• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Konflik Manusia dan Harimau (KMH)

HARIMAU SUMATERA

A. Pengertian Konflik Manusia dan Harimau (KMH)

Menggunakan definisi konflik manusia dan satwa liar dalam Permenhut Nomor P.48/2008, yaitu segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial manusia, ekonomi, kebudayaan, dan pada konservasi satwa liar dan atau pada lingkungannya.

1. Tipologi konflik

Pada umumnya insiden KMH yang sering dihadapi oleh petugas atau tim penanggulangan konflik ini terjadi dengan bentuk/tipe kejadian sebagai berikut:

a. Harimau terdeteksi di areal penduduk

Harimau terdeteksi di sekitar pemukiman atau ladang, meskipun tidak ada konflik langsung namun menyebabkan ketakutan atau dianggap mengancam oleh masyarakat. Biasanya masyarakat akan mencoba menangkap atau membunuh harimau. Pada tipe ini, sebenarnya ancaman terhadap manusia masih rendah. Sebaliknya ancaman terhadap harimau lebih besar. Pada situasi ini, bisa saja situasi konflik berkembang menjadi tipe konflik kedua apabila tidak dilakukan penanganan dan pemahaman terhadap masyarakat.

b. Harimau menyerang ternak

Harimau memangsa hewan peliharaan atau ternak merupakan bentuk konflik yang paling umum di banyak negara termasuk di Pulau Sumatera.

Dapat menyebabkan hilangnya pendapatan dan kerugian bagi masyarakat, serta meningkatkan citra negatif terhadap harimau sehingga akhirnya dapat meningkatkan keinginan untuk membunuhnya. Sisa hewan yang dimangsa sering digunakan sebagai umpan untuk menangkap harimau, kemudian membunuh dan menjual bagian tubuh harimau tersebut.

c. Harimau menyerang manusia

Walaupun relatif jarang namun di beberapa tempat cukup sering terjadi.

Frekuensi serangan harimau yang terjadi dapat menyebabkan kuatnya respon negatif dari masyarakat bahkan pemerintah daerah setempat.

d. Perburuan harimau (murni atau dengan motif balas dendam)

Perburuan harimau dengan menggunakan alasan mencegah konflik. Di dalam masyarakat di sumatera terdapat pemburu-pemburu lokal yang jika mengetahui keberadaan harimau berkeliaran di pemukiman akan melakukan perburuan.

Sebagian masyarakat juga menggunakan alasan balas dendam akibat adanya ternak yang hilang meskipun sudah terjadi cukup lama. Sebagai contoh, terjadi kehilangan ternak setahun lalu, namun ketika terdapat informasi keberadaan harimau di sekitar pemukiman, maka masyarakat akan mengundang pemburu lokal untuk melenyapkan harimau tersebut.

Kondisi ini perlu diperhatikan oleh tim yang melakukan pemantauan lokasi- lokasi konflik karena informasi dan cerita yang disampaikan kadang kala bukan merupakan kejadian baru.

2. Tingkat resiko konflik (terhadap keselamatan manusia)

Insiden konflik tidak dapat ditangani dengan metode yang sama setiap kali terjadi.

Tatacara penanganan konflik disesuaikan dengan situasi konflik yang terjadi. Salah satu parameter dalam menentukan jenis tindakan antara lain yang juga tercantum di dalam Permenhut Nomor P.48/2008 tentang penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar adalah tingkat resiko konflik. Tingkat resiko konflik ini dikategorikan berdasarkan kerugian masyarakat, lokasi dan frekuensi kejadian.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan tingkat resiko konfik yakni:

a. Lokasi konflik di dalam dan di luar kawasan konservasi

Pada umumnya istiah KMH dianggap sebagai kejadian ganguan harimau terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat diluar kawasan konservasi, namun KMH dapat terjadi di dalam maupun di luar kawasan konservasi. Sebagai contoh konflik yang terjadi dialam kawasan konservasi adalah jika terjadi serangan terhadap pengunjung wisata sebuah kawasan, atau serangan harimau terhadap masyarakat yang terjadi pada zona/blok pemanfaatan dari kawasan.

Oleh karena itu, di dalam zona/blok yang memang diperbolehkan ada akses masyarakat harus dimonitor oleh pengelola kawasan dan terdapat mekanisme penyampaian informasi mengenai keberadaan harimau dari masyarakat yang memanfaatkan kawasan ini terhadap pengelola kawasan.

b. Kerugian akibat KMH sumatera bagi manusia dan harimau.

Konflik antara manusia dan harimau dapat dan berpotensi menimbulkan jatuhnya korban baik harimau maupun manusia. Apabila hal tersebut tidak dapat tertangani dengan baik juga berdampak pada persepsi atau respon masyarakat terhadap satwa liar dalam hal ini harimau selalu yang beresiko paling tinggi dieliminasi pertama kali.

Kerugian bagi manusia akibat KMH dapat berbentuk antara lain:

• Kerugian psikologis

Kerugian pada manusia akibat trauma setelah terjadinya konflik dengan harimau.

• Kerugian jiwa/fisik

Kerugian pada manusia berupa luka, cacat dan meninggal dunia akibat terjadinya konflik dengan harimau.

• Kerugian ekonomi

KMH juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi seperti terbunuhnya ternak, kerusakan sarana manusia dsb. Kerugian ekonomi dapat diminimalisir melalui pencegahan KMH.

Sedangkan kerugian bagi harimau akibat KMH antara lain harimau terluka, cacat, dan terbunuh. Pada beberapa kasus, kelangsungan hidup anak harimau menjadi terdampak atas terbunuhnya induk atau terpisah dari induk akibat penangkapan.

c. Frekuensi kejadian

Frekuensi kejadian (berulang atau tidaknya konflik) juga merupakan faktor yang dipertimbangkan, sebagai contoh, situasi konflik yang tidak terlalu berpotensi membahayakan jika terjadi berulang kali akan dapat berujung pada perburuan.

Tabel 2. Tabel tingkat konflik (sumber: Permenhut Nomor P.48/2008)

KORBAN

LOKASI

A.Kerugian Psikologis 1.Harimau

Muncul 2.Harimau Muncul Berulang dalam waktu >

1 minggu

B. Kerugian ekonomi 1. Korban ternak diluar

kandang

2. Korban ternak di luar kandang berulang- ulang

3. Korban ternak di dalam kandang 4. Korban ternak di

dalam kandang berulang

C. Kerugian Fisik/jiwa 1. Korban luka-luka 2. Korban luka-luka

(berulang) 3. Korban Meningal 4. Korban Meningal

Berulang

A1 A2 B1 B2 B3 B4 C1 C2 C3 C4

I. Kawasan Konservasi

Taman Nasional, Cagar Alam, SM, Tahura, HL

II. Kawasan Hutan Non Konservasi

Tanpa pengelolaan Ada Pengelolaan III. Areal

Penggunaan Lain

Perkebunan Ladang Pemukiman

rendah sedang tinggi

Penjelasan:

a. Resiko rendah adalah informasi keberadaan harimau di kawasan konservasi yang berdekatan dengan pemukiman atau harimau terdeteksi masuk ke wilayah pemukiman namun tidak berulang.

b. Resiko sedang adalah kejadian konflik yang menimbulkan kerugian ekonomi seperti kehilangan ternak secara berulang atau kemunculan harimau yang dinilai cukup sering sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat untuk bisa bekerja dengan tenang.

c. Resiko tinggi adalah kejadian konflik yang mempunyai potensi sangat mengancam keselamatan manusia apabila tidak dilakukan langkah-langkah penanganan. Mengingat potensi dan resikonya, SATGAS penanggulangan KMH segera menurunkan tim lokasi konflik untuk segera melakukan penanggulangan.

3. Faktor-faktor pemicu KMH

Tidak sepenuhnya disadari dan dipahami bahwa selain perilaku harimau, kegiatan manusia juga memerikan andil terjadinya KMH. Dibawah ini berbagai kondisi yang berhubungan dengan KMH.

a) Konversi hutan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan jaringan jalan telah mempersempit habitat yang dapat dihuni oleh harimau.

b) Perilaku harimau induk beranak kadangkala berada di pinggiran hutan untuk menghindari infanticide dari penjantan.

c) Populasi harimau yang tinggi, terjadi penyebaran populasi harimau hingga keluar wilayah hutan.

d) Perburuan satwa mangsa. Penurunan populasi satwa mangsa menyebabkan harimau memperluas daerah jelajah agar bisa mencukupi kebutuhan makanan.

Ternak menjadi salah satu alternatif bagi harimau.

Grafik 1. Jenis ternak yang paling sering dimangsa oleh harimau. Kambing merupakan jenis yang sering menjadi korban, diikuti sapi. (Erlinda C. Kartika, data KLHK).

e) Perburuan harimau. Anak remaja harimau yang kehilangan induk karena perburuan dapat masuk ke wilayah pemukiman. Sebagian harimau meski terjerat, masih ada yang dapat bertahan hidup sebagai cacat permanen.

f) Harimau tua atau harimau cacat. Pilihan jenis satwa mangsa adalah yang lebih mudah diburu termasuk ternak.

g) Harimau sakit dapat mengalami perubahan perilaku dan menjadi sering terlihat di pinggiran hutan atau pemukiman.

h) Perilaku masyarakat yang tidak mengkandangkan ternak dengan cara yang benar. Jumlah ternak yang banyak dan dibiarkan tanpa pengawasan.

i) Bepergian sendirian di wilayah yang dihuni harimau dapat berakibat fatal.

j) Masyarakat belum mengetahui bagaimana melakukan pencegahan terjadinya KMH.

Berbagai kondisi diatas dapat saling terkait satu sama lain dan menimbulkan kecenderungan terjadinya konflik.

B. Prinsip - Prinsip Penanggulangan Konflik Antara