• Tidak ada hasil yang ditemukan

CERPEN 5000 KATA "Semua Bukan Hanya Tentang Diriku"

N/A
N/A
as'ad nurma'arif

Academic year: 2024

Membagikan "CERPEN 5000 KATA "Semua Bukan Hanya Tentang Diriku""

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Semua Bukan Hanya Tentang Diriku

Nala, itulah namaku. Aku terlahir di keluarga yang sanggatlah sederhana, hidup apa adanya merupakan kebiasaanku sedari kecil. Ayahku adalah seorang dosen hebat, dedikasinya terhadap kampus sanggatlah besar, banyak sekali prestasi yang berikan kepada kampus. Namun, saat aku berumur tujuh tahun ayahku meninggalkan keluarga kecil ini karna kecelakaan maut yang menewaskan banyak orang. Mamahku sekarang menjadi satu satunya penopang untuk aku dan adik perempuanku, ia memiliki bisnis roti rumahan. Saat aku masih di bangku SMA aku senang sekali membantu mamahku di dapur, dan sekalian aku menjualkannya ke teman-temanku di sekolah. Selisih umurku dan adikku sanggatlah jauh, sekitar 6 tahun lamanya.

Sekarang aku duduk di bangku kuliah semester akhir, alhamdulillahnya aku masuk kampus impian para pelajar di Indonesia yang terkenal akan tekniknya, apalagi kalau bukan ITB.

Puji syukur aku mendapat beasiswa saat itu. Mamahku menjual rumah di Jakarta saat itu dan membeli rumah yang sederhana di Bandung yang bisa ia jadikan toko roti tempat dia berjualan, tujuan kami pindah agar lebih hemat biaya kos dan makanku, sekalian mau ganti suasana juga sih. Adiku kini bersekolah di salah satu SMA Negri di Bandung, ia sekarang yang menggantikanku membantu mamahku. Sayangnya saat ini bisnis mamahku sedang relatif sepi, banyaknya pesaing membuat bisnis mamahku tertutup dengan merek-merek yang sudah besar.

Pagi ini hari Sabtu, hari yang cerah seperti biasanya. Alarm membangunkanku, aku bergegas merapikan tempat tidur lalu mandi. Saat sedang memakai baju suara mamahku memanggilku untuk segera sarapan bersama, momen bersama inilah yang kadang menjadi hal yang paling aku suka sekaligus aku benci. Aku suka keluargaku masih bisa berkumpul bersama bercanda tawa riang gembira, namun aku benci ayahku pergi meninggalkanku lebih dulu sehingga ayah tak bisa berkumpul bersama kami lagi. Setelah sarapan aku bergegas bersiap untuk menemui dosenku, walaupun Weekend aku harus tetap berangkat untuk bimbingan tugas akhir yang sangat ditakuti para mahasiswa, ya apalagi kalau bukan skripsi.

Aku bergegas berangkat ke kampus dengan Ojol untuk mempersingkat waktu tentunya, dari pada menggunakan kendaraan umum yang harus menunggu kedatangannya ditambah lagi kita harus berdesakan dengan orang lain yang tak kita kenal. Singkat cerita aku sampai di depan pintu gerbang kampus tercintaku, aku pun membayar tumpanganku tadi, tiba-tiba air hujan jatuh dengan kencangnya, aku pun masuk ke kampus dan berteduh. Saat posisiku sudah tak terkena air hujan aku membuka ponselku

“Nala, maaf bapa tidak bisa ke kampus hari ini. Anak bapa di rumah sedang sakit” pesan dosen.

“Iya bapa, tidak apa-apa. Lagian saya juga belum berangkat ke sana karna hujan” jawabku seraya berbohong.

“Syukur kalau begitu” ujarnya.

Aku berlari ke arah halte bus di depan kampusku, hujan pun ku terjang. Aku duduk di halte itu dengan kondisi yang sedikit basah dengan sedikit rasa kecewa. Tiba- tiba datang seorang pria yang tak aku kenal namun wajahnya tak asing bagi ku, pria itu duduk di sebelahku dengan jarak yang bisa dibilang dekat namun tak terlalu dekat. Saat itu entah apa yang aku rasakan, perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, rasanya aneh tetapi aku mencoba menghiraukannya.

Bus pun datang, kebetulan sekali hanya ada 2 kursi kosong di bus itu aku dan dia pun terpaksa duduk bersebelahan. Saat ingin duduk

“Kalian cocok banget deh” ujar ibu-ibu sebelahku.

Suasana pun menjadi canggung, aku dan dia tak mengobrol sama sekali. Bus telah sampai di tujuanku, tanpa aku sadari dia ikut turun bersamaku. Di halte dia menanyakan nama ku.

“Nama lu siapa?” tanya dia.

“Nala, salam kenal. Kalo lu?” tanyaku balik.

“Bimta, salam kenal ya. By the way soal ucapan mamah tadi gak usah lu pikirin ya”

“Oh soal itu, santai saja. Lagian gua juga dah lupa, By the way aku harus cepet-cepet pulang ini, takut nyokap gue nungguin” ujarku untuk mengalihkan topik.

Saat aku ingin pergi tiba-tiba ia menahan ku dan menyodorkan payungnya “nih pake. Tenang gua bawa jas hujan ko” Cakapnya

“Gak perlu, nanti gimana gue ngembaliinnya”

“Disitu ada nomor ponsel gua, lu boleh balikin itu sesempet lu. Nih Pake dari pada nanti lu basah kena hujan” ucapnya dengan nada yang lembut.

Sampailah aku di rumah, mamahku langsung menyambutku

(2)

“La, sudah pulang? Cepet amat?” tanya mamahku.

“iya mah, dosennya tiba-tiba ngebatalin janji. Kesel deh nala, sudah bangun pagi-pagi, berangkat buang uang, pulang kehujanan dengan hasil yang nihil. Ditambah lagi mah, dosen itu susah banget dihubungi” ucapku dengan nada yang kesal.

“La, sekarang sudah waktunya nala untuk menentukan jalanmu. Yang terkadang tak seperti yang kita harapkan, tapi... nala harus janji kalau nala akan menjadi diri sendiri apa pun yang terjadi” ucap mamah.

“Ngomong-ngomong itu payung siapa La? Mamah gak pernah ngerasa beli payung itu?”

Tanya mamah.

“Oh itu, aku pinjem ke teman soalnya aku lupa bawa payung” jawabku “Jangan lupa, dibalikin” ucapnya

Aku bergegas ke kamar mandi untuk membilas diriku yang terkena air hujan, setelah selesai aku langsung menuju kasurku untuk membaringkan badan, maklumlah kaum rebahan. Tak tahu apa yang aku pikirkan tangan ku tiba-tiba mengambil payung pria tadi, aku pun mencari nomor ponsel yang ia maksud. Awalnya aku hanya ingin mengembalikan payung ini, tanpa ada maksud dan tujuan lain. Namun, aku merasakan ada yang berbeda di dalam diri Bimta. Aku mengirim pesan kepadanya untuk membuat janji besok di halte pertama kita ketemu.

Malam pun datang, aku pergi menuju dapur untuk membantu ibu dan adiku yang sedang membuat adonan roti. Adikku membantu sembari belajar, katanya dia ingin seperti kakanya yang bisa dapat beasiswa di universitas terkenal. Saat aku sedang membuat kue tiba-tiba aku teringat janjiku besok, karna tak enakkan mengembalikan barang orang tanpa membawa sesuatu aku pun, tak lupa aku menyisihkannya untuk Bimta. Setelah semuanya selesai aku bergegas untuk tidur, setelah aku sampai pada kasurku aku sontak langsung tertidur.

Pagi pun datang, aku terbangun. Namun, pagi ini berbeda, aku tak mendengar suara alarm berbunyi, ditambah saat aku melihat jendela cahaya matahari sudah masuk dengan sangat terang melalui jendela kamarku. Usut punya usut rupanya aku kesiangan, aku bergegas bersiap.

Setelah siap aku pun bergegas keluar rumah, mamah pun berkata dengan nada yang agak tinggi.

“Mau ke mana! Buru-buru banget, sarapan dulu!!”

“Nanti ajah mah, gak sempet, ada janji nih” ujarku.

Pas sekali disana aku langsung bertemu angkutan umum yang mengarah ke halte kampusku.

Setelah turun dari mobil aku melihat dia sedang duduk menunggu disana dan aku pun menghampirinya.

“Sory ya gua telat, udah lama?” tanyaku dengan nada yang tak enakkan

“Santai ajah, baru satu setengah jam ko, belum dua jam” jawab dia sambil sedikit bercanda.

Saat itu aku langsung memeriksa tasku, dan begonya aku lupa bawa benda yang seharusnya aku bawa. Dengan ekspresi lelah karna terburu buru ditambah rasa bersalah karna terlambat dan yang paling parah aku lupa bawa payung dia.

“Bim, gua mau bilang sesuatu” ucapku.

“Ha?”

“Tapi lu janji jangan marah” Ucapku lagi.

“Iya janji, lagian ngapain gua harus marah. Cepetan apaan buru”

“Payungnya... payung... gak kebawa”

“Oh” Responya.

“Loh kok lu gak respon apa apa sih?” tanya ku

“Payung mah masalah gampang buat gua, bisa ketemu lu ajah gua udah seneng banget”

gombalnya.

“dih gomba, oh iya. Sebagai permintaan maaf gue, gue bawain roti bikinan nyokap, cobain deh enak banget lohh”

“Oh ya? Beruntung ya lu punya nyokap yang bisa masakin lu setiap hari, pasti rasanya spesial banget” ujarnya dengan nada rendah.

“Emang mamah lu kenapa?” tanyaku dengan nada yang penasaran.

“Nyokap gua meninggal pas ngelahirin gua, dan gua gak pernah sama sekali ngerasain gima kasih sayang nyokap buat anaknya. Bokap gua juga gak mau menikah lagi sama cewe lain karna kata bokap dia mau setia sama mendiang nyokap. Hari ini seharusnya jadi hari sepesial buat gua kaya anak-anak yang lain, hari ini adalah hari ulang tahun gua. Setiap gua ulang tahun gua selalu inget nyokap, walau gua gak tau wujud aslinya tapi nyokap sering muncul di mimpi gua dulu”

curhatnya.

“Sory banget ya, gua gak tau” jawabku dengan perasaan tak enakan

“Gak papa, malah dengan cerita gini gua jadi lebih lega. By the way rumah lu dimana sekalian lu pulang sekalian gua ambil payung gua” ucapnya

(3)

“ha? Yakin mau main ke rumah?”

“Iya lah, dari pada lu pulang sendiri dan keluar ongkos lagi sekalian ajah gua anter. Lagian kan payung gua juga masih di rumah lu” Ucap Bimta dengan nada yang sedikit meyakinkan.

“Boleh deh, emang lu naik apa?” tanya ku “Tuh....” cakapnya sambil menunjuk mobilnya.

“Waduh kayaknya mobil mahal kaya gitu gak pantes deh masuk ke rumahgue, lagian jalan kerumah sempit banget, kayaknya mending gak usah deh” cakap ku.

“Jangan ngomong gitu, dah cepet naik” Ia langsung membukakan pintu mobilnya.

Di dalam mobil kita banyak bercerita, terutama tentang awal mula kita ketemu kemarin dengan beribu rasa canggung. Sambil menyetir ia sambil memakan roti yang aku beri. Ia sangat menikmatnya.

“Hm... enak banget, bokap lu pasti bangga punya nyokap yang jago masak” ujarnya

“Boro-boro bangga, empat belas tahun lalu bokap gue ninggalin gua nyokap dan adik gue.

Gua terasa terpukul banget saat itu, disaat yang lain bersenang senang di sekolah tiba tiba aku dijemput paman gua, dan gua pulang duluan. Sampe di rumah gua kaget banget, banyak banget orang kumpul depan rumah. Dan ya, ternyata bokap gua udah gak ada”

“Sory banget La, gua gak tau” capakpnya.

“Gak papa, tenang ajah. Gua udah terbiasa kok sama keadaan ini”

Selang berapa menit kita berdua pun sampai depan gang rumahku.

“Disini ajah, mobil lu gak akan masuk di gang ini” Cakap ku.

Kita berdua pun melanjukan perjalanan dengan berjalan kaki, tak lama dari depan gang kita berdua sampai di rumahku.

“Ayu masuk” ajak ku

“Didalem ada orang?” tanya dia

“kayaknya gak ada, biasanya jam segini nyokap lagi muter ke warung warung buat nitipin roti. Ade gue juga kayaknya lagi main nih”

“Yaudah gua tunggu di luar ajah, buru lu ambil payungnya” cakapnya “ siap paduka raja” candaku.

Menit pun berlalu.

“Nih payun lu, makasih ya. Yakin nih lu gak mau mampir dulu nyokap gua juga bentar lagi pulang” ajakku.

“Gak usah gua sibuk nih, haha” candanya nya.

Dia pun pulang membawa payunya, saat Bimta jalan ke depan gang ia bertemu adiku dan adiku sadar bahwa Bimta baru saja dari rumah kami.

“cie... tadi siapa tuh, mobilnya bagus bener. Di Jakarta gak pernah pacaran sekalinya dapet pacar tajir melintir” goda adik ku.

“Ih apaan sih de, sok tau banget deh. Itu cuma temen kaka, lagian dia gak bakal mau pacaran sama kaka”

“Oh... berarti kaka mau ya pacaran sama dia?” godanya lagi.

“Dah lah, kaka cape yu masuk ajah, panas diluar”

“Cape abis jalan kemana ajah nih ka?” godanya lagi.

“kamu ini....” sambil ku cubit pipinya perlahan.

Keesokan hari pun tiba, aku bergegas menuju kampus, seperti biasa sarapan bersama terlebih dahulu bersmaa keluarga. Aneh sekali saat itu mamahku menyuruh untuk bergegas, ada yang sudah menunggu di luar katanya, aku pun terheran. Setelah semuanya siap aku menuju keluar, dan betapa terkejutnya aku melihat Bimta sudah ada di depan rumah pagi itu.

“Selamat pagi tuan putri, mau bareng?” tawarnya “Kok lu bawa motor? Mobil lu rusak kena gue?”

“Engga, sengaja biar bisa jemput lu depan rumah, bukan depan gang” jawabnya “Emang kita satu kampus ya?” tanya ku

“Parah banget kita pernah ketemu, pas ospek kaga gara lu telur gua pecah terus gua jadi di hukum gegara gak bisa jaga amanah”

“Oh iya gue inget, sory banget buat pas itu”

It’s okay, lagian gua juga dah gak mempermasalahkan itu”

Tiba-tiba adik dan mamahku keluar dari rumah.

“Cie... yang katanya cuma temen kok jemput jemputan....” goda adiku.

“Hus, gak boleh gitu ah. Sekarang emang masih temen, tapi kan gak tau kedepanya” canda mamah.

Bimta pun turun dari motor dan perpamitan dengan mamahku.

“Tante anaknya Bimta bawa dulu ya” ujar bimta sambil bercanda ke mamah.

(4)

“Bawa ajah sana, dari pada di rumah mulu tuh anak gadis” canda mamah lagi.

Kami berdua pun berangkat ke kampus, sepanjang perjalanan aku bertanya-tanya mengapa Bimta dekat sekali dengan mamahku, rupanya sebelum aku keluar kamar mereka berdua sempat mengobrol banyak, dan kebetulan mereka berdua nyambung, memang ya jodoh itu gak akan kemana. Kita pun sampai di kampus tepat pada jam pertama, kita berdua berpisah karna memang jurusan kita berbeda. Di hari itu kebetulan kita memiliki waktu kosong yang sama, aku pun memanfaat waktu itu untuk makan bersamanaya.

“Bim, makan yu....” ajakku lewat pesan “Boleh mau makan apa?” tanyanya “Terserah....”

“Ini nih yang buat gua males sama cewe” jawabnya “Oh jadi kamu males ketemu gue?” candaku.

“Eh, engga gitu. Yu kita makan baso ajah, aku tau tukang baso paling enak sekitar sini”

“Boleh, yu. Lu lagi dimana?” tanyaku.

“Masih ada dosen nih, tunggu bentar, nanti gua samperin” jawabnya “Sip, gua tunggu di perpus ya....”

Sembari menunggu Bimta aku membaca buku-buku di perpustakaan. Di tempat ini kumpulan mahasiswa ambis membaca dengan sangat khusyu bagai sedang bertapa. Tak terasa aku sudah cukup lama di dalam sana, Bimta pun telah menunggu ku di depan perpustakaan.

“Hai, gimana bacanya? Seru?” tanya dia.

“Bawel ya kamu” jawabku.

“Ciah, dah boleh pake aku kamu nih?” goda Bimta “Gak ya... tadi cuma keceplosan”

“Sengaja juga gak papa kali La” ujar Bimta

Setelah itu kamipun bergegas berangkat menuju tukang baso langganan Bimta, tak lama kami pun sampai di tempat tujuan.

“Pesen kaya biasa den?” sapa tukang baso.

“Iya mang, tapi dua porsi ya”

“Buat papih ya den? Omong-omong yang diboncengan siapa tuh? Pacar?” goda mamang baso.

“Bukan mang, Baru temen” jawab Bimta.

Bimta pun membukakan helem yang ku pakai, lalu aku turun dari motor dan menunggu Bimta memarkirkan motornya.

“Yu duduk” ajak Bimta.

Kami pun makan sambil sedikit brcanda. Selesai makan Bimta mengajaku kesebuah sungai tempat biasa dia mernung saat ada masalah.

“La, sebelum gua ketem lu gua selalu dateng ke sungai ini buat cerita sama alam”

“Loh? Bukanya hidupmu udah sempurna ya? Ganteng, pinter, kaya” tanyaku.

“Hidup itu gak serta merta tentang harta la, percuma gua punya banyak harta tapi gua gak punya tempat cerita. Dari kecil gua gak pernah dapet apresiasi kaya anak-anak lain, gua selalu dianggep penyebab kematian nyokap gua sama bokap. Hubungan gua sama bokap kadang baik kadang engga, tapi sering engganya la” ucap dia dengan nada haru.

“Sory ya Bim. Sekarang lu ada gua, lu bisa jadiin gua tempat cerita lu begitupun sebaliknya.

Semoga kita bisa saling dukung satu sama lain”

“Gak papa La, makasih ya. Dan makasih juga udah muji gua ganteng tadi” ucap bimta sambil sedikit bercanda.

Hari mulai gelap Bimta pun mengantarku pulang ke rumah.

Tibalah kita di rumah yang sangat sederhana, yang jauh dari kata mewah tapi aku selalu bersyukur atas dirinya. Bagiku rumah bukanlah bangunannya melainkan apa yang ada didalamnya. Aku turun dari motor Bimta

“Makasih ya, buat hari ini” ucap ku.

“gua yang harusnya makasih, sekarang gua gak sendiri lagi. Gua gak perlu cerita sendiri di pinggir sungai sana, karna sekarang ada lu” jawabnya.

“Yakin? Emang kita bakal gini selamanya?” candaku.

“Pasti.”

Aku pun sontak terkejut dengan jawabanya karna mulai canggung aku pun masuk ke rumah dan Bimta pun pergi dengan motornya. Baru saja sampai mamahku langsung menyuruhku untuk makan.

“La…, makan dulu!” tseru mamah “Nanti mah masih kenyang”

(5)

Mamah pun menghampiriku dan bertanya tanya tentang apa saja yang terjadi hari ini. Aku menceritakan semuanya.

“Hari ini seru banget mah. Hari ini aku ngerasain apa yang gak pernah aku rasain sebelumnya” critaku

“Pasti soal Bimta. Ngmong-omong Bimta keliatannya anaknya baik ya, Humoris pula. Tadi pagi ajah dia tiba-tiba pamitan ke mamah, katanya mau jemput tuan putri. Mamah bingung dong, dia siapa? Dan tuan putri siapa, kan kamu gak secantik putri” canda mamah.

“Ih mamah. Tapi emang dia lucu banget”

“Terus abis itu dia cerita ke mamah tentang awal mula kalian deket. Anak muda jaman sekarang ‘payung ajah jadi masala, haduh” ucap mamah.

“Ih mamah, dah ah aku mau mandi dulu”

“Baju kotornya langsung masukin ke mesin cuci ajah ya, mamah mau nyuci abis ini”

serunya.

Aku pun bergegas untuk mandi. Selesai mandi aku langsung menuju kamar untuk bristirahat sembari memikirkan kembali skripsiku.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Tugas akhir ini tak kunjung siap. Dosen pembimbingku sangat sulit dihubungi, aku bingung aku harus gimana.

Berkali refisi tetap saja tak membawa hasil yang manis. Sebentar lagi waktu sidang akan dimulai, kalau aku belum mendapat persetujuan dari dosen pembimbingku dan aku tak bisa ikut sidang sesi ini aku harus mengulangnya di semester depan. Aku bingung dan frustasi, banyak pesan tak ku balas, termasuk pesan dari Bimta. Kita sudah jarang ketemu akhir-akhir ini, kita berdua memiliki kesibukan masing masing. Aku bingung, dan akhirnya aku menangis sendiri di kamar. Tiba-tiba mamah datang.

“Anak mamah kenapa?” tanya nya “....”

“Kamu kenapa la, cerita sama mamah” tegur mamah “Mamah gak akan ngerti!!” seru ku

“Kayaknya Nala butuh waktu buat sendiri dulu, mamah pergi ya”

Aku merasa terharu karna mamah selalu mengerti apa yang aku butuhkan, aku juga merasa tak enak karna aku telah membentak mamah tadi. Tanpa ku sadari kantuk pun mulai menyerang, sore itu aku tertidur dengan gelinangan air mata.

Malam pun tiba, aku terbangun karna suara klakson motor dari luar rumah. Aku pun sontak keluar, dan betul ternyata itu adalah Bimta.

“Kamu kenapa la? Setiap aku kirim pesan gak pernah di bales. Kamu marah sama aku?”

tanyanya.

“engga Bim, aku lagi ada masalah ajah. Kalo dah baikan nanti aku bales pesan-pesan kamu”

jawabku.

“Gak usah dipikirin banget la, mending kita keluar nyari ketenangan” ajaknya.

“....”

“Kok diem? Tante ada? Aku mau pamit dulu, mau minta izin juga buat bawa tuan putri”

candanya.

Aku sedikit tersenyum melihat tingkah Bimta. Setelah dia meminta izin dan di perbolehkan aku pun bergegas ganti baju dan bersiap. Gak lama kok, paling satu setengah jam, biasa cewe, bercanda. Karna aku orangnya gak enakan jadi aku bersiap dengan sangat cepat. Kita berdua pergi ke pasar malam saat itu, kita bermain dan tertawa disana. Bimta memang paling bisa menaikan perasaanku, aku selalu di buat tertawa olehnya. Karna sudah lelah bermain kita membeli kembang gula dan duduk di salah satu kursi dengan kondisi sekitar relatif sepi.

“La, kamu ngerasa gak sih ada yang beda di antara kita?” tanya bimta tiba-tiba.

“hm..., beda gimana?” tanyaku bingung.

“Aku ngerasa setiap kali kita berdua ada sesuatu diantara kita, kaya ada getaran yang beda”

“Iya..., beda gimana maksudnya?” tanyaku lagi.

Ia pun lalu terdiam dan mengalihkan topik pembicaraan,lalu kita melanjutkan permainan pasar malam yang belum kita coba. Setelah kita puas bersenang-senang kita pun pulang. Saat ingin pulang tiba-tiba hujan mengguyur kita berdua, Bimta dengan sigap melepaskan jaketnya untuk menutupi tubuhku agar tak terkena hujan. Dan kami pun berteduh di wahana komidi putar.

“La, kayaknya ini bakal lama deh” cakapnya.

“Kayaknya gitu, gua bilang nyokap dulu kalo kita kejebak hujan” jawabku.

“Kamu inget gak La, dulu kita pernah kaya gini, tapi bedanya dulu aku bawa payung. Karna payung itu kita bisa ngobrol kayagini.” ucapnya.

Hujan mulai mengicil, kita pun bergegas untuk pulang. Bimta memakaikan jas hujan ditubuhku.

(6)

“Loh, kok gue yang pake jas hujan? Kan lu yang nyetir” tanyaku.

“Tenang gua pake jaket, basah dikit gak ngaruh. Lagian seru tau main hujan” jawabnya.

“Ya udah, kalo gitu gua juga gak mau pake, mau rasain gima keseruan hujan” candaku.

“Kamu harus pake, kalo kamu sakit gimana sama skripsi kamu?” tegurku.

“siap deh pangeran, si paling perhatian” candaku.

Ia mengantarku pulang hingga ke depan pintu rumah, ia juga sempat berpamitan dengan mamah.

Sesampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan terus memikirkan apa yang dimaksud Bimta tadi, hingga tak terasa aku tertidur.

Beberapa hari berlalu, hari ini aku sangat senang aku mendapat kabar dari dosen kalau aku bisa ikut sidang sesi ini, itu berarti skripsiku di setujui. Aku senag dan sekarang tantanganku adalah bersiap untuk sidang yang akan menghadang nanti. Aku selalu berharap aku bisa lulus tepat waktu, karna biyaya kuliah yang tak sedikit aku gak mau membebani mamah. Aku belajar dengan giat demi bisa masuk universitas ini maka aku juga harus bisa lulus dari sini. Aku bertanya tanya pada kaka tingkatku soal sidang, apa saja yang harus aku persiapkan dan apa saja yang harus aku lakukan.

Hari yang ku tunggu datang, aku sangat takut disana. Saat aku ingin masuk aku melihat Bimta datang entah apa yang ingin dia lakukan. Aku masuk ke ruangan sidang, para dosen sudah berada disana. Aku sangat gugup tak bisa aku jawab pertanyaan yang di beri dengan lancar, aku melu dan kecewa. Saat keluar dari ruangan tak tahu apa yang aku rasa, lega karna aku sudah melewati fase ini, sedih dan kecewa karna aku kurang baik tadi. Saat itu bimta menghampiriku.

“Dah, jangan murung gitu dong mukanya. Cantiknya ilang loh nanti” cakap Bimta.

“Lo ngapain ada di sini bim?” heranku.

“Gabut, jadi aku putusin nemenin tuan putri sidang” candanya.

“Haha lucu, pangeran emang ya si paling lucu” jawabku dengan nada julid sambil bercanda.

Bimta mengajaku pergi makan, karna dia tau aku pasti kelaperan. Aku memang anaknya laperan, kebetulan sekali dia ngajak. Kita berdua pergi mencari makan.

“Mau makan apa? Plis jangan bilang terserah” cakapnya.

“Hm..., Terserah....”

“Tuh kan, gimana kalo nasi goreng?” tawarnya.

“Lagi batuk jangan yang berminyak”

“Kalau sup?”

“Gak mau, lagi panas banget gak enak”

“kalo beli es krim ajah gimana? Biar gak panas lagi”

“Tapi gue laper”

“Hadeh, ya udah kita jalan ajah dulu. Kalo kamu mau tunjuk ajah”

Kita pun berkeliling mencari orang yang menjual makanan, saat ditengan perjalanan aku melihat ada penjual nasi jamblang yang bisa dibilang jarang di temukan di sini. Aku menunjuk warung itu dan kita berdua akhirnya makan disana.

“Nasi jamblang” Bimta membaca sepanduknya.

“Ini makanan apa? Kok kamu milih ini?” tanya Bimta

“Bokap gue dulu orang Cirebon, setiap kali gue mudik gua pasti beli ini sama bokap.

Rasanya enak banget, setiap gue makan ini gue selalu inget makan bareng almarhum bokap”

Cakapku.

“Jadi makanan ini spesial banget ya but lu?” tanya bimta.

“Bisa dibilang begitu....”

Kita pun menikmati makanan itu. Selesai makan aku diantar pulang karna memang energiku sudah habis dan aku rasa aku butuh istirahat.

Hari demi hari berlalu, hari ini penyuman hasil sidangku. Hari berjalan seperti biasanya, kita sekeluarga berkumpul di ruang keluarga. Menonton Tv sambil berbincang ceri, perasaanku hari ini sedang sangatlah baik. Bimta mengajakku keluar pagi itu aku menolak ajakanya, karna aku ingin menghabiskan waktuku dengan keluara. Tetapi aku tak menolaknya begitu saja, aku menawarkan Bimta untuk bergabung bersama kelurgaku. Ia mengiyakan tawaranku, aku sekeluarga menyambut Bimta tak seperti orang asing lagi. Ia datang kerumah dengan membawa makanan yang sangat banyak, dan tak lupa ia membawkan kami semua Nasi Jamblang. Kami sekeluarga langusng teringant mendiang ayah yang pernah membawakan kami makanan itu juga.

Pada saat itu kita berkumpul seperti keluarga. Tiba-tiba nontofikasi telfon menyala, aku melihat pesan dari dosenku yang menyatakan aku harus mengulang skripsiku semester depan. Suasana yang awalnya riang menjadi canggung. Perasaanku hancur, tak bisa berkata. Aku masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.

(7)

“La, lu kenapa?” tanya Bimta khawatir dari luar kamar.

“Gak papa Bim, gue butuh waktu sendiri”

Bimta pergi dan pamit dengan mamah dan adiku.

Malam datang, aku kabur dari rumah. Ku kira semua sudah selesai tenyata harus mulai dari awal. Aku berlari ke bangunan tua dekat perumahan, gedung kosong yang sudah lama tak ditempatkan. Dalam benaku aku selalu mencoba untuk loncat dari sana dan mengakhiri hidup.

Saat aku ingin loncat aku selalu teringat dengan almarhum ayahku yang pernah berkata ‘Kamu harus tau nak, suata saat kau akan hidup dengan jalanmu dan itu semua tak akan sama persis dengan harapanmu apa bila itu semua terjadi kamu harus janji cerita semuanya ke ayah dan ibu.

Ayah merupakan jemari bagimu, dan ibumu adalah penanya sehingga terciptala engkau sebagai puisi terindah yang pernah tercipta.’ Saat itu aku sedikit mengurungkan niat, tetapi rasa kecewaku dan hasutan setan mengalhkan kata kata ayah tadi. Saat aku ingin loncat tiba tiba Bimta muncul dari belakang dan menahanku.

“Nala!!! kamu mau ngapain!” tegur Bimta.

“Ngapain kamu ada disini, hidupmu udah enak tenang. Tanpa diriku kamu bisa bebas tanpa memikirkanku, dengan semua hartamu kamu bisa bebas ngapain ajah” ucapku.

“La!!! aku pernah bilang, hudup itu gak cuma tentang harta. Semua orang punya masalah la, gak cuma kamu doang! Aku butuh kamu buat jadi tempat cerita, kamu juga bisa jadiin aku tempat cerita. Aku kesini karna amamahmu, dia bilang Nala gak ada dirumah , instingku mengatakana kamu ada disini. Banyak orang yang masih sayang sama kamu!! termasuk aku, aku sayang sama kamu la” ucap bimta dengan nada naik turun.

Akupun mengurungkan niatku untuk mengakhiri hidupku.

Hujan turun dengan derasnya, Kita pulang sembari diguyur hujan. Hujan sangatlah berarti untuku setiap momen bersama Bimta selalu ditemani oleh hujan, hujan sangat berarti dan memiliki kenangan. Sampai dirumah aku langsung mandi dan membilas tubuh dari air hujan.

Bimta berbincang dengan mamahku.

“Ada dimana Nala tadi Bim?” tanya mamah.

“Biasa tan, dia ke sungai tempat biasa kami bercerita” bohong Bimta “Dia gak kenapa napa kan?” tanya khawatir mamah.

“Gak papa tan, dia cuma butuh temen cerita. Bimta bolehkan tan kesini tiap hari buat nemenin Nala?” cakap Bimta.

“Gak usah Bim, takut ngerepotin. Biar tante ajah yang nenangin nala, seminggu juga udah baikan” jawab mamah.

“Tapi Bimta bolehkan main sesekali ke sini?” tanyanya.

“Boleh dong Bim, kenapa gak boleh” jawab mamah.

Bimta pun pulang dan berteriak dari luar.

“La, gua pulang ya!”

Beberapa hari berlalu aku dan Bimta jadi cangung karna kejadian itu, sudah 3 hari kita tidak bertemu tak, aku malu mengajaknya bertemu. Begitupun dia, mungkin dia cannggung karna ia berkata bahwa ia suka denganku. Hari ini dia menirim pesan, ia mengajakku untuk bertemu nanti malam pukul delapan di sugai seperti biasa, aku senag akhirnya kita bisa bertemu kembali. Senja datang, kindahan senja menghiasi langit sore, sore itu aku duduk diam di dalam kamar sambil melihat arah jendela. Aku menanti dan tak sabar menunggu datangnya pukul delapan malam. Pukul delapan malam aku duduk menunggunya di tempat yang kita sepakati.

Angin malam mulai menyelimuti tubuh, tak terasa waktu telah menunjukan pukul dua belas malam. Aku bingung, heran, dan bertanya tanya apa yang telah terjadi. Tak seperti biasa ia mengingkari janji, ini bukan Bimta yang ku kenal lagi. Aku pulang dengan perasaan yang kecewa, dan dengan penuh tanda tanya. Perasaan yang awalnya bahagia karna bisa bertemu denganya menjadi rasa kecewa. Aku sampai di rumah dan langsung masuk ke kamar, aku menagis di kasur setelah lelah aku pun tertidur dengan air mata yang mengalir didampingi rasa gelisah.

Pagi datang, aku terbangun dengan perasan terkejut mendengar berita buruk. Orang yang aku sayang kini tlah tiada, kejadian yang aku takutkan terjadi. Kejadian empat belas tahun lalu terulang kembali pada orang tersayang. Malam tadi dia tak jadi datang bukan karna Bimta tak ingin datang, mobilnya mogok tadi malam, naasnya truk besar dari belakang menabrak mobil Bimta. Dia terdesak dan mengalami luka parah, ambulance datang dang membawanya ke rumah sakit terdekat. Saat perjalanan kondisinya kronis, pagi tadi sekitar pukul tiga dini hari Bimta dinyatakan meninggal di rumah sakit. Mendengar kabar itu aku sangat terpukul, aku menagis dan

(8)

langsung bergegas ke rumah sakit untuk melihat jasadnya. Sampainya aku di rumah sakit aku melihat tubuh bimta yang terbaring tak berdaya, aku menagis di sampingnya. Tiba-tiba seorang polisi menuju ke arahku dan memberian boneka beruang besar dengan surat kecil di tangan beruang itu. Aku membaca surat itu. “dear Nala, saat pertama kali kita bertemu ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu. Kamu inget gak waktu kita berdua dihukum bareng waktu ospek. Kamu wanita yang kuat, yang tangguh melewati berbagai rintangan. Aku bawain boneka beruang ini nih, katanya boneka beruang adalah salah satu lambang kasih sayang loh. Aku mau pesen sesuatu ke kamu kalau kamu merasa semesta membenci dirimu maka kamu harus ingat masih ada aku yang akan selalu ada bersamamu. Dan satu lagi, aku mau mengakui sesuatu kalau sebenarnya aku nyaman sama kamu, aku mau kita lebih dari teman mulai detik ini. Kamu mau gak jadi pacar aku?” aku pun membacanya dalam hati sambil menangis teringat kenangan indah yang pernah aku alami bersamanya. Aku menyesal seharunya aku gak menerima janjinya saat itu. Aku juga menyesal karna aku belum sempat membalas perasaan Bimta. Kini dia telah pergi, dia menumui ibunya di syurga sana.

“Tenang-tenang disana ya Bim, selamat tinggal. Trimakasih buat semuanya” ucapku dengan airmata yang tak bisa aku tahan.

Aku mengikuti semua prosesi pemakaman, aku heran disana aku melihat ayahnya tidak meneteskan airmata sama sekali atas kepergian putranya. Ternyata benar kata Bimta hubunganya dengan orang tua tidak baik-baik saja. Hidup dipenuhi harta berlimpah tanpa kasih sayang orang tua terasa sangat hampa, tetapi aku yakin gak ada orang tua yang gak sayang dengan anaknya.

Aku kembali pulang ke rumah setelah pemakaman selesai, dirumah aku merenung sekaakan aku tak percaya dengan kejadian hari ini, kejadian yang tak akan aku lupa. Mamah mendekatiku dan menasehatiku

“Semua yang hidup pasti akan mati, semua yang bernyawa pasti akan kembali. Entah kapan dan dimana kita pulang, entah apa penyebabnya semua itu pasti akan terjadi. Dan ingat bahwa hidup itu gak semuanya tentang dirimu” ucap mamah

Bulan demi bulan berlalu, hari ini hari pengumuman kelulusanku. Aku menantinya dengan pikiran pesimis akan terulang kejadian semester lalu. Dosen mengirim pengumuman, puji tuhan aku lulus dan akan diwisuda 2 bulan lagi. Hatiku sangat senang, hari yang kunanti nanti kini sudah dekat. Sebentar lagi aku lulus dari kampus tercinta ini dan membawa nama baik untuk diri dan keluarga. Hari yang aku tunggu kini tiba, ibu dan adiku menyaksikanku naik ketas mimbar sebagai widudawan terbaik. Alhamdulillah aku lulus dengan ipk 3,85, tidak ku sangaka aku bisa mendapat ipk sebesar itu, andai Ayah dam Bimta maih ada, pasti mereka bangga dengan prestasiku dan kelulusanku. Hari ini aku merasa senang sekaligus haru, karna tak semua orang spesial dalam diriku dapat menyaksikanku diwisuda. Di skripsiku aku menulis bagian ucapan trimaksih dengan mencantumkan nama Bimta disana, aku akan jadikan momen-momen itu kenangan untuk selamanya. Boneka serta surat darinya dan skripsiku aku simpan baik-baik sebagai pengingat sosok Bimta.

Beberapa tahun berlalu, kini bisnid roti mamahku mulai berkembang pesat, cabangnya kini tersebar di kota bandung. Kini kita memiliki kariyawan untuk membantu proses pembuatan maupun distribusi. Hampir semua orang tau produk kami. Kini aku membantu ibuku menjaual roti dan mengembangkan bisnisnya, hingga mencapai target untuk membuka cabang di seluruh Pulau Jawa. Ijazah yang dulu aku impikan ternyata tak begitu bermakna, tapi aku yakin ilmu yang aku dapat pasti bermanfaat dikemudian hari. Dibanding aku harus bekerja besama orang yang tak aku kenal dan menyukseskan bisnis orang, lebih baik aku membantu bisnis keluargaku.

Aku memanfaatkan media sosialku untuk menjadi wadah promosi produk, dan sekarang Followers ku di media sosial sangatlah banyak hingga bisa menaikan jumblah pembeli rotiku.

Dan akhirnya adiku berhasil mengikuti jejakku untuk bisa berkuliah, karna bagi keluarga yang sederhana seperti kami merupakan hal yang istimewa untuk bisa berkuliah. Dia kuliah di UNPAD dan mengambil kedokteran, dia juga berhasil mendapat beasiswa berkat kerja kerasnya.

Referensi

Dokumen terkait

Kesulitan yang dialami yaitu saat siswa-siswi harus menuliskan seberapa banyak cerita yang harus dikumpulkan, bagaimana cara menulis urutan-urutan cerpen yang baik dan