• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Sesuai dengan masalah yang diangkat maka sebagai deskripsi data, akan dijelaskan tentang keadaan sebenarnya yang terjadi di kapal, sehingga dengan deskripsi ini penulis mengharapkan agar pembaca mampu dan bisa merasakan tentang semua hal yang terjadi selama penulis melaksanakan penelitian di KM.

SEGARA MAS.

KM. SEGARA MAS merupakan kapal dengan tipe container ship dari perusahaan PT. ASIA MARINE TEMAS Tbk, dengan IMO number 9313242, Call Sign YBOS2, buatan tahun 2006. Kapal ini memiliki ukuran panjang 215,29 m, lebar 29,95 m, Gross Tonnage 27.915 T, summer DWT 38122 T, draft maksimum 9,3 m, serta kapasitas maksimal muatan 2700 TEU. Rute pelayaran KM. SEGARA MAS yaitu Belawan, Jakarta, Surabaya pelabuhan Teluk Lamong, Makassar, dan Bitung.

B. HASIL PENELITIAN 1. PENYAJIAN DATA

Berdasarkan hasil penelitian penulis selama praktek di atas kapal pada saat kapal sandar maka perwira dan juru mudi jaga harus selalu waspada dan selalu stand by dalam melaksanakan dinas jaga. Beberapa fakta atau peristiwa yang terjadi diuraikan sebagai berikut :

(2)

a. Berikut ini data penilaian sejauh mana tugas dan tanggung jawab dari perwira jaga maupun jurumudi jaga dilaksanakan. Data yang disajikan oleh penulis berupa tabel yang terdapat nilai pada setiap tugas dan tanggung jawabnya. Dan dari nilai tersebut bisa disimpulkan sejauh mana tugas dan tanggung jawab dari perwira dan jurumudi jaga dilaksanakan. Rentang nilai yang digunakan antara 1 - 99.

1) Tabel penilaian perwira jaga :

NO JABATAN TUGAS DAN TANGGUNG

JAWAB NILAI

1. Mualim 2 − Menjaga keamanan kapal dari pencurian, dan kebakaran,

50

− Melaksanakan standing order dari Nakhoda dan mualim 1,

75

− Memasang penerangan, memasang bendera / semboyan yang diharuskan serta mengikuti peraturan bandar.

70

− Ikut membantu pencegahan polusi udara dan air,

60

TOTAL 255

2. Mualim 3 − Menjaga keamanan kapal dari pencurian, dan kebakaran,

40

− Melaksanakan standing order dari Nakhoda dan mualim 1,

65

− Memasang penerangan, memasang bendera / semboyan yang diharuskan serta mengikuti peraturan bandar.

55

− Ikut membantu pencegahan polusi udara dan air,

50

TOTAL 210

Tabel B. Penilaian Perwira Jaga

(3)

Keterangan : ≤ 240 = Sangat kurang 241 - 300 = Kurang 301 - 360 = Baik

361 - 400 = Sangat baik

2) Tabel penilaian jurumudi jaga :

NO JABATAN TUGAS DAN TANGGUNG

JAWAB NILAI

1. A/B 1 − Melaksanakan perintah

perwira jaga,

70

− Menjaga kekencangan tali tambat kapal,

50

− Membantu menjaga keamanan kapal,

55

TOTAL 175

2. A/B 2 − Melaksanakan perintah

perwira jaga,

60

− Menjaga kekencangan tali tambat kapal,

70

− Membantu menjaga keamanan kapal,

75

TOTAL 205

3. A/B 3 − Melaksanakan perintah

perwira jaga,

65

− Menjaga kekencangan tali tambat kapal,

50

− Membantu menjaga keamanan kapal,

60

TOTAL 175

Tabel C. Penilaian Jurumudi Jaga Keterangan : ≤ 180 = Sangat Kurang

181 – 225 = Kurang 226 – 270 = Baik

271 – 300 = Sangat Baik

(4)

Dari data diatas bisa diketahui bahwa penerapan tugas jaga pelabuhan di KM. SEGARA MAS bisa dikatakan belum optimal karena masih sering terjadi kelalaian dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

b. Berikut ini adalah kejadian-kejadian yang terjadi akibat dari kelalaian Officer jaga dan jurumudi jaga dalam penerapan dinas jaga pelabuhan selama saya praktik di KM. SEGARA MAS :

1) Pada tanggal 23 Oktober 2018 kapal KM.SEGARA MAS melakukan kegiatan bongkar muatan di pelabuhan Bitung. Cuaca sedang mendung, keadaan laut slight sea. Kegiatan bongkar di lakukan pukul 07.30 LT. Kegiatan bongkar berjalan dengan lancar sampai terjadi putusnya tali depan pada pukul 09.24 LT satu head line putus di karena tegangan tali terlalu kencang dan draft naik sehingga menyebabkan tali depan putus.

2) Pada tanggal 03 Desember 2018 pada saat KM. SEGARA MAS sandar di pelabuhan Belawan. Pukul 01.00 LT. Terjadi pencurian di STORE CAT bosun karena kelalaian perwira jaga dan juru mudi jaga yang tidak mengecek identitas pengunjung yang naik ke kapal dan menulisnya di visitor log book.

3) Pada tanggal 28 Desember 2018 KM. SEGARA MAS sandar di pelabuhan Makassar. Pada saat itu kegiatan bongkar muat berlangsung dalam keadaan hujan. Akibatnya proses penjagaan berlangsung kurang maksimal, dan foreman pelabuhan juga

(5)

kurang mengawasi proses pengaturan muatan. Ketika mualim 1 mengecek muatan ternyata terjadi perbedaan penempatan kontainer, dan mualim jaga kena teguran dari mualim 1. Akhirnya mualim 1 meminta foreman untuk memindahkan kontainer ke tempat sebenarnya yang sesuai dengan bayplan.

4) Pada tanggal 15 Januari 2019 KM. SEGARA MAS sandar di pelabuhan Belawan. Pada saat itu cuaca sedang cerah. Dan proses bongkar muat berlangsung dengan lancar. Saat itu mualim jaga saya sedang ada urusan lain dan meminta jurumudi untuk mengawasi jalannya bongkar muat. Ketika proses memuat terdapat kontainer yang rusak pada bagian pintu kontainer. Ketika kapal sudah hampir selesai proses bongkar muatnya, mualim jaga saya baru mengetahui kalau ada 1 kontainer yang rusak segelnya.

Akhirnya mualim jaga saya membuat berita acara kerusakan kontainer yang di tanda tangani oleh mualim 1 dan foreman.

2. ANALISIS DATA

a. Dari permasalahan pertama tentang penerapan dinas jaga di KM.

SEGARA MAS dapat dianalisis sebagai berikut :

Kesalahan-kesalahan yang terjadi disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang dinas jaga pelabuhan baik dari Officer jaga maupun jurumudi. Oleh karena itu tugas-tugas yang seharusnya

(6)

dilakukan banyak yang masih dilalaikan, dan akibatnya sering juga terjadi kesalahan yang merugikan kapal maupun perusahaan.

Faktor kedua dikarenakan kurangnya pengarahan atau briefing dari Nakhoda atau Mualim 1 tentang tugas-tugas jaga ketika proses bongkar muat dipelabuhan. Akibatnya hal yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab mualim jaga dan jurumudi jaga menjadi terabaikan.

Faktor ketiga adalah kurangnya inisiatif serta kesadaran akan tugas jurumudi jaga untuk melaksanakan perintah mualim jaga ataupun mualim 1, sehingga terkadang apa yang seharusnya dilakukan tapi malah disepelekan. Akibatnya kegiatan dinas jaga pelabuhan berjalan kurang optimal dan rawan tejadi kecelakaan kerja.

Faktor keempat adalah kurang fokusnya perwira jaga dan jurumudi jaga ketika melaksanakan dinas jaga pelabuhan dikarenakan terlalu asik bermain Handphone. Sehingga sering terdapat pengunjung asing tanpa menuliskan nama di visitor log book, dan tanpa memakai visitor card.

b. Dari permasalahan kedua tentang kelalaian officer jaga dalam penerapan dinas jaga pelabuhan dapat dianalisis sebagai berikut : 1) Putus nya tali tambat di sebabkan juru mudi lalai dalam

melaksanakan dinas jaga muatan salah satunya untuk mengawasi tali-tali tambat kapal agar tidak terlalu kencang dan tidak terlalu kendor. Perwira jaga juga disini kurang mampu mengawasi

(7)

kinerja jurumudi jaga, apakah dia sudah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik apa belum, serta menjalankan perintah mualim jaga atau mualim 1 dengan baik dan benar.

Seharusnya juru mudi melaksanakan tugas dengan rasa tanggung jawab dan sungguh-sungguh agar tidak menimbulkan kerugian bagi beberapa pihak terutama perusahaan pelayaran. Dengan memperhatikan tegangan tali secara berkala sehingga dapat mencegah tali tambat putus.

2) Sistem jaga di KM. SEGARA MAS kurang efisien karena petugas jaga yang terdiri dari mualim, juru mudi, dan kadet berada di belakang sehingga tingkat penjagaan minim dan pencuri dapat leluasa melakukan tindakan tersebut. Seharusnya sistem jaga ada yang berjaga di haluan dan di buritan sehingga dapat meminimalisir tindak pencurian di kapal.

Faktor kedua adalah Officer jaga yang jarang sekali terjun langsung untuk mengawasi deck dan proses bongkar muat dan lebih sering berada di cargo office, akibatnya apapun yang terjadi di deck dan proses bongkar muat luput dari pengawasan Officer jaga, sehingga minimnya pengawasan pun terjadi karena hanya mengandalkan jurumudi jaga untuk mengawasi semua proses jalannya bongkar muat serta pengecekan tali tambat.

Faktor ketiga adalah terlalu banyak tugas yang dilimpahkan dari mualim 1 kepada mualim jaga, akhirnya tugas jaga yang

(8)

seharusnya dilaksanakan dengan baik dan tepat menjadi kurang maksimal akibat terbengkalai dengan tugas tambahan dari mualim 1. Selain itu terkadang mualim jaga juga terlihat kewalahan dalam melaksanakan semua tugas yang diberikan, akhirnya semua tugas dan tanggung jawabnya dalam dinas jaga pelabuhan serta tugas tambahannya dilaksanakan dengan kurang maksimal.

3) Pada permasalahan ini ada berbagai faktor penyebabnya, untuk faktor pertama yaitu mualim jaga yang kurang melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar, karena telah meninggalkan tugasnya dan tidak memastikan apakah jurumudi jaganya mampu melaksakan apa tidak. Selain itu ketika melaksanakan dinas jaga tidak sepatutnya melakukan aktifitas lain yang mengganggu tugas dan tanggung jawabnya. Apalagi kalau meninggalkan dinas jaga sampai memakan waktu yang terlalu lama sangat berresiko sekali dalam jalannya bongkar muat. Dan ketika ada apa-apa jurumudi jaga pasti tidak berani mengambil tindakan tanpa sepengetahuan mualim jaga atau mualim 1. Oleh karena itu alangkah baiknya juga mualim jaga lebih meningkatkan rasa tanggung jawabnya dengan baik.

Faktor kedua adalah kurangnya rasa tanggung jawab jurumudi jaga dalam melaksanakan mandat dari mualim jaganya. Kalau memang dia tidak mampu melaksanakan alangkah baiknya bilang dari awal kepada mualim jaganya, jangan sampai sudah terjadi

(9)

apa-apa baru bilang kalau dia tidak mampu melaksanakannya secara sendiri, hal itu sangat berbahaya sekali pada jalannya bongkar muat. Selain itu kurangnya komunikasi dengan foreman juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kesalahan dalam bongkar muat.

Faktor ketiga adalah foreman pelabuhan yang terlalu memaksa jalannya bongkar muat meskipun dalam keadaan hujan, dimana hal ini sangat berbahaya terhadap jalannya bongkar muat maupun buat pekerja pelabuhan yang juga terlalu memaksakan bekerja dalam kondisi hujan. Selain itu sistem pengawasan juga menjadi kurang maksimal karena jarak pandang yang terhalang hujan.

4) Pada permasalahan ini terdapat beberapa faktor penyebabnya.

Untuk faktor pertama adalah kurangnya pengawasan dari pihak agen, dimana ketika kontainer sudah akan dimuat baru ketahuan kalau pintu kontainer rusak. Seharusnya sebelum kontainer siap untuk dimuat ke kapal sudah dipastikan bahwa tidak ada kerusakan apapun pada kontainer, sehingga menghindari kerusakan muatan ketika dimuat dikapal.

Untuk faktor kedua kurangnya pengawasan dari kru kapal, baik dari mualim jaga maupun jurumudi jaga. Dimana ketika proses bongkar muat di atas kapal sudah menjadi tanggung jawab kru kapal dan foreman dalam sistem pengawasan dan keselamatan kerja di atas kapal ketika bongkar muat. Untuk itu dibutuhkan

(10)

kerja sama yang baik antara foreman dengan kru kapal agar proses pengawasan dan pengaturan muatan berjalan dengan lancar.

Selain itu dibutuhkan juga kesadaran dari perwira jaga maupun jurumudi jaga atas tanggung jawab dalam kelancaran operasional bongkar muat. Karena jika terjadi kesalahan sedikit saja akan menimbulkan masalah yang sangat besar, bahkan bukan cuma soal kerusakan muatan, tapi juga terhadap keselamatan para pekerja bongkar muat diatas kapal.

Faktor ketiga yaitu kurangnya pengawasan dari foreman pelabuhan yang hanya fokus pada penempatan kontainer saja, tetapi tidak mengawasi kondisi kontainer yang dimuat. Padahal seharusnya selain cuma mengawasi penempatan kontainer juga pengawasi kondisi kontainer-kontainer yang dimuat apakah dalam keadaan baik atau tidak. Karena ketika terjadi kesalahan dalam pengawasan dan terdapat kontainer yang rusak tapi luput dari pengawasan foreman sudah pasti pihak owner akan mengklaim dan meminta ganti rugi terhadap perusahaan. Oleh karena itu selain mengandalkan mualim jaga dan jurumudi jaga dalam pengawasan muatan dibutuhkan juga profesionalisme dari foreman pelabuhan dalam membantu mengawasi apakah kontainer ditempatkan pada tempat yang benar dan sesuai dengan bayplan serta mengawasi juga kondisi kontainer apakah dalam kondisi baik apa tidak.

(11)

C. PEMBAHASAN

Mengenai kejadian diatas penulis mencoba memberikan pemecahan masalah sebagai berikut:

1. Rutin melaksanakan safety meeting yang salah satu tujuannya untuk memberikan pengarahan tentang tugas dan tanggung jawab Officer jaga dan jurumudi jaga ketika melaksanakan dinas jaga pelabuhan. Sebisa mungkin safety meeting dilaksanakan tiap 1 bulan sekali untuk selalu me- refresh kembali tugas dan tanggung jawabnya untuk menghindari kesalahan-kesalahan ketika melaksanakan dinas jaga pelabuhan. Selain itu fungsi safety meeting juga untuk mengevaluasi kinerja seluruh kru kapal, apakah sudah berjalan dengan baik apa belum. Dan fungsi Nakhoda disini adalah untuk memberikan wawasan mengenai dinas jaga pelabuhan, baik dari tugas tanggung jawab perwira maupun jurumudi.

Sehingga ketika melaksanakan tugas jaga dipelabuhan selanjutnya tidak terjadi kesalahan yang dapat merugikan kru kapal maupun perusahaan.

Ketika mualim jaga atau mualim 1 memberikan tugas kepada jurumudi jaga, sesering mungkin untuk mengontrol apakah tugas yang dia berikan kepada jurumudi dilaksanakan dengan benar. Karena jika tugas yang diberikan tidak dijalankan dengan baik akan mengganggu jalannya bongkar muat. Salah satu contohnya, mualim jaga memberikan perintah untuk sounding ballast tank karena akan diisi sampai kedalaman yang sudah ditentukan guna menjaga stabilitas kapal untuk mengimbangi jalannya bongkar muat. Karena jika ballast tank tidak diisi kapal akan

(12)

miring kanan atau miring kiri, sehingga kontainer akan susah untuk ditata.

Dan ketika tugas ini tidak dijalankan dengan baik oleh jurumudi jaga akan berpengaruh pada stabilitas kapal. Karena tugas ini mungkin terlihat sepele tapi mempunyai efek yang besar bagi stabilitas kapal dan berlangsungnya operasional bongkar muat. Untuk itu sesering mungkin perwira jaga atau mualim 1 mengecek apakah tugas yang dia berikan sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau belum. Dan jangan sampai karena kesalahan satu orang mengakibatkan terhambatnya proses bongkar muat. Karena hal ini dapat mempengaruhi keefektifan operasional bongkar muat dipelabuhan.

Kembali lagi terhadap kesadaran dari Officer jaga dan jurumudi jaga untuk lebih fokus lagi dalam melaksanakan tugas jaga, serta tidak menganggap remeh setiap tugas yang diberikan karena didalam setiap tugas yang diberikan terdapat resiko yang besar jika terjadi kelalaian.

Selain itu juga dibutuhkan pengawasan langsung dari Nakhoda dan mualim 1, terhadap jalannya proses bongkar muat. Mengawasi apakah ada kendala yang terjadi di deck, serta mengawasi jalannya penjagaan dari mualim jaga dan jurumudi jaga apakah sudah melaksanakan sebagaimana yang sudah dijelaskan selama safety meeting.

2. Dari kedua permasalahan diatas, penulis mencoba memberikan penyelesaian masalah sebagai berikut :

a Rutin setiap 15-30 menit sekali melaksanakan pengecekan tali agar tidak terlalu kencang dan terlalu kendor. Serta memahami cepat

(13)

lambatnya pasang surut air laut pada suatu pelabuhan guna mengantisipasi perubahan kekencangan tali secara drastis. Dalam hal ini mualim jaga diharap bisa mengawasi apakah tugas dari jurumudi jaga ini sudah dilaksanakan dengan baik apa belum.

Karena bisa saja jurumudi jaga meremehkan tugas ini dan mualim jaga juga terlalu cuek akan tugas ini. Akhirnya ketika terjadi kesalahan yang harusnya bisa diantisipasi menjadi masalah tambahan yang pastinya sangat membahayakan jalannya bongkar muat. Untuk itu tidak sepatutnya meremehkan setiap tugas dan tanggung jawabnya ketika melaksanakan dinas jaga. Karena jika terjadi kesalahan sedikit saja akan berimbas pada kegiatan lain, yang seharusnya bisa berjalan secara normal menjadi terkendala.

b Kembali lagi terhadap tugas dan tanggung jawab dari mualim I sebagai perwira keamanan yang selalu mengingatkan bahwa ronda keliling pada saat jaga pelabuhan atau jaga muatan selalu di laksanakan minimal 30 menit sekali agar selalu aman, tertib dan kondusif. Memang masalah yang harus dihadapi ketika dinas jaga pelabuhan sangat banyak, dan disini mualim jaga dan jurumudi jaga dituntut harus bisa bekerja sama dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebenar-benarnya, karena setiap tugas yang dijalankan memiliki resiko besar jika sampai diremehkan.

Oleh karena itu seharusnya aturan yang telah diatur dalam ISPS CODE dapat diterapkan semaksimal mungkin. Salah satunya adalah

(14)

mengecek semua tamu yang berkunjung di atas kapal, mencatat identitasnya ke dalam visitor log book, memberikan visitor card bagi setiap pengunjung yang naik ke atas kapal, dan ketika ada tamu yang ingin bertemu Nakhoda atau perwira diatas kapal sebaiknya diantar sampai bertemu dengan orang yang dicari. Jangan sampai ada tamu yang berkeliaran diatas kapal sebelum ada pemeriksaan terlebih dahulu. Tetapi yang terjadi dilapangan malah sebaliknya, banyak visitor yang tidak memakai visitor card dan bisa naik turun kapal dengan bebas. Hal ini yang mengakibatkan kasus pencurian atau kasus kriminal lainnya bisa terjadi dengan sangat mudah diatas kapal. Karena prosedur pengawasan dalam ISPS CODE tidak berjalan dengan semestinya. Selain itu juga kurangnya pengawasan secara langsung oleh Nakhoda terhadap jalannya penjagaan di atas kapal, sehingga banyak yang meremehkan ISPS CODE karena kurang tegasnya peraturan diatas kapal.

c Pada permasalahan kali ini terdapat banyak faktor yang mempengaruhi. Untuk faktor kru kapal sangat diperlukan evaluasi khusus dari mualim 1 dan Nakhoda tentang tugas dan tanggung jawab ketika jaga pelabuhan. Masalah yang perlu dievaluasi lagi adalah pemahaman tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan ketika melaksanakan tugas jaga pelabuhan. Karena disini saya lihat banyak tugas dari mualim jaga dan jurumudi jaga yang diabaikan. Padahal tugas tersebut berperan

(15)

penting dalam kelancaran operasional bongkar muat. Salah satu contoh adalah jarang mengecek muatan apakah sudah sesuai dengan bayplan tau belum. Jadi pengecekan hanya dilakukan ketika muatan sudah hampir selesai dimuat, padahal tiap waktu harus dilaksanakan pengecekan guna mengetahui jika ada muatan yang tertukar tempat atau ada muatan yang kurang. Jika terjadi kendala segera mengkonfirmasi mualim 1 dan foreman agar segera diatasi dan tidak sampai merugikan waktu efisiensi bongkar muat, dan menghindari delay pemberangkatan kapal.

Selain dari kru kapal masalah ini juga disebabkan foreman yang terlalu memaksakan kegiatan tetap berjalan meskipun kondisi hujan. Padahal kru kapal juga berhak untuk menunda pekerjaan demi mengantisipasi kecelakaan kerja atau kelesamatan muatan.

d Masalah ini terjadi akibat kelalaian pihak agen perusahaan, kenapa bisa terjadi kerusakan segel tapi luput dari pemeriksaan. Seharusnya sebelum kontainer dinyatakan siap untuk dimuat sudah melalui proses pemeriksaan terlebih dahulu. Dan untuk kru juga bisa dibilang kurang teliti dalam mengawasi muatan yang di muat diatas kapal. Seharusnya setiap muatan yang naik sudah dipastikan dalam keadaan baik dan bisa ditumpuk dengan muatan lain. Serta Nakhoda diharap mampu bersikap tegas dalam masalah ini karena kelalaian yang dilakukan perwira jaga dan jurumudi jaga sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kerusakan muatan didalamnya.

(16)

A. KESIMPULAN

Pada pembahasan sebelumnya telah dilakukan analisa terhadap permasalahan yang ada. Dari hasil analisa tersebut di peroleh beberapa pemecahan masalah, sehingga dapat di simpulkan bahwa:

1. Penerapan dinas jaga pelabuhan di KM. SEGARA MAS belum optimal, karena banyak sekali tugas dan tanggung jawab dari perwira dan jurumudi jaga yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Penerapan ISPS CODE di KM. SEGARA MAS juga masih belum maksimal, bahkan banyak kru kapal terutama perwira jaga yang mengabaikannya. Selain itu Nakhoda juga kurang memberikan ketegasan untuk seluruh kru terutama perwira jaga untuk melaksanakan aturan-aturan dalam ISPS CODE.

2. Ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya kesalahan- kesalahan pada dinas jaga pelabuhan, antara lain sebagai berikut :

a. Safety meeting di KM SEGARA MAS belum dilaksanakan secara rutin pada setiap bulannya. Oleh karena itu banyak kru kapal yang belum faham terhadap tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

b. Kurangnya pengetahuan tentang resiko-resiko terhadap setiap pelanggaran atas tugas dan tanggung jawab ketika dinas jaga.

Oleh karena itu banyak kru yang masih meremehkan tugas dan tanggung jawabnya.

c. Kurangnya pengawasan dari Nakhoda atas setiap kinerja dari perwira jaga dan jurumudi jaga, sehingga banyak yang terbiasa melakukan kelalaian terhadap tugas-tugasnya karena merasa tidak pernah dapat teguran dan peringatan dari mualim 1 ataupun Nakhoda.

(17)

B. SARAN

Dari pembahasan sehubungan dengan masalah penelitian tentang penerapan aturan jaga pada saat dinas jaga guna menghindari terjadinya hal yang tidak di inginkan di kapal MV.SEGARA MAS, maka penulis mencoba untuk mengajukan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang bersangkutan guna sebagai usaha peningkatan kinerja awak kapal. Berikut saran untuk perusahaan pelayaran:

Memberikan pelatihan, pengarahan dan beberapa tes kepada awak kapal sebelum naik ke atas kapal atau sebelum melakukan sea project.

Dengan memberlakukan hal-hal tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan perwira yang kompetitif dan handal, sehingga para perwira dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik di atas kapal.

Berikut ini beberapa saran untuk awak kapal :

1. Seluruh kru diharapkan ketika pertama kali On Board benar-benar mengikuti kegiatan familiarisasi oleh kru yang digantikan mengenai tugas dan tanggung jawabnya serta memahami betul bagian-bagian di atas kapal, fungsinya dan pengoperasiannya. Dan tugas mualim 1 disini adalah memastikan apakah kru pengganti sudah benar-benar mengerti tentang tugas dan tanggung jawabnya, sebelum menandatangani form familiarisasi.

Memaksimalkan penerapan ISPS CODE di atas kapal, serta diharapkan adanya ketegasan dari Nakhoda kepada perwira jaga maupun jurumudi jaga dalam penerapan aturan ISPS CODE agar

(18)

benar-benar dilaksanakan guna mengantisipasi tindak kejahatan dari pengunjung ilegal.

2. Dari kesimpulan kedua penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut :

a. Mengadakan safety meeting rutin setiap bulannya yang salah satu tujuannya untuk membahas mengenai sistem tugas jaga pelabuhan guna kelancaran operasional bongkar muat. Serta untuk mengevaluasi jalannya dinas jaga selama 1 bulan dan apa yang harus diperbaiki agar tidak terjadi kesalahan dalam operasional bongkar muat dibulan berikutnya.

b. Ketika safety meeting diharap Nakhoda memberikan wawasan tentang resiko-resiko yang memungkinkan terjadi jika perwira jaga dan jurumudi jaga melalaikan tugas dan tanggung jawabnya. Agar memunculkan inisiatif untuk lebih meningkatkan kinerjanya demi menghindari akibat dari kelalaian terjadi.

c. Meningkatkan pengawasan dari Nakhoda terhadap jalannya kegiatan bongkar muat, serta mengawasi kinerja perwira jaga dan jurumudi jaga apakah sudah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik atau belum.

Dari saran diatas diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan awak kapal tentang pentingnya pemahaman dan implementasi TUGAS JAGA PELABUHAN yang baik dan benar . Dengan demikian, tingkat keselamatan

(19)

dan kinerja awak kapal akan meningkat sehingga bisa terhindar dari setiap permasalahan akibat dari kelalaian dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Referensi

Dokumen terkait

Jam kerja dan jam istirahat, Para perwira dan rating yang melaksanakan tugas jaga navigasi atau jaga kamar mesin, atau anak buah kapal lainnya yang diberi tugas berkaitan dengan

[r]