• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU KONSENSUS PENATALAKSANAAN HIPERTENSI 2019

N/A
N/A
Indah Puspita Sari

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU KONSENSUS PENATALAKSANAAN HIPERTENSI 2019"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

FK Pelita Harapan University Siloam Hospital Lippo Village Tangerang Arieska Ann Soenarta, dr., Sp.JP(K), FIHA. Amanda Tiksnadi, dr., Sp.S(K) Neurologisk afdeling, FK University of Indonesia RSUPN Cipto Mangunkusumo BRM Ario S Kuncoro, dr., Sp.JP(K), FIHA.

Pendahuluan

Prinsip Pemahaman Konsensus

Proses membangun konsensus adalah proses pengambilan keputusan suatu kelompok yang dibentuk untuk tujuan tertentu, dimana para anggota sepakat dan sepakat untuk mendukung keputusan demi kepentingan terbaik dari semua pilihan yang ada. Jika semua orang setuju dan setuju dengan keputusan tersebut, diharapkan semua orang akan jauh lebih berkomitmen untuk mewujudkannya.

Menyikapi Berbagai Panduan Hipertensi . 6

Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan di klinik (atau fasilitas kesehatan) atau di luar klinik (HBPM atau ABPM). Pengukuran tekanan darah selama kehamilan dilakukan sambil duduk (atau miring ke samping kiri saat melahirkan).

Gambar 1. Penapisan dan Diagnosis Hipertensi
Gambar 1. Penapisan dan Diagnosis Hipertensi

Definisi dan Kriteria Hipertensi

Pengukuran TekananDarah

Perlu dicatat bahwa tekanan darah diukur secara cermat menggunakan alat ukur yang tervalidasi. Tempatkan bagian lonceng stetoskop di atas arteri brakialis yang terletak tepat di tepi bawah manset.

Penapisan dan DeteksiHipertensi

Home Blood Pressure Monitoring (HBPM) 16

Pengukuran tekanan darah pada HBPM dilakukan menggunakan osilometer yang telah tervalidasi secara internasional dan disarankan untuk melakukan kalibrasi alat setiap 6-12 bulan sekali. Pengukuran dilakukan dalam posisi duduk, dengan kaki di lantai, punggung bertumpu pada kursi atau dinding, dan lengan diletakkan pada permukaan datar (meja setinggi jantung). Hasil akhir merupakan rata-rata minimal 2 kali pemeriksaan dalam waktu 3 hari atau lebih (disarankan 7 hari) yang membedakan hasil pengukuran pagi dan sore hari.

Untuk memperoleh hasil yang akurat, perlu diberikan pendidikan dan pelatihan kepada pasien tentang cara mengukur dengan benar dan mencatat hasil pengukuran. Pengukuran tekanan darah yang dilakukan oleh pasien sendiri memberikan dampak positif terhadap kepatuhan pasien dan keberhasilan dalam menurunkan tekanan darah. ABPM merupakan metode pengukuran tekanan darah selama 24 jam, juga saat tidur, dan merupakan metode akurat untuk memastikan diagnosis hipertensi.

Rata-rata tekanan darah HBPM dan ABPM lebih rendah dibandingkan nilai pengukuran tekanan darah di klinik, dan batas tekanan darah untuk diagnosis hipertensi sesuai tabel berikut. ABPM = pemantauan tekanan darah rawat jalan; HBPM = pemantauan tekanan darah di rumah; BP=tekanan darah; TDD = tekanan darah diastolik; TDS = tekanan darah sistolik.

Konfirmasi Diagnosis Hipertensi

Strategi pengukuran tekanan darah di luar klinik (HBPM atau ABPM) untuk memastikan diagnosis hipertensi sangat disarankan bila tersedia. Pengukuran tekanan darah di rumah juga dapat mendeteksi hipertensi pada penyakit jas putih, hipertensi terselubung, dan kasus lainnya.

Evaluasi Klinis

Penilaian Risiko Penyakit Kardiovaskular

Saat mengukur risiko CVD pada pasien hipertensi, perlu mempertimbangkan dampak dari berbagai faktor risiko lain yang dimiliki pasien. Pada individu dengan kategori risiko tinggi dan sangat tinggi, hipertensi dengan penyakit penyerta harus segera ditangani. HMOD=Kerusakan organ yang dimediasi oleh hipertensi; CKD = penyakit ginjal kronis; TDD=tekanan darah diastolik; TDS = tekanan darah sistolik.

Faktor risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi Karakteristik demografi dan parameter laboratorium Jenis kelamin (pria > wanita). Diabetes melitus (DM) dengan kerusakan organ sasaran, misalnya proteinuria, atau disertai faktor risiko utama seperti hipertensi derajat 3 atau hiperkolesterolemia. Pada penderita DM secara umum (kecuali pada individu muda penderita DM tipe 1 dan tanpa faktor risiko besar lainnya, termasuk risiko sedang).

Tabel  4.  Klasifikasi  Risiko  Hipertensi  Berdasarkan  Derajat Tekanan Darah, Faktor Risiko Kardiovaskular,  HMOD atau Komorbiditas
Tabel 4. Klasifikasi Risiko Hipertensi Berdasarkan Derajat Tekanan Darah, Faktor Risiko Kardiovaskular, HMOD atau Komorbiditas

Indikasi Merujuk ke Fasilitas Kesehatan

Penatalaksanaan Hipertensi

  • Intervensi Pola Hidup
  • Penentuan Batas Tekanan Darah untuk
  • Target Pengobatan Hipertensi
  • Pengobatan Hipertensi – Terapi Obat
  • Algoritma Terapi Obat untuk Hipertensi
  • Pengobatan Hipertensi dengan Metoda

Perawatan medis pada pasien hipertensi merupakan upaya menurunkan tekanan darah secara efektif dan berhasil. BP=tekanan darah; TDD=tekanan darah diastolik; TDS = tekanan darah sistolik, CKD = penyakit ginjal kronis, PJK = penyakit jantung koroner, TIA = serangan iskemik transien. HMOD=kerusakan organ akibat hipertensi; PJK = penyakit jantung koroner; CVD=penyakit kardiovaskular; TD = tekanan darah.

TIA = serangan iskemik sementara; BP=tekanan darah; TDD=tekanan darah diastolik; TDS = tekanan darah sistolik. PENGOBATAN HIPERTENSI – TERAPI OBAT Strategi pengobatan yang direkomendasikan dalam pedoman. Strategi pengobatan yang direkomendasikan dalam pedoman pengelolaan hipertensi saat ini adalah dengan menggunakan terapi kombinasi untuk sebagian besar pasien untuk mencapai target tekanan darah. Tiazid atau diuretik tipe tiazid. mg/hari) Frekuensi per hari. mg/hari) Frekuensi per pemblokir Beta hari – tidak.

Pertimbangkan beta blocker pada tahap apa pun, jika ada indikasi spesifik seperti gagal jantung, angina, pasca-MI, fibrilasi atrium, atau pada wanita. ACEi= penghambat enzim pengonversi angiotensin; ARB = penghambat reseptor angiotensin; CCB = penghambat saluran kalsium; CVD = penyakit kardiovaskular; MI = infark miokard, BB = beta blocker Dikutip dari ESC/ESH 2018 Hypertension Guidelines.

Tabel 7. Ambang Batas TD untuk Inisiasi Obat
Tabel 7. Ambang Batas TD untuk Inisiasi Obat

Hipertensi Resisten

Definisi Hipertensi Resisten

Penggunaan terapi intervensi alat belum direkomendasikan sebagai modalitas pengobatan rutin hipertensi, kecuali dalam konteks penelitian, hingga tersedia data yang lebih lengkap mengenai efektivitas dan keamanannya.

Hipertensi Resisten Palsu

Pengobatan Hipertensi Resisten

Hipertensi Sekunder

Pasien muda (<40 tahun) dengan hipertensi stadium 2 atau hipertensi berbagai derajat pada anak-anak.

Hipertensi Krisis (Hipertensi Emergensi dan

Keluhan nyeri dada yang hebat atau stres psikis yang berat juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba. Identifikasi pemicu lain untuk hipertensi akut, seperti kehamilan, yang dapat mempengaruhi strategi penatalaksanaan. Obat-obatan intravena dengan waktu paruh yang pendek merupakan pilihan ideal untuk titrasi tekanan darah secara hati-hati yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang mampu memantau hemodinamik secara terus menerus.

Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan keadaan darurat hipertensi telah meningkat dalam dekade terakhir, namun kelompok pasien ini masih berada dalam kategori risiko tinggi dan memerlukan skrining untuk hipertensi sekunder. Ketika tekanan darah mencapai tingkat yang aman dan stabil dengan terapi oral, pasien dapat rawat jalan. Pemantauan rawat jalan dianjurkan minimal sebulan sekali hingga target tekanan darah optimal tercapai dan dilanjutkan pemantauan rutin jangka panjang.

Tabel  16.  Kondisi  Hipertensi  Emergensi  yang  Memerlukan  Penurunan  Tekanan  Darah  Segera  dengan Obat Intravena beserta Targetnya
Tabel 16. Kondisi Hipertensi Emergensi yang Memerlukan Penurunan Tekanan Darah Segera dengan Obat Intravena beserta Targetnya

Hipertensi dalam Kehamilan

Definisi dan Klasifikasi Hipertensi dalam

Hipertensi antenatal tidak terklasifikasi Istilah ini digunakan ketika tekanan darah pertama kali diukur setelah 20 minggu kehamilan dan tidak jelas apakah hipertensi tersebut kronis atau tidak. Klasifikasi hipertensi pada kehamilan IUGR = henti pertumbuhan intrauterin; PCR = rasio protein terhadap kreatinin; SGPT = serum glutamat piruvat transaminase.

Penatalaksanaan Hipertensi dalam

Pemeriksaan lebih lanjut sesuai indikasi klinis, misalnya USG ginjal dan ginjal, serta fraksinasi metanefrin plasma atau urin pada ibu hamil dengan dugaan riwayat feokromositoma. Wanita hamil dengan risiko sedang mengalami preeklamsia (kehamilan pertama, usia >40 tahun, jarak kehamilan >10 tahun, indeks massa tubuh >35 kg/m2 pada kunjungan pertama, riwayat keluarga dengan preeklamsia dan kehamilan ganda sebelumnya) dan risiko tinggi (hipertensi pada kehamilan sebelumnya, gagal ginjal kronik, penyakit autoimun, diabetes melitus tipe 1 dan 2 serta hipertensi kronik) diberikan aspirin 100-160 mg per hari selama kehamilan 12-36 minggu. Obat pilihan untuk preeklamsia berhubungan dengan edema paru adalah nitrogliserin dengan dosis 5 µg/menit melalui infus, ditingkatkan bertahap setiap 3-5 menit hingga dosis maksimal 100 µg/menit.

Pengobatan dianjurkan untuk ibu dengan hipertensi gestasional, riwayat hipertensi (hipertensi kronis) yang disertai hipertensi gestasional, atau hipertensi dan penyakit organ subklinis jika tekanan darah >140 atau tekanan darah >90 mmHg. Untuk hipertensi berat, dianjurkan pengobatan dengan labetalol intravena (belum tersedia di Indonesia), metildopa oral, atau nifedipine. Disarankan untuk mempercepat persalinan pada ibu hamil dengan preeklampsia yang disertai perburukan klinis, seperti gangguan penglihatan atau gangguan hemostasis.

Ibu dengan hipertensi gestasional atau preeklampsia berisiko tinggi terkena stroke dan penyakit jantung iskemik, sehingga diperlukan perubahan gaya hidup dan penilaian tekanan darah rutin setiap tahun serta penilaian faktor metabolik lainnya.

Tabel  17.  Penatalaksanaan  Hipertensi  dalam  Kehamilan
Tabel 17. Penatalaksanaan Hipertensi dalam Kehamilan

Hipertensi Jas Putih dan Hipertensi

Hipertensi Jas Putih

HipertensiTerselubung

Pada pasien CKD, dengan atau tanpa diabetes, modifikasi gaya hidup dan pengobatan antihipertensi dianjurkan jika tekanan darah klinis ≥140/90 mmHg. Peningkatan tekanan darah pada stroke hemoragik akut dapat mengakibatkan perluasan hematoma, perdarahan berulang, peningkatan angka kematian, dan peningkatan kecacatan. Menurunkan tekanan darah hingga <140/90 mmHg dalam 6 jam pertama telah terbukti aman dan mengurangi perluasan hematoma serta dapat meningkatkan hasil klinis.

Pada pasien stroke iskemik akut yang tidak mendapat trombolisis dan mempunyai penyakit penyerta lain seperti infark miokard akut, gagal jantung akut, diseksi aorta, perdarahan pasca trombolisis, eklampsia/preeklampsia, tekanan darah harus diturunkan. Penurunan tekanan darah pada pasien stroke iskemik akut yang belum mendapat trombolisis dan tidak mempunyai penyakit penyerta lainnya, apabila tekanan darah >220/120 mmHg maka akan berkurang sebesar 15% pada 24 jam pertama timbulnya stroke. Inisiasi dan penggunaan obat antihipertensi kembali diberikan pada pengobatan ≥72 jam jika tekanan darah >140/90 mmHg dengan stabilitas neurologis klinis.

Setelah memulai pengobatan hipertensi, tekanan darah akan menurun dalam waktu 1-2 minggu dan target harus dicapai dalam waktu 3 bulan. Pengurangan dosis obat dilakukan secara bertahap dengan pemantauan tekanan darah secara rutin untuk menentukan dosis efektif minimum.

Hipertensi dengan Komorbiditas Spesifik

Penatalaksanaan Risiko Serebro-Kardio-Reno-

Penggunaan Antiplatelet dan Statin

Pasien hipertensi dengan diabetes tipe 2 atau sindrom metabolik sering kali mengalami dislipidemia aterogenik yang ditandai dengan peningkatan trigliserida dan LDL. Pemberian statin meningkatkan hasil jangka panjang pada kelompok pasien ini, dan penggunaannya dipandu oleh perkiraan profil risiko kardiovaskular yang dihitung dengan SCORE. Untuk pasien hipertensi dengan penyakit kardiovaskular atau perkiraan risiko penyakit kardiovaskular yang sangat tinggi, penggunaan statin dianjurkan untuk mencapai target LDL-C <70 mg/dL atau penurunan >50% jika LDL-C awal adalah 70-135 mg/dl.

Pada pasien dengan perkiraan risiko kardiovaskular tinggi, statin direkomendasikan untuk mencapai atau mengurangi target LDL-C di bawah 100 mg/dL. Statin harus dipertimbangkan untuk mencapai LDL-C <115 mg/dL pada pasien dengan perkiraan risiko kardiovaskular rendah hingga sedang. Risiko toksisitas (rhabdomyolysis) harus dipertimbangkan ketika menggunakan statin pada pasien gagal ginjal dengan eGFR <30 ml/menit/1,73 m2.

Statin belum terbukti bermanfaat pada pasien dialisis kronis kecuali mereka sudah mengonsumsi statin sebelum dialisis. Dalam hal ini, statin dapat dilanjutkan. Pemberian obat antiplatelet pada pasien hipertensi dapat dibagi menjadi dua kelompok indikasinya, yaitu sebagai pencegahan primer bila belum menderita penyakit kardiovaskular (penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskular, atau penyakit arteri perifer) dan sebagai pencegahan sekunder bila terdapat penyakit kardiovaskular. .

Tindak Lanjut PasienHipertensi

Setelah beberapa kemungkinan lain disingkirkan dan dokter menganggap bahwa peningkatan tekanan darah disebabkan oleh pengobatan yang tidak efektif, maka perlu dilakukan peningkatan regimen obat tergantung kondisi pasien. Setelah pengobatan, pasien harus dipantau perkembangan HMOD yang ada atau munculnya manifestasi HMOD baru. Carey RM, Calhoun DA, Bakris GL, Brook RD, Daugherty SL, Dennison-Himmelfarb CR, dkk.

Percutaneous renal denervation in patients with treatment-resistant hypertension: final 3-year report of the Symplicity HTN-1 study. Consensus recommendations of an expert panel on home blood pressure monitoring in Asia: the Asian HOPE network. 2016 European guidelines on prevention of cardiovascular disease in clinical practice: The sixth joint working group of the European Society of Cardiology and other societies on prevention of cardiovascular disease in clinical practice (consisting of representatives of 10 societies and invited experts), developed with special contribution of the European Association for Cardiovascular Prevention and Rehabilitation (EACPR).

ASPC/NMA/PCNA Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure in Adults: Abstract: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines. The European Society of Cardiology/European Society of Hypertension 2018 and the American College of Cardiology/American Heart Association Blood 2017.

Gambar

Gambar 1. Penapisan dan Diagnosis Hipertensi
Tabel  4.  Klasifikasi  Risiko  Hipertensi  Berdasarkan  Derajat Tekanan Darah, Faktor Risiko Kardiovaskular,  HMOD atau Komorbiditas
Tabel 5. Faktor Risiko Kardiovaskular Pasien Hipertensi  Karakteristik demografik dan parameter laboratorium  Jenis kelamin a  (laki-laki &gt; perempuan)
Tabel 7. Ambang Batas TD untuk Inisiasi Obat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat praktis hasil penelitian prevalensi, kesadaran, terapi hipertensi dan pengendalian tekanan darah dengan faktor usia, jenis kelamin, BMI, dan risiko kardiovaskular

Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Klinik De Besh Center Arrahmah Dan Rumah Sehat Sabbihisma Kota Padang, Jurnal FK Universitas Andalas..

2018 [19] Fuzzy Mamdani Umur, Nafas Diagnosis risiko hipertensi 13 Jie et al.2018 [20] Ontology expert system, Web Semantic Riwayat hipertensi dan tekanan darah Diagnosis

Hal ini menyebabkan tekanan perfusi jaringan menurun akibat penurunan aliran darah ke jaringan.12,13 Hipertensi emergensi dapat terjadi pada berbagai keadaan klinis, namun paling umum

Distribusi frekuensi tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan terapi bekam pada penderita hipertensi di Poliklinik Trio Husada Malang Kriteria f % Tekanan darah Sebelum Normal

Rata - Rata Tekanan Darah Lansia dengan Hipertensi Sesudah Diberikan Terapi Tetawa di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang Tekanan Darah Sesudah Terapi Tertawa Mean SD

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN DENGAN INTERVENSI INOVASI PEMBERIAN TERAPI INHALASI AROMATERAPI JAHE TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUANG UNIT GAWAT

Makalah ini membahas tentang Pengaruh Pemberian Terapi Elektroakupuntur terhadap Nilai Tekanan Darah pada Pasien