Pelayanan pendidikan tidak dapat dilihat dan dirasakan oleh konsumen sampai konsumen membeli atau memperoleh penyedia jasa pendidikan secara langsung. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan adalah suatu lembaga yang bergerak di bidang jasa pendidikan yang kegiatannya melayani konsumen yaitu pelajar, mahasiswa, dan masyarakat.
PEMASARAN JASA PENDIDIKAN
Rahman Tanjung, SE. MM
STIT Rakeyan Santang Karawang
PENDAHULUAN
MANAJEMEN DAN STRATEGI
- KONSEP DASAR MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN
Untuk menjalin hubungan yang baik antara perusahaan dan konsumen, diperlukan keterampilan manajemen yang dapat menjalankan fungsi manajemen pemasaran secara optimal. Manajemen pemasaran terjadi ketika setidaknya satu pihak dalam pertukaran potensial mempertimbangkan tujuan dan sarana untuk memperoleh tanggapan yang diinginkan pihak lain.
PROMOSI JASA PENDIDIKAN
Universitas Islam Nusantara (UNINUS)
PRODUK, HARGA DAN
- PENGERTIAN PRODUK, HARGA DAN PROMOSI JASA PENDIDIKAN
- Produk Pendidikan
Berikut ini akan dijelaskan bagian dari konsep bauran pemasaran yang terdiri dari produk, penetapan harga dan promosi jasa pendidikan. Kotler mendefinisikan produk sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan. Dengan kata lain, produk adalah keseluruhan benda atau proses yang memberikan sejumlah nilai tertentu kepada konsumen.
Dalam konteks jasa pendidikan, produk adalah jasa yang ditawarkan kepada pelanggan berupa reputasi, pilihan, dan ragam pilihan. Lembaga pendidikan yang mampu memenangkan persaingan jasa pendidikan adalah lembaga yang mampu menawarkan reputasi, peluang, pendidikan bermutu, prospek cerah dan kesempatan bagi peserta didik untuk menentukan pilihan sesuai keinginannya. Dengan kata lain, produk pendidikan adalah segala sesuatu yang ditawarkan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan.
MANUSIA DAN PROSES JASA PENDIDIKAN
Acai Sudirman, S.E., M.M
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sultan Agung
LOKASI, SUMBER DAYA
- LOKASI PENDIDIKAN
Selain lokasi pendidikan, harus ada manajemen sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan model fasilitas pembelajaran ini. Saat ini sumber daya manusia di dunia pendidikan semakin diuji kemampuannya dalam menyikapi perubahan dan perkembangan teknologi serta penerapannya dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Kondisi ini memunculkan keinginan para pendidik sebagai sumber daya utama dalam mendorong inovasi dan meningkatkan daya tanggap terhadap kecanggihan teknologi.
Hal lain yang tidak kalah penting dari lokasi dan personel adalah proses pelayanan pendidikan itu sendiri. Proses pendidikan saat ini harus mengikuti perkembangan zaman, aturan-aturan baru dalam dunia pendidikan dan gaya belajar peserta didik. Proses pendidikan yang terlalu kaku akan menimbulkan tingkat kebosanan dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga diperlukan inovasi dan kreativitas dalam penyelenggaraan layanan pendidikan.
Rayinda Eva Rahmah, M.Pd IAIN Pekalongan
BUKTI FISIK JASA PENDIDIKAN
Namun terdapat pula dampak negatif bagi dunia pendidikan di era globalisasi ini, yaitu terjeratnya lembaga pendidikan dalam arus kapitalisasi, yang dalam istilah lain disebut dengan komersialisasi pendidikan (Efferi, 2015). Mengingat pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan peradaban manusia, maka diperlukan suatu wadah yang secara prosedural dapat melaksanakan amanah pemerintah negara, salah satunya melalui lembaga pendidikan formal. Jika melihat pengertian lembaga pendidikan sebagai organisasi bisnis yang fokus menghasilkan jasa pendidikan dan menawarkannya kepada konsumen, maka lembaga pendidikan perlu memahami siapa sebenarnya kelompok sasaran yang potensial.
Sasaran utama konsumen disini adalah kalangan pelajar dan mahasiswa, serta banyak konsumen lainnya yaitu masyarakat, orang tua dan lain-lain (Buchari & Ratih, 2008). Dengan demikian, pengelolaan lembaga pendidikan sebagai penyelenggara jasa pendidikan oleh pemerintah diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa lembaga pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan bertingkat yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. . Selanjutnya lembaga pendidikan sebagai organisasi yang bergerak di bidang jasa harus menerapkan etika pemasaran yaitu memberikan layanan intelektual yang berkualitas dan pembentukan karakter secara positif.
PERILAKU KONSUMEN JASA PENDIDIKAN
Hastuti Marlina, SKM., M.Kes STIKes Hang Tuah Pekanbaru
Persaingan antar lembaga pendidikan, khususnya pendidikan yang dikelola swasta, menyebabkan beberapa lembaga pendidikan banyak ditinggalkan konsumen. Semakin baik strategi pemasaran suatu lembaga pendidikan maka akan semakin banyak pula konsumen yang menggunakan jasa pendidikan pada lembaga tersebut. Secara tidak langsung persaingan dalam pemasaran jasa pendidikan mendorong lembaga pendidikan untuk berusaha meningkatkan kualitasnya.
Namun permasalahannya bukan dari sudut pandang konsumen, melainkan dari sudut pandang lembaga pendidikan itu sendiri. Institusi pendidikan baik nasional maupun internasional saat ini sedang berlomba-lomba dalam upaya memperoleh peserta didik. Dampak positif dari persaingan antar lembaga pendidikan adalah peningkatan kinerja lembaga, efisiensi, efektifitas, dan sebagainya.
JASA PENDIDIKAN
Arafat Alhally, S.Si., M.M
Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
STRATEGI SEGMENTASI,
- SEGMENTASI
- Segmentasi demografis
Lembaga pendidikan perlu menerapkan strategi pemasaran yang tepat melalui segmentasi, penargetan dan positioning agar dapat bertahan dan berkembang serta berhasil memenangkan persaingan dalam dunia jasa pendidikan. Pengertian segmentasi pasar adalah proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen yang dibedakan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan, karena kebutuhan produk yang berbeda (Kasali, 1998). Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai proses membagi pasar menjadi segmen-segmen konsumen yang berbeda.
Dalam dunia jasa pendidikan, konsep segmentasi pasar menjadi dasar strategi pemasaran suatu lembaga pendidikan. Keberhasilan pemasaran pendidikan tergantung pada pengguna jasa pendidikan, sehingga lembaga pendidikan harus cermat dalam menentukan siapa pelanggan atau pengguna jasa tersebut, karakteristik pengguna jasa apa yang akan mempengaruhinya dalam memilih lembaga pendidikan tersebut, dan harus mengetahui daya beli pengguna jasa. Segmentasi demografis adalah proses mensegmentasi pengguna jasa berdasarkan beberapa hal antara lain usia, pendapatan atau pendapatan.
PELANGGAN JASA PENDIDIKAN
Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Bogor
KUALITAS JASA DAN NILAI
Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang sistematis dan terarah, diperlukan suatu mata kuliah yang disebut mata kuliah pendidikan. Jalur pendidikan merupakan sarana yang melaluinya peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya dalam suatu mata kuliah pendidikan yang sejalan dengan tujuan pendidikan. Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan tujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Yang Maha Kuasa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pada era globalisasi saat ini persaingan perekonomian semakin ketat, begitu pula dalam bidang pendidikan, salah satu permasalahannya adalah mutu pendidikan sangat kompetitif sehingga akan mempengaruhi jumlah peserta didik dan secara tidak langsung mempengaruhi sumber dan jumlah peserta didik. biaya pendidikan. Pelayanan merupakan perilaku produsen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen untuk mencapai kepuasan konsumen. Sedangkan yang dimaksud dengan kualitas adalah upaya perbaikan terus-menerus yang dilakukan suatu organisasi agar tujuan dapat tercapai dengan melibatkan seluruh komponen organisasi sebagai upaya memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.
Dra. Lisa Indarsih Palindih
Politeknik Negri Media Kreatif (Polimedia)
KEPUASAN DAN LOYALITAS
- KEPUASAN DAN LOYALITAS
Organisasi harus memastikan bahwa mereka memberikan layanan lengkap yang sepadan dengan nilai uang atau usaha yang diinvestasikan oleh pelanggan. Oleh karena itu, dalam mengelola layanan pendidikan juga harus memperhatikan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Secara umum kepuasan pelanggan adalah perasaan puas atau kecewa yang didapat seseorang ketika membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan suatu produk/jasa dengan nilai yang diharapkan.
Puas atau tidaknya seorang konsumen sangat bergantung pada kinerja produk/jasa dibandingkan dengan harapan konsumen. Jika kinerja lebih rendah dari harapan maka konsumen akan merasa tidak puas, jika kinerja sama dengan harapan maka konsumen akan puas, jika kinerja melebihi harapan maka konsumen akan merasa sangat puas atau senang.
DUNIA PENDIDIKAN MENUJU TOTAL QUALITY EDUCATION
MEMBANGUN BRANDING
Artinya kegiatan pemasaran tidak hanya sekedar merekrut mahasiswa saja, namun pengelola juga berupaya menempatkan tanggung jawab sosial terhadap kualitas pada pihak di luar lembaga. Penjelasan di atas mungkin juga membuat kita membayangkan dunia tanpa aktivitas pemasaran. Sebagai gambaran, kita melihat suatu produk yang lebih populer dan dibeli dibandingkan produk lainnya.
Pada tahap ini, setiap unit bisnis perusahaan akan melakukan berbagai kegiatan branding sebagai upaya untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen. Saat ini berbagai strategi dapat digunakan untuk membangun branding, tidak hanya mengelola aspek konsumen dan aktivitas branding offline saja, namun institusi bisnis juga dapat melakukan strategi digital branding. Posisi branding suatu perusahaan bukan sekedar merek yang menjadikan produknya dikenal, namun secara holistik sebagai representasi citra perusahaan, dimana masyarakat merasa bahwa perusahaan kita adalah yang terbaik.
Universitas Pertamina Jakarta
MARKETING COMMUNICATION
Sebagai bagian kecil dari entitas global yang menjual produk intangible, lembaga pendidikan yang menjual jasa pendidikan juga dituntut untuk terus beradaptasi dan mengembangkan strategi yang tepat untuk menjamin keberadaan peran fundamentalnya sebagai sektor strategis dalam penyediaan layanan pendidikan kualitatif dan kompetitif. Meski dituntut untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang ada, namun paradigma lembaga pendidikan seringkali dikaitkan dengan konsep. Sands dan Smith (1999, dalam Horrigan, 2007) berpendapat bahwa sebagian besar pasar institusi pendidikan – baik institusi pendidikan tinggi maupun institusi pendidikan pada umumnya – mengalami kesulitan dalam mengkoordinasikan program komunikasi pemasarannya, serta dalam hal manfaat mengintegrasikan komunikasi pemasarannya. upaya untuk mencapai produktivitas yang lebih besar dalam aktivitas perekrutan, retensi dan pengembangan.
PROFIL PENULIS
Lebih lanjut, pengalaman penelitian penulis meliputi; Mengintegrasikan Nilai-Nilai Akhlak Mulia ke dalam Bahan Ajar Bahasa Indonesia untuk Mempromosikan Kesantunan Berbahasa Siswa dengan sumber pendanaan mandiri pada tahun 2012, dan beberapa penelitiannya telah berhasil dipublikasikan di sejumlah jurnal nasional dan internasional, antara lain: Manajemen Mutu Terpadu (Tqm) ) di Lembaga Pendidikan Islam, kurikulum bagi mualaf, integrasi nilai moral Nobel dalam bahan ajar bahasa Indonesia untuk meningkatkan kesantunan berbahasa siswa di Ad-Dimyati Sekolah Menengah Kejuruan Terpadu (SMK) Terpadu Bandung), Hukum Dakwah Dalam Perspektif Hadits dan terakhir Mengukur Kesadaran Multikultural dalam Pendidikan Agama Katolik yang dimuat di salah satu jurnal internasional terindeks Scopus. Selanjutnya sejarah kegiatan workshop/seminar dan workshop penulis meliputi; Perumusan rancangan profil calon dan capaian pembelajaran program studi PGMI yang diselenggarakan oleh Asosiasi Program Studi PGMI Koordinasi Wilayah Jawa Barat tahun 2014, Workshop Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) Sembilan Kriteria yang diselenggarakan oleh LPM Universitas Islam Nusantara pada tahun 2019, Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh LPM Universitas Islam Nusantara tahun 2019. Lahir di Lubuk Pakam, 15 Maret 1989, lulusan Sarjana Jurusan Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sultan Agung pada tahun 2016.
Gelar Magister Manajemen diperolehnya dari Program Magister Manajemen Fakultas Pascasarjana Universitas HKBP Nommensen Medan dengan konsentrasi Manajemen Pemasaran dan lulus pada tahun 2018. Ina menyelesaikan program Diploma III Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru pada tahun 2008, Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat pada tahun 2010 di STIKes Hang Tuah Pekanbaru, pada tahun 2012 menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan peminatan Kesehatan Reproduksi di institusi yang sama. Penulis terlibat aktif dalam kepengurusan internal program studi IKM sehingga pada tahun 2013-2018 penulis diangkat oleh dosen sebagai Penanggung Jawab Pengabdian kepada Masyarakat.
Pendidikan terakhir yang diselesaikannya adalah Magister Manajemen (Konsentrasi Manajemen Pemasaran) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, lulus pada tahun 2017. Pendidikan tinggi yang diperolehnya adalah gelar Sarjana Biologi di Universitas Nasional, Jakarta pada tahun 1991 dan gelar Magister di Program Studi IPB University.