RESUME BUKU
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Syamsuri SA, M.Pd Dr. Rasto, M.Pd
Disusun oleh
MUHAMMAD FIKAR RAVSANJANI 2208521
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
2022
BAB 8
INTEGRASI PENGALAMAN MANUSIA
Pengalaman manusia baik itu pengalaman indriawi dan non-indriawi, intelektual, serta spiritual memiliki dua sisi: objektif dan subjektif. Setiap pengamatan indriawi yang kita lakukan tidak lepas dari unsur subjektivitas sang subjek. Maka dari itu, tidak bisa dikatakan bahwapengalaman indriawi selalu tentang objektif. Dunia yang ada saat ini memang objektif tetapi dunia yang objektif tersebut dialami manusia secara subjektif.
Pengalaman non indriawi pun memiliki sifat subjektif dan objektif, seperti pengalaman intelektual, spiritual dan mistik. Seperti contoh setiap orang pernah mengalami mimpi, sehingga mimpi yang masuk merupakan pengalaman manusia. Tetapi mimpi ini masuk kepada pengalaman non-indriawi. Penulis memiliki persepsi bahwasaannya mimpi yang sama tidak dapat dikatakan objektif dikarenakan mimpi terjadi hanya sendirian saja, tidak mungkin kita mengajak orang lain, teman, sahabat, saudara bahkan keluarga sendiri untuk berada dalam mimpi kita. Mimpi dapat dibuktikan secara objektif ketika kita mimpi kembali ke masa muda atau kecilnya.
Jika mimpi merupakan pengalaman secara subjektif tidak berarti bahwa dunia dalam mimpi juga berupa subjektif. Dunia mimpi memiliki pengalaman objektif dikarenakan hamper sama seperti dunia fisik dan dialami secara sama oleh setiap pemimpi. Para ahli berpendapat mimpi manusia berasal dari imajinasi. Dalam dunia imajinasi pesan atau informasi yang muncul tidak lengkap apa adanya, melainkan disampaikan secara representasi imajinal dan karenanya bersifat simbolis. Dalam klasifikasi ilmu Islam, seperti yang digambarkan oleh Ibn Khaldun, tafsir mimpi termaksud salah satu cabang ilmu naqliyyah dan dipandang sah sebagai pengalaman manusia. Al-Qur’an sendiri pun banyak menceritakan tentang mimpi dan penafsirannya. Ibn Khaldun membagi mimpi kepada dua macam, mimpi yang sejati (shadiq) dan mimpi yang hanya merupakan “kembang tidur”
dan bersumber semata-mata dari daya imajinasi manusia. Mimpi sejati merupakan pesan dari alam ruhani, baik langsung dari Tuhan ataupun melalui malaikat-malaikatnya. Adapun peranan mimpi sebagai sumber ilmu dapat disimpulkan dari sabda Nabi yang mengatakan bahwa “ mimpi adalah seperempatpuluh dari pewahyuan”. Artinya ialah kadang-kadang wahyu dapat diturunkan dalam bentuk mimpi.
Menurut kaum empiris, nalar (akal) tidak valid sebagai sumber ilmu karena sifatnya apriori, sedangkan pengalaman indriawi bersifat aposteriori, yakni berdasarkan pengalaman langsnung. Sebagai pengetahuan yang apriori pengenalan akal bersifat general, bukan particular. Dengan demikian akal tidak bisa dijadikan sumber ilmu dan
pengalaman intelektual tidak bisa dijadikanpegangan karena tidak bersifat empiris seperti halnya pengalaman indriawi.
Pengalaman intelektual menjangkau lebih luas hingga pada hal-hal yang jauh tak terbatas. Imam al-Ghazali dalam karyanya Misykat Al-Anwar, ketika berbicara tentang kelebihan akal dibandingkan indra, bahwa akal mampu melihat yang lain, dan juga dirinya tetapi berbeda dengan mata, dia bisa melihat yang lain tetapi tidak bisa melihat dirinya sendiri. Objek-objek non-indriawi dapat menembus akal sehingga akal manusia dapat
“melihat” dalam arti memahami arti dari malaikat, Tuhan dan ma’qulat lainnya. Sehingga Imam al-Ghazali berpendapat bahwa akal merupakan cahaya karena kemampuannya yang dapat melebihi batas dari pada pengalaman indriawi.
Pengalaman mistik pun memiliki dimensi secara objektif tidak sebatas pada subjektif saja. Sertiap dari manusia memiliki potensi untuk mengalami hal-hal mistik. Ibn ‘Arabi mengatakan “ siapapun yang masuk kea lam mitsal dalam perjalanan mistik mereka akan dikaruniai kemampuan untuk bisa mengerti semua Bahasa yang dipakai disana shingga dengan kemampuan yang sama ia akan bisa berkomunikasi dengan segala sesuatu yang dijumpainya. Dengan pernyataan ini terdapat universal kalimat dan objektif dari pada pengalaman mistik. Memang untuk pengalaman ini masih banyak keraguan karena tidak semua orang mengalami hal-hal mistik, tetapi mereka baru bisa merasakan ketika mereka mengalami dengan dirinya sendiri untuk menciptakan rasa percaya tadi. Pengalaman religious, merupakan termasuk pengalaman mistik menurut penulis buku ini. James mengatakan bahwa pengalaman religious dapat dikatakn sebagai the onderliness dan uniformity, yang tidak mungkin terjadi kecuali bahwa dunia yang mereka alami yaitu dunia mistik adalah riil dan objektif.
Akal sebenernya hanya mengenal kulit luar saja dari realitas-realitas nonfisik tersebut dan untuk menyelaminya kita membutuhkan pengalaman non-indriawi dan supraintelek yang kita sebut mistik. Bergson mengatakan, pengalaman akal hanya berputar-putar di sekitar objek, intuisi dapat menembus hingga jantung realitas. Oleh karena itu, pengalaman mistik, termasuk kenabian sebagai puncaknya, tidak bisa dilepaskan tanpa menimbulkan distorsi yang sangat serius terhadap gambar realitas yang utuh dan organic. Akal hanya bisa menyebut nama, Rumi berpendapat “Cari yang unya nama”. Dan pada hakikatnya kita tidak hanya membutuhkan pengalaman indriawi tetapi juga pengalaman ingtelektual dan intuitif.
BAB 9
Integrasi Metode Ilmiah
Dalam bab ini akan membahas alat-alat terperinci untuk mendapatkan sumber-sumber ilmu yang telah di bahas pada bab-bab sebelumnya. Dimulai dari pengamatan secara indriawi, dengan pengamatan ini tentu kita bisa melihat dan merasakan objek-objek yang ada, seperti panas;dingin, lembut atau kasar, sehingga untuk mengetahui apa saja yang ditangkap oleh indra ini terbagi dalam lima dimensi: bentuk, bau, raba, dan rasanya. Dari objek-objek tersebut kita bisa mengetahui manfaat dan resikonya dari terhadp ilmu yang kita peroleh. Ibnu Sina menyebut hal ini dengan istilah daya estimative atau wahm.
Untuk tujuan penelitian yang dilakukan tentu jika hanya menggunakan panca indra aka nada kekeliruan karna ada beberapa aspek yang harus lebih detail dan sangat lengkap.
Apalagi pengamatan mata yang sering kita digunakan terkadang masih ada kekeliruan, menurut Ibnu Haitsam terdapat beberapa factor kekeliruan pada mata yang sering terjadi, diantaranya:
1. Jarak yang terlalu jauh.
2. Ukuran yang terlalu kecil.
3. Pencahayaan yang terlalu terang.
4. Pencahayaan yang terlalu redup.
5. Terlalu lama memandang.
6. Kondisi mata yang tidak sehat.
7. Transparansi.
Adapun beberapa langkah yang dapat menyempurnakan pengamatan indriawi diantaranya:
1. Pengukuran 2. Observatorium 3. Eksperimen
Mari kita bahas secara singkat satu per satu dari poin diatas, yang pertama ialah pengukuran. Cara ini merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk menentukan ukuran yang lebih tepat dan akurat tentang sebuah jarak dari pada yang bisa di serap oleh mata, hingga akhirnya dari pengukuran ini kita akan mengenal istilah surveying untuk mengetahui ukuran yang akan kita hitung ata teliti.
Yang kedua memasuki tahapan indriawi ataupun observasi yang sering kita dengar.
Observasi sendiri menggunakan alat bantu seperti observatorium, teleskop, kaca pembesar, mikroskop dan elektroskop. Dan diharapkan dikemudian hari penelitian yang dilakukan mengalami kesempurnaan yang berarti.
Langkah selanjutnya adalah eksperimen, mencakupi hal hal yang sulit dijangkau oleh pandangan indriawi. Eksperimen juga dipakai untuk mengukur sesuatu yang tidak dapat di perkirakan hanya dengan pengamatan indriawi. Sudah banyak filosof-filosof muslim yang melakukan eksperimen, seperti Ibn Haitsam, Al-Biruni, dan Abu Bakar Al-Razi.
Sehebat apapun alat indriawi yang kita punya, tetap saja pengamatan yang kita miliki sulit untuk menebus hal-hal yang non fisik. Terdapat dua cara untuk kita bisa meneliti atau melalukan penelitian yang ter integrase, yaitu: secara intelektual melalui penyelidikan akal dan kedua secara intuitif melalui pengalaman mistik.
Penyelidikan akal, memiliki tingkatan akurasi yang berbeda-beda sesuai dengan hasil latihan yang dilakukan oleh orang-orang. Cara-cara rasional harus melalui cara-cara tertentu untuk bisa sampai kepada kesimpulan yang benar dan pasti. Terdapat beberapa tingkat metode rasional, metode syi’ri (puitis), khithabi (retorik), mughalithi (sofistik), jadali (dialektik), dan puncaknya adalah burhani (demonstrtatif). Logika mengajari kita dengan ketat dan hati-hati tentang metode berpikir yang benar dan sistematis sehingga pemahaman kita terhadap objek-objek ma’qulat tida keliru. Untuk bisa menangkap inti atau makna entitas-entitas abstrak tersebut, diperlukan metode lain yang bersifat non- indriawi dan supra-rasional, yang mereka sebut irfani.
Metode irfani cenderung menggunakan intuisi, ciri khas nya adalah kelangsungannya dalam artian pengenalan terhadap objek. Dalam perkembangannya modus pengenalan seperti ini telah menghasilkan apa yang kemudian kita kenal sebagai ilmu hudhuri atau presential knowledge dikatakan seperti ini karena objek yang di teliti hadir dalam jiwa seseorang. Sedangkan modus yang lainnya disebut ilmu hushuli atau ilmu perolehan karena objeknya yang di teliti tidak hadir dalam seseorang.
Metode bayani, menggunakan metode-metode lain yang dikenal dengan tafsir, ta’wil, tashrif, tafri’, jam’, dan tafriq. Hanya dengan menggunakan metode-metode inilah kita bisa berharap bahwa seluruh rangkaian objek yang merentang dari objek-objek fisik sampai objek-objek metafisik dapat kita ketahui dengan cermat dan baik.
BAB 10
INTEGRASI PENJELASAN ILMIAH
Penjelasan ilmiah untuk memenuhi empat prinsip penjelasan: (1) sebab efesien, (2) sebab final, (3) sebab materil, dan (4) sebab formal. Pada masa sekarang sudah banyak sebab-sebab yang telah disingkirkan dengan berbagai macam alesan hingga akhirnya untuk saat ini hanya sebab efesien yang masih di pertahankan, yanhg dipandang sebabagai sebab terjadinya gerak atau perubahan.
Sebab efesien dipahami sebagai sebab penggerak yang berasal dari dirinya sendiri.
Kelemahan dari sebab efesien ini adalah banyaknya penjelasan ilmiah yang akan bersifat timpang dan distortif, dengan membiarkan celah-celah yang lebar tak tersentuh. Oleh karenanya, untuk dapat membangun keilmuan yang komprehensif dan integral keempat prinsip penjelasan ata sebab harus dipergunakan kembali secara seutuhnya.
Sebab efesien menurut Aristoteles adalah sebagai sebab lewat mana suatu perubahan dibuat. Sebab final dipahami sebagai tujuan untuk apa sebuah perubahan di hasilkan.
Sebab materil adalah sebab ketika sebuah perubahan dibuat da terakhir sebab formal sebab kemana sesuatu itu di ubah. Menurut ajaran sebab imanen, sebab dari gerak alam tidak perlu di cari diluar dirinya, tetapi cukup di dalam dirinya sendiri. Dengan demikian dapat dipahami ketika beberapa ilmuwan modern menganggap ala mini sebagai otonom, dank arena itu tidak memerlukan pencipta atau sebab di luar dirinya. Alam pun kemudian dikonsepsikan sebagai sesuatu yang dapat menciptakan dirinya tanpa campur tangan sebuah agen eksternal. Dengan demikian, tidak terdapat suatu tempat bagi peran Tuhan di atas bumi, bahkan Tuhan sendiri sering disingkirkan hanya sebagai hipotesis yang tidak di perlukan atau ilusi.
Dengan demikian, menjadi jelas betapa perlunya kita bukan hanya untuk mengembalikan penjelasan ilmiah kepada empat sebab Aristotelian, melainkan juga untuk memahami keempat sebab tersebut sebagaimana dipahami oleh para pemikir Muslim, bukan sebagaimana dipahami oleh pemikir ilmiah modern. Dalam Islam keempat prinsip penjelasan ilmiah ini selalu mendapat perhatian yang serius. Adapun alesan penting lainnya untuk mengembalikan keempat prinsip tadi adalah karena tanpa keempat prinsip tersebut penjelasan tentang sebuah objek yang di teliti tidak akan komprehensif dan
komplit. Sains modern telah banyak menderita akibat pembatasan penjelasan ilmiah mereka hanya pada sebab efesien dan kini banyak ilmuwan Barat yang mulai merasakan kekurangan ini sehingga mencoba melengkapinya dengan menggunakan tradisi Timur.
Tuhan adalah sebab efesien bagi alam semesta karena Dial ah yang telah mewujudkan dalam arti melakukan perubahan dari potensi ke aktualitas alam semesta. Akal juga dapat disebut sebagai sebab efesien (pada level yang rendah) bagi benda-benda yang ada di dunia bawah bulan (bumi). Sebab efesien bisa di terapkan pada objek apa saja misalnya alam semesta, budaya objek-objek fisik, gravitasi, elektromagnetik, gelombang nuklir buatan dan gelombang nuklir lemah.
Aristoteles menyebut sebab final tujuan yang untuk mencapainya sesuatu dilakukan.
Menurut al-Kindi sebab final adalah sebab yang untuknya sesuatu ada atau dengan kata lain tujuan untuk apa sesuatu itu ada. Dalam epistimologi Islam kita dapat menemukan jawaban mengapa alam semesta ini diciptakan. Pertama, alam diciptakan dengan tujuan tertentu. Kedua, alam diciptakan tak lain sebagai tanda (ayat) Allah, yang menunjukkan bukan hanya keberadaan-Nya melainkan juga kebesaran, kebijaksanaan, kasih saying dan segala sifat Allah yang lainnya.
Alam semesta juga diciptakan untuk menciptakan manusia yang diciptakan secara mulia seperti Nabi Muhammad SAW . dalam wacana kosmologi kontemporer tujuan penciptaan ala mini ialah di hasilkannya kehidupan dengan puncaknya adalah manusia.
Menurut prinsip ini, alam mengikuti alur khusus perkembangannya yang “ di tala dengan halus” sehingga dapat menghasilkan alam yang begitu indah.
Sebab materiil dan formal al-Kindi menjelaskan sebagai sebab dari mana sesuatu itu datang atau kata Aristoteles mengatakan sebab di mana sebuah perubahan terjadi. Sebab materiil harus ada pada setiap objek yang kita teliti, tetapi ketika materi ini belum mendapat bentuk, maka ia belum bia mewujud seperti yang kita lihat pada objek-objek yang ada di sekitar kita. Sebab materiil dari alam semesta ini adalah apa yang disebut Aristoteles sebagai “materi utama”, yaitu dalam arti potensi untuk ada. Itulah menurut Ibn Sina menyebut alam semesta pada dirinya sebagai mumkin al-wujud, yaitu wujud potensial yang untuk mengaktual perlu agen yang actual. Inilah yang disebut dengan wajib al-wujud, wujud ini niscaya dalam arti wujud yang senantiasa actual. Dan hasil iinilah yang disebut dengan sebab efesien alam semesta, yang mampu mengubah potensi alam menjadi aktualitas. Yaitu wejudkan alam semesta dari tiada yakni dari potensinya.
Sebab formal sebuah objek memperoleh sifat-sifat yang khas yang membedakannya dengan yang lain. Arti penting sebab formal ini adalah dapat dilihat dari keyakinan para filosof bahwa tanpa bentuk, maka materi alam tetap akan menjadi potensi dan hanya dengan bergabungnya bentuk dengan materi maka sesuatu itu baru akan mewujud atau mengaktual, seperti yang bisa kita kenal sekarang. Sehingga dari rangkuman di atas sudah sangat jelas betapa keempat sebab ini merupakan satu kesatuan tunggal dari penjelasan ilmiah yang tidak akan sempurna kalua kita meninggalkan atau hanya mengambil salah satunya. Hanya dengan menjelaskan keempat sebab bagi sebuah objek yang sedang kita teliti maka kita akan memperoleh pengetahuan yang holistic dan komprehensif tentangnya.
BAB 11
INTEGRASI ILMU TEORITIS DAN PRAKTIS
Tujuan utama menuntut ilmu adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Karena menuntut ilmu memang lah sangat penting, karena ibarat pelita, ilmu bisa menerangi jalan hidup manusia. Ada pepatah Bahasa Arab yang mengatakan “barang siapa yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan di tolak, tidak di terima”. Hingga akhirnya muncul lah sebuah pertanyaan mana yang lebih peting antara amal dan ilmu? Menurut Muhammad Iqbal Islam lebih mengutamakan amal dari pada ide. Tetapi menurut penulis buku ini teoritis maupun praktis merupakan kedua hal yang sangat penting.
Perbedaan fundamental antara ilmu-ilmu teoritis dan praktis dari sudut objeknya adalah bahwa objek-objek ilmu teoritis berupa benda/etintas ( fisik/non fisik), sedangkan objek- objek ilmu praktis adalah adalah tindakan volunteer (bebas) manusia. Dari sudut tugasnya, akal teoritis adalah mendirikan bangunan ilmiah ilmu yang komprehensif. Sedangkan tugas utama akal praktis adalah mengelola nafsu-nafsu manusia sehingga akal praktis disebut oleh mereka sebagai mudabbir, manajer.
Menurut para filosof Muslim ilmu-ilmu praktis secara garis besarnya dibagi kedalam tiga ilmu yaitu etika, ekonomi dan politik. Sebelum membahas lebih jauh perlu kita ketahui Islam datang dengan sebuah pandangan hidup yang lengkap, karena itu syariat sebagai pengejawantahan pandangan hidup Muslim juga meliputi hamper seluruh aspek praktis kehidupan manusia. Syari’at dalam Islam mengatur segala seluruh kehidupan manusia seperti adab berpakaian, adab membac al-Qur’n, adab masuk kamar kecil, adab
berhubungan badan, adab menuntut ilmu, adab menulis, adab menyusun buku dalam rak, dan juga adab berusaha. Syari’at Islam telah dengan lebih baik dan sempurna memenuhi kebutuhan praktis umat Islamdibandingkan dengan filsafat, sedangkan situasi di bidang teoritis adalah sebaliknya sehingga dia mengabdikan dirinya untuk menggarap ilmu-ilmu teoritisnya.
Banyak filosof muslim yang telah mengembangkan keilmuannya sesuai dengan ilmu prakits. Seperti Miskawaih dalam bidang etika, al-Amiri yang membahas tentang soal kebahagiaan dan bagaimana cara mendapatkannya, Nashir al-Din Thusi tentang etika politik, Al-Kindi yang membahas tentang kesedihan dan bagaimana cara menyembuhkannya, Al-Razi yang membahas tentang kedokteran ruhani,. Sehingga para filosof Muslim berpendapat etika merupakan seni menunjukkan bagaimana seharusnya hidup. Bahkan bukan sekedar hidup, melainkan hidup bahagia.
Ekonomi yang dimaksud oleh para filosof Muslim adlah “manajemen rumah tangga”.
Karya dari pada filosof Muslim adalah seperti Nashir Al-Din Thusi. Kemudian dikembangkan oleh Jalal Al-Din Al-Dawani yang membahas pengaturan keuangan belanja, peranan uang dalam kehidupan ekonomi masyarakat, hingga akhirnya Nashir Al- Din Thusi membagi kajian ekonomi dalam enam bagian besar: (1) tentang persiapan dan akumulasi makanan yang membutuhkan pembantu, anak-anak, dan para pembantu sebagai komponen-komponen rumah tangga, termasuk rumah itu sendiri dan bagaimana mengaturnya. (2) macam-macam simpanan uang penghasilan dari tiga sumbernya, pertanian, dagang, dan profesi serta bagaimana mengatur penjualan/belanja rumah tangga.
(3) berkenaan dengan kepala keluarga cara memilih istri, pengelolaannya, tidak mungkinnya mempertahankan poligami, perilaku istri, percerian dll. (4) menyusui anak, memberi mereka nama, melatih mereka, mencarikan guru, memilih profesi, pendidikan anak perempuan, sopan santun percakapan, gerak dan soal makan. (5) hak-hak orangtua, bagaimana bisa di bubarkan, sahabat-sahabat orangtua dan (6) memilih pembantu, mengurus, memperkerjakan dan memberhentikan mereka.
Ilmu politik kemudian juga menjadi pembahasan selanjutnya. Al-Farabi membagi negara kepada dua bagian yaiut negara utama, adalah negara yang dipimpin oleh seorang nabi, tapi setelah nabi wafat orang yang paling tepat menggantikannya adalah orang yang bijak. Adapun tentang jenis-jenis negara sesuai pembahasan selanjutnya dibagi lagi kedalam dua bagian negara yang utama (baik) dan negara yang tidak baik. Negara ini di
bagi lagi kedalam 3 bagian yaitu negara yang bodoh, negara yang keji, dan negara yang heretic. Menurut al-Farabi negara yang baik adalah dipimpin orang yang pandai dan bijak tidak yang diragukan tingkat keilmuan dan kebijaksanaannya.
Kaitannya antara ilmu teoritis dan praktis adalah kenyataan bahwa pertimbangan- pertimbangan dan penilaian tentang keutamaan manusia di bidang moral individu, urusan domestic dan politik selalu mempunyai akar atau basis filosofis yang seperti itu adalah kenyataan bahwa manusia adalah makluk khas yang dibedakan dengan makhluk hidup lainnya karena akal. Dalam ilmu akhlak atau etika dikatakan bahwa kesempurnaan manusia terletak pada akalnya atau rasionalitasnya, bukan pada fisik dan lainnya. Karena dengan akal ini lah manusia dapat menjadi manusia utama yang unggul dan dapat melebihi kemampuannya ketika berhasil memaksimalkan potensinya.
Adapun di bidang manajemen rumah tangga, akal adalah prinsip utama atau kesempurnaan yang bisa membawa kebahagiaan, bisa tercermin dari kriteria yang harus dimiliki bagi seorang istri atau calon istri. Seperti mencari calon istri yang baik akalnya kemudian kehormatan, kesucian, kebaikan, kesederhanaan, kelembutan hati, akhlak dan ketaatan pada suami. Hal ini juga sama halnya dengan politik, karena negara dikatakan baik atau buruk kembali lagi kepada kepimpinan dari negara tersebut dan kebijaksanaan rakyatnya. Oleh karena itu filosof Muslim mengatakan negara yang bodoh ketika koalisi yang muncul dikendalikan oleh sesuatu yang lain selain akal seperti nafsu. Sedangkan negara jahat negara yang menggunakan akal tetapi daya akalnya tunduk pada daya-daya non rasional.
BAB 12
PSIKOLOGI: SEBUAH STUDI KASUS
Terdapat tiga sudut terperinci tentang hal yang membahas masalah psikologi: pertama, keududukan psikologi dalam keseluruhan klasifikasi-klasifikasi ilmu rasional Islam ;
kedua, berkaitan dengan immaterialitas jiwa manusia dan psikologi dalam konteks metafisik atau kosmik. Ibn Sina mengkategorikan psikologi kedalam ilmu-ilmu kealaman fisika. Alasannya adalah bahwa sekalipun jiwa manusia pada dirinya bersifat immaterial, selama pada diri manusia atau selama karier duniawinya, ia termasuk kajian fisika. Seperti dalam pandangan sains modern untuk melihat jiwa manusia dan konteks fisika.
Psikologi modern cenderung melihat manusia atau jiwa hanya sebatas dari konteks fisik saja. Jiwa manusia yang bersifat immaterial membuat Ibn Sina berpandangan bahwa bisa menjadi metafisik jua, karena jiwa manusia merupakan pancaran langsung dari akal samawi yang disebut akal aktif. Dalam tradisi filosof muslim psikologi dipandang pada bagian ilmu filosofis, yaitu fisika atau filsafat alam. Posisi psikologi berada pada dua sisi disiplin ilmu, yaitu fisika dimana jiwa manusia merupakan puncak perkembangan biologis dan yang kedua dalah metafisika, dimana jiwa manusia dipandang sebagai pancaran terendah dari akal-akal samawi yang bersifat immaterial.
Dalam dunia barat psikologi tidak lagi dipandang sebagai substansi immaterial, tetapi direduksi pada dimensi fisiknya yang bisa diamati. Behaviorisme adalah hasil atau penjelmaan yang ideal dari paradigm positivistic tentang psikologi. Dalam hal ini jiwa di pandang sebagai tidak lebih dari fungsi neurologis otak yang mengatur tindakan atau tingkah laku manusia sebagai respon terhadap stimulus yang datang dari luar. Dalam tradisi keilmuan psikologi Barat, cenderung di reduksi ke dalam biologi, dimana reaksi- reaksi neurologis manusia dipandang tidak berbeda dengan hewan.
Isu kedua akan membahas jiwa dalam immaterialitas. Jiwa telah lama dipandang sebagai substansi immaterial baik di barat maupun di timur. Perbedaannya adalah jika di Barat jiwa adalah sebagai substansi immaterial sudah lama ditinggalkan. Jiwa yang sering disebutkan sekarang merupakan identifikasi dari sebagai pikiran yang kemudian di reduksi menjadi kesadaran dan tidak jarang kesadaran ini disebut sebagai abstrak. Jiwa atau akal telah identic dengan otak sebagai organ tubuh.
Para pemikir Muslim dirasa perlu untuk menyusun kembali psikologi yang cocok dengan pandangan keagamaan sehingga sebagian besar mereka berusaha menunjukkan dengan argument-argumen rasional, immaterialitas, atau sifat ruhani dari jiwa ini. Menurut Miskawaih manusia mampu menerima berbagai bentuk dalam bentuk ratusan bahkan ribuan konsep abstrak tanpa mengubah atau merusak bentuk aslinya. Oleh karena itu, Miskawaih menyimpulkan bahwa manusia bukankah makhluk fisik belaka. Unsur
immaterial inilah yang disebut jiwa yang tidak akan hancur setelah hancurnya unsur badaniah manusia karena adanya substansi nonfisik yang memungkinkan untuk menerima berbagai macam bentuk tanpa mengubah atau menghancurkan bentuk dasarnya.
Al-Amiri memiliki argumennya tersendiri tentang jiwa, dia mengatakan “dalam kegiatan psikologis telah dibuktikan bahwa fakultas rasional manusia mampu, setelah di bantu oleh daya imajinasinya. Memikirkan sesuatu yang sama sekali abstrak, yakni konsep yang tidak punya kaitan apapun dengan entitas-entitas fisik, seperti tentang esensi, kesan dan lain-lain.” Sehingga disimpulkan akal manusia mampu memikirkan objek-objek yang immaterial dank arena yang immaterial juga maka akal manusia haruslah bersifat immaterial..
Meskipun banyak argument yang membahas tentang jiwa, satu hal yang pasti bahwa mereka yakin akan sifat immaterial jiwa manusia yang tentu saja punya implikasi penting terhadap kepercayaan kita akan kelangsungan hidup jiwa manusia setelah kematian.
Manusia didalam dirinya banyak mengandung jiwa, seperti jiwa tumbuhan, jiwa hayawani, dan jiwa manusia itu sendiri yang khas. Layaknya tumbuhan manusia juga memiliki daya atau fakultas nutritive,yaitu kemampuan mengkonsumsi makanan dan minuman untuk memnuhi nutrisi tubuh ; yang kedua adalah daya tumbuh (growth) yang merupakan konskuensi logis dari masuknya makanan dan minuman yang telah dikonsumsi serta di olah oleh pencernaan manusia. Hingga pada akhirnya daya-daya nabati ini di pandang oleh filosof Muslim sebagai daya psikologis yang memiliki asal metafisiknya.
Manusia memiliki dua sifat hayawani di dalam dirinya, sensasi (pengindraan) dan gerak. Sensasi di bagi kedalam dua bagian: indra-indra lahir dan indra-indra batin. Indra lahir sendiri ada lima yang biasa di sebut pancaindra: (1) indra penglihatan (mata), (2) indra pendengaran (kuping), (3) indra penciuman (hidung), (4) indra peraba (kulit), (5) indra perasa (lidah). Adapun indra batin diantaranya memiliki: (1) indra bersama (al-hiss al-mustarak), (2) khayal (retentive faculty), (3) wahm (estimative faculty), (4) muthakayyilah, (5) al-Quwwah Al-Hafizha (memori).
Menurut Ibn Sina manusia memiliki dua macam penggerak: (1) gerak kearah objek yang bermanfaat, (2) gerak menghindari objek-objek yang berbahaya. Daya yang menggerakkan manusia kea rah objek yang bermanfaat di sebut dengan nafsu syahwat, sedangkan daya yang mendorong dari objek yang membuat bahaya disebut marah.
Kebebasan manusia dipandang harus riil dan esensial sehingga tanpanya, “cara berada”
manusia akan tidak ada bedanya dengan cara-cara benda. Ciri khas manusia adalah bahwa ia bisa bertindak bebas dalam arti memiliki kemampuan memilih. Kemampuan memilih inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk normal dalam arti bisa dicap baik atau buruk,
Psikologi dilihat dari konsep metafisik atau kosmik. Robert Frazer menyatakan bahwasannya di atas jiwa egoistic atau personal masih ada lagi jiwa humanistic, jiwa rahasia, dan rahasia dari segala rahasia. Manusia sering disebut mikrokosmik yang berpadanan dengan realitas-realitas makrokosmik.. psikologi dalam tradisi Filosofis Islam dapat dilihat dalam konteks yag lebih luas yaitu metafisik atau kosmik sehingga jiwa manusia pun dapat setelah kematiannya, meneruskan perjalanan hidupya untuk kembali kepada asalnya, Tuhan sang pencipta alam. Dengan demikian, selain dengan fisika, psikologi juga bisa dikaitkan dengan ilmu metafisika, seperti ontology, angelology, dan khususnya eskatologi yang membahas tentang nasib jiwa setelah perceraiannya dengan badan.