BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Pratindakan
Sebelum proses penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan kegiatan observasi awal oleh peneliti untuk mengetahui keadaan siswa dan metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw. Dari kegiatan observasi awal tersebut diperoleh data sebagai berikut : 1. Proses pembelajaran materi sepak sila dalam sepak takraw yang diterapkan
pada siswa kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri dapat dikatakan kurang berhasil yang mengakibatkan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw masih rendah.
2. Siswa kurang semangat dan tidak bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses belajar sepak sila dalam sepak takraw yang dikarenakan dalam proses pembelajaran guru belum menerapkan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Kegiatan pembelajaran yang monoton mengakibatkan motivasi belajar siswa menurun, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa.
3. Materi yang disampaikan oleh guru tentang sepak sila dalam sepak takraw masih sulit untuk dipahahami siswa. Hal ini dikarenakan contoh yang disampaikan oleh guru hanya melalui peragaan langsung melakukan sepak sila kemudian menyuruh siswa untuk mengulangi, sehingga kurang dapat dipahami oleh siswa.
4. Dalam proses pembelajaran guru belum menerapkan model pembelajaran yang menarik untuk diikuti oleh siswa dan masih terkesan monoton. Dari kegiatan pembelajaran yang kurang menarik seperti itu, maka hasil belajar siswa belum dapat tercapai sesuai dengan yang diinginkan, dengan kata lain hasil sepak sila dalam sepak takraw pada siswa kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri masih sangat rendah.
Kondisi awal hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw pada siswa kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012 / 2013 sebelum diberikan tindakan melalui penerapan media alat bantu dapat dilihat dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 4. Data Awal Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw Pada Siswa kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013.
Jumlah
Siswa Prosentase
Ketuntasan
Hasil Belajar Nilai Keterangan
- 0 % Tuntas 6 Baik Sekali
- 0 % Tuntas 81 85 Baik
5 25 % Tuntas 75 80 Cukup
7 35 % Belum Tuntas 65 74 Kurang
8 40 % Belum Tuntas 64 Kurang Sekali
20 100% JUMLAH
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw pada siswa kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri hanya mencapai 25 % atau 5 siswa yang tuntas dari jumlah keseluruhan siswa yaitu 20 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas V SDN III Jatirejo masih rendah sebelum diberikan tindakan.
Data awal diatas sudah jelas menunjukkan bahwa hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw masih sangat kurang, sehingga disusun sebuah tindakan yaitu penerapan media alat bantu untuk meningkatkan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw pada siswa kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013. Pelaksanaan tindakan direncanakan akan dilakukan sebanyak 2 siklus.
B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus 1. Siklus I
Dalam silkus I ini, terdiri dari 2 pertemuan dimana pada pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2013 dan Pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2013
a. Pertemuan I
1. PerencanaanTindakan
Perencanaan tindakan yang dilakukan pada pertemuan 1 siklus I adalah sebagai berikut:
1) Peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dalam pembelajaran penjasorkes di SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri.
2) Membuat rencana pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw dengan penerapan media alat bantu.
3) Menyiapkan media dan sumber belajar yang terdiri dari buku penjasorkes kelas V dan alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran materi sepak sila dalam sepak takraw .
4) Membuat lembar observasi yang digunakan dalam penelitian, yaitu observasi hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw yang meliputi aspek psikomotor, afektif, dan kognitif.
5) Menyusun evaluasi pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan
Keterlibatan kolaborator (teman sejawat) dalam tindakan ini adalah sebagai observer, yaitu membantu peneliti dalam melakukan pengamatan kegiatan yang dilaksanakan siswa dalam perbaikan pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw. Tahap ini adalah penerapan dari semua rencana yang telah dibuat dalam perencanaan tindakan. Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan adalah melaksanakan skenario pembelajaran sepak sila
dalam sepak takraw sesuai dengan apa yang telah direncanakan, yaitu sebagai berikut :
Langkah-langkah kegiatan awal, yaitu :
a) Guru memimpin doa dan melakukan presensi setelah siswa dibariskan dengan tertib.
b) Guru melakukan apersepsi, yaitu menghubungkan pengetahuan siswa dengan materi yang akan disampaikan yaitu pembelajaran teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw. Kemudian siswa diminta untuk mengemukakan pendapat tentang pengetahuan teknik dasar sepak sila dalam permainan sepak takraw.
c) Guru memberikan penjelasan tentang tahap-tahap kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan siswa diminta untuk memperhatikan penjelasan guru sehingga kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dapat berjalan lancar.
d) Melakukan pemanasan Stretching (penguluran) Gerakan dinamis
Tata cara permainan :
maka kakinya diangkat satu/engklek, nanti posisi kaki kembali berdiri jika teman mangsa menyentuh. Dan apabila terkena
seterusnya.
Langkah-langkah kegiatan inti, yaitu :
a) Guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw menggunakan alat bantu pembelajaran (bola gantung, bola plastik) yang kemudian mendemonstrasikannya.
b) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan latihan sendiri menggunakan alat bantu pembelajaran ( bola gantung).
Setiap siswa diberi sebuah bola yang digantung dengan tali, siswa memegang bola yang digantung sendiri kemudian melakukan gerakan menyepak bola dengan kaki bagian dalam sebanyak-banyaknya.
c) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan latihan berteman atau berpasangan menggunakan alat bantu pembelajaran ( bola gantung). Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok berpasang
pasangan, salah satu teman memegangi tali (bola yang digantung dengan tali) dan pasangannya melakukan sepak sila secara bergantian dari pasangannya dan seterusnya.
d) Bermain sepak takraw dengan peraturan yang dimodifikasi. Masing-masing siswa dibagi kelompok untuk membuat pertandingan sederhana sepak takraw, dengan peraturan permainan :
Semua gerakan dilakukan dengan sepak sila
Pemain boleh memainkan bola dalam kandang/ daerah sendiri sebanyak mungkin
Poin diraih apabila bola tidak dapat diselamatkan atau keluar lapangan permainan
Kemenangn diraih apabila ada regu yang mendapat point 15 Langkah-langkah kegiatan penutup, yaitu :
a) Siswa dibariskan kemudian guru memberikan bimbingan ataupun penjelasan dan menarik kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
b) Guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh siswa.
3. Kegiatan Observasi
Pada kegiatan ini, guru dan teman sejawat (kolaborator) melakukan observasi pada saat kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Dapat disimpulkan bahwa hasil observasi yang dilakukan antara guru dan kolaborator menunjukkan bahwa penerapan Media Alat Bantu pada pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw dapat berjalan dengan baik dan lancar. Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa terlihat antusias dan lebih aktif dalam melakukan setiap kegiatan pembelajaran
Pada tahap pemanasan siswa terlihat gembira dan semangat saat melakukan pemanasan dalam bentuk permainan. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran sebelumnya belum pernah melakukan pemanasan dalam bentuk permainan.
Sementara itu pada saat kegiatan inti berlangsung, siswa terlihat lebih serius dan bersemangat saat belajar melakukan gerakan sepak sila dalam sepak takraw melalui penerapan Media Alat Bantu. Hal ini dikarenakan siswa akan berusaha lebih keras , serius melewati alat bantu tersebut dan berusaha lebih bersemangat dengan permainan yang disajikan oleh guru dan tidak lupa tetap menjunjung tinggi nilai sportifitas dalam olahraga. Hal ini dibuktikan dengan perubahan gerakan ataupun teknik dasar melakukan gerakan sepak sila dalam dalam sepak takraw yang semula kurang benar menjadi tau gerakan yang lebih benar.
Pada kegiatan penutup siswa melakukan sepak sila dengan menerapkan gerakan/teknik dasar yang telah dipelajari pada saat pembelajaran berlangsung. Saat melakukan gerakan sepak sila, siswa terlihat serius dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil gerakan sepak sila yang maksimal. Setelah itu guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan tentang materi yang telah dipelajari.
4. Analisis dan Refleksi Kegiatan Pembelajaran
Dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada pertemuan pertama siklus I, terdapat keberhasilan dan kendala yang terjadi, yang antara lain adalah :
1) Keberhasilan yang Dicapai Dalam Pembelajaran
a. Penerapan Media Alat Bantu pada pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw dapat mendorong siswa untuk lebih bersungguh-sungguh dan bersemangat pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
b. Siswa lebih merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran pada saat penerapan Media Alat Bantu sehingga memudahkan siswa untuk memahami tentang materi teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw disamping siswa tidak merasa bosan saat pembelajaran berlangsung.
2) Kendala yang Dialami
Adanya sebagian kecil siswa yang masih kurang memperhatikan sehingga guru harus lebih teliti dalam memantau setiap kegiatan yang dilakukan oleh siswa.
3) Rencana Perbaikan
Dari pertemuan pertama pada siklus I, masih terdapat beberapa temuan yang kurang dalam pelaksanaan pembelajaran. Maka dari itu, untuk pertemuan berikutnya akan dilakukan perbaikan yang masih kurang dalam pertemuan pertama, antara lain :
a. Guru memberikan perhatian yang lebih pada siswa yang kurang memahami dalam kegiatan pembelajaran serta memotivasi agar siswa tersebut dapat lebih berusaha untuk berhasil dan tidak putus asa.
b. Guru meminta kolaborator untuk membantu mempersiapkan kegiatan pembelajaran yang akan berlangsung dan ikut mengatur jalannya kegiatan agar dapat berjalan lancar
c. Guru lebih memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan menegur setiap siswa yang melakukan hal-hal yang dapat menggangu jalannya pembelajaran.
b. Pertemuan II
1. PerencanaanTindakan
Perencanaan tindakan yang dilakukan pada pertemuan 2 siklus I ini berdasarkan dari refleksi pada pertemuan sebelumnya yaitu sebagai berikut:
1) Mempersiapkan rencana pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw melalui penerapan Media Alat Bantu
2) Mempersiapkan media dan sumber belajar yang terdiri dari buku penjasorkes kelas V dan alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran materi sepak sila dalam sepak takraw .
3) Menyusun evaluasi pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan adalah melaksanakan rencana pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw, yaitu sebagai berikut :
Langkah-langkah kegiatan awal, yaitu :
a) Guru memimpin doa dan melakukan presensi setelah siswa dibariskan dengan tertib.
b) Guru melakukan apersepsi, yaitu menghubungkan pengetahuan siswa dengan materi yang akan disampaikan yaitu pembelajaran teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw. Kemudian siswa diminta untuk mengemukakan pendapat tentang pengetahuan teknik dasar sepak sila dalam permainan sepak takraw.
c) Guru memberikan penjelasan tentang tahap-tahap kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan siswa diminta untuk
memperhatikan penjelasan guru sehingga kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dapat berjalan lancar.
d) Melakukan pemanasan Stretching (penguluran) Gerakan dinamis
Permainan Harimau makan Bangau Langkah-langkah melakukan permainan :
maka kakinya diangkat satu/engklek, nanti posisi kaki kembali berdiri jika teman mangsa menyentuh. Dan apabila terkena cendakan d
seterusnya.
Langkah-langkah kegiatan inti, yaitu :
a) Guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang gerakan/ teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw menggunakan alat bantu pembelajaran (bola gantung, bola plastik) yang kemudian mendemonstrasikannya.
b) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan latihan sendiri menggunakan alat bantu pembelajaran ( bola gantung).
Setiap siswa diberi sebuah bola yang digantung dengan tali, siswa memegang bola yang digantung sendiri kemudian melakukan gerakan menyepak bola dengan kaki bagian dalam sebanyak-banyaknya. c) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan berkelompok saling
berhadapan tanpa alat. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok saling berhadapan yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok A melakukan umpan dan kelompok B melakukan sepak sila. Setelah melakukan,barisan paling depan mundur ke belakang barisan/bergantian, dilakukan setiap kelompok dan seterusnya.
d) Bermain sepak takraw dengan peraturan yang dimodifikasi. Masing-masing siswa dibagi kelompok untuk membuat pertandingan sederhana sepak takraw, dengan peraturan permainan :
Semua gerakan dilakukan dengan sepak sila
Pemain boleh memainkan bola sebanyak mungkin dalam kandang/daerah sendiri sebanyak mungkin
Poin diraih apabila bola tidak dapat diselamatkan atau keluar lapangan permainan
Kemenangn diraih apabila ada regu yang mendapat point 15 Langkah-langkah kegiatan penutup, yaitu :
a) Siswa dibariskan kemudian guru memberikan bimbingan ataupun penjelasan dan menarik kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
b) Guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh siswa.
c) Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan memimpin doa.
3. Kegiatan Observasi
Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa terlihat antusias dan lebih aktif dalam melakukan setiap kegiatan pembelajaran. Siswa terlihat gembira dan semangat saat melakukan pemanasan dalam bentuk permainan.
Kemudian pada saat kegiatan inti berlangsung, siswa terlihat lebih serius dan bersemangat saat belajar melakukan gerakan sepak sila dalam sepak takraw melalui penerapan media alat bantu. Hal ini dikarenakan siswa akan berusaha lebih keras dan bersemangat dan mempunyai motivasi dalam melakukan gerakan tersebut dengan menggunakan alat bantu yang disajikan oleh guru dan tidak lupa tetap menjunjung tinggi nilai sportifitas dalam olahraga.
Terdapat pula peningkatan hasil belajar siswa dalam melakukan pembelajaran gerakan/teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw.
4. Analisis dan Refleksi Kegiatan Pembelajaran
Dibawah ini adalah hasil analisis data hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw yang diperoleh siswa pada siklus pertama, yaitu :
Tabel 5. Analisis Siklus I Rata-rata Nilai Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw pada Siswa Kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013
No Nama Siswa Nilai Keterangan
1 Agung Pamungkas 80 Tuntas
2 Ari Apriyanto 71.25 Belum Tuntas
3 Crisna Candra Lukito 82.5 Tuntas
4 Lismini 60 Belum Tuntas
5 Devi Lestari 76.25 Tuntas
6 Manda Eko Wibowo 77.5 Tuntas
7 Anisa Nurhidayanti 76.25 Tuntas
8 Depran Muhari 60 Belum Tuntas
9 Dwi Apriyansyah 70 Belum Tuntas
10 Dwi Rahmawati 76.25 Tuntas
11 Galang Mustofa Kamal 76.25 Tuntas
12 Lyya Anggraini 81.25 Tuntas
13 Maya Dwi Astuti 78.75 Tuntas
14 Mega Putri Anggraeni 72.5 Belum Tuntas
15 Miftahul Rohim 62.5 Belum Tuntas
16 Puput Permata Sari 81.25 Tuntas 17 Winda Martaningtyas 65 Belum Tuntas 18 Ghani Faturrahman 78.75 Tuntas 19 Rosi Ariyanto Putri 68.75 Belum Tuntas 20 Maulana Fadil Mustofa 78.75 Tuntas
Jumlah 1473.75
Tuntas : 12 Siswa Belum Tuntas : 8 Siswa
Rata-rata Nilai 73.68
Rata-rata nilai pada siklus I adalah 73,68 , dari rata-rata tersebut dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw pada
siswa kelas V SDN III Jatirejo yaitu dengan 12 siswa yang tuntas dan 8 siswa yang belum tuntas dari jumlah keseluruhan siswa yaitu 20 siswa.
Dari data diatas, maka dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw terdapat peningkatan yaitu dengan dengan 12 siswa tuntas (60 %), yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini :
Tabel 6. Data Akhir Siklus I Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw Pada Siswa kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013.
Jumlah
Siswa Prosentase
Ketuntasan
Hasil Belajar Nilai Keterangan
- 0 % Tuntas Baik Sekali
3 15 % Tuntas 81 85 Baik
9 45 % Tuntas 75 80 Cukup
5 25 % Belum Tuntas 65 74 Kurang
3 15 % Belum Tuntas Kurang Sekali
20 100 % JUMLAH
Gambar 4.1. Grafik Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw Siklus I
Dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada pertemuan ini terdapat keberhasilan dan kendala yang terjadi, yang antara lain adalah :
1) Keberhasilan yang Dicapai Dalam Pembelajaran
Prosentase ketuntasan siswa dalam pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw mengalami peningkatan, yaitu jumlah siswa yang tuntas mencapai 12 siswa atau dalam hitungan persen adalah 60 %
2) Kendala yang Dialami
Masih adanya sebagian kecil siswa yang masih kurang memperhatikan sehingga guru harus lebih teliti dalam memantau setiap kegiatan yang dilakukan oleh siswa.
3) Rencana Perbaikan
Pada pertemuan berikutnya akan dilakukan perbaikan yang masih kurang dalam pertemuan ini, antara lain :
a. Guru memberikan perhatian yang lebih pada siswa yang kurang memahami dalam kegiatan pembelajaran.
b. Guru lebih memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan menegur setiap siswa yang melakukan hal-hal yang dapat menggangu jalannya pembelajaran.
2. Siklus II
Dalam silkus II ini, terdiri dari 2 pertemuan dimana pada pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2013 dan Pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2013
a. Pertemuan I
1. PerencanaanTindakan
Perencanaan tindakan yang dilakukan pada pertemuan 1 siklus II adalah sebagai berikut:
a. Membuat rencana pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw dengan penerapan media alat bantu.
b. Menyiapkan sumber belajar yang terdiri dari buku penjasorkes kelas V dan media alat bantu yang digunakan pada pembelajaran materi sepak sila dalam sepak takraw .
c. Membuat lembar observasi yang digunakan dalam penelitian, yaitu observasi hasil belajar teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw yang meliputi aspek psikomotor, afektif, dan kognitif.
d. Menyusun evaluasi pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut :
Langkah-langkah kegiatan awal, yaitu :
a) Guru memimpin doa dan melakukan presensi setelah siswa dibariskan dengan tertib.
b) Guru melakukan apersepsi, yaitu menghubungkan pengetahuan siswa dengan materi yang akan disampaikan yaitu pembelajaran teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw. Kemudian siswa diminta untuk mengemukakan pendapat tentang pengetahuan gerakan/ teknik dasar sepak sila dalam permainan sepak takraw.
c) Guru memberikan penjelasan tentang tahap-tahap kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan siswa diminta untuk memperhatikan penjelasan guru sehingga kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dapat berjalan lancar.
d) Melakukan pemanasan Stretching (penguluran) Gerakan dinamis
Tata cara permainan :
Siswa dibagi kedalam 2 regu sama banyak, yaitu regu A dan regu B. Satu regu menjadi pemain bertahan dan satu regu lain menjadi
penyerang. Pemain bertahan menempati tempat didalam lingkaran, dan pemain penyerang menyebar di sekeliling luar lingkaran. Pemain penyerang akan diberi satu buah bola yang akan dipakai untuk menembak para pemain bertahan yang tinggal didalam lingkaran. Tembakan dilakukan dengan menyepak bola menggunakan kaki bagian dalam dari luar lingkaran, dengan sasaran tembak bagian tubuh regu bertahan kecuali kepala. Setiap bola kena terhadap sasaran dihitung sebagai satu poin. Tugas pemain penyerang adalah membuat skor atau poin sebanyak-banyaknya dalam satu periode waktu yang telah ditentukan,misalnya 5 menit. Setelah waktu 5 menit habis, guru memberi aba-aba agar kedua regu untuk saling berganti peranan. Regu penyerang yang baru akhirnya mendapat kesempatan yang sama, yaitu memanfaatkan waktu 5 menit untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya, dengan mencoba berbagai cara agar regunya dapat menembak sasaran dengan baik. Di akhir permainan, tinggal membandingkan saja perolehan skor dari regu A dan regu B dan yang lebih banyak mengumpulkan skor, itulah regu yang menang.
Langkah-langkah kegiatan inti, yaitu :
a) Guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang teknik dasar sepak sila dalam permainan sepak takraw menggunakan alat bantu (bola gantung, bola plastik) yang kemudian mendemonstrasikannya. b) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan latihan sendiri
menggunakan alat bantu pembelajaran ( bola gantung).
Setiap siswa diberi sebuah bola yang digantung dengan tali, siswa memegang bola yang digantung sendiri kemudian melakukan gerakan menyepak bola dengan kaki bagian dalam sebanyak-banyaknya.
c) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan latihan berteman/ berpasangan. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok berpasang pasangan, salah satu teman memegangi tali (bola yang digantung dengan tali) dan pasangannya melakukan sepak sila secara bergantian dari pasangannya dan seterusnya.
d) Bermain sepak takraw dengan peraturan yang dimodifikasi.
Masing-masing dibagi kelompok untuk membuat pertandingan sederhana sepak takraw, dengan peraturan permainan :
Semua gerakan dilakukan dengan sepak sila
Bola hanya boleh berada dalam kandang sendiri sebanyak 3x sepakan, setelah itu bola harus dilewatkan ke kandang lawan, jika tidak, lawan akan mendapatkan point
Poin diraih apabila bola tidak dapat diselamatkan atau keluar lapangan permainan
Kemenangn diraih apabila ada regu yang mendapat point 15
Langkah-langkah kegiatan penutup, yaitu :
a) Siswa dibariskan kemudian guru memberikan bimbingan ataupun penjelasan dan menarik kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
b) Guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh siswa.
c) Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan memimpin doa.
d) Siswa dibubarkan untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya.
3. Kegiatan Observasi
Dapat disimpulkan bahwa hasil observasi yang dilakukan antara guru dan kolaborator menunjukkan bahwa penerapan media alat bantu pada pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw dapat berjalan dengan baik dan
lancar. Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa terlihat antusias dan lebih aktif dalam melakukan setiap kegiatan pembelajaran
Pada tahap pemanasan siswa terlihat gembira dan semangat saat melakukan pemanasan dalam bentuk permainan. Sementara itu pada saat kegiatan inti berlangsung, siswa terlihat lebih serius dan bersemangat saat belajar melakukan gerakan/ teknik dasar sepak sila melalui penerapan media alat bantu. Hal ini dibuktikan dengan perubahan gerakan ataupun teknik dasar melakukan sepak sila yang semula kurang benar menjadi gerakan yang lebih benar.
Pada kegiatan penutup siswa melakukan sepak sila dengan menerapkan gerakan/teknik dasar yang telah dipelajari pada saat pembelajaran berlangsung. Saat melakukan gerakan sepak sila, siswa terlihat serius dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil gerakan sepak sila yang maksimal. Setelah itu guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan tentang materi yang telah dipelajari.
4. Analisis dan Refleksi Kegiatan Pembelajaran
Terdapat keberhasilan dan kendala yang terjadi dalam pertemuan 1 siklus II kali ini, yang antara lain adalah :
1) Keberhasilan yang Dicapai
Siswa lebih terlihat bersungguh-sungguh dan bersemangat pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Selain itu siswa lebih merasa senang dan tertarik melewati alat bantu tersebut sehingga memudahkan siswa untuk memahami tentang materi sepak sila dalam sepak takraw disamping siswa tidak merasa bosan dan jenuh saat pembelajaran berlangsung.
2) Kendala yang Dialami
Masih adanya sebagian kecil siswa yang kurang memperhatikan sehingga guru harus selalu memperhatikan seluruh kegiatan siswa saat pembelajaran berlangsung hingga selesai.
3) Rencana Perbaikan
Perbaikan yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya antara lain yaitu :
a. Siswa yang masih belum ataupun kesulitan dalam memahami materi harus lebih mendapatkan perhatian dan bimbingan dari guru saat melakukan kegiatan pembelajaran serta lebih sering memotivasi siswa tersebut.
b. Guru lebih memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan oleh siswa dan menegur setiap siswa yang melakukan hal-hal yang dapat menggangu jalannya pembelajaran.
b. Pertemuan II
1. PerencanaanTindakan
Perencanaan tindakan yang dilakukan pada pertemuan 2 siklus II ini berdasarkan dari refleksi pada pertemuan sebelumnya yaitu sebagai berikut: a. Mempersiapkan rencana pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw
melalui penerapan media alat bantu.
b. Mempersiapkan media dan sumber belajar yang terdiri dari buku penjasorkes kelas V dan alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran materi teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw.
c. Menyusun evaluasi pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan adalah melaksanakan rencana pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw, yaitu sebagai berikut :
Langkah-langkah kegiatan awal, yaitu :
a) Guru memimpin doa dan melakukan presensi setelah siswa dibariskan dengan tertib dan disiplin.
b) Guru melakukan apersepsi, yaitu menghubungkan pengetahuan siswa dengan materi yang akan disampaikan yaitu pembelajaran teknik dasar sepak sila. Kemudian siswa diminta untuk mengemukakan pendapat tentang pengetahuan teknik dasar sepak sila dalam permainan sepak takraw.
c) Guru memberikan penjelasan tentang tahap-tahap kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan siswa diminta untuk memperhatikan penjelasan guru sehingga kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dapat berjalan lancar.
d) Melakukan pemanasan Stretching (penguluran) Gerakan dinamis
Tata cara permainan :
Siswa dibagi kedalam 2 regu sama banyak, yaitu regu A dan regu B. Satu regu menjadi pemain bertahan dan satu regu lain menjadi penyerang. Pemain bertahan menempati tempat didalam lingkaran, dan pemain penyerang menyebar di sekeliling luar lingkaran. Pemain penyerang akan diberi satu buah bola yang akan dipakai untuk menembak para pemain bertahan yang tinggal didalam lingkaran. Tembakan dilakukan dengan menyepak bola menggunakan kaki bagian dalam dari luar lingkaran, dengan sasaran tembak bagian tubuh regu bertahan kecuali kepala. Setiap bola kena terhadap sasaran dihitung sebagai satu poin. Tugas pemain penyerang adalah membuat skor atau poin sebanyak-banyaknya dalam satu periode waktu yang telah ditentukan,misalnya 5 menit. Setelah waktu 5 menit habis, guru memberi aba-aba agar kedua regu untuk saling berganti peranan. Regu penyerang yang baru akhirnya mendapat kesempatan yang sama, yaitu memanfaatkan waktu 5 menit untuk mengumpulkan
poin sebanyak-banyaknya, dengan mencoba berbagai cara agar regunya dapat menembak sasaran dengan baik. Di akhir permainan, tinggal membandingkan saja perolehan skor dari regu A dan regu B dan yang lebih banyak mengumpulkan skor, itulah regu yang menang.
Langkah-langkah kegiatan inti, yaitu :
a) Guru menyampaikan ringkasan tentang materi yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya dan memberikan penjelasan kepada siswa mengenai teknik dasar sepak sila dalam sepak takraw yang kemudian mendemonstrasikannya.
b) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan berkelompok saling berhadapan tanpa alat. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok saling berhadapan yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok A melakukan umpan dan kelompok B melakukan sepak sila. Setelah melakukan,barisan paling depan mundur ke belakang barisan/bergantian, dilakukan setiap kelompok dan seterusnya.
c) Siswa Mempraktekkan sepak sila dengan latihan sendiri (sepak dan timang bola sendiri) menggunakan bola modifikasi.
Setiap anak diberi sebuah bola
Bola dilambung dan disepak dengan kaki bagian dalam (sepak sila) lurus ke atas, lalu ditangkap.
Bola ditimang satu kali lalu ditangkap. Bola ditimang dua kali lalu ditangkap.
Ditimang sebanyak mungkin bila bola jatuh diulangi lagi.
d) Bermain sepak takraw dengan peraturan yang dimodifikasi. Masing-masing dibagi kelompok untuk membuat pertandingan sederhana sepak takraw, dengan peraturan permainan :
Bola hanya boleh berada dalam kandang sendiri sebanyak 3x sepakan, setelah itu bola harus dilewatkan ke kandang lawan, jika tidak, lawan akan mendapatkan point
Poin diraih apabila bola tidak dapat diselamatkan atau keluar lapangan permainan
Kemenangn diraih apabila ada regu yang mendapat point 15 Langkah-langkah kegiatan penutup, yaitu :
a) Siswa dibariskan kemudian guru memberikan bimbingan ataupun penjelasan dan menarik kesimpulan bersama siswa tentang materi yang telah dipelajari.
b) Guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh siswa.
c) Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan memimpin doa.
3. Kegiatan Observasi
Kegiatan observasi dilakukan oleh guru sebagai peneliti dan kolaborator, dimana dapat disimpulkan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa terlihat antusias dan lebih aktif dalam melakukan setiap kegiatan pembelajaran. Siswa terlihat gembira dan semangat saat melakukan kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir. Siswa terlihat lebih serius dan bersemangat saat melakukan gerakan sepak sila dalam sepak takraw melalui penerapan media alat bantu. Hal ini dikarenakan siswa akan berusaha lebih keras dan bersemangat dan mempunyai motivasi dalam melakukan gerakan tersebut dengan menggunakan media alat bantu yang disajikan oleh guru. Terjadi pula peningkatan hasil belajar siswa dalam melakukan pembelajaran sepak sila dalam permainan sepak takraw.
4. Analisis dan Refleksi Kegiatan Pembelajaran
Melalui penerapan media alat bantu pada pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw cukup dapat meningkatkan semangat dan antusias siswa
dalam mengikuti pembelajaran, hal ini dapat dilihat dari hasil tes dan observasi pada siklus II dengan hasil yang baik dan cukup memuaskan. Dibawah ini adalah hasil analisis data hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw yang diperoleh siswa pada siklus II, yaitu :
Tabel 7. Analisis Siklus II Rata-rata Nilai Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw pada Siswa Kelas V SDN III Jatirejo Girimarto Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013
No Nama Siswa Nilai Keterangan
1 Agung Pamungkas 88.75 Tuntas
2 Ari Apriyanto 78.75 Tuntas
3 Crisna Candra Lukito 91.25 Tuntas
4 Lismini 67.5 Belum Tuntas
5 Devi Lestari 76.25 Tuntas
6 Manda Eko Wiowo 83.75 Tuntas
7 Anisa Nurhidayanti 78.75 Tuntas
8 Depran Muhari 71.25 Belum Tuntas
9 Dwi Apriyansyah 75 Tuntas
10 Dwi Rahmawati 81.25 Tuntas
11 Galang Mustofa Kamal 77.5 Tuntas
12 Lyya Anggraini 81.25 Tuntas
13 Maya Dwi Astuti 81.25 Tuntas
14 Mega Putri Anggraeni 80 Tuntas
15 Miftahul Rohim 72.5 Belum Tuntas
16 Puput Permata Sari 87.5 Tuntas
17 Winda Martaningtyas 75 Tuntas
18 Ghani Faturrahman 85 Tuntas
19 Rosi Ariyanto Putri 76.25 Tuntas
20 Maulana Fadil Mustofa 81.25 Tuntas
Jumlah 1590.5
Tuntas : 17 Siswa Belum Tuntas : 3 Siswa
Rata-rata nilai pada siklus II adalah 79,52, dari rata-rata tersebut dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw pada siswa kelas V SDN III Jatirejo yaitu dengan 17 siswa yang tuntas dan 3 siswa yang belum tuntas.
Dari data diatas, maka dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw terdapat peningkatan yaitu dengan dengan 17 siswa tuntas (85 %) dari keseluruhan jumlah siswa yaitu 20 siswa, yang dapat ditunjukkan pada tabel dibawah ini :
Tabel 8. Data Akhir Siklus II Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw Pada Siswa kelas V SDN III Jatirejo Kecamatan Girimarto Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013.
Jumlah
Siswa Prosentase
Ketuntasan
Hasil Belajar Nilai Keterangan
3 15 % Tuntas Baik Sekali
6 30 % Tuntas 81 85 Baik
8 40% Tuntas 75 80 Cukup
3 15 % Belum Tuntas 65 74 Kurang
- - Belum Tuntas Kurang Sekali
Gambar 4.2. Grafik Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw Siklus II
Dari table dan grafik diatas, dapat dijelaskan bahwa prosentase ketuntasan siswa dalam pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw mengalami peningkatan, yaitu jumlah siswa yang tuntas mencapai 17 siswa atau mencapai 85 % dengan kriteria 15 % baik sekali, 30 % baik, 40 % cukup dari keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas adalah 3 siswa atau mencapai 15 % dengan kriteria kurang dari seluruh jumlah siswa yaitu 20 siswa. Keberhasilan yang diperoleh dari siklus II adalah meningkatnya prosentase siswa yang tuntas dalam pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw yaitu 85 % atau 17 siswa yang telah tuntas dan juga antusias serta semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran lebih meningkat serta siswa lebih aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran.
C. Perbandingan Hasil Tindakan Antar Siklus
Setelah pelaksanaan siklus I dan siklus II dan telah dideskripsikan diatas maka terdapat perbandingan yang terjadi antar siklus, dimana dalam setiap siklus terjadi peningkatan pada hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw. Hasil belajar tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah ini :
Tabel 9. Perbandingan Analisis Akhir Rata-rata Nilai Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw pada Siswa Kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013.
No Nama Nilai Akhir Siswa
Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Agung Pamungkas 75 80 88.75
2 Ari Apriyanto 60 71.25 78.75
3 Crisna Candra Lukito 77.5 82.5 91.25
4 Lismini 50 60 67.5
5 Devi Lestari 65 76.25 76.25
6 Manda Eko Wiowo 75 77.5 83.75
7 Anisa Nurhidayanti 67.5 76.25 78.75
8 Depran Muhari 50 60 70
9 Dwi Apriyansyah 60 70 75
10 Dwi Rahmawati 65 76.25 81.25
11 Galang Mustofa Kamal 65 76.25 77.5
12 Lyya Anggraini 75 81.25 81.25
13 Maya Dwi Astuti 70 78.75 81.25
14 Mega Putri Anggraeni 62.5 72.5 80
15 Miftahul Rohim 52.5 62.5 72.5
16 Puput Permata Sari 75 81.25 87.5
17 Winda Martaningtyas 60 65 75
18 Ghani Faturrahman 70 78.75 85
19 Rosi Ariyanto Putri 60 68.75 76.25
20 Maulana Fadil Mustofa 70 78.75 81.25
Jumlah 1305 1473.75 1590.5
Berdasarkan data diatas, maka dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw antar siklus mengalami peningkatan. Pada pra siklus nilai rata-rata adalah 65.25 dan pada siklus 1 nilai rata-rata meningkat menjadi 73.68. Sementara itu pada siklus 2 nilai rata-rata mencapai 79.52, hal ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kenaikan nilai disetiap siklusnya. Dari data tersebut dapat di deskripsikan juga kenaikan prosentase ketuntasan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini :
Tabel 10. Data Perbandingan Prosentase Ketuntasan Antar Siklus Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw Pada Siswa Kelas V SDN III Jatirejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013
Prosentase Ketuntasan Rentang
Nilai Keterangan Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
0 % 0 % 15 % Baik Sekali
0 % 15 % 30 % 81 85 Baik
25 % 45 % 40 % 75 80 Cukup
35 % 25 % 15 % 65 74 Kurang
Gambar 4.3. Grafik Peningkatan Prosentase Ketuntasan Antar Siklus Hasil Belajar Sepak Sila dalam Sepak Takraw.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan prosentase ketuntasan hasil belajar siswa dengan rincian pada data pra siklus didapat prosentase siswa yang tuntas sebesar 25 % dan mengalami peningkatan pada akhir siklus 1 dengan prosentase ketuntasan sebesar 60 %. Kemudian pada akhir siklus 2 terjadi lagi peningkatan prosentase ketuntasan yang menjadi 85%.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Penerapan media alat bantu pada pembelajaran sepak sila dalam sepak takraw merupakan bentuk pembelajaran sepak sila dengan menggunakan alat bantu pembelajaran berupa bola gantung dan bola plastik. Dengan melakukan kegiatan ini siswa dapat lebih mudah memahami meteri yang disampaikan guru. Selain itu siswa juga merasa senang, merasa gembira dan tidak jenuh dalam
mengikuti jalannya pembelajaran sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam setiap melakukan tugas yang dberikan guru.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pelaksanaan setiap siklus, dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan media alat bantu dapat meningkatkan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw pada siswa kelas V SDN III Jatirejo Kecamatan Girimarto Kabupaten Wonogiri. Hal ini dapat dilihat dari prosentase ketuntasan yang meningkat pada stiap siklus. Pada data awal pra siklus prosentase ketuntasan yaitu 25 % dan pada siklus 1 prosentase ketuntasan meningkat menjadi 60 % yang kemudian terjadi lagi peningkatan prosentase ketuntasan pada akhir siklus 2 yang mencapai 85 %. Dengan adanya peningkatan prosentase ketuntasan tersebut mununjukkan bahwa penerapan media alat bantu dapat meningkatkan hasil belajar sepak sila dalam sepak takraw pada siswa.