• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMATERA

C. Penanganan Awal

Tim penanganan awal yang terdiri dari tim yang lebih memiliki kemampuan untuk melakukan survei cepat dan juga memilki pemahaman biologi dan ekologi harimau segera ditutunkan. Sebelum tim tersebut sampai, kegiatan koordinasi dengan perangkat desa dan juga dengan MUSPIKA dapat dilakukan oleh tim verifikasi.

Dalam melakukan penanganan awal ini, beberapa hal dapat dilakukan antara lain:

1. Penanganan terhadap masyarakat

Sebagaimana dijelaskan dalam prinsip penanggulangan konflik bahwa manusia dan harimau adalah sama penting, maka penanganan tidak dapat menitikberatkan kepada salah satu kepentingan.

• Pendataan kerugian

Kerugian akibat serangan harimau terhadap ternak perlu didokumentasi dan diverifikasi. Verifikasi terhadap ternak-ternak korban konflik harus dilakukan sebagai langkah antisipasi adanya unsur ketidakakuratan informasi dalam melaporkan kejadian kematian ternak yang sebenarnya bukan akibat serangan harimau.

• Mekanisme kompensasi telah disebutkan didalam dokumen Permenhut Nomor P.48/2008 sebagai berikut:

a. Kompensasi diatur sesuai dengan pasal-pasal yang terdapat dalam pedoman penanggulangan konflik manusia-satwa liar.

b. Pemberian kompensasi diberikan setelah dilakukan verifikasi oleh tim penanggulangan konflik untuk membuktikan keabsahan kejadian tersebut merupakan akibat dari konflik dengan harimau sumatera dan disetujui oleh Ketua SATGAS penanggulangan konflik.

c. Kejadian-kejadian yang mendapatkan kompensasi adalah:

c.1. Korban luka/meninggal akibat serangan harimau sumatera di dalam kawasan konservasi/kawasan hutan lainnya dengan aktivitas yang legal diberikan santunan pengobatan/pemakaman.

Kandang transport dibutuhkan saat memindahkan harimau dari satu lokasi ke lokasi lainnya, dengan memindahkan terlebih dahulu harimau dari perangkap ke kandang transport. Hal ini untuk memudahkan pengangkutan dan mengurangi resiko harimau terluka. Alat transportasi juga menyesuaikan medan, namun perlu mempertimbangkan aspek keselamatan baik untuk tim yang terlibat maupun untuk harimau yang diangkut.

c.2. Korban luka/meninggal akibat serangan harimau di perkebunan, perladangan, pemukiman mendapatkan santunan biaya pengobatan/

pemakaman.

• Sosialisasi:

Jika setelah informasi diterima serta setelah dilakukan pemantauan, menunjukkan bahwa lokasi terjadinya konflik berada jauh di bagian dalam hutan, maka bentuk solusi yang ditawarkan dapat berupa ajakan kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu jauh ke dalam hutan. Jika memang harus melakukan kegiatan jauh ke dalam hutan, maka sebaiknya:

a. Melengkapi diri dengan kemampuan mengetahui tanda-tanda kehadiran harimau.

b. Menghindari waktu dan daerah aktivitas harimau, tidak beraktivitas di dalam dan pinggir hutan setelah lewat senja.

c. Melengkapi diri dengan alat pengusir harimau d. Berjalan dan bekerja secara berombongan.

• Kegiatan berkebun di sekitar lokasi konflik diusahakan dilakukan secara berkelompok. Dalam situasi berkelompok maka akan mengurangi resiko terjadi serangan terhadap manusia.

2. Melakukan pemantauan dan pengambilan sampel

a. Kamera penjebak. Pemasangan kamera penjebak untuk melakukan identifikasi individu harimau konflik, hal ini harus dilakukan untuk mengetahui apabila terjadi pengulangan konflik di masa mendatang atau apakah harimau ini sebelumnya pernah terlibat dalam konflik yang sama. Kamera penjebak dapat memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk penanggulangan konflik, seperti pengenalan individu harimau yang terlibat apakah satu individu atau lebih, jenis kelamin, perkiraan umur, apakah kondisi harimau terluka, cedera, sakit, mal- nutrisi atau kurus. Foto yang dihasilkan juga dapat dijadikan pembanding apabila dilakukan penangkapan, sehingga tidak menangkap harimau lain yang tidak terlibat konflik. Penempatan kamera penjebak harus diupayakan semaksimal mungkin untuk bisa memotret satwa yang menyebabkan konflik. Penentuan lokasi pemasangan kamera penjebak dilakukan oleh anggota tim yang mampu memprediksi lokasi yang didatangi harimau dan juga hasil informasi wawancara dari masyarakat. Data kamera penjebak perlu diambil setiap hari atau 2 hari sekali untuk mengetahui keberadaan harimau konflik dan kondisi harimau tersebut (apakah sakit, sehat, beranak atau hal-hal lain yang dapat terekam di dalam kamera penjebak)

b. Pengambilan sampel genetik. Di lokasi konflik sangat memungkinkan menemukan sampel kotoran harimau, sampel rambut harimau atau sampel- sampel lain. Tim awal perlu mengambil dan menyimpan sampel secara benar.

c. Pendataan jumlah korban ternak ataupun jenis-jenis korban lainnya, diperlukan pengecekan jumlah korban untuk memastikan kebenaran informasi awal. Tim

juga melakukan pencatatatan kronologis kejadian berdasar dari beberapa orang yang mengalami atau menyaksikan kejadian konflik tersebut.

3. Pengamanan lokasi kejadian konflik dari gangguan akibat aktivitas masyarakat

Saat terjadi konflik, keselamatan manusia dan harimau adalah yang utama sehingga untuk meminimalkan terjadinya korban di kedua belah pihak. Adapun beberapa pengamanan yang dilakukan antara lain:

Pengamanan untuk manusia:

• Memberikan pendampingan dan pengawasan terhadap masyarakat di dalam maupun sekitar radius konflik

• Berkoordinasi dengan berbagai pihak yang dapat berkontribusi seperti tokoh masyarakat, perangkat desa dan aparat keamanan.

• Mengamankan harta (ternak atau peliharaan) dari kemungkinan diserang oleh harimau.

• Mengamankan kawasan pemukiman dan aktivitas manusia lainnya dari kemungkinan serangan harimau.

• Mensiagakan sarana dan prasarana penanganan konflik

• Memberikan sosialisasi dan himbauan yang kuat selain lisan juga berupa pemasangan peralatan sosialisasi seperti papan informasi, poster dan sebagainya.

• Membatasi pergerakan manusia terutama di dalam radius kawasan konflik Untuk harimau:

• Melakukan pengawasan dan pendeteksian pergerakan harimau secara rutin.

• Menyusun strategi yang tepat: pemantauan, penghalauan dan penangkapan.

4. Pengamanan dan penanganan masyarakat korban akibat konflik Apabila konflik menimbulkan korban jiwa maupun luka, perlu strategi penanganan agar masyarakat dan para pihak lain tidak mengambil keputusan tergesa-gesa seperti menembak mati harimau. Pengamanan dan penanganan masyarakat korban akibat konflik memerlukan peran dari banyak pihak. Adapun beberapa tindakan yang perlu dilakukan dalam hal tersebut antara lain:

• Pengamanan dan penanganan korban baik meninggal maupun luka, juga merupakan bagian dari skema kompensasi.

• Penenangan keluarga korban

• Pengamanan dan penanganan massa

• Tetap melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap masyarakat di dalam maupun sekitar radius konflik selama konflik masih dan berpotensi terjadi.

5. Pengamanan barang dan alat bukti, (jejak, kotoran rambut, jerat, foto, korban, dan lain-lain)

Penanganan Satwa Mati

Bangkai harimau dan bagian-bagian tubuhnya paska tindakan mematikan (eutanasia) ataupun harimau mati akibat konflik, apabila masih memungkinkan untuk sementara diamankan dengan tindakan pengawetan di Balai Besar/Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau Balai Besar/Balai Taman Nasional sambil menunggu pengaturan lebih lanjut dari Direktorat Jenderal KSDAE.

Apabila terjadi pelanggaran hukum dalam respon terhadap harimau bermasalah, harus ditindaklanjuti dengan proses hukum sesuai dengan peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Selanjutnya dibuat Berita Acara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.