BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. GAMBARAN UMUM PENELITIAN
Berikut ini adalah beberapa gambaran dari pengalaman atau data- data yang pernah dialami oleh penulis pada waktu melaksanakan praktek laut selama 12 bulan di MV. AURORA CHRISTINE, milik perusahaan PT.ASIA MULIA TRANSPASIFIK dan rincian data kapal / ship particular terlampir.
Berikut akan diuraikan mengenai bagian – bagian kapal yang berkaitan dengan penelitian penulis mengadakan penelitian.
1. Palka
Palka ( cargo hold ) adalah suatu tempat untuk tempat pemadatan muatan diatas kapal, maka dari itu untuk konstruksi cargo hold harus watertight dari air hujan ataupun air laut.
Adapun palka ( cargo hold ) dari penulis melaksanakan praktek laut terdapat 5 buah palka berbentuk persegi, memiliki masing – masing dua hatch cover yang berjenis butterfly foulding, Dan palka penulis melakukan penelitihan terletak di tengah – tengah kapal, diantara water ballast tank (WBT) diatas double bottom tank (DBT) dan dibawah top side tank (TST), palka tersebut selalu diisi muatan yang sama dan tidak pernah berganti jenis muatan yaitu memuat batubara, kapasitas yang dimiliki masing – masing palka adalah sama sekitar kurang lebih 9300 ton, kecuali pada palka 3 yang berkapasitas lebih banyak sekitar 10.000 ton dan palka 1 memiliki kapasitas dibawah 9300 ton, dimana palka yang
masing – masing berbeda ukuran volume di setiap masing – masing palka.
Gambar 4.4 Palka MV. AURORA CHRISTINE
Sumber : MV. Aurora Christine Hold Dimension of Hatch
(meters)
1 14.40 x 15.60 M
2 20.0 x 15.60 M
3 20.0 x 15.60 M
4 20.0 x 15.60 M
5 20.0 x 15.60 M
Dan pada setiap bagian masing – masing palka terdapat konstruksi atau bentuk tambahan didalamnya seperti gading – gading
atau bangunan yang memiliki sisi ruang tersendiri dan disitu letak broken stowage yang sering terjadi
Gambar 4.5 palka 5 MV. Aurora Christine
Sumber : MV. Aurora Christine
Gambar 4.6 konstruksi palka MV. Aurora Christine
Sumber : MV. Aurora Christine
2. Jenis muatan
Jenis muatan ditempat penulis melakukan praktek hanya satu jenis muatan yaitu hanya mengangkut batubara, batubara merupakan salah satu bahan bakar fosil atau batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa – sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan.
Ditempat penulis melakukan penelitihan terdapat 3 jenis kualitas batubara yang biasa dimuat di atas MV. Aurora Christine, berikut ini adalah jenis batubara sesuai kualitasnya :
a) Batubara kualitas no 1 : batubara ini merupakan jenis batubara yang memiliki kualitas paling bagus, dengan ciri – ciri berukuran besar mengkilap, keras dan tidak mengandung unsur debu dan pasir yang banyak.
Gambar 4.7 batubara kualitas no 1
Sumber : MV. Aurora Christine
b) Batubara kualitas no 2 : batu bara jenis ini merupakan jenis batu bara yang berkualitas sedang, berukuran besar tetapi mudah rapuh dan kandungan debu tidak seberapa banyak.
Gambar 4.8 batubara kualitas no 2
Sumber : MV. Aurora Christine
c) Batubara kualitas no 3 : batubara ini adalah jenis batubara yang berkualitas rendah, bentuk batu bara seluruhnya hampir menyerupai pasir, mengandung unsur debu yang sangat banyak.
Gambar 4.9 batubara kualitas no 3
Sumber : MV Aurora Christine
B. PENYAJIAN DATA
Permasalahan yang dialami penulis mengenai terjadinya broken stowage ketika melakukan praktek berlayar diatas MV. Aurora Christine terjadi saat kapal sedang memuat di pelabuhan Muara Satui di sekitar bulan November 2018 saat itu ketika kapal hendak selesai memuat masih terdapat sisa banyak muatan yang berada di tongkang dan tidak bisa masuk seluruhnya kedalam palka. Sehingga menyebabkan muatan yang dipesan oleh pencarter menjadi berkurang, hal itu terjadi pada saat cek draft yang seharusnya draft yang diharuskan 12.02 m tetapi fakta di kapal draft masih 10.90 m dan di rata – rata palka sudah penuh dan menggunung. Setelah itu terjadi, mualim 1, mualim jaga, juru mudi jaga dan kadet memeriksa di masing – masing palka ternyata terdapat ruang – ruang yang belum terisi muatan terutama bagian sudut atau pojok masing – masing palka, yang dikerjakan tidak melaksanakan sesuai prosedur, adapun beberapa prosedur pemuatan yang dibuat oleh kapal yaitu setelah memperoleh shipping instruction dari owner atau pencharter, data terlampir :
1. Siapkan Loading Squence 2. Siapkan Stowage Plan
3. Siapkan palka dan sesuaikan dengan muatan yang akan dimuat 4. Sesuaikan peletakan muatan dengan benar
5. Siapkan dan maintenance alat bongkar muat 6. Hindari broken Stowage
Pada penyajian ini penulis melakukan wawancara kepada mualim 1 dan mualim jaga sebagai informan, berikut adalah hasil wawancara penulis dengan informan :
1. Wawancara :
Pertanyaan Jawaban
Bagaimana cara pengawasan saat pemuatan berlangsung?
Mualim jaga : melihat sudah berapa banyak muatan yang sudah masuk diatas palka, dan memperhatikan kondisi kapal dan palka saat pemuatan itu berlangsung.
Apa permasalahan yang sering ditemukan mengenai pemuatan yang menjadikan kerugian seperti broken stowage? Dan bagaimana cara mengatasinya?
Mualim 1 : kebiasaan buruh menumpuk atau mencurahkan muatan yang hanya pada satu titik yang menyebabkan muatan itu menggunung dan tidak mengisi semua konstruksi palka dan tidak sesuai dengan kapasitas yang ditampung.
Mengarahkan buruh saat berkerja untuk tidak tergesah – gesah saat proses pemuatan dan meratakan peletakan atau mencurah kan muatan disetiap sisi palka supaya semua muatan yang diharuskan bisa
masuk semua.
Apa saja yang selain dari perkerjaan buruh yang dapat menyebabkan terjadinya broken stowage yang terjadi dikapal ini?
Mualim 1: kondisi palka juga mempengaruhi pengisian muatan karena ketidak sesuaian bentuk dari konstruksi palka dan bentuk muatan sehingga menjadikan ruang rugi atau bagian yang tidak bisa terisi.
Lalu jenis muatannya, karena kapal ini selalu muat batubara, jadi jenis batu bara juga mampengaruhi jika palka diisi dengan batu bara yang jenis bagus, itu akan berpotensi menimbulkan broken stowage, karena jenis batu bara yang bagus berukuran besar sehingga tidak dapat mengisi sempurna konstruksi palka seperti dibalik gading – gadingnya.
Bagaimana cara meminimalisir dari terjadinya broken stowage terutama pada kapal ini?
Mualim 1 : melakukan trimming atau perataan muatan menggunakan alat berat, dan menghitung setiap tongkang untuk memastikan berapa jumlah muatan yang sudah masuk.
C. Analisis Data
Bedasarkan kejadian yang penulis alami diatas kapal mengenai broken stowage penulis menganalisa bahwa penyebab terjadinya broken stowage pada MV. Aurora Christine yaitu.
1. Peletakkan batubara yang kurang efektif saat dimuat didalam palka Kurang terampilnya buruh atau TKBM yang tidak mematuhi arahan mualim 1 pada saat memuat yaitu meletakkan muatan atau mencurahkan muatan hanya disatu titik saja yang mengakibatkan muatan itu jadi menggunung dan melebihi batas penutup palka (hatch cover) muatan tidak merata, serta ruang sudut – sudut palka tidak rata terisi. Hal itu terjadi yang seharus nya muatan dapat masuk sesuai kapasitas palka, karena peletakan yang tidak benar jadi tidak dapat masuk seluruhnya.
2. Jenis batubara
Jenis batu bara juga mempengaruhi terjadinya broken stowage, pada kejadian tersebut penulis sedang memuat jenis batubara yang berkualitas bagus dan berukuran besar, oleh karena itu potensi terjadinya broken stowage itu ada, karena ukuran yang besar dan bentuk yang tidak rata sehingga tidak dapat mengisi sempurna pada konstruksi palka terutama di balik gading – gading nya.
Sedangkan jika kapal memuat muatan dengan jenis kualitas rendah potensi terjadinya broken stowage itu kecil, karena sifat muatan yang
sangat kecil dan seperti pasir, maka akan sempurna mengisi di masing – masing sudut palka.
D. Pembahasan
Setelah penulis menganalisa permasalahan yang terjadi selama melaksankan praktek berlayar, didapatkan pembahasan mengenai masalah tersebut yaitu
:
1. Peletakan muatan yang secara efektif
Dalam kegiatan pemuatan terdapat 5 prinsip dalam memuat yaitu:
a. Melindungi ABK dan Buruh b. Melindungi kapal
c. Melindungi muatan
d. Bongkar muat secara cepat dan sistematis e. Penggunaan ruang muat semaksimal mungkin
Pada masalah yang dialami oleh penulis prinsip yang paling berkaitan dengan terjadinya broken stowage adalah prinsip yang ke 5 yaitu dalam melakukan pemuatan harus diusahakan agar semua ruangan palka terisi penuh oleh muatan / kapal dapat muat sampai muatan yang ada di tongkang bisa masuk seluruhnya ke dalam kapal sesuai dengan stowage plan.
Untuk menghindari ruang rugi atau broken stowage yang terjadi didalam palka hendaknya buruh atau TKBM meletakkan muatan yang telah diambil secara merata kedalam palka, mengisi terlebih dahulu bagian – bagian sudut ataupun bagian yang sedikit sulit terjangkau
sehingga pemadatan muatan didalam palka akan sempurna, singkat dan sistematis, adapun jika muatan didalam palka sudah menggunung bisa dilakukan dengan melaksanakan trimming atau memasukkan alat berat ke palka untuk meratakan lagi muatan yang ada didalam palka, bisa dengan memasukkan buldozer ke dalam palka, ataupun menggunakan grab dan diratakan kembali ke ruang – ruang yang masih kosong.
Dan mualim 1 menginstruksikan foreman atau kepala kerja buruh untuk menyampaikan kepada masing – masing buruh mengenai peletakkan yang baik dan benar.
2. Jenis batubara
Untuk mendapatkan pemadatan yang sempurna batubara yang berkualitas yang paling rendah yang paling sempurna mengisi setiap konstruksi palka yang dikarenakan sifat dari batubara yang berkualitas rendah itu seperti pasir dan berukuran sangat kecil. Jika memuat batubara yang berukuran besar atau yang berkualitas bagus maka broken stowage tetap ada dan presentasenya sangat kecil sekali karena jenis batubara yang besar tidak memungkinkan mengisi bagian – bagian yang sempit maka dari itu trimming menggunakan alat berat seperti dozer adalah hal yang tetap dilakukan untuk memadatkan dan memaksimalkan pemuatan dan meminimalisir broken stowage.
Gambar 4.10 kegiatan trimming pada saat akhir pemuatan
Sumber : MV. Aurora Christine
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan untuk meminimalisir terjadinya Broken Stowage dapat disimpulkan bahwa
1. Pengawasan terhadap buruh pada saat peletakan muatan saat melakukan pemuatan ke palka atau hold sangatlah berpengaruh guna mencegah kerugian akibat penumpukan cargo dan menyebabkan tertidak terisinya salah satu bagian ruang muat yang terutama pada sudut – sudut palka.
2. Jenis batubara juga dapat mempengaruhi terjadinya broken stowage maka dari itu jika batubara yang dimuat berkualitas bagus atau berbentuk besar potensi broken stowage pasti terjadi yang dikarenakan tidak sempurnanya mengisi bagian konstruksi yang tertentu terutama pada bagian gading – gading maka kegiatan trimming tetap dilakukan untuk memaksimalkan pemadatan cargo di ruang muat. Dan apabila yang dimuat batubara berkualitas rendah atau yang berbentuk seperti pasir jika peletakan dilakukan dengan baik dan tidak menumpuk maka trimming tidak perlu dilakukan karena partikel jenis batubara yang berkualitas rendah sangatlah kecil, jadi akan lebih sempurna mengisi setiap bagian konstruksi.
B. SARAN
Setelah melakukan penelitian, penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Dilakukannya safety meeting saat sebelum pemuatan itu dimulai mengenai pengawasan saat pemuatan itu berjalan kepada perwira jaga bersama
jurumudi jaga, dan perwira mengarahkan kepada foreman atau kepala kerja TKBM untuk menginstruksikan kepada anggotanya untuk melakukan prosedur pemuatan yang benar yang sesuai arahan mualim 1.
2. Pengecekan perjam ke masing – masing palka untuk memastikan bahwa yang dilakukan atau dikerjakan buruh saat meletakkan muatan itu sudah benar sesuai instruksi.