Buku Saduran Bidang pertanian
PENGOMPOSAN JERAMI
SITI MASITA FACHRIE, S.TP
NIP. 19960718 202012 2 002
UPT WILAYAH MALAKAJI
DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA KABUPATEN GOWA
2023
I. PENDAHULUAN
Peluang penggunaan bahan organik (kompos) untuk perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah cukup prospektif, terutama pada daerah-daerah dimana bahan organik cukup banyak tersedia. Hal ini terkait dengan semakin mahalnya harga pupuk buatan disamping karena kerusakan tanah akibat diolah dan diusahakan secara terus menerus.
Dalam proses pengomposan jerami peranan mikroba selulolitik dan lignolitik sangat penting, karena kedua mikroba tersebut memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan bahan yang mengandung karbon. Pembuatan kompos jerami dapat dilakukan dengan dua cara: (1) ditumpuk dan dibalik dan (2) ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalik. Untuk mempercepat proses dekomposisinya dapat digunakan dekomposer.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa untuk mendapatkan kompos matang diperlukan waktu 19 hari, yaitu pada jerami yang dicacah dan diberikan dekomposer serta dibuat ventilasi ketika proses pengomposan.
Dahulu, pada waktu panen padi menggunakan ani-ani, maka yang dimaksud dengan jerami adalah limbah pertanian mulai dari bagian bawah tanaman padi sampai dengan tangkai malai. Namun saat ini setelah panen dengan digebot menggunakan arit bergerigi, maka yang dimaksud dengan jerami adalah bagian tanaman padi setelah dibabat dengan arit bergerigi setinggi 15-30 cm dari tanah sampai tangkai malai setelah gabahnya dirontok. Namun demikian, di negara-negara maju yang menggunakan mesin pemanen (harvester) jerami padi dibabat di atas tanah.
Di Indonesia sebagai negara penghasil beras di Asia, sudah barang tentu jerami sebagai limbah pertanian keberadaannya sangat melimpah. Seperti kita ketahui padi dapat ditanam di lahan sawah dan lahan kering. Luas panen padi sawah di Indonesia adalah 10,79 juta ha, dengan rata-rata hasil 4,74 /ha dan luas panen padi gogo 1,12 juta ha dengan hasil rata-rata 2,58 t/ha (BPS, 2005). Dengan rasio berat gabah jerami 2/3 (Cosico, 1985), maka jerami yang diperoleh dari kedua lahan tersebut berjumlah 80 juta ton, suatu sumber bahan organik yang tidak sedikit jumlahnya.
Jerami padi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan limbah yang lain, misalnya ketebon jagung, daun ubi jalar, daun tebu, rending kacang-tanah, dan
biomas kedelai (Raharjo et al., 1981). Dengan demikian jerami sangat baik digunakan sebagai sumber hara atau pupuk organik. Bahan organik ini merupakan penyangga dan berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Tanah yang miskin bahan organik juga akan berkurang kemampuan daya menyangga pupuk anorganik sehingga efisiensi pemupukan menurun karena sebagian besar pupuk akan hilang melalui pencucian, fiksasi atau penguapan dan sebagai akibatnya produktivitas menurun.
Mengingat harga pupuk buatan yang semakin mahal dan kerusakan tanah akibat diolah dan diusahakan secara terus menerus, maka peluang penggunaan bahan organik sangat besar, apalagi pada daerah-daerah tertentu bahan organik banyak tersedia. Manfaat penggunaan bahan organik untuk tanaman padi sawah telah banyak diteliti. Pemberian bahan organik pada lahan sawah dapat memperbaiki sifat fisik tanah seperti pembentukan agregat atau granulasi tanah serta meningkatkan permiabilitas dan porositas tanah. Karena itu, peningkatan produktivitas padi perlu dipacu dengan penambahan bahan organik seperti kompos jerami maupun pupuk kandang, dan sisa panen lainnya; dengan maksud mempertahankan/ meningkatkan kesuburan tanah.
Dalam suatu evaluasi litkaji Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), pemberian kompos jerami mempunyai pengaruh positif terhadap hasil, diperkirakan peningkatan hasil gabah sebesar 300 kg per ton kompos yang diberikan pada padi sawah irigasi.
Disamping itu, petani-petani PTT yang memberikan bahan organik tanah dalam jumlah yang relatif tinggi dapat mengurangi pemakaian urea dan KCl dalam pemupukan (Makarim, 2005).
1. PROSES PENGOMPOSAN
Secara umum kandungan nutrisi hara dalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik yang telah dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dalam bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam kondisi aerob maupun anaerob.
Pengomposan merupakan proses biologis yang kecepatan prosesnya berbanding lurus dengan kecepatan aktivitas mikroba dalam mendekomposisi limbah organik.
Sedangkan kecepatan aktivitas mikroba sangat tergantung pada faktor lingkungan yang mendukung kehidupannya. Jika kondisi lingkungan semakin mendekati kondisi optimum yang dibutuhkan oleh mikroba maka aktivitas mikroba semakin tinggi sehingga proses pengomposan semakin cepat. Begitu pula sebaliknya apabila kondisi lingkungan semain jauh dari kondisi optimumnya maka kecepatan proses dekomposisi semakin lambat atau bahkan berhenti sama sekali. Oleh karena itu faktor lingkungan pendukung kehidupan mikroba merupakan kunci keberhasilan proses pengomposan. Faktor-faktor lingkungan yang dimasud antara lain: kadar air, aerasi, pH dan rasio C/N.
Menurut Wahyono, Firman dan Frank (2003), kadar air yang ideal pada limbah padat yang dikomposkan adalah antara 50-60% dengan nilai optimum 55%. Pada proses pengomosan, rasio C/N yang ideal antara 20-40 dengan kondisi terbaik
30. Setelah proses pengomposan selesai, rasio C/N antara 10-20. Derajat keasaman (pH) sebaiknya dipertahankan untuk tidak melewati 8,5. Namun demikian selama proses pengomposan akan menyebabkan tingkat kemasaman mendekati netral, yaitu antara pH 6-8,5.
Dalam proses pengomposan jerami peranan mikroba selulolitik dan lignolitik sangat penting, karena kedua mikroba tersebut memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan bahan yang mengandung karbon. Proses pengomposan secara aerob, lebih cepat dibanding anaerob dan waktu yang diperlukan tergantung beberapa faktor, antara lain: ukuran partikel bahan kompos, C/N rasio bahan kompos, keberadaan udara (keadaan aerobik), dan kelembaban. Kompos yang sudah matang diindikasikan oleh suhu yang konstan, pH alkalis, C/N rasio <20, Kapasitas Tukar Kation > 60 me/100 g abu, dan laju respirasi <10 mg/g kompos. Sedangkan indikator
yang dapat diamati secara langsung adalah jika berwarna coklat tua (gelap) dan tidak berbau busuk (berbau tanah).
II. CARA PEMBUATAN KOMPOS
Pembuatan kompos jerami dapat dilakukan dengan dua cara: (1) ditumpuk dan dibalikkan dan (2) ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalikkan Kemudian untuk mempercepat proses dekomposisinya dapat digunakan dekomposer.
2.1. Pengomposan jerami dengan metode tumpukan dan pembalikan.
Bahan yang berupa jerami (lebih yang masih segar atau jika sudah kering dilembabkan sampai k.a ±60%) ditaruh dalam bedengan secara berlapis, tiap lapis dengan ketinggian ±30 cm, kemudian ditaburi dengan atau disiram larutan dekomposer. Tumpukan jerami dibuat berlapis-lapis hingga ketinggian 1-1,5 m.
Jerami dalam bedengan ditutup rapat dengan terpal dan setiap minggu dilakukan pembalikan. Apabila terlalu kering tumpukan jerami dibasahi dengan air. Jika memungkinkan lebih baik pembuatan kompos dilakukan ditempat yang teduh.
Setelah 3 minggu, kompos biasanya sudah matang yang ditandai dengan temperatur sudah konstan 40-50oC, remah, warna coklat kehitaman. Dari satu ton jerami diperoleh kompos jerami sejumlah ± 300 kg dengan kualitas sebagai berikut: C- organik >12 %, C/N ratio 15-25%, kadar air 40-50 %, dan warna coklat muda kehitaman.
2.2. Pengomposan jerami dengan metode ventilasi tanpa pembalikan.
Jerami segar digiling hingga berukuran 1-3 cm. Hasil gilingan jerami ditumpuk dalam lapisan setinggi 20 cm, lebar 1 m dan panjang 1 m untuk membentuk tumpukan kompos 1 x 1 x 1 m3 (panjang x lebar x tinggi) dengan
volume bahan kompos sekitar 1 m3 (~500 kg). Untuk menghindari jatuhnya tumpukan maka dibuatkan pagar bambu berukuran 1 x 1 x 1 m.
Teknik aerasi pengomposan dengan cara ventilasi dibuat dengan cara menempatkan sarang bambu di dasar tumpukan jerami (kurang lebih 30 cm di atas permukaan tanah) agar aerasi bisa terjadi dari bawah menuju ke atas tumpukan.
Teknik aerasi yang lain dapat dilakukan dengan cara membuat lubang-lubang pada tumpukan jerami secara horinzontal menggunakan bambu atau paralon yang diberi lubang-lubang keberbagai arah tumpukan jerami.
Jerami ditumpuk secara longgar (jangan dipadatkan) untuk memperoleh aerasi yang baik. Kemudian tambahkan dekomposer secara merata di atas tumpukan tersebut. Setelah itu tumpukkan lagi jerami yang telah digiling di atas tumpukan tersebut setinggi 20 cm, dan basahi dengan air secara merata serta diinokulasi dengan mikroba yang berasal dari dekomposer. Demikian seterusnya sampai hingga ketinggian tumpukan sekitar 1 m.
Kompos ditutup dengan lembaran terpal/plastik untuk mempertahankan kelembaban dan meminimalkan evaporasi maupun kehilangan amonia. Kompos akan meningkat panasnya dalam waktu 24-48 jam dan panas ini perlu dipertahankan pada suhu sekitar 50oC atau lebih, dan tidak dilakukan pembalikan.
Kompos yang sudah matang ditandai dengan temperatur yang sudah konstan 40-50oC, remah dan berwarna coklat kehitaman. Kompos yang didapat sejumlah ± 500 kg, dengan kualitas sebagai berikut: C-organik >12%, C/N ratio 15- 25 %, kadar air 40-50%, warna coklat muda kehitaman.
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2005. Statistik Indonesia 2004. Badan Pusat Statistik, Jakarta-Indoneia. P : 168- 177
Cosico, W. C., 1985. Organic fertilizer. Their Natur, Persepective and Used. Farming System and Soil Resource Institu. UPLB Laguna. Philippines. 136 p.
Dobermann A, T Fairhurst. 2000. Rice: Nutrient Disorders & Nutrient Management.
International Rice Research Institute, MCPO Box 3127, Makati, Philippines.191p.
Makarim, A. K, D. Pasaribu, Z. Zaini dan I. Las. 2005. Analisis dan Sintesis Pengem-bangan Model Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah. Balai Penelitian Tanaman Padi, 18 p.
Rahardjo, A., L.P.S. Patuan., Sulistioningsih, Heru Prijanto, Cecilia Gunawan and Ig.
Suharto, 1981. Preliminary study of potency of agricultural waste and agro indutrial waste as animal feedstuf. Proc. Ist ASEAN Workshop on Technology of Animal Feed Production Utilising Food Waste Material. Bandung. Agust 24- 29. 1980
Wahyono, S., L.S. Firman dan S. Framk. 2003. Pembuatan kompos dari limbah rumah pemotongan hewan. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan.
BPPT. Jakarta. 38p.