• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU ENSIKLOPEDI ALIRAN DAN MADZHAB DI DUNIA ISLAM

N/A
N/A
Azmi al amien

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU ENSIKLOPEDI ALIRAN DAN MADZHAB DI DUNIA ISLAM"

Copied!
1176
0
0

Teks penuh

Bahkan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh di berbagai aliran dan mazhab terus menjadi wacana dalam bidang keislaman. Bagi siapapun yang ingin mengetahui tindakan dan pemikiran aliran-aliran dan aliran pemikiran tersebut, buku ini bisa menjadi referensi yang baik.

SAMBUTAN

Maka judul yang diambil adalah, Meusu'ah Al-Firaq wa Al-Medzahib fi Al-Alam Al-lslami (Ensiklopedia Aliran dan Aliran Pemikiran di Dunia Islam). “Saya tidak ingin mengetahui keberadaan mazhab dan mazhab. Madzhab ini ibarat menutup pintu cakrawala ilmu, agar semakin menambah jumlah mazhab dan mengobarkan api konflik antar mazhab dan mazhab yang ada.

SAMBUTAN PEMIMPIN REDAKSI

Semoga perbedaan-perbedaan tersebut mendorong manusia untuk bereksperimen, menambah kesuburan pengetahuan dan memperdalamnya; membuka pintu untuk berpikir dan menganalisis. Adapun permasalahan yang menimbulkan perselisihan di antara mereka hendaknya tidak melampaui batas yang dapat merusak ikatan pemersatu.

AL.IBADHIYAH

Meskipun sekte Ibadhiyah sepakat dengan Mu'tazilah dalam pemahaman tauhid, juga dalam hal yang berkaitan dengan sifat-sifat

Namun mengapa dalam kitab-kitab referensi dan kitab-kitab lain yang kami sebutkan disebutkan bahwa mazhab Ibadhiyah merupakan cabang dari mazhab Khawarij? Perceraian Abdullah bin Ibadh dari Nafi' bin Al-Azraq tidak menandai awal bangkitnya aliran Ibadhiyah.

AL-AHBASY

Kemunculan dan Perkembangannya

Kitab-kitab Kelompok Al-Ahbasy

Segala-galanya sesuai dengan kehendak dan kehendak-Nya, dan hukum-Nya, keputusan-Nya dan takdir-Nya." Al-Harawi berkata: "Semua perbuatan hamba dilakukan mengikut kehendak Allah dengan menjadikannya istimewa untuk wujud. Menjelaskan kata-kata Ath-Tahawi, "Kami tidak menghormati mana-mana wali dari para wali lebih dari seorang nabi dari para nabi." Kata-katanya, 'seorang nabi adalah jauh lebih besar daripada semua orang suci,' dia mengulas dengan berkata, 'Ini sesuai dengan firman Tuhan.

ISMAILIYAH

  • Al-Ismailiyah Pertama
  • Al-Fathimiyah
  • Para Dai Fathimiyah di Timur
  • An-Nizariyah di Alamut
  • An-Nizariyah Pasca Runtuhnya Negara Mereka di lran

Fase persembunyian berakhir ketika Al-Hasan II. berkuasa di Alamut dan disebut “Ala Dzikrih As-” oleh kaum An-Nizariyah. Bangsa Mongol memusnahkan kaum Ismailiyah An-Nizariyah dimanapun mereka berada setelah mereka menyerahkan benteng pertahanan mereka kepada pasukan Mongol Pada tahun 710H/1310 M. An- Kelompok Nizariyah terpecah menjadi dua setelah wafatnya Syamsuddin Muhammad, Imam ke-28.

Kediaman para Imam An-Nizaryah Qasim Shah di Anjadan khususnya sejak abad ke-11 H/17 Masihi dianggap sebagai masa untuk menghidupkan dakwah mereka. Seterusnya, pusat dakwah An-Nizaryah Qasim Syah telah dipindahkan dari Anjadan sejak perlantikan Syah Nizar sebagai Imam pada tahun 1124H/1722.

AL.I SMAI LIYAH AN-N IZARIYAH ASY.SYAROIYAH

Alamut Daulah berakhir dengan terbunuhnya Ruknuddin (654 H) oleh pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, yang menghancurkan benteng An-Nizariyah sebelum memasuki Bagdad, ibu kota Daulah Abbasiyah. Benteng ini semakin terkenal setelah An-Nizariyah resmi meninggalkan kekuasaan Daulat Fatimiyah yang lama kelamaan menjadi sangat terkenal karena terdapat perpustakaan yang mempunyai ribuan jilid buku, ilmu falak dan alat-alat astronomi. Pada masa Al-Hasan II, Benteng Alamut lebih menonjol sebagai pusat spiritual An-Nizariyah dibandingkan dengan fungsi aslinya sebagai pusat pemerintahan An-Nizariyah.

Peranan Alamut sebagai pusat kerohanian sedikit berkurangan semasa pemerintahan Al-Hasan III, yang digelar Al-Muslim Al-ladid. Pemerintahan An-Nizaryah (selain zaman Al-Hasan III) merupakan zaman yang menakutkan bagi musuh-musuhnya.

Adapun negara yang menjadi pangkal dakwah Al-Hasan adalah negara bukan Islam (bermula dari Mazdak yang berfahaman komunis, Babakiyah Khuzamiyah, dan pelbagai gerakan kabilah). Al-Hasan menggelarkan dirinya "Da'i li Al-Imam Al-Mastur" (Dai para Imam Tersembunyi), "Hujiahli Al-lmam Al-Mastur" (Hujah Bagi Imam Tersembunyi) dan juga gelaran "Khnlifah Al - Mastur" (Khalifah imam-imam yang tersembunyi (termasuk bapanya, datuknya dan Ibnu Shabah dan orang-orang sebelumnya). Adapun Al-Hasan II, (pengikutnya apabila menyebut namanya selalu menyertainya dengan x;E) t) berakhir. dengan dibunuh di tangan.

Selepas pembunuhan Al-Hasan II, Muhammad II bin Al-Hasan II menggantikan kepimpinan bapanya dengan gelaran Failusuf Al-. Al-Hasan II mempersiapkan mahkotanya putfa Muhammad II H) sebagai pemimpin Nizariyah dengan julukan Al-lmam Ats-Tsani (Imam Kedua).

Nama-nama yang Berasal dari Mereka Sendiri

  • Al-Hasyasyiyun/At'Hasyisyiyahlas (Para Pecandu)
  • Al-Bathiniyah (Kelompok Kebatinan)
  • Al-Mulahidah (Para Pembangkang)
  • Tentang Imamah: Masalah ini adalah paling krusial dalam diri mereka. Mereka mempunyai keyakinan akan selalu munculnya

Hasan Ash-Shabah mengorganisir anggotanya dengan sangat hati-hati agar organisasi atau aliran ini dapat bertahan lama. Inilah pangkat yang disandang Hasan Asy-Shabah sejak tahun 472 H hingga diangkatnya Al-Mustanshir sebagai Al-Hujjah atas wilayah Khurasan. Dengan langkah perlahan dan tuntas tersebut, Hasan Ash-Shabah dan para da’inya berhasil membentuk komunitas Nizariyah yang murni.

Hasan Ash-Shabah bertindak cepat, segera menggulingkan Kekhalifahan Abbasiyah dan mendirikan Negara Ismailiyah Besar. Disebutkan Asy-Syahrastani misalnya, Hasan Ash-Shabah melarang pengikut setianya mempelajari kitab-kitab kuno yang memuat berbagai ilmu - bahkan kitab -.

AL.ASY'ARIYAH,"

Pandangan Al-Asy'ari dalam Kitab Al-Ibanah

Al-Asy'ari menjelaskan - setelah mencela manhaj Mu'tazilah dan Qadariyah dalam masalah pengikatan yang berlawanan. Dalam hal ini, Al-Asy'ari berkata: "Pendapat yang kami berikan dan agama yang kami pegang kepada al-Quran dan Sunnah Nabi dan apa yang telah diriwayatkan oleh para sahabat Nabi dan Tabiin dan para Imam. yang ahli hadis.Al-Asy'ari pada umumnya terlibat dalam perkara yang disandarkan kepada ulama salaf dan ahli hadis Sunni seperti

Hanya saja perdebatan Al-Asy'ari yang ia hadapi dengan lawan-lawannya berbeda dengan perdebatan Imam Ahmad dan orang-orang lain yang sependapat dengannya. Karena Al-Asy'ari lebih bersimpati pada kelompok ini, maka beliau memperkuat pendapat mereka dengan menggunakan metode ilmu kalam.

Masalah Pengambilan Dalil

Beberapa putusan Al-Asy'ari menunjukkan bahwa dalam suatu diskusi kalimat pertama yang digunakan adalah kalimat aqli dan kemudian digunakan kalimat sam'i (Al-Qur'an dan hadits). Untuk mengetahui pendapat Al-Asy’ari tentang hubungan kalimat syar’i dengan kalimat aqli, beliau mengatakan bahwa kalimat aqli merupakan landasan utama, sedangkan sam’i dalil merupakan cabang-cabangnya. Al-Asy'ari mengatakan dalam menjelaskan metode ini bahwa dalam d,alil sam'i ada yang zhahir dan ada yang ruhani, ada yang muhkam (jelas) dan ada juga yang mutasyabih ( samar-samar), ada yang khusus dan ada yang umum, ada yang nasikh (dihapus) dan adamansukh (dihapus), ada yang hakikatnya dan ada pula majaz. Sedangkan kalimat aqli tidak bisa seperti itu karena kalimat aqli sifatnya menekankan dan menjelaskan hakikat.2o1.

Nash tidak secara langsung memasukkan takwila, tetapi berbicara tentang kembalinya nas mutasyabih kepada nas ntuhkam, yang intinya tidak berbeza dengan hujah intelektual. Justeru, Al-Asy'ari menekankan kepentingan keseimbangan antara dalil aqli dan dalil syar'i,^oz dan berpesan kepada murid-murid dan pengikutnya supaya sentiasa menjadi orang yang berpegang teguh kepada Al-Quran dan dalil-dalil atsariyah (para sahabat). perkataan), serta tidak menggunakan akal seperti yang dilakukan oleh penduduk Kadaria; tetapi jadikanlah mereka untuk orang-orang yang dalam masalah u shuliyah membandingkan antara hujah-hujah yang sam'i dan petunjuk-petunjuk akal dengan menahan diri daripada menggunakan akal secara berlebih-lebihan sebagaimana Mu', tazilah dan menjauhi orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya sama sekali .203 .

Perkataan-perkataan Al-Asy'ari Mengandung Banyak Metode Detil yang Muncul Setelah perenungan dan Pemikiran yang

  • Sesuatu yang untuk menjelaskannya, dalil tsabit (pasti) lebih

Kata-kata Al-Asy'ari mengandungi banyak kaedah terperinci yang muncul selepas renungan dan pemikiran. Kemudian Al-Asy'ari sekali lagi memberi isyarat kaedah metodologi yang sangat penting untuk digunakan. Ibn Khaldun berkata dalam Muqaddimanya: "Pengikut Syaikh Abu Al-Hasan Al-Asy'ari bertambah ramai.

Ini kerana mereka masih menisbahkan diri mereka kepada Al-Asy'ari dan mazhabnya. Perkataan ini menyatakan pendapat Al-Asy'ari yang bergantung kepadanya antara dalil syar'i dan dalil aqli.

Adapun masalah kedua yang akan kita kupas di sini adalah pendapat Al-Asy'ari tentang perbuatan makhluk atau yang lebih terkenal

  • Para pejabat tinggi pemerintahan dan kementrian juga ikut

Al-Ash’ari membedakan antara khalq (penciptaan) dan kasab. bertindak); khalk adalah keterampilan yaitu kadim, yang mana. Beberapa kalangan Asya'irah memberikan dukungan dan penguatan terhadap pemikiran Al-Asya'ari dengan mengklasifikasikan permasalahan. Madzhab Al-Asy'ari – yang disebarkan oleh para pengikutnya – berkembang dan tersebar luas di negara-negara Islam.

Misalnya, Ibnu Asakir mengakui keunggulan Al-Ash'ari karena mengetahui ulama yang berafiliasi dengannya. Jika Al-Asy'ari bukan orang yang mumpuni, tentu para ulama tidak akan mengikutinya.

AZARIOAH

Maka mereka memutuskan bahwa setiap orang yang sependapat dengan mereka dari kalangan umat ini harus berhijrah ke mereka, jika tidak maka dia akan dianggap satu kelompok. Dia menganggap kebenaran ada di tangannya dan tidak bertanggung jawab terhadap mereka yang tidak ikut serta dalam perang dan mereka yang tidak beriman yang tidak ingin berhijrah kepadanya.' Namun beliau tidak menilai dirinya sebagai orang kafir ketika melanggar pendapat Al-wadhin, dan tidak pula beliau menilai orang-orang yang menentang Al-wadhin sebelum kematiannya sebagai orang-orang kafir, meskipun ia menilai orang-orang yang berselisih dengannya. .

Dia juga tidak terlepas daripada bertanggungjawab terhadap Pemberi Syafaat pertama yang tidak mempercayai mereka yang tidak menyertai peperangan, tidak mengenakan ujian kepada mereka yang berhijrah kepada mereka, sambil berkata: 'Ini jelas bagi kami dan tidak jelas bagi mereka. 34; Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik-baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka pukullah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali, dan hendaklah mereka menerima kesaksian mereka selama-lamanya.

AHLU SUNNAH

Tentang Sifat Penciptaan

Pengikut Al-Maturidi berpendapat bahawa sifat perbuatan Ailah.. adalah hakikat, bukan ungkapan penangguhan kuasa dan kehendaknya. Ciri-ciri perbuatan seperti mencipta, mencipta dan lain-lain adalah kembali kepada fitrah asal yang berdiri sendiri, iaitu tindakan dan penghasilan umum yang bermaksud asas atribusi, iaitu membawa sesuatu yang tidak wujud daripada tidak wujud , wujud. Abu Mansur Al-Maturidi menyinggung hal ini dengan berkata: "Apabila ada satu sifat yang dikatakan kepada Allah dengan sifat perbuatan dan seumpamanya, maka sifat itu lazimnya berada di zaman keabadian. Maka ia disifatkan olehnya dalam rasa yang berdiri sendiri sebelum adanya makhluk, sebagaimana disebutkan dalam Kltab Al -Burhan As-Sathi'.

A1-Bayadhi menyebutkan bahawa ini juga disebutkan oleh Abul Hasan Ar-Rastaghfani dalam Kitab Al-lrsyad, AbulMu'in An-Nsafi dalam Klalab At-Tabshirah, Imam Atha' bin Ali Al-Jujazani dalam Syarah Al-Fiqh Al-Absath , Al-'Allamah Shadr As-Sari'ah di Kltab At-Ta'dil, Abdullah bin Said Al-Qaththan, Al-Harits Al-Muhasibi dan lain-lain. Ini bertentangan dengan pendapat Imam Al-Asy'ari tentang sifat perbuatan, yang menurutnya adalah kembali kepada perkara atau sifat tertentu seperti yang disebutkan oleh Al-Bayadhi.

Tentang SifatBaqa'Atau Kekal

Dalam hal ini mereka berselisih dengan pengikut Asy'ari yang berpendapat bahwa kebaikan dan keburukan hanya dapat diketahui melalui syariat, dan tidak pula diwajibkan akal untuk kebaikan dan keburukan, yang dalam hal ini bertentangan dengan Mu' . tazilah Mazhab. Syaikh Muhammad Abu Zahrah membandingkan pengikut Asy'ari dan pengikut Al-Maturidi berkata: "Pengikut Asy'ari berada di garis antara Mu'tazilah, ahli hadis dan ahli fiqh. Ini juga berlaku untuk Al-Maturidiyya. daripada Asy’ari dalam penggunaan akal dalam bidang ilmu agama.

Hampir tidak ada yang dapat kita temukan untuk mendukung pertanyaan ini, dan mungkin kita dapat mengulangi apa yang telah disebutkan sebelumnya ketika membandingkan pengikut Asy'ari dengan Mu'tazilah: Dari sinilah Ibnu Taimiyah mulai menyerang para filosof, Mu'tazilah, dan pengikut Asy'ari yang mengkarakterisasi Allah dengan sifat-sifat yang tidak ada.

AL-BABIYAH

Selepas kematian duta keempat, Al-Bab Ar-Rabi' pada tahun 329 H, komunikasi antara Imam kedua dan pengikutnya terputus. Mirza menghadapi saingan daripada salah seorang pelajar Ar-Rasyti, Karim Khan Al-Kirmani H), yang mengaku sebagai Al-Bab khusus untuk imam. Dia tidak mengiktiraf kepimpinan Mirza dan menulis sebuah buku yang membantah kerasnya dan pengiktirafannya sebagai Al-Bab.

Ketika Mirza Ali Muhammad Ash-Syairazi berumur 25 tahun pada tanggal 5 Jumadil Ula tahun 1260 H, bersamaan dengan tanggal 23 lvlaret 1884 Masihi, beliau mengisytiharkan dirinya Al-Bab Imam Ghaib. Al-Bab Ali Muhammad Ash-shyarazi diikuti oleh kebanyakan pengikut mazhab Ash-shaikhiyah dan diiktiraf sebagai pemimpin dan pemerintah.

Referensi

Dokumen terkait