• Tidak ada hasil yang ditemukan

BISNIS ALA RASULULLAH SHALALLHU ALAIHI WASALAM

N/A
N/A
Rahmat febriansyah

Academic year: 2025

Membagikan "BISNIS ALA RASULULLAH SHALALLHU ALAIHI WASALAM"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

1

“BISNIS ALA RASULULLAH SHALALLHU ALAIHI WASALAM”

TUGAS KELOMPOK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TEKNIK SIPIL

DISUSUN OLEH:

1. Khorinnisa T Dwitya (362310121) 2. Aji Saputra (362310077)

UNIVERSITAS PELITA BANGSA FAKULTAS TEKNIK

TEKNIK SIPIL

2025

(2)

2 KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang setia mengikuti petunjuk-Nya hingga akhir zaman.

Penelitian ini berjudul "Bisnis Ala Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam"

bertujuan untuk menggali dan mengkaji prinsip-prinsip bisnis yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam konteks kehidupan ekonomi dan sosial pada masa beliau.

Bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak hanya mengutamakan keuntungan materi, tetapi juga menekankan nilai-nilai moral, etika, dan kesejahteraan umat, yang menjadi teladan hingga saat ini.

Adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai praktik bisnis yang adil, jujur, dan berlandaskan pada prinsip- prinsip Islam. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji relevansi ajaran Rasulullah SAW dalam dunia bisnis modern yang semakin berkembang.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan di masa yang akan datang.

Akhir kata, semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat, baik bagi dunia akademik maupun bagi praktisi bisnis yang ingin menerapkan prinsip-prinsip bisnis yang berlandaskan pada ajaran Islam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua.

(3)

3 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ... 3

BAB I PENDAHULUAN ... 4

1.1 Latar Belakang ... 4

1.2 Rumusan Masalah ... 12

1.3 Tujuan Penelitian ... 13

BAB II PEMBAHASAN ... 14

2.1 Manajemen Bisnis ala Rasulullah ... 14

2.1.1 Bercermin Manajemen Bisnis Rasulullah... 14

2.1.2 Belajar Manajemen Bisnis Rasulullah ... 16

2.1.3 Aktivitas Bisnis Rasulullah ... 17

2.1.4 Implementasi Manajemen Bisnis ala Rasulullah ... 18

2.2 Konsep Bisnis ala Rasulullah ... 21

2.2.1 Perkembangan Karir Bisnis Muhammad Saw ... 21

2.2.2 Konsep Bisnis Rasullulah ... 23

2.2.3 Filosofi Sukses Berbisnis Rasulullah ... 24

2.3 Etika Bisnis ala Rasulullah ... 27

2.3.1 Nilai Nilai dalam Berniaga Islam ... 28

2.3.1 Etika dan Integritas Bisnis Islam ... 29

2.3.1 Etika Bisnis Rasullulah ... 29

BAB III KESIMPULAN ... 36

3.1 Kesimpulan ... 36

DAFTAR PUSTAKA... 38

(4)

4 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara umum bisnis seringkali dikaitkan dengan sebuah wirausaha, ada juga yang mengatakan bahwa orang yang menjalani bisnis disebut sebagai entrepeneur.

Berdagang juga termasuk dari bagian bisnis, bahkan kita sebagai karyawan dapat juga dikatakan sebagai kerjasama bisnis. Bisnis merupakan adaptasi dari kata “business” yang berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti: perusahaan, urusan atau usaha. Sedangkan menurut Haughes dan Kapoor Bisnis adalah suatu kegiatan usaha yang terorganisasi yang dilakukan oleh individu untuk memproduksi dan menjual barang / jasa (layanan) untuk mendapatkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis ini secara umum mengacu pada sebuah kegiatan usaha yang ada di dalam masyarakat atau di dalam industri.

(Hidayat, 2024).

Dalam Islam bisnis dapat dipahami sebagai serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya (ada aturan halal dan haram). Sejarah membuktikan bahwa Islam yang dibawa oleh Muhammad telah mampu mengubah keadaan masyarakat. Perubahan yang dilakukan juga tetap menjaga kearifan lokal di mana nilai-nilai yang positif atau netral yang sudah ada pada zaman sebelum Islam tidak dihancurkan, bahkan “dihidupkan” dengan warna baru dalam konteks budaya Islami. Konsep mudharabah misalnya, ia telah ada sejak sebelum Islam, tetapi setelah Islam datang mudharabah masih diperbolehkan dengan batasanbatasan yang sesuai dengan kaidah Islam. (Akhmad Nur Zaroni, 2023)

Kegiatan bisnis dalam bingkai ajaran Islam bukan hanya aktivitas pemenuhan kebutuhan ekonomi semata. Namun kegiatan bisnis sekaligus kegiatan ibadah yang akan mendapatkan pahala berlimpah dari Allah SWT. Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan bekerja, meraih rezeki sebanyak-banyaknya dengan cara yang halal. Bisnis selalu memainkan peranan penting dalam kehidupan ekonomi dan sosial bagi semua orang disepanjang abad dan semua lapisan masyarakat. Sejak

(5)

5 awal agama Islam lahir mengizinkan adanya bisnis, karena Rasulullah SAW sendiri pada awalnya juga berbisnis dalam jangka waktu yang cukup lama (Shihab: 1999).

Dalam hal perdagangan atau bisnis, Rasulullah SAW memberikan apresiasi yang lebih, seperti sabda beliau “hendaklah kamu berdagang, karena didalamnya terdapat 90% pintu rezeky” (H.R Ahmad). Namun, Rasulullah SAW tidak begitu saja meninggalkan tanpa aturan, kaidah, ataupun batasan yang harus diperhatikan dalam menjalankan perdagangan atau bisnis. Diantara nilai-nilai yang penting dalam perdagangan atau bisnis adalah sifat kasih sayang yang telah dijadikan Allah sebagai trade mark. Islam menghendaki perdagangan yang berlangsung bebas dan bebas dari distorsi pasar. Hal ini bertujuan untuk memelihara unsur keadilan semua pihak dan Islam mengatur agar kegiatan ekonomi di pasar berjalan secara adil.

(Veithzal Rivai Zainal, Nora Sri Hendriyeni, & Marwini, 2022)

Dalam Islam, berdagang bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga bagian dari ibadah jika dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan syariat. Etika berdagang yang diajarkan dalam Islam menekankan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Hal ini tidak hanya mendatangkan keberkahan dalam hidup, tetapi juga membangun kepercayaan dan hubungan baik antara pedagang dan pembeli. Kejujuran adalah pilar utama dalam berdagang. Rasulullah saw bersabda, “Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar (untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) selama mereka belum berpisah.

Jika mereka jujur dan menjelaskan (kondisi barang), maka mereka diberkahi dalam jual beli mereka. Namun, jika mereka berdusta dan menyembunyikan sesuatu, maka keberkahan jual beli mereka akan dihapus" (HR Bukhari dan Muslim). Tidak Menipu atau Curang (Gharar dan Taghrir) Islam melarang segala bentuk penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa menipu, maka ia bukan bagian dari golonganku” (HR Muslim). Fenomena seperti manipulasi timbangan, menjual barang palsu, atau menaikkan harga secara tidak wajar adalah bentuk kecurangan yang harus dihindari. Menipu dalam perdagangan tidak hanya merugikan pembeli, tetapi juga mencerminkan lemahnya moralitas pedagang. Dalam jangka panjang, praktik kecurangan dapat merusak reputasi bisnis dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, pedagang yang

(6)

6 ingin sukses harus menjunjung tinggi nilai transparansi dan keadilan. Salah satu contoh nyata dari kecurangan dalam perdagangan adalah kasus penjualan bahan makanan yang dicampur dengan zat berbahaya. Misalnya, penggunaan pewarna tekstil dalam makanan atau praktik pengoplosan bahan bakar yang merugikan konsumen. Praktik-praktik semacam ini tidak hanya bertentangan dengan ajaran Islam tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat. Adil dalam Menetapkan Harga Pedagang harus menetapkan harga yang wajar tanpa mengambil keuntungan yang berlebihan. Dalam Al-Qur'an disebutkan:

اوُف ْوَا َو َلْيَكْلا َنا َزْيِمْلا َو ِطْسِقْلاِب

(Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil (QS Al-An’am: 152).

Islam mengajarkan keseimbangan dalam ekonomi, di mana penjual mendapatkan keuntungan yang layak tanpa merugikan pembeli. Contohnya adalah saat terjadi bencana atau krisis ekonomi, pedagang seharusnya tidak menaikkan harga barang secara tidak wajar hanya demi meraup keuntungan besar. Di Indonesia, fenomena kenaikan harga barang kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan beras sering kali menjadi perhatian. Banyak kasus di mana pihak tertentu menimbun barang agar harga naik dan mereka bisa menjual dengan harga lebih tinggi. Praktik ini tidak hanya merugikan masyarakat luas tetapi juga bertentangan dengan prinsip keadilan dalam perdagangan yang diajarkan Islam. Sebagai solusi, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memastikan harga barang tetap stabil dan wajar. Pedagang Muslim seharusnya mencontoh Rasulullah saw yang selalu berlaku adil dalam berdagang, tidak pernah mengambil keuntungan berlebihan, serta memastikan bahwa harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas barang dan kondisi pasar. Mengutamakan Niat yang Baik Niat dalam berdagang harus ditujukan untuk mencari rezeki yang halal dan keberkahan. Rasulullah saw bersabda:

َلِئُس ُلوُس َر ِالل يَأ : ِبْسَكْلا

؟ ُبَيْطَأ َلاَق ُلَمَع : ِلُج َّرلا

ِ،هِدَيِب لُك َو بْسَك رو ُرْبَم

“Sebaik-baik usaha adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur” (HR Ahmad). Seorang pedagang yang berniat baik juga akan lebih peduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia tidak hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, tetapi juga berupaya untuk memberikan manfaat

(7)

7 bagi orang lain, seperti dengan berbagi rezeki melalui sedekah atau membantu mereka yang membutuhkan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk saling membantu dan menciptakan kesejahteraan bagi sesama.

Menghindari Riba Islam melarang riba dalam segala bentuk transaksi. Dalam Al- Qur'an Allah berfirman:

َّلَحَا َو ُٰاللّ

َعْيَبْلا َم َّرَح َو اوٰب ِ رلا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS Al-Baqarah: 275) Riba adalah praktik yang merugikan salah satu pihak dalam transaksi dan menciptakan ketidakadilan dalam ekonomi. Dalam sistem perdagangan modern, riba sering kali muncul dalam bentuk bunga pinjaman atau sistem kredit berbunga yang membebani masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Oleh karena itu, pedagang Muslim harus berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya agar tidak terjebak dalam praktik riba. Salah satu bentuk riba yang sering terjadi adalah tingginya bunga pinjaman modal usaha, yang menyebabkan pedagang kecil mengalami kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya. Sebagai solusi, Islam mendorong sistem ekonomi berbasis syariah, seperti koperasi syariah dan bank syariah, yang menawarkan pinjaman tanpa bunga serta berbasis akad yang adil dan transparan. (Heni Verawati, 2025)

Nabi Muhammad SAW ketika masih kecil sering menggembalakan kambing penduduk-penduduk Makkah dengan imbalan yang dapat beliau gunakan untuk bertahan hidup. Ketika beliau mencapai usia sembilan tahun (riwayat lain menyebutkan dua belas tahun atau tiga belas tahun) pamannya; Abu Thalib hendak mengadakan misi dagang ke negeri Syam. Tetapi, terlihat Muhammad sangat berat untuk ditinggalkan oleh Abu Thalib. Akhirnya, karena kasihan, Abu Thalib pun mengajak Muhammad bersamanya ke negeri Syam. Perjalanan yang tidak begitu lama ini adalah untuk pertama kalinya bagi mereka. Ketika mereka sampai di dekat daerah Bushra (perbatasan antara negeri Syam dan Arab), seorang pendeta Yahudi bernama Buhaira datang menemui orang-orang dari kafilah Abu Thalib Pendeta Yahudi itu menanyakan kepada mereka tentang berita yang terdapat di dalam kitab suci orang-orang Yahudi, yaitu mengenai diutusnya seorang nabi dari kalangan bangsa Arab yang saatnya sudah tiba. Mereka menjawab bahwa sampai saat itu

(8)

8 belum nampak tanda-tandanya. Ungkapan ini sering dilontarkan oleh orang-orang ahli kitab sebelum Rasulullah saw. diutus, baik dari kalangan orang Yahudi maupun dari kalangan orang Nasrani. Namun, Allah swt. telah berfirman:

اَّمَلَف ْمُهَءۤاَج ا ْوُف َرَعاَّم

ا ْو ُرَفَك هِب ُةَنْعَلَفۖ ِٰاللّ

ىَلَع َنْي ِرِف ٰكْلا

Ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.” (Q.S. Al- Baqarah/2: 89)”

Di dalam riwayat lain yang termaktub dalam kitab Khulasah Nurul Yaqin disebutkan bahwa Pendeta Buhaira tersebut langsung mengatakan kepada Abu Thalib. Ia memberi tahu Abu Thalib bahwa ponakannya itu kelak akan menjadi nabi yang terakhir. Ia telah mengetahui tanda-tanda kenabiannya sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab ahli kitab. Ia pun meminta Abu Thalib segera kembali pulang bersama Nabi Muhammad saw. karena kahwatir musuh mengintainya. (Annisa Nurul Hasanah, 2019)

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam masih kecil (dan belum menjadi Nabi), ia ikut pergi bersama pamannya, Abu Thalib, dan para pembesar kaum Quraisy dalam suatu perjalanan menuju Syam. Sebagian ulama mengatakan bahwa itu ketika beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berusia 12 tahun, dan sebagian lagi berpendapat beberapa tahun lebih tua itu.

Diriwayatkan dari Al Fadhl bin Sahl Abul Abbas Al A’raj Al Baghdadi ia berkata, Abdurrahman bin Ghazwan Abu Nuh menuturkan kepadaku, Yunus bin Abi Ishaq mengabarkan kepadaku, dari Abu Bakr bin Abi Musa, dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu, ia berkata:

َج َرَخ وُبَأ بِلاَط ىَلِإ ِماَّشلا َج َرَخ َو، ُهَعَم يِبَّنلا ىَّلَص َُّاللّ

ِهْيَلَع َمَّلَس َو خاَيْشَأيِف

ْن ِم شْي َرُق اَّمَلَف،

اوُف َرْشَأ ىَلَع ِبِها َّرلا اوُطَبَه او لَحَف، ْمُهَلاَح ِر َج َرَخَف ,

ُمِهْيَلِإ ُبِها َّرلا اوُناَك َو َلْبَق َكِلَذ َنو رُمَي ِهِب , َلَف ُج ُرْخَي

ْمِهْيَلِإ َل َو ُتِفَتْلَي

، َلاَق ْمُهَف : َنو لُحَي ْمُهَلاَح ِر َلَعَجَف ُمُهُلَّلَخَتَي ُبِها َّرلا ىَّتَح َءاَج َذَخَأَف ِدَيِب ِلوُس َر َِّاللّ

ىَّلَص

َُّاللّ

ِهْيَلَع َمَّلَس َو َلاَق : اَذَه ُدِ يَس َنيِمَلاَعْلا , اَذَه ُلوُس َر ِ ب َر َنيِمَلاَعْلا ُهُثَعْبَي َُّاللّ

ةَمْح َر َنيِمَلاَعْلِل

، َلاَقَف ُهَل خاَيْشَأ

ْن ِم شْي َرُق اَم : َكُمْلِع

؟ َلاَقَف ْمُكَّنِإ : َني ِح ْمُتْف َرْشَأ َن ِم ِةَبَقَعْلا ْمَل َقْبَي رَجَش َل َو رَجَح َّلِإ َّرَخ ا د ِجاَس َل َو،

ِناَدُجْسَي َّلِإ يِبَنِل يِ نِإ َو , ُهُف ِرْعَأ ِمَتاَخِب ِة َّوُب نلا َلَفْسَأ ْن ِم ِفو ُرْضُغ ِهِفِتَك

َلْثِم ِةَحاَّف تلا َّمُث،

َعَج َر َعَنَصَف ْمُهَل

ا ماَعَط اَّمَلَف ْمُهاَتَأ ِهِب َناَك َو َوُه يِف ِةَيْع ِر ِلِبِ ْلْا , َلاَق اوُلِس ْرَأ : ِهْيَلِإ َلَبْقَأَف , ِهْيَلَع َو ةَماَمَغ ُه ل ِظُت اَّمَلَف، اَنَد َن ِم

ِم ْوَقْلا ْمُهَدَج َو ْدَق ُهوُقَبَس ىَلِإ ِءْيَف ِة َرَجَّشلا اَّمَلَف،

َسَلَج َلاَم ُءْيَف ِة َرَجَّشلا ِهْيَلَع

، َلاَقَف او ُرُظْنا : ىَلِإ ِءْيَف

(9)

9 ِة َرَجَّشلا َلاَم ِهْيَلَع

، َلاَق اَمَنْيَبَف : َوُه مِئاَق ْمِهْيَلَع َوُه َو ْمُهُدِشاَنُي ْنَأ اوُبَهْذَي َل ِهِب ىَلِإ ِمو رلا َّنِإَف، َمو رلا اَذِإ ُه ْوَأ َر

ُهوُف َرَع ِةَف ِ صلاِب ُهَنوُلُتْقَيَف

، َتَفَتْلاَف اَذِإَف , ةَعْبَسِب ْدَق اوُلَبْقَأ َن ِم ِمو رلا ْمُهَلَبْقَتْساَف

، َلاَقَف اَم : َءاَج ْمُكِب

؟

اوُلاَق :

اَنْئ ِج َّنِإ اَذَه َّيِبَّنلا ج ِراَخ يِف اَذَه ِرْهَّشلا ْمَلَف , َقْبَي قي ِرَط َّلِإ َثِعُب ِهْيَلِإ ساَنُأِب اَّنِإ َو , ْدَق اَن ْرِبْخُأ ُه َرَبَخ اَنْثِعُب

ىَلِإ َكِقي ِرَط اَذَه

، َلاَقَف : ْلَه ْمُكَفْلَخ دَحَأ َوُه رْيَخ ْمُكْنِم

؟ اوُلاَق اَمَّنِإ : اَن ْرِبْخُأ ُه َرَبَخ َكِقي ِرَطِب اَذَه

،

َلاَق :

ْمُتْيَأ َرَفَأ ا رْمَأ َدا َرَأ َُّاللّ

ْنَأ ُهَي ِضْقَي ْلَه ُعيِطَتْسَي دَحَأ َن ِم ِساَّنلا ُهَّد َر

؟ اوُلاَق : َل

، َلاَق ُهوُعَياَبَف : اوُماَقَأ َو ُهَعَم

، رْكَب وُبَأ ُهَعَم َثَعَب َو، بِلاَطوُبَأ ُهَّد َرىَّتَح ُهُدِشاَنُي ْل َزَي ْمَلَف بِلاَطوُبَأ :اوُلاَق، ُه يِل َو ْمُك يَأ َِّللَاِب ْمُكُدُشْنَأ : َلاَق ل َلِب ُهَد َّو َز َو ُبِها َّرلا َن ِم ِكْعَكْلا ِتْي َّزلا َو

“Abu Thalib pergi ke Syam dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pergi dengannya bersama dengan pembesar-pembesar kaum Quraisy. Ketika mereka menjumpai seorang rahib, mereka singgah dan berhenti dari perjalanan mereka.

Lalu seorang Rahib pun keluar menemui mereka. Padahal biasanya pada waktu- waktu sebelum itu, rahib tersebut tidak pernah keluar dan tidak peduli ketika mereka melewatinya. (Yuliana Purnama, 2022)

Setelah perjalanan pertama yang dilakukan bersama pamannya, Abu Thalib, Nabi Muhammad kembali melakukan perjalanan ke Negeri Syam pada masa mudanya. Perjalanan ini tidak hanya menjadi bukti kemampuan beliau dalam berdagang, tetapi juga menunjukkan kepribadian luhur yang menjadi dasar dalam membangun reputasi sebagai seorang yang amanah dan terpercaya. Sejarah Nabi Muhammad ini yang melakukan perjalanan kedua Nabi Muhammad ke Negeri Syam bukan hanya sebuah perjalanan dagang biasa, tetapi juga sebuah episode penting yang menggambarkan kepribadian dan nilai-nilai luhur yang dimiliki beliau. Melalui perjalanan ini, Nabi Muhammad menunjukkan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari keuntungan materi, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga amanah dan memperlakukan orang lain dengan baik. Pengalaman ini juga menjadi salah satu batu pijakan penting dalam kehidupan beliau menuju peran besar sebagai Rasul yang membawa risalah kebenaran bagi seluruh umat manusia. (Annisa Nurul Hasanah, Sejarah Nabi Muhammad: Perjalanan ke Negeri Syam yang Kedua, 2024) Pada usia sekitar 25 tahun, Nabi Muhammad bekerja untuk seorang janda kaya bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah dikenal sebagai pengusaha sukses di Makkah yang sering mengirimkan kafilah dagangnya ke Negeri Syam. Melalui rekomendasi orang-orang yang mengenal kejujuran dan

(10)

10 kemampuan Nabi Muhammad, Khadijah mempercayakan kafilah dagangnya kepada beliau. Siti Khadijah binti Khuwailid As-Sa’diyah, seorang wanita pengusaha yang masyhur, terpandang, dan kaya selalu menyewa orang-orang untuk memasarkan barang dagangannya, kemudian ia membagi keuntungan dengan mereka. Ia mendengar tentang sifat amanah dan kejujuran Muhammad di dalam berbicara, yang belum pernah ditemukannya pada diri orang lain, sehingga kaumnya sendiri menjulukinya Al-Amin (orang yang dapat dipercaya). Oleh sebab itu, Khadijah menyewa Muhammad untuk membawa barang dagangannya ke negeri Syam, kemudian menjajakannya di sana. Ia bersedia memberinya lebih banyak dari apa yang pernah diberikannya kepada orang lain. (Annisa Nurul Hasanah, Sejarah Nabi Muhammad: Perjalanan ke Negeri Syam yang Kedua, 2024) Kemudian Muhammad berangkat bersama pembantu (laki-laki) Khadijah yang bernama Maisarah. Keduanya menjual barang-barang bawaannya, dan ternyata mendapat keuntungan yang besar sekali. Selama dalam perjalanan tampak keberkahan-keberkahan yang timbul dari diri Muhammad yang membuat Maisarah senang sekali (salah satu riwayat menyebutkan bahwa keberkahan itu adalah mendapatkan untung yang sangat banyak, merasa tidak kepanasan di perjalanan karena dilindungi awan di atasnya, dan ketika melewati Busrah, pohon-pohon saling merunduk). (Annisa Nurul Hasanah, Sejarah Nabi Muhammad: Perjalanan ke Negeri Syam yang Kedua, 2024)

Rasulullah Muhammad SAW berdagang barang dagangan Khadijah RA dengan cara yang jujur, amanah, dan penuh integritas. Khadijah, seorang wanita kaya yang merupakan janda, mempekerjakan Rasulullah untuk berdagang dengan tawaran yang sangat menguntungkan. Salah satu ciri utama Rasulullah dalam berdagang adalah kejujurannya. Dalam perdagangan, beliau tidak pernah membohongi pembeli dan selalu memberikan informasi yang benar mengenai barang yang dijual. Hal ini membuatnya sangat dihormati, bahkan sebelum menerima wahyu sebagai nabi. Kejujuran beliau diakui oleh banyak orang, dan ini merupakan salah satu alasan mengapa Khadijah tertarik untuk menjadikan beliau sebagai mitra dagangnya. Rasulullah selalu memastikan bahwa transaksi jual beli berjalan dengan adil, tanpa merugikan salah satu pihak. Beliau memastikan bahwa

(11)

11 harga yang dipasang adalah wajar dan tidak melakukan penipuan. Dalam berdagang, beliau tidak pernah mencari keuntungan yang berlebihan. Keuntungan yang diambil selalu sesuai dengan apa yang pantas, tidak lebih dari itu. Rasulullah tidak hanya bekerja dengan jujur, tetapi juga sangat teliti dan bekerja keras dalam menjalankan tugasnya. Ia pergi ke pasar-pasar, berinteraksi dengan banyak orang, dan melakukan transaksi dengan baik. Keberhasilan beliau dalam berdagang juga menunjukkan dedikasi dan kegigihannya. Setelah sukses berdagang, banyak orang yang tertarik untuk mengikuti cara Rasulullah berdagang. Kesuksesan beliau dalam berdagang menjadi contoh bagi orang lain mengenai pentingnya kejujuran dan integritas dalam dunia bisnis. (Berliana Intan Maharani, 2023).

Sebelum kaum Muslim berhasil mendominasi pasar di Madinah, praktik manipulasi dalam berniaga dilakukan para pedagang Yahudi di pasar Qainuqa.

Mereka melakukan berbagai cara untuk meraih keuntungan, yakni dengan cara-cara penuhi tipuan seperti gharar (adanya unsur taruhan) dan jahalah (ketidak jelasan) dalam praktik jual beli. Selain itu para pedagang Yahudi juga mempraktikkan riba.

Kaum Yahudi berhasil menjerat semua pemilik barang-barang produksi untuk masuk ke pasar mereka. "Masyarakat Madinah sebelum kedatangan Rasulullah bukanlah kaum yang piawai dalam berdagang sebagaimana orang-orang Yahudi atau sebagaimana orang-orang Makkah. Hal ini membuat mereka bergantung pada dominasi ekonomi Yahudi yang kental dengan praktik riba, khususnya di pasar-pasar mereka, tidak terkecuali pasar Bani Qainuqa. (Andrian Saputra, 2024)

Seiring waktu, Rasulullah dan para sahabat perlahan-lahan melakukan penataan terhadap sistem ekonomi penduduk Madinah. Rasulullah, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Bakar Ash Shiddiq adalah para pedagang ulung, giat, dan terpenting jujur. Jam terbang mereka dalam berdagang tidak diragukan lagi. Rasulullah SAW melarang pajak dan pungutan liar untuk menjaga harga tidak naik di tingkat konsumen. Tidak boleh ada yang mengkapling-kapling tanah. Setiap orang berhak berdagang di sebelah mana saja sebagaimana halnya di masjid, orang-orang bebas duduk di sudut mana saja. Pengambilan tempat didasarkan pada urutan datang. Siapa yang pertama kali datang, dia berhak untuk

(12)

12 memilih tempat mana yang akan dipergunakan. Keunikan ini bertahan hingga masa Khulafaur Rasyidin. Diharamkan pula di pasar itu melakukan kecurangan- kecurangan seperti pengurangan timbangan dan penipuan lainnya. Untuk menjamin semua ini berjalan baik, maka Rasulullah menunjuk Umar bin Khattab sebagai pengawas pasar. Umar diberi kewenangan untuk menindak siapa saja yang melakukan kecurangan di pasar ini. Faktor inilah yang menyebabkan pasar ini menjadi lebih diminati bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga kaum kafir.

Secara perlahan tapi pasti, pasar Rasulullah berhasil menyingkirkan dominasi pasar Yahudi yang sangat merugikan konsumen. (Andrian Saputra, 2024)

Dalam setiap transaksi, Rasulullah menjaga kehormatan dan hak orang lain, tanpa membedakan apakah mereka Muslim atau non-Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak membedakan perlakuannya kepada siapa pun, baik terhadap orang Yahudi atau selainnya, selama mereka tidak mengganggu hak-hak orang lain. Di Madinah, terdapat beberapa kabilah Yahudi, seperti Banu Qaynuqa', Banu Nadir, dan Banu Qurayzah, yang memiliki kegiatan perdagangan. Rasulullah, meskipun berbeda agama, menjaga hubungan baik dengan mereka dalam urusan perdagangan. Beliau bertransaksi secara jujur dan menghindari perselisihan yang dapat merusak hubungan antar kaum.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya dengan Tema penelitian ini adalah “Bisnis Ala Rasulullah Shalallhu Alaihi Wasalam” maka penelti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian mengenai Bisnis Ala Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bisa difokuskan pada berbagai aspek yang mengkaji bagaimana Rasulullah SAW menjalankan praktik bisnis dan bagaimana prinsip-prinsip tersebut relevan dengan dunia bisnis modern:

1. Bagaiamana Manajemen Bisnis Ala Rasulullah ? 2. Bagaimana Konsep Bisnis Ala Rasulullah SAW ? 3. Bagaimana Etika Bisnis Ala Rasulullah SAW ?

(13)

13 1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian mengenai Bisnis Ala Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dapat difokuskan pada berbagai aspek yang mengkaji penerapan prinsip-prinsip bisnis Rasulullah SAW dalam konteks sosial dan ekonomi.

1. Untuk mengetahui Manajemen Bisnis Ala Rasulullah ? 2. Untuk mengetahui Konsep Bisnis Ala Rasulullah SAW ? 3. Untuk mengetahui Etika Bisnis Ala Rasulullah SAW ?

(14)

14 BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Manajemen Bisnis ala Rasulullah

2.1.1 Bercermin Manajemen Bisnis Rasulullah

Manajemen bisnis Islam hadir sebagai solusi dalam kepentingan untuk mengelola bisnis namun tetap sesuai dengan prinsip Islam yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, khusunya untuk para pembisnis yang beragama Islam, manajemen bisnis Islam haruslah menjadi acuannya. Islam adalah agama yang Rahmatan lil alamin, Rahmat bagi semseta. Segala aspek dari politik, budaya hingga ekonomi dan muamalah sudah diatur dengan sedemikian rupa. Namun tetap yang menjadi pedomannya adalah Al Qur’an dan Hadits.

Bisnis atau muamalah sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. Bahkan ketika zaman tersebut, Nabi Muhammad saw juga berperan sebagai seorang pedagang. yang dalam penerapannya patut kita contoh, karena Beliau saw adalah teladan bagi umat Islam. Berdasarkan kisahnya Rasulullah sawsaw sudah berdagang sejak Beliau saw masih kecil. Beliau saw sangat cerdas untuk menangkap bahwa peluang bisnis yang berkembang dengan pesat di sana adalah perdagangan. Sebab tanah Mekah secara geologis cukup keras sehingga sulit untuk bercocok tanam. Maka, peluang menjadi pengusaha lebih besar daripada menjadi petani, kejelian inilah yang menjadikan Beliau saw menekuni bidang perdagangan. Sepanjang perjalanan, Rasulullah memelajari banyak hal yang berhubungan dengan perdagangan. Rasulullah mempelajari berbagai bentuk transaksi jual beli, cara memasarkan dan menawarkan barang dagangan, serta bagaimana menjaga hubungan yang baik oleh pelanggan.

Keahlian bisnis Rasulullah mulai diuji ketika Rasulullah berusia 17-20 tahun. Rasulullah harus bersaing dengan pemain-pemain bisnis senior tingkat regional. Di sinilah ketangguhan dan keseriusan Rasulullah mulai diuji. Mitra- mitra kerja Nabi Muhammad mengakui bahwa Rasulullah adalah orang yang jujur dan profesional. Rasulullah cukup matang dan lurus dalam perhitungan- perhitungannya. Hal inilah yang juga menumbuhkan kepercayaan Khadijah

(15)

15 yang saat itu menyandang sebagai wanita konglomerat terkenal di Mekah untuk menjalin kerjasama bisnis.

Selain memerhatikan kualitas dagangannya, Rasulullah juga memperhatikan takaran atau timbangan dari barang yang akan dijualnya.

Rasulullah sangat menjaga ketepatan alat takaran atau menimbang barang dagangannya. Jangan sampai takaran atau timbangan berkurang, kalau takaran atau timbangan berkurang, tentu saja pembeli akan merasaa kecewa. Dan Rasulullah tak menginginkan hal seperti itu terjadi. Hal tersebut membuat kedatangan Rasulullah menjadi kedatangan yang dinantikan oleh para penduduk sekitar. Mereka enggan membeli suatu barang dari pedagang selain Rasulullah, karena sifat Rasulullah dalam berdagang selalu membuat para pembeli merasa puas dan tidak merasa dirugikan. Hal inilah yang harus diterapkan oleh pedagang Muslim. Salah satu prinsip dalam bermuamalah adalah harus berlandaskan suka sama suka. Pembeli harus puas atas barang yang telah ia beli, penjual hatrus puas atas menerima imbalan dari harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Rasulullah adalah teladan bagi seluruh umat muslim di muka bumi. Apapun yang Rasulullah lakukan, termasuk dalam hal berbisnis adalah mutiara hikmah, sebuah keteladanan bagi manusia. Bukan karena Rasulullah sudah berbisnis sejak usia muda, namun juga karena Rasulullah senantiasa menerapkan nilainilai keluhuran dalam berdagang. Tak semua bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika banyak orang yang hanya menjadikan bisnis sebagai sarana mencari keuntungan di duniawi semata, maka Rasulullah menjadikannya sarana untuk menanami ladang akhirat. Rasulullah memberikan keteladanan bahwa bisnis adalah sebuah transaksi yang tak hanya bernilai ekonomis, namun juga bernilai kemanusiaan. Di antara nilai-nilai yang Rasulullah tanamkan dalam bisnisnya adalah sesuai dengan empat sifat utama yang Rasulullah miliki yaitu:

1. Shiddiq, artinya benar. Beliau SAW adalah pedagang yang jujur.

Rasulullah tak pernah menyembunyikan barang yang cacat dalam dagangannya. Rasulullah juga tak segan mengemukakan kelemahan dari produk yang ditawarkannya. Hal inilah yang membuat semua orang

(16)

16 senang pada cara bisnis Rasulullah dan tak ragu untuk mengajak Rasulullah berkerja sama maupun bermitra.

2. Amanah, artinya terpercaya. Rasulullah menjaga kepercayaan dalam berdagang. Tidak hanya kepercayaan dari pemilik barang, namun juga pelanggan dan orang-orang terkait bisnis tersebut.

3. Fathanah, artinya cerdas. Rasulullah mempunyai strategi yang cerdik dalam berdagang. Rasulullah mencari cara yang tepat dalam menghasilkan keuntungan, namun tidak dengan menipu orang lain. Rasulullah tak pernah lupa menganalisis peluang-peluang yang datang dari sebuah tempat atau sekelompok masyarakat, sambil mengenali budaya masyarakat itu.

4. Tabligh, artinya menyampaikan. Rasulullah memiliki kemampuan public speaking dan negosiasi yang baik. Rasulullah ahli dalam membangun komunikasi, meyakinkan pembeli dan membangun reputasi bisnis yang baik. Komunikasi seperti ini amatlah penting dalam semua lini kehidupan termasuk juga dalam perekenomian.

2.1.2 Belajar Manajemen Bisnis Rasulullah

Lebih dari dua puluh tahun Nabi Muhammad aktif di bidang kewirausahaan, sehingga ia dikenal di Yaman, Suriah, Basra, Irak, Yordania dan kota-kota perdagangan di Semenanjung Arab. Namun sayangnya, kisahnya tentang menjalankan bisnis dan bagaimana beliau terampil menangani hal tersebut justru kurang mendapatkan perhatian.Sejak sebelum menjadi mudharib (pengelola dana) milik Khadijah ra, beliau sering melakukan perjalanan bisnis ke Kota Busra di Suriah dan Yaman. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah telah melakukan empat perjalanan perdagangan untuk Khadijah, dua ke Abayssina dan dua lagi ke Jorasy, lantas dilanjutkan ke Yaman dan sepanjang Maisarah. DI usia pertengahan 30 tahun, Muhammad banyak terlibat dalam perdagangan seperti wirausahawan lainnya. Tiga perjalanan bisnis setelah menikah yang tercatat dalam sejarah yakni ke Yaman, Najd dan Najran.

Dituliskan pula bahwa selain melaksanakan perjalanan, Nabi Muhammad terlibat dalam bisnis besar selama musim Haji, festival-festival dan perdagangan

(17)

17 Ukaz Dhul-Majaz. Sementara lainnya, beliau sibuk mengurus pasar grosir di Mekkah. Dalam menjalankan bisnisnya itu, Rasulullah menerapkan prinsip manajemen yang akurat dan dapat diandalkan, sehingga usaha tetap menguntungkan dan tidak pernah rugi.

2.1.3 Aktivitas Bisnis Rasulullah

Reputasi Nabi Muhammad dalam dunia bisnis dilaporkan antara lain oleh Muhaddits Abdul Razzaq. Ketika mencapai usia dewasa beliau memilih perkerjaan sebagai pedagang/wirausaha. Pada saat belum memiliki modal, beliau menjadi manajer perdagangan para investor (shohibul mal) berdasarkan bagi hasil. Seorang investor besar Makkah, Khadijah, mengangkatnya sebagai manajer ke pusat perdagangan Habshah di Yaman. Kecakapannya sebagai wirausaha telah mendatangkan keuntungan besar baginya dan investornya.Tidak satu pun jenis bisnis yang ia tangani mendapat kerugian. Ia juga empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria, Jorash, dan Bahrain di sebelah timur Semenanjung Arab. Dalam literatur sejarah disebutkan bahwa di sekitar masa mudanya, Nabi Saw banyak dilukiskan sebagai Al-Amin atau Ash-Shiddiq dan bahkan pernah mengikuti pamannya berdagang ke Syiria pada usia anak-anak, 12 tahun. Lebih dari dua puluh tahun Nabi Muhammad Saw berkiprah di bidang wirausaha (perdagangan), sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiria, Basrah, Iraq, Yordania, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab.

Di pertengahan usia 30-an, ia banyak terlibat dalam bidang perdagangan seperti kebanyakan pedagang-pedagang lainnya. Tiga dari perjalanan dagang Nabi setelah menikah, telah dicatat dalam sejarah: pertama, perjalanan dagang ke Yaman, kedua, ke Najd, dan ketiga ke Najran. Diceritakan juga bahwa di samping perjalanan-perjalanan tersebut, Nabi terlibat dalam urusan dagang yang besar, selama musim-musim haji, di festival dagang Ukaz dan Dzul Majaz.

Sedangkan musim lain, Nabi sibuk mengurus perdagangan grosir pasar-pasar kota Makkah. Dalam menjalankan bisnisnya Nabi Muhammad jelas menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang jitu dan handal sehingga bisnisnya tetap untung dan tidak pernah merugi.

(18)

18 2.1.4 Implementasi Manajemen Bisnis ala Rasulullah

Jauh sebelum Frederick W. Taylor (1856-1915) dan Henry Fayol mengangkat prinsip manajemen sebagai suatu disiplin ilmu, Nabi Muhammad Saw. sudah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen dalam kehidupan dan praktek bisnisnya. Ia telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya. Bagaimana gambaran beliau mengelola bisnisnya, Prof. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader, mengungkapkan: “Muhammad did his dealing honestly and fairly and never gave his customers to complain. He always kept his promise and delivered on time the goods of quality mutually agreed between the parties. He always showed a gread sense of responsibility and integrity in dealing with other people”. Bahkan dia mengatakan: “His reputation as an honest and truthful trader was well established while he was still in his early youth

Berdasarkan tulisan Afzalurrahman di atas, dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya komplen. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang di pesan dengan tepat waktu. Dia senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dengan siapapun. Reputasinya sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar telah dikenal luas sejak beliau berusia muda.

Pada zamannya, ia menjadi pelopor perdagangan berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang fair, dan sehat. Ia tak segan-segan mensosialisasikannya dalam bentuk edukasi langsung dan statemen yang tegas kepada para pedagang. Pada saat beliau menjadi kepala negara, law enforcement benar-benar ditegakkan kepada para pelaku bisnis nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi, yang dibangun atas dasar saling setuju “Sesungguhnya transaksi jual-beli itu (wajib) didasarkan atas saling setuju (ridla)….” Terhadap tindakan penimbunan barang, beliau dengan tegas

(19)

19 menyatakan: “Tidaklah orang yang menimbun barang (ihtikar) itu, kecuali pasti pembuat kesalahan (dosa). Sebagai debitor, Nabi Muhammad tidak pernah menunjukkan wanprestasi (default) kepada krediturnya. Ia kerap membayar sebelum jatuh tempo seperti yang ditunjukkannya atas pinjaman 40 dirham dari Abdullah Ibn Abi Rabi’. Bahkan kerap pengembalian yang diberikan lebih besar nilainya dari pokok pinjaman, sebagai penghargaan kepada kreditur. Suatu saat ia pernah meminjam seekor unta yang masih muda, kemudian menyuruh Abu Rafi’ mengembalikannnya dengan seekor unta bagus yang umurnya tujuh tahun.

“Berikan padanya unta tersebut, sebab orang yang paling utama adalah orang yang menebus utangnya dengan cara yang paling baik” (HR.Muslim).

Sebagaimana disebut diawal, bahwa penduduk Makkah sendiri memanggilnya dengan sebutan Al-Shiddiq (jujur) dan Al-Amin (terpercaya).

Sebutan Al-Amin ini diberikan kepada beliau dalam kapasitasnya sebagai pedagang. Tidak heran jika Khadijah pun menganggapnya sebagai mitra yang dapat dipercaya dan menguntungkan, sehingga ia mengutusnya dalam beberapa perjalanan dagang ke berbagai pasar di Utara dan Selatan dengan modalnya. Ini dilakukan kadangkadang dengan kontrak biaya (upah), modal perdagangan, dan kontrak bagi hasil. Rasullullah Muhammad SAW adalah seorang pebisnis tangguh. Bisnis yang dijalankan beliau cukup stabil dan semakin berkembang dengan sangat pesat. Apa rahasia dan bagaimanakah beliau memanage bisnisnya tersebut?

1. Meluruskan Niat

Niat baik, itulah awal dari usaha bisnis Rasulullah Muhammad SAW. Niat semata-mata beribadah kepada Allah , niat untuk mencukupi kebutuhan hidup beliau beserta keluarganya, niat ingin menolong orang-orang yang kurang mampu, niat mmemberikan pekerjaan kepada orang-orang yang jujur dan dapat dipercaya. Hal-hal tersebut yang mendasari awal usaha bisnis Muhammad sehingga dapat menjadi fondasi atau dasar yang kuat bagi beliau untuk menjalankan perdagangannya dengan sungguh-sungguh , jujur, serta memiliki tujuan yang mulia

2. Istiqomah dengan Pendirian, Kuat , Cerdas, dan Cekatan

(20)

20 Kekuatan fisik dan hati yang ditunjukkan oleh Rasulullah benar-benar termanifestasi dengan baik dalam keseharian beliau. Demikian pula dalam menjalankan bisnis, Muhammad yang tangguh tak pernah putus asa menjalankan bisnis dan perdagangannya. Beliau sangat kuat menghadapi segala proses dalam berbisnis. Kejujuran yang cerdas, yang mampu membuat semua orang percaya kepada beliau. Dengan kondisi fisik dan psikis yang begitu tangguh, Muhammad SAW juga memiliki kecerdasan luar biasa hebat. Jika pada zaman dahulu sudah ada pembahasan tentang multiple intellegence, maka dapat dipastikan bahwa Rasulullah Muhammad SAW memiliki kesemua komponen kecerdasan tersebut.

3. Kecerdasan Intelektual

dalam membangun bisnis kita pun perlu untuk melatih kecerdasan intelektual diri kita. Dunia bisnis begitu banyak persaingan dan pernak- pernik lain yang mengharuskan kita untuk cerdas. Perlu diingat, sebaiknya kita perlu untuk mengetahui semua hal tentang bisnis yang akan kita bangun terlebuih dahulu. Dengan banyak belajar hal baru, keterkaitan antar neuron di otak kita pun semakin bertambah. Secara fisik, jaringan otak akan semakin mantap dan cerdas dengan berbagai jenis pengetahuan baru yang kita pelajari tanpa bermalas-malasan. Kita tidak boleh cepat berpuas diri terhadap kemampuan yang telah ada. Belajarlah pada siapa saja yang dianggap mampu menambah wawasan dan pengalaman kita.

Namun, berhati-hatilah terhadap ajakan-ajakan untuk menyekutukan Allah atau malah menyeret kita kepada kekafiran.

4. Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional Muhammad SAW tidak bisa dipungkiri lagi, begitu besar dan cermat. Kejujuran dan kepribadiannya sangat menarik sehingga dijuluki dengan Al Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya. Muhammad muda menyaksikan perjanjian Hilful Fudhul, yaitu perjanjian yang melibatkan para pembesar Quraisy. Isinya adalah tentang pembelaan terhadap orang yang teraniaya, menjalankan perdagangan dengan jujur, dan tidak berperilaku buruk kepada orang lain. Tempaan keterampilan

(21)

21 tersebut semakin membangun kecerdasan emosional Muhammad yang telah tertata dengan baik. Hal tersebut terbawa sampai beliau dewasa dan menjalankan sendiri roda bisnisnya.

5. Kecerdasan Spiritual

Rasulullah Muhammad SAW merupakan seorang manusia dengan kecerdasan spiritual di atas rata-rata, tentu saja. Beliau adalah seorang yang memiliki konsep diri dengan jelas, mampu menjabarkan segala maknadalam kehidupan, menjalani nilai-nilai yang dianutnya dengan penuh konsistensi, dan memiliki keutuhan diri.

6. Keseimbangan Qolbu, Pikiran, dan Tindakan Nyata

Keseimbangan dan keterkaitan antara hati, pikiran, dan tindakan nyata sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi kalau kita masih memiliki berbagai prasangka buruk terhadap lingkungan, atau bahkan malah prasangka buruk kepada Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, kembali meluruskan niatdan berbaik sangka menjadi pijakan yang kuatbagi kita untuk teerus melangkah menuju kesuksesan bisnis yang tengah dirintis.

7. Jujur, Bertanggung Jawab dan Komitmen

Dalam menjalankan usaha dan bisnis apa pun, perlu kiranya kita memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kejujuran. Kejujuran merupakan kunci pokok bahwa seseorang tersebut dinilai dapat dipercaya oleh orang lain

2.2 Konsep Bisnis ala Rasulullah

2.2.1 Perkembangan Karir Bisnis Muhammad Saw

Jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dalam diri Muhammad Saw tidak terjadi begitu saja, tetapi hasil dari suatu proses panjang dan dimulai sejak beliau masih kecil. Jauh sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah, beliau sudah dikenal sebagai pedagang. Bahkan, sejak kecil, putra dari pasangan Abdullah dan Aminah ini telah menunjukkan kesungguhannya terjun dalam bidang bisnis atau kewirausahaan (entrepreneurship). Terjunnya Muhammad Saw dalam perniagaan sejak dini, tidak terlepas dari kenyataan yang menuntut beliau untuk

(22)

22 belajar hidup mandiri. Maklumlah, tatkala usia 6 tahun, Muhammad kecil sudah ditinggal wafat kedua orangtuanya. Sejak itu beliau sempat diasuh sang kakek, Abdul Muthalib, dan dilanjutkan pamannya.

Menjelang usia dewasa, beliau memutuskan untuk memilih sektor perdagangan sebagai karirnya. Beliau menyadari bahwa pamannya bukanlah orang yang kaya namun memiliki beban keluarga yang cukup besar. Oleh karena itu Muhammad muda berpikir untuk berdagang. Terlebih lagi, sebagai salah seorang dari anggota keluarga besar suku Quraisy yang umumnya pedagang, Muhammad Saw diharapkan menjadi pedagang pula. Ketika merintis karir di bidang bisnis, beliau mulai berdagang kecil-kecilan di kota Makkah.

Muhammad Saw membeli barang-barang dari suatu pasar, lalu menjualnya kepada orang-orang. Fakta ini kian menegaskan, pekerjaan sebagai pedagang sudah dilakukan oleh Muhammad Saw, jauh sebelum beliau menikah dengan Khadijah. Muhammad Saw sempat menerima modal dari para investor serta anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana peninggalan orangtuanya. Mereka sangat mempercayai Muhammad Saw untuk menjalankan bisnis dengan uang mereka berdasarkan kerjasama mudharabah.

Mudharabah adalah akad kerjasama antara dua pihak dalam suatu usaha atau proyek tertentu. Pihak pertama (malik, shahib al-maal) menyediakan seluruh modal, pihak kedua (amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku manajer atau pengelola. Keuntungan usaha dibagi sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Tetapi, jika terjadi kerugian akan ditinjau secara adil. Seandainya kerugian timbul akibat risiko bisnis, akibat cuaca, gempa, atau force majeur lainnya, maka akan ditanggung oleh pemilik modal. Namun bila kerugian karena keteledoran atau kecurangan pengelola usaha, maka si pengelola atau manajer wajib bertanggungjawab atas kerugian tersebut. Kehandalan Muhammad Saw dalam berbisnis, ditunjang oleh pengetahuannya yang luas mengenai wilayah tujuan dagang yang strategis. Tatkala menjejakkan kakinya ke Bahrain, umpamanya, menurut satu riwayat Imam Ahmad, Muhammad Saw pernah menerima utusan salah satu kabilah dari Bahrain. Kepada utusan itu beliau menanyakan, siapa pemimpinnya? Utusan tersebut menjawab, pemimpinnya

(23)

23 adalah Al-Ashajj. Setelah Muhammad Saw bertemu Al-Ashajj, beliau bertanya kepadanya berbagai hal dan mengenai orang-orang terkemuka. Muhammad Saw pun menyinggung perihal kota-kota perdagangan di Bahrain seperti Safa, Mushaqqar, dan Hijar. Al-Ashajj sangat terkejut dengan luasnya wawasan geografis dan pengetahuan tentang sentra-sentra komersial Muhammad Saw . Katanya, “Sungguh! Anda lebih tahu tentang negeri saya dari pada saya sendiri.

Anda juga lebih banyak mengenal kota-kota di negeri saya daripada yang saya ketahui.” Lalu Muhammad Saw berkata, “Saya mendapat kesempatan menjelajahi negeri Anda, dan saya telah diperlakukan dengan baik. Di usia muda, Muhammad Saw memang sudah menjadi pedagang regional karena daerah perdagangannya meliputi hampir seluruh Jazirah Arab.

2.2.2 Konsep Bisnis Rasullulah

Berniaga dengan allah, Nabi bersabda ”Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan“ Hadits ini dengan tegas menyebutkan bahwa profesi terbaik menurut Nabi Muhammad adalah perdagangan. Nabi Muhamad SAW dan para Sahabat tidak hanya mengajarkan konsep menjadi kaya tapi sudah memberi contoh yang sangat jelas dan detail agar kita cepat kaya dengan cara Islam yaitu dengan berdagang/jadi pengusaha, karena Nabi dan para Sahabatnya adalah pedagang ulung, Sebelum Marketing Modern ada,berabad-abad yang lalu Nabi sudah mengajarkan Brand Image,Brand Equty, Customer Satisfaction, Business dengan hati, Green Marketing dan Maketing Innovation.

Cara binis Nabi: Tidak boleh menjual barang haram (Business dengan hati). Dari ‘Amir dari Abdullah bin Nu’man bin Basyir r.a. beliau berkata:” Saya mendengar Rasulallah bersabda,” sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang subhat (samara- samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap subhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara subhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembala hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya,

(24)

24 maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati. (HR alBukhari dan Muslim -redaksi lafazh dari al-Bukhari), Tidak boleh merusak lingkungan (Green Marketing) “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya, firman Allah swt dalam surah al Hijr (15:19), Tidak boleh menipu pembeli dengan barang cacat atau rusak (Customer Satisfaction) “Barangsiapa menipu (orang lain) maka bukan termasuk golongan kami (umat Islam).” (HR.

Muslim I/69 nomor. 45) Tidak boleh mengurangi hak-hak pembeli (Brand Equity/perlindungan konsumen) Tidak boleh cepat patus asa dalam berdagang “ Tidak akan di rubah nasib suatu kaum kalau mereka sendiri tidak berubah”

(Marketing Innovation).

Nabi mengajarkan agar cepat kaya, kita disuruh berniaga dengan Allah, berdagang dengan Allah sangat mudah, tidak perlu modal dan pasti cepat kaya, bagaimana caranya berniga dengan Allah? yaitu: Sholat Tahajud (kendatipun hanya 2 rakaat tapi rutin tiap malam), demikian pula jika ingin berdagang dengan Allah tanpa modal apa-apa tentunya harus menghadap kepada Allah tepat waktu (Sholat fardu) dan datang sepagi mungkin (Sholat Tahajud), selanjutnya agar diprioritaskan setiap pagi sholat Dhuha 6 rokaat.

2.2.3 Filosofi Sukses Berbisnis Rasulullah

Walaupun dahulu aktivitas berdagang sempat dipandang sebelah mata, namun kenyataannya sekarang banyak orang mulai tertarik menjadi entrepreuner dan membuka usaha dagang. Dalam islam sendiri, bergadang atau berwirausaha dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang mulia, bahkan mempermudah datangnya rezeki Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadist terkemuka yang berbunyi, Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”. Beberapa cara berbisnis Rasulullah SAW yang bisa contoh untuk mengembangkan bisnis agar lebih sukses dan diridhoi Allah Ta’ala.

(25)

25 1. Diniatkan karena Allah SWT (Lillahi Ta’ala)

Dasar utama Rasulullah SAW berbisnis yaitu atas niat karena Allah, lillahi Ta’ala. Bukan untuk memupuk harta, mencari keuntungan sebanyakbanyaknya ataupun untuk memikat wanita. Tidak sama sekali!

Awalnya Beliau memulai berbisnis, saat itu usianya masih 12 tahun. Rasul berdagang dengan mengikuti pamannya, Abdul Munthalib hingga ke negeri Syam (Suriah). Ketika usianya menginjak 15-17 tahun, Rasul telah berdagang secara mandiri. Beliau berhasil memperluas bisnisnya hingga ke 17 negara. Sampai-sampai Beliau disebut sebagai khalifah (pemimpin) dagang dan hingga pada akhirnya kecakapannya dalam berdagang mengundang perhatian janda Kaya raya berna Siti Khadijah. Beliau pun menikahi Khadijah dan usaha dagangannya menjadi semakin sukses. Ya, itulah buah dari sebuah niat yang tulus. Segala sesuatu yang diniatkan untuk mencari ridho Allah, pasti akan memudahkannya. Maka itu, awali usaha dengan niat lillahi Ta’ala.

2. Jujur dalam Segala Kegiatan

Beliau selalu mengatakan dengan jujur produk/barang yang didagangkannya. Jika barang itu rusak atau jelek, beliau akan mengatakan kerusakan atau kejelekan barang dagangannya. “Pedagang yang jujur serta tepercaya tempatnya bersama para Nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Hakim, Tirmidzi dan Ibnu Majah) Kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens dalam menganjurkan kejujuran dalam berniaga. Rasulullah bersabda:“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya.”

(HR. Al Quzwani)

3. Kesadaran tentang signifikansi sosial kegiatan bisnis

Pelaku bisnis tidak boleh hanya berorientasi dalam mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya saja, akan tetapi pelaku bisnis harus mempertimbangkan kehidupan sosial seperti sikap tolong menolong

(26)

26 (ta’awun), kesadaran memberi kemudahan kepada orang lain dengan menjual barang dan lain-lain.

4. Ramah

Nabi SAW bersabda: “Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis.” (HR. Bukhori dan Tirmidzi

5. Sukarela

Aktivitas bisnis sebaiknya dilakukan dengan suka rela dan tanpa adanya paksaan dari salah satu pihak. “Sebaik-baik orang Mukmin itu ialah, mudah cara menjualnya, mudah cara membelinya, mudah cara membayarnya, dan mudah cara menagihnya.” (HR. Thabrani)

6. Menjual barang berkualitas bagus

Prinsip berikutnya yang dianut oleh Rasulullah SAW dalam berdagang yakni menjaga kualitas barang jualannya. Beliau tidak pernah menjual barangbarang cacat. Sebab itu akan merugikan pembeli dan bisa menjadi dosa bagi si penjual. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu

‘anhu, beliau mendengar Rasulullah saw bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (HR. Ibn Majah)

7. Tidak Menipu Takaran, Ukuran dan Timbangan Friman allah swt dalam surah al Muthaffifin (83: 1-3):

�لَّ اني ِ َ إ�اذَ ٱكۡ لاتَ اوُ عْ �لَ َ ٱنلشسَيساَّ ِ وت َۡ فۡ و٢ نوَ اُ َ إلكا َ ذَ هوُ أُ ۡ و ٱِ

َ ين ١

ِ ف

ُ َ فط

ۡ م ل

ِ ٞ ل

ۡ ل

َ ي و

ۡ ُۡ

ُسِي

َ نو ٣

َّ َ ُنز

ُ هو

و

“Celakalah bagi orang yang curang, yaitu orang yang apabila menerima tkaran dari orang lain, mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

8. Bersih dari Unsur Riba

Firman Allah swt dalam surah al Baqarah (2: 278):

ِ َ ٱاوقَُّتْ � ٱولل ََّ ذَ َ اورُ بام ْ َ قَ يِ مَ �نِ َ رلٱ بِ ا ٓوا َٰ ْ إكنمؤ ۡم تنُ ُ نِ ٢٧٨ين

�ْ ُ يَ�ٰ ٓ� أي � َ ا ٱلَّ ءنيَ َ ِ نمَااو

(27)

27 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman 9. Mengambil keuntungan sewajarnya

Seringkali kita jumpai pedangan atau pebisnis yang menjual barangnya dengan harga jauh lebih mahal dari harga aslinya. Mereka berusaha mengambil laba setinggi mungkin tanpa memikirkan kondisi konsumen.

Taktik seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Selain menyalahi agama, menjual barang dengan harag terlalu mahal juga membuat dagangan kita kurang laku.

2.3 Etika Bisnis ala Rasulullah

Etika dalam bisnis menjadi bagian penting di masa kini. Kesadaran akan etika bisnis ini disebbakan oleh begitu banyaknya bisnis yang dijalankan pada waktu lampau yang tidak mementingkan hal ini. Sehingga bisnis-bisnis tersebut membawa dampak yang buruk bagi lingkungan di sekitarnya dalam waktu cepat atau lambat.

Sadar atau tidak, kita seringkali mendengar banyak kasus-kasus buruk yang terjadi dalam dunia bisnis, yang berkaitan dengan etika bisnis yang terabaikan. Etika berbeda dengan moral atau akhlaq, etika merupakan refleksi kritis dan penjelasan rasional mengapa sesuatu itu baik dan buruk. Menipu orang lain adalah buruk. Ini berada pada tataran moral, sedangkan kajian kritis dan rasional mengapa menipu itu buruk dan apa alasan pikirnya, merupakan lapangan etika. Perbedaan antara moral dan etika sering kabur dan cendrung disamakan. Intinya, moral dan etika diperlukan manusia supaya hidupnya teratur dan bermartabat. Orang yang menyalahi etika akan berhadapan dengan sanksi masyarakat berupa pengucilan dan bahkan pidana. Bisnis merupakan bagian yang tak bisa dilepaskan dari kegiatan manusia. Sebagai bagian dari kegiatan ekonomi manusia, bisnis juga dihadapkan pada pilihan-pilihan penggunaan factor produksi. Efisiensi dan efektifitas menjadi dasar prilaku kalangan pebisnis. Sejak zaman klasik sampai era modern, masalah etika bisnis dalam dunia ekonomi tidak begitu mendapat tempat. Ekonom klasik banyak berkeyakinan bahwa sebua4h bisnis tidak terkait dengan etika. Dalam ungkapan Theodore Levitt, tanggung jawab perusahaan hanyalah mencari

(28)

28 keuntungan ekonomis belaka. Atas nama efisiensi dan efektifitas, tak jarang, masyarakat dikorbankan, lingkungan rusak dan karakter budaya dan agama tercampakkan.

Etika-etika bisnis yang terdapat dalam Islam, yang merupakan ketentuan mutlak yang harus senantiasa dipatuhi demi tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan pada masyarakat lewat bisnis-bisnis yang dijalankan. etika-etika bisnis islam telah banyak pula diadopsi oleh masyarakat Barat, yang telah kita lihat mereka telah memetik hasil yang gemilang. Oleh itu kita sebagai pemilik asli dari etika-etika bisnis tersebut haruslah menjalankannya dengan sungguh-sungguh.

2.3.1 Nilai Nilai dalam Berniaga Islam

Sistem ekonomi Islam, yang didasarkan pada nilai-nilai dan pandangan dunia (world view) islami adalah salah satu entitas dari keseluruhan sistem ekonomi yang ada. Sistem ekonomi Islam lebih bericirikan ethics, di mana dalam system ekonomi seperti ini, seluruh aktifitas ekonomi berkait kelindan dengan perwujudan aspek-aspek nilai etis tersebut, juga ketika dihadapkan dengan tantangan-tantangan ekonomi.

Islam mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil, sehingga seluruh bentuk transaksi yang menimbulkan ketidakadilan dilarang, yaitu:

1. Talaqqi rukban dilarang karena pedagang yang menyongsong di pinggir kota akan memperoleh keuntungan dari ketidaktahuan penjual dari daerah pinggiran atau kampung akan harga yang berlaku di kota. Mencegah masuknya pedagang desa ke kota ini (entry barrier), akan menimbulkan pasar yang tidak kompetitif.

2. Mengurangi timbangan atau sukatan dilarang, karena barang dijual dengan harga yang sama untuk jumlah yang lebih sedikit.

3. Menyembunyikan barang cacat karena penjual mendapatkan harga yang baik untuk kualitas yang buruk.

4. Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang, karena takaran kurma basah ketika kering bisa jadi tidak sama dengan kurma kering yang ditukar tersebut.

(29)

29 5. Menukar satu takaran kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas sedang dilarang, karena setiap kualitas kurma mempunyai harga pasarnya.

6. Transaksi Najasy dilarang, karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik.

7. Ikhtikar dilarang, karena bermaksud mengambil keuntungan di atas keuntunga normal dengan menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi.

8. Ghaban Fahisy dilarang, karena menjual di atas harga pasar.

2.3.1 Etika dan Integritas Bisnis Islam

Etika dan integritas merupakan suatu keinginan yang murni dalam membantu orang lain. Kejujuran yang ekstrim, kemampuan untuk mengenalisis batas-batas kompetisi seseorang, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan belajar dari kegagalan. Kompetisi inilah yang memanas akhir-akhir ini. Kata itu mengisyaratkan sebuah konsep bahwa mereka yang berhasil adalah yang mahir menghancurkan musuh-musuhnya. Banyak yang mengatakan kompetisi lambang ketamakan. Padahal, perdagangan dunia yang lebih bebas dimasa mendatang justru mempromosikan kompetisi yang juga lebih bebas. Melalui ilmu kompetisi kita dapat merenungkan, membayangkan pedagang kita ditantang untuk terjun ke arena baru yaitu pasar bebas dimasa mendatang.

Kemampuan berkompetisi seharusnya sama sekali tidak ditentukan oleh ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan. Inilah yang sering dikonsepkan berbeda oleh penguasa kita.

2.3.1 Etika Bisnis Rasullulah

1. Jujur dalam Menjelaskan Produk

Rasulullah selalu mengatakan dengan jujur produk/barang yang didagangkannya. Jika barang itu rusak atau jelek, beliau akan mengatakan kerusakan atau kejelekan barang dagangannya. “Pedagang yang jujur serta tepercaya tempatnya bersama para Nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Hakim,

(30)

30 Tirmidzi dan Ibnu Majah) Kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens dalam menganjurkan kejujuran dalam berniaga. Rasulullah bersabda:“Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya.”

(HR. Al Quzwani)

2. Kesadaran tentang signifikansi sosial kegiatan bisnis

Pelaku bisnis tidak boleh hanya berorientasi dalam mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya saja, akan tetapi pelaku bisnis harus mempertimbangkan kehidupan sosial seperti sikap tolong menolong (ta’awun), kesadaran memberi kemudahan kepada orang lain dengan menjual barang dan lain-lain.

3. Ramah

Rasulullah SAW bersabda: “Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

4. Suka Rela

Aktivitas bisnis sebaiknya dilakukan dengan suka rela dan tanpa adanya paksaan dari salah satu pihak. “Sebaik-baik orang Mukmin itu ialah, mudah cara menjualnya, mudah cara membelinya, mudah cara membayarnya, dan mudah cara menagihnya.” (HR. Thabrani)

5. Tidak Menipu Takaran, Ukuran dan Timbangan

Friman allah swt dalam surah al Muthaffifin (83: 1-3):

�لَّ اني ِ َ إ�اذَ ٱكۡ لاتَ اوُ عْ �لَ َ ٱنلشسَيساَّ ِ وت َۡ فۡ و٢ نوَ اُ َ إلكا َ ذَ هوُ أُ ۡ و ٱِ

َ ين ١

ِ ف

ُ َ فط

ۡ م ل

ِ ٞ ل

ۡ ل

َ ي و

ۡ ُۡ

ُسِي

َ نو ٣

َّ َ ُنز

ُ هو

و

“Celakalah bagi orang yang curang, yaitu orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

6. Tidak Menjelekkan Bisnis Orang Lain

“Janganlah seseorang diantara kalian melakukan jual beli dengan menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim) 7. Bersih dari Unsur Riba

Firman Allah swt dalam surah al Baqarah (2: 278): ِ

(31)

31

َ ٱاوقَُّتْ � ٱولل ََّ ذَ َ اور ُ بام ْ َ قَ يِ مَ �نِ َ رلٱ بِ ا ٓوا َٰ ْ إكنمؤ ۡم تنُ ُ نِ ٢٧٨ين

�ْ ُ يَ�ٰ ٓ� أي � َ ا ٱلَّ ءنيَ َ ِ نمَااو Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman 8. Tidak Menimbun Barang

“Siapa yang merusak harga pasar, sehingga harga tersebut melonjak tajam, Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari kiamat.” (HR. At- Thabrani)

9. Tidak Melakukan Monopoli

Firman Allah swt dalam surah al Hasyr (59:7):

ٰ َ لِ ۡ ه� ٱلرق ُۡ فىَ ٰ لَ و لَِّ َ ِ ل رلِ ولوِ سُ َ َّ �يل ِِ ٱلو ب َٰ ۡرقَ ُۡ � ٱلۡ يتَ َ�مٰ ى � أِ

ۡ ن ِ ۦ م

َ ُ س

ِ لو

ٰ ر

َ َ ل َُّ

لل ع ٱ

� َ َ ءٓا

� ف

َّ

ٓام أ

َّ ُ س

ُ لو رلٱ ُُ

ك

ٰ ىَتا

َ َ

َ ٓام ء و

ِ ُ

ۡ كن

ِ م ءٓا

َ ِ ي

ۡل أ

ۡ نغ ٱ َينۡ

َ ۢ ب

َ ُ ك

َ نو

ُ د

َ لو

َ ل بِسَّ

ِ لي

َ ۡك

َ ل ي ٱ

ۡ ِ ن

� ب ٱ

َ ٰ

ِ ك

ِ ين و

َ َ س

ۡ م ل

ٱ

َ و

ِ َ ق

ِ با ٧

ۡ ع ل ٱ ََّ

لل َ

ِ د

ُ دي

� ٱ

َّ

ن

� إ

ۖ ا ََّ

لل ٱ

ْ اوقَُّت ٱ

َ و

ْ ُ او

َ تن ٱ

َ�

ُ ۡ ك

َ هُن ۡع

ف

ٰ َ ى

َ َ ام

َ ن

َ ُ ذُخ

ُ هو و

ف

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orangorang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya 10. Mengutamakan Kepuasaan Pelanggan

Rasulullah pernah menunggu pembelinya, Abdullah Ibnu Abdul Hamzah selama tiga hari. Abdullah bin Abdul Hamzah mengatakan, “Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum beliau menerima tugas kenabian, dan karena masih ada suatu urusan dengannya, aku berjanji mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ke tempat aku bertransaksi dengan beliau, dan menemukan Nabi masih berada di sana. Nabi berkata, ‘Engkau telah membuatku resah, aku berada

(32)

32 di sini selama tiga hari menunggumu’.” Rasulullah terkenal sebagai pembisnis ulung karena beliau tidak pernah mengecewakan pelanggannya.

11. Membayar Upah Pekerja Sebelum Keringatnya Kering

Islam menekankan kepada setiap pengusaha agar memberi upah yang setimpal atau layak kepada para pekerjanya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Swt., berfirman, “Aku akan bertindak sebagai penuntut pada hari pembalsan melawan tiga orang: (diantaranya) orang yang menyuruh pekerja bekerja dan mengambil semua (hasil) kerja, namun tidak memberinya upah (penuh).” (HR. Bukhari)

12. Teguh Menjaga Amanah

Para pembisnis harus mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) yang ada dipundaknya. Mampu bertanggung jawab atas setiap usaha, pekerjaan, atau jabatan sebagai pembisnis yang telah menjadi profesinya.

13. Toleran dalam Berbisnis

Hadits “Allah mengasihi orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli, serta melunasi utang.” Setiap pembisnis hendaknya tidak hanya memikirkan keuntungan materi semata, namun juga peduli terhadap nasib rekan dan mitra bisnis serta lingkungan di sekitarnya.

14. Menepati Janji

Bisa memegang janji yang diucapkannya sendiri, baik terhadap pelanggannya maupun diantara sesama pedagang.

15. Murah Hati

Ramah, sopan santun, murah senyum, namun tetap penuh tanggung jawab.

“Allah berbelas kasih kepada orang yang murah hati ketika ia menjual, bila membeli dan atau ketika menuntut hak.” (HR.Bukhari).

16. Tidak Melupakan Akhirat

Simak firman Allah swt dalam surah ash Shaff (61:10-11): ُ َ١٠ ن ِ نو ُت

ۡ مؤ

ِ ي

� ل

َ َ ذ با أ

ِ ۡ ن ع

َ ة ُت

ِ جن

ُ كي م

ٰ ر

ٰ ِ

َ ـت

َ َ ل ُ

ۡ ك ع

ُ لد

ْ َ هۡ

ل أ

ُ او نمَا

َ ِ

َ ني ء

َّ

ل

ٱَ

ا

� ي أ

ٓ�

ٰ

َ�

ي

ۡ ُ

ُ تن ن ك إ َُّ ۡ ك ا

ٞ ل

ِ ُ

ۡ ك

َ ي ۡخ

ٰ ل َ ذ

� ُ فن ُسِ

ۡ ك أ

َ ِ

ُ ۡ ك و ل

ٰ َ

ومۡأ ِ ِ

ب

َّ

لل ٱ

ٰ ُ دِه ِنوَ ف بِسَ

ِ لي

َ ـ

ُ ت

َ ِ ۦ و

َ ُ س

ِ لو

َ ر

ِ و

َّ

لل ٱ

ِ ب

ُ َ نو ١١

َ م

لعَۡت Hai orang-

orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang

Referensi

Dokumen terkait

Bahkan dapat dikatakan, bahwa seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab sosial, etika merupakan

Yaitu lingkungan yang berada diluar kegiatan bisnis yang tidak mungkin dapat dikendalikan begitu saja oleh para pelaku bisnis sesuai dengan keinginan perusahaan.. Malah

Keuntungan yang diperoleh pelaku UMKM dari fasilitas Online Webstore Pusat Komunikasi Bisnis adalah : (1) Pelaku UMKM mendapatkan media pemasaran dan penjualan online,

(De George, 1993), Dengan demikian terciptanya praktek bisnis yang ideal adalah sikap dan kesadaran moral yang baik pada pelaku bisnis di satu pihak tetapi di pihak

Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Tidak semua yang

Namun tidak sesuai dalam prinsip-prinsip etika bisnis Islam yaitu dalam prinsip tauhid dimana pemberi modal juga mengejar keuntungan dari petani melalui pemotongan hasil panen,

Ditengah maraknya pengguna sosial media di Indonesia maka banyak berdatangan para pelaku bisnis online yang menggunakan media sosial sebagai tempat menawarkan

Technopreneur merupakan penggabungan teknologi dan entrepreneur, di mana pelaku bisnis memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang usaha dengan tujuan memperoleh