Ns Sri Wuri Handayani,S.Kep.,MM.,C.PSH
TUJUH LANGKAH MENUJU
KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT
BANGUN KESADARAN AKAN NILAI KP, Ciptakan kepemimpinan & budaya yg terbuka & adil.
PIMPIN DAN DUKUNG STAF ANDA, Bangunlah komitmen
& fokus yang kuat & jelas tentang KP di RS Anda
INTEGRASIKAN AKTIVITAS PENGELOLAAN RISIKO, Kembangkan sistem & proses pengelolaan risiko, serta
lakukan identifikasi & asesmen hal yang potensial bermasalah
KEMBANGKAN SISTEM PELAPORAN, Pastikan staf Anda agar dgn mudah dapat melaporkan kejadian / insiden, serta RS mengatur pelaporan kpd KKP-RS.
LIBATKAN DAN BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN, Kembangkan cara-cara komunikasi yg terbuka dgn pasien
BELAJAR & BERBAGI PENGALAMAN TTG KP, Dorong staf anda utk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana & mengapa kejadian itu timbul
CEGAH CEDERA MELALUI IMPLEMENTASI SISTEM KP, Gunakan informasi yang ada tentang kejadian / masalah
untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan
BANGUN KESADARAN AKAN NILAI KP BANGUN KESADARAN AKAN NILAI KP
Ciptakan kepemimpinan & budaya yg terbuka & adil. Ciptakan kepemimpinan & budaya yg terbuka & adil.
RS: RS:
• Kebijakan : Kebijakan :
• Tindakan staf segera setetelah insiden -- Tindakan staf segera setetelah insiden -- kumpulkan fakta,
kumpulkan fakta,
dukungan kepada staf, pasien - keluarga dukungan kepada staf, pasien - keluarga
• Peran & akuntabilitas individual pada insiden Peran & akuntabilitas individual pada insiden
• Tumbuhkan budaya pelaporan & belajar dari Tumbuhkan budaya pelaporan & belajar dari insiden
insiden
• Lakukan asesmen dengan menggunakan Lakukan asesmen dengan menggunakan survei penilaian KP.
survei penilaian KP.
Tim: Tim:
• Anggota mampu berbicara, peduli & Anggota mampu berbicara, peduli & berani berani lapor bila ada insiden
lapor bila ada insiden
• Laporan terbuka & terjadi Laporan terbuka & terjadi proses proses pembelajaran
pembelajaran serta pelaksanaan serta pelaksanaan tindakan / solusi yg tepat. tindakan / solusi yg tepat.
1.
BUDAYA ORGANISASI
Suatu pola keyakinan, nilai-nilai, perilaku, norma- norma yang disepakati / diterima dan melingkupi semua proses - membentuk bagaimana
seseorang berperilaku dan bekerja bersama.
Suatu kekuatan yang sangat besar dan sesuatu
yang tetap ada walaupun terjadi perubahan Tim
dan perpindahan personil.
What is a safety culture?
Kesadaran ( awareness ) yang aktif dan konstan tentang adanya potensi timbulnya kesalahan.
Staf dan organisasi mampu mengenali kesalahan2,
belajar dari kesalahan tsb dan
mengambil tindakan untuk memperbaikinya
Terbuka dan Adil ( open and fair ),
berbagi informasi secara terbuka dan bebas,
perlakuan yang adil terhadap staf waktu terjadi insiden.
Pendekatan Sistem ( systems approach ) terhadap keselamatan
semua insiden juga dikaitkan dengan sistem
ditempat individu tsb bekerja.
Dalam organisasi :
Keselamatan Pasien selalu menjadi pemikiran utama dalam benak setiap orang :
waktu memberikan layanan kesehatan
saat menentukan tujuan
mengembangkan proses dan prosedur,
membeli peralatan dan produk baru,
meredisain klinik, tempat perawatan
mengembangkan unit-unit baru.
Keselamatan pasien mempengaruhi Visi, Misi dan Tujuan organisasi secara keseluruhan.
What is a safety culture?
In a Hospital :
Because there are hundreds of
medications, tests and procedures, and many patients and clinical staff members in a
hospital, it is quite easy for a mistake to be made. . . .
Di Rumah Sakit :
……Banyaknya
• jenis obat,
jenis
pemeriksaan prosedur,
• jumlah pasien dan
• staf Rumah Sakit
Potensial terjadinya kesalahan.
Being open and fair
Bagian fundamental organisasi dengan budaya
keselamatan : menjamin adanya keterbukaan dan adil.
Untuk RS hal ini berarti :
- staf harus terbuka tentang insiden yang melibatkan
mereka;
- staf dan RS harus akuntabel terhadap tindakan mereka;
- staf merasa mampu berbicara kepada kolega dan atasannya tentang insiden yang terjadi;
- RS terbuka dg pasien,masyarakat dan staf ;
- staf diperlakukan adil dan didukung bila terjadi insiden.
Being open and fair
Untuk menciptakan lingkungan yang terbuka dan adil kita harus menyingkirkan dua mitos utama :
• mitos kesempurnaan (the perfection myth):
jika seseorang berusaha cukup keras, mereka tidak akan membuat kesalahan.
• mitos hukuman (the punishment myth):
jika kita menghukum seseorang yang melakukan kesalahan, maka kesalahan yang terjadi akan berkurang;
tindakan remedial dan disipliner akan membawa perbaikan dengan
meningkatnya motivasi.
Terbuka dan adil tidak berarti meniadakan
akuntabilitas.
PENDEKATAN SISTEM TERHADAP KESELAMATAN
Memiliki budaya keselamatan -
mendorong terciptanya lingkungan yang mempertimbangkan semua komponen sebagai faktor yang ikut berkontribusi terhadap insiden yang terjadi.
Hal ini menghindari kecenderungan untuk menyalahkan individu dan lebih melihat kepada sistem dimana individu tersebut bekerja.
Pendekatan Sistem
(systems approach)
The systems approach to safety
Semua jenis insiden keselamatan pasien mengandung empat komponen dasar:
1.Causal Factors, 2.Timing,
3.Consequences, dan 4.Mitigating Factors.
Tiap komponen harus menjadi bahan pertimbangan dalam pendekatan sistem terhadap keselamatan ini
1. Faktor-faktor penyebab (Causal Factors)
Faktor-faktor ini memegang peranan penting dalam setiap insiden keselamatan pasien.
Menghilangkan faktor ini dapat mencegah atau mengurangi kemungkinan terulangnya kembali kejadian yang sama.
Faktor penyebab (Causal Factors) dikelompokkan menjadi
-
Active Failures;
- Contributary Factors; dan - Latent System Conditions
The systems approach to safety
Kegagalan Aktif (Active failures):
sering disebut “tindakan yang tidak aman”( ‘unsafe acts’). Dilakukan oleh petugas yang memiliki kontak langsung
dengan pasien,termasuk : - slips : attention failure - lapses : memory failure - kesalahan (mistakes),
- pelanggaran (violations )dari prosedur,
pedoman atau kebijakan.
HUMAN ERROR TYPES
UNSAFE ACTS (“ ERROR “)
UNINTENDED
INTENDED
LAPSES SLIPS
MISTAKES
VIOLATIONS OPTIMISING
ROUTINE KNOWLEDGE BASED
RULE BASED MEMORY FAILURE ATTENTION FAILURE
NECESSARY/
SITUATIONAL
The systems approach to safety
• Faktor Kontribusi (Contributory factors):
Faktor ini ikut mendukung terjadinya insiden, diantaranya berhubungan dengan :
– pasien (Patients)
– individu (Individuals) – tugas (Tasks)
– komunikasi ( Communication)
– faktor tim dan faktor sosial (Team and social factors) – pendidikan dan pelatihan (Education and training) – peralatan dan sumberdaya (Equipment and
resources)
– kondisi tempat kerja dan faktor lingkungan
(Working conditions and environmental factors)
The systems approach to safetys
Kondisi sistem yang laten (Latent system conditions)
Kondisi yang melatarbelakangi
penyebablangsung,berhubungan dengan aspek sistem.
Contoh faktor sistem yang laten ini termasuk keputusan dalam hal :
Planning,
Designing ,
Policy-making,
Communicating.
Latent Failures
Active Failures ( “sharp end “ )
-Procedure -Professiona lism-Team
-Individual -Environme nt-Equipment
KTD KTD
•EmergencEmergenc yy
•DiagnoseDiagnose
•PemeriksaPemeriksa anan
•PengobatPengobat anan
•PerawatanPerawatan
1. PATIENT 2. TASK AND
TECHNOLOGY 3. INDIVIDUAL 4. TEAM
5. WORK
ENVIRONMEN T
Planning, Designing , Policy-making, Communicating Management
Decisions/
Organisational Processes
Error Producing
Conditions
Violation Producing
Conditions
Error
Violation
Organisationa l & Corporate Culture
Contributary Factors Influencing Clinical Practice
Task
Defence BarriersAdapted from Reason (revised)
2. Faktor waktu (Timing):
adalah saat faktor penyebab bersamaan dengan terjadinya
kegagalan sistem
(pertahanan atau kendali) sehingga berakibat
terjadinya insiden.
FAKTOR
FAKTOR “TIMING”“TIMING”
Multi-Causal Theory “Swiss Cheese” diagram (Reason, 1991) Multi-Causal Theory “Swiss Cheese” diagram (Reason, 1991)
The systems approach to safety
3. Dampak (Consequences):
akibat yang ditimbulkan oleh insiden, berkisar dari tidak mencederai pasien sampai kepada
cidera
dengan tingkat keparahan tertentu :
rendah, sedang -- berat atau meninggal.
4. Faktor mitigasi (Mitigating factors):
beberapa faktor (termasuk “chance” atau
“luck”)
dapat mengurangi dampak yang lebih parah.
Why is a safety culture important?
Manfaat penting dari budaya keselamatan :
Mengurangi berulangnya dan keparahan dari insiden keselamatan
( dengan pelaporan dan pembelajaran )
Mengurangi cidera fisik dan psikis terhadap pasien ( kesadaran konsep patient safety,”speaking up” )
Mengurangi biaya pengobatan dan ekstra terapi
Mengurangi kebutuhan sumberdaya untuk manajemen komplain dan klaim
Mengurangi jumlah staf yang stres,merasa bersalah,malu, kehilangan kepercayaan diri,dan moril rendah
Safety Culture
Assessment
Safety culture assessment
Langkah awal untuk mengembangkan budaya keselamatan : Menetapkan tingkat budaya organisasi saat ini.
Tersedia sejumlah tools untuk mengukur
keyakinan,perilaku dan sikap organisasi. Biasanya dalam bentuk checklist atau kuesioner.
Tool-tool ini menilai berbagai issu,termasuk :
- komitmen manajemen senior untuk masalah keselamatan
- komunikasi antara staf dan manajer
- sikap terhadap laporan insiden,menyalahkan dan menghukum
- faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi kinerja
( kelelahan,perhatian terpecah,peralatan)
Manchester
Patient Safety Assessment Tool
(MaPSaT)
25 25
Tingkat kematangan dalam budaya keselamatan
Mengapa membuang waktu untuk keselamatan
Kita berbuat sesuatu jika
terjadi insiden
Kita sudah punya sistem
untuk mengelola risiko yang teridentifika
si
KITA SELALU WASPADA
AKAN RISIKO-
RISIKO YANG MUNGKIN
TIMBUL
Manajemen risiko merupakan
bagian integral dari semua
kegiatan yang kita
kerjakan
PATHOLOGICAL REACTIVE BUREAUCRATIC PROACTIVE GENERATIVE
Manchester Patient Safety Assessment Tool (MaPSaT)
A
B
C
D
E
Levels of maturity with respect to a safety culture
Pathological
Informasi disembunyikan
Pelapor (Messengers) “dibunuh”
Pertanggung jawaban dielakkan
Koordinasi dilarang
Kegagalan ditutupi
Ide-ide baru dihancurkan
Levels of maturity with respect to a safety culture
Bureaucratic
Informasi diabaikan
“Messengers”ditoleransi
Pertanggung jawaban terkotak-kotak
Koordinasi dijinkan tetapi disia-siakan
Ide-ide baru menimbulkan masalah
Levels of maturity with respect to a safety culture
Generative
Informasi secara aktif dicari
Pelapor (Messengers) dilatih
Berbagi pertanggung jawaban
Koordinasi dihargai (rewarded)
Penyebab kegagalan diselidiki
Ide-ide baru diterima (welcomed)
Mengubah nilai-nilai, keyakinan, dan perilaku tidaklah mudah.
Mengembangkan budaya keselamatan dalam suatu organisasi
memerlukan kepemimpinan yang kuat, perencanaan dan pemantauan yang
cermat
31 31