BAB IV
KONSEP PERANCANGAN
A. Metode Perancangan
Perancangan buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini disusun berdasarkan riset yang dilakukan penulis pada beberapa narasumber. Selain melakukan riset penulis juga melakukan observasi terhadap target audience dan melakukan studi kepustakaan untuk melengkapi data yang diperlukan untuk data perancangan ini. Dalam menyusun perancangan ini, pertama penulis menentukan tema yang akan penulis angkat sebagai permasalahan. Permasalah tema yang telah dipilih kemudian dicari solusinya yang berupa perancangan buku cerita model pop- up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”. Dalam perancangan ini penulis mulai melakukan riset terhadap tema yang diangkat, tema pada perancangan ini adalah “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”. Penulis melakukan riset dengan mengumpulkan informasi mengenai cerita Sejarah Berdirinya Kota Surakarta. Pengumpulan data tentang cerita Sejarah Berdirinya Kota Surakarta penulis kumpulkan melalui studi kepustakaan dan melalui internet.
Setelah melakukan riset terhadap tema perancangan, selanjutnya penulis mengumpulkan data target audience dengan teknik wawancara dan observasi langsung. Wawancara dan observasi, penulis lakukan di dua sekolah di Kota Surakarta, yaitu SDN Cemara Dua Surakarta. Wawancara yang penulis
Setelah melakukan wawancara dan melakukan observasi langsung, penulis kemudian mulai mengolah hasil wawancara dan observasi tersebut.
Hasil wawancara dan observasi tersebut kemudian penulis gunakan sebagai acuan untuk perancangan buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” terhadap target audience. Hasil wawancara dan observasi tersebut yang menentukan penulis dalam pemilihan gaya gambar, warna, font, jalan cerita, bahan untuk membuat buku, dan bentuk buku. Selain melalui wawancara dan observasi penulis juga mencari referensi melalui internet.
Tahapan selanjutnya adalah, pembuatan draft kasar untuk bentuk pop-up, karakter dan ilustrasi background yang akan digunakan dalam buku cerita model pop-up. Setelah karakter untuk buku cerita ini ditentukan kemudian penulis mulai membuat mock up untuk bentuk pop-up. Bentuk mock up pop-up tersebut yang nantinya akan diterapkan pada buku cerita model pop-up tersebut. Setelah mock up dibuat, tahap selanjutnya adalah digitalisasi untuk karakter dan ilustrasi. Setelah masuk tahap digitalisasi, kemudian masuk tahap untuk dicetak dan siap untuk melakukan proses cutting dan pengeleman untuk bagian-bagian pop-up. Tahap selanjutnya merupakan tahap Binding buku atau penjilidan, tahap finishing dan pengecekan karya apakah hasil akhir pop-up sudah seperti bentuk mock up yang dibuat. Tahap terakhir, buku cerita model pop-up sudah siap untuk diterbitkan dan di distribusikan pada target audience.
Gambar. 4. Bagan Perancangan Buku Cerita Model Pop-up Sumber: dokumentasi penulis
Riset Target Audience dan Target Market
Pencarian dan Pengumpulan Referensi
Penyaringan dan Pemantapan Konsep
Pembuatan draft mock up, karakter, dan backgrond
Pembuatan mock up pop-up
Digitalisasi Karakter dan Backgrond
Tahap percetakan
Cutting, Binding, dan Finishing buku pop-up
Distribusi
B. Target Market dan Target audience
1. Target MarketPerancangan ini ditujukan untuk pembaca yang berada di Kota Surakarta dan sekitarnya, dan untuk semua usia, laki-laki dan perempuan yang ingin mengetahui buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”, dalam visual yang berbeda dan lebih interaktif. Target market untuk buku cerita bergambar model pop-up ini berada pada wilayah kota Surakarta dan sekitarnya, dengan lingkup untuk semua usia yang memiliki kesanggupan untuk membeli buku ini dan dengan kelas ekonomi menengah ke atas.
2. Target audience
a. Segmentasi Geografis
Target pembaca untuk buku cerita bergambar model pop-up ini adalah anak usia 7-10 tahun di Kota Surakarta. Karena tema “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” lebih ditekankan pada target audience yang memang berdomisili di Kota Surakarta agar lebih merasakan dampak dari hasil perancangan ini.
b. Segmentasi Demografis
Target pembaca untuk buku cerita bergambar model pop-up ini adalah anak usia 7-10 tahun atau anak-anak yang berada pada jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.
1) Jenis kelamin : Laki-laki dan Perempuan 2) Usia : 7-10 tahun
3) Status : Anak-anak pada jenjang pendidikan Sekolah dasar c. Segmentasi Psikografis
Target pembaca untuk buku cerita bergambar model pop-up ini adalah anak-anak yang suka berimajinasi, tertarik pada cerita bergambar, memiliki rasa ingin tahu yang besar.
d. Segmentasi Perilaku
Target pembaca untuk buku cerita bergambar model pop-up ini adalah anak-anak yang menyukai belajar secara interaktif, anak-anak yang miliki ketertarikan kepada buku dan gemar mengoleksi buku cerita bergambar.
C. Konsep Kreatif
Buku cerita dengan model pop-up yang akan dirancang ini berjudul
“Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”. Penulis memilih judul tersebut agar judul tersebut mudah ingat oleh anak-anak khususnya anak-anak usia 7-10 tahun agar lebih mudah dipahami. Dari perancangan buku cerita model pop-up ini diharapkan anak-anak dapat mengetahui kisah berdirinya Kota Surakarta, sehingga anak-anak di Kota Surakarta tidak hanya mengetahui tentang keberadaan kerajaan, namun juga sejarah kerajaan tersebut dapat berdiri. Selain agar anak-anak dapat mengetahui kisah tentang berdirinya Kota Surakarta, penulis juga berharap dari buku cerita model pop-up ini dapat meningkatkan minat baca anak terhadap buku dan dapat melatih motorik anak dengan adanya model pop-up di dalam buku cerita ini.
Dalam buku cerita model pop-up ini akan ditampilkan dalam halaman penuh warna sehingga dapat melatih kepekaan anak terhadap warna. Karakter-
karakter yang terdapat di dalam buku cerita ini diharapkan dapat memberi contoh budi pekerti kepada anak-anak. Buku cerita model pop-up tentang
“Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini akan menampilkan beberapa karakter yang berperan dalam proses berdirinya Kota Surakarta seperti Sri Sunan Pakubuwana II, Kiai Yasadipura, Pangeran Wijil, dan Kiai Gedhe Sala dan Mayor Hogendorp. Sebagai buku yang memiliki nilai edukasi, dalam buku cerita model pop-up ini terdapat konsep-konsep kreatif, sebagai berikut:
1. Menentukan Tema Cerita
Sebuah buku tentunya tidak terlepas dari tema. Dalam menyusun sebuah buku keberadaan sebuah tema sangatlah penting. Untuk menyusun sebuah buku maka diperlukan tema sebagai acuan utama bagi penulis untuk tetap fokus pada jalan cerita yang nantinya akan disusun di dalam buku cerita tersebut. Tema merupakan ide dasar atau gagasan dalam sebuah cerita, tema diperlukan agar penulis tidak melenceng dari konsep awal cerita.
Dalam buku cerita model pop-up ini penulis memilih tema tentang sejarah Kota Surakarta, hal tersebut dikarenakan untuk menumbuhkan rasa cinta target audience terhadap Kota Surakarta, dan agar target audience tertarik untuk membaca buku sejarah yang biasanya membosankan karena hanya terdiri dari sekumpulan kata tanpa gambar didalamnya. Di dalam buku cerita model pop-up ini penulis menggunakan alur maju sesuai dengan sejarah, agar target audience dapat dengan mudah mengikuti alur cerita dalam buku cerita model pop-up ini.
2. Menentukan Judul Buku
Judul merupakan elemen penting dalam sebuah buku. Judul merupakan penggambaran dari isi buku, maka pemilihan judul sangatlah penting untuk memberikan gambaran tentang isi dalam buku yang akan dirancang. Sebagai elemen penting dalam menyusun sebuah buku, maka dalam menentukan sebuah judul menggunakan kalimat yang sederhana yang mencakup isi dari buku tersebut. Dalam perancangan buku cerita model pop-up ini penulis memberikan judul “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”. Judul tersebut dipilih oleh penulis dikarenakan untuk memudahkan target audience yang berusia 7-10 tahun dalam memahami isi buku cerita model pop-up ini.
Selain untuk memudahkan target audience dalam memahami isi dari buku cerita model pop-up tersebut tetapi juga mewakili keseluruhan isi dari buku cerita model pop-up.“Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”, dari judul tersebut telah menggambarkan bagaimana Kota Surakarta berdiri, proses-proses berdirinya Kota Surakarta, tokoh-tokoh penting yang berperan saat membangun Kota Surakarta, dan keadaan saat Kota Surakarta berdiri akan digambarkan dalam buku cerita model pop-up ini.
Dengan judul yang mudah diingat dan mudah dipahami tersebut diharapkan penulis agar target audience tertarik untuk membaca buku cerita bergambar model pop-up tersebut.
3. Menetukan Gaya Ilustrasi dan Teknik Pop-up
Dalam perancangan buku cerita model pop-up ini tentunya menggunakan gambar atau ilustrasi sebagai media berceritanya. Sebagai
elemen yang penting dalam sebuah buku cerita, pemilihan gaya gambar atau ilustrasi haruslah sesuai dengan target audience. Gaya ilustrasi yang digunakan dalam buku cerita model pop-up ini akan menyesuaikan dengan target audience dalam perancangan ini, yaitu anak-anak usia 7-10 tahun.
Gaya ilustrasi yang cocok dengan anak-anak usia 7-10 tahun menurut wawancara yang penulis lakukan adalah gaya gambar yang penuh warna, terdapat tokoh atau karakter yang mirip dengan diri anak (berbentuk manusia atau seperti manusia) dan gaya gambar yang ceria. Gaya gambar yang ceria disini maksudnya gambar dibuat dengan elemen-elemen gambar yang melengkung sehingga terlihat tidak kaku.
Teknik pop-up yang akan digunakan dalam perancangan ini adalah kombinasi teknik pop-up v-folding, rotary dan flaps. Penggunaan teknik pop-up kombinasi berbeda di setiap halamannya. Penggunaan teknik pop-up disesuaikan dengan jalan cerita dalam halaman tersebut dan gambar yang akan ditampilkan dalam halaman tersebut.
4. Menentukan Storyline
Bagian penting dalam sebuah buku adalah cerita atau isi dari buku tersebut. Dalam penyusunan sebuah buku diperlukan sebuah cerita agar buku tersebut menarik. Cerita dalam sebuah buku tidak harus berbentuk tulisan atau kalimat, cerita dalam buku dapat berupa gambar. Perancangan buku cerita model pop-up ini memiliki isi buku berupa cerita “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”. Cerita tersebut penulis angkat agar target audience dapat mengetahui cerita tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”.
Dibawah ini akan diurakan storyline untuk buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”:
a. Halaman 1-2
Sejarah Berdirinya Kota Surakarta bukanlah cerita singkat yang tiba- tiba muncul, melainkan sudah jauh dimulai sejak adanya Kerajaan Mataram Islam. Sejarah Berdirinya Kota Surakarta sendiri dimulai dari kehancuran Kerajaan Mataram yang ada di Kartasura, yang terjadi akibat serangan pemberontak Tionghoa pada masa itu. Kerajaan yang telah hancur kemudian ditinggalkan, karena kerjaan yang telah hancur sudah kehilangan keagungan sebagai sebuah kerajaan.
b. Halaman 3-4
Pakubuwana II sebagai raja pada saat itu memerintahkan diantaranya Kiai Yasadipura, Pangeran Wijil, dan Mayor Hogendorp untuk mencari lokasi untuk pusat kerajaan yang baru.
c. Halaman 5-6
Dimulailah perjalanan untuk mencari lokasi sebagai pusat Kerajaan yang baru. Lokasi yang pertama adalah Desa Talangwangi atau sekarang disebut Kadipala, kemudian menuju Desa Sala, dan seterusnya menuju Desa Sanasewu.
d. Halaman 7-8
Setelah melalu musyawarah bersama, akhirnya dipilih Desa Sala sebagai lokasi untuk membangun kerajaan yang baru. Kiai Yasadipura, Pangeran Wijil, dan Mayor Hogendorp diperintah menuju Desa Sala untuk meminta ijin mendirikan kerajaan di Desa Sala.
e. Halaman 9-10
Setelah ditemukannya lokasi yang tepat sebagai pusat kerajaan yang baru, tanah mulai diratakan, pepohonan liar ditebang, dan daerah rawa ditutup. Semua usaha pembangunan berjalan lancar, kecuali di tengah sumber air. Berapapun jumlah balok kayu yang digunakan untuk menutup sumber air tersebut sia-sia, sumber air tersebut bahkan bertambah besar.
f. Halaman 11-12
Usaha yang tidak berhasil menyebabkan pangeran Wijil dan Kiai Yasadipura bersemedi dan berdoa disebelah timur rawa. Seminggu bertapa hingga mereka mendengar suara:
“Heh kang mangun subrata. Wruhanira, teleng iku mulane ora bisa mampet, amarga tembusane Segara Kidul. Dene yen sira udi pemempete teleng mau, kang dadi saranane: Tambalen gong Kiai Sekar Delima, karo roning lumbu lawan sirahing taledhek. Ing kono bisa pampet telenge, ananging ing tembe dadi kedung ora mili ora asat, ajeg banyune, ora kena dipampet salawase.”
g. Halaman 13-14
Setelah dapat mengartikan makna dari suara gaib tersebut, pihak kerajaan memeberikan uang sebanyak 10.000 ringgit kepada Kiai Gedhe Sala, sebagai ganti untung untung untuk masyarakat Desa Sala.
Kemudian mata air dapat ditutup dengan menabur bunga merah delima dan daun lumbu.
h. Halaman 15-16
Mata air yang berada di Desa Sala telah berhasil di tutup, kemudian pihak kerajaan melakukan iring-iringan untuk pindah ke pusat kerajaan yang baru.
5. Format Buku, Ukuran Buku dan Jumlah Halaman
Buku cerita model pop-up dalam perancangan ini menggunakan format buku dengan bentuk potrait, dikarenakan untuk mempermudah target audience dalam membuka buku. Bentuk portrait juga merupakan bentuk buku yang lazim, terutama untuk target audience yang merupakan anak-anak berusia 7-10 tahun. Bentuk potrait tersebut memudahkan target audience dan tidak membingungkan dalam membuka buku. Buku dalam perancangan ini nantinya berbentuk segi empat, dengan cover berupa hard-cover dan bagian isi berupa kertas artcarton 260 gram.
Ukuran buku dalam perancangan ini disesuaikan dengan target audience yang merupakan anak-anak berusia 7-10 tahun. Ukuran yang dipilih tidak terlalu besar agar target audience tidak berat pada saat membawa buku dan tidak kesusahan saat membuka atau membawa buku yang ukurannya besar. Ukuran buku juga tidak terlalu kecil dikarenakan model pop-up tidak akan terlihat jelas jika ukuran buku terlalu kecil.
Ukuran dan berat buku berpengaruh terhadap jumlah halaman pada buku tersebut. Buku cerita untuk anak-anak usia 7-10 tahun biasanya mempunyai jumlah halaman yang tidak terlalu banyak. Buku cerita model pop-up dalam perancangan ini nantinya kan berjumlah 8 halaman pop-up.
Jumlah halaman yang tidak terlalu banyak tersebut tetap memiliki isi yang maksimal untuk mendidik dan menghibur target audience.
6. Teknik Visualisasi
Buku cerita model pop-up ini natinya akan divisualisasikan menggunakan software Paint Tools Sai dan Adobe Photoshop CS5. Paint Tool Sai sendiri merupakan software digital painting yang serupa dengan Photoshop, namun Paint Tools Sai hanya sebatas software digital painting.
Untuk pembuatan draft kasar konsep buku cerita model pop-up ini nantinya akan dilakukan secara manual menggunakan pensil. Draft kasar yang sudah dibuat selanjutnya masuk proses digitalisasi berupa lineart dan pewarnaan. Pembuatan lineart akan dilakukan di software Paint Tool Sai.
Setelah selesai pada bagian lineart, kemudian dilakukan pewarnaan dan finishing di software Photoshop CS5.
7. Teknik Cetak
Buku cerita model pop-up ini nantinya akan menggunakan yaitu teknik cetak offset. Teknik cetak offset merupakan teknik cetak yang paling banyak digunakan dan merupakan teknik cetak yang populer, teknik cetak ini biasa digunakan pada surat kabar, buku, majalah, brosur, dll.
Teknik cetak offset biasa digunakan untuk mencetak dalam jumlah banyak.
teknik cetak offset ini akan diterapkan pada cover dan isi buku.
Buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini nantinya akan dibagikan kepada sekolah dasar di Kota Surakarta pada tanggal 17 Februari , bertepatan dengan hari berdirinya Kota Surakarta. Dengan diterbitkannya buku cerita model pop-up tentang
“Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini, penulis berharap target audience dapat mengetahui sejarah tentang Kota Surakarta. Tidak hanya melihat Keraton, namun juga menegetahui bagaimana keraton tersebut dapat berdiri hingga saat ini. Perlu proses yang panjang untuk Keraton Surakarta dapat berdiri dan berjaya hingga sekarang ini, maka sepatutnya kita tetap menjaga keberadaan Keraton dan Kota Surakarta.
8. Media Pendukung
Perancangan ini memiliki media-media pendukung untuk menarik target audience agar tertarik dengan buku cerita model pop-up ini. Media pertama yang digunakan untuk menarik perhatian dan minat target audience adalah poster. Poster merupakan salah satu media yang efektif digunakan untuk menarik target audience. Poster yang akan dibagikan disini merupakan poster kalender, yaitu fungsi poster dalam memberikan informasi mengenai buku cerita model pop-up ini sekaligus memiliki fungsi sebagai kalender.
Yang kedua adalah media pendukung berupa x-banner yang akan dipasang ditempat saat pembagian buku cerita model pop-up tentang
“Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”. Media pendukung yang dipasang di tempat launching buku ini nantinya kan memuat informasi tentang buku dan ajakan untuk membaca buku serta melestarikan Kota Surakarta. Media pendukung yang lain adalah berupa packaging buku dan merchandise.
Packaging buku untuk buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” dibuat dengana bentuk yang efisien dan memudahkan target audience dalam membawa buku tersebut, berupa
kotak seukuran buku dengan bagian yang bisa dijinjing target audience.
Media pendukung dalam bentuk merchandise adalah berupa tempat pensil, binder, totebag, mug dan lembar jadwal pelajaran yang nantinya akan di dibagikan kepada siswa saat acara pembagian buku sebagai hadiah saat sesi tanya jawab.
D. Standar Visual
1. Buku Cerita Bergambar Model Pop-upa. Non Verbal 1) Logo
Logo pada buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini menggunakan logo campuran berupa logotype dan logogram. Berupa tulisan judul buku yang disusun sedemikian rupa agar menarik untuk dilihat dan dapat menampilkan isi buku dan kebudayaan Kota Surakarta.
2) Cover
Cover buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini menggunakan hard-cover, pada tulisan judulnya.
Bentuk cover persegi empat dengan sisi siku-sikunya dibuat tumpul.
Untuk ilustrasi pada cover depan menggunakan ilustrasi Keraton Surakarta. Penempatan judul buku berada ditengah cover agar mudah dilihat oleh target audience.
3) Layout
Layout untuk buku cerita model pop-up dalam perancangan ini terdiri dari bagian teks atau tulisan dan bagian untuk ilustrasi atau pop-up. Ilustrasi pop-up berada di tengah-tengah di antara dua halaman. Teks berada pada bagian kiri atau kanan pop-up, sehingga mudah unuk dibaca oleh target audience karena tidak terhalang oleh pop-up. Pop-up yang berada di tengah-tengah halaman akan menjadi point of interest karena berada di tengah halaman akan langsung terlihat saat halaman dibuka. Seperti pada buku Poptastic Jungle, berikut ini:
Gambar.5 . Poptastic Jungle: Amazing Pop-ups Sumber: google.com
4) Warna
Buku cerita model pop-up tentang Sejarah Berdirinya Kota Surakarta dalam perancangan ini akan menggunakan dominasi biru sebagai warna utamanya. Warna biru merupakan warna yang memberikan ketenangan dan melambangkan warna dari Keraton Surakarta saat ini.
5) Tipografi
Penggunaan tipografi pada buku cerita model pop-up pada perancangan ini menggunakan tipe font dekoratif, namun masih dapat dilihat dengan jelas oleh target audience yang merupakan anak-anak unsia 7-10 tahun. Font dekoratif dipilih karena jenis font ini tidak membosankan dan tidak kaku, cocok untuk anak-anak yang menyukai hal-hal bebas dan bermain. Penggunaan font pada bagian isi cerita dalam buku cerita model pop-up menggunakan font Smart Kid, karena font Smart Kid meskipun merupakan font jenis dekorasi tetapi masi jelas untuk dibaca bahkan untuk anak-anak. Bagian judul dalam buku cerita model pop-up ini menggunakan font jenis dekoratif yaitu font Kids Book. Font ini mempunyai bagian yang melingkar seperti sulur seperti pada ornamen batik, meski ada bagiannya yang berbentuk seperti sulur font ini masih dapat dibaca dengan jelas.
Gambar.6 . Font Smart Kid Sumber: dokumentasi pribadi
Gambar.7 . Font Kids Book Sumber: dokumentasi pribadi
6) Ilustrasi
Buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini menggunakan ilustrasi digital painting. Gaya ilustrasi pada buku cerita model pop-up ini mengambil referensi dari ilustrasi buku cerita bergambar “7 Kisah Pengantar Tidur: Dongeng Tujuh Menit” karya Clara Ng. Gaya ilustrasi dari buku cerita bergambar karya Clara Ng merupakan referensi yang dipilih oleh penulis sesuai dengan acuan dari data target audience. Meski menggunakan gaya ilustrasi seperti pada buku cerita karya Clara Ng, penulis tetap akan mengkombinasikan dengan gaya ilustrasi penulis sendiri dan gaya gambar yang cocok dengan target audience.
Gambar.8 . 7 Kisah Pengantar Tidur: Dongeng Tujuh Menit
Sumber: http://goodreads.com/book/show/19522788-7-kisah-pengantar-tidur
7) Karakter
Dalam buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” ini terdapat lima karakter utama. Karakter tersebut diambil dari tokoh-tokoh yang berperan dalam proses perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta. Adapun tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut:
a) Pakubuwana II
Pakubuwana II adalah raja Kerajaan Kartasura pada saat itu.
Sebagai seorang raja dan penguasa Kerajaan Kartasura, Pakubuwana II digambarkan seseorang yang bijaksana dan berwibawa. Mempunyai sifat berwibawa dengan mengenakan pakaian raja Jawa, memakai mahkota dan terdapat keris.
Gambar.9 . Karakter Pakubuwana II Sumber: dokumentasi pribadi
b) Kiai Yasadipura
Kiai Yasadipura merupakan seorang pujangga pada saat itu. Di gambarkan adalah seorang pria setengah baya dengan kumis tebal, berpakaian khas Jawa dengan kain batik dan memakai sorban.
Gambar.10 . Karakter Kiai Yasadipura Sumber: dokumentasi pribadi
c) Pangeran Wijil
Pangeran Wijil dalam buku cerita model pop-up ini digambarkan sebagai seorang pria berusia awal 30-an tahun dengan pakaian adat Jawa dan memakai blankon. Mempunyai watak yang sopan dan santun.
Gambar.11 . Karakter Pangeran Wijil Sumber: dokumentasi pribadi
d) Kiai Gedhe Sala
Kiai Gedhe Sala merupakan seseorang yang menjadi kepala Desa Sala pada jaman kerajaan Mataram Kartasura. Kiai Gedhe Sala dalam buku ini digambarkan menjadi sosok kakek dengan jenggot berwarna putih dan menggunakan beskap jawa (pakaian tradisional untuk laki-laki) dan memakai sorban.
Gambar.12 . Karakter Kiai Gedhe Sala Sumber: dokumentasi pribadi
e) Mayor Hogendorp
Mayor Hogendorp merupakan tentara VOC yang ikut mengawasi pencarian lokasi kerajaan yang baru. Di gambarkan, memiliki perawakan tinggi, dengan rambut berwarna putih keabua-abuan dengan model khas rambut bangsa Eropa dan menggunakan seragam tentara berwarna merah serta membawa pedang.
Gambar.13. Karakter Mayor Hogendorp Sumber: dokumentasi pribadi
2. Media Pendukung a. Visual Verbal 1) Headline
Headline dalam perancangan ini merupakan kalimat yang menggambarkan isi buku dan ajakan untuk membaca buku. Headline sangat penting karena ukurannya yang besar dan merupakan hal utama yang akan dibaca maka headline dalam perancangan ini dibuat dengan kalimat yang simpel dengan satu kali baca target audience dapat mengetahui maksud dari isi yang akan disampaikan dalam media pendukung. Headline yang digunakan dalam media pendukung ini adalah “Budayakan Membaca Sejarah Kotamu”.
2) Body Copy
Body copy merupakan perluasan makna dan penjelasan dari headline.
Body copy yang di gunakan merupakan penjelasan yang lebih rinci yang mengacu pada isi headline sehingga target audience mendapatkan penjelasan secara lebih rinci dalam body copy tersebut.
Isi dari body copy ini mengacu dari headline “Budayakan Membaca Sejarah Kotamu”, berisi tentang penjelasan kenapa target audience harus membaca dan belajar tentang sejarah kota.
b. Visual Non Verbal 1) Layout
Sama seperti media utama, media pendukung pun memerlukan layout agar tampilan tersusun secara rapi dan menarik. Untuk masing-masing media pendukung layout akan disesuaikan menurut kebutuhan dan manfaat dari media pendukung. Setiap media pendukung daapat memiliki layout yang sama maupun berbeda tergantung kebutuhan dan manfaatnya.
2) Warna
Pada media pendukung warna yang digunakan untuk menyusunnya tidak terlalu berbeda dengan media utama. Dengan dominasi warna biru sebagai warna utama pada bagian cover buku. Dengan tambahan warna-warna lain apabila diperlukan sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing media pendukung dan isi buku.
3) Tipografi
Tipografi yang digunakan tidak berbeda dengan tipografi yang digunakan untuk media utama. Media pendukung menggunakan font jenis dekoratif, yaitu font Kids Book dan Smart Kid. untuk font pada logo dan headline menggunakan font Kids Book, sedangkan untuk bodycopy menggunakan font Smart Kid.
4) Ilustrasi
Ilustrasi yang digunakan pada media pendukung tidak berbeda dengan ilustrasi yang digunakan pada media utama. Dengan ilustrasi menggunakan kelima tokoh utama dalam buku cerita tersebut.
Ilustrasi dan tokoh yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan sesuai dengan media pendukung yang digunakan.
E. Pemilihan Media
Pemilihan media dalam perancangan ini telah memalui pertimbangan dari tujuan dan kebutuhan perancangan ini terhadap target audience yaitu untuk menarik minat membaca target audience. Khususnya membaca tentang sejarah Kota Surakarta. Dibuat dengan konsep edukasi dalam ceritanya dan dengan ilustrasi pop-up disetiap halamannya. Selain dilihat dari segi isi dan visual yang menarik, buku dalam perancangan ini dibuat dengan memperhatikan keamanan dan kemudahan target audience dalam membawa buku tersebut. Dengan pertimbangan tersebut, penulis dapat menentukan media
buku yang sesuai dengan target audience. Maka ditentukan media utama berupa buku cerita model pop-up seperti dibawah ini:
Judul Buku : Sejarah Berdirinya Kota Surakarta Jumlah halaman : 8 halaman pop-up
Ukuran : 20 x 20 cm
Orientasi : Portrait
Kertas : Artcarton 260 gram
Finishing : Hard cover
Sedangkan untuk media pendukung merupakan, media yang dekat dengan target audience. Selain merupakan media yang dekat dengan target audience, media pendukung juga merupakan media yang dapat menarik perhatian dan dapat berguna untuk target audience. Maka penulis menentukan media pendukung dalam perancangan ini sebagai berikut:
1. X-Banner
Ukuran : 60 x 160 cm
Bahan : Flexy China
Jumlah : 2 buah
2. Kalender Poster
Ukuran : 43 x 30 cm
Bahan : Artcarton 260 gram Jumlah : 1000 lembar
3. Packaging Buku
Ukuran : 22 x 22 x 2 cm
Jumlah : 1000 buah
4. Sticker
Bahan : Vinyl
Jumlah : 2000 buah
5. Totebag
Ukuran : 35 x 40 cm Bahan : kain kanvas
Jumlah : 500 buah
6. Tempat Pensil
Ukuran : 20 x 10 cm Bahan : kain kanvas
Jumlah : 500 buah
7. Binder
Ukuran : ring 20 lubang/ A5
Bahan : plastik
Jumlah : 500 buah
8. Jadwal Pelajaran
Ukuran : 29,7 x 21 cm Bahan : Artcarton 260 gram
Jumlah : 500 buah
9. Mug
Ukuran : tinggi 10 cm, diameter 9 cm
Bahan : keramik
Jumlah : 500 buah
F. Media Placement
1. Buku Cerita Bergambar Model Pop-upBuku cerita bergambar model pop-up ini nantinya akan dibagikan kepada sekolah-sekolah dasar di Kota Surakarta pada tanggal 17 Februari untuk memperingati hari jadi Kota Surakarta. Buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” tersebut akan dibagikan secara gratis oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta sebagai event untuk memeperingati hari jadi Kota Surakarta yaitu pada tanggal 17 Februari.
2. Media Pendukung a. X-Banner
X-banner dalam perancangan ini nantinya akan ditempatkan di tempat launching pada saat acara pembagian buku.
b. Kalender Poster
Kalender poster akan dibagikan di sekolah-sekolah tempat target audience bersekolah. Selain berfungsi sebagai kalender, media pendukung ini juga berfungsi sebagai media promosi untuk menarik target audience.
c. Packaging Buku
Packaging buku untuk media utama dalam perancangan ini nantinya akan dibuat dengan bentuk yang efisien, sehingga memudahkan target audience dalam membawa buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”. Packaging buku dibuat bentuk kotak dengan besar ukuran yang sedikit lebih besar dari buku cerita model pop-
up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” dengan bagian yang dapat dijinjing oleh target audience.
d. Sticker
Sticker dalam perancangan ini nantinya akan dijadikan satu dengan buku cerita model pop-up yang akan dibagikan. Sticker tersebut berupa logo dalam buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”.
e. Totebag
Totebag dalam perancangan ini akan dibagikan sebagai hadiah pada sesi tanya jawab saat acara pembagian buku. Totebag ini berbahan kain canvas dengan pengaplikasian gambar dengan teknik sablon.
f. Tempat Pensil
Tempat pensil dalam perancangan ini dibagikan sebagai hadiah pada sesi tanya jawab saat acara pembagian buku. Tempat pensil ini berbahan kain canvas dengan pengaplikasian gambar dengan teknik sablon
g. Binder
Binder dalam perancangan ini dibagikan sebagai hadiah pada sesi tanya jawab saat acara pembagian buku.
h. Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran dalam perancangan ini dibagikan sebagai hadiah pada sesi tanya jawab saat acara pembagian buku.
i. Mug
Mug dalam perancangan ini dibagikan sebagai hadiah pada sesi tanya jawab saat acara pembagian buku. Merupakan mug dengan teknik digital
printing, berupa tulisan judul maupun gambar ilustrasi tokoh dalam buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”.
G. Prediksi Biaya
1. Buku Cerita Bergambar Model Pop-upBerikut adalah biaya produksi untuk 500 eksemplar buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”, yaitu terdiri dari:
a. Biaya Jasa
Uraian Harga jasa Jumlah Biaya
Penulis Rp. 250.000,00/
lembar
20 halaman
Rp. 2.500.000,00
Layouter Rp. 250.000,00/
lembar
20 halaman
Rp. 2.500.000,00
Illustrator Rp. 400.000,00/ muka 20 halaman + 2 halaman (cover)
Rp. 8.800.000,00
Total Biaya Rp. 13.800.000,00
Tabel. 2. Biaya Jasa
b. Biaya Cetak
Uraian Harga Jumlah
Biaya per 1000 eksemplar
Cetak Warna
Rp. 100.000,00/
1000
1000 Rp. 100.000,00
Artcarton 260 gram
Rp. 250.000,00/
1000
8 halaman isi + 2 cover
Rp. 2.500.000,00
Artcarton 260 gram
Rp 250.000,00/
1000
16 halaman (pop-up 8 halaman bolak
balik)
Rp. 4.000.000,00
Cutting
Rp. 1.000,00/
jatuh pisau
8 halaman (pop-up)
Rp. 8.000.000,00
Hard cover
Rp. 20.000,00/
buku
1000 eksemplar Rp. 20.000.000,00
Laminasi Doff
Rp. 0.27,00/ cm (20 x 20 cm) x 1000 eksemplar
Rp. 108.000,00
Binding Rp. 25,00/ cm 1000 eksemplar Rp. 400.000,00
Packaging
Rp. 13.000,00/
packaging
1000 buah Rp. 13.000.000,00
Total Rp. 48.108.000,00
Tabel. 3. Biaya Cetak
Sehingga dapat di kalkulasikan biaya untuk buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta” untuk per eksemplar buku:
Total Biaya Jasa Rp. 13.800.000,00
Total Biaya Cetak Buku Rp. 48.108.000,00
+
Total A Rp. 61.908.000.00
Margin Keuntungan (20%) Rp. 12.381.600.00
+
Total B Rp. 74.298.600.00
Ppn + Pph (10%) Rp. 7.429.860,00
+
Total C Rp. 81.719.460,00
Harga Buku Satuan (1000 eksemplar)
1000 :
Total Harga Buku Satuan Rp. 81.719.00
Harga Buku Rp.82.000,00
2. Media Pendukung
Berikut adalah biaya produksi untuk media pendukung buku cerita model pop-up tentang “Sejarah Berdirinya Kota Surakarta”, jumlah media pendukung disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu terdiri dari:
Uraian Harga Satuan Jumlah Biaya X-Banner @Rp. 175.000,00 2 buah Rp. 250.000,00 Kalender Poster @Rp. 3.500,00/
500 pcs
500 lembar Rp. 1.750.000,00
Sticker Rp. 300.000,00/
1000
2000 sticker Rp. 600.000,00
Totebag @Rp. 11.000,00/
500 pcs
500 buah Rp. 5.500.000,00
Tempat pensil @Rp. 12.000,00 500 buah Rp. 2.250.000,00 Binder @Rp. 12.000,00 500 buah Rp. 6.000.000,00 Jadwal pelajaran @Rp. 250,00 500 buah Rp. 14.000,00 Mug @Rp. 14.000,00 500 buah Rp. 7.000.000,00
Total Biaya Rp. 23.364.000,00
Tabel. 4. Biaya Media Pendukung
Sumber : Cendana Offset Percetakan.biz