleh di pandang sebelah mata adalah adanya kebijakan untuk memperbaiki rumah masyarakat miskin yang dinilai kurang layak untuk dihuni. Dalam melaksanakan kebijakan tersebut peran pemerintah bersama dengan warga masyarakat sangat dibutuhkan agar program kebijakan tersebut tepat sasaraan dan tepat guna. Maksudnya adalah tepat sasarannya, yaitu tepat diberikan kepada pihak-pihak yang membutuhkannya. Selanjutnya adalah tepat guna, maksudnya adalah dalam membelanjakan dana alokasi untuk perbaikan rumah, benar-benar dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Mudi Basori selaku Ketua Unit Pengelola Sosial Badan Keswadayaan Masyarakat Kelurahan Sonorejo Kecamatan Sukoharjo dalam wawancara sebagai berikut:

Program seperti ini (Renovasi Rumah Tidak Layak Huni) memang sangat tepat untuk dilakukan, hal ini karena sebagian masyarakat yang memiliki penghasilan rendah dan hanya cukup untuk makan sehari-hari sangat membutuhkan bantuan seperti ini. Karena logikanya, dia tidak punya banyak uang simpanan yang dialokasikan untuk membangun sebuah rumah. Rumah yang kokoh dan terbuat dari bahan-bahan yang layak juga sangat berdampak pada kenyamanan masyarakat untuk tinggal di tempat tersebut. Tetapi yang tidak kalah penting adalah dalam rangka memberikan bentuk bantuan seperti ini pemerintah bersama masyarakat harus senantiasa melakukan survei atau penyeleksian yang tepat, agar program seperti ini benar-benar bisa dinikmati oleh orang yang membutuhkan. (Wawancara, Minggu 8 Desember 2013)

(25)

commit to user

Dalam penyelenggaraan program renovasi rumah tidak layak huni masyarakat merupakan salah satu aktor yang sangat penting. Hal tersebut logis karena di masa sekarang ini strategi pembangunan di Indonesia memang sudah mulai bergeser dari Top-Down (dari pemerintah ke masyarakat) menjadi Bottom-Up (dari masyarakat ke pemerintah) sejak bergulirnya rezim otoriter di tahun 1998. Saat ini celah-celah demokrasi telah terbuka, termasuk keikutsertaan masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan. Berbagai kegiatan pembangunan tidak lagi bersifat sentralistik kepada pemerintah, tetapi masyarakat memiliki kewenangan pula untuk ikut serta menentukan arah pembangunan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Berdasarkan observasi yang dilakukan dilapangan, menunjukkan masyarakat ikut serta melaksanakan program kebijakan bantuan rumah layak huni ini, beberapa diantaranya juga terlihat sudah mempersiapkan diri dengan membawa peralatan pembangunan. sehingga dapat disimpulkan bahwa memang masyarakat perlu diberikan kewenangan untuk turut andil dalam beberapa program pembangunan. Terutama dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni, dirasa memang sangat tepat untuk dilaksanakan. Karena dari pengamatan atau observasi yang dilakukan, masih sangat banyak rumah masyarakat di beberapa wilayah di Kecamatan Sukoharjo yang tidak layak huni. Hal ini didasarkan pada bangunan fisik rumah yang sangat memprihatinkan, karena beberapa diantaranya masih terbuat dari bambu dan ditopang dengan tiang-tiang yang mulai rapuh. Selain itu, hasil observasi juga menyatakan bahwa kepedulian warga masyarakat untuk turut serta membantu masyarakat yang membutuhkan, hasrus senantiasa di tumbuh kembangkan.

Dalam penyelenggaraan pembangunan rumah yang layak huni bagi masyarakat miskin di Kecamatan Sukoharjo, telah banyak mendapatkan respon yang baik dari masyarakat secara umum. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kesediaan warga masyarakat dalam kegiatan gotong royong yang diselenggarakan untuk membantu terselesaikannya renovasi rumah dari masyarakat yang menerima program tersebut. Seperti yang telah diungkapkan

(26)

commit to user

oleh salah seorang warga yang menerima bantuan renovasi rumah tidak layak huni pada pertengahan bulan November 2013 bernama Warjono, dalam kesempatan wawancara Warjono mengungkapkan bahwa:

Wonten kathah wargo masyarakat ingkang mbiantu anggene kulo gadah kerepotan. Dinten Minggu niku wargo ngawontenake gotong royong Mas, geh wonten Bapak-bapak lan poro pemuda geh katah ingkang tumut Mas. Tiang alit kados kulo ngenten menawi mboten dibantu kalian tonggo tepalih geh sinten maleh Mas, geh tho ?

(Ada banyak warga masyarakat yang turut membantu saya dalam kegiatan tersebut. Hari Minggu warga masyarakat mengadakan kegiatan gotong royong Mas, ya ada Bapak-bapak dan para pemuda juga banyak yang datang Mas. Orang kecil seperti saya ini kalau tidak dibantu oleh warga masyarakat di lingkungan saya, siapa lagi Mas, iya kan ?). (Wawancara, Minggu 8 Desember 2013)

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan salah satu warga masyarakat yang menerima bantuan renovasi rumah di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan renovasi rumah tidak layak huni di tempat tersebut terdapat partisipasi aktif dan langsung dari warga masyarakat sekitar. Hal tersebut ditunjukkan dengan hadirnya bapak-bapak serta para pemuda yang turut membantu proses pembangunan. Peran serta masyarakat sekitar dalam pembangunan memang menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembangunan, salah satunya adalah efisien waktu. Dengan banyaknya tenaga dalam pembangunan akan mempercepat poses pengerjaan karena banyak orang yang ikut bergotong royong dalam setiap pengerjaannya. Dari data yang berhasil dihimpun, dapat diketahui beberapa hal mengenai partisipasi masyarakat dalam menunjang keberhasilan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di wilayah Kecamatan Sukoharjo. Dari hasil wawancara dengan Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) “Sumber Makmur” Kelurahan Sonorejo Agus Suyadi, diperoleh data sebagai berikut:

Kalau ditanya dalam hal apa saja masyarakat berpartisipasi dalam penanggulangan rumah tidak layak huni jelas banyak sekali Mas, bahkan masyarakat mulai dilibatkan sejak perencanaannya, baik dalam musyawarah perencanaan pembangunan atau musrenbang maupun dalam rapat-rapat intern setelah terbentuknya KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Selain itu masyarakat juga terlibat langsung

(27)

commit to user

dalam pengerjaannya juga Mas, jadi mulai dari perencanaan sampai dengan pengerjaannya memang praktek di lapangan keterlibatan masyarakat Alhamdulillah selalu ada Mas. (Wawancara, Senin 9 Desember 2013)

Sejalan dengan pernyataan di atas, Harjono selaku pendamping / fasilitator Kelurahan Dukuh Kecamatan Sukoharjo, menyatakan bahwa:

Pelibatan masyarakat memang sangat penting dalam program-program PNPM termasuk program RTLH ini. Setahu saya respon masyarakat terhadap program-program seperti ini sangat baik, terutama dalam kegiatan-kegiatan gotong royong. Di Kelurahan Dukuh, Kriwen dan kelurahan lainnya yang saya dampingi bersama kawan-kawan dari tim 2 memang keseluruhan partisipasi masyarakat sangat baik Mas. (Wawancara: Selasa 31 Desember 2013)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa partisipasi yang dilakukan masyarakat dalam pembangunan telah dilakukan mulai dari perecanaannya, hal ini menegaskan bahwa dalam merenovasi rumah warga yang tidak layak huni tersebut, masyarakat telah menyumbangkan pemikirannya melalui suatu forum satu tahunan yang disebut musrenbang atau musyawaran perencanaan pembangunan. Selain itu, masyarakat juga berpartisipasi dalam pembangunan fisik rumah dari warga penerima manfaat, sehingga dari data hasil wawancara di atas masyarakat di daerah tersebut melakukan partisipasi terhadap proses pembangunan dari awal direncanakannya sampai pada pelaksanaannya.

Selain data yang ditunjukkan dalam beberapa petikan wawancara di atas, peneliti juga menemukan data dari hasil observasi bahwa pada saat dilaksanakannya pembangunan banyak warga masyarakat yang ikut serta, bahu-membahu dalam kegiatan tersebut. Selain itu dalam kegiatan RWT (Rembug Warga Tahunan) yang peneliti ikuti, yaitu di Kelurahan Sonorejo, masyarakat sangat antusias memberikan saran atau kritikan terhadap BKM berkaitan dengan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni. Dari data hasil observasi tersebut terlihat bahwa pada umumnya pelaksanaan pembangunan dalam setiap tahapannya berjalan secara baik.

(28)

commit to user

Berkaitan dengan bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam penanggulangan rumah tidak layak huni di Kecamatan Sukoharjo, ternyata bentuk partisipasinya tidak hanya sebatas tenaga saja yang dikeluarkan warga masyarakat sekitar untuk membantu proses pembangunannya, melainkan ada bentuk bantuan lain yang diberikan masyarakat sebagai salah satu bentuk kontribusi terhadap sesama manusia. Beberapa partisipasi masyarakat dapat dirinci menjadi 4 hal, yang pertama masyarakat Kecamatan Sukoharjo berpartisipasi dalam tahap perencanaan pembangunan dengan menyumbangkan ide atau gagasannya mengenai program-program yang hendak dilakukan termasuk didalamnya adalah Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni melalui forum tahunan yang disebut musrenbang di tingkat Kelurahan, Kecamatan, dan Kabupaten. Selanjutnya, masyarakat juga terlibat dalam pelaksanaan pembangunannya, hal ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan gotong royong oleh warga masyarakat sekitar. Ketiga, masyarakat terlibat dalam evaluasi kegiatan yang dilakukan setelah pembangunan rumah telah selesai dilaksanakan. Yang terakhir partisipasi masyarakat terlihat pula dalam pemeliharaan hasil pembangunan, masyarakat melakukan pemantauan hasil pembangunan dan melengkapinya apabila terdapat suatu kekurangan pada hasil pembangunannya. Secara terperinci bentuk-bentuk partisipasi masyarakat Kecamatan Sukoharjo terhadap Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni dapat dilihat sebagai berikut:

a. Partisipasi Masyarakat Kecamatan Sukoharjo Dalam Perencanaan Pembangunan

Proses perencanaan dan pengambilan keputusan dalam program pembangunan seringkali dilakukan dari atas ke bawah (top down). Masyarakat seringkali diikutkan tanpa diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberikan masukan atau peranan. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menganalisis kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhan-kebutuhannya. Dalam hal ini masyarakat ditempatkan dalam posisi objek pembangunan, program yang dilakukan dari atas ke bawah tersebut

(29)

commit to user

seringkali tidak berhasil dan kurang memberi manfaat, karena masyarakat kurang terlibat, sehingga mereka merasa kurang bertanggungjawab terhadap program dan keberhasilannya. Dari latar belakang tersebut perlu adanya pendekatan atau strategi yang diterapkan dengan menempatkan masyarakat sebagai pihak utama atau subyek pembangunan. Strategi ini lebih bersifat memberdayakan masyarakat, dimana pengalaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaannya yang sangat luas dan berguna bagi orang lain. Proses ini bertitik tolak untuk mendirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya, menggunakan dan mengakses sumberdaya sebaik mungkin baik sumber daya dari luar maupun sumber daya yang ada di wilayah sendiri.

Perencanaan partisipatif adalah suatu proses untuk menghasilkan sesuatu yang direncanakan oleh semua pihak terkait dengan bidang yang direncanakan secara bersama-sama (partisipatif) dan terbuka, yang di mulai dari penjajakan kebutuhan/permasalahan dan potensi sampai dengan penentuan dan perumusan tujuan kegiatan. Perencanaan pebangunan yang dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat akan menghasilkan suatu agenda pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan dilakukannya perencanaan pembangunan secara partisipatif masyarakat diberikan kesempatan untuk menyuarakan apa yang menjadi keinginannya kepada anggota forum yang lain, dan akan dimusyawarahkan secara bersama-sama.

Dalam tahapan siklus PNPM Mandiri Perkotaan, refleksi kemiskinan dan pemetaan swadaya merupakan bagian dari perencanaan partisipatif, dimana dalam kegiatan tersebut diidentifikasi penyebab, masalah, potensi serta dilakukan analisa masalah melalui pembuatan pohon masalah. Dilanjutkan dengan penyusunan PJM (Program Jangka Menengah) Pronangkis (Program Penanggulangan Kemiskinan) yang merupakan rencana tindak lanjut dari permasalahan yang ada. Dalam perencanaan partisipatif sangat penting memperhatikan keterlibatan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung diajak untuk

(30)

commit to user

berdiskusi, hal ini dikarenakan apabila masyarakat hanya tinggal menunggu semuanya beres tanpa permasalahan dan tanpa ada keterlibatan sama sekali, dapat menyebabkan kurangnya rasa tanggungjawab dan tidak menutup kemungkinan bahwa program-program yang akan dilakukan tidak sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam bentuk ide, gagasan serta perencanaan lainnya yang berhubungan dengan pembangunan rumah yang layak huni dapat diungkapkan dalam forum tahunan yaitu musrenbang Kelurahan. Hal tersebut juga dipertegas oleh pendapat Agus Suyadi, dalam sebuah kesempatan wawancara, sebagai berikut:

Beberapa perwakilan masyarakat seperti Ketua RT atau RW dapat memberikan idenya baik yang menyangkut masalah usulan program atau usulan lainnya berdasarkan usulan yang sebelumnya sudah disampaikan oleh warga mereka. Di dalam forum Renta (Rencana Tahunan) yang difasilitasi oleh BKM di masing-masing Kelurahan yang biasanya diadakan setiap awal tahun. Setiap orang diberikan waktu dan kesempatan yang sama untuk dapat mengusulkan program, ya termasuk Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni. (Wawancara: Senin 9 Desember 2013)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka dapat disimpulkan bahwa warga masyarakat telah berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan dengan memberikan ide atau gagasan yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dalam forum. Ide atau gagasan tersebut merupakan salah satu bentuk partisipasi yang diberikan masyarakat untuk memecahkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan Kebijakan Renovasi Rumah Tidak Layak Huni. Dalam wawancara tersebut, narasumber menyatakan bahwa, ide atau gagasan tersebut disampaikan dalam sebuah forum tahunan yang diadakan oleh BKM di Desa atau Kelurahan. sehingga dapat disimpulkan bahwa bentuk partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan adalah berupa ide atau gagasan yang disampaikan dalam forum tahunan yang disebut Renta (Rencana tahunan).

(31)

commit to user

Selain dari data hasil wawancara di atas, hasil observasi yang dilakukan juga memperlihatkan adanya antusias dari perwakilan yang dihadirkan dalam forum Renta di Kelurahan Sonorejo. Antusias masyarakat tersebut ditunjukkan dari adanya kesan yang positif dari salah satu peserta berkaitan dengan pelaksanaan renovasi rumah tidak layak huni dan program lainnya. Dari absensi kehadiran pada acara Renta tersebut juga menunjukkan adanya beberapa masyarakat yang hadir mulai dari Ketua RT, RW, Gapoktan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dan juga PKK. Dengan hadirnya perwakilan masyarakat dalam forum tersebut, maka dari hasil observasi menunjukkan atau memperlihatkan adanya dialog yang positif antara BKM atau pemerintah terkait, dengan masyarakat yang hadir.

Berdasarkan analisis dokumen yang peneliti lakukan, dari Kumpulan Buku Bacaan Pelatihan Penguatan BKM Tahun 2 dan 3 yang di publikasikan oleh PNPM-Mandiri Perkotaan, di peroleh data mengenai pengertian umum dari Renta. Musyawarah perencanaan tahunan (Renta) Desa atau Kelurahan merupakan forum musyawarah tahunan para pemangku kepentingan (stakeholder) Desa/Kelurahan untuk menyepakati rencana kegiatan untuk tahun anggaran berikutnya.

Renta Desa/Kelurahan dilakukan setiap bulan Januari untuk menyusun rencana kegiatan tahunan Desa dengan mengacu atau memperhatikan rencana pembangunan jangka menengah Desa (RPJM Desa). Rencana tahunan yang biasanya dilakukan pada awal tahun antara Bulan Januari dan Februari dengan melibatkan masyarakat secara umum. Dalam forum Renta masyarakat memilki peluang untuk mengemukakan usulan berdasarkan fenomena yang sedang terjadi dan mendesak untuk segera ditanggulangi. Hal tersebut tersirat dalam petikan wawancara dengan Bambang selaku Anggota BKM Kelurahan Kriwen, sebagai berikut:

(32)

commit to user

Sebelum finalisasi program yang akan dilaksanakan, terlebih dahulu kita menyelenggarakan Renta (Rencana tahunan) untuk membahas agenda-agenda apa yang hendak kita lakukan di tahun anggaran berikutnya. Tentu saja, kita melibatkan masyarakat di lingkungan Kelurahan, karena suara merekalah yang akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusannya. Komitmen masyarakat selama ini untuk ikut serta menyumbangkan idenya juga sangat bagus, antusias, dan dialogis. (Wawancara: Selasa 31 Desember 2013)

Berdasarkan petikan wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan perencanaan pembangunan yang dilaksanakan dalam sebuah wadah yang di sebut Renta ini, mengundang antusias yang baik dari masyarakat. Seperti terlihat dari hasil wawancara di atas, bahwa pelaksanaan renta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengemukakan gagasannya mengenai program yang hendak dilakukan, termasuk di dalamnya Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni. Keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan Renta sangat dibutuhkan guna menghasilkan suatu keputusan yang mufakat berdasarkan musyawarah masyarakat. Dalam penyelenggaraan Renta banyak lapisan masyarakat yang diundang atau dilibatkan, bedasarkan data hasil penelitian diperoleh data bahwa pihak yang di undang antara lain Ketua RW, Ketua RT, Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), PKK, Ketua Gapoktan, Lurah, dan tokoh masyarakat yang dipandang kompeten untuk mewakili suara masyarakatnya dalam forum Renta. Data tersebut juga dinyatakan oleh Sunardi selaku Ketua RW di Kelurahan Bulakan dalam kesempatan wawancara sebagai berikut:

Forum perencanaan tahunan yang bisanya bertempat di Kelurahan itu yang saya tahu ya Mas, itu yang di beri undangan adalah perwakilan masyarakat yang dipandang mampu gitu lah, ya antara lain ada RW, RT, Tokoh masyarakat, Ketua Organisasi Kelurahan, ada juga Lurah, PKK juga ada Mas. Ya yang jelas setiap unsur dalam masyarakat terwakili Mas. Forum itu sangat positif Mas, selain suara masyarakat bawah didengarkan juga masyarakat bisa bertanya tentang agenda-agenda yang belum dipahami, begitu kira-kira Mas. (Wawancara: Jumat 20 Desember 2013)

(33)

commit to user

Dengan adanya perwakilan yang kompeten yang mewakili suara masyarakat di daerah masing-masing, tentu saja forum Renta ini menjadi semakin berkualitas. Sebagai salah satu wadah penyalur aspirasi masyarakat bawah, masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya berkaitan dengan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Agenda RTLH yang diusulkan masyarakat ini dapat diagendakan dalam program selanjutnya berdasarkan alokasi yang ditentukan dalam Renta tersebut.

Renta yang bermakna, akan membangun kesepahaman tentang kepentingan dan kemajuan desa, dengan mengacu pada potensi dan sumber-sumber pembangunan yang tersedia baik dari dalam Desa sendiri maupun dari luar Desa. Renta adalah forum publik perencanaan program yang diselenggarakan oleh BKM Kelurahan bekerjasama dengan warga dan para pemangku kepentingan. Penyelenggaraan Renta merupakan salah satu tugas BKM Kelurahan untuk menyelenggarakan urusan pemberdayaan, pembangunan dan kemasyarakatan. Pembangunan tidak akan bergerak maju apabila masyarakat tidak berperan atau berfungsi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Renta juga dapat berfungsi sebagai forum pendidikan bagi warga masyarakat agar menjadi bagian aktif dari kebijakan pembangunan. Sepaham dengan pernyataan tersebut, dalam kesempatan wawancara Mudi Basori yang merupakan Ketua Unit Pengelola Sosial BKM “Sumber Makmur” Kelurahan Sonorejo Kecamatan Sukoharjo menyatakan pendapatnya sebagai berikut:

Rencana tahunan memang menjadi hal yang sifatnya wajib ya Mas, karena Renta merupakan salah satu wadah bagi masyarakat untuk berperan atau berpartisipasi menyampaikan gagasannya dalam pembangunan. Beberapa tahun terakhir penyelenggaraan Renta di Kelurahan Sonorejo juga berjalan baik, itu artinya perhatian masyarakat akan pentingnya musyawarah itu masih ada. Selain itu kalau dipikir-pikir ya Mas, kita kan hidup di lingkungan masyarakat, kita tidak harus selalu berpikir bagaimana kita pribadi hidup serba enak, tetapi kita juga harus ikut memikirkan bagaimana membantu mereka yang kesusahan. Ya kalau rumahnya sudah tidak nyaman atau tidak layak untuk di tempati ya kita yang di utus untuk mewakili masyarakat juga harus memperjuangkannya untuk kepentingan bersama. (Wawancara, Minggu 8 Desember 2013)

(34)

commit to user

Suatu kebijakan yang diterapkan dalam suatu wilayah atau daerah memang tidak bisa lepas dari payung hukum atau dasar hukum penyelenggaraan kebijakan. Berkaitan dengan dasar hukum penyelenggaraan musrenbang, maka dapat dianalisis bahwa Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah merupakan kerangka dasar otonomi daerah yang salah satunya mengamanatkan dilaksanakannya perencanaan pembangunan dari bawah secara partisipatif. Peraturan Pemerintah No.75 Tahun 2005 tentang desa menjabarkan lebih lanjut mengenai posisi Desa dalam konteks otonomi daerah dengan mengacu pada Undang-undang No.32 Tahun 2004 tersebut. Sedangkan Kelurahan dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No.73 Tahun 2005 tentang Kelurahan. Dalam rangka pelaksanaan otonomi, perencanaan pembangunan Desa/Kelurahan merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan daerah (Kabupaten/Kota) dan merupakan bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional.

Selain data yang diperoleh dari hasil wawancara, hasil pengamatan atau observasi juga memperlihatkan hal yang sama, bahwa dalam pelaksanaan Renta yang peneliti ikuti, keterlibatan masyarakat sangat menentukan keputusan. Hal ini terlihat dari setiap gagasan yang diberikan tokoh masyarakat yang mewakili masyarakatnya untuk menyampaikan keluhan atau harapan untuk program kerja selanjutnya. Data hasil observasi dalam perencanaan pembangunan tersebut, juga memperlihatkan adanya kesempatan yang diberikan pihak BKM kepada masyarakat untuk ikut serta membangun program kebijakan yang dijiwai dari fenomena yang ada di lingkungan masing-masing peserta.

Berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Renta Desa/Kelurahan dapat dijelaskan melalui data hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Koordinator Badan Keswadayaan

(35)

commit to user

Masyarakat “Sumber Makmur” Kelurahan Sonorejo Kecmatan Sukoharjo, Agus Suyadi sebagai berikut:

Dalam pelaksanaan Renta yang sudah berjalan selama ini, selalu ada masyarakat yang memunculkan gagasannya mengenai agenda ke depan untuk kepentingan Desa mereka. Dalam pelaksanaannya keterlibatan masyarakat saya kira sangat baik ya, apalagi setiap Dusun mengirimkan perwakilannya untuk duduk di forum Renta secara adil, artinya ada laki-lakinya dan ada perempuannya. Dalam proses pelaksanaan Renta selalu ada dialog yang aktif dari masyarakat ke pemerintah yang waktu itu hadir. Apabila Renta selalu berjalan seperti ini saya kira akan semakin banyak aspirasi masyarakat tentang agenda pembangunan yang di perhatikan. (Wawancara, Senin 9 Desember 2013)

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa, konsep musyawarah menunjukkan bahwa Renta bersifat partisipatif dan dialogis. Musyawarah merupakan sebuah istilah yang sudah jelas berarti merupakan forum untuk mendiskusikan segala sesuatu dan perakhir pada pengambilan kesepakatan dan keputusan bersama. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Saman selaku Ketua RW di Kelurahan Bulakrejo menyatakan:

Renta bukan sekedar sosialisasi informasi atau seminar saja, proses pelaksanaan Renta tidak disusun sebagai acara seremonial yang separuh atau sebagian besar dari waktunya diisi dengan sambutan-sambutan atau pidato-pidato. Inti dari Renta adalah partisipasi aktif warga masyarakat. Renta Desa/Kelurahan adalah forum dialogis antara pemerintah dengan pemangku kepentingan dari suatu isu/persoalan, kebijakan, peraturan, atau program pembangunan yang sedang dibicarakan. Dalam perencanaan tahunan BKM bersama dengan masyarakat berembug dalam menyusun program tahunan Desanya. (Wawancara: Kamis 26 Desember 2013)

Penyelenggraab perencanaan tahunan atau Renta terdapat tujuan serta luaran yang diharapkan. Tujuan serta luaran dalam penyelenggaraan Renta Kelurahan tersebut dapat dicermati dari hasil wawancara dengan Darwis selaku Fasilitator Kelurahan sebagai berikut:

Dalam penyelenggaraan program apapun tentunya kan ada tujuannya Mas, kalau untuk rencana tahunan sendiri ada beberapa tujuannya Mas, antara lain: menyepakati adanya prioritas kebutuhan dan kegiatan yang telah dusulkan oleh masyarakat

(36)

commit to user

melalui perwakilan mereka dalam forum Renta, kemudian prioritas kegiatan Kelurahan yang akan dilaksanakan oleh warga Kelurahan yang dibiayai melalui dana swadaya masyarakat dan dikoordinasikan oleh lembaga kemasyarakatan yang ada di Kelurahan, ya kalau di tempat kita BKM Mas. Selain itu luarannya adalah terbentuknya daftar prioritas kegiatan urusan pembangunan, kemudian ada juga daftar permasalahan dari warga yang sudah disepakati. (Wawancara: Kamis 19 Desember 2013)

Dari data hasil wawancara yang telah dilakukan Peneliti dengan Fasilitator Kelurahan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam penyelenggaraan Renta terdapat tujuan serta luaran yang diharapkan. Tujuan dari penyelenggaraan Renta ini adalah menyepakati adanya prioritas kebutuhan dan kegiatan yang telah dusulkan oleh masyarakat melalui perwakilan mereka dalam forum Renta, kemudian prioritas kegiatan Kelurahan yang akan dilaksanakan oleh warga Kelurahan yang dibiayai melalui dana swadaya masyarakat dan dikoordinasikan oleh lembaga kemasyarakatan yang ada di Kelurahan. Dalam tujuan tersebut secara langsung masyarakat diberikan wewenang untuk memusyawarahkan program-program usulan yang berkaitan dengan keinginan masyarakat, termasuk di dalamnya usulan-usulan yang berkaitan dengan Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni.

Rencana tahunan (Renta) juga dilaksanakan secara demokratis dan berlangsung secara dialogis. Hal ini karena sebagian besar perwakilan masyarakat yang ditunjuk Kelurahan masing-masing dalam forum Renta menyampaikan apa yang menjadi usulan masyarakat di tingkat Kelurahan untuk kemudian disepakati bersama-sama dengan anggota forum yang lain. Senada dengan hal tersebut di atas, Joko Supriyadi selaku Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Sukoharjo berpendapat dalam kesempatan wawancara sebagai berikut:

Kalau secara detail penyelenggaraan Renta itu saya tidak begitu tahu Mas, karena kalau perencanaan pembangunan di lingkup kedinasan pemerintah daerah itu musrenbang Mas. Tapi setahu saya, agendanya hampir sama, jadi Renta itu mengagendakan program-program yang tidak diagendakan dalam pembahasan Musrenbang. Jadi istilahnya agar tidak ada benturan antara

Gambar

Gambar 4.1 Peta Lokasi Penelitian Kecamatan Sukoharjo
Tabel  4.1  Jarak  Desa/Kelurahan  ke  Ibukota  Kecamatan  dan  Luas  Wilayah  Menurut Desa Tahun 2012
Tabel  4.2  Jumlah  Rukun  Warga  Dan  Rukun  Tetangga  Dalam  Wilayah  Administrasi Kecamatan Sukoharjo Menurut Desa Tahun 2012  No
Tabel  4.3  Luas  Wilayah  menurut  Desa/Kelurahan  dan  Status  di  Kecamatan  Sukoharjo Tahun 2012  Kecamatan  Desa/  Kelurahan  Status (D/K)  Luas  (Km²)  Persentase  terhadap luas  Kecamatan Sukoharjo  Kenep  Kelurahan  2,83  6,35
+7

Referensi

Dokumen terkait

yang merupakan guru pendidikan bahasa Indonesia SMA negeri 2 Surakarta yang menyatakan bahwa naskah drama Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani sangat

Perencanaan pembangunan masjid Jami Tuhfaturroghibin dilaksanakan untuk membantu masyarakat di lingkungan masjid, Alalak Tengah, agar renovasi atau pembangunan masjid

Program bantuan renovasi rumah tidak layak huni tersebut hanya akan berjalan secara baik apabila dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap tahap

Sementara itu pada saat kegiatan inti berlangsung, siswa terlihat lebih serius dan bersemangat saat belajar melakukan gerakan sepak sila dalam sepak takraw melalui

1) Renovasi Masjid Wali dan Gapura di beberapa titik tetapi tidak meninggalkan unsur bangunan asli dari gapura tersebut. Renovasi ini dilakukan secara gotong-royong oleh

Sehingga dapat ditarik kesimpulan secara keseluruhan bahwa keadilan restoratif tidak mudah diupayakan karena kasus kekerasan dalam rumah tangga terlanjur membawa dampak yang

Setelah perbaikan dari siklus sebelumnya, penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe ETH untuk meningkatkan hasil belajar dan aktifitas belajar siswa pada

KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil analisa tersebut diperoleh beberapa pemecahan masalah, sehingga penulis memberikan kesimpulan upaya penerapan prosedur keamanan kapal pada awak kapal