• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV

N/A
N/A
Chisou Moukata

Academic year: 2025

Membagikan "BAB IV"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

16

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persentase Daya Kecambah

Pengamatan persentase daya kecambah dilakukan saat tanaman disemai umur 7 hari. Seperti yang dijelaskan oleh Rahmawati et al. (2022), bahwa pengujian daya kecambah dilakukan untuk melihat persentase daya kecambah benih dalam kondisi dan periode tertentu. Hasil pengamatan persentase daya kecambah disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Persentase Daya Kecambah Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Gambar 1. menunjukkan bahwa persentase daya kecambah beberapa perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda. Setiap benih memiliki kemampuan yang berbeda dalam berkecambah meskipun kondisi fisiologis dan genetisnya sama. Hal ini terjadi karena adanya faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkecambahan. Pada (gambar 1.) terlihat bahwa perlakuan 0 Gy (kontrol) menunjukkan persentase daya kecambah paling rendah sebesar 74%. Perlakuan 25 Gy dan 75 Gy menunjukkan persentase daya kecambah 100%. Perlakuan 100 Gy dan 125 Gy menunjukkan persentase daya kecambah sebesar 85%. Menurut Prabhandaru dan Saputro (2017), peningkatan dosis iradiasi menunjukkan daya kecambah dan keserempakan tumbuh benih. Vazilla et al. (2023) menyampaikan bahwa peningkatan dosis iradiasi menghasilkan pengeluaran lebih banyak energi akibatnya kerusakan akan semakin tinggi pada bahan yang diberi iradiasi. Hal ini

0%

20%

40%

60%

80%

100%

120%

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

Persentase Daya Kecambah

85% 85%

74%

100% 100%

(2)

selaras dengan penelitian Nurwanti (2013), yang memperlihatkan dimana benih yang mengalami kematian ialah dosis yang terlalu tinggi.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Putri et al. (2024) juga menunjukkan bahwa pada tanaman bayam yang tidak diiradiasi (kontrol) tumbuh dalam waktu 10 hari setelah tanam, sedangkan untuk benih yang diiradiasi dengan dosis 1000 – 4000 rads waktu tumbuhnya rata-rata 7 hari setelah tanam. Hal ini menunjukkan apabila dosis iradiasi yang diberikan sangat besar (melebihi 300 Gy) maka semakin rendah persentase daya kecambah atau semakin lama tumbuhnya.

Meningkatkan dosis iradiasi sinar gamma dapat mengurangi permeabilitas membran benih. Akibatnya benih akan mengalami penurunan daya perkecambahan. Hal ini sejalan dengan pendapat Amir et al. (2018) yang menjelaskan bahwa foton gelombang pendek sinar gamma relatif lebih kuat sehingga dapat merusak lapisan sel dan mempercepat perkecambahan.

B. LD50

Pengamatan LD50 (Lethal Dose 50) didasarkan pada hasil persentase daya kecambah yang telah didapatkan. Berdasarkan hasil pengamatan persentase daya kecambah, pada perlakuan 0 Gy (kontrol) sebesar 74%. Perlakuan 25 Gy dan 75 Gy menunjukkan persentase daya kecambah sebesar 100%, sedangkan perlakuan 100 Gy dan 125 Gy menunjukkan daya kecambah sebesar 85%. Kelima perlakuan menunjukkan bahwa angka pertumbuhan diatas 50%. Hasil pengamatan LD50 disajikan sebagai berikut.

Gambar 2. Perhitungan LD50 Perlakuan Iradiasi Sinar Gamma Pada Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

(3)

Berdasarkan (gambar 2.) dapat dilihat grafik yang terbentuk dari persentase daya kecambah tiap perlakuan. Persentase daya kecambah tersebut dijadikan acuan untuk menentukan besar LD50 dalam mematikan populasi 50% tanaman M1 bayam cabut. Pengamatan LD50 menggunakan aplikasi curve expert dengan menggunakan model polynomial regression. Hasil pengamatan LD50 menunjukkan bahwa pada kelima dosis perlakuan tidak menunjukkan dosis LD50 dalam mematikan 50% populasi tanaman bayam cabut.

Perlu diketahui untuk dosis iradiasi pada benih diatas 300 Gy akan sangat mempengaruhi benih itu sendiri, apabila dosis yang diberikan masih berada di angka kurang dari 300 Gy dikatakan masih aman. Seperti yang dijelaskan oleh Megasari dan Asmuliani (2023), bahwa berkurangnya daya perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh iradiasi sinar gamma dosis tinggi (300 Gy dan 400 Gy) dimana perlakuan ini banyak benih yang tidak tumbuh atau biasa juga disebut dosis letal.

Penelitian yang dilakukan oleh Purba et al. (2022) mengenai embrio jeruk menunjukkan bahwa penurunan persentasi perkecambahan sering dihubungkan dengan tingkat kepekaan materi genetik yang diiradiasi sehingga perlu dilakukan pengukuran tingkat sensitivitas suatu jaringan terhadap iradiasi dengan menggunakan perhitungan radiosensitivitas. Hal ini diperkuat oleh pendapat Asadi (2016) yang menyampaikan bahwa radiosensitivitas dapat diukur berdasarkan nilai LD50 yaitu tingkat dosis yang menyebabkan kematian 50% dari populasi yang diradiasi. Rahman dan Aisyah (2018), juga menyampaikan bahwa semakin rendah nilai LD50 suatu jaringan tanaman, semakin tinggi tingkat radiosensitivitasnya, sehingga semakin besar peluang terjadinya mutasi. Widiayani (2016) menyatakan bahwa pemuliaan tanaman melalui induksi iradiasi merupakan suatu percobaan trial and error. Hal ini didukung oleh Pratiwi dan Soeparjono (2022) yang menyebutkan bahwa secara umum proses mutasi dapat menimbulkan perubahan pada sifat genetik tanaman, baik kearah positif maupun negatif dan kemungkinan mutasi yang terjadi dapat kembali normal (recovery).

(4)

C. Tinggi Tanaman

Gambar 3. Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Umur 4 MST

Pertambahan tinggi tanaman merupakan salah satu indikator yang menunjukkan adanya pertumbuhan tanaman. Hasil perhitungan tinggi tanaman disajikan sebagai berikut.

Tabel 1. Perhitungan Tinggi Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Tinggi Tanaman

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 111,216 110,089 99,405 99,87 92,584

Sd 17,2231 15,9949 14,8134 13,305 11,4755

Sumber: Data Sekunder

Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dari pangkal batang diatas permukaan tanah hingga ujung titik tumbuh tanaman. Perlakuan kontrol menunjukkan rata- rata tinggi tanaman 111,216 cm dan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 17,2231. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata-rata tinggi tanaman sebesar 110,089 cm dan standar deviasi 15,9949. Perlakuan 75 Gy menunjukkan rata-rata tinggi tanaman sebesar 99,405 cm dan standar deviasi 14,8134. Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata tinggi tanaman sebesar 99,87 cm dan standar deviasi 13,305. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata-rata tinggi tanaman sebesar 92,584 cm dan standar deviasi 11,4755. Hal tersebut menunjukkan bahwa bayam yang diberi iradiasi lebih dominan terjadi penurunan tinggi tanaman jika dibandingkan dengan bayam tanpa perlakuan.

Penurunan tinggi tanaman cenderung diikuti dengan penurunan tingkat keragaman data. Nuraeni et al. (2023) menyampaikan bahwa hasil pengukuran didapat semakin besar dosis yang diberikan, maka tinggi tanaman semakin

(5)

menurun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sajimin et al. (2015) yaitu semakin tinggi dosis iradiasi maka semakin menurun tinggi tanaman, penurunan tinggi tanaman terjadi karena iradiasi dapat merusak kromosom tanaman sehingga mengakibatkan terganggunya tanaman. Indiati dan Marwoto (2017) juga menyatakan bahwa iradiasi sinar gamma menyebabkan proses metabolisme terhambat sehingga tinggi tanaman menurun. Rifnas et al. (2020) juga menyampaikan bahwa semakin tingi dosis iradiasi dapat menyebabkan terjadinya retardasi pertumbuhan dari penangkapan siklus sel pada M2 selama proses pembelahan sel.

Gambar 4. Boxplot Tinggi Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Rentang batang boxplot menentukan besarnya luasan data, semakin panjang rentang batang boxplot maka semakin luas sebaran data yang dimiliki sehingga keragaman yang dihasilkan juga semakin tinggi. Berdasarkan (gambar 4.) menunjukkan bahwa sebaran data paling luas pada tinggi tanaman bayam yaitu pada perlakuan kontrol (0 Gy) dibandingkan dengan perlakuan iradiasi sinar gamma (25 Gy; 75 Gy; 100 Gy; 125 Gy). Kondisi ini diartikan bahwa perlakuan dosis iradiasi sinar gamma tidak mempengaruhi terhadap keragaman tinggi tanaman bayam cabut. Hasil penelitian Lukanda et al. (2013) pada tanaman yang diradiasi sinar gamma dosis 200 - 400 Gy juga menunjukkan penurunan pada hampir semua sifat agronomi dan morfologi termasuk tinggi tanaman dan diameter batang. Asare et al. (2017) juga menyampaikan bahwa tinggi tanaman dapat dilihat sejak fase perkecambahan karena perkecambahan yang rendah tercermin dalam kelangsungan hidup bibit yang rendah seiring dengan meningkatnya dosis gamma yang diberikan.

x̅ = 111,216 Sd = 17,2231

x̅ = 110,089 Sd = 15,9949

x̅ = 99,405 Sd = 14,8134

x̅ = 99,87

Sd = 13,305 x̅ = 92,584 Sd = 11,4755

(6)

Penggunaan iradiasi gamma juga mempengaruhi tinggi dari batang tanaman walaupun dengan dosis yang relatif rendah. Terlihat pada (gambar 4.) pada masing-masing perlakuan (0 Gy; 25 Gy; 75 Gy; 100 Gy; 125 Gy) terdapat pencilan (outlier) negatif yang berada di bawah batang boxplot. Hal ini menunjukkan adanya beberapa sampel tiap perlakuan dibawah nilai pada batang boxplot.

Tanaman dengan perlakuan iradiasi sinar gamma menunjukkan rata-rata pertambahan tinggi yang relatif lebih homogen daripada tanaman tanpa perlakuan.

Iradiasi sinar gamma terhadap tanaman dapat memberikan pengaruh pada metabolisme sel meristem. Menurut Mujar et al. (2014), pertambahan tinggi tanaman berkaitan dengan proses pemanjangan sel (fase fisiologi). Tanaman dengan tinggi yang rendah merupakan tanaman yang diharapkan karena tinggi tanaman berlawanan dengan tingkat produktivitas tanaman bayam. Semakin tinggi suatu tanaman maka produktivitasnya semakin rendah karena. Hal ini menunjukkan sifat negatif dari perlakuan iradiasi sinar gamma justru memberikan keuntungan pada tanaman. Hasil seleksi tinggi tanaman rendah menunjukkan persentase 41% dari total seluruh individu tanaman M1. Didapatkan tanaman dengan tinggi rendah pada perlakuan 0 Gy (kontrol) sebanyak 19 tanaman;

perlakuan 25 Gy sebanyak 22 tanaman; perlakuan 75 Gy sebanyak 46 tanaman;

perlakuan 100 Gy sebanyak 43 tanaman; dan perlakuan 125 Gy sebanyak 69 tanaman (data lengkap pada lampiran 4).

D. Jumlah Daun

Gambar 5. Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Umur 5 MST

Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan menghitung daun yang terbentuk.

Kriteria daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka secara sempurna (bukan berupa kuncup daun). Hasil pengamatan jumlah daun disajikan sebagai berikut.

(7)

Tabel 2. Perhitungan Jumlah Daun Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Jumlah Daun

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 160,72 131,89 123,23 116,47 139,26

Sd 41,426 31,667 26,235 31,345 54,168

Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan (tabel 2.) perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata jumlah daun sebesar 160,72 dan standar deviasi 41,426. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata- rata jumlah daun 131,89 dan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 31,667.

Perlakuan 75 Gy menunjukkan rata-rata jumlah daun sebesar 123,23 dan standar deviasi 26,235. Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata jumlah daun sebesar 116,47 dan standar deviasi 31,345. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata-rata jumlah daun sebesar 139,26 dan standar deviasi 54,168.

Jumlah daun tiap perlakuan memiliki tingkat keragaman yang berbeda. Turgor daun mempengaruhi proses penuaan atau senses, apabila daun mengalami transpirasi namun tidak mendapat pasokan air dan nutrisi yang cukup, maka akan mempercepat proses senses. Murniati et al. (2013) menyampaikan bahwa tinggi tanaman mempengaruhi hasil fotosintesis, tinggi tanaman merupakan kombinasi dari panjang cabang pada tingkatannya yang kemudian akan membentuk tajuk tanaman dengan jumlah daun yang ada.

Gambar 6. Boxplot Jumlah Daun Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Jumlah daun pada masing-masing dosis menunjukkan kisaran angka yang beragam. Berdasarkan (gambar 6.) terlihat perlakuan dengan rentang batang

x̅ = 160,72

Sd = 41,426 x̅ = 131,89

Sd = 31,667 x̅ = 123,23 Sd = 26,235

x̅ = 116,47 Sd = 31,345

x̅ = 139,26 Sd = 54,168

(8)

boxplot yang memiliki keragaman paling tinggi adalah perlakuan 0 Gy (kontrol) dibandingkan dengan perlakuan iradiasi (25 Gy; 75 Gy; 100 Gy; 125 Gy). Kondisi ini diartikan bahwa perlakuan dosis iradiasi sinar gamma tidak mempengaruhi terhadap keragaman jumlah daun tanaman bayam cabut. Menurut Garfansa et al.

(2022), jumlah daun dipengaruhi oleh pasokan nutrisi. Semakin tinggi dosis iradiasi sinar gamma maka semakin rendah jumlah daun yang terbentuk. Siregar et al.

(2024) menyampaikan bahwa rendahnya jumlah daun yang dihasilkan dikarenakan iradiasi sinar gamma pada dosis tinggi dapat menyebabkan perubahan kromosom tanaman yang berpengaruh terhadap daya tumbuh bakal daun (plumula).

Berdasarkan (gambar 6.) terlihat bahwa setiap perlakuan memiliki pencilan (outlier) yang ditandai dengan tanda bulat dan bintang di sekitar batang boxplot.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan populasi pada beberapa sampel tanaman.

Meskipun demikian pada perlakuan dosis 125 Gy terdapat nilai outlier positif salah satunya yaitu pada sampel tanaman nomor 404 sebanyak 414 helai daun dan outlier negatif salah satunya yaitu pada sampel tanaman nomor 405 sebanyak 43 helai. Iradiasi sinar gamma berpengaruh sangat nyata menghambat pertumbuhan jumlah daun.

E. Jumlah Cabang

Pengamatan jumlah cabang menunjukkan besarnya nutrisi yang tersebar pada tanaman tanpa perlakuan maupun dengan perlakuan iradiasi sinar gamma.

Hasil pengamatan jumlah cabang disajikan sebagai berikut.

Tabel 3. Perhitungan Jumlah Cabang Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Jumlah Cabang

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 13,61 16,47 12,37 14,26 14,62

Sd 2,023 3,781 1,727 3,925 3,22

Sumber: Data Sekunder

Perlakuan yang memiliki standar deviasi paling tinggi adalah perlakuan iradiasi sinar gamma 100 Gy. Perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata jumlah cabang sebesar 13,61 dan standar deviasi 2,023. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata-rata jumlah cabang 16,47 dan standar deviasi sebesar 3,781. Perlakuan 75

(9)

Gy menunjukkan rata-rata jumlah cabang sebesar 12,37 dan standar deviasi 1,727. Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata jumlah cabang sebesar 14,26 dan standar deviasi 3,925. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata-rata jumlah cabang sebesar 14,62 dan standar deviasi 3,22.

Gambar 7. Boxplot Jumlah Cabang Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Data jumlah cabang dengan perlakuan kontrol maupun iradiasi memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Berdasarkan (gambar 7.) rentang batang boxplot terpanjang yaitu pada perlakuan 100 Gy dan batang terpendek adalah perlakuan 0 Gy. Artinya tanaman dengan keragaman paling tinggi adalah perlakuan 100 Gy. Tingkat keragaman juga dilihat berdasarkan besarnya standar deviasi yang dimiliki.

Jumlah cabang yang terbentuk berkorelasi dengan produksi tanaman. Sujitno dan Dianawati (2015) menjelaskan bahwa percabangan yang banyak akan membentuk bunga dan buah yang banyak pula. Persebaran data perlakuan kontrol apabila dibandingkan dengan perlakuan dosis (25 Gy; 75 Gy; 100 Gy; 125 Gy) menunjukkan keragaman kontrol lebih rendah. Kondisi ini diartikan bahwa perlakuan iradiasi sinar gamma memberikan pengaruh terhadap keragaman jumlah cabang tanaman bayam cabut. Perlakuan kontrol terdapat pencilan (outlier) negatif salah satunya yaitu pada sampel tanaman nomor 9 sebanyak 7 cabang.

Perlakuan dosis 125 Gy terdapat pencilan (outlier) positif yaitu pada sampel tanaman nomor 419 sebanyak 27 cabang.

x̅ = 13,61 Sd = 2,023

x̅ = 16,47 Sd = 3,781

x̅ = 12,37 Sd = 1,727

x̅ = 14,26 Sd = 3,925

x̅ = 14,62 Sd = 3,22

(10)

F. Warna Daun

Pengamatan warna daun dilakukan pada akhir penelitian dengan membandingkan warna daun pada tanaman kontrol dan tanaman hasil iradiasi.

Pengamatan warna daun menggunakan MCC (Munsell Color Chart). Hasil pengamatan warna daun disajikan sebaagai berikut.

Tabel 4. Pengamatan Warna Daun Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Warna Daun

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 6,44 15,21 12,35 13,03 15,4

Sd 3,584 7,684 11,75 9,966 10,385

Sumber: Data Sekunder

Keterangan: Penggunaan angka pada tabel warna daun hanya simbol yang merujuk pada kode MCC warna daun.

Perlakuan yang memiliki standar deviasi paling tinggi adalah perlakuan iradiasi sinar gamma 75 Gy. Perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata warna daun sebesar 6,44 dan standar deviasi 3,584. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata-rata warna daun berada di angka 15,21 dan standar deviasi sebesar 7,684. Perlakuan 75 Gy menunjukkan rata-rata warna daun sebesar 12,35 dan standar deviasi 11,75. Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata warna daun sebesar 13,03 dan standar deviasi 9,966. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata-rata warna daun sebesar 15,4 dan standar deviasi 10,385.

(11)

Tabel 5. Pengamatan Warna Daun Menggunakan Metode MCC Kode MCC (Munsell Color Chart) Warna Daun 1 = 2.5 GY 8/4

2 = 5.0 Y 8/4 3 = 10.0 Y 7/8 4 = 7.5 Y 8/6 5 = 7.5 Y 8/4 6 = 7.5 Y 7/10 7 = 2.5 Y 9/2 8 = 7.5 Y 8/10 9 = 5.0 Y 8/6 10 = 10.0 Y 5/4 11 = 10.0 Y 6/4 12 = 7.5 Y 8/8 13 = 10.0 Y 6/6 14 = 5.0 GY 5/8 15 = 5.0 GY 5/6 16 = 10.0 Y 5/6 17 = 7.5 Y 7/6 18 = 7.5 Y 7/4 19 = 5.0 Y 7/4

20 = 7.5 Y 6/4 21 = 5.0 Y 7/6 22 = 7.5 Y 6/6 23 = 5.0 Y 8/8 24 = 7.5 Y 7/8 25 = 7.5 Y 6/8 26 = 7.5 Y 5/6 27 = 5.0 Y 8/10 28 = 5.0 Y 6/4 29 = 2.5 Y 6/4 30 = 2.5 GY 8/6 31 = 10.0 Y 7/6 32 = 10.0 Y 8/6 33 = 10.0 Y 7/4 34 = 2.5 GY 6/4 35 = 2.5 GY 7/6 36 = 2.5 GY 5/4 37 = 5.0 Y 6/6 38 = 7.5 Y 4/4 Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan (tabel 5.) menunjukkan bahwa hasil pengamatan warna daun pada tanaman bayam tanpa perlakuan maupun dosis iradiasi terdapat 38 kode warna. Kondisi tersebut artinya keragaman warna daun tanaman bayam sangat bervarian. Penentuan kode warna daun membandingkan warna daun bayam dengan bagan MCC (Munsell Color Chart).

Gambar 8. Boxplot Warna Daun Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus Viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Perubahan warna daun hasil iradiasi sinar gamma terjadi hampir pada semua tanaman. Perlakuan dengan tingkat keragaman warna daun paling tinggi adalah perlakuan 75 Gy. Perlakuan dengan keragaman paling sempit adalah perlakuan 0

x̅ = 6,44 Sd = 3,584

x̅ = 15,21 Sd = 7,684

x̅ = 12,35 Sd = 11,75

x̅ = 13,03

Sd = 9.966 x̅ = 15,4 Sd = 10,385

(12)

Gy (kontrol). Hal ini dapat terlihat pada (gambar 8.) bahwa batang boxplot terpanjang dengan standar deviasi terbesar adalah perlakuan 75 Gy. Terlihat pada gambar bahwa masing-masing perlakuan tidak memiliki data ekstrim atau pencilan. Pengaruh dari tingginya dosis iradiasi terhadap warna daun diduga akibat adanya beberapa sel yang rusak sehingga sintesis klorofil daun terganggu.

Menurut Puchooa (2005), perlakuan dosis sinar gamma yang tinggi dapat menimbulkan modifikasi yang menyebabkan nekrosis atau kematian jaringan.

Hasil pengamatan warna daun menunjukkan warna daun yang paling sering muncul adalah 7.5 Y 7/10 dan 7.5 Y 8/4. Menurut Astutik (2012), semakin tinggi dosis iradiasi 10 Gy hingga 40 Gy berdampak pada warna daun. Hal ini didukung oleh pendapat Nurchasanah et al. (2022), yang menyatakan bahwa warna daun hasil iradiasi mengalami perbedaan dengan kontrol pada dosis 25 dan 35 Gy.

Berdasarkan (tabel 6.) perlakuan kontrol menunjukkan persebaran data yang paling sempit dibandingkan dengan perlakuan dosis (25 Gy; 75 Gy; 100 Gy; 125 Gy). Kondisi ini artinya perlakuan dosis iradiasi sinar gamma memberikan pengaruh terhadap keragaman warna daun bayam cabut. Selaras dengan penelitian Melina (2008) juga menyebutkan bahwa semakin tinggi dosis iradiasi sinar gamma yang diberikan, maka semakin mengubah warna dan bentuk daun.

G. Jumlah Malai

Gambar 9. Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Umur 6 MST

Indikator yang menggambarkan produktivitas tanaman ialah jumlah malai.

Korelasi antara jumlah malai dengan angka produktivitas ialah semakin banyak malai tiap individu tanaman maka semakin banyak pula biji yang dihasilkan. Hasil pengamatan jumlah malai disajikan sebagai berikut.

(13)

Tabel 6. Perhitungan Jumlah Malai Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Jumlah Malai

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 12,55 8,5 11,55 11,77 14,41

Sd 4,282 4,375 4,918 8,098 13,087

Sumber: Data Sekunder

Perlakuan yang memiliki standar deviasi paling tinggi adalah perlakuan iradiasi sinar gamma 125 Gy. Perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata jumlah malai sebesar 12,55 dan standar deviasi 4,282. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata-rata jumlah malai 8,5 dan standar deviasi sebesar 4,375. Perlakuan 75 Gy menunjukkan rata-rata jumlah malai sebesar 11,55 dan standar deviasi 4,918.

Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata jumlah malai sebesar 11,77 dan standar deviasi 8,098. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata-rata jumlah malai sebesar 14,41 dan standar deviasi 13,087.

Gambar 10. Boxplot Jumlah Malai Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus Viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Data jumlah malai dengan rentang batang boxplot terpanjang adalah perlakuan 125 Gy. Data jumlah malai dengan rentang batang boxplot terpendek pada perlakuan 25 Gy. Artinya perlakuan dosis 25 Gy memiliki data yang lebih homogen. Menurut Nahor (2022), semakin panjang rentang batang boxplot maka semakin beragam data yang diperoleh. Berdasarkan (gambar 10.) terlihat bahwa pada perlakuan 100 Gy dan 125 Gy terdapat pencilan (outlier) positif, sedangkan pada ketiga perlakuan lainnya tidak. Pada perlakuan 100 Gy terdapat salah satu pencilan yaitu tanaman nomor 361 sebanyak 57 malai, sedangkan salah satu pencilan pada perlakuan 125 Gy yaitu sampel tanaman nomor 449 sebanyak 74 malai. Apabila perlakuan kontrol dibandingkan dengan perlakuan dosis iradiasi (25

x̅ = 12,55

Sd = 4,282 x̅ = 8,5 Sd = 4,375

x̅ = 11,55 Sd = 4,918

x̅ = 11,77 Sd = 8,098

x̅ = 14,41 Sd = 13,087

(14)

Gy; 75 Gy; 100 Gy; 125 Gy) menunjukkan keragaman kontrol lebih sempit. Kondisi ini diartikan bahwa perlakuan dosis iradiasi sinar gamma memberikan pengaruh keragaman jumlah malai tanaman bayam cabut.

H. Berat Biji Per Tanaman

Pengamatan berat biji per tanaman menunjukkan tingkat produktivitas tanaman baik tanpa perlakuan maupun dengan iradiasi sinar gamma. Hasil pengamatan berat biji per tanaman disajikan sebagai berikut.

Tabel 7. Perhitungan Berat Biji Per Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Berat Biji Per Tanaman

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 43,633 33,860 36,747 31,844 47,413

Sd 34,0893 18,6654 62,3039 38,6218 66,3092

Sumber: Data Sekunder

Perlakuan yang memiliki standar deviasi paling tinggi adalah perlakuan iradiasi sinar gamma dosis 125 Gy. Perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata berat biji per tanaman sebesar 43,633 g dan standar deviasi 34,0893. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata-rata berat biji per tanaman sebesar 33,860 g dan standar deviasi sebesar 18,6654. Perlakuan 75 Gy menunjukkan rata-rata berat biji per tanaman sebesar 36,747 g dan standar deviasi 62,3039. Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata berat biji per tanaman sebesar 31,844 g dan standar deviasi 38,6218. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata-rata berat biji per tanaman sebesar 47,413 g dan standar deviasi 66,3092.

Gambar 11. Boxplot Berat Biji Per Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus Viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

x̅ = 43,633 Sd = 34,0893

x̅ = 33,860 Sd = 18,6654

v

x̅ = 36,747 Sd = 62,3039

x̅ = 31,844 Sd = 38,6218

x̅ = 47,413 Sd = 66,3092

(15)

Berdasarkan (gambar 11.) didapatkan rentang batang boxplot terpanjang adalah perlakuan 125 Gy dan rentang batang boxplot terpendek pada perlakuan 75 Gy. Semakin panjang batang boxplot maka semakin beragam data yang dimiliki, sedangkan semakin pendek batang boxplot maka semakin homogen datanya. Fauzi et al. (2021) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa hasil analisis data menunjukkan iradiasi sinar gamma pada dosis mendekati 200 Gy nyata mempengaruhi berat biji per tanaman dengan berat 109,05 g dibandingkan perlakuan dengan dosis dibawahnya. Isnaini et al. (2020) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa ukuran biji yang dihasilkan lebih besar dibandingkan tanaman kontrol, sehingga bobot yang dihasilkan juga semakin besar.

Berdasarkan gambar 11 terlihat bahwa masing-masing perlakuan terdapat pencilan (outlier) positif. Pada perlakuan kontrol salah satu outlier yaitu sampel tanaman nomor 75 dengan berat biji 262 g. Salah satu outlier pada perlakuan dosis 25 Gy yaitu tanaman nomor 152 dengan berat biji sebesar 138,4 g. Outlier pada perlakuan 75 Gy salah satunya ialah sampel tanaman nomor 204 dengan berat biji sebesar 74,6 g. Pada perlakuan 100 Gy terdapat salah satu outlier yaitu sampel tanaman nomor 361 dengan berat biji 307,4 g. Perlakuan 125 Gy terdapat salah satu outlier yaitu sampel tanaman nomor 449 dengan berat biji sebesar 441,7 g.

Tanaman dengan berat biji yang besar angka beratnya merupakan tanaman yang diharapkan sesuai kriteria karena berat biji per tanaman searah dengan tingkat produktivitas tanaman bayam. Semakin berat biji suatu tanaman maka produktivitasnya semakin tinggi karena tanaman menghasilkan biji yang banyak.

Hal ini menunjukkan sifat positif dari perlakuan iradiasi sinar gamma memberikan keuntungan pada parameter berat biji per tanaman. Hasil seleksi berat biji per tanaman dengan angka besar menunjukkan persentase 14% dari total seluruh individu tanaman M1. Didapatkan tanaman dengan berat biji per tanaman pada rentang angka besar pada perlakuan 0 Gy (kontrol) sebanyak 22 tanaman;

perlakuan 25 Gy sebanyak 10 tanaman; perlakuan 75 Gy sebanyak 8 tanaman;

perlakuan 100 Gy sebanyak 10 tanaman; dan perlakuan 125 Gy sebanyak 19 tanaman (data lengkap pada lampiran 4).

(16)

I. Berat Segar Brangkasan

Gambar 12. Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Umur 7 MST

Berat segar brangkasan dilakukan dengan menimbang tanaman yang masih utuh saat pemanenan. Penimbangan dilakukan sebelum tanaman mongering sehingga berat yang terhitung termasuk air yang terkandung dalam tanaman bayam cabut. Hasil berat segar brangkasan tanaman bayam cabut ditimbang menggunakan timbangan digital. Hasil berat segar brangkasan disajikan sebagai berikut.

Tabel 8. Perhitungan Berat Segar Brangkasan Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Berat Segar Brangkasan

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 253,106 225,592 191,525 237,592 228,624

Sd 118,8774 127,4287 90,8192 222,8929 237,5421 Sumber: Data Sekunder

Perlakuan yang memiliki standar deviasi paling tinggi adalah perlakuan iradiasi sinar gamma 125 Gy. Perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata berat segar brangkasan sebesar 253,106 g dan standar deviasi 118,8774. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata-rata berat segar brangkasan sebesar 225,592 g dan standar deviasi sebesar 127,4287. Perlakuan 75 Gy menunjukkan rata-rata berat segar brangkasan sebesar 191,525 g dan standar deviasi 90,8192. Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata berat segar brangkasan sebesar 237,592 g dan standar deviasi 222,8929. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata-rata berat segar brangkasan sebesar 228,624 g dan standar deviasi 237,5421.

(17)

Gambar 13. Boxplot Berat Segar Brangkasan Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus Viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Berdasarkan (gambar 13.) menunjukkan bahwa keragaman berat segar brangkasan paling tinggi adalah perlakuan 100 Gy karena merupakan batang boxplot terpanjang diantara lainnya. Batang boxplot terpendek adalah perlakuan dosis 125 Gy. Pada (gambar 13.) terlihat bahwa masing-masing perlakuan memiliki pencilan (outlier) positif. Perlakuan kontrol terdapat pencilan pada sampel tanaman nomor 62 dengan berat segar brangkasan sebesar 579,9 g. Perlakuan 25 Gy terdapat pencilan pada sampel tanaman nomor 151 dengan berat segar brangkasan sebesar 743,4 g. Perlakuan dosis 75 Gy terdapat pencilan pada sampel tanaman nomor 242 dengan berat segar brangkasan sebesar 483,2 g.

Salah satu pencilan pada perlakuan dosis 100 Gy adalah sampel tanaman nomor 361 dengan berat segar brangkasan sebesar 1720,8 g. Salah satu pencilan pada perlakuan 125 Gy yaitu sampel tanaman nomor 449 dengan berat segar brangkasan sebesar 1541,7 g. Berat segar brangkasan diduga disebabkan penyerapan unsur hara yang diserap oleh tanaman terutama air dan karbohidrat.

Secara fisiologis berat segar brangkasan mengandung air dan karbohidrat. Seperti yang dijelaskan oleh Pangestu et al. (2020), bahwa air merupakan komponen utama tanaman hijau yang merupakan 70-90% dari berat segar tanaman tersebut.

J. Umur Berbunga

Pengamatan umur berbunga dilakukan saat fase awal munculnya bunga pada tanaman. Iradiasi sinar gamma dapat mempercepat umur panen pada tanaman mutan. Tanaman dengan umur panen genjah merupakan salah satu tujuan dari pembentukan varietas dalam program pemuliaan tanaman. Hasil pengamatan umur berbunga disajikan sebagai berikut.

x̅ = 235,106 Sd = 118,8774

x̅ = 225,592 Sd = 127,4287

x̅ = 191,525 Sd = 90,8192

x̅ = 237,592 Sd = 222,8929

x̅ = 228,624 Sd = 237,5421

(18)

Tabel 9. Perhitungan Umur Berbunga Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Umur Berbunga

0 Gy 25 Gy 75 Gy 100 Gy 125 Gy

x̅ 37,4 37,73 38,49 37,65 37,87

Sd 3,04 2,654 2,456 2,463 2,778

Sumber: Data Sekunder

Perlakuan yang memiliki standar deviasi umur berbunga paling tinggi adalah perlakuan iradiasi sinar gamma 0 Gy. Perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata umur berbunga sebesar 37,4 dan standar deviasi 3,04. Perlakuan 25 Gy menunjukkan rata-rata umur berbunga sebesar 37,73 dan standar deviasi sebesar 2,654. Perlakuan 75 Gy menunjukkan rata-rata umur berbunga sebesar 38,49 dan standar deviasi 2,456. Perlakuan 100 Gy menunjukkan rata-rata umur berbunga sebesar 37,65 dan standar deviasi 2,463. Perlakuan 125 Gy menunjukkan rata- rata umur berbunga sebesar 37,87 g dan standar deviasi 2,778.

Gambar 14. Boxplot Umur Berbunga Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Data dengan rentang batang boxplot terpanjang adalah perlakuan 125 Gy.

Data dengan rentang batang boxplot terpendek adalah perlakuan 75 Gy. Semakin panjang batang boxplot menunjukkan semakin besar tingkat keragaman suatu data. Letak masing-masing batang boxplot tidak jauh berbeda karena pada kisaran angka yang sama. Artinya tanaman mengalami waktu berbunga hampir pada kisaran waktu yang sama. Menurut BATAN (2005), iradiasi sinar gamma pada tingkat atau dosis rendah (mutasi mikro) lebih sedikit mempengaruhi perubahan karakter kuantitatif tanaman dan kromosom dibandingkan dengan mutasi makro menggunakan iradiasi sinar gamma pada dosis yang tinggi. Pada (gambar 14.)

x̅ = 37,4 Sd = 3,04

x̅ = 37,73

Sd = 2,654 x̅ = 38,49 Sd = 2,456

x̅ = 37,65 Sd = 2,463

x̅ = 37,87 Sd = 2,778

(19)

terlihat bahwa pada perlakuan kontrol memiliki pencilan (outlier) positif yaitu pada sampel tanaman nomor 49 dan 76 dengan umur berbunga berturut-turut 47 HST dan 46 HST. Tumanggor dan Mardiyah (2022) menjelaskan bahwa diduga pemberian dosis iradiasi sinar gamma yang semakin meningkat menyebabkan umur keluar malai semakin cepat. Sesuai dengan pernyataan Sutanto (2020) bahwa hasil perlakuan iradiasi sinar gamma dengan dosis 100 Gy memiliki umur berbunga yang lebih pendek dan menghasilkan mutan yang diinginkan serta mengalami perubahan dan peningkatan struktur gen dan menghasilkan kromosom yang dapat diteruskan ke individu lanjutannya sehingga mencapai titik keseragaman.

Tanaman bayam juga didapati mati pada saat masih proses vegetatif. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa faktor, salah satunya faktor lingkungan, cuaca, kelembaban, nutrisi maupun lainnya. Oliem (2008) menyatakan bahwa mutasi dapat terjadi baik pada setiap bagian tanaman maupun pada fase pertumbuhan tanaman. Mutasi lebih dominan terjadi pada tanaman yang sedang aktif mengalami pembelahan sel. Tanaman dengan umur berbunga pendek merupakan tanaman yang diharapkan karena semakin cepat berbunga suatu tanaman maka harapannya semakin cepat produktivitasnya.

K. Korelasi Antar Karakter Pertumbuhan dan Hasil

Hubungan keeratan antar komponen pengamatan pada penelitian ini dilihat dari besarnya nilai korelasi. Karakter yang digunakan sebagai pertumbuhan adalah tinggi tanaman, sedangkan karakter sebagai hasil adalah berat biji per tanaman. Verma et al. (2017) menyampaikan bahwa paparan sinar gamma memberikan efek stimulasi terhadap parameter morfologi spesifik serta dapat meningkatkan tanaman dalam aspek pertumbuhan dan hasil. Hasil analisis korelasi antar karakter pertumbuhan dan hasil bayam cabut dapat dilihat dari (tabel 10).

Tabel 10. Korelasi Antar Karakter Pertumbuhan dan Hasil Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma

Karakter Tinggi Tanaman

Jumlah Daun

Jumlah Cabang

Jumlah Malai

Berat Biji Per Tanaman Tinggi

Tanaman

1.00 0.45 0.28 -0.65 -0.28

Berat Biji Per Tanaman

0.72 -0.20 0.77 1.00

Sumber: Data Sekunder

(20)

Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa tinggi tanaman bayam berkorelasi nyata dan positif terhadap jumlah daun. Artinya tanaman tinggi akan menghasilkan jumlah daun yang banyak. Sejalan dengan penelitian Sudika dan Soemeinaboedhy (2020) yang menunjukkan bahwa tinggi tanaman berkorelasi positif dengan jumlah daun per tanaman dengan kategori sedang. Tinggi tanaman berkorelasi positif namun termasuk kategori lemah dengan jumlah cabang. Artinya semakin tinggi suatu tanaman maka semakin banyak jumlah cabang yang terbentuk. Hal ini sejalan dengan penelitian Sa’diyah et al. (2020) yang menunjukkan bahwa tingkat percabangan berkorelasi positif dan sangat nyata dengan tinggi akhir tanaman dengan nilai 0,52. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tanaman maka jumlah cabang tambahan dan tingkat percabangan makin banyak. Menurut Aditya et al. (2013), tinggi suatu tanaman yang kurang maksimal dapat mempengaruhi tingkat percabangan dan jumlah cabang yang akan berpengaruh pada jumlah bunga yang terbentuk.

Tinggi tanaman berkorelasi negatif kuat dengan jumlah malai, terlihat pada (tabel 10.) menunjukkan bahwa nilai korelasi tinggi tanaman dengan jumlah malai sebesar -0.65. Artinya semakin tinggi suatu tanaman maka semakin sedikit jumlah cabang yang terbentuk. Hal ini dapat terjadi karena adanya beberapa faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah lingkungan. Pada dasarnya memang fase vegetatif cukup mempengaruhi fase generatif kedepannya, namun tak jarang hal tersebut juga dipengaruhi faktor lainnya. Sejalan dengan pendapat Sarathi (2011) yang menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif suatu tanaman akan menentukan fase generatif dan produksi tanaman tersebut.

Parameter tinggi tanaman menunjukkan korelasi negatif lemah dengan berat biji per tanaman. Artinya semakin tinggi suatu tanaman maka semakin rendah hasil berat biji yang didapatkan. Hal ini dapat terjadi karena apabila tanaman terbilang tinggi juga dapat dengan mudah rebah karena terkena angin.

Hal ini yang menyebabkan banyaknya malai dan biji yang rontok sehingga mempengaruhi hasil. Sejalan dengan pendapat Riyanto et al. (2012) yang menjelaskan bahwa adanya peningkatan tinggi suatu tanaman sampai batas tertentu, maka akan diikuti oleh peningkatan produksi namun tanaman yang terlalu tinggi justru dapat menurunkan produktivitas karena tanaman mudah rebah.

Hasil uji korelasi berat biji per tanaman dengan jumlah daun menunjukkan nilai korelasi positif nyata. Artinya tanaman dengan jumlah daun yang banyak akan

(21)

menghasilkan berat biji per tanaman yang besar. Seperti yang dijelaskan oleh Damara et al. (2020) bahwa karakter jumlah daun memiliki korelasi positif dengan seluruh karakter biji artinya terjadi kenaikan jumlah daun dipengaruhi oleh kenaikan nilai karakter fisik biji. Hasil uji korelasi berat biji per tanaman dengan jumlah cabang menunjukkan nilai korelasi negatif lemah. Artinya tanaman dengan jumlah cabang banyak akan menurunkan berat biji per tanaman. Seperti yang dijelaskan dalam penelitian Mulyani dan Waluyo (2020) bahwa karakter komponen hasil yang tidak berkorelasi genetik dan fenotipe pada berat biji adalah jumlah cabang, jumlah ruas, panjang batang, panjang biji dan tebal biji.

Berat biji per tanaman berkorelasi positif nyata dengan jumlah malai.

Artinya tanaman dengan jumlah malai banyak menghasilkan berat biji per tanaman yang besar beratnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Akbar et al. (2022) yang menyebutkan bahwa korelasi sangat nyata dengan tingkat keeratan hubungan yang kuat terdapat pada karakter jumlah malai per rumpun yang mengindikasikan bahwa jumlah malai per rumpun dapat meningkatkan jumlah gabah isi per malai, semakin banyaknya jumlah gabah isi per malai maka semakin berat gabah yang dihasilkan.

Gambar

Gambar 1. Persentase Daya Kecambah Tanaman M1 Bayam Cabut (Amaranthus  viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma
Gambar 2. Perhitungan LD 50  Perlakuan Iradiasi Sinar Gamma Pada Tanaman M1  Bayam Cabut (Amaranthus viridis L.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma
Gambar  3.  Tanaman  M1  Bayam  Cabut  (Amaranthus  viridis  L.)  Hasil  Iradiasi  Sinar Gamma Umur 4 MST
Tabel  1.  Perhitungan  Tinggi  Tanaman M1  Bayam  Cabut  (Amaranthus  viridis L.)  Hasil Iradiasi Sinar Gamma
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma pada generasi M2 dosis 100 Gy, 200 Gy dan 300 Gy mempengaruhi karakter umur berbunga, umur panen, tinggi tanaman,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma pada generasi M 3 dosis 100 Gy, 200 Gy dan 300 Gy mempengaruhi karakter umur berbunga, umur panen, tinggi tanaman,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma pada generasi M3 dosis 100 Gy, 200 Gy dan 300 Gy mempengaruhi karakter umur berbunga, umur panen, tinggi tanaman,

Dalam perkembangannya mutasi dengan mutagen sinar gamma telah banyak diaplikasikan seperti pada tunas muda kentang, perlakuan iradiasi pada dosis 2-6 Gy dapat

Sampel berupa daun tanaman kecipir yang telah diinduksi sinar gamma dengan panjang gelombang 20 Gy, 25 Gy dan tanaman kontrol yang tidak diinduksi sinar gamma.. Cara

Dalam perkembangannya mutasi dengan mutagen sinar gamma telah banyak diaplikasikan seperti pada tunas muda kentang, perlakuan iradiasi pada dosis 2-6 Gy dapat

Pada umur 8 minggu tunas dengan perlakuan irradasi sinar Gamma dosis rendah yaitu 5 Gy mempunyai tinggi yang hampir sama dengan kontrol, dosis 10 Gy menurunkan

Seleksi dilakukan dengan membandingan galur M4 hasil iradiasi gamma 200 gray dengan tanaman kontrol untuk mendapatkan hasil perbedaan dan pengaruh radiasi sinar gamma terhadap