1. Biaya Modal
Biaya modal adalah tingkat pengembalian minimum yang harus diperoleh oleh perusahaan dari investasi atau proyeknya agar nilai perusahaan tidak menurun. Ini mencerminkan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh dana, baik dari hutang maupun ekuitas.
a) Biaya modal jangka pendek yang terdiri dari utang dagang,kredit bank b) Biaya modal jangka Panjang yang terdiri dari obligasi dan pinjaman jangka
Panjang
c) Biaya modal saham
The Weighted Average Cost of Capital (WACC)
WACC adalah rata-rata tertimbang dari semua sumber dana yang digunakan perusahaan.
Dengan tingkat pajak 40% maka WACC PT Jaya adalah : WACC = 0,25(15%)(0,6) + 0,15(10%) + 0,60(9%) = 9,15% Setiap tambahan satu rupiah pada modal PT Jaya, akan terdiri dari 25 sen obligasi dengan biaya setelah pajak 9%, 15 sen saham preferen dengan biaya 10%, dan 60 sen saham biasa dengan biaya 9%. Dan, biaya rata-rata dari setiap rupiah, atau WACC, adalah 9,15%.
2. Struktur modal
Struktur modal adalah perbandingan antara modal sendiri (ekuitas) dan utang yang digunakan perusahaan untuk membiayai aktivitas operasional dan investasinya.
Jenis jenis struktur modal
a) Struktur Modal Konservatif
Proporsi ekuitas sangat besar dibandingkan utang, Risiko finansial rendah.
b) Struktur modal Agresif
Proporsi utang lebih besar dibandingkan ekuitas , risiko finansial tingggi karena kewajiban membayar bunga.
c) Struktur modal moderat
Perbandingan antara utang dan ekuitas relative seimbang, risiko dan return dikendalikan secara proposional
Kebijakan Struktur Modal a. Kebijakan Pembiayaan Internal
Mengandalkan laba ditahan sebagai sumber dana.
Menghindari risiko utang.
b. Kebijakan Pembiayaan Eksternal
Mengandalkan utang atau penerbitan saham baru.
Digunakan bila perusahaan butuh dana besar dalam waktu singkat.
c. Kebijakan Trade-Off
Mencari keseimbangan antara manfaat utang (misalnya penghematan pajak) dan risiko kebangkrutan.
d. Kebijakan Pecking Order Theory
Urutan pembiayaan: (1) Laba ditahan, (2) Utang, (3) Ekuitas baru.
Berdasarkan asumsi bahwa manajemen ingin meminimalkan pengungkapan informasi eksternal.
3. Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen merupakan keputusan strategis yang mempertimbangkan kepentingan investor, kondisi keuangan perusahaan, dan tujuan jangka panjang
perusahaan. Tidak ada satu kebijakan yang ideal untuk semua perusahaan—yang terpenting adalah konsistensi dan transparansi.
Kebijakan ini penting karena memengaruhi:
Nilai perusahaan
Harga saham
Tingkat kepuasan investor
4. Sistem leasing
Leasing (sewa guna usaha) adalah suatu perjanjian antara pihak lessor (pemilik barang) dan lessee (pengguna barang), di mana lessor memberikan hak penggunaan atas suatu aset kepada lessee untuk jangka waktu tertentu dengan imbalan pembayaran berkala. Dalam leasing, hak kepemilikan tetap berada pada lessor, sedangkan hak penggunaan berada pada lessee selama masa kontrak.
Leasing adalah solusi pembiayaan yang efektif dan fleksibel, terutama bagi perusahaan yang ingin memperoleh aset tanpa membebani modal kerja
5. Merger dan Akuisisi
Merger adalah proses penggabungan dua atau lebih perusahaan menjadi satu entitas baru. Umumnya, perusahaan yang bergabung membentuk identitas baru atau satu perusahaan menyerap perusahaan lainnya
Akuisisi adalah proses pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas perusahaan lain, baik dengan membeli saham mayoritas maupun aset perusahaan target. Dalam akuisisi, perusahaan yang diakuisisi tetap ada secara hukum, tetapi dikendalikan oleh perusahaan pengakuisisi.
6. Analisis rasio keuangan Jenis-Jenis Rasio Keuangan:
a. Rasio Likuiditas
Menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Current Ratio = Aset Lancar / Kewajiban Lancar
Quick Ratio = (Aset Lancar – Persediaan) / Kewajiban Lancar b. Rasio Solvabilitas (Leverage)
Menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjang.
Debt to Equity Ratio (DER) = Total Utang / Total Ekuitas
Debt Ratio = Total Utang / Total Aset c. Rasio Profitabilitas
Menilai kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Net Profit Margin = Laba Bersih / Penjualan
Return on Assets (ROA) = Laba Bersih / Total Aset
Return on Equity (ROE) = Laba Bersih / Ekuitas d. Rasio Aktivitas (Efisiensi)
Menilai efisiensi penggunaan aset.
Perputaran Persediaan = HPP / Persediaan Rata-rata
Perputaran Piutang = Penjualan Kredit / Piutang Rata-rata
Perputaran Aset Tetap = Penjualan / Aset Tetap
Analisi Du Pont
Analisis Du Pont adalah metode untuk menganalisis ROE (Return on Equity) secara lebih mendalam dengan memecahnya menjadi beberapa komponen.
Rumus ROE cukup sederhana, yaitu: ROE = (Pendapatan Bersih / Total Ekuitas) x 100.
Analisis Radar
Analisis Radar adalah visualisasi kinerja keuangan dalam bentuk diagram berbentuk jaring/jari-jari untuk membandingkan berbagai rasio secara bersamaan.
Contoh Aspek yang Ditampilkan:
Likuiditas (Current Ratio)
Profitabilitas (ROE, Net Profit Margin)
Solvabilitas (DER)
Efisiensi (Perputaran Aset) Cara Membaca:
Semakin jauh titik dari pusat radar, semakin baik performa pada indikator tersebut.
Pola simetris dan besar menunjukkan kinerja yang seimbang dan baik.
Pola menyempit atau tidak rata menunjukkan kelemahan pada aspek tertentu.