• Tidak ada hasil yang ditemukan

CJR Hukum Acara M.Yoga Pratama (3212411018)

N/A
N/A
Surya Dharma

Academic year: 2025

Membagikan "CJR Hukum Acara M.Yoga Pratama (3212411018)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

CRITICAL JOURNAL REVIEW HUKUM PERDATA

Di Susun Oleh :

JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2024

NAMA : MUHAMMAD YOGA PRATAMA NIM : 3212411018

KELAS : PPKn Reguler C

DOSEN PENGAMPU : Dr. Parlaungan Gabriel Siahaan, S.H., M.Hum. & Dewi Pika Lbn Batu, S.H., M.H.

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Critical Journal Review ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas Mata Kuliah Hukum Perdata. Tugas ini tidak akan terselesaikan tanpa bimbingan, dukungan, serta doa dari berbagai pihak.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Parlaungan Gabriel Siahaan, S.H., M.Hum., dan Ibu Dewi Pika Lbn Batu, S.H., M.H., selaku dosen pengampu Mata Kuliah Hukum Acara, atas ilmu, bimbingan, serta kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa Critical Journal Review ini masih jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan di masa yang akan datang. Semoga tugas ini tidak hanya menjadi syarat akademis semata, namun juga memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu hukum, khususnya di bidang Hukum Perdata. Akhir kata, penulis berharap semoga Critical Journal Review ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya dan dapat menjadi kontribusi kecil bagi dunia hukum.

Medan, September 2024

(4)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Identitas Jurnal Utama ...1

B. Identitas Jurnal Pembanding ...1

C. Relevansi dan Kontribusi Pentingnya Critical Journal Review Hukum Perdata ...2

BAB II PEMBAHASAN ...4

A. Ringkasan Isi Jurnal Utama ...4

B. Ringkasan Isi Jurnal Pembanding ...5

BAB III ANALISIS ...7

A. Latar Belakang Masalah Yang Dikaji ...7

B. Permasalahan Yang Dikaji ...8

C. Kajian Teori/Konsep Yang Digunakan ...8

D. Metode Yang Digunakan ...9

E. Analisis Critical Journal ...10

BAB IV PENUTUP ...12

A. Kesimpulan ...12

B . Saran ...12

DAFTAR PUSTAKA ...13

LAMPIRAN ...14

(5)

BAB I PENDAHULUAN A. Identitas Jurnal Utama

Judul Artikel

Menggagas Sistem Penyitaan Aset Kripto Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia

Nama Jurnal

Jurnal Amanna Gappa

Tahun Terbit 2023

Pengarang Artikel Jefferson Hakim, Rizal F, Nurwinardi

Nomor ISSN

P-ISSN: 0853-1609, E-ISSN: 2549-9785

Vol/ No/Hal

Vol. 31, No. 2, Hal. 108

B. Identitas Jurnal Pembanding

Judul Artikel

Penyadapan Sebagai Bentuk Upaya Dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia

Nama Jurnal

Jurnal Studi Hukum Pidana

(6)

2 Tahun Terbit 2021

Pengarang Artikel Syifa Fachrunisa

Nomor ISSN -

Vol/ No/Hal

Volume 1, Nomor 1, Hal. 44

C. Relevansi dan Kontribusi Pentingnya Critical Journal Review Hukum Perdata

Menguasai keterampilan membuat critical journal review dapat menguji kemampuan seorang penulis dalam menganalisis dan membandingkan jurnal yang berbeda, memberi penilaian, serta mengkritik karya tulis yang telah dianalisis.

Kadang-kadang sulit untuk memilih referensi yang tepat untuk dibaca dan dipahami, sehingga penulis membuat critical journal review tentang "Hukum Acara" yang memudahkan pembaca dalam memilih jurnal referensi tentang prosedur dan mekanisme dalam hukum acara, terutama dalam hal analisis bahasa dan pembahasan.

(7)

pembaca dalam memilih jurnal referensi tentang hak waris dalam hukum perdata, terutama dalam hal analisis bahasa dan pembahasan.

(8)

4 BAB II

PEMBAHASAN A. Ringkasan Isi Jurnal Utama

Crytocuurrency merupakan suatu inovasi didalam sektor finansial yang mulai berkembang sejak 2009 sampai sekarang ini, dengan kepopulerannya pada perdagangan yang bebas dari intervensi pihak ketiga maupun dari sisi pemerintah itu sendiri. Indonesia sendiri telah merangkup sejumlah undang-undang guna membatasi penggunaan crytopcurrency sebagai bentuk pembayaran yang dianggap tidak sah atau ilegal. Sesuai dengan amanat pada UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dan Peraturan Bank Indonesia No. 17/3/PBI/2015. Akan tetapi penggunaan aset yang tertuju pada kripto masih diperbolehkan sebagai komoditas yang diperdagangkan di bursa berjangka, dengan potensi instrumen yang sifatnya menarik meskipun memiliki resiko yang cukup tinggi.

Penawaran yang dilakukan dalam kegiatan transaksi sering kali disalahgunakan para pelaku tindak pidana, salah satunya sebagai tempat money loundry atau pencucian uang agar kiranya uang tersebut sulit untuk pencarian data transaksinya. Namun masih belum ada aturan khusus secara terperinci yang mengatur terkait penyitaan aset kripto dalam hukum acara pidana di Indonesia.

Penjual belian atau kegiatan transaksi aset kripto melalui pasar fisik di Indonesia diatur oleh Bappebti. Walaupun tidak diakui secara sah, aset kripto tetap dapat digunakan pada bursa berjangka. Hal ini yang sering kemudia dimanfaatkan pada kasus tindak pidana sebagai salah satu cara menyembunyikan aset yang mereka miliki. Dalam penelurusannya menggunakan teknologi Blockhain yang sulit untuk dilacak, transaksi kripto saat ini masih memiliki celah yang membuat sulit menemukan data secara akurat

(9)

terkait identitas pelaku. Pada penelitian ini mencoba menelurusi dan membahas tentang langkah yang dapat diambil dalam penyelesaian pelaku tindak pidana yang menggunakan kripto sebagai salah satu cara untuk menyembunyikan atau menghindari penyitaan aset pribadi. Dari hasil penelitian ini, peneliti mengusulkan beberapa opsi untuk menentukan nilai aset kripto, termasuk melalui lelang di KPKNL atau penjualan di Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka. Setiap opsi harus dilakukan dengan mempertimbangkan fluktuasi harga kripto dan kerangka hukum yang ada.

B. Ringkasan Isi Jurnal Pembanding

Perkembangan yang ada sangant mendorong manusia untuk dapat memahami keterbaharuan teknologi yang kini kian semakin maju dan terus berkembang. Kajian ilmu hukum termasuk salah satu hal yang tidak luput pada fokus yang berhubungan dengan perkembngan teknologi yang ada, salah satu hal yang berhubungan dengan hal tersebut adalah kasus-kasus seperti penyadapan. Penyadapan biasanya dialakukan aparat yang berwenang dalam konteks penegakan hukum guna mengungkap aksi-aksi kejahatan seperti kasus korupsi, narkotika dan lainnya, walaupun disisi lain tindakan ini berpotensi melanggar privasi seseorang jika tidak memenuhi ketentuan yang sudah ada dan dilakukan oleh pihak yang berwajib.

Negara Indonesia sendiri telah memberikan aturan terkait penyadapan namun dalam faktanya belum terintegrasi dalam satu sistem yang jelas dan terperinci.

Keberadaan tersebut yang menjadi permasalahan bagi aparat penegak hukum terutama mengenai keabsahan dan kewenangan penyadapan sebagai alat bukti pada proses pengadilan dimana mekanisme masih tidak diatur secara eksplisit didalam Undang- undang. Mahkamah Konstitusi melalaui putusan No. 5/PUU-VIII/2010 menenkankan pentingnya undang-undang yang membahas secara khusu terkait aturan penyadapan pada

(10)

6 ruang lingkup pengadilan atau kepentingan umum secara terperinci agar tidak menimbulkan kerugian kepada hak konstitusional warga negara.

Penyadapan merupakan tindakan mengambil informasi yang berkaitan dengan hal pribadi tanpa sepengetahuan pihak yang melakukan komunikasi. Menteri Komunikasi dan Informatika (Keminfo) mengatakan bahwa penyadapan dapat dilakukan dalam ranah penegakan hukum melalaui mekanisme yang sah (Lawful Interception). Meskipun penyadapan melanggar hak privasi seseorang namun hal tersebut dapat dibenarkan dalam konteks hukum pidana sebagai alat bukti kejahatan. Namun ketidak seragaman para lembaga berwenang, menjadikan aturan mengenai penyadapan masih menimbulkan permasalahan bagi berbagai lembaga penegak hukum seperti aparat kepolisian, kejaksaan, dan KPK.

(11)

BAB III ANALISIS A. Latar Belakang Masalah Yang Dikaji

Dalam jurnal penelitian yang dilakukn Amanna Gappa memberikan focus pembaca pada penggunaan aset kripto, yang berfungsi sebagai instrumen investasi dan komoditas yang diperdagangkan di bursa berjangka, oleh pelaku tindak pidana untuk menyembunyikan hasil kejahatan seperti pencucian uang. Meskipun aset kripto sudah diakui sebagai komoditas, belum ada regulasi khusus di Indonesia yang mengatur secara tegas mekanisme penyitaan aset kripto sebagai barang bukti dalam perkara pidana.

Masalah ini penting karena anonimitas transaksi kripto menyulitkan penegak hukum dalam melacak aktivitas kejahatan yang melibatkan aset tersebut, dan tidak adanya regulasi khusus menciptakan kesenjangan hukum dalam penegakan hukum. Selain itu, penyitaan aset kripto memerlukan prosedur hukum yang tepat untuk menentukan dan mempertahankan nilai aset, mengingat fluktuasi harga yang sangat dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem penyitaan aset kripto dalam konteks hukum acara pidana Indonesia, dengan mempertimbangkan tantangan teknis dan hukum yang ada.Hukum waris menjadi lata belakang kajian pada penelitian yang dilakukan oleh Elviana Sagala, SH, M.Kn dan Oktavia Milayani, seberapa pentingnya memahami tentang hukum waris pada kajian hukum perdata pada undang-undang serta pada BW. Hal ini menyoroti berbagai faktor yang mempengaruhi bagaimana pembagian warisan, ketidakadilan yang dapat timbul karena kurangnya pengetahuan di antara para ahli waris, dan bagaimana masyarakat Tionghoa di Indonesia sering mengikuti Hukum Perdata dalam membagikan warisan mereka.

(12)

8 pesatnya perkembangan teknologi yang disertakan dengan peningkatan kejahatan berbasis teknologi. Penyadapan, menjadi bagian penting dalam proses penngadilan meskipun dilarang secara umum, tapi ia diperbolehkan dalam konteks penegakan hukum untuk mengungkap kejahatan serius seperti korupsi dan narkotika. Namun, penyadapan berpotensi melanggar privasi individu jika tidak dilakukan oleh pihak berwenang. Di Indonesia, aturan mengenai penyadapan tersebar di berbagai peraturan tanpa sistem yang jelas, menimbulkan masalah mengenai keabsahan penyadapan sebagai alat bukti di pengadilan. Mahkamah Konstitusi dalam Putusan No. 5/PUU-VIII/2010 menekankan perlunya undang-undang khusus untuk mengatur penyadapan secara terperinci guna melindungi hak konstitusional warga negara.

B. Permasalahan Yang Dikaji

Permasalahan yang menjadi kajian pada ke dua jurnal ini tentang penerapan hukum waris di Indonesia pada hukum perdata di Indonesia menurut burgerlijk wetboek (BW).

Dimana pada peng-aplikasiannya tidak jarang ditemukan kesalahan dan ketidaktimpangan hukum waris yang berlaku di dalam pembagian warisan ataupun kebendaan seseorang.

Karena hukum waris harus dipahami kejelasannya, tidak sembarang seseorang itu bisa memiliki hak mutlak atas benda yang ia miliki,ia harus mengetahui hal hal yang diatur dialam hukum kebendaan didalam kajian Hukum perdata.

C. Kajian Teori/Konsep Yang Digunakan

Pada jurnal penelitian yang dilakukn Amanna Gappa terkait sistem penyitaan aset kripto dalam hukum acara pidana indonesia kajian teori yang digunakan berkisar pada hukum acara pidana dan regulasi aset kripto. Teori ini mencakup pendekatan terhadap pengaturan dan mekanisme penyitaan dalam konteks hukum yang belum memadai, dengan menyoroti

(13)

tantangan teknis dan hukum terkait aset kripto yang dinamis dan sulit ditangani dalam sistem peradilan pidana yang ada.

Sementara itu, jurnal penelitian Syifa Fachrunisa yang berfokus pada penyadapan sebagai upaya paksa dalam hukum a di indonesia menggunakan kajian teori mengenai hak privasi dan hukum acara pidana, khususnya teori mengenai upaya paksa dalam penegakan hukum. Kajian ini fokus pada konflik antara kebutuhan untuk penyadapan sebagai alat bukti dalam kasus kejahatan serius dan perlunya perlindungan hak privasi individu, serta pentingnya regulasi yang jelas untuk mengatur penyadapan secara sah dan adil.

D. Metode Yang Digunakan

Pada jurnal peneltian oleh Amanna Gappa metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif. Metode ini memanfaatkan asas hukum, teori hukum, dan peraturan perundang-undangan untuk menganalisis permasalahan dan gagasan mengenai penyitaan aset kripto dalam konteks hukum acara pidana di Indonesia. Penelitian ini mengoperasikan asas-asas dan teori-teori hukum terkait untuk memberikan jawaban atas isu yang dikaji.

Sebaliknya, peneletian Syifa Fachrunisa menggunakan metode penulisan restatement, yang bersumber dari peraturan perundang-undangan, doktrin, dan putusan hakim. Metode ini bertujuan untuk menyusun ulang dan menganalisis kembali informasi yang ada dalam peraturan dan doktrin hukum serta keputusan pengadilan untuk mengkaji dan menjelaskan isu penyadapan dalam hukum acara pidana.

(14)

10 E. Analisis Critical Journal

Kelebihan utama pada jurnal Amana Gappa terletak pada topik yang inovatif dan relevan serta pendekatan yuridis normatif yang digunakan. Metode ini memberikan dasar hukum yang kuat dengan mengkaji asas hukum, teori hukum, dan peraturan perundang- undangan, memungkinkan analisis mendalam mengenai penyitaan aset kripto.

Pembahasan yang menyeluruh mencakup tantangan teknis dan hukum serta memberikan opsi praktis untuk pelaksanaan penyitaan. Namun, jurnal ini memiliki kekurangan dalam hal implementasi praktis, karena kurang membahas detail tentang bagaimana rekomendasi dapat diterapkan dalam praktek sehari-hari. Selain itu, ketergantungan pada asumsi mengenai perubahan regulasi yang belum ada mungkin mengurangi relevansi dalam konteks regulasi saat ini yang belum lengkap.

Sementara itu, tulisan Syifa yang membahas terkait penyadapan memiliki kelebihan dalam hal fokus pada konflik antara penyadapan sebagai alat bukti dan perlindungan hak privasi, serta metode penulisan restatement yang sistematis. Metode ini memungkinkan analisis yang terstruktur berdasarkan peraturan, doktrin, dan putusan hakim, serta mengaitkan analisis dengan putusan Mahkamah Konstitusi untuk memberikan dasar hukum yang kuat. Kekurangan jurnal ini terletak pada kurangnya detail mengenai bagaimana regulasi penyadapan dapat diterapkan dalam praktik dan bagaimana standar tersebut dapat diimplementasikan secara efektif, mengingat pengaturan yang masih tersebar dan tidak seragam.Jurnal yang dibahas memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Dari segi tata bahasa, jurnal tersebut mudah dipahami sehingga dapat menjadi panduan bagi mahasiswa dan masyarakat. Selain itu, dari segi isi, jurnal ini memiliki alur

(15)

yang teratur dan substansi yang mendalam karena sudah banyak menggunakan literatur.

Hal ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca. Dalam hal tata letak dan penggunaan font, tidak ada masalah karena semuanya sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang benar. Jurnal ini dapat digunakan sebagai acuan untuk perubahan dalam penegakan hukum lingkungan, serta teori-teorinya dapat dijadikan bahan diskusi oleh para akademisi hukum lingkungan di Indonesia.

Namun, jurnal ini juga memiliki beberapa kelemahan. Dari segi isi, masih kurangnya gambar pendukung materi sehingga kurang menarik untuk dibaca dan masih ada kekurangan dalam memasukkan pendapat para ahli. Selain itu, masih ada beberapa bahasa yang kurang kata atau sulit dipahami sehingga dapat membingungkan pembaca

(16)

12 BAB IV

PENUTUP A. Kesimpulan

Kedua jurnal ini membahas isu penting dalam konteks hukum Indonesia yang terkait dengan perkembangan teknologi. Jurnal Amanna Gappa menyoroti masalah penyitaan aset kripto dalam kasus pidana, khususnya bagaimana aset kripto sering digunakan untuk menyembunyikan hasil kejahatan. Meskipun kripto diakui sebagai komoditas, belum ada regulasi khusus yang mengatur penyitaannya, menciptakan kesenjangan dalam penegakan hukum. Di sisi lain, jurnal Syifa Fachrunisa membahas penyadapan dalam konteks hukum pidana dan konflik antara penggunaan penyadapan sebagai alat bukti kejahatan serius serta perlindungan hak privasi. Meski diakui pentingnya penyadapan dalam kasus seperti korupsi dan narkotika, regulasi yang belum seragam menimbulkan tantangan dalam penerapannya.

Kedua jurnal menekankan perlunya perbaikan regulasi agar hukum dapat mengimbangi

perkembangan teknologi yang pesat.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, J., Rizal, F., & Nurwinardi, N. (2023). Menggagas Sistem Penyitaan Aset Kripto Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia. Amanna Gappa, 108-128.

Fachrunisa, S. (2021). Penyadapan sebagai Bentuk Upaya Paksa dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia. Jurnal Studi Hukum Pidana, 1(1), 44-60.

(18)

14 LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

Kebenaran materiil merukan kebeneran yang selengkap-lengkapnya atau setidaknya yang mendekati kebenaran dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara

penuntutan pidana menurut hukum acara pidana di Indonesia dengan negara-negara

Disamping yang diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana, terdapat juga Pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yang

PENGHENTIAN PENUNTUTAN PERKARA PIDANA MELALUI KEADILAN RESTORATIF MENURUT HUKUM ACARA PIDANA INDONESIA Muhammad Ihsan NPM : 198040066 Konsentrasi : Hukum Pidana ABSTRAK Kejaksaan

Undang-undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana KUHP; Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang

atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan Hukum Acara Pidana secara jujur dan

Dokumen ini membahas tentang metode penelitian hukum dan peraturan yang berlaku dalam bidang acara

Rencana Pembelajaran Mata Kuliah Hukum Acara dan Praktek Peradilan Pidana untuk mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas