• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku - Organizational Citizenship Behaviours pada Perawat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Buku - Organizational Citizenship Behaviours pada Perawat"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

Pendahuluan

Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit

Definisi Rumah Sakit

Dengan demikian pelayanan kesehatan diberikan oleh rumah sakit kepada seluruh masyarakat yang ingin menerima pelayanan kesehatan. Rumah sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara lengkap, menyelenggarakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah Sakit harus berupaya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima dengan tujuan setiap pelanggannya yaitu masyarakat merasakan kepuasan dalam mengakses pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Rumah Sakit (Mishbahuddin, 2020).

Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam upaya menciptakan kehidupan yang sehat bagi masyarakat. Pelayanan rumah sakit saat ini menjadi salah satu permasalahan yang sangat penting dalam meningkatkan kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap pada suatu rumah sakit. Selain meningkatkan mutu pelayanan teknis medik, cara yang paling mudah dan murah untuk meningkatkan mutu pelayanan adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan yang berkaitan dengan emosi pasien.

Pelayanan yang dimaksud disini adalah pelayanan yang ramah, sopan dan santun, efisien, terampil dan memperhatikan keluhan pasien. Pelayanan kesehatan yang berkualitas merupakan ukuran kepuasan yang mempengaruhi keinginan pasien untuk kembali ke institusi yang memberikan pelayanan kesehatan yang efektif (Nurdahnia, 2019).

Tipe Rumah Sakit

Rumah sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan medis khusus dan terbatas. Rencananya akan didirikan RS Kelas B di setiap ibu kota provinsi (RS Provinsi) untuk menampung pelayanan rujukan dari RS kabupaten. Rumah Sakit Umum Kelas B harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 4 (empat) Pelayanan Medis Khusus Dasar, 4 (empat) Pelayanan Pertolongan Medis Spesialis, 8 (delapan) Pelayanan Medis Spesialis Lainnya, dan 2 (dua) Pelayanan Medis Subspesialis Dasar.

Rumah Sakit Kelas C ini didirikan di setiap kabupaten/kota (RS Kabupaten) yang menyelenggarakan pelayanan rujukan dari Puskesmas. Rumah Sakit Umum Kelas C harus mempunyai fasilitas pelayanan medis dan kemampuan paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medis Khusus Dasar dan 4 (empat) Pelayanan Pertolongan Medis Spesialis. Rumah Sakit Umum Kelas D harus mempunyai fasilitas pelayanan medis dan kemampuan paling sedikit 2 (dua) Pelayanan Medis Spesialis Dasar.

Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Analisis Efektivitas Organizational Citizenship Behavior (Studi Kasus Kepolisian Republik Indonesia di Polres Mempawah)', Inovasi Pengembangan: Jurnal Penelitian dan Pengembangan, 10(02), hal. Mendeskripsikan Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada Perawat Rawat Inap RS Rumah Rahayu Yakkum Kabupaten Grobogan. Hubungan Sikap Budaya Organisasi dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB) (Disertasi Doktor Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Pengaruh Organizational Citizenship Behavior (OCB) terhadap Kinerja (Studi pada Perawat Rumah Sakit di RS Baptis Batu); 46(1). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior (OCB) Pada Karyawan Tetap dan Kontrak (Studi Pada Karyawan Pizza Hut Kota Malang), 48(1), hal. Pengaruh Tingkat Kecerdasan Emosional dan Sikap Budaya Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) Karyawan PT.

Analisis pengaruh budaya organisasi dan dukungan organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior dengan komitmen organisasi sebagai variabel. Penelitian yang telah dilakukan adalah pengaruh Organizational Citizenship Behavior terhadap Kinerja Perawat di Rumah Sakit Umum Suaka Insan Banjarmasin.

Kinerja Pelayanan Rumah Sakit

Pelayanan Rumah Sakit

Rumah Sakit merupakan salah satu institusi yang mempunyai peranan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk memberikan pelayanan yang berkualitas, rumah sakit harus mempunyai sistem kerja dan kinerja yang efektif. Namun pada kenyataannya, banyak rumah sakit yang masih menghadapi beberapa kendala dalam meningkatkan kinerja pegawainya, seperti tingginya tingkat absensi, rendahnya produktivitas, dan kualitas pelayanan yang kurang memuaskan.

Oleh karena itu, perlu diterapkan strategi peningkatan kinerja di rumah sakit untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan kesehatan yang diberikan. Dalam mencapai tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dilakukan upaya pembangunan. Upaya pembangunan ini diharapkan dapat menciptakan taraf kehidupan masyarakat yang optimal, termasuk peningkatan kesehatan.

Untuk menunjang kesehatan yang optimal pada masyarakat, maka perlu dilakukan upaya manajemen kesehatan seperti manajemen kesehatan secara umum. Salah satu sektor jasa yang memegang peranan penting bagi masyarakat adalah jasa rumah sakit (Sondakh, 2023). Dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat, tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan selain memberikan pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya.

Apabila pelayanan yang diberikan sesuai dengan keinginan maka pasien akan merasa puas, jika terjadi sebaliknya maka akan menimbulkan kepuasan. Menurut Berry dalam Pasolong (2011), untuk mengetahui kualitas pelayanan yang benar-benar dirasakan konsumen, terdapat indikator yang mengukur kepuasan konsumen yang terletak pada lima dimensi kualitas pelayanan menurut apa yang dikatakan konsumen. Hal-hal yang nyata: Mutu pelayanan berupa fasilitas fisik, administrasi terkomputerisasi, ruang tunggu, area informasi yang meliputi rumah sakit, tampilan gedung dan kelengkapan fasilitas rumah sakit, kebersihan, kesopanan dan keramahan pegawai rumah sakit;

Keandalan: kemampuan dan kehandalan dalam memberikan layanan yang dapat dipercaya, yaitu kemampuan untuk melaksanakan layanan yang dijanjikan secara andal dan akurat. Contoh: keramahan dan kesopanan petugas help desk/counter rumah sakit serta kesopanan dokter dan perawat dalam melayani pasien; dan 5. Contoh: perhatian dokter untuk mendengarkan keluhan pasien dan memberikan solusi serta pelayanan kepada pasien.

Kinerja Pelayanan Rumah Sakit

Banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai OCB dan menunjukkan bahwa OCB dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Kinerja pegawai tentunya didasarkan pada kemampuan pegawai dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan uraian tugas yang telah ditetapkan. Faktor lingkungan eksternal organisasi adalah keadaan, peristiwa atau situasi yang terjadi di lingkungan eksternal organisasi yang mempengaruhi kinerja pegawai.

Penilaian kinerja adalah penilaian kinerja karyawan saat ini/atau masa lalu relatif terhadap standar pencapaian mereka. Penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan OCB terhadap kinerja pegawai Puskesmas Ngadiluwih Kabupaten Kediri (Putri, 2017). Kinerja pegawai didukung oleh faktor eksternal dan internal, sedangkan OCB merupakan perilaku yang berasal dari dalam diri pegawai dan mempengaruhi lingkungan internal perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nahrisah (2019), Nurcholila (2022) dan Putri (2017) yang menyatakan bahwa variabel Sportivitas mempunyai pengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai. Memiliki tingkat kesadaran diri dalam menjalankan tugas oleh setiap pegawai juga akan meningkatkan kinerja pegawai. Perilaku Kewarganegaraan Organisasi untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas di Sekolah, Jurnal Ilmu Psikologi dan Profesi, 4(1), hal.

Pengaruh Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Guru yang Dimoderatori oleh Organizational Citizenship Behavior (OCB) di Sman 1 Tilatang Kamang', Makro: Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 5(1), hal. Pengaruh Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional, Sikap Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi Terhadap Organizational Citizenship Behavior Pada Guru SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri Kabupaten Tegal: Array. Pelayanan Publik dalam Perspektif SDM (Tinjauan Dimensi OCB, Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi)', Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara PGRI Kediri.

The influence of transformational leadership, job satisfaction and organizational commitment on organizational citizenship behavior (OCB) in the General Inspectorate of the Ministry of Education and Culture. Organizational citizenship behavior: A critical review of the theoretical and empirical literature and suggestions for future research. Pengaruh Kompensasi dan Kepuasan Kerja tepadang Organizational Citizenship Behavior (OCB) Melali Motivasi Kerja Sebagai Variabel Intervening Pada 3h Motosport', Ágora, 5(1), pp.

Organizational Citizenship Behavior

Organizational Citizenship Behavior (OCB)

OCB merupakan perilaku tambahan individu yang tidak dikenali secara langsung atau eksplisit dalam sistem kerja. Kuehn (2002) menyatakan bahwa OCB adalah perilaku pegawai yang bercirikan peran ekstra, sehingga tidak didefinisikan atau dievaluasi secara formal oleh organisasi. Jex dan Britt (2008) mendefinisikan OCB sebagai perilaku yang tidak termasuk dalam deskripsi pekerjaan resmi karyawan atau perilaku dimana karyawan tersebut tidak diberi imbalan secara formal.

Purwito, dkk (2012) mengartikan OCB sebagai kesediaan memberikan bantuan kepada pegawai lain yang mengalami beban kerja, kesediaan bertukar rencana liburan, selalu menjaga sikap suportif dan saling menghargai, serta sikap positif lainnya. Menurut Kusumajati, OCB merupakan perilaku sukarela yang melampaui tugas seorang pekerja, seperti bersikap sopan kepada orang lain dan membantu rekan kerja, tidak ada kaitannya dengan kompensasi dan cenderung menguntungkan organisasi. Suzana (2017) mengatakan bahwa OCB berkorelasi dengan kinerja pegawai berada pada tingkat yang sangat kuat yang ditunjukkan dengan angka 0,865 dengan arah positif. 2000) menyatakan bahwa OCB mempunyai peran dalam meningkatkan kinerja karena dapat meningkatkan efektivitas organisasi.

OCB merupakan perilaku positif seorang individu sebagai anggota suatu organisasi yang berupa kemauan sadar dan sukarela untuk bekerja dan memberikan kontribusi lebih pada organisasi. OCB adalah sebutan bagi karyawan yang memberi nilai tambah pada pekerjaannya dan memberi nilai tambah bagi perusahaan. Beroperasinya organisasi tentunya berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi para pelaku organisasi dalam menjalankan fungsinya untuk mencapai tujuan organisasi.

Budaya organisasi yang mapan dalam suatu organisasi menciptakan suasana nyaman bagi rekan kerja. OCB berfokus pada perilaku setiap individu dalam menjalankan tugasnya di luar uraian tugasnya (Nahrisah dan Imelda, 2019). Perilaku OCB merupakan suatu sikap yang penting dan merupakan perilaku individu yang melampaui uraian tugas formal yang diberikan secara sukarela oleh perusahaan dan tidak dihargai secara langsung oleh perusahaan (Nahrisah dan Imelda, 2019).

Beberapa faktor lain yang mempengaruhi OCB antara lain kepuasan kerja, persepsi karyawan terhadap organisasi, karakteristik karyawan seperti konflik pribadi dengan budaya organisasi, dan hubungan antara atasan dan karyawan kelas bawah. Afiliasi merupakan perilaku ekstra peran yang melibatkan OCB dan perilaku proporsional untuk membentuk dan memelihara hubungan dengan orang atau organisasi lain. Motif ini mendorong orang untuk mencari status dan situasi dimana mereka dapat mengontrol pekerjaan atau tindakan orang lain.

Dimensi Organizational Citizenship Behavior

Kinerja

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Referensi

Dokumen terkait

Jasa Marga (Persero) harus bisa memberi pelayanan yang baik terhadap pelanggannya. Untuk itu, identifikasi faktor dan atribut yang mempengaruhi kepuasan pelanggan sangat

(3) Kepuasan pelanggan dan kualitas pelayanan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Variabel kualitas pelayanan memberikan sumbangan

yaitu dengan cara memberikan jasa pelayanan sesuai dengan yang diharapkan oleh pelanggan.. Kualitas pelayanan mempunyai hubungan yang erat dengan tingkat kepuasan

Kualitas pelayanan merupakan titik sentral bagi perusahaan jasa karena akan mempengruhi kepuasan pelanggan Kepuasan pelanggan akan muncul apabila kualitas pelayanannya baik,

1) Variabel yang paling mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah variabel kualitas pelayanan. Hal ini menunjukkan semakin baik kualitas pelayanan maka kepuasan konsumen

Perilaku-perilaku dari para karyawan yang memiliki persepsi yang baik terhadap organisasi yang diwujudkan dengan terciptanya kualitas interaksi atasan- bawahan dan

Kesimpulan dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan, kepercayaan, citra perusahaan dan kualitas pelayanan adalah faktor penting yang

Salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah.. mengenai kualitas