SUMATERA
D. Penanganan Lanjut
2. Penangkapan untuk translokasi
memberikan kesempatan kepada harimau yang masih akan kembali mendatangi mangsa untuk menghabiskannya.
g) Pada setiap siang hari, tim melakukan survei kecil untuk melihat apakah menemukan adanya tanda-tanda keberadaan harimau yang masih baru. Jika masih ada, maka kegiatan penghalauan ini dapat diperpanjang.
harimau tersebut untuk menghindari serangan terhadap manusia lainnya di masa datang, dengan catatan berbagai upaya pencegahan terlah dilakukan.
Harimau yang mempertahankan diri atau melindungi anak, harimau biasanya memberitahukan keberadaannya dengan mengaum sebelum menyerang.
Serangan bisa dilakukan dari segala arah dan harimau menujukkan tanda-tanda akan menyerang. Pada kasus seperti ini biasanya harimau tidak memakan korbannya. Jika yang terjadi adalah serangan untuk mempertahankan diri, maka perlu dikaji dan dianalisis lebih lanjut apa yang dipertahankannya dan mengapa serangan tersebut terjadi. Perlu dipertimbangkan untuk membiarkan (tidak menangkap) harimau tersebut.
4. Terhadap harimau yang memangsa hewan peliharaan, perlu dipertimbangkan hal-hal pada bagian berikut, sebelum menentukan apakah harimau tersebut akan dihalau atau perlu ditangkap.
a. Lokasi terjadinya konflik
i. Memasuki perkampungan merupakan tindakan yang tidak biasa bagi harimau, dan hal ini bisa saja dipicu oleh kelaparan atau mungkin karena harimau cedera, sakit, sehingga harimau tersebut cenderung terkesan tidak menghindari manusia. Jika harimau yang sehat berulang kali memasuki kampung dan memangsa hewan ternak, maka setelah dilakukan berbagai upaya pencegahan agar tidak terjadi pemangsaan kembali, dapat juga dipertimbangkan untuk menangkap harimau tersebut. Jika yang menyerang adalah harimau yang cedera atau sakit, mungkin saja dapat dilakukan penangkapan dan rehabilitasi, kemudian dilepaskan kembali ke alam.
ii. Jika konflik terjadi di bagian tengah hutan atau kawasan hutan (selain zona tradisional dan zona pemanfaatan), maka harimau harus dibiarkan tetap di alam dan tindakan yang perlu dilakukan adalah mengajak masyarakat untuk tidak beraktifitas atau menggembalakan ternaknya di dalam hutan.
b. Praktek beternak hewan
Tidak perlu melakukan tindakan tertentu terhadap harimau yang menyerang ternak, kecuali praktik pengelolaan hewan ternak masyarakat telah dilakukan secara benar namun serangan harimau masih berlanjut.
c. Membuktikan harimau yang ditangkap adalah penyebab konflik
Metoda untuk mengidentifikasi harimau yang tertangkap dapat dengan membandingkan foto-foto yang didapat dari kamera penjebak yang dipasang di sekitar lokasi konflik, sampel DNA, serta kotoran harimau yang mengandung sisa hewan ternak atau sisa tubuh manusia yang dimangsanya. Sebagai tambahan, dapat juga diukur tapaknya, diambil sampel sisa-sisa yang ada pada cakar/kuku, namun hal ini membutuhkan bantuan laboratorium forensik untuk analisisnya. Terakhir, lokasi tempat penangkapan mungkin bisa menyediakan informasi yang cukup untuk menyimpulkan apakah harimau yang tertangkap adalah individu yang berkonflik, misalnya lokasi penangkapan sangat dekat dengan lokasi penggembalaan atau di tengah perkampungan.
d. Jenis kelamin harimau
Mengingat individu betina lebih penting untuk menjaga viabilitas populasi dibandingkan jantan, maka lebih banyak upaya harus dilakukan untuk menjaga betina agar tetap bisa dibiarkan di alam.
e. Umur harimau
i. Anak (umur kurang dari satu tahun). Dampak perburuan harimau sering menyisakan individu anak tanpa induk. Hal ini berpotensi terjadinya benturan dengan manusia. Pada harimau Siberia di Rusia, anak harimau tanpa induk yang berumur lebih dari tujuh bulan terbukti bisa tetap bertahan hidup di alam apabila tersedia cukup hewan mangsa, dan oleh sebab itu anak harimau seperti itu sebaiknya dibiarkan tetap di alam.
ii. Harimau muda (umur 1 – 3 tahun). Pada usia ini, harimau memiliki kemampuan yang lebih baik dalam beradaptasi dan ditranslokasikan karena harimau muda cenderung untuk memencar atau keluar dari daerah jelajah induknya, karenanya mereka merupakan kandidat yang baik untuk ditranslokasikan.
Harimau-harimau muda sepertinya bukan anggota populasi untuk berbiak, sehingga jika dipindahkan ke tempat lain dampaknya akan kecil terhadap viabilitas populasi asalnya.
iii. Umur sedang (3-11 tahun). Harimau pada umur ini cenderung untuk menetap, dan merupakan individu dewasa yang berbiak. Translokasi tidak direkomendasikan karena mereka cenderung akan kembali ke tempat asalnya, dan mungkin akan menyebabkan gangguan yang besar pada proses reproduksi di areal pelepasliaran. Selain itu, pemindahan (translokasi/
relokasi) pada individu dewasa yang berbiak dapat memberikan pengaruh negatif pada populasi sumber tempat dimana harimau tersebut ditangkap.
Terlebih lagi, harimau yang baru sepertinya akan mengisi lokasi yang sudah dihuni, dan dapat menyebabkan masalah yang sama. Karenanya, kecuali harimau tersebut cedera parah atau sakit, atau satwa tersebut memang harus dilepaskan dilokasi tersebut, sehingga upaya yang perlu dilakukan adalah mencegah agar pemangsaan tidak terjadi di masa datang.
iv. Harimau yang sangat tua (lebih dari 12 tahun). Pada usia ini harimau telah mendekati masa akhir dari usia reproduktif dan mempunyai nilai yang relatif rendah dalam viabilitas populasi. Masalah kesehatan yang terkait dengan usia mungkin merupakan penyebab terjadinya konflik. Harimau-harimau pada usia ini tidak direkomendasikan untuk dilepaskan kembali ke alam.
f. Kesehatan
i. Harimau cedera/cacat yang tidak bisa disembuhkan tanpa meninggalkan kerusakan permanen akan kehilangan kemampuannya untuk menangkap mangsa, maka dapat dipertimbangkan untuk dipindahkan atau ditangkap.
ii. Jika harimau yang cedera bisa diobati dan disembuhkan, atau jika harimau tersebut terlalu kurus, sangat mungkin untuk merehabilitasi mereka dahulu dan kemudian memindahkan atau melepaskannya kembali sedapat mungkin di sekitar lokasi penangkapan.
iii. Harimau yang terdiagnosa mempunyai penyakit yang serius seperti distemper anjing (canine distemper) sebaiknya ditangani dengan lebih berhati-hati.
g. Apakah harimau tersebut mempunyai anak?
Pada kasus khusus jika seseorang diserang harimau, maka satu hal yang perlu ditentukan adalah apakah harimau tersebut mempunyai anak atau tidak. Induk harimau yang sedang mempunyai anak cenderung agresif dan melindungi anaknya, serta kadang-kadang dapat membunuh orang yang berada terlalu dekat. Jika induk tersebut dipindahkan, maka anaknya bisa saja mati atau bisa menyebabkan konflik pada saat mereka mulai mengalami kelaparan.
Pemberian makanan tambahan berupa mangsa alami mungkin perlu dilakukan.
Jika harimau yang ditangkap tidak layak untuk dilepas-liarkan kembali, maka upaya lain yang dapat dipertimbangkan adalah menangkap anaknya. Anak yang berumur 6-7 bulan jika mulai kelaparan telah bisa menimbulkan konflik.
h. Sejarah penggunaan lahan
Wilayah dengan aktivitas pembukaan lahan dan perluasan lahan pertanian ke dalam hutan cenderung memicu konflik. Jika memungkinkan, situasi seperti ini perlu dihindari, namun jika terjadi pembukaan lahan secara tidak sah maka harus ditertibkan.
i. Ketersedian mangsa
Jika kepadatan hewan mangsa menurun drastis dalam waktu yang singkat (1-2 tahun), harimau diprediksikan akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan hewan mangsa didalam area jelajahnya. Hal ini dapat mendorong harimau untuk memperluas wilayah jelajah dan jika mendapati pemukiman maka dapat berpotensi memangsa hewan peliharaan yang tidak terkandangkan atau bahkan menyerang manusia. Jika harimau yang ditangkap dalam kondisi sehat, maka pertimbangkan untuk melakukan translokasi sebagai solusi jangka pendek, dan melakukan upaya untuk meningkatkan kepadatan hewan mangsa untuk menghindari masalah yang sama di masa mendatang. Meskipun data lengkap tentang potensi keberadaan hewan mangsa yang rinci sangat jarang tersedia, namun seorang ahli biologi lapangan mungkin dapat membantu memberikan gambaran kasar tentang ukuran populasi relatif hewan mangsa (tinggi, rendah, atau sangat rendah) dalam waktu yang singkat.
j. Ketersedian fasilitas penanganan (holding facilities) untuk rehabilitasi Harimau cedera atau sakit yang tertangkap perlu diupayakan untuk direhabilitasi dan dilepaskan kembali. Untuk itu perlu adanya satu fasilitas untuk upaya rehabilitasi tersebut. Fasilitas tersebut tentunya harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai, serta dokter hewan yang mampu melakukan perawatan dan pemulihan kondisi harimau sehingga dapat dilepasliarkan kembali.
k. Harimau akan dikemanakan setelah ditangkap
Pengambilan keputusan untuk menentukan apakah harimau yang tertangkap akan dilepasliarkan kembali, ditranslokasikan, ataupun di-eutanasia, harus
melibatkan orang-orang yang berkompeten, seperti dokter hewan, ahli biologi, serta ahli ekologi dan perilaku harimau. Pada bab IV akan dijelaskan model dalam menentukan kemana harimau harus ditampung setelah ditangkap.
l. Teknik penangkapan
Teknik penangkapan harimau konfliktelah diatur dalam Permenhut nomor P.48/
Menhut-II/2008. Kandang penangkapan sebaiknya berbentuk perangkap box- trap, dan dianjurkan pintu masuk berada di samping perangkap. Selain itu, pada bagian pintu sebaiknya masih menyisakan ruang yang terbuka, sehingga pada saat pintu menutup tidak menyebabkan terjepit/terputusnya bagian ekor.
Penggunaan perangkap boks dapat mengurangi stress pada harimau, dan juga menghindari adanya gangguan dari masyarakat yang biasa berkerumun di sekitar perangkap.