• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau

N/A
N/A
Rakli Piscae

Academic year: 2024

Membagikan "Buku Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/344619658

"Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau"

Book · October 2020

CITATIONS

4

READS

2,547

5 authors, including:

Munawar Kholis

Bogor Agricultural University 3PUBLICATIONS   4CITATIONS   

SEE PROFILE

Febri Anggriawan Widodo

World Wide Fund For Nature Indonesia 17PUBLICATIONS   274CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)
(3)
(4)

“Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau”

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Penyunting : Erwin Wilianto (Forum HarimauKita) Perancang Sampul : Yanuar Ishaq Dwi C (Forum HarimauKita) Tata Letak : Yanuar Ishaq Dwi C (Forum HarimauKita) Foto Sampul : Ken Bohn dan Sandra Hoyn

Saran Sitasi:

Kholis, M., Faisal A., Widodo F.A., Musabine, E.S., & Hasiholan, W. 2017. Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia-Harimau. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, DITJEN KSDAE - KLHK.

Jakarta

Buku ini tersusun melalui kerjasama antara Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati - Ditjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Forum HarimauKita (FHK). Penyusunan pedoman ini didukung sepenuhnya oleh Sumatran Tiger Project GEF-UNDP. -

Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscape”.

Cetakan I : September 2017 viii + 89 halaman

Disusun dan diterbitkan atas dukungan:

(5)

PEDOMAN

PENANGGULANGAN KONFLIK MANUSIA-HARIMAU

Tim Penyusun :

Munawar Kholis, Ahmad Faisal, Febri A. Widodo, Erni Suyanti Musabine dan Waldemar Hasiholan

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

2017

(6)
(7)

DRAFT

KATA PENGANTAR

Konflik manusia dan satwa liar adalah segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial manusia, ekonomi, kebudayaan, dan pada konservasi satwaliar dan atau pada lingkungannya.

Konflik antara manusia dengan harimau atau lazim disebut konflik manusia-harimau dapat disebabkan oleh faktor diantaranya perilaku harimau, perburuan, ketersediaan makanan dan irisan ruang gerak. Sementara itu, konversi hutan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan jaringan jalan telah mempersempit habitat yang dapat dihuni oleh harimau. Tidak sepenuhnya disadari dan dipahami bahwa konversi hutan di Sumatera serta tingginya aktivitas perburuan satwa telah menyebabkan semakin tinggi juga peluang terjadinya konflik manusia dan harimau (KMH). Aktivitas perburuan satwa liar terutama yang merupakan hewan mangsa harimau menurunkan ketersediaan mangsa bagi harimau dan merupakan faktor penyebab secara tidak langsung.

Kedua belah pihak, baik harimau maupun manusia, sama-sama mengalami kerugian atau menjadi korban dari insiden konflik. Manusia kerugian dalam bentuk kehilangan hewan ternak dan korban jiwa serta dampak psikologis. Harimau mengalami kematian atau kerusakan anggota gerak secara permanen, harimau konflik sebagian ditangkap dan dipindahkan ke fasilitas konservasi ek-situ, sanctuary atau pusat rehabilitasi. Banyak juga individu harimau yang kemudian diracun atau terjerat hingga mati. Individu harimau yang memiliki kelayakan pelepasliaran kadangkala ditempatkan dan dikelola tidak tepat sehingga mengalami perubahan perilaku dan ketergantungan terhadap manusia membuat peluang untuk dapat dilepasliarkan makin surut.

Harimau yang berada di pusat-pusat rehabilitasi maupun di sanctuary membutuhkan manajemen yang sesuai, sehingga harimau yang memang masih layak untuk dilepasliarkan dapat dikelola secara tepat dan dapat difungsikan untuk memperbaiki kondisi populasi di alam baik dalam hal jumlah populasi maupun keragaman genetik.

Dalam upaya penanggulangan konflik, tindakan-tindakan pencegahan konflik seharusnya merupakan hal yang tidak boleh dilupakan. Namun pada kenyataannya

(8)

DRAFT

dalam kurun 10 tahun terakhir, upaya pencegahan masih kurang terprogram.

Kegiatan penanganan konflik banyak didominasi respon insiden konflik saja.

Insiden konflik manusia dan harimau manusia umumnya sulit diprediksi kapan terjadinya, namun dengan mempelajari perilaku alami harimau, data sebaran dan penggunaan ruang oleh harimau, data insiden konflik yang pernah terjadi, wilayah aktifitas manusia, pola beternak masyarakat, perburuan satwa mangsa dan kondisi topografi, kita dapat memperkirakan lokasi yang memiliki potensi tinggi terjadinya KMH. Kegiatan pencegahan yang perlu ditempuh antara lain sosialisasi kepada masyarakat, aparat desa dan instansi pemerintah yang terkait di wilayah-wilayah berpotensi konflik untuk tujuan meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik dan juga mampu mendukung SATGAS dalam melaksanakan pencegahan dan penanganan awal secara tepat untuk insiden konflik yang masih dalam tingkat resiko rendah.

(9)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

DAFTAR GAMBAR v

DAFTAR SINGKATAN viii

BAB I BIO-EKOLOGI HARIMAU SUMATERA 1

A. Harimau Sumatera dan Aspek Ekologi 2

1. Mengenal habitat dan sebaran harimau sumatera 3 2. Peran harimau sumatera dalam ekosistem dan budaya 5 3. Identifikasi harimau sumatera dan tanda keberadaannya 6 4. Sampel biologis harimau sumatera 10 B. Pengenalan Survey, Monitoring dan Perlindungan Satwa Liar 20

1. Survei dan monitoring 20

2. Tatacara pemasangan kamera penjebak di lokasi konflik 20

3. Perlindungan satwa liar 27

BAB II PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KONFLIK ANTARA MANUSIA

DENGAN HARIMAU 30

A. Pengertian Konflik Manusia dan Harimau (KMH) 32

1. Tipologi konflik 32

2. Tingkat Resiko Konflik (terhadap keselamatan manusia) 33 3. Faktor-faktor pemicu KMH 35 B. Prinsip-Prinsip Penanggulangan Konflik Antara Manusia dan Harimau

Sumatera 36

C. Strategi Pencegahan Konflik 38 1. Pemetaan area potensi dan pemantauan dini insiden KMH 38

(10)

2. Sosialisasi upaya pencegahan KMH 39 3. Menjalankan kegiatan pencegahan konflik 41 BAB III PENANGANAN KONFLIK ANTARA MANUSIA DENGAN HARIMAU

SUMATERA 45

A. Alur Informasi dan Penanganan Konflik 46

1. Alur penanganan konflik 46

2. Penjelasan alur penanganan konflik 47

B. Perlengkapan Tim Satuan Tugas Penanggulangan KMH 50 1. Perlengkapan minimal penanggulangan konflik 50 2. Perlengkapan medis standar untuk penanganan awal dan lanjut 52 3. Perlengkapan medis evakuasi untuk penanganan lanjut 52

4. Perlengkapan tambahan 55

C. Penanganan Awal 57

1. Penanganan terhadap masyarakat 57 2. Melakukan pemantauan dan pengambilan sampel 58 3. Pengamanan lokasi kejadian konflik dari gangguan akibat aktivitas

masyarakat 59

4. Pengamanan dan penanganan masyarakat korban akibat konflik 59 5. Pengamanan barang dan alat bukti, (jejak, kotoran rambut, jerat, foto,

korban, dll.) 59

D. Penanganan Lanjut 60

1. Pemantauan dan penghalauan harimau 60

2. Penangkapan (rescue) untuk translokasi 64

3. Pemantauan paska penanganan 68

E. Kelembagaan Penanggulangan Konflik 68

1. Kelembagaan penanggulangan konflik manusia dengan satwa liar 68 2. Sumber daya manusia dan sarana pendukung penanggulangan konflik 71 3. Peran para pihak dalam penanggulangan KMH 72 4. Mekanisme koordinasi SATGAS penanggulangan konflik 74

BAB IV PENANGANAN PASCA KONFLIK 75

A. Penilaian Kelayakan Translokasi Harimau Sumatera 76 B. Indikator Keberhasilan dalam Translokasi Harimau konflik 78

1. Mampu hidup (survive) 78

(11)

2. Pengulangan konflik di lokasi baru 79 3. Berkembang-biak 79

C. Tahapan Pengelolaan Harimau Konflik 79

Tahap 1. Tahap verifikasi tipe konflik 79

Tahap 2. Skoring kelayakan pelepasliaran 80 Tahap 3. Recovery, rehabilitasi persiapan lokasi 82

D. Monitoring Pasca Pelepasliaran 86

E. Pelepasliaran Langsung 86

F. Pusat Rehabilitasi 87

G. Sanctuary 88

H. Eutanasia 88

PENUTUP 89

(12)

Daftar Gambar

Gambar 1. Peta kawasan konservasi yang masih dihuni oleh harimau

sumatera 4

Gambar 2. Bekas tapak harimau sumatera pada tanah basah 6

Gambar 3. Pembanding besaran tapak 7

Gambar 4. Bekas tapak anjing memperllihatkan adanya kuku didepan jari 7 Gambar 5. Boli kotoran harimau yang telah lama dan memutih 8 Gambar 6. Foto cakaran harimau pada pohon 8 Gambar 7. Foto cakarang beruang madu 8 Gambar 8. Kaisan pada tanah ditemukan pada pinggiran jalur lintasan satwa 9 Gambar 9. Sapi yang telah dimangsa harimau, pada hari kedua setelah

dilaporkannya informasi konflik 9

Gambar 10. Rambut harimau yang tersangkut pada ranting atau cabang

pohon 10

Gambar 11. Foto pengambilan darah dari vena saphena 11 Gambar 12. Contoh dry box, biasanya alat ini dipergunakan untuk menyimpan

lensa dan kamera 12

Gambar 13. Endoparasit cacing yang ditemukan pada usus harimau 17 Gambar 14. Ektoparasit yang ditemukan pada harimau 18 Gambar 15. Vaccutainer dengan anti-koagulan EDT 18

Gambar 16. Tabung ependorf berisi serum 18

Gambar 17. Contoh kotak transport vaksin yang dapat dipergunakan untuk

membawa sampel selama di lapangan 19

Gambar 18. Contoh kamera penjebak yang tahan air 21 Gambar 19. Ilustrasi pemasangan kemera penjebak 21

(13)

Gambar 20. Pemasangan kamera penjebak dengan menggunakan tiang

buatan 22

Gambar 21. Contoh perbedaan pola loreng untuk mengetahui perbedaan

individu harimau sumatera 24

Gambar 22. Contoh foto harimau berkelamin jantan, (sumber dari internet) 24 Gambar 23. Bagian-bagian pada gigi harimau yang dipergunakan untuk

menaksir umur 25

Gambar 24. Contoh gigi harimau 26 Gambar 25. Taring yang telah patah dan terdapat karies gigi 26 Gambar 26. Kandang anti serangan harimau untuk ternak kambing 41 Gambar 27. Jerat-jerat yang ditemukan di pinggir dan di dalam kawasan

sebagai hasil patroli 43 Gambar 28. Harimau yang terkena jerat sling baja 44 Gambar 29. Bagan proses penanggulangan KMH 46 Gambar 30. Desain kandang perangkap harimau sederhana beserta

dengan prinsip kerjanya 56

(14)

DAFTAR SINGKATAN

BKSDA : Balai Konservasi Sumber Daya Alam BUMN : Badan Usaha Milik Negara

DNA : Deoxyribonucleic Acid FFI : Fauna & Flora International FHK : Forum HarimauKita

GPS : Global Positioning System

LIPI : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

IUCN : International Union for Conservation of Nature KKH : Konservasi Keanekaragaman Hayati

KLHK : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KMH : Konflik Manusia Harimau

KPH : Kesatuan Pengelolaan Hutan

KPHK : Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi KPHL : Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung KPHP : Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi

KSDAE : Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem MUSPIKA : Musyawarah Pimpinan Kecamatan

RAI : Relative Abundance Index SATGAS : Satuan Tugas

SRI : Sumatran Rainforest Institiute WCS : Wildlife Conversation Society WWF : World Widelife Fund

ZSL : Zoological Society of London

(15)

BAB I

BIO-EKOLOGI HARIMAU SUMATERA

(16)

Dalam melakukan penanggulangan konflik, diperlukan sebuah tim yang memiliki kemampuan dan pemahaman mengenai aspek biologi dan ekologi harimau dengan baik. Mengingat bahwa konflik merupakan sebuah situasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor biologi dan perilaku harimau, kondisi lingkungan sekitar.

Konflik manusia dan harimau (selanjutnya disingkat menjadi KMH) dapat terjadi karena tingkat perburuan yang tinggi terhadap satwa mangsa, jumlah kepadatan mangsa yang rendah akan “memaksa” harimau untuk menjelajah lebih jauh guna mendapatkan mangsa.

Penyakit distemper pada anjing (Canine Distemper) yang disebabkan oleh virus yang pada kondisi tertentu dapat menjangkiti harimau. Proses perkembangan penyakit didalam tubuh harimau dapat merubah perilaku harimau menjadi tidak responsif dengan keberadaan manusia (harimau berkeliaran di sekitar pemukiman), berkembangnya suatu penyakit akan menurunkan kondisi harimau secara umum termasuk kemampuan harimau dalam berburu mangsa, harimau memilih berada di sekitar pemukiman untuk mendapatkan jenis mangsa yang mudah diburu, seperti ternak yang tidak dikandangkan, anjing bahkan manusia.

Memahami harimau sumatera, perilaku dan ekologinya merupakan dasar yang perlu dimiliki oleh tim penanggulangan konflik. Bab ini secara ringkas membahas mengenai perilaku, pola pemangsaan dan berbagai hal terkait ekologi harimau lainnya.

Dalam situasi konflik, tim/SATGAS akan berhadapan dengan masyarakat awam yang kemungkinan besar memiliki cara pandang berbeda terhadap harimau. Masyarakat memiliki asumsi-asumsi yang salah terkait harimau.

Tujuan pembelajaran dari bab ini adalah anggota tim/SATGAS penanggulangan KMH dapat:

1. Mengetahui perilaku individual harimau sumatera dan memahami hubungan antara individu.

2. Mengetahui jenis-jenis tanda keberadaan harimau, sampel-sampel yang dapat ditemukan dan perlu dikoleksi sebagai bukti keberadaan harimau.

3. Mengetahui tatacara pengambilan sampel untuk kepentingan pembuktian keberadaan harimau.

4. Mengetahui tatacara pemilihan lokasi dan pemasangan kamera penjebak di lokasi kejadian KMH. Identifikasi individu melalui pola loreng, identifikasi jenis kelamin dari foto kamera penjebak dan menaksir umur harimau melalui kondisi gigi.

5. Untuk tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, tim/SATGAS dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat yang berada di dalam situasi konflik mengenai faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya KMH.

A. Harimau Sumatera dan Aspek Ekologi

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu anak jenis harimau Indonesia yang tersisa setelah dua anak jenis lain telah punah yaitu harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau Bali (Panthera tigris balica). Anak jenis

(17)

ini dikategorikan kedalam status kritis atau critically endangered dalam daftar merah IUCN (Linkie et al, 2008). Perkiraan populasi terakhirnya adalah sekitar 371 individu di alam dan tren populasi mereka cenderung turun (IUCN, 2015). Ancaman utama terhadap populasi dan habitat harimau sumatera adalah hilang, menyusut dan fragmentasi habitat yang sebagian besar sebagai akibat tekanan pembangunan dan penggunaan lahan oleh manusia seperti untuk perkebunan skala kecil dan besar, pemukiman, pembangunan infrastruktur dan sebagainya, kemudian diperparah dengan adanya perburuan harimau serta satwa mangsanya (Linkie et al. 2003, Kinnaird et al. 2003, Indonesian Ministry of Forestry, 2007).

Harimau memiliki ciri spesifik yaitu belang yang melekat pada tubuh mereka ibarat sidik jari manusia sebagai ciri pembeda antara individu satu dengan yang lainnya.

Dalam ekosistem, harimau memegang peranan penting dalam rantai makanan. Satwa mangsa utama satwa ini adalah mamalia besar dan sedang seperti rusa sambar (Cervus unicolor) kijang muncak (Muntiacus muntjac), babi hutan (Sus scrofa), babi hutan berjenggot (Sus barbatus), kambing gunung (Capricornis sumatraensis) dan termasuk juga primata seperti beruk (Macaca nemestrina) serta jenis burung besar seperti burung kuau raja (Argusianus argus), (Sriyanto, 2003; Widodo et al, 2017).

Rusa, babi hutan dan kambing gunung merupakan satwa target yang sering diburu oleh masyarakat. Akibat langsung dari perburuan ini adalah peralatan buru yang terbuat dari sling baja sering kali mengenai harimau. Dampak tidak langsung yang ditimbulkan adalah penurunan jumlah satwa mangsa yang menyebabkan harimau beralih untuk memburu ternak. Sapi, kerbau dan kambing merupakan ternak yang paling sering dimangsa oleh harimau

1. Mengenal habitat dan sebaran harimau sumatera

Harimau sumatera hidup di berbagai tipe habitat di Sumatera meliputi habitat rawa gambut, dataran rendah, perbukitan hingga pegunungan (0–2300 m dpl). Tersebar mulai dari sisi utara bukit barisan (populasinya dari hutan Leuser-Ulu masen dari ujung utara pulau Sumatera hingga ujung selatan pulau Sumatera di Lampung.

Kepadatan harimau telah terdeteksi pada beberapa kantong populasi diantaranya kawasan dataran rendah Taman Nasional Way Kambas 4.3 individu/100 km2 (Franklin, et al., 1999), tipe habitat perbukitan yaitu Taman Nasional Bukit Barisan Selatan 1.6 individu/100 km2 (O’Brien, Kinnaird, & Wibisono, 2003) and tipe habitat pegunungan seperti di Bungo dan Ipuh pada Taman Nasional Kerinci Seblat (2.95 ± 0.56 individu/100 km2 and 1.55 ± SE 0.34 individu/100 km2), (Linkie, Haidir, Nugroho,

& Dinata, 2008), sedangkan untuk tipe habitat rawa gambut masih minim informasi tentang kepadatan karena minimnya sampel foto harimau dari kamera penjebak seperti di Suaka Margasatwa Kerumutan (Sunarto et al., 2013). Selain di kawasan- kawasan konservasi tersebut, harimau juga dilaporkan terdapat pada blok hutan- hutan kecil dan wilayah perkebunan yang masih berhubungan dengan hutan lindung, hutan produksi dan wilayah berhutan lainnya.

Luas wilayah jelajah harimau sumatera jantan dewasa diperkirakan sekitar 180 hingga 380 km2 sedangkan untuk betina sekitar 40 hingga 70 km2 (Franklin et al., 1999; Tilson et al., 2010). Harimau sumatera juga merupakan satwa teritorial yang akan menguasai kawasan didalam teritorinya. Perilaku teritorial ini menyebabkan terjadi kompetisi yang tinggi antar individu-individu harimau di alam, khususnya bagi individu jantan. Penguasaan teritori ini memiliki kaitan untuk pemenuhan kebutuhan

(18)

hidup dan penunjang kehidupannya. Adapun pada harimau kebutuhan hidup utama yang harus dipenuhi antara lain pakan utama berupa mangsa dan pakan penunjang, air, tempat berlindung dan interaksinya dengan pasangan. Hal ini memiliki korelasi terhadap luas teritori didalam sebuah home range atau wilayah jelajah harimau.

Bagi individu jantan, teritori menjadi penting guna meneruskan kelangsungan genetiknya. Bagi individu muda setelah lepas dari asuhan induk selama 18–22

Gambar 1. Peta kawasan konservasi yang masih dihuni oleh harimau sumatera (PVA Harimau Sumatera 2016, Forum HarimauKita).

(19)

bulan, mereka mencari teritori masing–masing. Individu betina cenderung lebih dekat dengan teritori induknya sedangkan individu jantan cenderung akan menjauh untuk menghindar dari kompetisi pejantan lainnya. Biasanya mereka menjadi transient yang mengembara dan pada beberapa kasus ditemui melintas pada kawasan aktifitas manusia sehingga berpotensi menimbulkan konflik dengan manusia.

Luas wilayah jelajah harimau sumatera dipengaruhi berbagai faktor seperti ketinggian, sumber air, tipe hutan, pemukiman dan ketersediaan mangsa. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah kepadatan dan sebaran mangsa, semakin tinggi jumlah dan kepadatan mangsa. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seekor harimau jantan memerlukan mangsa 1 ekor rusa setiap pekan, jika ketersedian satwa mangsa cukup pada, maka harimau relatif lebih mudah untuk mendapatkan mangsa, sehingga tidak membentuk wilayah jelajah yang luas.

Perilaku infanticide (membunuh anak) juga terjadi pada harimau, pejantan akan membunuh anakan harimau yang bukan anak keturunannya. Perilaku ini telah diteliti di India dan membuktikan bahwa individu betina akan bergerak membawa anaknya ke pinggiran hutan atau ke blok hutan lain untuk menghindari pejantan. Dengan demikian betina ini berada semakin dekat dengan pemukiman dan berpotensi berkonflik dengan manusia.

2. Peran harimau sumatera dalam ekosistem dan budaya

Sebagai satwa pemangsa puncak (top predator), harimau memegang peranan kunci dalam mengendalikan kelimpahan satwa yang berada di tingkat dibawahnya. Satwa kharismatik ini dibekali dengan kemampuan bertahan hidup dan memangsa yang tinggi. Harimau sumatera merupakan flagship species di Indonesia, yang merupakan salah satu ikon keanekaragaman hayati yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Selain itu dikalangan konservasionis dikelompokkan sebagai umbrella species atau spesies payung karena memiliki daya jelajah yang luas. Dengan memastikan keberlangsungan populasi harimau tetap alami, dengan artian luasan habitat harimau dapat dikelola secara optimal, kita berarti sekaligus melakukan upaya konservasi kepada ekosistem termasuk sistem penyangga kehidupan manusia.

Kebudayaan masyarakat di Sumatera tidak terlepas dari keberadaan harimau sumatera semenjak dahulu. Sebagian masyarakat lokal memiliki kepercayaan bahwa harimau merupakan nenek moyang atau yang mereka tuakan dan dihormati, (McNeely and Sochaczewski, 1988; Widodo et al, 2016). Suku Melayu memanggil harimau sebagai datuk sebagai simbol “kakek” bagi mereka. Begitu juga suku Minangkabau memanggil harimau sebagai “inyiak” yang juga berarti kakek (McNeely and Sochaczewski, 1988; Boomgard, 2001). Terdapat beberapa kearifan lokal yang mengadopsi nilai-nilai keberadaan harimau maupun perilakunya seperti silat harimau, bahkan petani hutan juga mengeramatkan harimau dengan membiarkan durian jatuh pertama untuk satwa tersebut sebagai simbol bahwa mereka dituakan.

Di Aceh, sebagian masyarakat memahami bahwa di hutan terdapat harimau jahat dan harimau baik. Harimau baik akan memahami keberadaan manusia dan tidak menimbulkan konflik. Harimau jahat adalah harimau yang sering memangsa ternak- ternak masyarakat.

(20)

3. Identifikasi harimau sumatera dan tanda keberadaannya

Sebagai karnivora terbesar di Sumatera dan tidak terdapatnya macan tutul (Panthera pardus ssp.) di pulau ini, maka karnivora terbesar di Sumatera adalah macan dahan (Neofelis nebulosa). Dengan perbedaan fisik yang sangat signifikan, temuan tanda- tanda harimau akan mudah dibedakan dengan jenis kucing lain di hutan Sumatera.

Beberapa tanda-tanda paling umum keberadaan harimau yang dipergunakan untuk identifikasi antara lain:

a. Bekas tapak

Identifikasi bekas tapak sangat penting untuk diketahui karena tanda ini paling mudah ditemukan di lapangan dan paling sering terjadi kesalahan identifikasi.

Kesalahan identifikasi paling sering adalah kekeliruan membedakan bekas tapak anjing dan bekas tapak harimau. Di lokasi yang rawan konflik, masyarakat masih sering mengalami kekeliruan ini, meskipun kedua tapak ini sebenarnya cukup mudah dibedakan. Ukuran tapak dipengaruhi oleh besar harimau itu sendiri serta jenis substrat tanah yang dipijak harimau.

Mengukur bekas tapak harimau

Pengukuran tapak dipelukan untuk memberikan data dan informasi yang lengkap.

Dalam melakukan penanganan konflik, ukuran tapak cukup penting untuk membedakan dengan tapak dari satwa lainnya.

Selain ukuran tapak, kondisi substrat (permukaan tanah) dimana terdapatnya bekas tapak ini perlu didefininisikan. Tanah basah, tanah berpasir, lumpur kering.

Gambar 2. Bekas tapak harimau sumatera pada tanah basah (A) jejak masih baru, (B) jejak dari kaki kiri dan kanan, (C) pengukuran jejak. Keterangan pengukuran: 1. lebar bantalan; 2. lebar tapak dan 3.

panjang tapak.

A B

C

(21)

Gambar 4. Bekas tapak anjing memperllihatkan adanya kuku didepan jari

Pengambilan dokumentasi foto

Dokumentasi foto merupakan hal yang penting untuk dapat meyakinkan para pihak yang mungkin tidak turut serta dalam kegiatan penanganan di lapangan.

Gambar 3. Pembanding besaran tapak

Pada Gambar 3. diatas, jika kita hanya diperlihatkan foto sebelah kiri, maka kita akan kesulitan membedakan bekas tapak harimau atau bekas tapak kucing rumah.

Bentuk tapak relatif sama. Pada Gambar 2. bagian kanan (C) maka kita akan mudah memastikan bahwa bekas tapak tersebut adalah harimau berdasarkan ukurannya.

1. Pengambilan foto tanpa menggunakan pita ukur, biasa dipergunakan untuk dokumentasi biasa dan bahan desain grafis.

2. Pengambilan foto dengan menempatkan pita ukur disamping temuan tapak sebagai alat pembanding besaran ukuran tapak. Kegiatan verifikasi memerlukan dokumentasi yang lebih detail.

Membedakan bekas tapak harimau dan anjing

Anjing dewasa dapat memiliki bekas tapak yang cukup besar. Untuk membedakan antara bekas tapak harimau dan anjing, selain ukuran dan bentuk bantalan tapak yang berbeda, pada tapak anjing biasanya terdapat bekas kuku di depan jari, sedangkan harimau tidak terdapat bekas kuku.

(22)

b. Kotoran (feces)

Kotoran harimau sumatera berbetuk bolus memanjang dengan ukuran diameter antara 40-60 mm. Di lapangan boli biasa tidak selalu ditemukan dalam keadaan utuh karena akan mulai terpecah dan terurai akibat kondisi lingkungan.

Kotoran beruang madu seringkali dianggap keliru sebagai kotoran harimau sumatera, yang membedakan kotoran kedua spesies ini adalah pada kotoran harimau akan terdapat rambut-rambut dan pecahan tulang satwa mangsa, sedangkan kotoran beruang

tidak terdapat tanda-tanda tersebut. Pada boli yang sudah cukup lama akan terlihat memutih dan tersebar.

c. Cakaran pada pohon

Di lokasi pinggir hutan yang merupakan area potensi konflik jarang ditemukan adanya cakaran harimau pada batang pohon. Tanda ini lebih sering ditemukan pada jalur-jalur satwa di dalam hutan. Cakaran harimau pada pohon akan membentuk garis bekas kuku dengan jarak garis antar kuku sekitar 2-3 cm.

dan terletak cukup tinggi dari permukaan tanah yaitu sekitar 1,5-2,5 meter. Perbedaan bekas cakaran harimau dan satwa lainnya adalah besarnya lubang alur kuku pada kulit pohon dan bentuk garis cakaran.

Beruang madu memiliki perilaku memanjat pohon dan meninggalkan bekas kuku pada pohon. Perbedaan antara bekas kuku beruang madu dan harimau adalah cakaran beruang madu tidak berbentuk memanjang, selain itu kuku yang relatif lebih tumpul menyebabkan kopekan kulit kayu yang lebih besar namun tidak terlalu dalam. Cakaran beruang madu bisa lebih dari 5 meter dikarenakan beruang madu memanjat pohon, sedangkan harimau hanya melakukan cakaran pada pohon untuk tujuan mengasah kuku.

d. Kaisan di tanah

Kaisan pada tanah sangat jarang ditemukan, biasanya tim penanggulangan konflik dapat menemukan kaisan ini pada pinggir jalan setapak, dimana harimau seing menggunakan jalan yang juga dipakai oleh manusia.

Jika menamukan bekas seperti ini, biasa tidak jauh juga ditemukan tanda-tanda lainnya.

Gambar 6. Foto cakaran harimau pada pohon (Foto: FFI)

Gambar 5. Boli kotoran harimau yang telah lama dan telah memutih.

Gambar 7. Foto cakaran beruang madu

(23)

e. Tanda-tanda lain juga dapat ditemukan namun tidak cukup mudah diidentifikasi Selain keempat tanda-tanda yang paling umum dipergunakan untuk identifikasi tanda keberadaan harimau, masih ada tanda-tanda lain yang dapat diamati, diantaranya:

i. Bau kelenjar pada urin

Jenis tanda keberadaan ini sebenarnya cukup mudah diidentifikasi, tim lapangan yang sudah terlatih akan dapat mengidentifikasi melalui penciuman, namun karena bau kelenjar ini cukup sulit dideskripsikan maka diperlukan pelatihan lapangan untuk dapat mengidentifikasi bau kelenjar ini.

ii. Mangsa buruan harimau.

Mangsa utama harimau adalah rusa sambar dan babi, pada konflik yang menimbulkan korban ternak, maka akan dapat ditemukan bekas gigitan harimau dan cakaran pada tubuh mangsa.

Dalam melakukan identifikasi terhadap mangsa harimau ini harus dilakukan secara hati- hati dikarenakan harimau akan kembali mendatangi mangsa dalam beberapa hari untuk menghabiskan mangsanya.

Dalam melakukan identifikasi harimau konflik, akan sangat

tepat memasang kamera penjebak pada temuan mangsa buruan harimau.

Dengan adanya mangsa buruan harimau ini, dapat juga tim mengidentifikasi dari bau bangkai mangsa yang terbawa angin, sehingga dapat menentukan lokasi adanya bangkai mangsa.

iii. Rambut harimau.

Pada kejadian konflik harimau, sangat dimungkinkan ditemukan rambut-rambut harimau pada lokasi konflik.

• Harimau yang terjerat akan banyak meninggalkan rambut-rambut yang

Gambar 8. Kaisan pada tanah ditemukan pada pinggiran jalur lintasan satwa (Foto: Erwin W.)

Gambar 9. Sapi yang telah dimangsa harimau, pada hari kedua setelah dilaporkannya informasi konflik.

(24)

tercabut pada saat berusaha melepaskan diri dari jerat.

• Harimau yang memasuki kandang ternak. Kandang ternak yang cukup sempit dan kadangkala terdapat paku, kawat, kayu yang berbentuk runcing. Pada saat harimau berusaha memaksakan masuk ke dalam kandang ternak, akan dimungkinkan rambut- rambut menempel pada paku atau kayu. Jika rambut harimau tercampur dan warna sulit

dibedakan dengan rambut ternak, maka dapat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop untuk membedakannya dengan melihat susunan elemen rambut.

4. Sampel biologis harimau sumatera

Setelah mempelajari mengenai tanda-tanda keberadaan harimau, petugas perlu mengenali juga sampel-sampel yang perlu diambil dari individu harimau. Hal ini penting dan perlu dipahami oleh tim yang melakukan respon KMH. Harimau adalah satwa liar yang tidak mudah dijumpai, pada saat dijumpai pun tidak akan mudah melakukan pengambilan sampel untuk kepentingan penelitian. Jika melakukan penelitian dengan sengaja menangkap harimau akan diperlukan perijinan dan proses penangkapan yang cukup sulit dan beresiko. Dengan alasan tersebut, maka seyogyanya harimau konflik dapat diambil sampel dan informasinya untuk kebutuhan penelitian.

Untuk itu, tim yang melakukan penanganan KMH perlu memahami sampel-sampel yang dapat diambil dan dibekali pemahaman perijinan atau hal-hal administratif terkait pengambilan dan penyimpanan sampel.

Sampel harus diambil dengan sepengetahuan petugas, dilakukan pendataan dan disimpan atau dibawa dengan proses administrasi yang benar sesuai dengan undang-undang yang mengaturnya. Tanpa hal-hal administratif ini, maka mengambil, membawa dan menyimpan sampel ini dapat saja dikategorikan melanggar peraturan dan perundangan yang berlaku.

Jika harimau tidak tertangkap, maka sampel berupa kotoran (feces) dan rambut dapat dikoleksi untuk kepentingan forensik atau paling tidak menjadi bukti otentik bahwa konflik disebabkan oleh harimau. Dengan sampel rambut yang memiliki folikel (akar rambut), dapat juga dilakukan pemetaan DNA (Deoxyribonucleic Acid). Namun untuk dapat melakukan analisis DNA, sampel ini harus diambil dan ditangani secara benar.

Gambar 10. Rambut harimau yang tersangkut pada ranting atau cabang pohon (Foto: Erni Suyanti)

(25)

a. Jenis sampel dan koleksinya

Sampel dapat dikoleksi dari harimau hidup atau mati untuk mendapatkan informasi yang diperlukan terkait kondisi kesehatan harimau dan populasi secara keseluruhan.

Sampel perlu secara rutin dikoleksi untuk diperiksa apakah ada penyakit-penyakit tertentu yang menjangkiti harimau dan membahayakan populasi alami.

Pemeriksaan dan bank DNA

DNA (Deoxyribonucleic Acid) merupakan asam nukleat yang menyimpan semua tentang informasi genetika.

1. Sampel Darah

Untuk kebutuhan pemeriksaan DNA, darah tidak perlu diambil dalam jumlah yang banyak. Sel darah adalah sumber DNA terbaik, jumlah minimal sampel darah yang dapat dianalis sebanyak 0,05 ml.

Lokasi pembuluh darah pada harimau untuk koleksi sampel darah:

1. Vena Lateralis pada ekor

2. Vena Saphena Medialis pada betis-paha 3. Vena Saphena Medialis pada betis-paha

Tim yang menangani konflik harus mengetahui tatacara penanganan sampel dan secara administratif diberikan mandate pengambilan sampel oleh otoritas terkait. Otortitas terkait dalam hal ini adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Lebih jelasnya, BKSDA memerintahkan pengambilan sampel dan termuat secara eksplisit di dalam Surat Perintah Tugas (SPT) tim penanggulangan konflik.

Gambar 11. Foto pengambilan darah dari vena saphena (Foto: Erni Suyanti)

(26)

4. Vena Femoralis pada paha

5. Vena Sublingualis pada lidah bagian bawah 6. Vena Jugularis pada leher

Untuk menyimpan dan memastikan sampel dapat diperiksa, diperlukan media transport atau senyawa tertentu untuk dicampurkan di dalam darah guna mengawetkan. Setelah diambil dan darah dimasukkan didalam tabung, diperlukan ruang pendingin selama darah tersebut dibawa dalam perjalanan:

• Darah dimasukkan dalam

Vaccuntainer + EDTA dibawa menggunakan cool box + ice pack.

• Darah diteteskan pada FTA Card dimasukkan kedalam amplop kering.

Untuk penggunaan metode ini, amplop tidak perlu disimpan didalam ruangan pendingin, namun disimpan didalam ruangan dengan suhu yang stabil dan tidak didalam ruangan

yang lembab. Penggunaan dry box (lemari kering) yang memiliki pengatur suhu dan kelembaban adalah pilihan tepat. Selama membawa amplop berisi sampel ini, dapat dibawa didalam tas atau lebih baik dimasukkan didalam buku agar terjaga dengan baik.

2. Sampel Rambut

Pada akar rambut terdapat materi DNA yang sering juga digunakan untuk koleksi sampel bagi pengujian DNA. Ambil rambut dengan menggunakan perlengkapan steril (jangan menggunakan tangan secara langsung). Pengambilan sampel dengan menggunakan pinset yang sebelumnya telah disterilisasi akan menjamin tidak adanya materi genetik lain yang tercampur di dalam sampel. Sampel rambut yang diambil secara steril adalah sampel yang kering, sampel ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop yang masih baru. Berikan label pada amplop lokasi, koordinat, pengambil sampel dan kode-kode pengenal sampel. Cara paling sederhana menyimpan amplop ini selama perjalanan adalah dengan memasukkan amplop ke dalam buku. Jika sampel rambut ini disimpan tanpa menggunakan media, maka cukup cepat akan ditumbuhi jamur. Sesampai di kantor atau tempat yang memiliki perlengkapan memadai, sebaiknya amplop disimpan di dalam dry box atau lemari kering yang memiliki pengatur suhu dan kelembaban.

3. Sampel Feces

Dalam proses pencernaan makanan di dalam saluran pencernaan, sebagian sel-sel dari dinding usus terlepas dan terbawa bersama makanan hingga terbuang menjadi bentuk kotoran/feces. Sel-sel ini mengandung informasi genetika. Sampel terbaik untuk analisa genetik adalah permukaan boli kotoran, karena merupakan konsentrasi terbanyak materi yang mengandung DNA.

Gambar 12. Contoh dry box, biasanya alat ini dipergunakan untuk menyimpan lensa dan kamera. Fitur pengatur suhu dan kelembaban sangat membantu menghindari perkembangan jamur.

(27)

Kriteria sampel kotoran/feces yang bagus untuk keperluan analisa DNA adalah:

• Pilih kotoran segar, kondisinya masih segar semakin baik. DNA rusak dengan cepat bila terkena sinar matahari dan air. Usia kotoran/feces tidak boleh lebih dari satu atau dua hari. Kotoran lama akan sulit dianalisa genetiknya.

• Kotoran segar mempunyai ciri-ciri masih lembab, dengan lapisan lendir yang mengkilat di bagian luar dan baunya tajam. Kotoran yang sangat segar biasanya masih hangat. Kotoran segar adalah sumber terbaik untuk mengambil sampel untuk pemeriksaan DNA.

• Kotoran baru adalah setelah dikeluarkan satu atau dua hari, lapisan lendir di permukaan kotoran biasanya telah hilang tetapi baunya masih ada. Bila tidak ada kotoran segar, anda dapat mengambil sampel dari kotoran baru ini.

• Apabila bau kotoran/feces telah mendekati bau tanah dibandingkan bau kotoran harimau, ataunya kondisinya sudah kering, ada jamur atau tanaman yang tumbuh di kotoran, berarti kotoran tersebut sudah lama. Jangan ambil sampel dari kotoran seperti itu.

Perlengkapan yang perlu dipersiapkan untuk mengambil sampel kotoran/feces guna pemeriksaan DNA, adalah:

1. Tabung sampel yang telah diisi media alkohol absolut;

2. Parafilm untuk menyegel tabung sampel;

3. Stik es krim/ranting kering untuk pengambilan sampel;

4. Spidol permanen/pensil untuk memberi label tabung sampel;

5. GPS untuk mengambil koordinat lokasi pengambilan sampel;

6. Plastik hitam/boks warna gelap untuk menyimpan

tabung yang berisi sampel kotoran/feces. Warna hitam melindungi sampel dari sinar matahari yang merusak.

Teknik mengambil sampel kotoran untuk tujuan analisa genetika

• Jangan sentuh kotoran dengan tangan telanjang anda. Hal ini akan mengkontaminasi (bercampur) antara DNA satwa dengan DNA anda. Gunakan sarung tangan atau dedaunan.

• Apabila anda menggunakan sarung tangan/dedaunan, gunakan sepasang sarung tangan yang baru/dedaunan baru untuk setiap tumpukan kotoran.

Pastikan anda tidak menyentuh permukaan luar sarung tangan dengan tangan telanjang anda!

• Pengambilan sampel harus dilakukan menggunakan sebuah ranting kering atau stik kayu kecil. Hanya sentuh satu ujung ranting. Apabila anda menyentuh kedua ujungnya, anda akan mengkontaminasi sampel dengan DNA anda.

• Gunakan ranting untuk mengambil sebagian kotoran dari permukaan atas, dan masukkan dalam tabung sampel. Tabung sudah diisi dengan alkohol absolut.

Setelah anda mengambil kira-kira satu sendok kecil kotoran harimau, tutup rapat tabung, dan letakkan tabung di sebelah anda. Kemudian buang ranting yang

(28)

anda gunakan tadi.

• Apabila anda mengambil sampel dari tumpukan kotoran baru, gunakan stik/

ranting baru dan sarung tangan baru. Apabila anda tidak melakukannya, sampel baru akan terkontaminasi dengan DNA dari sampel sebelumnya.

• Ketika sample sudah di dalam tabung dan tabung telah ditutup rapat, segel bagian atas dengan parafilm. Anda membutuhkan kira-kira 2 cm parafilm. Taruh satu ujung pada tabung, setengah parafilm ditutup tabung dan setengahnya di permukaan tabung.

• Dengan satu tangan menahan ujung tersebut, tarik parafilm mengelilingi tabung dengan rapat, sampai tabung tertutup dengan rapat.

• Terakhir kocok tabung untuk mencampur alkohol dan sampel (kira-kira 1 menit).

• Setelah anda memastikan bahwa tabung sudah ditutup dengan rapat dan disegel dengan parafilm, tulis nomor sampel (No. ID) pada tabung sampel.

Hati-hati, pastikan anda tidak mencampur sampel.

Kemudian simpan tabung sampel dalam plastik hitam untuk menghindari hancurnya DNA karena sinar matahari. Tambahkan kertas label yang berisi No ID sampel, koordinat GPS, tanggal dan informasi sampel (permukaan atas, bawah, atau dalam).

• Kemudian tutup plastik hitam, dan simpan dalam box sampel atau ransel.

Berapa banyak sampel harus diambil per boli kotoran/feces ?

• Jumlah kotoran/feces yang baik untuk diambil adalah kira-kira 1/3 (sepertiga) dari tabung sampel. Jangan isi tabung penuh dengan sampel kotoran.

• Koleksi sampel dari kotoran segar (+/- 1 hari), ambil 1 sampel dari permukaan atas, dan dari kotoran baru (2-3 hari), ambil 1 sampel dari permukaan atas, 1 sampel dari permukaan bawah. Dari kotoran yang usianya lebih dari 3 hari ambil 1 sampel dari bagian dalam.

• Anda akan membutuhkan sebuah ranting kering atau lebih baik apabila menggunakan stik es krim untuk mengambil sampel. Hati-hati, hanya sentuh satu ujung ranting/stik es krim. Jangan sentuh bagian yang akan anda gunakan untuk mengambil sampel.

Data pendukung saat pengambilan sampel adalah:

• Ambil dokumentasi/foto kotoran, paling baik adalah mengambil dari atas, dengan pembanding (misalnya pita meteran).

(29)

• Ambil koordinat posisi anda dengan GPS. Simpan koordinat di GPS anda, dan gunakan ID Waypoint sampel sebagai nama Waypoint. (Misalnya: No ID sample

= A-01, jadi nama Waypoint juga A-01).

• Ukur, baik diameter maupun keliling boli kotoran, hanya ukur boli yang utuh, Jangan ukur boli yang telah rusak.

• Anda harus menulis informasi umum (misalnya keterangan tentang lokasi dimana anda mengambil sampel, informasi tentang vegetasi di sekitar anda; hutan, ladang, perkebunan, jalan, dan sebagainya), dan keterangan lain yang menurut anda penting misalnya perkiraan jumlah satwa harimau, dan seterusnya. Tulis dengan jelas dan singkat.

• Setelah anda selesai mengumpulkan sampel, sebaiknya anda meninggalkan dedaunan di atas tumpukan kotoran, atau secara umum menandai tumpukan kotoran yang telah anda ambil sampelnya. Ini dilakukan untuk menghindari pengambilan sample dari kotoran/feces yang sama dua kali.

Sampel lainnya yang dapat digunakan untuk analisa genetik adalah:

• Jaringan lunak, berupa otot, tendon, ligamentum, fasia, saraf, jaringan serabut, lemak, pembuluh darah dan membran synovial

• Air liur

• Tulang dan gigi

• Sel kulit mati

• Sperma.

b. Pemeriksaan jenis penyakit Penyakit parasiter

Parasit merupakan organisme yang hidupnya merugikan induk semang yang ditumpanginya. Tempat hidup parasit terbagi ke dalam 2 golongan:

1. Endoparasit seperti cacing cestoda, nematoda, trematoda, dan protozoa. Parasit ini hidupnya di dalam jaringan atau organisme bagian dalam hospes;

2. Ektoparasit dari golongan lalat, tungau dan caplak. Parasit yang hidupnya pada permukaan tubuh bagian luar atau bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan dunia luar dari hospes. Seperti: kulit, rongga telinga, hidung, rambut, ekor dan mata.

Investasi endoparasit pada satwa menunjukkan gangguan pertumbuhan, anemia dan diare, sedangkan investasi ektoparasit menunjukkan adanya perdarahan kulit akibat luka-luka dan permukaan kulit kasar.

Jenis-Jenis Endoparasit pada satwa harimau sumatera di habitat alam

• Cacing kelas Nematoda (cacing gilig)

• Cacing kelas Cestoda (cacing pita)

• Cacing kelas Trematoda (cacing hisap/gepeng)

• Protozoa: Babesia, Anaplasmosis (menyerang sel darah merah)

(30)

Pemeriksaan sampel apus/ulas darah

Pemeriksaan menggunakan preparat apus/ulas darah (blood smear). Bahan yang diperlukan adalah:

• Darah 1 tetes

Object glass 2 buah

• Larutan metil alkohol Cara pembuatan preparat ulas:

1. Teteskan darah pada salah satu object glass

2. Buatlah preparat ulas dengan bantuan object glass lainnya, letakkan pada tengah object glass dan tarik hingga menyentuh tetesan darah

3. Dorong object glass tersebut ke arah berlawanan dengan nomor 2.

4. Preparat yang baik adalah preparat yang tipis dan merata pada object glass, lanjutkan dengan melakukan fiksasi dengan meneteskan metil alkohol dan angin-anginkan hingga kering

5. Berilah kode identifikasi sampel pada salah satu ujung object glass

6. Bungkuslah dengan tisu yang bersih dan kering dan disimpan pada kotak sampel yang aman dari benturan

7. Hingga pada tahap ini sampel sudah aman untuk perjalanan. Jika telah sampai di laboratorium, dapat dilakukan pengecatan dengan metode Giemza atau teknik pengecatan preparat lainnya untuk mengantisipasi jika terjadi kerusakan.

Identifikasi penyakit akibat protozoa dapat dilakukan dengan pemeriksaan preparat ulas darah menggunakan bantuan mikroskop.

Pemeriksaan endoparasit

Identifikasi penyakit akibat cacing seperti Nematoda, Cestoda maupun Trematoda dari pemeriksaan sampel kotoran/feces atau identifikasi dari sampel cacing dewasa yang ditemukan dalam kotoran atau dalam organ tubuh satwa harimau yang telah mati karena penyakit parasiter.

5

(31)

Gambar 13. Endoparasit cacing yang ditemukan pada usus harimau (Foto: Erni Suyanti)

Cara pengambilan sampel:

• Koleksi sampel kotoran/feces yang masih segar dimasukkan ke dalam tabung sampel/plastik sampel dan ditetesi Formalin 10% sebagai media transport.

• Koleksi sampel cacing dewasa dapat diambil dari cacing yang keluar bersama kotoran atau dari organ satwa harimau yang telah mati akibat penyakit parasiter.

Sampel cacing dimasukkan kedalam tabung sampel yang telah diisi Alkohol 70%.

Pemeriksaan ektoparasit

Jenis-jenis ektoparasit pada satwa harimau sumatera di habitat alami yakni:

• Golongan lalat

• Golongan tungau

• Golongan caplak: Rhipicephalus sp. (caplak anjing), Boophilus sp.

Identifikasi jenis ektoparasit dari koleksi sampel berupa caplak atau tungau dapat diambil pada kulit atau pangkal rambut harimau. Sampel juga dapat diambil pada saat melakukan penanganan langsung. Bagian tubuh yang sering menjadi tempat parasit ini antara lain:

1. Dagu

2. Sela-sela jari kaki 3. Telinga bagian dalam

4. Bagian kulit yang tersembunyi, dibawah rambut.

(32)

Pemeriksaan microbiology, immunology dan virology

Harimau memiliki potensi terserang penyakit yang dapat mematikan individu dan dan dapat menular kepada populasi liar. Harimau konflik dapat disebabkan salah satunya oleh terjangkitnya suatu penyakit. Oleh karena itu sangat penting melakukan pengambilan sampel untuk tujuan pemeriksaan lanjutan.

Dua jenis sampel yang diperlukan untuk pemeriksaan ini adalah a. Serum

Untuk mendapatkan serum, sampel yang telah diambil harus dimasukkan kedalam tabung vaccutainer tanpa zat anti pengentalan (anti-koagulan)

1. Ambil sampel sekitar 10-15 cc ke dalam tabung vaccutainer 2. Letakkan pada tempat yang stabil hingga membeku

Gambar 16. Tabung ependorf berisi serum.

Gambar 15. Vaccutainer dengan anti- koagulan EDTA

Gambar 14. Ektoparasit yang ditemukan pada harimau (Foto: Erni Suyanti)

(33)

3. Ambil cairan bening diatas darah yang telah membeku tersebut (serum) dengan menggunakan spuit dan disimpan kedalam tabung ependorf

4. Tabung ependorf adalah tabung yang kecil, sehingga serum yang diperoleh dapat dipindahkan ke dalam beberapa tabung (usahakan tidak ada yang tersisa)

5. Tuliskan kode label dan catat kode label dalam buku database sampel

6. Simpan tabung ependorf ke dalam freezer untuk menunggu dilakukan pemeriksaan.

b. Whole blood

Sampel darah dalam bentuk whole blood diperlukan untuk pemeriksaan hematologi.

Kondisi di lapangan sering tidak memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan secara langsung, sehingga diperlukan pengambilan darah dan penyimpanan yang benar. Sampel whole blood diperoleh dengan memasukkan darah sebanyak 5-10 cc kedalam tabung vaccutainer yang sudah terdapat zat anti pembekuan darah (anti-koagulan). Darah disimpan pada kotak penyimpanan yang dingin (ice box) dan usahakan ditempatkan pada lokasi yang tidak banyak bergerak. Gerakan yang terlalu banyak dapat menyebabkan darah mengalami kerusakan.

Pastikan es di dalam kotak penyimpanan selama perjalanan selalu tersedia, tambahkan es jika telah berkurang. Pada saat tiba di laboratorium atau di kantor, pindahkan tabung ini pada lemari es dan usahakan segera dilakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan sampel organ

Sampel organ akan diperlukan untuk membuat preparat mikrobiologi, pemeriksaan forensik maupun untuk melakukan isolasi virus. Kematian harimau dengan tanda- tanda tidak wajar perlu dilanjutkan dengan pendataan kondisi ketidakwajaran, pengambilan sampel organ sesuai dengan kebutuhan dan dugaan penyakit.

Contoh penggunaan sampel organ adalah:

a. Sampel hypothalamus yang harus diambil dari harimau mati dengan kecurigaan mati disebabkan oleh penyakit rabies.

b. Pengambilan sampel usus, isi usus, hati dan ginjal untuk melakukan pemeriksaan kemungkinan adanya racun.

Gambar 17. Contoh kotak transport vaksin yang dapat dipergunakan untuk membawa sampel selama di lapangan.

(34)

B. Pengenalan Survei, Monitoring dan Perlindungan Satwa Liar

1. Survei dan monitoring

Salah satu komponen dasar dalam konservasi harimau adalah kegiatan survei dan monitoring populasi harimau dan habitatnya, tidak luput juga pengetahuan mengenai satwa mangsanya. Dengan mengetahui informasi dasar tersebut, arah dan kebijakan konservasi harimau yang tepat dapat diambil. Harimau merupakan satwa yang tidak mudah ditemukan di hutan, sehingga untuk dapat menghitung dengan menghasilkan angka pasti jumlah individu adalah hal yang tidak mudah. Oleh karena itu, para peneliti melakukan survei dengan pendekatan kepadatan populasi serta sebaran yang relatif di berbagai tipe dan kondisi hutan. Dua kegiatan monitoring yang harimau yang perlu dilakukan secara berkala yakni:

a. Survei sebaran penggunaan habitat oleh harimau. Survei ini sering disebut dengan survey of occupancy. Tujuan dari survei ini untuk memetakan berbagai jenis dan tipe hutan terkait ada dan tidaknya harimau. Hasil informasi diperoleh dari survei ini juga memberikan pemahaman dimana saja harimau ini terdistribusi.

Selain informasi keberadaan harimau, indeks kelimpahan satwa mangsa juga dapat diketahui.

b. Survei kepadatan populasi dengan metode Capture-Mark-Recapture (CMR).

Metode ini di lapangan dilakukan dengan menggunakan alat kamera penjebak (camera trap) untuk mendapatkan foto harimau dari sisi kiri maupun kanan.

Prinsip dari survei ini dan penggunaan kamera penjebak adalah membedakan setiap individu harimau melalui perbedaan pola lorengnya, mencatat di kamera mana saja harimau akan terfoto serta menghitung kerapatan populasi harimau di wilayah tersebut secara statistik. Hasil dari penghitungan kepadatan ini biasa akan ditampilkan sebagai jumlah individu per satuan luas.

“Sebagai contoh, sebuah data survei dianalisis menghasilkan informasi kepadatan harimau 2,5–6,5 individu/100km2.”

Nilai tersebut diartikan bahwa jumlah individu yang berada dalam setiap luasan 100 km2 adalah antara 2,5–6,5 ekor. Angka kepadatan populasi 2,5-6,5 tidak dibulatkan dan hal ini tidak perlu dipersoalkan. Nilai ini merupakan metode statistika dalam melakukan estimasi atau perkiraan populasi. Angka dapat dibulatkan apabila telah diekstrapolasi dalam luasan yang lebih besar. Dalam melakukan ekstrapolasi tidak hanya sesederhana mengalikan jumlah kepadatan dengan luasan kawasan saja, namun memerlukan informasi kondisi habitat dan sebaran harimau. Ekstrapolasi yang tepat adalah dengan melakukan ekstrapolasi berdasarkan nilai variabel pada hasil occupancy.

2. Tatacara pemasangan kamera penjebak di lokasi konflik

Pemasangan kamera penjebak sangat diperlukan dalam melakukan penanganan konflik. Di wilayah yang memiliki potensi konflik tinggi perlu dilakukan identifikasi harimau-harimau berada di wilayah tersebut. Database individu harimau di lokasi potensial konflik berguna untuk mengetahui mendukung proses verifikasi, terutama pada situasi yang mengharuskan melakukan penangkapan.

(35)

i. Apakah individu yang terlibat konflik adalah individu resident (yang menetap pada teritori tersebut) atau individu transient (harimau yang menjelajah untuk mendapatkan wilayah teritori).

ii. Apakah harimau memiliki anak, sehingga penanganan dapat direncanakan lebih matang

iii. Harimau yang terjerat dapat juga terekam dalam foto-foto kamera penjebak, sehingga perlu melakukan tindakan penyelamatan.

iv. Apakah harimau konflik memiliki sejarah konflik sebelumnya.

a. Pemasangan kamera penjebak

Untuk menghindari kesalahan identifikasi individu, maka kamera penjebak perlu dipasang 2 unit yang dipasang berhadapan dengan tujuan mendapatkan gambar harimau dari posisi sebelah kiri maupun sebelah kanan. Lokasi pemasangan sering disebut sebagai “stasiun”. Jadi idealnya, pemasangan kamera mempergunakan 2 unit kamera penjebak dalam 1 stasiun.

Dalam melakukan pemasangan kamera penjebak berikut ini panduan singkatnya:

• Pastikan jalur satwa bersih dan di depan titik penempatan kamera harus dibersihkan dari tanaman-tanaman yang dapat menutup lensa kamera.

• Pilih pohon penempatan kamera yang kokoh namun jika tidak terdapat pohon maka dapat memasang tiang pada lokasi yang tepat. pasang kamera dengan lensa menghadap ke jalur harimau.

• Ketinggian lensa kamera (t-c) diukur sekitar 40-50 cm diatas permukaan jalur (bukan diukur dari ketinggian dasar pohon).

• Jarak horizontal (A–c atau B–c) antara kamera dengan jalur harimau sekitar 3-4 meter.

Gambar 18. Contoh kamera penjebak (camera trap) yang tahan air.

Gambar 19. Ilustrasi pemasangan kemera penjebak.

(36)

• Catat koordinat lokasi pemasangan dan data hasil kamera untuk tujuan identifikasi harimau dapat dicek jika terdapat tanda-tanda harimau telah melintas.

• Pemantauan lokasi dapat dilakukan setiap 2 hari sekali. Jumlah tim yang paling tidak 3 orang dengan perlengkapan kerja dan keselamatan yang memadai.

• Sebelum memasang, pastikan kartu memori kamera dapat berfungsi dengan baik dan memiliki kapasitas yang cukup besar.

• Sebelum dan setelah dipasang, lakukanlah tes fungsi kamera penjebak, tes fungsi sensitivitas sensor, pengaturan tanggal dan jam.

• Penggunaan lampu flash untuk malam hari, atau jenis kamera infrared (tanpa flash).

• Pilihan jenis rekaman video atau foto atau keduanya.

• Jarak rekam atau “delay

• Pastikan baterai masih memiliki daya yang cukup serta silica gel yang masih baik untuk menyerap kelembaban.

Pemasangan kamera diatas menggunakan tiang buatan dikarenakan tidak terdapat pohon yang bisa dipergunakan untuk memasang kamera. Metode ini tidak menimbulkan kendala, rentan terjadi pencurian kamera karena terlihat cukup mencolok.

b. Memilih lokasi “stasiun” pemasangan kamera penjebak Dalam menentukan titik lokasi pemasangan diperlukan peahaman perilaku harimau. Harimau cenderung akan berjalan pada jalur-jalur satwa yang telah ada. Karena harimau adalah satwa yang memiliki teritori luas, maka harimau akan berjalan dari bukit ke bukit dengan mengikuti jalur satwa yang cukup landai.

Jalur pada punggungan landai yang dan yang menuju ke sumber air merupakan jalur satwa yang paling banyak dilalui oleh satwa mangsa, begitu juga dengan harimau. Untuk dapat melihat punggungan yang sesuai dengan karakteristik

Gambar 20. Pemasangan kamera penjebak dengan menggunakan tiang buatan (Foto: WCS)

(37)

harimau, maka diperlukan peta topografi, tim harus mampu membaca peta topografi dan dapat mempergunakan perlengkapan navigasi dengan baik.

Jika berada pada wilayah seperti pada contoh peta topografi di halaman sebelumnya, garis hijau menunjukkan jalur punggungan yang lebih berpotensi dilewati harimau maupun satwa lain (punggungan relatif landai), garis merah karena lebih terjal, sedikit kurang potensial dilewati harimau.

Meskipun dapat diprediksi dari peta topografi, kondisi lokasi perlu dicek dan perlu mencari tanda-tanda keberadaan harimau pada jalur tersebut, artinya kita tidak dapat hanya mengandalkan prediksi lokasi hanya dengan menggunakan peta saja.

c. Identifikasi individu harimau hasil kamera penjebak

Foto-foto harimau hasil kamera penjebak dimasukkan didalam database dengan contoh format sebagai berikut.

Lokasi Tgl &

Jam ID Kam Tgl

pasang Tgl

lepas Koordinat Foto kiri Foto

kanan ID

harimau Note

Data yang baik akan memudahkan saat proses analisis. Foto-foto hewan mangsa atau jenis satwa lain yang terekam sebaiknya tetap disimpan karena dapat dipergunakan untuk analisis pendukung.

Keterangan pengisian data kamera penjebak

Lokasi Diisi dengan informasi nama desa, kecamatan dan kabupaten

Tgl & Jam Tanggal dan Jam. Diisikan dengan tanggal dan jam pada saat foto tersebut diperoleh, data ini dapat diperoleh dari metadata file foto hasil kamera penjebak

ID kam ID Kamera. Diisi dengan nomor seri atau kode kamera yang dipergunakan

Koordinat Koordinat diisikan titik koordinat penempatan kamera, jika menggunakan sepasang kamera (2 unit), maka koordinat dari kedua kamera dapat menggunakan koordinat yang sama. Sistem koordinat dapat menggunakan sistem UTM maupun derajat sesuai dengan metode yang biasa dipergunakan. Jika menggunakan sistem koordinat UTM maka kode zona harus dicantumkan.

Tgl pasang Tanggal pemasangan kamera Tgl lepas Tanggal melepas kamera

Foto kiri Diisi dengan foto harimau yang menunjukkan tubuh sebelah kiri, ditambahkan juga nama file foto

Foto kanan Diisi dengan foto harimau yang menunjukkan tubuh sebelah kanan, ditambahkan juga nama file foto

ID harimau Penamaan harimau untuk setiap sepasang foto yang diperoleh.

Note Keterangan. Diisikan informasi tambahan yang diperoleh dari informasi konflik. Kondisi saat melepas kamera bisa juga dicatat di dalam note ini. Apakah kamera masih dalam kondisi baik/rusak/hilang, kamera aktif/tidak aktif.

(38)

Jika terdapat 2 foto dari sisi yang sama dapat dilakukan pengamatan untuk melihat perbedaan pola lorengnya, jika pola loreng sama berarti kedua foto tersebut disimpulkan sebagai satu individu yang sama namun terfoto lebih dari satu kali atau terfoto pada lebih dari satu stasiun.

Jika tidak dapat mendapatkan foto yang menunjukkan sisi yang sama maka proses identifikasi menjadi lebih sulit.

d. Identifikasi jenis kelamin harimau dari kamera penjebak

Pada ketiga foto diatas, bisa diperhatikan bahwa seluruh foto adalah harimau betina karena pada bagian tepat dibawah ekor tidak terdapat adanya testicle (testis).

Perhatikan bagian yang dilingkari merah.

Harimau pada gambar (A) dengan harimau (B) adalah individu yang berbeda, sedangkan harimau (A) dengan harimau (C) adalah individu yang sama. Dari ketiga foto yang berbeda stasiun dan waktu, dapat disimpulkan bahwa terdapat minimal 2 individu harimau.

A B

Gambar 21. Contoh perbedaan pola loreng untuk identifikasi perbedaan individu harimau sumatera.

(Foto: FFI)

C

Gambar 22. Contoh foto harimau berkelamin jantan (Foto: FFI).

Pada foto diatas terdapat testis dibawah ekor. Organ ini memastikan bahwa harimau tersebut berkelamin jantan.

(39)

Setiap melakukan penanganan pembiusan atau menangani harimau mati, harus mengambil sampel, membuat foto susunan gigi, pola loreng kiri, kanan maupun kepala dan mengambil foto-foto kondisi tidak wajar untuk dapat memberikan informasi tambahan terkait penyebab konflik atau penyebab kematian. Data-data ini disimpan dengan baik sebagai database. Penyimpanan data yang baik akan memudahkan melakukan penelusuran riwayat konflik.

Gambar 23. Bagian-bagian pada gigi harimau yang dipergunakan untuk menaksir umur (Foto: WCS).

2 1

3 4

5

Keterangan:

1. Gigi seri. Pada contoh gambar diatas, gigi seri sudah merupakan gigi permanen.

2. Taring. Pada gambar diatas, taring sudah merupakan taring permanen

3. Alur taring. Tepian tajam pada pinggir taring mulai dari pangkal hingga ujung taring. Alur taring akan semakin menghilang dengan bertambahnya umur karena bergesekan dengan tulang- tulang hewan yang dimangsa.

4. Pengeroposan. Biasa ditemukan pada harimau yang sudah dewasa, pengeroposan ini banyak sebagai akibat alami pergesekan dengan tulang.

5. Tarikan gusi. Semakin bertambahnya umur, gusi akan sedikit mengalami perubahan, sehingga terlihat bagian taring yang dahulunya tertutup oleh gusi. Bagian taring yang dahulunya tertutup gusi akan lebih gelap dan biasa berbatas jelas.

Warna gigi. Dari kedua foto diatas tampak perbedaan warna (putih dan kuning-kecoklatan).

Harimau muda cenderung bergigi putih, sedangkan yang berwarna menunjukkan umur yang lebih tua.

e. Perkiraan umur harimau dari kondisi gigi

Secara umum, foto kamera penjebak dapat dipergunakan untuk memperkirakan umur harimau dengan memperhatikan kondisi tubuh, bentuk fisik dan hanya dapat memberikan perkiraan apakah harimau tersebut dewasa atau anakan. Bahkan jika foto diperoleh dengan optimal, kondisi harimau yang sedang menyusui juga dapat terlihat pada foto. Perkiraan umur yang lebih akurat adalah dengan memeriksa gigi secara langsung.

(40)

Berikut ini beberapa contoh memperkirakan umur harimau dengan menggunakan susunan gigi. Metode ini merupakan hasil penelitian dari Wildlife Conservation Society (WCS) untuk harimau amur (Panthera tigris altaica). Meskipun dalam kondisi alami dapat terjadi kerusakan gigi yang diakibatkan oleh faktor-faktor lain, metode ini merupakan hasil sintesis dari data-data harimau-harimau liar yang terpantau melalui GPS collar, sehingga dapat digunakan sebagai petunjuk yang cukup akurat.

Kita dapat mempelajari dengan mudah susunan gigi dengan mudah di kebun binatang. Namun standar umur yang diperoleh dari penelitian di kebun binatang tidak akan tepat dipergunakan untuk menaksir umur harimau liar. Hal ini disebabkan aktifitas harimau yang berbeda antara dialam liar dan dikebun binatang, jenis hewan mangsa juga berbeda, sehingga tingkat ke-aus-an gigi juga akan sangat berbeda.

Dalam praktik diperlukan pengamatan dari kondisi-kondisi yang ditemukan di lapangan dan dibandingkan dengan tabel dibawah. Tabel ini cukup akurat meskipun berbagai faktor seperti penyakit dan ketersediaan jenis hewan mangsa atau kondisi kandungan mineral didalam air juga dapat mempengaruri akurasi penaksiran umur.

Gambar 24. Contoh gigi harimau. (A) adalah bentuk taring susu (taring terlihat kecil dan ramping), sedangkan (B) adalah taring permanen yang sedang tumbuh. (Foto: WCS).

Gambar 25. Taring yang telah patah dan terdapat karies gigi (Foto: WCS).

A B

(41)

Tabel 1. Panduan dalam menaksir umur harimau

Kondisi Gigi Umur

a. Gigi seri sudah berganti menjadi gigi dewasa

b. Taring masih berupa gigi susu 11–12 bulan

a. Gigi seri sudah berupa gigi dewasa

b. Taring permanen mulai tumbuh (masih pendek) 14 bulan

a. Taring sudah tumbuh panjang, runcing, kuat, besar namun belum maksimal

b. Gigi berwarna putih bersih 15 bulan

a. Taring tumbuh maksimal namun masih berwarna putih b. Alur taring masih terasa tajam jika diraba dengan tangan

16 bulan

a. Taring mulai berubah warna dari putih menjadi sedikit kuning

b. Alur taring berkurang, namun masih bisa teraba pada bagian yang lebih dekat dasar gigi

3 tahun

a. Gigi taring sudah mulai menguning b. Alur taring sudah tidak teraba tajam

c. Ada keropos pada alur taring bagian dekat dasar gigi d. Terdapat sedikit tarikan gusi

5 tahun 2 bulan

a. Gigi kuning-kecoklatan, alur gigi tidak teraba b. Terdapat sedikit pengeroposan

7 tahun

a. Gigi kecoklatan, alur gigi tidak teraba, terdapat pengeroposan yang cukup signifikan

b. Terlihat jelas adanya tarikan gusi

9-10 tahun

a. Gigi kuning-kecoklatan, alur gigi tidak teraba, terdapat pengeroposan yang cukup signifikan

b. Terlihat jelas adanya tarikan gusi

c. Terdapat gigi taring yang telah patah dan terlihat karies gigi

13-14 tahun

3. Perlindungan satwa liar

Harimau sumatera merupakan satwa yang menjadi target utama dalam perburuan dan kerusakan habitatnya. Hal ini juga menjadi kontribusi utama dalam penyusutan populasi harimau di alam.

a. Dalam menghadapi perburuan dan perusakan habitat, dilakukan dengan meningkatkan efektifitas patroli salah satunya dengan adalah penerapan patroli berbasis SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) atau penggunaan sistem patroli terpadu dengan perangkat lunak yang dapat dengan mudah dan cepat menghasilkan informasi spasial dan temporal.

(42)

b. Investigasi dan penegakan hukum juga dilakukan secara intensif untuk menangkap para aktor perdagangan harimau dan bagian-bagian tubuhnya.

c. Penanggulangan konflik manusia dan satwa liar. Perburuan dan perdagangan harimau ini juga sangat erat kaitannya dengan kejadian konflik, pemburu dapat saja memanfaatkan informasi konflik dan melakukan perburuan di lokasi tersebut. Oleh karena itu, penanganan konflik sangat penting untuk mencegah perburuan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk tujuan perdagangan harimau.

Daya jelajah harimau pada area yang memiliki jumlah satwa mangsa rendah, akan jauh lebih luas disbanding dengan di wilayah yang banyak terdapat satwa mangsa.

Luasnya daya jelajah ini berhubungan dengan perilaku individu harimau untuk mendapatkan ketercukupan mangsa. Perburuan yang tinggi terhadap satwa mangsa alami mengakibatkan penurunan jumlah satwa mangsa. Potensi untuk terjadinya konflik akan menjadi lebih tinggi.

Referensi

Boomgaard, P. (2001). Frontiers of fear: Tigers and people in the Malay World, 1600 – 1950 . Yale University Press, New Haven and London.

Franklin, N., Bastoni, Sriyanto, Siswomartono, D. Manansang, J., & Tilson, R.

(1999). Last of the Indonesian tigers: a cause for optimism. In Riding the Tiger: Tiger Conservation in Human-dominated Landscapes (eds J. Seidensticker, S. Christie &

P. Jackson). Cambridge University Press, 130-147.

Hines JE (2006) Program PRESENCE Version 2.4. Program PRESENCE Version 2.4 ed. Laurel, USA: USGS-Patuxent Widlife Research Center.

IUCN. (2015). Redlist: Tiger (Panthera tigris). downloaded: May 05, 2016 available on www.iucnredlist.org.

Indonesian Ministry of Forestry. (2007). Strategy and action plan for the Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae) 2007 - 2017. Indonesian Ministry of Forestry, Jakarta, Indonesia.

Kinnaird, M. F., Sanderson, E. W., O’Brien, T. G., Wibisono, H. T., & Woolmer, G.

(2003). Deforestation trends in a tropical landscape and implications for endangered large mammals. Conservation Biology Volume 17, 245-257.

Linkie, M., Martyr, D. J., Holden, J., Yanuar, A., Hartana, A. T., Sugardjito, J., &

Leader-Williams, N. (2003). Habitat destruction and poaching threaten the Sumatran tiger in Kerinci Seblat National Park, Sumatra. Oryx, 37(1), 41–48 DOI: 10.1017/

S0030605303000103.

Linkie, M., Wibisono, H. T., Martyr, D. J., & Sunarto, S. (2008). Panthera tigris spp. sumatrae. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.3. www.

iucnredlist.org. Downloaded on 1st February 2015.

McNeely, J. A., & Sochaczewski, P. S. (1988). Soul of the tiger: Searching for nature’s answers in Southeast Asia. A Kolowalu Book, University of Hawai’i Press, Honolulu.

Page 192

(43)

Sriyanto. (2003). Kajian mangsa harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Institut Pertaninan Bogor, Bogor, Indonesia (Thesis, unpublished).

Sunarto, Kelly, M. J., Klenzendorf, S., Vaughan, M. R., Zulfahmi, Hutajulu, M. B., &

Parakkasi, K. (2013). Threatened predator on the equator: multi-point abundance estimates of the tiger Panthera tigris in central Sumatra. Fauna & Flora International, Oryx, 47(2), 211–220 doi:10.1017/S0030605311001530.

Tilson, R. L., & Nyhus, P. J. (2010). Tribe of tigers: Introduction. In R. L. Tilson &

P. J. Nyhus (Eds.), Tigers of the World: The Biology, Politics, and Conservation of Panthera tigris (2nd ed.,). San Diego: Academic Press/Elsevier.

Widodo, F. A., Hanny, S., Utomo, E. H., Zulfahmi, Kusdianto, Septayuda, E., Sunarto.

(2017). Tiger and prey in Bukit Rimbang Bukit Baling: abundance baseline for effective wildlife reserve management. Journal of Forest Science (Jurnal Ilmu Kehutanan) Vol 11 No.2.

Widodo, F. A., Mazzolli, M., & Hammer, M. (2016). Sumatran tiger conservation - Forest flagship: researching & conserving critically endangered Sumatran tigers in Rimbang Baling Wildlife Sanctuary, Sumatra, Indonesia. Biosphere Expeditions report. Norwich, UK. Available via www.biosphere-expeditions.org/reports

(44)

BAB II

PENCEGAHAN DAN Penanganan KONFLIK ANTARA MANUSIA DENGAN

HARIMAU SUMATERA

Gambar

Gambar 1. Peta kawasan konservasi yang masih dihuni oleh harimau sumatera (PVA Harimau Sumatera  2016, Forum HarimauKita).
Gambar 2.  Bekas tapak harimau sumatera pada tanah basah (A) jejak masih baru, (B) jejak dari kaki  kiri dan kanan, (C) pengukuran jejak
Gambar 4. Bekas tapak anjing memperllihatkan adanya kuku didepan jari
Gambar 3. Pembanding besaran tapak
+7

Referensi

Dokumen terkait