• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buaya Perompak

N/A
N/A
Rap Monster

Academic year: 2024

Membagikan "Buaya Perompak"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

I. CERITA RAKYAT

(2)

1. Buaya Perompak  

Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Setiap nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati.

Begitupula penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu.

Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.

Sementara itu, di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Ia adalah si Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.

“Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.

Dengan sekuat tenaga, Aminah bangkit dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua.

“Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini. Tapi, milik siapa ya?”

tanya Aminah dalam hati.

Baru saja Aminah mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lelaki menggema.

“Hai, Gadis rupawan! Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.”

Alangkah terkejutnya Aminah, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat samar-samar seekor buaya besar merangkak di sudut gua.

(3)

“Anda siapa? Wujud anda buaya, tapi kenapa bisa berbicara seperti manusia?” tanya Aminah dengan perasaan takut.

“Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya, tapi sebenarnya aku adalah manusia seperti kamu. Wujudku dapat berubah menjadi manusia ketika purnama tiba.,” kata Buaya itu.

“Kenapa wujudmu berubah menjadi buaya?” tanya Aminah ingin tahu.

“Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat.

Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang.

Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,” jelas Buaya itu.

“Lalu, bagaimana jika Anda lapar? Dari mana Anda memperoleh makanan?

” tanya Aminah.

“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. Tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,” ungkap Buaya itu.

Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Aminah. Secara seksama, ia telah menyimak dan selalu akan mengingat semua keterangan yang berharga itu, agar suatu saat kelak ia bisa melarikan diri dari gua itu.

“Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?” tanya Buaya itu.

“Namaku Aminah. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai Tulang Bawang,” jawab Aminah.

“Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?” tanya Aminah

“Ada apa gerangan, Aminah? Katakanlah!” jawab Buaya itu.

“Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?” tanya Aminah heran.

“Ketahuilah, Aminah! Aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu. Kamu adalah gadis cantik nan

(4)

rupawan dan lemah lembut. Maukah Engkau tinggal bersamaku di dalam gua ini?” tanya Buaya itu.

Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup. Sejenak, ia terdiam dan termenung.

“Ma… maaf, Buaya! Aku tidak bisa tinggal bersamamu. Orangtuaku pasti akan mencariku,” jawab Aminah menolak.

Agar Aminah mau tinggal bersamanya, buaya itu berjanji akan memberinya hadiah perhiasan.

“Jika Engkau bersedia tinggal bersamaku, aku akan memberikan semua harta benda yang ada di dalam gua ini. Akan tetapi, jika kamu menolak, maka aku akan memangsamu,” ancam Buaya itu.

Aminah terkejut mendengar ancaman Buaya itu. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Sejenak ia berpikir mencari jalan agar dirinya bisa selamat dari terkaman Buaya itu.

“Baiklah, Buaya! Aku bersedia untuk tinggal bersamamu di sini,” jawab Aminah setuju.

Rupanya, Aminah menerima permintaan Buaya itu agar terhindar dari acamana Buaya itu, di samping sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa melarikan diri dari gua itu.

Akhirnya, Aminah pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua.

Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah.

Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra.

Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.

Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, Aminah pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

“Wah, ini kesempatan baik untuk keluar dari sini,” kata Aminah dalam hati.

Untungnya Aminah sempat merekam dalam pikirannya tentang cerita Buaya itu bahwa ada sebuah terowongan yang menghubungkan gua itu dengan sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang. Dengan sangat hati-hati, Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Ia sudah tidak sempat berpikir

(5)

untuk membawa harta benda milik sang Buaya, kecuali pakaian dan perhiasan yang masih melekat di tubuhnya.

Setelah beberapa saat mencari, Aminah pun menemukan sebuah terowongan yang sempit di balik gua itu dan segera menelusurinya. Tidak lama kemudian, tak jauh dari depannya terlihat sinar matahari memancar masuk ke dalam terowongan. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi ia akan sampai di mulut terowongan. Dengan perasaan was-was, ia terus menelusuri terowongan itu dan sesekali menoleh ke belakang, karena khawatir Buaya Perompak itu terbangun dan membututinya. Ketika ia sampai di mulut terowongan, terlihatlah di depannya sebuah hutan lebat. Alangkah senangnya hati Aminah, karena selamat dari ancaman Buaya Perompak itu.

“Terima kasih Tuhan, aku telah selamat dari ancaman Buaya Perompak itu,

” Aminah berucap syukur.

Setelah itu, Aminah segera menyusuri hutan yang lebat itu. Setelah beberapa jauh berjalan, ia bertemu dengan seorang penduduk desa yang sedang mencari rotan.

“Hai, Anak Gadis! Kamu siapa? Kenapa berada di tengah hutan ini seorang diri?” tanya penduduk desa itu.

“Aku Aminah, Tuan!” jawab Aminah.

Setelah itu, Aminah pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di hutan itu. Oleh karena merasa iba, penduduk desa itu pun mengantar Aminah pulang ke kampung halamannya. Sesampai di rumahnya, Aminah pun memberikan penduduk desa itu hadiah sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.

Akhirnya, Aminah pun selamat kembali ke kampung halamannya. Seluruh penduduk di kampungnya menyambutnya dengan gembira. Ia pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang.

(6)
(7)

2. Kalila dan Damina  

Ada seekor lembu benama Sjatrabah yang mengikuti tuannya membawa barang  dagangan untuk berniaga, saat  sampai di sebuah hutan, Sjatrabah terperosok kesebuah lubang lumpur. Tuannya mencoba untuk membantunya, tapi ia gagal. Tuannya pun meninggalkan Sjatrabah dengan seorang hambanya, hambanya itu juga berusaha mengeluarkannya dari lubang tersebut, tapi ia juga gagal seperti tuannya tadi. Hamba tadi juga mengikuti tuannya  meninggalkan Sjatrabah. Akhirnya Sjatrabah sendiri yang berusaha mengeluarkan dirinya sendiri  dari lubang  lumpur tersebut,  dengan berbagai cara yang dilaluinya akhirnya ia bisa mengeluarkan dirinya sendiri dari lubang lumpur tersebut.

 Sjatrabah bingung, karena ia tidak  tahu bagaimana cara menemukan tuannya yang meninggalkannya tadi. Karena hari sudah mulai gelap, ia memutuskan untuk sementara  menetap dihutan tadi. Ia memilih untuk lebih masuk kedalam hutan tadi dan  memakan  rerumputan yang ada di sana.

Suara remasan rumput dimulutnya itu terdengar hingga ke telinga Raja Singa, Raja Singa pun khawatir  mendengar  suara tersebut,  karena  di hutan itu juga banyak  hewan buas.  Diantaranya adalah Kalila dan Damina yakni  dua serigala yang bijak, pandai dan bertugas mencari makan untuk  Raja Singa,  namun akhir - akhir  ini Kalila menjadi  jengkel  karena Raja Singa jarang mengunjungi  rakyatnya,  Kalila pun menceritakan  hal  itu  kepada sahabatnya Damina.

Setelah mendengar cerita tersebut Damina menghadap ke Raja Singa dan menjelaskan perihal masalah tersebut, Damina memberi sebuah solusi.

Setelah beberapa lama, datanglah Damina  bersama Sjatrabah, Sjatrabah pun menceritakan apa saja yang terjadi, ia pun diperbolehkan Raja Singa untuk  tinggal menjadi rakyat. Raja Singa sudah  mulai  percaya  terhadap Sjatrabah, karena ia mulia, baik dan ikhlas  dalam berkawan. Ternyata kedekatan Sjatrabah  dengan Raja Singa tidak segani oleh Damina. Damina merasa posisi

(8)

sudah diambil alih oleh Sjatrabah. Damina sudah mempersiapkan rencana  untuk menghancurkan Sjatrabah, ia menyebarkan fitnah untuk Sjatrabah.

 Akhirnya Raja Singa percaya  dan menyuruh Sjatrabah untuk dibunuh, sebenarnya dalam hati, Raja Singa sangat berduka atas  kematian sahabatnya itu. Kejahatan tidak akan selamanya tertutupi, ternyata  fitnah yang dilakukan Damina mulai diketahui oleh Ibu Raja Singa. Lalu, beliau menemui Raja Singa dan mengatakan  kepadanya bahwa kematian  Sjatrabah   karena fitnahan dari Damina. Mendengar hal itu Raja Singa pun memerintahkan para ajudannya untuk menangkap Damina dan memenjarakannya. Kalila, sahabat Damina sangat rindu kepadanya, sampai terlalu lama menuggunya ia hingga mati.

Akhirnya, Damina  dijatuhi hukuman mati. Ia menerimanya  karena ia sudah tidak sanggup lagi  sebas sudah kehilangan sahbatnya Kalila.

3. Si Penakluk Rajawali

Dahulu, ada seorang raja di Sulawesi Selatan yang memiliki tujuh orang putri. Konon, jika memiliki 7 orang anak, salah satunya harus dipersembahkan kepada seekor Rajawali Raksasa agar keluarga istana terhindar dari mala

petaka. Hal tersebut membuat sang

raja sedih dan memutuskan untuk membuka sayembara. Siapa saja yang berhasil menaklukan Rajawali, jika ia laki-laki maka akan dinikahkan dengan salah satu putrinya. Apabila ia perempuan, maka akan diangkat menjadi anggota keluarga. Oleh karena itu, banyak warga yang berbondong-bondong untuk menyelamatkan putri kerajaan. Namun, tidak ada satupun yang mampu mengalahkan Rajawali.

Saat Rajawali Raksasa mendekat dan hendak memakan sang putri, datanglah seorang pemuda yang menyelamatkannya dengan seutas tali dan badik. Ia pun sukses menikam dan membunuh Rajawali. Sang putri pun akhirnya selamat dan bisa kembali ke kerajaan dengan perasaan lega dan tenang. Sayangnya, pemuda itu lantas pergi dan tidak datang untuk meminta upahnya. Oleh karenanya, raja pun

(9)

membuka kembali sayembara untuk menemukan penakluk rajawali tersebut.

Oleh sebab itu, banyak sekali warga yang mengaku-ngaku telah menyelamatkan sang putri. Untungnya, sang putri masih mengenali wajah laki-laki yang telah menyelamatkannya. Ia pun berhasil menemukan penyelamatnya tersebut.

Raja pun bertanya, “kenapa kamu tidak datang ke kerajaan, untuk menagih janji atas keberhasilanmu menyelematkan anakku?” Anak laki-laki itu pun menjawab, “aku menyelematkan sang putri bukan karena hadiahnya, tapi hamba tulus. Kalaupun baginda raja ingin menikahkan kami, hamba ingin semua itu berdasarkan permintaan sang putri.

” Sang putri pun

mengatakan jika ia telah menyukai laki-laki tersebut sejak awal bertemu. Pada akhirnya, mereka hidup bersama dan bahagia selamanya

II. CONTOH TEKS

CERPEN

(10)

1. Wisata Ke Pantai Bajul Mati Saat Libur Sekolah

Sudah sejak seminggu lalu orangtuaku berencana untuk liburan ke pantai, mengingat aku dan adik sedang liburan sekolah, sekaligus sebagai hadiah karena kemaren lusa adikku merayakan ulang tahun.

Jam masih menunjukkan pukul 04.56 pagi, tapi aku dan keluarga sudah bersiap pergi ke pantai Bajul Mati.

Kami berangkat sepagi ini karena jarak dari rumah ke pantai sekitar 3 jam perjalanan. Untuk mengganjal perut kami, ibu telah menyiapkan roti isi telur favoritku. Perjalanan kami tempuh menggunakan mobil. Dalam mobil ada aku, adik perempuanku, ayah dan ibu. Aku dan adik dilarang membawa handphone oleh ayah dan ibu agar lebih menikmati perjalanan dan liburan itu sendiri. Untuk menghabiskan waktu aku bermain “tebak nama berdasarkan huruf" bersama adikku yang hanya terpaut 2 tahun dariku.

Langkah pertama dalam permainan ini kami menentukan temanya dahulu, kali itu tema yang kami pilih adalah hewan. Selanjutnya Kami meminta bantuan ibu untuk menyebutkan huruf depan nama hewan yang akan kami tebak. Jika ibu bilang huruf “M" maka aku dan adikku adu cepat dan adu banyak dalam menyebutkan nama hewan yang memiliki awalan “M", seperti monyet, merak, merpati dll.

Setelah tema hewan kami mulai berganti tema menjadi nama buah, nama karakter komik, nama negara, dll. Tak jarang ayah tiba-tiba ikut menjawab walaupun dia bukan peserta resmi permainan. Tidak ku sangka jika permainan sesederhana ini ternyata begitu menyenangkan dan menghibur. Tak terasa dua jam sudah berlalu. Kami mulai memasuki daerah perbukitan. Aku dan adik mulai memperhatikan pemandangan dengan seksama. Kami terpesona karena melihat hamparan sawah di bawah yang begitu indah. Sayangnya aku hanya bisa menikmati pemandangan tersebut sebentar saja, karena setelah itu aku pusing dan mual akibat jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun. Ibu memberikanku minyak kayu putih.

Aromanya benar-benar bisa mengurangi mual yang aku alami.

(11)

Akhirnya kami sekeluarga tiba di Pantai Bajul Mati. Pantai ini terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kami segera menuju ke gazebo kecil yang ada di beberapa lokasi pantai. Sambil menikmati angin laut, kami makan bersama dulu. Menu kami kala itu adalah ayam goreng dan sosis. Memang masakan ibuku rasanya enak

sekali. Aku tidak

bisa berhenti takjub melihat indahnya pantai ini. Pantai Bajul Mati memang belum terlalu terkenal, sehingga belum banyak pengunjung yang datang.

Namun pantainya masih sangat bersih yang membuat kami sekeluarga

nyaman. Aku dan adikku tak sabar untuk

bermain, jadi kami langsung berlari ke arah tepi pantai. Kami tidak mengindahkan perkataan ibu yang menyuruh kami memakai sunblock terlebih dahulu. Rasanya segar ketika air laut mengenai kaki kami.

Di tepi pantai aku menemukan ranting kayu yang panjang. Akhirnya aku ambil dan menyeretnya sepanjang perjalan.

Setelah berjalan beberapa saat kami sampai di muara, yaitu tempat pertemuan air sungai dan air laut. Kami berhenti dan melihat ke belakang, terlihat garis panjang di pasir hasil ranting kayu yang aku seret daritadi. Entah kenapa aku dan adikku merasa garis tersebut sangat keren. Selanjutnya kami memutuskan untuk berenang dulu di muara. Karena arusnya tenang tidak

seperti di laut. Kami

berenang sekitar 15 menitan, sebelum orangtua kami memanggil, menyuruh kami ke tepi laut. Kami sekeluargapun bermain air. Ayah mengajak kami duduk bersila membelakangi laut. Saat ombak datang kami terseret ke pantai.

Rasanya sangat seru, karena kita tidak melihat kapan ombak datang.

Sementara ibu hanya bermain air di tepi pantai dan memotret kami melalui

kameranya. Setelah puas bermain air,

ayah mengajak kami menulis di pasir. Tulisan yang kami buat saat itu adalah “Happy Family". Ketika melihat hasil potretan ibu di kameranya, ternyata bagus juga.

(12)

dan ibu mengajak kami untuk membersihkan diri. Setelah bersih, kami sholat dhuhur berjamaah di mushola dekat tempat kami mandi. Acara dilanjutkan dengan menikmati bakso hangat di warung di pinggir pantai, rasanya enak sekali makan sambil melihat keindahan pantai.

Saat perjalanan pulang aku dan adik tertidur pulas. Saat kami bangun, tahu-tahu kami sudah berada di rumah. Sungguh menyenangkan liburan kali ini. Aku tidak sabar ke pantai lagi bersama ayah, ibu dan adik. Aku pun kembali tertidur sampai pagi karena masih kecapekan.

(13)

2. Setetes Air Mata

“Ngiung… ngiung… ngiung…” suara itu terdengar begitu jelas ditelingaku. Kereta jenazah atau mobil jenazah adalah kata yang cocok digunakan untuk mendefinisikan sumber suara yang memekakan telinga itu.

Aku baru menyadari apa yang membuat suara itu terasa begitu dekat. Ya, tepat sekali. Mungkinkah kau sudah mengetahui kejadian yang ku alami beberapa saat yang lalu. Kejadian dimana aku harus melihat keadaan Ibu yang sudah tak bernyawa. Kondisi Ibu saat itu memang sudah memasuki masa kritis. Yang ku sesali, haruskah aku melihat ibu terakhir kali dalam keadaan tak bernyawa. Tak bisakah aku berusaha menemaninya saat malaikat pencabut nyawa mendatanginya dan membantu sebisaku agar Ibu mengucapkan Kata “ La illaha illallah” untuk terakhir kalinya yang menjadikan Ibu meninggal dalam

keadaan khusnul khatimah. Ibu telah

meninggalkan kehidupan yang fana ini menuju kehidupan yang kekal. Kau tau dimana kita hidup tapi tak akan mati?. Tempat itu bernama negara akhirat.

Sekarang Ibu sedang berada di kampung Barzah. Tanggal 26 agustus 2015 sekitar pukul 18.15 Ibu sudah dipastikan meninggal dunia. Pantas saja hatiku tak tenang beberapa hari sebelumnya rasanya ingin sekali pulang dan menjaga Ibu agar aku tidak termasuk anak durhaka yang tidak memperdulikan Ibunya sedang sakit. Tapi apalah daya usaha apapun yang aku lakukan sia – sia. Aku tau sekarang Panti Asuhan adalah rumah utamaku dengan segala hak dan kewajiban yang menuntut untuk tidak dilanggar. Sekali pengurus bilang begini akupun harus begini. Itulah yang terjadi saat aku ingin pulang menemui ibu yang keluar masuk Rumah Sakit sejak Februari 2015 sampai akhirnya Ibu menghembuskan nafas terakhir bulan Agustus 2015.

Tujuh bulan adalah masa tersulit yang pernah ibu lalui. Aku tau seperti apa sakit yang Ibu rasakan saat itu karena terlihat jelas dari wajahnya yang menahan rasa sakit yang amat sangat.

Sakit yang Ibu derita tak sepenuhnya kuketahui seluruh

(14)

penyakit yang Ibu derita secara detail termasuk Ibu sendiri juga menututup – nutupi penyakitnya itu. Hanya Infeksi Lambung yang dikatakan bapak padaku.

Tapi aku tidak sepenuhnya percaya karena Ibu juga mengalami penurunan

berat badan yang sangat drastis. Sekarang

pikiranku melayang ketahun 2014 saat itu Ibu tertawa senang dengan baju, krudung yang pernah aku beli untuknya. Tapi ada satu benda yang tidak aku berikan langsung kepada Ibu. Mukena warna nila yang akhir – akhir ini aku pakai. Kupikir jika aku suka mungkin Ibu akan suka juga tapi ternyata tidak.

Saat aku pulang dang menanyakan mukena itu ternyata tidak pernah dipakai dan dia bilang ingin dibelikan mukena yang berwarna putih. Ibu mengembalikan mukena yang aku kasih. Dan sejak saat itu aku berniat untuk membelikan ibu mukena berwarna putih. Tapi niat baikku tidak ditakdirkan untuk tercapai.

Aku tahu Ibu adalah orang yang baik, tapi Ibu juga seorang pemikir. Ibu tidak bisa tidak peduli dengan ucapan orang lain tentang dirinya ataupun keluarganya. Saat Ibu mendengar gosip para tetangga dia selalu memikirkan gosip itu dan harus ada teman curhat yang dengan suka rela mau mendengarkan apapun yang Ibu katakan dan memberikan motivasi agar ibu tidak down. Ibu bukanlah komunitas Ibu - ibu yang senang berkumpul untuk menggosipkan tetangganya sendiri. Tanpa melihat aib dirinya sendiri.

Terakhir melihat wajahnya saat di ruang ICU RSU Saiful Anwar. Terlihat jelas ibu yang sudah tak bernyawa. Sesaat sebelumnya aku sampai di rumah sakit jam 4 sore tapi tapi tidak diijinkann masuk oleh petugas keamanan. Dan aku harus bersabar untuk menemui ibu tapi tak terpikir ini adalah terakhir kalinya bertemu. Hingga adzan maghrib berkumandang dan aku segera ke Mushola untuk menunaikan sholat. Saat itu aku berdo’a untuk ibu “Ya Allah, Aku tahu Ibu sekarang dalam keadaan kritis dan ini adalah takdirmu. jika memang Ibu bisa sembuh, segera sembuhkanlah ya Allah dan hilangkan semua penyakit dalam tubuhnya saat ini. Tapi jika sakit ini adalah tanda – tanda datangnya kematian Ibu aku ikhlas menerimannya. Dan semoga sakit

(15)

yang ibu derita selama ini bisa menghapus dosa – dosa Ibu lalu. Amiin”. Aku aku tidak salah mengucapkan do’a kepadamu ya Allah. Usai sholat maghrib aku berencana untuk pulang agar besok bisa mengikuti pembelajaran. Tapi terlebih dahulu berpamitan kepada Ibu. Untung saja satpam yang satu ini baik dan mengijinkan aku dan kakak masuk menemui ibu karena aku tak berani masuk sendirian walau sebelumnya dengan memelas kepaada satpam. Saat itu aku melihat ibu terdiam. Aku merasa sedikit aneh pada kondisi Ibu saat itu tapi aku tidak memberitaku kakak. Disamping ibu aku mendo’akan kesembuhannya dan bisa berkumpul bersama lagi. Aku terus berpikir keanehan apa yang aku maksut atau itu hanya perasaanku saja.

Selang oxygennya sepertinya mati karena jarum spidonya tidak bergerak – gerak mungkinkah alat itu mati atau Ibu sudah tak bernafas. Kakak menyadarinya dia yang sedari tadi menggenggam tangan Ibu erat sambil menangis lalu dia berkata “ka, tangan Ibu begitu dingin”. Deg.. deg…

jantungku berdegub kencang mungkinkah Ibu sudah benar – benar meninggalkanku tuk selamanya. “Ibu sampean sudah meninggal nak”kata wanita sebelah ranjang Ibu yang sedang menjaga suaminya itu. Air mata tak teralkan lagi. Kakak segera memanggil petugas dan di berkata “bagaimana ini, kok sampai meninggal tapi tidak diketahui”.

“Maaf, tapi memang sebelumnya Ibu mbak memang dalam keadaan kritis”.kata petugas medis.

Mungkin Ibu meninggal tanpa meronta – ronta kesakitan saat nyawanya diambil malaikat Izrail. Aku bersyukur jika itu benar, dan semoga Ibu termasuk orang – orang yang mati dalam keadaan khusnul khatimah amiin.

Saat Ibu sudah dipastikan Maninggal Dunia aku dan kakak segera keluar ruang ICU dan mencari bapak serta keluarga yang ikut menjaga Ibu. Kakak yang sejak tadi menangis sampai tak kuat untuk berjalan dan sekarang akulah yang harus kaut. “mbak Anjar jangan nangis, kuatlah mbak anjar” kataku menguatkan hati kakakku. Walau dia bukan kakak kandungku. Tapi kita bagaikan adik

(16)

sudah merawatnya sejak kecil sebelum aku entah lahir di dunia. Perasaan kita berdua sudah menyatu dengan Ibu. Tangisku membuatku merasa tak sadarkan diri. Pikiranku melayang entah kemana. Tapi, Bapak yang berusaha menenangkanku elusan tangannya mampu membuyarkan lamunanku. Sadar ika, sadar. Tataplah tubuh ibumu yang sekarang berada di depanmu. Lihatlah tubuh yang sudah lemah tak berdaya ditutupi selimut bergaris hitam putih masih ingatkah engkau. Ketika ibumu menyuruhmu menyuruh mengerjakan sesuatu tapi, kamu tak mau memenuhinya malah kamu membentak – bentaknya. Tak merasa durhakakah kamu ika. Saat kamu tengah melakukan pekerjaan yang menurutmu itu adalah hobbi tapi kau malah tak menghiraukanpanggilan ibumu. Ibu tak pernah memarahiku, dia selalu merawat dan memberi kasihsayang yang tulus kepada keluarga kecilnya ini. Ketika ku ingat semua perlakuan yang sudah kuperbuat pada ibu dulu air mata ini tak bisa berhenti menetes membasahi pipi kanan kiriku yang terus mengalir di kerudung ping yang malam ini sedang ku kenakan.

Sudahkah ibu memaafkan semua perlakuanku yang buruk kepadamu ibu.

Waktu akan terus bergulir dan tak akan berhenti tanpa izin dari sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT atau mungkin baterai jamnya habis. Sekitar jam 9 malam aku masih berada di tengah – tengah perjalanan menuju rumah tapi kenapa air mata ini tak mau berhenti sampai – sampai bapak mengelus – elus pundakku mungkin untuk memotivasi aku untuk kuat menerima semua ini karena ini sudah takdir dari Allah.

(17)

3. Siksaku Karenamu

Namaku Ayu. Mereka memanggilku Ayu Ting ting, meski kini aku sudah tidak ting-ting lagi. Nama itu diberikan oleh dunia yang kini membesarkan namaku. Mereka menyebut itu dunia Entertainment. Dunia Hiburan. Tapi bagiku semua yang ada didalam sana adalah kepalsuan. Kemunafikkan.

Mereka yang berada didalamnya tak sadar akan hal itu. Hanya mereka yang pernah berada diposisiku sekarang yang tahu akan hal itu. Orang bilang cinta adalah kenikmatan dunia yang paling indah. Sesuatu yang indah yang harus dikenang oleh setiap pecinta. Kali ini, Akan kuberitahu kau tentang perihnya cinta. Aku akan menceritakan kisah ini pada kalian semua. Tentang siksa cinta yang membuat bahagia. Siksa panjang tanpa akhir. Siksa yang juga akan kau rasakan dalam setiap nafasmu. Siksa yang banyak orang ingin rasakan. Termasuk kalian, Para Pecinta.

“Dengarlah kisahku, tentang siksa cinta yang juga akan kau rasakan.”

Dia bernama Enji. Ia tampan, gagah, dan penuh wibawa. Namanya tertulis indah dihatiku, Dulu. Badannya terawat baik, kepalanya plontos tampak mengilat tertimpa cahaya. Badannya yang tegap, hidungnya yang mancung, dan bibir mungilnya mendapat tempat yang lebih di hatiku.

Pertemuan kami berawal saat namaku mulai melejit karena single Alamat Palsuku yang mulai populer di masyarakat. Lagi-lagi sebab dunia keartisan itu.

Aku mengenalnya lewat teman satu menagementku. Panggil saja dia Bayu.

Ajakannya untuk mengenal Enji kurespon positif. Karena aku mengenal baik Bayu. Pilihannya untukku takkan salah.

Aku dan Enji berkenalan. Aku melihat mata dengan tatapan tajam disana. Aku tergetar saat pertama melihatnya. Aku tahu aku menaruh hati padanya. Pertemuan kami berlanjut.

Kami mulai mengenal satu sama lain. Enji sering mengantarku bernyanyi.

Kami merasa cocok. Ia memintaku menjadi kekasihnya. Aku mengangguk

setuju. Hari-hari

(18)

kemesraan kami di depan publik. Kami ingin dunia iri dengan kami.

Selanjuttnya, tak perlu kuceritakan hari-hari kasmaranku bersama Enji itu.

Karena kalian semua pasti tahu bagaimana kebiasaan orang yang sedang dimabuk cinta. Lagi pula kalian pasti sudah sering melihat berita kami di Tv.

Menceritakannya hanya akan menambah panjang goresan luka dihatiku.

Malam itu, apa yang ku harapkan terjadi. Malam telah larut, sebentar lagi kafe yang Aku dan Enji datangi akan tutup. Tapi sebuah band main disana.

Tanpa pengeras suara, mereka memainkan sebuah lagu dari Bruno Mars.

It’s a beautifull night

what looking for something that to do Ok Baby, i think I wanna Marry You

Mengalun indah di telingaku. Enji berdiri. Ia memberiku sebuah cincin yang sangat cantik. Enji melamarku. Betapa indahnya hari itu.

Kami berdua sepakat untuk menikah 2 bulan lagi. Pesrsiapan pernikahan kami sudah 40%. Media tahu akan hal ini. Tapi sesuatu terjadi, orang tua kami meminta kami mempercepat pernikahan. Kami belum siap.

Namun akhirnya kami setuju. Tak ada salahnya juga. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti atau apa yang akan orang pikirkan tentang kami nanti, kami pun

menikah. Sesuai dugaan kami, Esoknya

para Paparapzi sialan itu berulah. Mereka menyiarkan kabar kehamilan diluar nikahku bersama Enji. Mereka mencurigai acara pernikahanku yang dimajukan dan mendadak sekali. Ditambah aku yang kini benar-benar hamil.

Komplit sudah ramuan gosip mereka. Ada saja ulah mereka untuk mencari makan. Urusan pribadi kami para Artis pun jadi lahan bisnis.

Berita itu menyebar ke seluruh negeri. Telinga keluargaku panas. Aku hanya bisa menenangkan mereka. Mungkin hal yang sama terjadi pada keluarga Enji. Bukan panas lagi, mungkin telinga mereka sudah terbakar akan beritaku dan Enji di media. Inilah awal konflik rumah tangga kami terjadi. Enji adalah putra keluarga petinggi. Anak

(19)

Mantan Kapolres tepatnya. Seperti yang kita tahu, berita tentang mereka yang sedikit tidak menyenangkan hati saja bisa menjadi aib yang sangat besar bagi mereka. Mungkin ini yang menyebabkan mereka, keluarga Enji, sangat benci padaku. Pertengkaran kami pun dimulai.

Aku melihat sesuatu telah berubah dalam diri Enji. Ucapannya mulai menyakiti hatiku. Apa karena keluarganya. Entahlah. Aku tak tahu. Kami mulai sering bertengkar kecil.

Hingga tiba hari itu. Udara

sedang cerah. Matahari kuning menyala di atas cakrawala. Namun, susana pagi itu tak selaras dengan prahara yang terjadi hari ini. Enji dan aku duduk di sofa tua berwarna hijau toska diruang keluarga rumahku. Kami membahas masalah resepsi. Aku mengatakan keinginanku untuk segera mempercepat acara resepsi pada Enji. Enji menolak. Aku menerima jika ia menolak, tapi saat itu tolakkannya, perkataan Enji sangat menyakiti hatiku. Dan jika orang tuaku mendengarnya, mereka pasti sedih. Aku kesal pada Enji. Kami bertengkar hebat. Enji pergi dari rumah. Sudah 2 minggu Enji tak kembali.

Ayah dan ibuku cemas akan keadaanku dan janin yang ada di perutku. Berkali- kali kami coba hubungi Enji, tapi tak ada respon. Dua hari kemudian Enji pulang kerumah, ia datang tanpa rasa bersalah dan tak mengatakan kemana ia selama ini. Ayahku naik pitam, ia sangat kesal pada Enji. Mungkin ayah stress karena berita di Tv sudah tak karuan tentang kami. Berkali-kali kucoba menenangkannya, tapi usahaku itu gagal. Ayah membentak Enji, “Bagaimana sikapmu sebagai seorang suami, pergi tanpa pamit!, berita bodoh sudah menyebar dimana-mana!” “Sudahlah yah! Enji kan baru sampai!”, ucapku untuk sekedar mencairkan suasana.

“Diam Ayu, biar ayah yang urus semua ini, dan kamu Enji, inikah tanggung jawabmu pada Ayu?”tanya Ayah masih dengan nada tinggi. Enji mulai tidak tahan. Mata yang dulu kucintai itu melotot. Dadanya naik turun menahan nafsu. Kurasa akan terjadi prahara besar.

(20)

Tamatlah aku. Perdebatan sengit itu terus berjalan hingga mentari meninggi. Hingga keluarlah kata itu, kata yang tak pernah kubayangkan Enji akan mengucapkannya di pernikahan kami yang baru seumur jagung ini.

“Talak”. Jlep....!!! seperti ada pedang

menyala menusuk hatiku. Pedang itu menyayat-nyayat kalbu dan membelah tubuhku menjadi berkeping-keping. Aku tercekat. Dunia seakan berhenti berputar. Darahku membeku.. Di pernikahan kilat ini, Enji menceraikanku. Ia menalakku dikondisiku yang sedang hamil. Aku Pingsan. Dunia begitu pekat.

Dua minggu berlalu dengan sangat lambat. Kini aku sudah merasa baik. Aku sudah tak peduli lagi apa yang orang bicarakan tentangku, tentang kami. Aku pun sudah menghapus gambar Enji di memori otak dan hatiku. Masa bodoh, biar gosip itu menambah panjang deret permasalahanku. Enji, Keluarga Enji, Wanita-wanita Enji, serta masa lalu Enji, aku tak peduli. Kini aku ingin fokus pada buah hatiku. Janin yang ada dalam rahimku. Anak yang akan aku besarkan dengan sepenuh hati dalam hidupku. Karena aku, Ayu ting-ting, adalah ibu dari anak ini. Anakku dengan Enji.

(21)

III. CONTOH TEKS

HIKAYAT

(22)

1. Abu Nawas: Pesan Bagi Hakim  

Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.

Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata cara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan men-do’akannya. Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.

Namun..,demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.

Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.

Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.

“Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana.” kata wazir utusan Sultan.

“Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya.”

jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.

“Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.”

(23)

“Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar.” kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. “Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?” kata wazir.

“Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau.” kata Abu Nawas.

“Apa maksudnya Abu Nawas?” tanya wazir dengan rasa penasaran.

“Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu.” sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman- temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.

Dengan geram Sultan berkata,”Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa.”

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.

Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkah- nya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.

“Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda. “Ya Baginda, tahukah Anda……?”

‘Apa Abu Nawas…?”

“Baginda…terasi itu asalnya dari udang !”

“Kurang ajar kau menghinaku Nawas !”

“Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?”

Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya.

“Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali.”

(24)

Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar.

Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.

“Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk kekota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?”

“Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepadaku tadi?”

“lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?”

“Balk, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!”

“Wah ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda.”

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.

Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.

Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.

“Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda.”

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya.”Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?”

(25)

Berkata Abu Nawas, “Ampun Tuanku, sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu

“Apa maksudmu? Coba kau jelaskan seb orang itu?” tanya Baginda.

“Tuanku,”kata Abu Nawas.”Hamba mengadakan perjanjian bahwa jika’hamba diberi hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadial maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali.

“Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau berjanji seperti itu dengan Abu Nawas?” tanya Baginda.

“Benar Tuanku,”jawab penunggu pintu gerbang mengira jika Baginda memberikan hadiah pada abunawas.

“Hahahahaha…….!Dasar tukang peras,

sahut Baginda.”Abu Nawas tiada bersalah bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad suka memeras orang! Kalau kau tidak berubah aku akan memecat dan menghukum kamu!”

“Ampun Tuanku,”sahut penjaga pintu gerbang.

Abu Nawas berkata,”Tuanku, hamba sue tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, pai Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu karena panggilan Tuanku. Padahal besok untuk keluarga hamba.”

Sejenak Baginda melengak, terkejut ate tiba-tiba ia tertawa terbahak- bahak,” Hahahah

Baginda kemudian memerintahkan bem sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas sangat gembira.Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas bahkan semakin nyentrik seperti orang gila.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid rm menterinya.

“Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas sebagai kadi?”

Wazir atau perdana meneteri berkata,”Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi.”

(26)

Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.

“Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.”

“Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja.”

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dinggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.

Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan. “Alhamdulillah….. aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.Tapi….sayang sekali kenapa hams Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja.”

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini: Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.

Berkata bapaknya, “Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku.”

Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.

“Bagamaina anakku? Sudah kau cium?” “Benar Bapak!”

“Ceritakan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku ini.” “Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi… yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?”

(27)

“Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?”

“Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.’;

Berkata Syeikh Maulana.Tada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jika kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun Jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi o!eh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun AI.Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi.”

Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Waiaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

(28)

2. Panji Semirang

Dua buah kerajaan dari dua orang kakak beradik, Ratu Daha dan Ratu Kuripan merupakan dua hal jauh berbeda. Ratu Daha saudara yang tertua, ialah seorang tokoh manusia yang tidak teguh pendiriannya. Setiap kali ia dapat mengubah pendiriannya, karena hasutan selirnya Paduka Liku, ibu Galuh Ajeng. Apalagi setelah ibu Cendra Kirana meninggal dunia, karena tapai beracun yang diberikan Paduka Liku. Untuk mendinginkan kemarahan raja.

Paduka Liku mencarikan guna-guna, sehingga kasih raja berpindah kepadanya. Galuh Ajeng dimanjakan. Dalam semua hal ia ingin didahulukan.

Adiknya, Raja Kuripan, merupakan seorang tokoh yang berhatihati dalam segala tindakannya. Tak putus dari berpikir panjang lebar sebelum ia berbuat sesuatu. Putranya hanya seorang yaitu Raden Inu Kertapati, yang akan dipertunangkan dengan putri saudaranya, Galuh Cendra Kirana.

Saudaranya yang lain adalah Ratu Gageleng. Ia berputra seorang  pula, Raden Singa Menteri, yang suka dipuji dan disanjung. Segala-galanya akan diberinya asal ia dipuji sebagai seorang yang tampan dan gagah, yang melebihi orang lain. Saudaranya yang seorang lagi ialah Biku Gandasari, seorang perempuan, menyisihkan diri dari keduniawian dan bertapa di Gunung Wilis.

Pada suatu seketika, Raden Inu mengirimkan dua buah boneka. Sebuah dari pada emas yang dibungkus dengan kain biasa, sedang yang lain daripada perak, tetapi dibungkus dengan kain sutera yang mahal harganya. Tentulah Galuh Ajeng yang dapat memilih lebih dahulu dan tentu pula ia akan memilih apa yang terbungkus dengan kain

sutera itu. Setelah ia

mengetahui, bahwa boneka Cendra Kirana terbuat dari pada emas ia merajuk kepada ibu dan ayahnya untuk ditukar. Tetapi bagaimanapun juga ayah memaksanya, namun boneka emas itu tak juga diserahkan oleh Galuh Cendra Kirana. Kemarahan ayahnya timbul, sehingga rambut Galuh Cendra Kirana diguntingnya. Sejak itulah ia merasa, bahwa hidup di istana merupakan hidup

di bara api. Apalagi sudah ternyata, bahwa

(29)

ayahnya telah membencinya. Pada suatu malam ia melarikan diri dengan ibu tirinya, selir raja yang pertama, Mahadewi, bersama-sama dengan dua orang pengiringnya Ken Bayan Ken Sengit. Di daerah antara perjalanan Daha dan Kuripan ia mendirikan sebuah keraton, sedang namanya diubah dengan Panji Semirang Asmarantaka. Begitu juga dengan dua pengiringnya menyamar pula sebagai orang laki-laki dan namanya pun berubah. Ken Bayan dengan Kuda Perwira sedang Ken Sengit dengan Kuda Peranca. Kerajaan baru itu makin besar, karena keberanian kedua orang pengiring Panji Semirang yang merampas harta benda orang yang lalu di situ. Utusan Raja Kuripan ke Daha dapat pula dikalahkan, sehingga Raden Inu sendirilah yang datang untuk menuntut balas. Tetapi apa yang terjadi?

Setelah Raden Inu melihat wajah Panji Semirang, ia terpesona dan tak kuasa pula untuk menuntut balas. Malahan terjadi suatu persahabatan.

Dengan demikian, Raden Inu dapat meneruskan perjalanannya ke Daha untuk melangsungkan perkawinannya dengan Galuh Cendra Kirana. Bukan kesenangan dan kegembiraan, tetapi penyesalan dan kekecewaan yang didapatinya di Daha, karena Galuh Cendra Kirana sudah tak ada di sana.

Walaupun demikian perkawinan itu dilangsungkan juga dengan Galuh Ajeng, karena permintaan yang keras dari ibunya, Paduka Liku, kepada Ratu Daha.

Perkawinan itu tidak membawa kebahagiaan kedua belah pihak, karena tak ada benih cinta dan senang yang tertanam di dalamnya. Malahan Raden Inu mulai curiga, bahwa Panji Semirang itu ialah kekasihnya, Galuh Cendra Kirana.

Daha ditinggalkannya untuk menyusul Panji Semirang di kerajaan baru itu bersama-sama dengan 3 orang pengiringnya: Jeruje Kartala, Persanta, dan

Punta. Kekecewaan yang

kedua tak dapat pula ditolaknya. Kerajaan baru itu sudah kosong. Panji Semirang dengan pengiring-pengiring-nya telah meninggalkan tempat itu menuju Gunung Wilis, tempat pertapaan bibinya. Raden Inu hanya mendapatkan Mahadewi, yang tidak dibawa dalam perjalanan pindah karena sudah tua. Ia didapatinya sedang menangis. Perkataannya yang keluar

(30)

Ratu Daha. Setelah Mahadewi diantarkan ke Daha kembali, berangkatlah Raden Inu menyusul kekasihnya dengan nama samaran Panji Jayeng Kesuma.

Dalam perjalanannya Panji Semirang meninggalkan pakaian lakilakinya.

Puspa Juwita dan Puspa Sari, kedua putri pemberian Raja Mentawan yang kalah perang terkejut. Mereka baru mengetahui, bahwa Panji Semirang adalah seorang perempuan. Setelah merintis hutan dan gunung sampailah mereka ke pertapaan Biku Gandasari di Gunung Wilis. Mereka disambut dengan ramah tamah. Beberapa hari mereka tinggal di pertapaan itu. Pada suatu hari Biku Gandasari menyampaikan kata kepada kemenakannya, bahkan cita-citanya akan sampai juga kalau ia pada hari itu berangkat meninggalkan pertapaannya dan menyamar sebagai seorang gambuh (= penari) Panji Semirang dan pengiringnya mengenakan pakaian laki-laki lagi. Galuh Cendra Kirana mengubah namanya lagi dengan Gambuh Warga Asmara.

Banyak sudah negeri yang didatangi dan di mana-mana Gambuh mendapat sambutan yang hangat.

Akhirnya sampailah mereka ke Gageleng, kerajaan pamannya. Di daerah itu mereka mempertunjukkan kegambuhannya.

Dalam perjalanannya Raden Inu atau Panji Jayeng Kesuma sudah beberapa hari tinggal di kerajaan Gageleng. Raden Inulah yang menambah menggilakan Raden Singa Menteri yang gila sanjung dan dipuji itu. Banyak pegawai istana yang beruntung karena hadiah Raden Singa Menteri karena pujian-pujian, bahwa ia lebih gagah dan tampan dari pada Raden Inu,

sepupunya. Dari pengiring-pengiringnya Raden

Inu mendengar, bahwa Gambuh Warga Asmara baik sekali bermain. Mereka minta, agar gambuh itu dapat pula bermain di istana. Rupa Gambuh Warga Asmara menerbitkan prasangka lagi pada Raden Inu. Dalam hatinya ia menyatakan bahwa Gambuh itu Panji Semirang. Tetapi beberapa kali dinyatakan Gambuh Warga Asmara tetap menjawab, bahwa ia tidak kenal kepada Panji Semirang. Walaupun demikian tak putus-putus Raden Inu untuk mengamat-amati Gambuh itu. Rahasia itu lama lama terbuka juga. Tiap-tiap malam sebelum tidur, boneka emas, pemberian Raden Inu

(31)

dahulu, selalu ditimang-timang dan dibelai-belai dengan rasa kasih sayang.

Pada suatu malam Raden Inu dapat melihat hal itu dalam intaiannya. Dengan tiada menanti lagi dipeluknya Gambuh itu, yang tiada lain daripada Cendra Kirana yang telah lama dikejar-kejar dan dicari-carinya.

Perkawinannya dilangsungkan di Kerajaan Kuripan. Dalam perkawinan itu diundang juga Ratu Gageleng dan Raja Daha beserta Paduka Liku dan Galuh Ajeng. Galuh Ajeng menangis pula dengkinya, karena istri Raden Inu Kertapati tiada lain, selain Galuh Cendra Kirana. Akhirnya ia dikawinkan dengan Raden Singa Menteri, putra Raja Gageleng, yang gila puji itu dan sanjung itu.

Paduka Liku sudah tidak menjadi impian dan kekasih Raja Daha lagi, karena kekuatan guna-gunanya sudah luntur. Mahadewilah yang diangkat menjadi permaisuri. 

Selanjutnya tampuk pimpinan Kerajaan Kuripan dan Daha dikendalikan oleh Raden Inu Kertapati bersama-sama dengan permaisurinya Galuh Cendra Kirana.

(32)

3. Brama Kumbara

Alkisah Brama Kumbara, seorang pewaris tahta kerajaan Madangkara yang pada awal kisah diceritakan tengah dijajah oleh kerajaan Kuntala. Setelah kemudian Brama berhasil menumbangkan kekuasaan Kuntala dan memulihkan kedaulatan Madangkara, kisah berlanjut dengan permusuhan antara Brama dengan Gardika yang ingin mengembalikan kekuasaan Kuntala.

Dalam sebuah

pertarungan dengan Gardika, Brama yang terluka parah oleh ajian serat jiwa milik Gardika diselamatkan oleh seekor burung Rajawali raksasa. Burung rajawali ini kemudian menjadi sahabat Brama. Rajawali bahkan kemudian menunjukkan kepada Brama di mana tersimpan kitab asli ajian Serat Jiwa, yang ternyata adalah milik kakek Astagina, kakek dari Brama. Secara tidak sadar, ilmu yang selama ini dipelajari oleh Brama dari Kakek Astagina (ajian Tapak Saketi, ajian Gelang Gelang, dan ajian Bayu Bajra) adalah bagian dari ajian Serat Jiwa. Brama berhasil menguasai ajian Serat Jiwa hingga ke tingkat paling tinggi (Tingkat 10).

Permusuhan Brama dan Gardika akhirnya mencapai puncaknya ketika keduanya berduel mempertaruhkan antara hidup dan mati, berakhir dengan tewasnya Gardika di tangan Brama. Gardika yang sepanjang hidupnya banyak melakukan kejahatan digambarkan tubuhnya hancur menjadi tepung.

Dalam perjalanannya, Gardika ditemani oleh seorang bernama Kendala. Pada dasarnya Kendala adalah orang baik. Setelah Gardika tewas di tangan Brama, Kendala mendapat pengampunan dari Brama dan kemudian

mengabdi kepada Madangkara. Kisah kemudian

dilanjutkan dengan perseteruan antara Brama dengan Panembahan Gunung Saba, pada bagian ini dikisahkan bahwa Ajian Serat jiwa yang sebelumnya dianggap sebagai ilmu tertinggi menemukan tandingannya yaitu ajian Waringin Sungsang. Brama yang hampir tewas setelah bertarung hidup mati dengan dua murid Panembahan Gunung Saba (Kijara dan Lugina) malah

(33)

secara tidak sengaja mendapatkan ajian Lampah Lumpuh yang digambarkan tidak dapat dikalahkan. Dalam perjalan cerita dikisahkan pula ada ajian Cipta Dewa yang merupakan olahan dari intisari dari ajian serat jiwa yang dikuasai oleh Lasmini,ilmu ini diperkirakan lebih hebat dari ajian lampah lumpuh milik Brama ,namun tidak pernah terbukti mengalahkan Brama secara langsung.Sampai akhir cerita ajian lampah lumpuh tidak terkalahkan, hanya 1 kali bertanding imbang dengan ilmu Ikatan Roh milik biksu Tibet. Brama pernah mencintai seorang wanita. Kisah cinta ini muncul dalam episode berjudul Bara di Bumi Ankara, dimana dalam perjalanannya di Ankara, Brama jatuh cinta dengan seorang putri raja bernama Putri Doria.Cinta pertamanya itu terbunuh dalam sebuah pertempuran. Sosok Brama yang gagah, tampan, dan karismatik banyak menarik perhatian wanita, termasuk Lasmini yang pada akhirnya menjadi musuh bebuyutannya. Di antaranya yang akhirnya berhasil mengambil hatinya adalah sosok Dewi Harnum. Dewi Harnum hampir selalu menjadi pendamping Brama dalam perjalanannya. Dia juga yang menjadi satu-satunya saksi pertarungan dahsyat Ajian Serat Jiwa tingkat 10 melawan Ajian Serat Jiwa tingkat 10 antara Brama dengan Gardika (musuh bebuyutan Brama).

Namun kemudian Brama dan Harnum bertemu dengan Paramita, seorang janda beranak 2 (Raden Bentar dan Garnis) yang juga menaruh hati kepada Brama Kumbara. Harnum kemudian bersahabat erat dengan Paramita. Dan ketika Brama kemudian menyunting Harnum, Harnum setuju dengan satu syarat jika Brama juga menyunting Paramita.

(34)

IV. KALIMAT

RETORIK

(35)

1. Pengertian Kalimat Retorik

Kalimat Retorik adalah kalimat yang memiliki makna dan tidak memerlukan jawaban.

Kalimat Retorik mengarah pada bentuk pernyataan pemberi semangat, kritik ataupun gagasan.

Kalimat ini merupakan kalimat tanya tetapi tidak memerlukan jawaban karena jawabannya telah diketahui dan merupakan kalimat lengkap.

2. Contoh Kalimat Retorik

Apakah kamu siap untuk mati?

Mau kamu dipecat?

Apakah kamu bisa hidup tanpa makan?

(36)

V. KATA ULANG

(37)

1. Kata ulang murni

Kata ulang murni adalah kata dasar yang mengalami proses pengulangan seluruhnya atau utuh.

Contoh :

 anak = anak-anank

 Mobil = mobil-mobiL

 Toko = toko-toko

2. Kata ulang berubah bunyi

Kata ulang berubah bunyi atau dwilingga salin suara adalah kata dasar yang mengalami proses perulangan seluruhnya atau utuh dan berubah bunyinya pada suku katanya, baik suku kata awal atau suku kata terakhir.

Contoh :

 Sayur = sayur-mayur

 Lauk = lauk-pauk

 Lalu = lalu-lalang

3. Kata ulang Dwilingga

Kata Ulang Dwilingga adalah perulangan kata yang dialami oleh sebagian dari kata dasar, dengan kata lain perulangan kata hanya terjadi pada suku awal kata dasar.

Contoh :

 Laki = lelaki

 Orang = seseorang

 Tua = tetua

(38)

VI. 10 EKSPRESI

MANUSIA

(39)

I. Marah

Jenny marah II. Galau

(40)

III. Takut

Jenny takut melihat kecoa

IV. Jijik

Maria jijik mencium bau tak sedap.

(41)

V. Cemberut

Hyuju cemberut karena digodain oleh pacarnya VI. Menangis

Shinhue menangis karena dikhianati oleh sahabatnya

(42)

VII. Bahagia

Sohyun bahagia mendapatkan penghargaan VIII. Terkejut

Joongki terkejut melihat pacarnya dataang ke tempat kerjanya IX. Stress

(43)

Hanan stress memikirkan tugas sekolah X. Heran

Minjae heran melihat tingkah laku seseorang

(44)

VII. 10 EKSPRESI

BINATANG

(45)

1. Mengantuk

Panda mengantuk 2. Ngambek

Kucing ngambek

(46)

3. Menangis

Kucing menangis 4. Bersedih

Kucing bersedih

(47)

5. Sakit

Kucing sakit 6. Terkejut

(48)

7. Senang

Kucing senang 8. Malu

Kucing malu 9. Galau

(49)

Kucing sedang galau

10. Marah

Singa marah

(50)

VIII. CONTOH TEKS

PIDATO

(51)

1. Kedisiplinan

Pertama-tama, kita patut bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan izin-Nya lah kita dapat hadir di hari yang cerah ini dan di tempat yang indah ini.

Pendidikan kedisiplinan merupakan suatu proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan kebiasaan tertentu, atau membentuk manusia dengan ciri ciri tertentu, terutama untuk meningkatkan kualitas mental dan moral. Di dalam keluarga, pendidikan kedisiplinan dapat diartikan sebagai metode bimbingan orang tua agar anaknya mematuhi bimbingan tersebut.

Setiap orang tua pasti berusaha untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anaknya dengan menanamkan perilaku yang dianggap baik dan menhindari perilaku yang dianggap tidak baik. Hal ini memang akan lebih mudah dilakukan jika anak sebagai seorang individu mematuhi kemauan orang tuanya. Namun demikian, tujuan utama dari disiplin bukanlah hanya sekedar menuruti perintah atau aturan saja. Patuh terhadap perintah dan aturan merupakan bentuk disiplin jangka pendek semata.

Sedangkan tujuan pendidikan kedisiplinan adalah agar setiap individu memiliki disiplin jangak panjan, yaitu disiplin yang tidak hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan atau otoritas semata, tetapi lebih kepada pengembangan kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri sebagai salah satu ciri kedewasaan individu.

Kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri terwujud alam bentuk pengakuan terhadap hak dan keinginan orang lain, dan mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi. Hali ninilah yang sesungguhnya menjadi hakikat dari kedisiplinan.

Demikianlah pidato singkat tentang kedisiplinan yang bisa saya

(52)

segala hal sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik bagi nusa, bangsa, negara dan agama.

(53)

2. Bahaya Merokok Assalamu’alaikum.Wr.Wb

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada panitia acara dalam rangka menyambut hari tanpa tembakau sedunia yang jatuh pada tanggal 31 mei setiap tahunya, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyampaikan pidato singkat ini dalam rangka mewujudkan hari bebas rokok ini menjadi benar-benar bisa menjadi hari yang terbebas dari asap rokok selamanya.

Bukan menjadi rahasia umum lagi dan tidak harus dupungkiri lagi kalau dikalangan para perokok sebetulnya udah mengetahui ataupu merasakan dampaknya dari bahaya merokok tersebut, namun mereka seolah menutup mata dengan bermacam alasan, Padahal, asap rokok secara ilmiah sudah terbukti menyebabkan setidaknya 25 jenis penyakit. Artinya, saat berbagai negara — termasuk negara berkembang — memperketat peraturan soal rokok untuk melindungi kesehatan rakyatnya, namun Indonesia justru menjadi surga

bagi industri rokok.

Meskipun udah banyak perda-perda yang dikeluarkan dan udah banyak peraturan dan larangan yang telah diberlakukan, misalnya “Larangan Merokok Ditempat Umum”, tapi tidak sedikit pula atau banyak para perokok tidak mentaati peraturan yang telah berlaku tersebut, oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik dan juga peduli akan kesehatan, marilah kita wujudkan hidup sehat tanpa asap rokok diawali dari diri kita sendiri.

Rekan-rekan sekalian yang saya Hormati,

Berbicara soal dampak yang diakibatkan dari asap rokok yang terhirup oleh orang-orang disekitar kita, marilah kita lihat hasil penelitian yang dilakukan oleh EPA… Nasib kaum ibu bersuamikan perokok agaknya tak berbeda jauh dengan anak-anak yang memiliki keluarga perokok. Penelitian yang dilakukan EPA menghasilkan kesimpulan bahwa dari 30 wanita, 24 di antaranya berisiko tinggi terserang kanker paru-paru bila suaminya perokok.

(54)

dengan kesadaran sendiri, marilah kita buat peraturan-peraturan yang kita buat sendiri untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang yang berada disekitar kita agar terbebas dari dampak yang diakibatkan oleh diri kita sendiri.

Salah satu proses yang memang belum berdampak pada penampilan fisik perokok adalah gangguan pada sistem sirkulasi darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung. hal ini disebabkan karena di dala rokok terdapat beberapa bahan kimia yang ada dalam rokok. Di antaranya, acrolein, merupakan zat cair yang tidak berwarna, seperti aldehyde. Zat ini sedikit banyaknya mengandung kadar alkohol. Artinya, acrolein ini adalah alkohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan.

Karena waktu yang sangat terbatas, saya ucapkan terima kasih kepada panita yang telah memberikan waktu kepada saya untuk menyampaikan pidato singkat ini.

Mudah-mudahan dihari bebas tembakau sedunia ini, kita akan lebih menyayangi diri kita sendiri dengan dimulai dari menyehatkan diri sendiri.

Semoga uraian ini bermanfaat. Mohon maaf jika ada kata-kata yang

kurang berkenan.

Wassalamu alaikum wr. wb.

3. Pengaruh game online terhadap remaja Assalamu’alaikum wr.wb

Yang terhormat Bapak / Ibu Guru SMA Negeri 1 Bangli, serta teman teman semua yang saya cintai dan saya banggakan.

Pertama tama marilah kita panjatkan segala puji syukur kita kehadirat Tuhan YME karena dengan rahmat-Nya kita masih dapat dipertemukan di ruangan ini dalam keadaah sehat tanpa suatu kekurangan apapun.

Hadirin yang saya hormati, pada siang hari ini saya akan membawakan pidato yang berjudul :

(55)

“Pengaruh Game Online Bagi Remaja maupun

Anak-Anak” Seperti yang kita ketahui

bersama, permainan game online merupakan salah satu hobby yang sangat digemari oleh para remaja maupun anak-anak, pelajar tingkat pertama hingga menengah bahkan anak-anak TK bukanlah hal yang asing lagi di zaman sekarang ini. Bisnis warnet yang berada di belakang

berkembangannya permainan game online ini menjamur di kota-kota besar di Indonesia bahkan sampai ke pedesaan. Perkembangan warnet di

Indonesia semenjak beberapa tahun terakhir terlihat sangat pesat. Di

beberapa warnet umumnya terlihat dipenuhi oleh kalangan pelajar yang tak kelak selalu datang untuk menghabiskan waktunya bermain game online dan terkadang mereka rela untuk tidak masuk sekolah (bolos ) hanya demi bermain game online. Apa yang dilakukan pelajar tersebut terkadang tanpa diketahui oleh orang tua mereka, ada saja alasan mereka untuk meyakinkan orang tua nya, entah itu belajar di rumah teman, atau ada acara sekolah.

Dalam hal ini seharusnya para orang tua harus lebih memperhatikan lagi anak anak mereka, paling tidak mengetahui kemana mereka setelah pulang sekolah. Game online untuk saat ini sangat digemari oleh anak maupun remaja, tentunya hal itu mempunyai dampak bagi mereka.Adapun dampak game online adalah sebagai berikut :

Dampak Positif

– Melatih ketelitisan, kecermatan, misalnya dalam strategi.

– Bertambahnya ilmu tekhnologi, misalnya bidang komputer.

– Wacana bertambah, misalnya nama-nama senjata, negara, kota, dll.

Dampak Negatif

– Lupa waktu , misalnya lupa belajar, ibadah dan lain-lain – Boros, uang saku berkurang

– Bermalas-malasan, sehingga terkadang pekerjaan lain ditinggalkan – Kesehatan mata berkurang

(56)

Untuk mencegah seorang anak bermain game online tentu bukan pekerjaan mudah. Fasilitas internet yang banyak tersedia di mana- mana, salah satunya warung internet, menjadikan anak bisa mengakses

internet dari mana saja. Tidak selalu

harus bermain di rumah, anak bisa mencuri waktu sepulang  sekolah dengan mengunjungi arena game online atau warung internet yang ada di sekitar sekolah mereka.

Menjalin komunikasi informal agar seorang anak bisa terbuka pada orang tua, sehingga orang tua bisa memberikan  pendidikan pada seorang anak tanpa sang anak merasa dihakimi.Berikan waktu khusus bermain game online, dan tegasi anak Anda untuk tidak bermain di luar waktu yang sudah disepakati.

Hadirin yang saya hormati, demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan, apabila terdapat kesalahan kata dalam penyampaian pidato saya yang disengaja maupun tidak disengaja, saya mohon maaf. Saya berharap pidato yang saya buat ini dapat bermanfaat bagi seluruh orang. Saya akhiri Wassalamu’alaikum wr.wb

(57)

IX. CONTOH TEKS

KHUTBAH

(58)

1. Rooda Kehidupan KHUTBAH PERTAMA:

نَّإِ

دَ مْحَ لْا هِللْ

'هُ'دَمْ حَنَ

'هِ'نُ يْعِتَ سْنَوَ

'هُ 'رُفِ غْتَ سْنَوَ

'ذُ وْ'عِنَوَ

هِللْابِ

نْمِ

رِ وَ 'رُ 'شُ

انُسْ'فِ نَأَ

تِائَ>يْسَوَ

انُلْامْ عْأَ

نْمِ

هُدَ هْيَ

'هِللْا لاَفَ

لَّضِ'مِ

'هِلْ

نْمِوَ

لَّل ضِ'يَ

لاَفَ

يَدِاهَ

'هِلْ

'دَهْ شُأَوَ

نَّأَ

لاَ

هِلْإِ

لاَإِ

'هِللْا 'هُدَ حْوَ

كَ يَرُشُلاَ

'هِلْ

'دَهْ شُأَوَ

نَّأَ

Mادَمْحَ'مِ

'هُ'دَ بْعْ

'هِ'لْ وْ'سَرِوَ .

“نَّوْ'مْل سْPمِم'تَنَأَوَلاَإِنْ'تَّوْ'مْتَّلاَوَهِتَّاقُ'تَّقَّحْهِUللْا اوْ'قُتَّا اوْ'نُمِآنْيَذِلْااهْPيَأَايَ”.

“امْ'هْ نُمِثَّبِوَاهْجَ وَزَاهْ نُمِقَّلخَوَ\ةٍدَحْاوَ\سٍ فِنَنْ>مِم'كُقُلخَيَذِلْا 'م'كُبِرِ اوْ'قُتَّا'سُانُلْااهْPيَأَايَ

M لاَاجَرِ

Mارُيْثِكَ

ءاسْنَوَ

اوْ'قُتَّاوَ

هِUللْا يَذِلْا نَّوْ'لْءاسْتَّ

مَاحْ رِلأَاوَهِبِ

نَّإِ

هِUللْا نَّاكَ

م'كُ يْلعْ

Mابْيْقِرِ ”.

“ م'كُلْ رُفِ غْيَوَ م'كُلْامْ عْأَ م'كُلْ حْل صْ'يَ . MادَيَدَسَM لاَ وْقِ اوْ'لْوْ'قِوَ هِللْا اوْ'قُتَّا اوْ'نُمِآ نْيَذِلْا اهْPيَأَ ايَ

م'كُبِوْ'نَ'ذُ

نْمِوَ

عْطِ'يَ

هِللْا 'هِلْوْ'سَرِوَ

دَقُفَ

زَافَ

Mازَ وْفَ

Mامْيْظِعْ ”.

امِأَ

،'دَ عِبِ

نَّإِفَ

رُ يْخَ

ثَّيَدَحَ لْا 'بُاتَكَ

،هِللْا 'رُ يْخَوَ

ىدَ'هْ لْا ىدَ'هَ

\دَمْحَ'مِ

ىلصَ 

'هِللْا هِ يْلعْ

،ملسَوَ

Pرُشُوَ

رِوْ'مِ' لأَا

،اهْ'تَّاثَدَ حَ'مِ

Pلَّ'كَوَ

\ةٍعْ دَبِ

uةٍلْلاَضَ .

Jama’ah Jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah. Roda kehidupan, itulah barangkali salah satu ungkapan yang pas untuk menggambarkan perjalanan kita di dunia yang fana ini. Roda yang berputar, kadang di atas dan kadang pula di bawah. Ada kehidupan dan ada kematian. Ada kondisi sehat dan ada kondisi sakit. Ada rasa senang dan adapula rasa susah. Ada kondisi kaya dan ada kondisi miskin.

Ada saatnya naik jabatan dan ada saatnya pula turun dari jabatan. Ini semua

(59)

adalah bagian dari ujian kehidupan.

Allah ta’ala berfirman,

“Mةٍنُ تَفَرُ يْخَ لْاوَ >رُشَّلْابِ م'كَوْ'ل بْنَوَ”

Artinya: “Kami (Allah) akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan”. QS. Al-Anbiya’ (21): 35.

Beruntunglah para manusia yang sukses dan berhasil melewati berbagai macam ujian yang sangat beragam tersebut dengan baik..

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…

Tidak mudah memang untuk sukses dalam melewati berbagai macam ujian yang amat beragam itu. Ada yang sukses saat diuji dengan kekayaan, namun ternyata ia gagal ketika diuji dengan kemiskinan. Ada pula yang sebaliknya; sukses saat diuji dengan kemiskinan, tetapi gagal ketika diuji dengan kekayaan.

Ada yang sukses saat diuji dengan kesehatan, namun gagal ketika diuji dengan sakit. Sebaliknya, ada yang sukses saat diuji dengan sakit, tetapi gagal ketika diuji dengan kesehatan.

Ada yang sukses saat mendapat ujian naik jabatan, namun gagal ketika diuji turun jabatan. Adapula yang sebaliknya, sukses saat mendapat ujian turun jabatan, namun gagal ketika diuji naik jabatan.

Bagaimanakah gerangan caranya agar kita bisa sukses total dalam menghadapi berbagai macam ujian yang beragam tadi?Faktor pertama dan utama yang diperlukan hamba adalah taufik dan

bantuan dari Allah ta’ala. Jama’ah Jum’at

yang dirahmati Allah…

Taufik dari Allah adalah karunia yang diberikan-Nya kepada

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Lahan basah Sungai Luar Desa Sungai Luar Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang

Universitas Kristen Maranatha - Untuk menilai potensi pemberian gel lidah buaya secara topikal dibandingkan dengan pemberian infusa lidah buaya secara topikal dalam

Berdasarkan bilangan individu anak buaya yang tinggi, Sungai Klias merupakan kawasan yang diperlukan sebagai habitat untuk pemuliharaan Crocodylus porosus di Sabah...

STArus PEMBIAKAN BUAYA AIR MASIN Crocodylus porosus YANG HIDUP DI KAWASAN EKOSISTEM TINGGALAN PAYA BAKAU DI SUNGAI KINARUT DAN SUNGAI BERINGIS.. MOHO IZWAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai kepadatan relatif populasi buaya muara yang terdapat di Hilir Sungai Batang Kecamatan Air Sugihan Kabupaten

Keyakinan Urang Banjar Batang Banyu yang tinggal dipinggir Sungai Tabalong terhadap buaya gaib tentunya berakar dari kepercayaan lama.. Sampai sekarang keyakinan

Pengujian mutu tepung maupun teh lidah buaya setelah pengeringan dengan microwave menunjukkan bahwa tepung lidah buaya yang dihasilkan baik secara visual, maupun

Areal ini berupa lahan reklamasi rawa diantara Sungai Mesuji, Sungai Tulang Bawang dan Sungai Pidada dengan batas-batas sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan sungai Mesuji