AL-AHBASY
B. Kitab-kitab Kelompok Al-Ahbasy
Abdullah Al-Habasyi banyak menulis kitab yang dicetak dan disebar- kan oleh percetakan Dar Al-Masyari' Al-Khairiyah
di
Beirut. Kitab-kitab yang ditulisnya bermacam temanya, antara lain; akidah,fikih,
tasawuf, hadits, dan tajwid.Di
antara kitab-kitab akidah; Izhhar Al-Aqidah As-sunniyah bi syarh Al -Aqidah Ath-Thahaw iy ah, Al - Mathalib Al-waftyy ah syarh
Al- Aqidah An- Nasafiyyah, dan Ad-Dalil Al-Qawim nla Ash-Shirath Al-Mustaqim,Kitab-kitab
fikih
karyanya; Bughyah Ath-Thalib bi Ma'rifuh Al-ilm Ad-D i n i Al -W aj ib dan A d-D u r r Al - Mufid
fi
D u ru s Al- F i qh w a A t -T auhi d.Kitab-kitab tasawuf kary anya; syarh Ktab sullam At-TaufiT ila Mahabbah Allah ala At-Tahqiq karya sy aikh Abdullah B aalawi, dan Ar-Rawa-ih Az-Zakiyy ah
fi
Maulid Khair Al-Bariyyahffi.
Kitab hadits karyanya ; At-Ta' qib Al-Hatsits ala Man Tha' ana fi Ma shahha min Al-Hadits.
Kitab tajwid karyanya; Ad-Durr An-Nadhidfi Ahkam At-Tajwid.
Ada juga kitab-kitab syarah terhadap pemikiran kelompok Al-Ahbasy yang ditulis oleh para murid syaikh Abdullah Al-Habasyi dan diterbitkan oleh bagian penelitian dan studi Islam
di
percetakan DarAl-Masyari'
Al- Khairiyyah. Mereka juga mempunyai situs di internet dengan alamat \^/\yw,.alhabash i. info/ FAQ. Dalam situs
ini
terdapat informasi-informasi seputar syaikh Abdullah Al-Habasyi dan kelompok Al-Ahbasy dalam 100 tanya jawab. Kalau dilihat jawaban-jawaban yang ada sangat ringkas dan tidak lebih dari beberapa kalimat pendek dan semuanya diawali dengan kalimat ini: Dengan menyebut nama Allah Maha Pengasih lagi Maha penyanyang.Segala
puji bagi Allah Tuhan
semestaalam, bagi-Nya
kenikmatan, baginya Anugeratr, bagi-Nya pujian yang baik. shalawat dari Allah yang Mahabaik dan Penyayang, shalawat dari malaikat yang dekat kepada Allah senantiasa tercurah kepada pemimpin kami Muhammad Rasulullah, kepada keluarganya dan sahabatnya. Dan, semoga Tuhan kami selalu memberikan keselamatan yang banyak. YaAllah, tidak
ada kemudahan kecuali apa yang Engkaujadikan
mudah, dan Engkau menjadikan kesusahan,jika
Engkau berkehendak, menjadi mudah. Kami berkata dan kepada Allah kami memohon pertolongan untuk menjawab pertanyaan kalian.
Contoh Tanya
fawab Tentang Al-Ahbasy
Pertanyaan z Apakah Al-Ahbasy kelompok baru?
}awab:Al-Ahbasybukankelompokbarusepertiyangdituduhkan
sebagian orang. Mereka
mengikuti
madzhab mayoritasumat
Islamdi
dunia ini. Akan tetapi, mereka diiuluki sebagai Al-Ahbasy yang merupakan penisbatan kepadaguru
mereka yangmulia yaitu syaikh ahli
hadits,Abdullah Al-Harawi Al-Habasyi. Nama ini tidak membuat
merekaterganggu seperti didakwakan sebagian orang, bahkan mereka bangga dengan penisbatan mereka terhadap syaikh dan guru mereka' pembaru di masanya, Syaikh Abdullah
Al-Harawi
Al-Habasyi'Pertanyaan : Ap akah p erm asalahan-p ermas alahan y an g dip er deb atkan antar a
Al-Ahbasy dan selain mereka?
]awab: Masalah-masalah penting yang menjadi perbedaan antara
Al-
Ahbasy dan selain kelompok mereka adalah masalah tawassul, istighatsah kepada para Nabi dan orang saleh, ziarah kubur oranS-orang saleh, membaca Al-Qur.anuntuk
orang Islam yang sudah meninggal,dan
merayakanperingatan maulid Nabi.
Pemikiran Akidah Kelompok Al-Ahbasy
Pemikiran kelompok Al-Ahbasy adalah pemikiran Asy'ari murni. Hal
ini
tampak dalam buku-buku yangditulis
syaikhAbdullah Al-Harawi'
Dalamhal
ketuhanan,ia
menetapkan bahwaAllah memiliki
13 sifatsebagaimana disebutkan dalam buku-buku penganut Madzhab Asy'ari. Ia berkata, ,,Inti dari makna penetapan 13 sifat bagi Allah, bahwa sifat-sifat
itu
disebut berulang-ulang dalamAl-Qur'an,
yaitawuiud,
wahdaniyah, Qidam atau Azali, Baqa- , Qiyamuhu binafsih, Qadrah, Iradnh, llm, sama' , Bashar, Hayah, Kalam, dan SucinyaAllah dari
menyerupai makhluk yang baru' Ketika sifat-sifat ini disebut berulang-ulang dalam nash-nash agama, maka para ulama berkata, -Wajib mengetahuinya secara (fardhu'ain). Ketika sifat azali tetapbagiDzatAllah,
maka sifat-sifat Allah juga wajib berslfat azali, karena barunya sifat akan mengharuskan barunyaDzat'sgSSMukhtasharAbdullahAl.Harawi,Al-KafilfillmAd.DinAdh-Dharuri,hlm.14
r
Syaikh
Al-Harawi
menafsirkan masalah qadha dan qadar dengan penafsiran kasab-nya Asy'ari. Ia menjelaskan perkataan Imam An-Nasafi dalam buku akidahnya, "Allah dc adalah pencipta semua perbuatan hamba dari kekafiran dan keimanan, ketaatan dan kemaksiatan. Semuanya adalah atas kehendak dan keinginan-Nya, dan hukum-Nya, keputusan-Nya, dantakdir-Nya." Al-Harawi
berkata, "Semua perbuatan hamba terjadi atas kehendak Allah dengan menjadikannya khusus menjadi ada. Inilah maknadari
kehendak dan keinginan. Perkataan An-Nasafi,"Dan
hukum-Nya, artinya terjadi atas hukum Allah. Yang ia maksud hukumdi
sini adalah kehendak menciptakan. Dikatakan bahwa hukum di sini adalah perintah menciptakan danbukan perintah
membebankan. KarenaAllah tidak
membebankan hamba-hamba untuk berbuat maksiat atau berbuat mubah.Adapun perkataan An-Nasafi, "Dan kepufusan-Nya," artinya adalah ketentuan-Nya, ketentuan
berarti
penciptaan. Maksudnya perbuatan- perbuatan hamba semuanya atas penciptaandari Allah. Tidak
berarti kekafiran dan kemaksiatan atas ketentuanAllah,
makawajib diridhai
karena ridha dengan ketentuan Allah adalah wajib. Pemaknaan sepertiini
adalah batil karena meridhai kekafiran adalah kafir. Kita menjawabnya,"Kekafiran adalah yang ditentukan bukan ketentuan dan ridha itu hanya
wajib
atas ketentuanbukan
atas apa yang ditentukanjika itu
berupa maksiat. Dan, tidak diragukan lagi kita semua dibebani untuk ridha dengan apa yang dicintai Allah, baik berupa orang atau perbuatan."Perkataan An-Nasafi,
"Dan
takdir-Nya," takdir
adalah membatasi segala sesuatu dengan batasan yang adadi
dalamnya dari kebaikan dan keburukary manfaat, dan mudharat, apayang dikandungnya dari zaman dan ruang, apa yang diakibatkannya dari pahala dan siksa. Maksudnya adalah umumnya kehendakAllah
d* dan kekuasaan-Nya atas apa yang telah lalu, bahwa semua adalah atas penciptaan Allah, dan ia melazimkan kekuasaan dan kehendak karena tidak ada paksaan dan tekanan."seSyaikh
Al-Harawi
mensucikan Allah dari tempat dan membenarkanwujud Allah untuk kemungkinan
secaraakal. Ia
berkata,"Allah
d6Mahakaya
dari
semesta alam.Artinya Allah tidak
membutuhkan dari semua selain-Nya secara azali dan abadi. Allah tidak membutuhkan tempat59
Al-Mathalib Al-Wafiyyah Syarh Al-Aqidah An-Nasafiyah, cet.kedua 1998, hlm. 101.untuk berdiam atau sesuatu untuk tinggal di dalamnya atau membutuhkan arah. Karena
Allah
tidak seperti sesuatu.Allah
tidak berupa benda yang tebal atau benda yang halus. Bertempatdi
suatu ruang adalahciri
tubuh yang kasar dan tubuh yang halus. Tubuh yang kasar dan halusmemilikli
ciri berada di suatu arah dan tempat.Allah {H berfirman,
"Dan Dialah yang telah mmciptakan malam dan siang, matahni dnn bulan.
Masing-masing dari keduanya
itu
beredar di dalam garis edarnya."(Al- Anbiya':
33)Allah
menetapkan masing-masing empat hal tersebut bertempatdi
orbit putarannya. Dan, cukup sebagai dalil bahwa tidak berada di tempat atau ruang atau arah firman Allah,"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia," (Asy-Syura: 1L) karena jika Allah berada di suatu tempat, maka akan memiliki misal dan dimensi (panjang, lebar, dan volume). Dan
jika
demikian,berarti
benda baru yang diciptakan dan membutuhkan orang yanS membatasinya dengan panjangnya, Iebarnya, dan volumenya ini'60Dalam masalah kenabian Syaikh Abdullah Al-Harawi berkata,
"Waiib
berakidah bahwa setiap Nabi dari Nabi-nabiAllah
waiibmemilikli
sifat shidiq(jujur),
amanah (dapat dipercaya), fathanah (cerdas). Mustahil bagi merekamemiliki
sifat kadzib (dusta),khianat,
kejelekan, kebodohan, kedunguan. Merekajuga wajib
ma'shumatau
terjagadari
kekafiran,melakukan dosa besar, melakukan dosa kecil yang hina sebelum diangkat menjadi
Nabi
dan setelahnya. Dan,mungkin
mereka melakukan selainitu
dari kemaksiatan-kemaksiatan, akan tetapi akan langsung bertaubat sebelum perbuatan merekadiikuti
oleh orang lain'61Syaikh
Al-Harawi
berpendapat bahwa mengucapkan dua kalimat syahadat setelah sampaiumur
baligh adalah wajib bagai setiap mukallaf sekali dalam umurnya dengan niat wajib menurut Madzhab Maliki, karena pengikut Madzhab Maliki tidak mewajibkan mernbaca tahiyyat dalam shalat dan menganggapnya sebagai sunnah.Menurut
madzhab selainMaliki
sepertisyafi'idan
Hanbali, tahiyyat adalah wajib dalam setiap shalat agar shalatnya menjadi sah.62Ash- Shir ath Al- Mus taqim, hlm.36.
Mukhtashar Abdullah Al-Harawi, Al-Kafit fi llm Ad-Din Adh-Dharuri, hlm. 15.
Ash-shirath Al-Mustaqim, hlm.15.
60 6T 62
r
Dalam sikapnya terhadap para sahabat Nabi, Al-Harawi menjelaskan perkataan Imam Ath-Thahawi, "Kami mencintai para sahabat Rasulullah
ffi
dan kami tidak berlebihan dalam mencintai salah satu dari mereka dan kami tidak bebas dari salah satu mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka, kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan. Para sahabat Rasulullah adalah mereka yang pernah menjumpainya dan mengimaninya pada masa kehidupannya sesuai dengan keadaan biasa, bukan dalam kejadian yang luar biasa. Para Nabi yang berjumpa Rasulullah pada malam Isra'
Mi'raj
di Masjid Al-Aqsha tidak dihitung sebagai sahabat karena pertemuanitu
terjadi dalam kondisi di luar kebiasaaan."Adapun perkataan Ath-Thahawi, "Dan kami tidak berlebihan dalam mencintai salah safu dari mereka," arttt:rya kami
tidak
melampaui batas dalam mencintai seorang seperti yang dilakukan sebagian pelaku bid'ah.futi
dari perkataannya,"Kami tidak bebas dari salah satu mereka", adalah kamitidak
mengafirkan salah satu dari mereka.Arti
dari perkataannya,"Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan", ini adalah secara global, sedangkan secara
rinci
kami memuji dan mencela sesuai dengan afi,r art sy ara'. Adapun perkataanny a, " Dan kami tidak melepaskan diri dari salah satu mereka," artinya ia tidak menyamakan antara masing-masing sahabat dalam hal kecintaan, penghormatan dan pengagungan. Itu bukanlah maksud dari perkataannya. Akan tetapi yang dimaksud adalah kita tidak menyepelekan salah satudari
sahabat sampaiakhir
hayatnya.Artinya kita tidak
mengeluarkan salah satudari
merekadari
kelompok sahabat Rasulullah.aPemikiran Sufi Kelompok Al-Ahbasy
Pemikiran kelompok ini
berdasarkan pada karamah parawali,
tawassul dengan orang-orang saleh, istighatsah dengan paraahli kubur
dan mengambil berkah dengan peninggalan-peninggalan mereka.Syaikh Abdurrahman As-Sibsi Al-Hamawi, Syaikh ThahirAl-Kiyali Al-Himshi
mendapat ijazah dalam ThariqahAl-Qadiriyah
dari Syaikh AhmadAl- Arbini
danlainnya,
sebagaimana disebutkan dalam biografinya yang disebutkan di mukaddimah buku-buku yang ditulisnya.63 Ad-Dunah Al-Bahiyyahf Hall Alfazh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, cet.keempat,2005, hlm. 98
Dalam menjelaskan perkataan Ath-Thahawi, "Kami tidak menganSsaP satupun wali dari para wali melebihi satu Nabi dari para Nabi." Perkataan- nya, ,,satu Nabi tebih a/dh al daripadasemua
wali,"
ia berkomentar dengan berkata,"Hal ini
sesuai dengan firman Allah,,,Masing-masingnya kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)."
(Al-An,am:86) maksudnya setiap Nabi yang disebutkan kami utamakan mereka daripada semua orang
di
dunia,yaitu
dengan deraiat kenabian.Dan,
juga
termasuk mereka selain yang disebutkan karena sifat yang membuat mereka diutamakantetap
adadalam
semuanyayaitu
sifat kenabian. Tidak boleh menakwilkan ayat bahwa yang dimaksud adalah para ulama di zaman Nabi yang disebutkan, karena ini adalah takwil yang tidak berdasarkan dalil. Takwil seperti ini terlarang.eSyaikh
Al-Harawi
memperingatkan sebagiankitab karya
ulama tasawuf yang mengandung kekafiran. Ia berpendapat bahwa isi kekafiran itu dipalsukan kepada mereka oleh orang-orang ahli penyeleweng dan ahli dusta. Kaum sufi yang hakiki adalah mereka yang paling beradab dengan Allah dan tidak akan mengucapkan kata-kata jelek terhadap Allah.Syaikh
Al-Harawi
menolak dua hal penting yang masyhur tentang kaumsufi, yaitu
mengandalkan kasyafuntuk
membenarkan masalah agama dan meremehkan belajar danilmu.
Ia berkata, "Dan, yang harus diperingatkan adalah perkataan sebagian kaum sufi yang bodotu apabila mereka didebat dalam masalah agama yang mereka salah di dalamnya,"Ini
adalah benar sesuai dengan ilmtkasyaf." Perkataan seperti ini adalah batil karena ilham seorang wali bukan sebab ilmu yang pasti dan itu bukan hujjah sebagaimana disebutkan An-Nasafi, danmaqam
itu
adalah lebih rendah.Imam Al-|unaid, pemimpin kaum sufi berkata, "Terkadang terbesit dalam pikiranku jawaban halus dari jawaban-iawaban orang maka aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi adil dari Al-Qur'an dan sunnah."
Syaikh Al-Harawi memperingatkan hal kedua dengan berkata,
"Apa
yang masyhur di kalangan sebagian kaum tasawuf bahwa parawali
dan orang khusus tidak butuh lagi dengan ilmu agama atau nash-nash agama melainkan cukup dengan ilham dan curahan, maka jawabannya adalah 64 lbid., hlm.103apa yang disebutkan Syaikh Yusuf
Al-Ardabili
dalam kitabnya Anwar A'mal Al-Abrar, ini adalah nashnya, seandainya ada orang berkata,"Allah
mengilhamiku apa yang aku butuhkan dari urusanagama, karenanya aku
tidak
lagi butuhilmu
dan ulama, maka orangitu
adalah pelaku bid'ah, pendusta, dan dipermainkan setan." Syaikh Al-Harawi menukil dari imam Al-Qurthubi bahwa orang yang berkata, "Aku tidak mengambil dari ulama, aku hanya mengambil dari Yang Mahahidup dan tidak akan mati." Atau orang yang berkata,"Aku
mengambil dari hatiku dari Tuhanku," maka dia adalah kafir menurut kesepakatan para ahli syariat."6Komentar
Pertama: Kekurangan kelompok Al-Ahbasy
ini
adalah meremehkan para ulama umat; baik ulama dahulu atau ulama terakhir,fiengkafirkan
beberapa ulama dalammasalah ijtihad meskipunmereka sendiri memper- ingatkan dari berlebihJebihan dalam mengafirkan.
Kedua:Perdebatan mereka
hampir
terpusat dengan kaum Wahabi.Kedua kelompok
ini
saling menyerang keras satu sama lainnya.Ketiga:Pernimpin kelompok Al-Ahbasy
memiliki
pengetahuan luas dalam masalah-masalah ilmu syariah, memiliki pemahaman-pemahaman khusus yang terkadang bisa diterima atauditolak
oleh kelompok lain.Ini tidak
membuat mereka merasa terganggu, karena setiap orang bisaditerima atau ditolak
pendapatnya.Akan tetapi
tampaknya mereka berlebihan menganggap pendapatnya sendiri yang benar sehingga, sampai mengafirkan orang yang berseberangan dengan pendapatnya. Mereka menerapkan metodeini
terhadap beberapa ulama umat baik ulama salaf ataupun ulama kontemporer.Keemp at:P emikiran kelompok Al-Ahbasy, sebagaimana penulis baca dari kitab-kitab pemimpin mereka, banyak titik temunya dengan kelompok Asy'ari dan Sufi.
Kelima: Perselisihan-perselisihan kaum muslim mungkin bisa berada dalam batas ijtihad selagi tidak berseberangan dengan dasar-dasar agama.
Kita membedakan antara akidah sebagai agama dan akidah sebagai ilmu.
Akidah sebagai agama adalah mudah, tidak rumit, tidak ada perdebatan
65
At-T ahdzir Asy -Sy ar' i Al-Waj ib, cet.kedua, 2002, 1 / 1,68-171.karena ia adalah suara fitrah dan seruan akal. Dasar-dasar akidah ini tertulis dalam firman Allah,
"Rasul telnh beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhnnnya, demikian pula orang-orang yang beriman.Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya.
(Mereka mengatakan), " Kami tidak membeda-b e dakan antar a seserangpun (dengan yang lain)
dai
rasul-rasul-Nya," dan mereka mengatakan, "Kami dengar dan kami ta' at." (Mereka ber doa, " Amp unilah kami y a Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Al-Baqarah:285)Dan dalam sabda Rasulullah 'M yang masyhur dengan hadits Jibril, ,,Iman
adalah kamu percaya kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, Rasul-rasul-Nya,
Hai
Kiamat, kamu percaya dengan qadar (ketetapan) yang baik dan buruknya. " (HR. BukhariMuslim)
Adapun akidah sebagai ilmu, ia adalah studi, riset, ijtihad, tidak beda banyak dengan ijtihad-ijtihad fikih dan harus diletakkan dalam bingkainya yang benar, bahwa barangsiapa berijtihad dan ia benar, maka baginya dua pahala. Barangsiapa berijtihad dan ia salah, maka baginya satu pahala'
Contohnya ayat-ayat mutasyabihaf bukanlah termasuk
rukun
dari rukun-rukun akidah. Seorang muslim dan seorang mujtahid berhak untuk memilih menyerahkan maksud ayat tersebut kepada Allah. Masalahnya adalah, lebih besar dari akal dan lebih besar daripada kita menghukumidi
dalamnya dengan keyakinan sempuma, bahkan cukup di dalamnya dengan mentarjih atau memilih pendapat yang paling kuat. Menakwilkan ayat-ayat tersebut adalah mensucikary bukan meniadakan sebagaimana anggapan sebagian orang. Mereka yang menakwilkan mengetahui keagungan dan kesempurnaan Allah dengan pengetahuan yang hakiki dan tidak ada yang mendebat
hal ini
kecuali orang yang sombong. Menetapkan sifat-sifat Allah dengan aturan-aturannya (tanpa menyerupakan, menyerahkan, dan menakwilkan) adalah bentukdari
penakwilan. Mereka ketika berkata,"Kami menetapkan bagi Allah tangan tidak seperti tangan-tangan, mereka mengatakan dengan majaz (tamsil). Memalingkan lafazh dari zhahirnya dalambahasa arab adalah majaz dantakwil. Bahasa tidak mengenal tangan hakiki kecuali tangan yang khusus bagi para makhluk."
r
:
Berkaitan dengan masalah tasawuf
ilmiah
atau teori, pada umumnya adalah masalah-masalah yang ditolak oleh syariat seperti teorikutub,teoriabdal, menetapkan pengaruh di alam dari para wali dan orang saleh yang sudah meninggal. Tasawuf amaliyah atau
praktik
padaumunya
bisa diterima secara syariat. Ia adalah akhlak, maka barangsiapa menambahimu dalam akhlaknya, makaia
menambahimu dalam tasawufnya. Apabila niat-niat telah benar, makakita
bekerja sama dalam apa yang menjadi kesepakatan kita dan kita saling memaklumi apa yang menjadi perbedaan kita dan yang memang boleh diperselisihkan.Prof. Dr. Muhammail
Al-Musayyar
'r - l, :. .i ''at r' !,.I.,-.+t