• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alur Informasi dan Penanganan Konflik

SUMATERA

A. Alur Informasi dan Penanganan Konflik

1. Alur penanganan konflik

Informasi awal terjadinya konflik biasanya sangat beragam dan kadang tidak cukup jelas. Informasi bisa berupa cerita seseorang melihat harimau di pinggir kampung, mendengar suara auman harimau, harimau masuk ke ladang, hewan ternak dilaporkan hilang, hewan ternak diterkam dan lain-lainnya. Informasi ini tentunya perlu diverifikasi kebenarannya untuk mengetahui apakah benar dan apakah kasusnya sesuai dengan berita yang diterima. Jika ada laporan jejak harimau, perlu dipastikan apakah benar jejak harimau atau satwa lain (kucing mas, beruang, macan dahan atau anjing).

Diperlukan anggota tim SATGAS terdekat untuk memeriksa dan memastikan kebenaran informasi. Anggota tim tersebut harus memiliki kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat dan bertugas untuk meredam keresahan masyarakat, sekaligus melakukan pendataan (koordinat lokasi, mengidentifikasi jejak/bekas, mengambil sampel serta foto dokumentasi secara akurat). Hasil pemantauan dikomunikasikan dilaporkan kepada SATGAS Penanggulangan Konflik, untuk selanjutnya diambil langkah penanggulangan sesuai bentuk dan skenario konflik yang terjadi.

Supaya lebih mudah dipahami, proses diatas dirangkum didalam bagan dibawah ini:

Gambar 29. Bagan proses penanggulangan KMH

2. Penjelasan alur penanganan konflik a. Informasi konflik

Informasi Konflik yang dimaksud adalah informasi dari masyarakat yang disampaikan melalui berbagai media informasi seperti telepon, email, sms dan/atau aplikasi- aplikasi pengiriman pesan dan gambar lainnya.

Di masa teknologi dan internet yang sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Sumatera, informasi konflik sangat mudah disampaikan kepada para pihak yang berwenang. Masyarakat umum tidak selalu memahami bagan ini, sehingga diperlukan sosialisasi alur proses dan tahapan penanggulangan konflik.

Beberapa hal yang biasa terjadi di lapangan adalah:

• Masyarakat melaporkan adanya konflik kepada kepala desa, kepala dusun atau polsek setempat. Ini adalah hal positif dan perlu diantisipasi oleh tim SATGAS.

Tim SATGAS perlu menyebarkan informasi kepada perangkat desa, camat, polsek maupun koramil untuk dapat menyampaikan informasi kejadian konflik kepada SATGAS dengan cara “menitipkan” nomor telepon SATGAS kepada para pihak diatas. Media sosialisasi juga dapat dipertegas dengan pembuatan poster SATGAS yang dibagikan kepada para pihak terkait.

• Dengan adanya nomor telepon “hotline” (24 jam sehari, 7 hari seminggu) yang dipergunakan sebagai sarana masuknya informasi maka tim SATGAS perlu memiliki satu sistem untuk memantau dan pendataan informasi yang masuk.

• Forum HarimauKita (FHK) dalam hal ini sebagai forum yang yang membantu mengkomunikasikan berbagai inisiatif konservasi harimau turut membantu mengelola informasi konflik. Informasi ini disusun menjadi database konflik secara nasional yang dipergunakan untuk dikomunikasikan dengan berbagai pihak untuk penanganan lebih lanjut.

• Data dan informasi yang telah masuk kemudian ditindaklanjuti oleh tim SATGAS untuk melakukan verifikasi informasi.

b. Verifikasi dan pemantauan

Dalam melakukan verifikasi dan pemantauan dapat dilakukan beberapa hal oleh tim SATGAS sebagai berikut:

• Verifikasi dapat dimulai dengan melakukan komunikasi dengan pihak aparat desa, Polsek atau mitra yang memiliki lokasi kerja di sekitar tempat kejadian KMH. Komunikasi dapat menlalui telepon dan jika memungkinkan foto-foto bukti kejadian dapat diminta untuk dikirimkan kepada SATGAS.

• Apabila tidak terdapat bukti foto, maka tidak disarankan untuk masyarakat yang belum terlatih untuk melakukan pengecekan konflik sendiri. Tim SATGAS atau anggota tim SATGAS terdekat yang telah terlatih dan memiliki perlengkapan minimal dapat melakukan pengecekan dengan dibantu masyarakat.

• Tim yang melakukan verifikasi wajib menyampaikan informasi hasil verifikasi kepada SATGAS dan kepada aparat desa/aparat keamanan.

• Adakalanya informasi yang disampaikan sudah tidak baru atau tidak tepat. Jika informasi yang diperoleh tidak tepat/negatif , maka tidak perlu ada penanganan tambahan. Di lokasi tersebut yang diperlukan adalah sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat supaya mampu menyampaikan informasi lebih akurat (terutama untuk wilayah rawan konflik).

• Hasil verifikasi juga perlu disampaikan kepada instansi otoritas konservasi sumber daya alam di tingkat pusat. Dalam hal ini Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (Dit. KKH) dibawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE).

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat verifikasi lapangan terhadap informasi konflik:

i. Verifikasi lapangan harus dilakukan oleh tim yang memiliki kemampuan mengidentifikasi konflik, mengidentifikasi tanda harimau secara akurat dan dilakukan secepatnya setelah informasi diperoleh.

ii. Tim SATGAS membawa perlengkapan minimal penanganan konflik dan pada saat ke lokasi minimal berjumlah 3 orang.

iii. Tim SATGAS membawa selebaran dan poster bahan sosialisasi dan memasang poster pada kantor-kantor desa dan polsek (bila belum terpasang).

iv. Tanda keberadaan harimau dapat mudah hilang disebabkan oleh aktifitas manusia maupun akibat cuaca (hujan).

Proses verifikasi lapangan:

i. Berdiskusi dengan masyarakat dan aparat desa mengenai tahapan yang akan dilakukan.

ii. Memeriksa korban secara langsung (ternak, manusia atau harimau).

iii. Memeriksa lokasi-lokasi jejak keberadaan harimau.

iv. Melakukan survei singkat pada jalur-jalur potensial yang dilalui harimau (meskipun tidak jalur ini tidak dilaporkan oleh masyarakat)

v. Memasang kamera penjebak untuk melakukan pendataan individu harimau konlik. Kamera penjebak dapat dipasang beberapa unit untuk lebih memiliki peluang mendapatkan foto secara cepat.

vi. Jika terdapat bangkai satwa mangsa atau ternak, lokasi ini harus dipasang kamera penjebak karena potensi untuk mendapatkan foto harimau akan lebih tinggi.

vii. Jika terdapat korban manusia maka penanganan korban harus segera dikoordinasikan dengan pihak terkait. (Dinas Kesehatan)

• Forum HarimauKita dapat membantu mengelola informasi untuk disampaikan kepada Dit. KKH dengan cara melaporkan insiden konflik yang telah melalui verifikasi.

• Proses verifikasi lapangan ini perlu segera dilakukan sebelum tanda dan bukti kejadian konflik hilang disebabkan oleh faktor manusia maupun alami.

c. Penanganan awal

Informasi konflik yang valid dilanjutkan dengan tindakan penanganan awal (akan dijelaskan di dalam poin C pada bab III). Pada intinya penanganan awal ini adalah termasuk

a) Proses pengkondisian pada masyarakat serta mengamankan lokasi kejadian.

b) Mengambil sampel yang dapat dikoleksi, memantau data kamera penjebak.

c) Memastikan korban mendapat penanganan tepat. Manusia mendapat penanganan dari rumah sakit atau PUSKESMAS, sedangkan ternak mendapat penanganan dari PUSKESWAN.

d) Memastikan tidak ada pihak tertentu yang memasang racun pada hewan mangsa.

e) Melakukan patroli di area konflik.

Penanganan awal dan penanganan lanjut dipisahkan supaya tidak terjadi saling menunggu untuk melakukan respon. Penanganan awal tidak mewajibkan keberadaan dokter hewan dalam tim termasuk perlengkapan-perlengkapan yang lebih lengkap.

d. Penanganan lanjut

Penangangan lanjut adalah penanganan yang dilakukan tim untuk menanggulangi masalah yang terjadi. Penanganan lanjut sudah dapat berupa penghalauan maupun penangkapan apabila diperlukan. Apabila konflik masuk dalam kategori tingkat resiko sedang, maka penanganan lebih dititik-beratkan kepada penghalauan. Sedangkan apabila konflik masuk dalam kategori tingkat resiko tinggi maka penanganan lanjut perlu mempersiapkan diri untuk melakukan penangkapan. Informasi level penanganan ini diperoleh oleh SATGAS sebagai hasil dari proses verifikasi informasi dan data-data kejadian konflik sebelumnya di lokasi tersebut.

Proses penghalauan maupun penangkapan diputuskan dan oleh koordinator SATGAS Penanggulangan Konflik. Lebih detail mengenai proses penanganan lanjut ini dijelaskan pada bab III segmen D.

e. Penanganan paska konflik

Konflik dapat berakibat kepada penangkapan harimau. Kondisi harimau dapat beraneka ragam mulai dari sehat, sakit, cacat, kritis maupun mati. Pada dokumen bab IV, menyampaikan beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penanganan harimau paska konflik seperti translokasi, pelepasliaran dan euthanasia.

B. Perlengkapan Tim Satuan Tugas Penanggulangan