• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Ajar Obstetri Patologi: Seksio Sesaria

N/A
N/A
Aje ng

Academic year: 2025

Membagikan "Buku Ajar Obstetri Patologi: Seksio Sesaria"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

i

OBSTETRI PATOLOGI

SEKSIO SESARIA

❖ M. Besari Adi Pramono

❖ Putri Sekar Wiyati

ISBN : 978-623-6528-97-6

(2)

ii

BUKU AJAR

OBSTETRI PATOLOGI

SEKSIO SESARIA

Mata kuliah : Obstetri Patologi Program Studi : Obstetri Ginekologi Fakultas : Kedokteran

Disusun oleh :

dr. M. Besari Adi Pramono, MSi.Med, SpOG(K) dr. Putri Sekar Wiyati, SpOG(K)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

2021

(3)

iii Buku Ajar

Obstetri Patologi Seksio Sesaria Disusun oleh :

dr. M. Besari Adi Pramono, MSi.Med, SpOG(K) dr. Putri Sekar Wiyati, SpOG(K)

Diterbtikan oleh : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

28 hal + ix

ISBN: 978-623-6528-97-6

Revisi 0, tahun 2021

Mata Kuliah : Obstetri Patologi

SKS : 2 SKS

Semester : 2

Program Studi : Obstetri Ginekologi Fakultas : Kedokteran

(4)

iv

PERSEMBAHAN

Buku ini kami dedikasikan untuk mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

(5)

v ANALISIS PEMBELAJARAN

Seksio sesaria

Indikasi seksio sesaria

Indikasi ibu

Indikasi janin

Indikasi waktu

Persiapan tindakan

Anamnesis

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penujang

Tindakan pembedahan

Benang bedah

Langkah pembedahan

Komplikasi seksio sesaria

Komplikasi saat operasi Komplikasi

dini paska operasi Komplikasi akhir paska

oprasi

(6)

vi KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan pada Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya Buku Ajar Seksio Sesaria ini dapat terselesaikan. Salah satu tujuan dari penulisan buku ini tidak lain adalah untuk membantu para mahasiswa khususnya di Program Studi Obstetri-Ginekologi memahami tentang seksio sesaria yang nantinya merupakan bekal di praktik klinis setelah menyelesaikan pendidikannya. Buku ajar ini juga diharapkan menunjang akreditasi Program Studi Obstetri-Ginekologi. Banyak pihak yang sudah membantu menyelesaikan buku ini, maka dari itu kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Kami menyadari, dengan segala kerendahan hati, bahwa buku ini masih jauh dari kata memuaskan atau memadai. Besar harapan kami, di masa depan kelak, kami mampu untuk menampilkan secara lebih baik bagi adik-adik mahasiswa. Semoga buku ajar ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Penulis Email: [email protected]

(7)

vii DAFTAR ISI

PERSEMBAHAN ... iv

ANALISIS PEMBELAJARAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

TINJAUAN MATA KULIAH ... 1

I. Deskripsi Singkat ... 1

II. Relevansi ... 1

III. Capaian Pembelajaran ... 1

1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) ... 1

2. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK) ... 1

3. Indikator ... 2

PERSIAPAN SEKSIO SESARIA ... 3

I. Indikasi Seksio Sesaria ... 3

1. Pendahuluan ... 3

2. Penyajian ... 3

3. Penutup ... 5

Daftar Pustaka ... 6

II. Persiapan Tindakan... 7

1. Pendahuluan ... 7

2. Penyajian ... 8

3. Penutup ... 9

Daftar Pustaka ... 11

A. TINDAKAN BEDAH ... 12

I. Benang bedah ... 12

1. Pendahuluan ... 12

2. Penyajian ... 13

(8)

viii

3. Penutup ... 18

Daftar Pustaka ... 19

B. KOMPLIKASI ... 20

I. Komplikasi Seksio Sesaria ... 20

1. Pendahuluan ... 20

2. Penyajian ... 21

3. Penutup ... 24

Daftar Pustaka ... 25

DAFTAR TILIK KETRAMPILAN SEKSIO SESARIA ... 26

BIOGRAFI PENULIS ... ix

(9)

1 TINJAUAN MATA KULIAH

I. Deskripsi Singkat

Seksio sesaria (SC) dikenal sebagai salah satu prosedur yang mampu menyelamatkan baik ibu maupun bayi. Seksio sesaria secara efektif dapat mencegah kematian serta kecacatan pada ibu dan bayi yang baru lahir.

Organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization) mencatat tindakan SC telah mencapai lebih dari 15% proses persalinan, hampir dua kali lipat pada dekade terakhir. Tindakan SC harus dilakukan sesuai dengan indikasi dan dengan teknik teknik yang benar, mengingat risiko dari tindakan SC itu sendiri.

Adapun jenis-jenis bedah seksio sesaria adalah: seksio sesaria primer dan ulangan, seksio sesaria emergensi dan elektif, seksio sesaria segmen bawah dan segmen atas rahim, seksio sesaria post mortem, caesarean hysterectomy.

II. Relevansi

Materi seksio sesaria berkaitan dengan kompetensi dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam menangani obstetri patologis.

III. Capaian Pembelajaran

1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Setelah mengikuti mata kuliah ini peserta program studi memeliki ketrampilan bedah obstetri sesuai standar kolegium.

2. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK)

Sub-capaian pembelajaran mata kuliah yang diharapkan dikusai oleh mahasiswa adalah sebagai berikut:

a. Peserta program studi mampu memberikan konseling kepada pasien terkait operasi persalinan yang akan dilakukan

b. Peserta program studi memahami instrument yang digunakan pada seksio sesaria

c. Peserta program studi memahami jenis-jenis section caesarea dengan indikasi

d. Peserta program studi memahami teknik-teknik seksio sesaria

e. Peserta program studi memahami tatalaksana komplikasi seksio sesaria f. Peserta program studi memahami anestesi yang digunakan di seksio

sesaria

(10)

2 g. Peserta program studi mampu melakukan secara mandiri prosedur

seksio sesaria 3. Indikator

Keberhasilan mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah seksio sesaria dapat dilihat dari beberapa kriteria/ indikator sebagai berikut:

a. Ketepatan peserta program studi dalam menyebutkan kembali materi- materi yang telah diberikan sepanjang matakuliah. (Bobot 40%) b. Kemampuan peserta program studi dalam mencari dan menyusun

informasi terkait materi seksio sesaria yang ditugaskan dalam bentuk makalah. (Bobot 20%)

c. Kemampuan peserta program studi dalam menangani pasien dengan indikasi seksio sesaria (Bobot 20%)

d. Kemampuan peserta program studi dalam melaksanakan perilaku professional (Bobot 20%)

(11)

3 PERSIAPAN SEKSIO SESARIA

I. Indikasi Seksio Sesaria 1. Pendahuluan

1.1. Deskripsi Singkat

Seksio sesaria (SC) adalah operasi abdomen pada wanita yang paling sering dilakukan di seluruh dunia dengan berbagai variasi teknik, tindakan ini ma merupakan tindakan yang dilakukan apabila persalinan fisiologis tidak mungkin dilakukan. Saat seorang dokter memutuskan untuk melakukan SC pada pasiennya, perlu mempertimbangan kondisi apa yang mengindikasikan keputusan tersebut baik indikasi absolut maupun indikasi relatif.

1.2. Relevansi

Menganalisis indikasi seksio sesaria penting sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan tindakan yang tepat

1.3. Capaian Pembelajaran

1.3.1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Mahasiswa mampu menganalisis indikasi pada pasien yang membutuhkan tindakan seksio sesaria

1.3.2. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK) Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu

1. Melakukan anamnesis secara terstruktur untuk mengetahui masalah dan kondisi yang dialami pasien

2. Melakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan masalah pada pasien 3. Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang

diagnosis

4. Membuat keputusan klinik yang layak dalam pengelolaan pasien 5. Berkolaborasi dengan sejawat yang berhubungan dengan tindakan

seksio sesaria (dokter anestesi, perawat) 1.4. Petunjuk Pembelajaran

Seorang mahasiswa harus mempelajari teori sebelum menghadapi kasus nyata.

2. Penyajian 2.1. Uraian

Seksio sesaria merupakan salah satu tindakan operasi yang paling sering dilakukan di seluruh dunia, diperkirakan 18.5 juta seksio sesaria dilakukan

(12)

4 tiap tahun. WHO sejak tahun 1985 menyatakan jika angka seksio sesaria sebaiknya diantara 10-15% dari seluruh kelahiran.1 Namun seiring berkembangnya jaman, angka seksio sesaria semakin meningkat. Penelitian dari 169 data dari tiap negara menunjukkan jika diperkirakan di tahun 2015 terdapat 29,7 juta kelahiran dilakukan secara perabdominam. Seksio sesaria lebih sering dilakukan di negara Amerika Latin dan Carribia, yaitu 44.3% dari seluruh kelahiran. Seksio sesaria 5x lebih sering dilakukan pada negara maju dibandingkan negara berkembang.2 Persalinan dengan seksio sesaria di Indonesia mengalami peningkatan drastis sejak tahun 1997-2017 yaitu dari 4.3% menjadi 17%.3 Salah satu penelitian di Indonesia menyebutkan jika keputusan untuk pasien dilakukan seksio sesaria 12.6% saat persalinan belum dimulai dan 6.3%

ketika persalinan sudah dimulai. Hal itu disebabkan indikasi medis untuk dilakukan seksio sesaria dapat diketahui sebelum pasien mengalami proses persalinan yaitu saat pasien ANC. Penyebab lain yang membuat meningkatnya angka cestio sesaria adalah maternal choice, dimana ibu merasa jika seksio sesaria lebih aman dibandingkan persalinan pervaginam.4

Berdasarkan PPK di Rumah Sakit Pusat Dr.Kariadi Semarang, indikasi seksio sesaria dibagi menjadi:5

1. Janin

a. Letak sungsang pada primigravida, kegagalan versi luar, riwayat bedah sesar, ketuban pecah dini dan kondisi medis yang berat pada ibu

b. Kehamilan multipel dimana presentasi pada janin 1 bukan kepala, janin 2 presentasi kepala dengan taksiran berat janin lebih besar dari janin pertama

c. Kehamilan multipel dengan jumlah janin >2 d. Kesejahteraan janin terganggu

e. Tali pusat menumbung pada kala 1 persalinan

f. Disproporsi janin dan panggul ibu (makrosomia, kelainan kongenital janin, kelainan presentasi janin)

2. Ibu

a. Infeksi HIV pada ibu tanpa pengobatan ARV dan viral load >400 kopi/mL; koinfeksi dengan hepatitis C

b. Ibu dengan infeksi virus herpes simpleks genital pada trimester 3

c. Perdarahan pervaginam akibat kelainan plasenta (plasenta previa aterm atau berdarah aktif, solusio placenta berat, suspek plasenta akreta/inkreta/perkreta) dan keganasan pada serviks

d. Panggul sempit

e. Riwayat bedah sesar irisan klasik, miomektomi, vaginoplasti, repair fistula di vagina dan riwayat seksio sesaria 2x

(13)

5 f. PEB dengan kegagalan terapi medisinalis

g. PEB atau eclampsia pada primigravia dengan Bishop’s score yang rendah (unripe cervix)

h. Riwayat penyakit jantung yang semakin membahayakan ibu jika dilakukan persalinan pervaginam

i. Kontraindikasi untuk induksi persalinan j. Induksi persalinan gagal

3. Waktu

a. Persalinan yang mengalami distosia

b. Kegagalan persalinan pervaginam dengan tindakan c. Ruptur uteri imminens

d. Korioamnionitis e. Persalinan lama

Indikasi janin dan ibu diatas yang ditemukan pada konsisi inpartu, indikasi yang masih dalam pertimbangan adalah permintaan ibu untuk bedah sesar. Pasien dengan indikasi waktu dikategorikan pada persiapan seksio sesaria cito dan dikerjakan dengan interval keputusan insisi <30 menit.

2.2. Latihan

1. Seorang ibu dirujuk ke IGD saat persalinan karena mengalami perdarahan, nyeri hebat, dan kekuatan kontraksi yang melemah. Lakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan sikap yang sesuai dengan kondisi pasien

3. Penutup 3.1. Rangkuman

• Seksio sesaria (SC) adalah operasi abdomen pada wanita yang paling sering dilakukan di seluruh dunia dengan berbagai variasi teknik

• Angka mortalitas kelahiran di Amerika Serikat meningkat dari 1:10.000 menjadi 1,4: 10.000 kelahiran, diikuti dengan meningkatnya angka SC dari 13% menjadi 15%. Tetapi kenaikan angka SC ini juga tidak disertai dengan outcome maternal dan fetal yang lebih baik

• Indikasi bedah sesar dibagi menjadi indikasi absolut dan indikasi relatif 3.2. Test Formatif

1. Seorang wanita 27 tahun primigravida sedang di operasi seksio atas indikasi letak lintang. Pada saat akan menjahit uterus tiba-tiba tekanan darah turun menjadi 80/40 dengan estimasi kehilangan darah yang normal. Obat yang dapat menyebabkan kejadian tersebut adalah:

a. Oksitosin b. Methergin

(14)

6 c. Misoprostol

d. Asam traneksamat

2. Yang merupakan indikasi janin dilakukan nya bedah sesar adalah:

a. Bekas SC irisan korporal sebelumnya b. Anomali kongenital janin

c. Infeksi HIV d. Plasenta previa 3.3. Umpan Balik

Apabila mahasiswa mampu menjawab 80% semua pertanyaan tes formatif dengan benar, maka mahasiswa dianggap telah dapat memahami pokok bahasan ini.

3.4. Tindak Lanjut

Mahasiswa yang telah memahami pokok bahasan ini dapat mempelajari pokok bahasan lain sedangkan untuk mahasiswa yang belum mencapai 80% diharapkan mempelajari materi kembali.

3.5. Kunci Jawaban Test Formatif 1. Jawaban A

2. Jawaban B Daftar Pustaka

1. Cole SK. Cæsarean Seksion Rates. Lancet. 2015;315(8168):606.

doi:10.1016/S0140-6736(80)91104-6

2. Boerma T, Ronsmans C, Melesse DY, et al. Global epidemiology of use of and disparities in sesarian seksions. Lancet. 2018;392(10155).

doi:10.1016/S0140-6736(18)31928-7

3. Info A. Original Research Factors That Influence Cesarean Seksion Deliveries in. 2020;8:100-108. doi:10.20473/jbe.v8i22020.

4. Subekti SW. Indikasi Persalinan Seksio Sesarea. J Biometrika dan Kependud. 2018;7(1):11. doi:10.20473/jbk.v7i1.2018.11-19

5. PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PROSEDUR). RSUP Dr Kariadi; 2015.

6. JNPK-KR. Pelayanan Obstetri Dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), Asuhan Obstetri Esensial.; 2008.

(15)

7 II. Persiapan Tindakan

1. Pendahuluan 1.1. Deskripsi Singkat

Sebelum melakukan tindakan operasi, dokter memerlukan persiapan termasuk pengkajian kondisi pasien. Pengkajian pasien tersebut meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, pengkajian indikasi tindakan, edukasi dan informed consent. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi juga perlu mempertimbangakan pilihan anestesi yang sesuai dengan kondisi pasien.

1.2. Relevansi

Persiapan tindakan memuat berbagai macam kompetensi ketrampilan dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

1.3. Capaian Pembelajaran

1.3.1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami persiapan pasien, persiapan operator, persiapan alat dan bahan yang digunakan dalam seksio sesaria.

1.3.2. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK) Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu

1. Melakukan anamnesis secara terstruktur untuk mengetahui masalah dan kondisi yang dialami pasien

2. Melakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan masalah pada pasien 3. Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang

diagnosis

4. Membuat keputusan klinik yang layak dalam pengelolaan pasien 1.4. Petunjuk Pembelajaran

Seorang mahasiswa harus mempelajari teori sebelum menghadapi kasus nyata.

(16)

8 2. Penyajian

Anamnesis

Lakukan pengkajian:

• Usia Ibu

• Jumlah, cara dan luaran pesalinan sebelumnya

• HPHT

• Riwayat medik atau operasi sebelumnya

• KPD dan Perdarahan Pervaginam

• Alergi Obat Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum

• Tanda Vital (nadi, TD, temperatur and pernapasan)

• Paru dan Jantung Abdomen

• Letak, presentasi, dan DJJ Status Lokalis

• Dilatasi, selaput ketuban, penurunan bagian terbawah janin Pemeriksaan Laboratorium

• Hb atau Hct

• Golongan darah (ABO) dan tipe Rh, uji silang (crossmatched)

• Penapisan virus berbahaya

• Gula Darah

• Analisis Urin Persiapan Umum

1. Kaji indikasi tindakan. Periksa kembali presentasi dan pastikan bahwa persalinan pervaginam memang tidak memungkinkan.

2. Mintakan Persetujuan Tindakan Medik setelah memberikan penjelasan obyektif.

3. Periksa konsentrasi Hb, jangan tunggu hasilnya bila ibu dan anak dalam keadaan gawat atau kritis. Periksa golongan darah dan siapkan transfusi.

4. Pasang infus dan mulai beri cairan.

5. Beri natrium sitrat 30 ml 0.3 molar, ranitidine 150 mg (oral) atau 50 mg (IV).

Waktu kerja natrium sitrat adalah 20 menit sehingga harus segera diberikan sebelum induksi anestesia (bila menggunakan anestesia umum).

6. Pasang kateter menetap.

7. Bila kasusnya partus macet dan kepala bayi sudah turun jauh ke dalam jalan lahir maka persiapkan vagina apabila nanti perlu bantuan asisten untuk mendorong kepala bayi dari bawah.

(17)

9 8. Pasien dimiringkan 15 derajat ke kiri dan pertahankan posisi ini dengan

ganjal bantal (pinggul kiri) untuk mencegah supine hypotension syndrome.

9. Periksa kembali DJJ sebelum melakukan operasi.6 Pilihan Anestesia

Pada kondisi yang sangat ekstrim, anestesi umum dapat dilakukan jauh lebih cepat dari anestesia spinal dan juga mempunyai efek yang menguntungkan apabila ibu mengalami hipovolemia atau syok. Pada kondisi dimana anestesia tidak perlu diberikan secara tergesa-gesa (waktu untuk melahirkan bayi sekitar 30 menit) dapat dilakukan anestesia spinal oleh tenaga anaesthetist yang kompeten untuk minimalisasi risiko pada ibu dan bayi. Hal-hal ini tersebut diatas perlu didiskusikan oleh operator dan anestesis.6

2.2. Latihan

Seorang wanita dirujuk ke IGD RS karena persalinan macet. Setelah dilakukan pengkajian, Anda memutuskan untuk mengakhiri persalinan dengan SC. Anda sebagai operator obstetri.

1. Lakukan anamnesis lengkap pada pasien tersebut 2. Lakukan informed consent pada pasien atau keluarga 3. Lakukan cuci tangan operasi sesuai prosedur yang benar

4. Lakukan prosedur mengenakan dan melepas gaun operasi dan sarung tangan yang benar

3. Penutup 3.1. Rangkuman

• Persiapan tindakan meliputi persiapan pasien, persiapan operator, persiapan alat dan bahan

• Persiapan pasien meliputi pengkajian indikasi tindakan, informed consent, pemeriksaan laboratorium, pemasangan infus dan kateter

• Persiapan dokter meliputi cuci tangan, pemakaian gown dan sarung tangan sesuai prosedur

3.2. Test Formatif

1. Seorang wanita primigravida 27 tahun mengaku hamil 9 bulan datang ke IGD dengan keluhan keluar air dari jalan lahir sejak 5 jam yang lalu.

Keluar air dirasakan merembes, tidak dapat ditahan, warna jernih dan tidak berbau pesing. Pasien sebelumnya tidak ada keluhan kenceng – kenceng. Keluhan keputihan disangkal, riwayat berhubungan sebelumnya disangkal, riwayat trauma disangkal. Pasien saat ini

(18)

10 diperiksa didapatkan BB 100 kg TB 150cm TD 100 / 70 mmHg, N 107x/ menit, RR 20x/menit, t 38,6 C, TFU 30cm, pembukaan 2cm, tidak teraba kulit ketuban, teraba acromion, didapatkan lendir darah, kenceng – kenceng dirasakan 2x dalam 10 menit, djj 144x /menit, ireguler. Sikap obstetri yang paling tepat adalah:

a. Tunggu dan evaluasi 4 jam

b. Induksi persalinan dengan priming misoprostol 25mcg pervaginam c. Augmentasi dengan drip oksitosin 5 IU dalam 500 cc RL mulai 8

tpm, naik bertahap 4 tpm tiap 30menit d. Akhiri kehamilan secara perabdominam 2. Diagnosis pasien tersebut adalah:

a. Ketuban Pecah Dini b. Fetal distress c. Chorioamnionitis d. Syok sepsis

3. Jika dilakukan seksio, maka irisan dinding abdomen yang dipilih adalah:

a. Pfannenstiel b. Linea mediana c. Johel-Cohen d. Maylard Incision

4. Durante operasi didapatkan mioma uteri sebesar telur ayam pada bagian segmen bawah rahim maka teknik irisan yang memudahkan kita untuk melahirkan bayi adalah:

a. Pfannenstiel b. Linea mediana c. Kerr

d. Korporal

5. Teknik melahirkan bayi yang paling memungkinkan untuk dilakukan adalah:

a. Meluksir kepala b. Ekstraksi bokong c. Ekstraksi kaki

d. Melahirkan kepala dengan bantuan forceps 3.3. Umpan Balik

Apabila mahasiswa mampu menjawab 80% semua pertanyaan tes formatif dengan benar, maka mahasiswa dianggap telah dapat memahami pokok bahasan ini.

(19)

11 3.4. Tindak Lanjut

Mahasiswa yang telah memahami pokok bahasan ini dapat mempelajari pokok bahasan lain sedangkan untuk mahasiswa yang belum mencapai 80% diharapkan mempelajari materi kembali.

3.5. Kunci Jawaban Test Formatif 1. Jawaban D

2. Jawaban C 3. Jawaban A 4. Jawaban D 5. Jawaban C Daftar Pustaka

1. Cole SK. Cæsarean Seksion Rates. Lancet. 2015;315(8168):606.

doi:10.1016/S0140-6736(80)91104-6

2. Boerma T, Ronsmans C, Melesse DY, et al. Global epidemiology of use of and disparities in sesarian seksions. Lancet. 2018;392(10155).

doi:10.1016/S0140-6736(18)31928-7

3. Info A. Original Research Factors That Influence Cesarean Seksion Deliveries in. 2020;8:100-108. doi:10.20473/jbe.v8i22020.

4. Subekti SW. Indikasi Persalinan Seksio Sesarea. J Biometrika dan Kependud. 2018;7(1):11. doi:10.20473/jbk.v7i1.2018.11-19

5. PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PROSEDUR). RSUP Dr Kariadi; 2015.

6. JNPK-KR. Pelayanan Obstetri Dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), Asuhan Obstetri Esensial.; 2008.

7. Sjamsuhidayat R, Jong W de. Buku Ajar Ilmu Bedah.; 2002.

8. Aujang ER. Complications of Cesarean Operation. Sesarian Sect.

Published online 2018. doi:10.5772/intechopen.75901

(20)

12 A. TINDAKAN BEDAH

I. Benang bedah 1. Pendahuluan 1.1. Deskripsi Singkat

Benang bedah adalah materi yang digunakan untuk ligasi (ligate) pembuluh darah dan aproksimasi (approximate) jaringan. bermacam-amacam bahan telah digunakan sebagai materi dasar pembuat benang bedah, diantaranya:

sutera (silk), linen, katun (cotton), rambut/surai kuda, tendon dan usus, juga emas dan perak. Kini, telah digunakan bahan sintetis untuk memproduksi Benang Bedah, dimana para ilmuwan dan Produsen terus berusaha untuk menciptakan

"Benang Bedah Ideal".

1.2. Relevansi

Pengetahuan tentang berbagai macam benang bedah menunjang pengambilan keputusan tindakan.

1.3. Capaian Pembelajaran

1.3.1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Mahasiswa mengetahui dan memahami jenis-jenis benang serta kelebihan dan kekurangan benang yang digunakan pada seksio sesaria

1.3.2. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK) Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu

1. Memahami teknik-teknik dalam melakukan seksio sesaria

2. Memahami berbagai jenis benang bedah sesuai dengan karakteristik dan fungsinya

1.4. Petunjuk Pembelajaran

Seorang mahasiswa harus mempelajari teori sebelum menghadapi kasus nyata.

(21)

13 2. Penyajian

2.1. Uraian

Benang bedah adalah materi yang digunakan untuk ligasi (ligate) pembuluh darah dan aproksimasi (approximate) jaringan. Bukti keberadaan Benang Bedah yang pertama kali dalam Literatur Mesir pada abad ke-16.

Informasi ini tercatat didalam Edwin Smith papyrus. Berabad-abad lamanya, bermacam-amacam bahan telah digunakan sebagai materi dasar pembuat benang bedah, diantaranya: Sutera (Silk), Linen, Katun (Cotton), Rambut/Surai Kuda, Tendon dan Usus, juga Emas dan Perak. Kini, telah digunakan bahan sintetis untuk memproduksi Benang Bedah, dimana para ilmuwan dan Produsen terus berusaha untuk menciptakan "Benang Bedah Ideal".7

Benang Bedah Ideal

• Steril

• Mudah untuk Digunakan

• Reaksi/trauma jaringan yang minimal

• Memiliki Tensile Strength (kekuatan menahan jaringan luka) yang memadai

• Simpul yang aman

• Diserap tubuh setelah tidak berfungsi

• Dapat digunakan untuk segala jenis operasi Klasifikasi Benang Bedah

a. Absorbable / non-absorbable (diserap dan tidak diserap) b. Natural / synthetic (bahan alami dan sintetis)

c. Braided /monofilament (multifilamen dan monofilamen) Konsep Penting:

Absorption Rate

Lamanya waktu yang dibutuhkan oleh sehelai benang bedah untuk diserap oleh tubuh. Absorption Rate tidak selalu berhubungan dengan kekuatan benang bedah untuk merapatkan jaringan luka. Ahli Bedah / Kebidanan perlu Mampu menjelaskan Absorption Rate dari benang bedah karena benang tersebut merupakan benda asing didalam tubuh pasien.

Tensile Strength in vivo

Kekuatan yang dimiliki benang bedah untuk diregangkan (dalam pounds), hingga benang tersebut putus, setelah implantasi didalam. tensile strength sangat penting karena menentukan apakah benang tersebut cukup kuat untuk merapatkan luka, hingga luka itu sembuh. Contoh: Coated Vicryl - tensile

(22)

14 strength 35 hari, kekuatan masih 75% @ 2 minggu, kekuatan masih 50% @ 3 minggu

a. Aplikasi Non-Absorbable

• Exterior Skin Closure, harus dicabut setelah luka sembuh

• Aproksimasi permanen (Permanent Approximation) akan tinggal didalam tubuh sebagai benda asing (encapsulated)

• Pasien hipersensitif terhadap benang yang diserap

• Untuk memasang Prothesis

b. Natural / Synthetic (Bahan Alami dan Sintetis)

• Natural / Alami:

Benang bedah alami dibuat dari bahan yang dapat ditemukan di alam: Gut (usus) sapi atau kambing, Silk (sutera), Stainless Steel

• Sintetis:

Bahan sintetis diciptakan karena adanya beberapa kekurangan yang dimiliki oleh benang bedah alami, khususnya reaksi jaringan dan absorption rate yang tidak dapat diprediksi

c. Braided / Monofilament (Multifilamen dan Monofilamen)

Monofilament:

Benang monofilamen dibuat dari satu helai bahan yang memungkinkan untuk:

˗ Memberikan trauma minimal terhadap jaringan

˗ Mencegah berkembang-biaknya bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada jahitan

• Braided:

Multifilamen dibuat dari beberapa helai benang yang dipilin / dikepang bersama-sama. Hal ini menyebabkan meningkatnya kekuatan tarik benang dan fleksibilitas yang lebih baik.

Seleksi Benang Bedah

• Ethicon* menciptakan benang bedah dengan ukuran yang dimulai dari No. 7 (terbesar diameternya) terbuat dari stainless steel, hingga No. 11/0 (terkecil diameternya), untuk bedah mata

• Seleksi ukuran diameter benang dilakukan berdasarkan reaksi jaringan yang minimal dengan ukuran benang yang terkecil yang memungkinkan, untuk meminimalkan risiko atas penolakan tubuh terhadap benang tersebut, tapi cukup besar untuk menahan luka jaringan untuk menghindari dehiscense (terbukanya luka)

(23)

15 Catgut (Collagen) suture

• Natural : Absorbable : Monofilament

˗ Lapisan Submucosal / Serosal dari usus hewan

˗ 97-98% collagen murni

• Plain:

˗ Kekuatan dukung: 7-10 hari

˗ Serapan: 60-90 hari

• Chromic:

˗ Kekuatan dukung: 17-21 hari

˗ Serapan: 90-110 hari

˗ Diserap secara enzimatis, dan dipengaruhi banyak faktor (contoh:Tingkat nutrisi pasien)

Chromic Catgut (Collagen) Suture

• Diserap secara enzymatic

• Penyerapan tidak konsisten

• Reaksi jaringan

Chromic Catgut pada implantasi hari ke-14 Reaksi jaringan dengan inflamasi akut Coated

Vicryl Rapide*

(polyglactin 910) suture

• Kekuatan In-Vitro setara Silk (sutera)

• Pada hari 5-6, memiliki kekuatan 50%

• Tensile Strength 10-14 hari

• Diserap dalam 42 hari

• Digunakan untuk Episiotomy Repair (Ukuran 2/0) atau untuk Subcuticular (3/0 dan 4/0)

Monocryl*

(poliglecaprone 25) suture

• Daya dukung efektif: 28 hari

• Jangka waktu serapan: 91-119 hari

• Reaksi jaringan yang minimal dibanding Catgut

• Karakteristik handling yang superior

• Simpul aman

• Monofilamen mengalir halus melalui jaringan

(24)

16

• Dapat digunakan pada semua aplikasi yang menggunakan Chromic dengan hasil yang jauh lebih baik

• Untuk UTERUS Closure: Size 1,0,2/0

• Untuk SUBCUTICULAR Closure: Size 3/0,4/0 Vicryl*

(polyglactin 910) suture

• Daya dukung efektif : 30-40 hari

• Jangka waktu serapan : 56-70 hari

• Kekuatan Tarik:

o 14 hari : 75% kekuatan awal o 21 hari : 50% kekuatan awal

• Aplikasi untuk berbagai jaringan (G.I., Kulit, Fascia, Uterus, Otot, dll.)

• Serapan -Hydrolysis

• Serapan terprediksi

• Reaksi jaringan minimal PDS* II

(polydioxanone) suture

• Sintetis - Diserap - Monofilamen

• "It is unlikely that a single suture could be 'ideal' but PDS is a contender"

(D.J. Leaper et. al. British Journal of Surgery 1984)

• Daya dukung efektif: 60 hari UKURAN <= 4/0 >= 3/0 14 hari 60% 80%

28 hari 50% 50%

42 hari 35% 25%

• Jangka waktu serapan: 180 - 210 hari

• Aplikasi: Fascia, Tendon (Ortho), Sternum Closure (Pediatric), dll. Terutama penutupan Fascia untuk pasien dengan kondisi Compromised Wound Healing (Extended)

Silk

• Natural : Tidak diserap : Multifilamen

• Dari kepompong ulat sutera

• Braided (Wax coated)

(25)

17

• Handling yang prima

• Simpul yang sangat aman

• Namun: Reaksi jaringan relatif akut

• Kelemahan:

˗ Reaksi jaringan

˗ Kekuatan berangsur berkurang -akhirnya terjadi fragmentasi

˗ Dapat digantikan oleh NUROLON Ethilon* (polyamide 666) suture

• Sintesis - Monofilamen - Tidak diserap

• Bahan: Nylon

• Benang Synthetic Non-Absorbable yang pertama

• Penggunaan populer:

Penutupan kulit/subcuticular, mata, microsurgery dan abdominal closure

• Kelebihan:

˗ Halus, mudah melalui jaringan

˗ Monofilamen: tidak memberi tempat berkembang-biaknya mikro- organisma

˗ Kuat

˗ Dukungan luka jangka panjang

• Kelemahan:

˗ Nylon menyerap air

˗ Kehilangan kekuatan sekitar 15-20% per tahun Mersilene*

(polyester) suture

• Sintetis - Tidak diserap - Multifilamen & Monofilamen

• Diperkenalkan di Inggris, 1951,

• Mengatasi kelemahan Silk

• Braided (wax proofed) atau monofilamen

• Karakteristik handling yang prima

• Dukungan permanen

• Kuat

• Reaksi jaringan minimal

• Untuk: Incompetent Cervix (Shirodkar or Mc.Donald Techniq Prolene*

(polypropylene) suture

• Sintetis - Tidak Diserap - Monofilamen

• Monofilamen sebagai alternatif yang lebih baik daripada nylon kuat, tidak menimbulkan reaksi jaringan)

(26)

18

• Kontrol yang lebih baik dengan kemampuan "stretching"

• Lebih lentur untuk handling dan simpul

• Permukaan benang yang paling mulus

• Polypropylene: bahan yang paling tidak reaktif terhadap jaringar

• Reaksi Jaringan Minimal

• Prolene* suture Implant selama 6 bulan 2.2. Latihan

1. Lakukan simpul penjahitan luka seksio dengan teknik reef knot!

2. Lakukan simpul penjahitan luka seksio dengan teknik slip knot!

3. Penutup 3.1. Rangkuman

• Benang bedah ideal memiliki ciri steril, mudah untuk digunakan, reaksi/trauma jaringan yang minimal, memilikit tensile strength (kekuatan menahan jaringan luka) yang memadai, simpul yang aman, diserap tubuh setelah tidak berfungsi, dapat digunakan untuk segala jenis operasi

• Benang bedah diklasifikasikan menjadi absorbable / non-absorbable (diserap dan tidak diserap), natural / synthetic (bahan alami dan sintetis), braided /monofilament (multifilamen dan monofilamen) 3.2. Test Formatif

1. Lama penyerapan benang plain adalah a. 7- 10 hari

b. 40-60 hari c. 80-90 hari d. 15-20 hari

2. Yang termasuk benang multifilamen adalah a. Plain

b. Polyglycolic acid c. Polydraxone d. Panacryl 3.3. Umpan Balik

Apabila mahasiswa mampu menjawab 80% semua pertanyaan tes formatif dengan benar, maka mahasiswa dianggap telah dapat memahami pokok bahasan ini.

(27)

19 3.4. Tindak Lanjut

Mahasiswa yang telah memahami pokok bahasan ini dapat mempelajari pokok bahasan lain sedangkan untuk mahasiswa yang belum mencapai 80% diharapkan mempelajari materi kembali.

3.5. Kunci Jawaban Test Formatif 1. Jawaban: B

2. Jawaban: B Daftar Pustaka

1. Cole SK. Cæsarean Seksion Rates. Lancet. 2015;315(8168):606.

doi:10.1016/S0140-6736(80)91104-6

2. Boerma T, Ronsmans C, Melesse DY, et al. Global epidemiology of use of and disparities in sesarian seksions. Lancet. 2018;392(10155).

doi:10.1016/S0140-6736(18)31928-7

3. Info A. Original Research Factors That Influence Cesarean Seksion Deliveries in. 2020;8:100-108. doi:10.20473/jbe.v8i22020.

4. Subekti SW. Indikasi Persalinan Seksio Sesarea. J Biometrika dan Kependud. 2018;7(1):11. doi:10.20473/jbk.v7i1.2018.11-19

5. PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PROSEDUR). RSUP Dr Kariadi; 2015.

6. JNPK-KR. Pelayanan Obstetri Dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), Asuhan Obstetri Esensial.; 2008.

7. Sjamsuhidayat R, Jong W de. Buku Ajar Ilmu Bedah.; 2002.

8. Aujang ER. Complications of Cesarean Operation. Sesarian Sect.

Published online 2018. doi:10.5772/intechopen.75901

(28)

20 B. KOMPLIKASI

I. Komplikasi Seksio Sesaria 1. Pendahuluan

1.1. Deskripsi Singkat

Komplikasi dari seksio sesaria dapat dibedakan menjadi komplikasi saat pembedahan, komplikasi dini pasca operasi (jangka pendek) dan komplikasi akhir pasca operasi (jangka panjang).

1.2. Relevansi

Mengathui dan menangani berbagai komplikasi seksio sesaria merupakan level kompetensi 4 bagi dokter spesialis obstetric dan ginekologi.

1.3. Capaian Pembelajaran

1.3.1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Mahasiswa mengetahui dan memahami komplikasi yang mungkin terjadi saat dan sesudah dilakukan seksio sesaria.

1.3.2. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK) Pada akhir pembelajaran mahasiswa diharapkan:

1. Mengetahui komplikasi yang mungkin terjadi saat maupun setelah operasi

2. Mampu mediagnosis adanya komplikasi pada saat maupun setelah operasi

3. Mampu melakukan tatalaksana yang tepat pada pasien yang mengalami komplikasi dari seksion sesaria

1.4. Petunjuk Pembelajaran

Seorang mahasiswa harus mempelajari teori sebelum menghadapi kasus nyata.

(29)

21 2. Penyajian

2.1. Uraian

Komplikasi dari seksio sesaria ini dapat dibedakan menjadi komplikasi saat pembedahan dan setelah pembedahan baik jangka panjang maupun jangka pendek.1

Komplikasi Saat Pembedahan 1. Perdarahan

Perdarahan adalah komplikasi yang paling sering dari Seksio Sesaria selama atau setelah kejadian pembedahan. Diperkirakan sekitar 75% perdarahan obstetri terjadi pada Seksio Sesaria. Indikasi Seksio Sesaria menyiratkan kelainan patologis seperti anomali insersi plasenta, hipertensi maternal, persalinan lama, overdistensi uterus dan sebagainya. Yang merupakan faktor yang secara signifikan mengubah jaringan vaskuler dan kontraktilitas uterus.

Peningkatkan perdarahan yang disebabkan oleh kerusakan vaskuler yang sama selama tindakan pembedahan ketika ada kesulitan dalam mengekstraksi janin karena dapat dengan mudah merobek dinding rahim yang dapat menyebabkan kerusakan vaskuler yang lebih besar.

Cara menghentikan perdarahan :

Penanganan harus dimulai dengan diagnosis yang cepat dan tepat.

Pemberian cairan intravena untuk mempertahankan hemodinamik yang adekuat, perlu segera dilakukan transfusi darah. Pada saat yang sama dilakukan pembersihan rongga rahim dan masase rahim sampai terjadi kontraksi uterus diserati pemberian obat sebagai berikut :

1. Oksitosin dengan dosis 10 IU secara IV lambat dilanjutkan dengan infus drip oksitosin 20-40 IU.

2. Ergometrin dengan dosis 0,2 mg secara IM bisa dilanjutkan dengan interval setiap 6 jam.

3. Karbetosin dengan dosis tunggal 10 mcg.

4. Misoprostol dengan dosis 600-800 mcg/rectal.

5. Asam Traneksamat dengan dosis 1 gram secara bolus IV/ 8 jam.

Bila perdarahan masih berlanjut maka dilakukan tampon uteri, bila belum teratasi dengan tampon dilakukan penjahitan tekan atau kompresi. Bila kompresi uterus tidak bisa menghentikan perdarahan maka dilakukan histerektomi.

2. Cedera Urologi

Pada operasi Seksio Sesaria harus hati-hati untuk menghindari kandung kemih, karena terkadang bisa terluka. Cedera kandung kemih dapat

(30)

22 terjadi ketika peritoneum dibuka namun kandung kemih tidak dikosongkan dengan kateter terlebih dahulu. Tempat yang paling sering cedera ureter adalah di kandung kemih atau dipersimpangan pembuluh darah uterus. Terutama bila kandung kemih tidak tertahan dengan benar, lebih sering terjadi saat menjalani operasi histerektomi.

3. Lesi Usus

Lesi usus sangat jarang terjadi pada saat Seksio Sesaria, dan bila terjadi biasanya sekunder akibat pendekatan abdomen yang mendesak dengan perlekatan usus ke dinding anterior pada kasus pembedahan non obstetrik sebelumnya.

4. Komplikasi Anestesi

Komplikasi anestesi sangat jarang terjadi, tetapi apabila terjadi dapat disertai morbiditas yang tinggi yang dapat menyebabkan mortalitas. Pada anestesi regional, komplikasi paling sering adalah hipotensi. Komplikasi lain adalah sakit kepala akibat tusukan membrane keras arachnoid yang menyebabkan keluarnya cairan serebrospinal dengan hilangnya efek bantalan yang bisa sampai menyebabkan henti nafas. Pada anestesi umum menunjukkan kegagalan intubasi jalan nafas sebagai masalah utama sekunder dari kesulitan yang ditimbulkan oleh wanita hamil karena peningkatan masa tubuh dan penurunan kapasitas fungsi paru. Komplikasi lain adalah pneumonitis kimiawi dengan aspirasi kandungan gas yang memiliki kandungan gas yang memiliki prognosis yang tidak baik.

Komplikasi Dini Pasca Operasi 1. Perdarahan

Perdarahan pasca operasi terutama karena hipotonia atau atonia uteri yang ditangani dengan obat uterotonika yang berkelanjutan selama beberapa jam setelah operasi. Penyebab lain adalah karena adanya kelainan koagulasi baik oleh kelainan patologis sebelum oprasi seperti kasus preeklampsia atau riwayat perdarahan dengan retensio plasenta.

2. Infeksi

Infeksi selama Seksio Sesaria adalah salah satu komplikasi yang paling sering dan alasan utama untuk masuk Rumah Sakit kembali. Endometritis post partum terjadi sekitar 5-20 kali lebih sering dengan tingkat keparahan lebih besar pada Seksio Sesaria dibandingkan dengan persalinan pervaginam.

Sehingga menjadi faktor utama karena melibatkan manipulasi uterus, kontaminasi instrument bedah dan jahitan yang menyebabkan iskemia dan nekrsis jaringan yang mendukung perkembangan infeksi. Infeksi terjadi selama 30 hari setelah intervensi dan diklasifikasikan sebagai berikut :

(31)

23 1. Infeksi pemulihan sayatan : hanya mempengaruhi kulit dan jaringan subkutan

di tempat sayatan.

2. Infeksi dalam sayatan : mempengaruhi fasia aponeurotik dan otot.

3. Infeksi organ atau ruang : melibatkan setiap bagian dari anatomi selain sayatan terbuka atau termanipulasi selama operasi.

3. Tromboemboli

Tromboemboli lebih sering terjadi pada seksio sesaria dibanding pada persalinan pervaginam. Gejala di lokasi pembentukan thrombus biasanya minimal dan bermanifestasi sebagai emboli paru atau panggul. Diagnosa dibuat dengan eksklusi pada pasien yang mengalami demam yang tidak disengaja disertai takikardia dan respon yang tidak memadai terhadap pengobatan antibiotik. Pada tromboembli paru, ditandai dengan takipnea, dyspnea, malaise umum, nyeri dada hebat, dan hemoptisis. Dan dalam bentuk yang berat berlanjut syok dengan presentasi kematian yang tinggi. Pada presentase panggul, tidak ada nyeri lokal atau malaise, dan manifestasinya biasanya tertunda, menghasilkan emboli septik, yang awalnya bermanifestasi sebagai infark mikropulmnal.

Komplikasi janin jarang terjadi dan yang paling sering adalah sindrom gangguan pernafasan pada bayi baru lahir terutama pada operasi Seksio Sesaria elektif.

Komplikasi Akhir Pasca Operasi

Komplikasi akhir pasca operasi termasuk endometrisis dinding perut di bekas luka operasi, pembentukan adhesi, dan kemungkinan terjadi insersi plasenta letak rendah, plasenta akreta atau rupture uterus pada kehamilan selanjutnya.

Kecenderungan membatasi jumlah operasi Seksio Sesaria harus diperhatikan secara serius untuk kepentingan pasien karena selain dapat mencegah komplikasi yang berpotensi disetiap kejadian juga berdampak positif pada aspek ekonomi, sosial, dan reproduksi.

(32)

24 2.2. Latihan

Seorang perempuan dilakukan SC. Pada hari ke tiga pasien mengeluh nyeri dan keluar cairan berwarna kekuningan berbau dari bekas operasi.

a. Lakukan pemeriksaan fisik pada pasien b. Sebutkan diagnosis pasien

c. Tuliskan tatalaksana medikamentosa dan non-medikamentosa 3. Penutup

3.1. Rangkuman

• Komplikasi dari seksio sesaria dapat terjadi saat pembedahan dan setelah pembedahan baik jangka panjang maupun jangka pendek

• Komplikasi yang dapat terjadi saat operasi adalah perdarahan, cedera urologi, lesi usus, dan komplikasi anestesi

• Komplikasi dini pasca operasi terdiri dari perdarahan, infeksi, dan tromboemboli

• Komplikasi akhir pasca operasi termasuk endometrisis dinding perut di bekas luka operasi, pembentukan adhesi, dan kemungkinan terjadi insersi plasenta letak rendah, plasenta akreta atau rupture uterus pada kehamilan selanjutnya

3.2. Test Formatif

1. Komplikasi seksio caesaria yang paling mungkin terjadi…

a. Erb’s paralysis

b. Depresi setelah melahirkan c. Nyeri punggung

d. Cedera vesika urinaria

2. Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan untuk mengurangi morbiditas infeksi paska operasi diberikan….

a. 30 menit sebelum melahirkan b. 60 menit sebelum melahirkan c. 90 menit sebelum melahirkan d. 120 menit sebelum melahirkan

3. Kegagalan mengenali dekstrororasi sebelum histerotomi meningkatkan resiko kerusakan pada struktur…

a. Ureter kiri b. Ureter kanan c. Arteri uterina kiri d. Arteri uterine kanan

(33)

25 4. Wanita yang memiliki ekspansi volume darah normal dan hematokrit

minimal 30% biasanya dapat mentolerir kehilangan darah tanpa gangguan hemodinamik sampai…

a. 2000 ml b. 3000 ml c. 4000 ml d. 5000 ml 3.3. Umpan Balik

Apabila mahasiswa mampu menjawab 80% semua pertanyaan tes formatif dengan benar, maka mahasiswa dianggap telah dapat memahami pokok bahasan ini.

3.4. Tindak Lanjut

Mahasiswa yang telah memahami pokok bahasan ini dapat mempelajari pokok bahasan lain sedangkan untuk mahasiswa yang belum mencapai 80% diharapkan mempelajari materi kembali.

3.5. Kunci Jawaban Test Formatif 1. Jawaban D

2. Jawaban B 3. Jawaban C 4. Jawaban A

Daftar Pustaka

1. Aujang ER. Complications of Cesarean Operation. Sesarian Sect.

Published online 2018. doi:10.5772/intechopen.75901

(34)

26 DAFTAR TILIK

KETRAMPILAN SEKSIO SESARIA (Diisi oleh Pengajar)

Hari /Tgl Supervisi : Supervisor :

Berikan tanda √ dalam kotak yang tersedia bila keterampilan/tugas telah dikerjakan , dengan tanda pada kolom :

0 = Tidak dilaksanan 1 = Dilaksanakan salah 2 = Dilakukan perlu perbaikan 3 = Dilakukan dengan benar

Nama Peserta : Semester :

(35)

27 LEMBAR PENILAIAN KETRAMPILAN KLINIK SEKSIO SESARIA

No Kegiatan Kasus 0 1 2 3 ket

1 PERSIAPAN

Memberikan penjelasan dan izin tindakan Menetapkan indikasi seksio sesaria Menentukan jenis seksio sesaria Mempersiapkan tim

Memasang folley kateter

Melakukan asepsis dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya

2 TEKNIK

Melakukan insisi abdomen

Mengeskplorasi uterus dan organ genitalia lainnya

Memasang kasa perut basah

Mengidentifikasi dan menyayat plikavesikouterina, kandung kemih disisihkan ke bawah

Menyayat SBU 2-3 cm dan dilebarkan secara tajam ke samping berbentuk semilunar atau U

Memecahkan ketuban dan melahirkan janin

Menjepit insisi uterus dengan klem Melahirkan plasenta

Mereparasi uterus, tepi luka dijahit dengan simpul 8, lapis pertama dijahit secara jelujur dengan kromik No. 1, atau seksio interrupted, tepi kedua secara jelujur Melakukan reperionisasi dengan plikavesikouterina

Mengeksplorasi genitalia interna dan melepaskan kasa perut dasar

Menjahit peritoneum secara jelujur dengan benang plain cut gut No. 2-0

Menjahit fasia dengan dexon atau vicryl No. 1 secara jelujur

Menjahit subkutis dengan beberapa simpul

(36)

28 cat gut

Menjahit kulit 3 PASCA BEDAH

Menutup luka operasi

Mengawasi fungsi / tanda vital ibu

Membuat catatan rekam medik, termasuk rencana penatalaksanaan selanjutnya Merencanakan rawat gabung sedini mungkin

Memberi informasi pada kasus dan keluarganya

(37)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Jl. Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Telp. 024-76928010 Fax.024-76928011

Website : www.fk.undip.ac.id Email : [email protected]

BIOGRAFI PENULIS

dr. M. Besari Adi Pramono, MSi.Med., SpOG(K)

Lulus sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 1997. Lulus dokter spesialis obstetri dan ginekologi pada tahun 2006 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Lulus magister medik di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro tahun 2007. Lulus konsultan fetomaternal pada tahun 2011 di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Menyelesaikan masa bakti PTT di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saat ini bertugas sebagai ketua program studi obstetri dan ginekologi Fakultas Kedokteran Unversitas Diponegoro dan tengah menyelesaikan pendidikan doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Aktif dalam organisasi profesi POGI dan PERINASIA.

dr. Putri Sekar Wiyati, SpOG(K)

Lulus sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 2004. Lulus dokter spesialis obstetri dan ginekologi pada tahun 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Lulus konsultan ginekologi sosial pada tahun 2014 di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Saat ini bertugas sebagai ketua tim PONEK RSUP dr. Kariadi, ketua pokja AKI POGI Semarang, anggota tim audit maternal dan perinatal dinas kesehatan provinsi Jawa Tengah dan kota Semarang, anggota tim HIV RSUP dr Kariadi Semarang, dan sekretaris program studi obstetri dan ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Referensi

Dokumen terkait

I Nyoman Gede Budiana, SpOG(K) sebagai Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, atas segala bimbingan

Adam Malik Medan yang telah memberikan kesempatan dan sarana kepada saya untuk bekerja sama selama mengikuti pendidikan Magister Kedokteran Klinis Obstetri dan

I Nyoman Gede Budiana, SpOG(K) sebagai Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, atas segala bimbingan

Anak Ayu Saraswati, M.Kes, atas segala fasilitas yang diberikan selama kami mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis I Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran

Buku ajar patologi II (Basic Pathology). Patologi ginjal &amp; saluran kemih. Semarang: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2005.. Surat

I Wayan Sutarga, MPHM, atas segala fasilitas yang diberikan selama kami mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis I-Combined Degree Obstetri dan Ginekologi

I Wayan Sudana, M.Kes, atas segala fasilitas yang diberikan selama kami mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis I Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran