• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar tentang Penelitian Terdahulu

N/A
N/A
ali amrideppatoro

Academic year: 2024

Membagikan "Belajar tentang Penelitian Terdahulu"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Agus Syahid (2023) dengan judul Tesis “Ciberbullying Bermuatan suku, Agama, Ras, Dan Antargolongan (SARA) Di Media Sosial Yang Berdampak Hukum: Kajian Linguistik Forensik”

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data Penelitian dikumpulkan melalui salinan putusan pengadilan yang telah berkekuatan tetap (inkracht) dari tahun 2018 sampai tahun 2020, dimana dalam putusan tersebut terdapat data lingual cyberbullying bermuatan suku, agama, ras, dan antar golongan. Hasil penelitian menunjukkan ada empat bentuk makna leksikal cyberbullying bermuatan SARA, diantaranya (1) penyebutan nama hewan kepada seseorang atau kelompok orang; (2) pemberian label negatif; (3) penyebutan alat kelamin atau kotoran; dan (4) menyatakan perbuatan asusila. Tindak tutur yang dilakukan para terdakwa cyberbullying bermuatan SARA ada empat, yaitu tindak tutur ekspresif (penghinaan), asertif (tuduhan dan kebohongan), direktif (hasutan), serta komisif (ancaman). Keempat tindak tutur yang ditemukan dalam penelitian ini memenuhi unsur felicity conditions yang berarti bahwa validitas tuturan dalam data penelitian adalah valid sebagai tindakan cyberbullying bermuatan SARA.

Sedangkan dampak hukum tindakan cyberbullying bermuatan SARA di media sosial adalah para pelaku dijerat dengan Pasal 28 ayat (2) Jo. Pasal 45A ayat (2) No.19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah. Analisis aspek makna leksikal, tindak tutur, dan felicity conditions dalam penelitian ini menegaskan bahwa para terdakwa dalam penelitian ini benar-benar telah melakukan tindakan cyberbullying bermuatan SARA. Oleh sebab itu hasil penelitian ini sesuai dengan hasil putusan pengadilan di mana para terdakwa

terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan pelanggaran terhadap Pasal 28 ayat (2) Jo. Pasal 45A ayat (2) No.19 Tahun 2016.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Syarifuddin (2021) dengan judul Tesis “Tindak Tutur Provokatif Pada Media Sosial: Analisis Linguistik Forensik”

Penelitian ini bertujuan mengungkap jenis tindak tutur provokatif pada media sosial youtube dan mengungkap bentuk tindak tutur provokatif pada media sosial youtube yang dapat menimbulkan tindak pidana. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa tuturan di media sosial youtube yang terindikasi mengandung provokatif dari (1) Ribka Tjiptating, (2) Panji Pragiwaksono, (3) Natalius Pigai, (4) Habib Rizieq Shihab, dan (5) Adi Sucipto, sedangkan sumber data yaitu media sosial youtube. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 5 sampel dengan menggunakan sampel total (total sampling).

Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dan teknik

(2)

dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara (1) mengidentifikasi, (2) mengklsifikasi, dan (3) menganalisis.

Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis tindak tutur provokatif pada media sosial youtube ditemukan 3 jenis tindak tutur langsung literal, terdapat 2 tuturan yang merupakan tindak tutur langsung tidak literal, dan terdapat 1 tuturan yang merupakan tindak tutur tidak langsung literal. Analisis bentuk tindak tutur provokatif pada media sosial youtube ditemukan tindak tutur lokusi yang terdir dari lokusi berita, lokusi perintah (larangan dan ajakan), lokosi tanya. Ditemukan ilokusi berupa ilokusi asertif sebanyak 17 tuturan, direktif sebanyak 10 tuturan, komisif sebanyak 4 tuturan, ekspresif sebanyak 6 tuturan dan deklaratif sebanyak 3 tuturan. Perlokusi pada penelitian ini berbentuk perlokusi bring hearer to learn that (membuat lawan tutur tahu) sebanyak 2 tuturan, encourage (mengajak) sebanyak 2 tuturan, dan get hearer to think about (membuat lawan tutur berpikir tentang) sebanyak 1 tuturan. Tuturan dianggap sebagai bentuk provokatif/penghasutan yang dapat menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/ atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan atar golongan (SARA) yang melakukan perbuatan melawan hukum dengan cara menyebarkan informasi yang dapat memprovokasi/menghasut.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ahlan. 2018. “Analisis Wacana Kritis dalam Sidang Kasus Penistaan Agama”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP PGRI Bangkalan, Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. STKIP PGRI Bangkalan, 2018. Berita dipandang sebagai realita yang disampaikan tanpa ada unsur opini dalam pembuatannya. Sedangkan konstruktivisme memandang berita adalah hasil dari konstruksi sosial pekerja-pekerja media. Berita di media pada dasarnya adalah realita-realita yang disusun hingga membentuk sebuah cerita atau wacana yang bermakna. Sebagai Media Online, Youtube menjadi media yang memberitakan kasus dugaan penistaan agama yang ditujukan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Skripsi ini menganalisis Wacana Pemberitaan Kasus Sidang Penistaan Agama menggunakan wacana kritis model A Van Dijk yang tujuannya untuk melihat Youtube dalam mewacanakan pemberitaan dugaan penistaan agama yang disampaikan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik Transkrip dan Catat. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah deskriptif dengan teknik analisis data yaitu teknik analisis isi. Sumber data penelitian ini adalah Media Online Youtube. Data dalam penelitian ini adalah berupa Rekaman Video dan Ditranskrip Menjadi Teks yaitu yang mencakup Ideologi, Konteks, dan Tindakan yang

(3)

menghadirkan wacana Kasus Penistaan Agama. Berdasarkan hasil analisis wacana kritis secara menyeluruh mengenai Ideologi, Konteks, dan Tindakan dalam Rekaman Video Sidang Kasus Penistaan Agama tampak begitu kuat kebenaran tersebut, meskipun dalam hal ini Ideologi, Konteks, dan Tindakan masih diselipkan secara terperinci agar tidak mudah dipahami oleh pembaca. Disimpulkan baha Ideologi, Konteks, dan Tindakan dalam Remakam Video Sidang Kasus Penistaan Agama menunjukkan watak-watak manusia sekarang yang sudah lentur, dari berbagai bidang entah dalam perilaku, sifat, pemahaman, dan moral terutama dalam dunia politik. dan Tindakan yang menghadirkan wacana Kasus Penistaan Agama.

Jahara. 2022. “Penerapan Statement Analysis terhadap Percakapan Sidang Kasus Pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar (Kajian Linguistik Forensik),” dibimbing oleh Munirah dan Andi Sukri Syamsuri. Penelitian bertujuan untuk; (1) melakukan kajian linguistik forensik melalui penerapan statement analysis terhadap Percakapan Sidang Kasus Pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar; dan (2) mengetahui apa saja kontribusi linguistik forensik penerapan statement analysis terhadap Percakapan Sidang Kasus Pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kajian linguistik forensik menerapkan statement analysis terhadap Percakapan Sidang Kasus Pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar.

Data penelitian ini adalah percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar dan sumber data adalah hasil rekaman percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar.

Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu; teknik rekam, teknik simak, dan teknik catat. Analisis data kualitatif bersifat induktif yakni suatu analisis yang berdasarkan pada data yang diperoleh. Pengujian keabsahan data penelitian dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, ketekunan, dan diskusi dengan teman sejawat.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa; (1) hasil analisis dalam penerapan statement analysis dalam forensik bahasa percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar menemukakan tujuh pola kriteria analisis statemen, yaitu; (a) penggunaan frase syarat tindakan; (b) penggunaan frase makna khusus; (c) pembangun persepsi; (d) eufemisme kata kerja; (e) penggunaan kata ganti nama; (f) berlebihan Kata “saya”; dan (g) pola rentang waktu; dan (2) hasil analisis penerapan statement analisys dalam forensik bahasa percakapan sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makassar dapat memberikan kontribusi penting berupa hasil forensik dapat menjadi alat konfirmasi keterangan faktual dan dapat dijadikan sebagai alat legitimasi peristiwa pidana. Dua bentuk kontribusi ini dapat menjadi usulan akademis bagi hakim untuk melakukan penegakan hukum secara adil dan bijaksana.

(4)

Tujuan dari penelitian yang berjudul “Analisis Wacana Kritis pada Pemberitaan kumparan.com dan ArrahmahNews.com tentang Penolakan Pengajian Khalid Basalamah di Sidoarjo, Jawa Timur,” yakni: Pertama, menganalisis teori Wacana Kritis pada pemberitaan kasus penolakan pengajian Khalid Basalamah di Sidoarjo, Jawa Timur pada media online kumparan.com dan ArrahmahNews.com. Kedua, menganalisa unsur-unsur analisis struktur teks, analisis kognisi sosial, dan analisis sosial pada pemberitaan kasus penolakan pengajian Khalid Basalamah di Sidoarjo, Jawa Timur pada media online kumparan.com dan ArrahmahNews.com.

Jenis penelitian yang digunakan dalam tesis ini ada 2, yaitu penelitian kepustakaan (library research), dan penelitian lapangan (field research).

Sedangkan teori yang digunakan dalam tesis ini, yaitu teori analisis wacana kritis model Teun A. Van Dijk.

Hasil dari penelitian ini, menunjukkan bahwa dalam menganalisis berita di kumparan.com dan ArrahmahNews.com tentang penolakan pengajian Khalid Bassalamah di Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam pandangan analisis wacana kritis model Van Dijk, terbagi kedalam tiga unsur, yaitu:

pertama, analisis struktur teks (konteks), dalam struktur teks ini terdapat perbedaan makna judul berita yang diangkat oleh kumparan.com dan ArrahmahNews.com. Kedua, analisis kognisi sosial, yang mana skema yang berperan dalam pemberitaan di kumparan.com ialah skema peristiwa, sedangkan skema yang berperan dalam pemberitaan di ArrahmahNews.com adalah skema peristiwa dan skema person. Ketiga, analisis konteks sosial ialah pada analisis ini terbagi lagi ke dalam dua unsur yaitu praktik kekuasaan dan akses memengaruhi wacana.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini hanya ditemukan 3 jenis modalitas dalam tindak tutur ilokusi representatif, sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menemukan data

Hasil penelitian diperoleh bahwa tindak tutur yang ditemukan dalam upacara perkawinan masyarakat Batak Toba terdapat tiga belas jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur

Terdapat penggunaan tindak tutur dalam penelitian ini yaitu penggunaan bentuk tindak tutur konstatif, performatif, lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam novel Mahkota

Berdasarkan hasil studi pustaka dan menemukan literatur-literatur terdahulu seperti sudah diuraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian mengenai RAM forensik

Selanjutnya penelitian menurut (Hisan, K., et.al. 2020) yang menyatakan bahwa pada Graha Yatim dan Dhuafa (GRAY) dengan dibuatnya sistem akuntansi penerimaan

Di dalam penelitian ini ditemukan 180 tuturan yang termasuk ke dalam jenis tindak tutur asertif dan merupakan jenis tindak tutur terbanyak dari tuturan Tinker Bell!. Jenis tindak

SIMPULAN Merujuk pada hasil penelitian, tindak kejahatan yang dinalisis dengan kajian linguistik forensik juga dapat dilakukan dengan objek karya sastra, khususnya dalam hal ini

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setidaknya ada 6 kasus tindak pidana yang terkait dengan linguistik forensik: 1 penghinaan atau pencemaran nama baik, 2 fitnah, 3 ujaran kebencian