AHLU SUNNAH
2. Tentang SifatBaqa'Atau Kekal
Imam Al-Bayadhi menjelaskanbahwa aPa yang dianut olehpengikut Maturidi tentang sifat kekal, yang bukan merupakan sifat wujudiyah, adalah berseberangan dengan Imam Al-Asy'ari dan para pengikutnya. Imam
Al-
Baqilani dan Imam Al-Haramain serta banyak pengikutAsy'ari
lainnya berseberangan dengan Asy'ari dalam hal ini. Mereka berpendapat bahwa sifat kekal bukanlah hal tambahan dari wujud melainkan keberlangsungan darinya.3uSifat mendengar tanpa alat pendengar adalah sifat bukan ilmu menurut pengikut Al-Maturidi, demikian pula sifat melihat. Pendapat ini dipilih oleh Imam Al-Haramairy Imam Ar-Razi dan banyak lagi dari pengikut Asy'ari.
Mengetahui sifat mencium, merasa dan menyentuh bukanlah sifat tidak tahu menurut para pengikut Al-Maturidi. Merasakan sesuatu dengan salah satu
dari
indera bukanlah tahu dengannya melainkan sebagai alatnya.Mengetahui sebagian hal yang pasti bukanlah hanya dengan akal. Inilah yang
dipilih
oleh banyak pengikut Imam Al-Asy'ari.334 lsyarat Al-Maram, }:.lm. 212-273.
Wajib iman kepadawujud Allah, keesaan, kekuasaan, ilmu, kalam dan kehendak-Nya, barunya alam semesta, mukjizat sebagai bukti kerasulan, wajib mempercayainya, haram mengingkari dan mendustakannya dengan berdasar dalil akal dalam pencarian dalil, tanpa tergantung pada kenabian dan sampainya dakwah. Perbuatan-perbuatan Allah bisa dicari maslahat dan hikmahnya sebagai karunia dari Allah bukan wajib atas Allah. Inilah pendapat yang dianut oleh penulis l(rtab Al-Maqashid dansebagian pengikut Asy'ari. Kemampuan bisa menerima dua hal yang saling berlawanan atas pergantian, pilihan seorang hamba mempengaruhi dalam pensifatan bukan dalam penciptaan.
Ini dipilih
oleh Al-Baqilani, Abu Ishaq Al-Isfirani, dan Imam Al-Haramain.Masalah-masalah )iang
di
dalamnyaterjadi
perbedaan antaraAl- Maturidi
dan Asy'ari kurang lebih ada 50 masalah yang diambil dalilnya lewat isyarat atau ibarat, dilalah atau iqtidha' atau maftum mukhalafoh.Suatu kebaikan
-
dalam arti sesuatu yang berhak mendapat pujian dan pahala-
dan suatu keburukan-
dalam arti sesuatu yang berhak mendapat celaan dansiksaan-
adalah bersifat aqli artinya akal mengetahui selama masa pencariandalil hukum-hukum
pencipta dalam sepuluh hal yang tersebutdi
atas. Dalam halini
mereka berseberangan dengan pengikut Asy'ari yang berpendapat bahwa kebaikan dan keburukan hanya diketahui lewat syariat, juga tidak mewajibkan akal terhadap kebaikan dan kejelekan yang dalam halini
mereka berseberangan dengan Madzhab Mu'tazilah.Adapun bagaimana pahalanya dan surga atau bagaimana siksanya dan neraka, maka
ini
diketahui dari syariat.335Madzhab Al-Maturidifh Antara Pengikut Asy'ari
danMu'tazilah
Syaikh Muhammad
Abu
Zahrah membandingkan antara pengikut Asy'ari dan pengikutAl-Maturidi
dengan mengatakan, "Penganut Asy'ari berada dalam garis antara Mu'tazilah, ahli hadits, dan ahli fikih. Sedangkan penganutAl-Maturidi
berada dalam garis antara Mu'tazilah dan penganut Asy'ari. Dalam halini Abu
Zahrah mengikuti Syaikh Al-Kautsari dalam menetapkan pertengahanini
pada dua belah pihak.336 Analisis sepertiini
juga kita temui pada peneliti-peneliti kontemporer.33Ttbid,53-57.
Syaikh M uhammad Abu Zahrah, T a r ikh Al - Ma d z ahib Al- I sl amiyy ah, hlm. 167 -169.
Lihat, Abu Manslrur Al-Imam Al-Maturidi Hnrlatultu wa Ara'uhu Al-Aqadiyah, karya Dr.
335 336 33/
Dr.
Ali Abdul
Fattah meringkas sumber-sumber yang menyebutkan beberapa sisi perbedaan antara Asy'ari dan Al-Maturidi, di mana Al-Maqrizi menyebutkan perbedaan antara keduanya dalam belasan masalah. As-Subki juga menyebutkan jumlahyang sama, sebagian ada yang perbedaannya dari segi kalimatnya saja, ia juga menulisnya dalam bait syair. Imam Al-Bayadhi menyebutkan bahwa perbedaan antara keduanya mencapailima puluh
masalah. Sebagian ulama yang menyebutkan perbedaan antara keduanya lebih merrdukung Al-Maturidi seperti Syaikh Zadah dalam kitabnyaNazhm Al-Fara-id wa lama' At-Fawa'id.
Ada
sebagian yang mendukung Asy'ari sepertiAbu
Udzbah dalam kitabnya Ar-Raudhah Al-Bahiyyahfi
Ma BainaAl-Asya',irah wa At-Maturidiyah.338 Perbedaan-perbedaan
ini tidak
bisa dijadikan alasanuntuk
mengkafirkan atau membid'ahkan.Lalu
apakah Al-Maturidiyah lebih sedikit daripada Asy'ari dalam hal penggunaan akal di medanilmu
akidah?Kita hampir tidak
menemukan apa yan8 menguatkan pertanyaan tersebut, dan mungkin kita bisa mengulang lagi apa yang sebelumnya telah disebutkan ketika membandingkan penganut Asy'ari dengan Mu'tazilah:Dua kelompok
ini-berdasarkan
kematangan yang merekacapai-tidak
konsisten baik secara metodologis maupun tematis terhadap pokok asal pertama
yaitu prinsip
keterbatasan akal karena keduanyatidak
peduli dengankritikan
yangdilontarkan
pada akal secara filsafat, keduanya dalam melupakan kritikan ini berlandaskan pada akal teori yakni prinsip keharusan praktik. Dengan demikian, mereka juga menyepelekan pokok asal kedua dan ketiga.As-salafiyah/Satafi
Kita tidak menemukan pokok asal yang tepat daripada penggunaan kata salafi sehingga bisa dijadikan rujukan
untuk
mendefinisikan istilahini.
Kata salaf secaraetimologi berarti
generasiawal
danyang
dekat dengan generasi mereka. Pada tema kita kaliini,
generasi awal dan yang dekat dengannya adalah para sahabat Nabi dantabi'in.
Dalam generasi tabi'in diperlukan adanya seleksi, terutama setelah kita tahu bahwa sejakBalqasim Al-Ghali, hlm. 67.
33g lmam Ahlu Sunnah wa Al-lama'ah Al-lmam Abu Manshur Al-Maturidi wa Ara'uhu Al'
Kalamiyah, karya Dr. Ali Abdul Fattah Al-Maghribi, hlm' 425'
pertengahan kedua dari abad 2 H telah tertanam dan tumbuh benih sekte- sekte seperti Khawarij dan Syiah.
Ketika kita menerima Imam Hasan Al-Bashri misalnya sebagai salah satu
di
antara kaum salaf dan menolak Washilbin Atha'
atauAmr
binAbid
sebagai bagian mereka, makaberarti kita keluar dari
maknanya secara etimologi dankita tidak
cukup menilaidari
standar zaman saja.Ini
berartikita
harus mencari makna terminologi yang berasas standar tematis tidak terkungkung pada zaman tertentu saja. Dengan begitu, kita bisa memasukkan semua yang menganut madzhab ini dan mengeluarkan semua yangtidak
menganut madzhabini. Di
sinilah pentingnyanilai
tematis dan metodologis yang merupakan pokok permasalahan, bukan nilai zaman dalam menentukan suatu istilah, sehingga hal ini memerlukan upaya berat untuk membahasnya.Kita telah menemukan standar tematis dalam bentuknya yang
murni dan diterima dalam
menentukan apayang dimaksud
salafi menurut sebagian orang dan sebagian lainnya yang menganut paham salafiitu
sendiri. Misalnya saja standar yang disebutkan Imam Ar-Razi tentang mereka yang berpendapat dalam ayat-ayat mutasyabihaf secara pasti selain yang lahir, menyerahkannya kepada Allah tentang makna yang dimaksud darinya,tidak
membahas panjang dalam menafsirkannya.33e Standarini
tidak diterima di kalangan pengikut Ibnu Taimiyah tokoh salafi baru.Dari sini kita lebih cenderung
untuk tidak
menggunakan istilahini
secara luas meski tidak meninggalkan istilah secara keseluruhan, terutama
kita lihat
bahwamengikuti
jejakkaum
salaf bukanberarti kita
harus menisbatkandiri
kepada mereka, akan tetapikita
melihat kepada apa mereka menisbatkan diri mereka. Mereka menisbatkan diri mereka kepada agama Islam yang cukup jelas.Dalam tema kita membahas sekte-sekte Islam, maka ada keharusan
untuk sedikit
berinteraksi denganistilah ini. Kita
berinteraksi dengan istilahini
dengan menggunakanistilah
lainnya yang khusus dan tidak ada perdebatan dalam istilah, apalagi dalam temaini
ada sisi-sisi yang penuh misteri. Istilah yang kita lontarkan sesuai tema yang kita bicarakan adalah melalui dua cara. Cara pertama, kita menggantinya dengan istilah 339 Asas At-Taqdis, hlm. 222-228.yang
digunakan Rasulullah dalam
sabdanyayang masyhur
tentang standarisasi sekte-sekte, "Ahlu Sunnah adalah apa yang dianut oleh aku dan sahabat-sahabatku."Cara kedua, kita menggunakan istilah salafi sebagaimana yang sudah masyhur tanpa memaknainya dengan makna dan
nilai
tertentu. Tidak ada perselisihan bahwa istilah salafi telah masyhur seiak beberapa waktu lalu digunakanuntuk
menunjuk para pengikut madzhab Imam Hanbali berawaldari
Imam merekayaitu
Ahmadbin
Hanbal, kemudian Imam Ibnu Taimiyah dan berakhir pada Imam Muhammad binAbdul
Wahab.Dalam pembahasan singkat ini, kita memilih Imam Ibnu Taimiyah karena ia dianggap sebagai
juru
bicara madzhab Imam Hanbali dan pengusung pendapat-pendapatnya, terutama yang berkaitan dengan masalah-masalah akidah.Imam lbnu.Taimiyah
Nama lengkapnya adalah Imam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin
Abdul Halim bin
ImamMajduddin Abul
Barakat Abdussalambin
Abu Muhammad bin Abdullah bin Abul Qasim bin Muhammad bin Al-Khidhr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani. Ia dilahirkan di kota Harran pada tanggal L0 Rabi'ul Awal tahun 661,H. Kemudian sang ayah membawanya berhijrah ke kota Damaskus dan menentapdi
sana ketika bangsa Tatar menyerang negara-negara Islam tahun 667H.
Flidupnya penuh dengan kesibukan menyebarkan ilmu, fatwa, amar makruf nahi mungkar, berjuang melawan musuh sampaiia dihakimi
dan dipenjara karena pendapat- pendapatnya. Ia meninggal pada tanggal 20 Syawal tahun 728H.?40Imam Ibnu Taimiyah dan Masalah Sifat-sifatAllah
Dr. Muhammad Khalil Harras dalam bukunya yang
berjudtl
Al-lmam Ibnu Taimiyah As-Salafi yang terbit tahun 1954 berpendapat bahwa Imam Ibnu Taimiyah mendirikan madzhabnya dalam masalah sifat-sifat Allah berdasarkan tiga kaidah utama: Kaidah pertama, semua yang ditetapkan340 Lihat Al-'Llqud Ad-Durrivah min Manaqib syaik Al-lslam Ahmnd lbnu Taimiyah, karya Al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi, Thab'ah Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah, 1938, tahqiq Syaikh Muhammad Hamid Al-Fiqi, dan Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Ibnu Katsir.
oleh
Allah
terhadapdirinya
atau ditetapkan oleh Rasul-Nyadari
sifat- sifat-Nya adalah wajib ditetapkan. Dan, semua yang dinafikan oleh Allah atau Rasul-Nya maka wajib dinafikan. Adapun apa yang tidak dijelaskan oleh syariat baik dalam menetapkan atau menafikary maka orang yang mengatakannya harus dimintai penafsirannya. Apabila maksud dari yang dikatakannya adalah benar dan sesuai dengan syariat maka bisa diterima' Tetapi apabila bertentangan dengan syaria! maka harus ditolak. Jika kata yang ditetapkan mengandung kebenaran dan kesalahan, atau kata yangdinafikan
mengandung kebenaran dan kesalahan, atau mengandung makna global sedangkan yang dimaksud adalah kebenaran dan kesalahan tetapi yang berkata bermaksud sebagianny asaia, dan ketika diucapkan bisa mengelabuhi orang atau membuat orang memahami apa yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, maka kata-kata seperti ini tidak perlu ditetapkan atau dinafikan.ulKaidah ini patut dijadikan
pedoman dalam berinteraksi dengan kata-kata dan istilah modern yang dilontarkan dalam pemikiran agama kontemporer, sedangkan yang dimaksud adalah makna-makna berbedayang
sebagianjelas dan
sebagianlagi
samar sesuai dengantingkat
perdebatan. Misalnya menyifatiAllah
dengan kata Insinyur Agung dan kekuatan kosmos. Juga seperti kata perkembangan agama, relativisme sejarah, agama-agama samawi, keharusan sosial dalam agama' keharusan hukum alam, hak asasi manusia.Kaidah kedua, menafikan untuk tidak menyamakan Dzat Allah, sifat-
Nya
dan perbuatan-Nya dengan sesuatupundari
makhluk-Nya.Allah
tidak menyamai sesuatupun dan tidak ada sesuatupunyanS menyamainya.Semua sifat-sifat kesempurnaan yang ditetapkan Allah adalah khusus
milik
Allah dan tidak ada orang lain yangikut
memilikinya'Apabila
ada nama-nama sifatAllah
yang sama dengan sifat-sifat makhluk-Nya, makaini
hanyalah kesamaan dalam nama saia dan bukan berarti kesamaan dalam sifat-Nya dengan sifat makhluk. Allah dinamakan sebagaiAl-Qadir
atau Yang Mahakuasa, seorang hambajuga
bisadi
sebut sebag ai "yang kuasa" tidak berarti kuasa Allah sama dengan kuasa 341 Tafsir surah Al-lkhlash,karyalmam Ibnu Taimiyah dan Minlmi As-sunnah,1'/349
hamba. Demikian pula pada sifat-sifat Allah lainnya seperti Yang Berilmu, Berkehendak, Yang Hidup, Yang Mendengar, Yang Melihat Yang Berfirman.
Hamba-hamba yang disifati dengan sifat-sifat seperti ini bukanberarti
ilmu
mereka, kehendak mereka dan hidup mereka sama dengan ilmu, kehendak, dan hidup Allah.
Penjelasannya adalah,
sifat Allah dipahami dan dimaknai
sesuai dengan apa yangpatut
bagi-Nya, sedangkan sifat hamba-hamba juga dipahami dan dimaknai sesuai dengan apa yang layak bagi mereka. Sifat- sifat itu memiliki tiga penisbatan; sekali dinisbatkan kepada Tuhan, sekali dinisbatkan kepada hamba, dan sekalitidak
dinisbatkan kepada Tuhan dan hamba. Apabila sifatini
dinisbatkan seperti sifat kuasa hamba dan sifat kuasa Tuhan, maka sifatini
mengikuti apa yangdisifati
apakah ia sebagai makhluk atau bukan makhluk.Apabila sifatini
diucapkan tanpa penisbatan, maka artinya bermakna global tidak dinisbatkan pada makhluk atau bukan makhluk sampai terjadinya penisbatan.u2Kaidah ketiga, kesempurnaan adalah tetap
milik
Allah. Bahkan yang tetap bagi-Nya adalah kesempurnaan yang paling tinggi, di mana tidak ada wujud yang sempurna tanpa kekurangan kecuali hanya tetap pada Allah.Segala kesempurnaan yang tetap pada makhluk dan boleh disifatkan pada Sang Pencipta, maka kesempurnaan
itu
adalah lebih sempurna lagi bagi- Nya. Segala kekurangan yang tidak layak bagi makhluk, maka kekurangan itu lebih tidak layak lagi bagi sang Khaliq.Dalam menetapkan sifat kesempurnaan kepada Allah, Ibnu Taimiyah menggunakan
dalil-dalil
aqli dan naqli.Adapun
dalil aqli Ibnu Taimiyah berdasar pada qiyas aulakarenajika kesempurnaan yang mungkin adaitu
mungkin ada pada vang diutamakan, makaitu
akan lebih mungkin ada pada yang memang utama, karena kesempumaan itu diambil oleh makhluk dari khaliq dan yang menjadikan selainnya bisa sempurna, maka dia lebih sempuna lagi. Dan, yang menjadikan selainnya kuasa, maka berarti dia lebih kuasa. Yang menjadikan selainnya tahu, maka berarti dia lebih tahu.Yang menjadikan selainnya hidup, berarti dia lebih hidup.3a3 Dan karena kesempurnaan adalah lazimnya
Dzat
yang wajibul wujud (keberadaan- 342 Majmu' ah Ar-Rasa' il un Al-Masa- il, 5 / 4343, Minhaj As-Sunnah, 1. / 1.94,343 Majmu' alt Ar-Rasa' il wa Al-Masa- il, 5 / 4346, Minhaj As-Sunnah, 1. / 1.94.
Nya menjadi sebuah keniscayaan), maka kesempurnaan
itu
adalah wajib baginya dan tidak mungkin dilepaskandarinya.
iDi sini Ibnu Taimiyah
menegaskan dengan metodenya bahwa kesempurnaanitu
tidak ada kecuali sebagai sesuatu yang berwujud atau mengandung sesuatu yang berwujud. Adapun sesuatu yang tidak berwujud, maka tidak ada apa-apanya apalagi kalau sampai ada kesempurnaannya.Dari titik inilah Ibnu
Taimiyahmulai
masuk menyerang kaum filsafat, Mu'tazilah, dan penganut Asy'ari yang mensifati Allah dengan sifat-sifat yangtidak
ada. Seperti perkataan mereka tentangAllah, "Allah tidak
berada di dalam alam dan tidak berada di luar alam." Dary ia melihatnya melazimkan untuk tidak adanya sesuatu yang disifatinya.ruDalam kerangka dalil
aqli-nyaini kita mengira Ibnu Taimiyah
menyerang pemberian sifat-sifat yang tidak ada, yang menurutnya tidak melazimkan suatuwujud. Dari sini ia
menunjuk pada ketiadaan yang disifati dalam beberapa hal. Pertama, tampaknya seperti orang yang mencari sesuatu yang berwujud bisa menerima gambaran benakpikir
manusia.Inilah yang tidak mungkin tercapai ketika sifat ketiadaan
ini
menghapus gambaran tersebut. Dan,ini tidak
benar berdasarkan keterbatasan akal manusia,hukum-hukum
khususnya dalam melakukan olahpikir
dan berdasarkan madzhabnyasendiri,
bahwatidak
ada kesamaan antar makhluk dengan khaliq. Kedua, ruang dan masa (waktu) adalah di antara kreasi Allah. Sedangkan wujud itu sebagaian ada yang tunduk pada ruang dan waktu, ada sebagian yangtidak tunduk
pada keduanya. Dan, yang terkahir inilah yang disifati sebagai tidakberada di dalam dan tidakberada di luar, sebab yang berada di dalam dan di luar keduanya adalah sesuatu yang beradadi
tempat.Allah tidak tunduk
pada ruang karena Dialah penciptanya dan wujud-Nya lebih dahulu darinya.Ketiga, sesungguhnya
tidak
ada ketiadaan melainkan mengandung penetapan bagiwujud,
keharusantidak
adanya ketiadaan yang mutlak.Dalam ketiadaan yang dikatakan oleh
Mu'tazilah
mengandung makna wujud yang disifati dengan kesempurnaan mutlak bagi yang disifatinya.Dr. Yahya Hasyim Farghal 344 Majmu'ah Ar-Rasa'il Al-Kubra, h1m.116, Risalah Al-Furqan