BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Analisis surat-surat berharga adalah suatu pengetahuan mendasar dan penting untuk diketahui oleh para investor yang ingin menginvestasikan dana nya dipasar modal. Surat berharga yang biasanya diperjual belikan dipasar modal salah satu nya adalah saham. Saham adalah sertifikat yang menunjukan bukti kepemilikan suatu perusahaan dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan (Rusidin,2013).
Analisis faktor-faktor fundamental merupakan cerminan dari kondisi perusahaan yang terjadi sekarang. Sehingga melalui analisis rasio dapat memperlihatkan kinerja yang telah dicapai oleh perushaan, dan investor dapat mengambil keputusan serta pertimbangan apakah mereka harus membeli saham perusahaan yang bersangkutan atau menjualnya (Usman,2014). Jadi, Akibat dari analisis yang dilakukan oleh investor tentang keadaan kondisi perusahaan, maka keputusan yang diambil akan bermacam-macam.
Salah satu sektor yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah sektor farmasi. Sektor farmasi memiliki peran dalam reformasi dibidang kesehatan, Dalam permasalahan kesehatan yang terjadi pada umumnya sangat berkaitan dengan ketersediaan obat-obatan yang dibutuhakan oleh masyarakat. Banyak perusahaan farmasi sebagai penghasil obat-obatan berdiri di Indonesia, baik itu perusahaan asing maupun perusahaan
Nasional, Pada tahun 2020 di Indonesia terdapat 220 perusahaan pelaku industry farmasi yang mana 33 perusahaan diantara nya merupakan penanam modal asing (PMA) (Tegar,2020). Sedangkan perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah 12 Perusahaan.
Untuk mengetahui apakah perushaan tersebut baik atau tidak maka perlu diukur dengan menggunakan Current Ratio (CR), Return On Asset (ROA), Earning per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER).
CR Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhii kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar (Dewi,2011)
Berikut adalah grafik perkembangan rata-rata CR pada perusahaan farmasi
Gambar 1.1 Rata-rata CR pada perusahaan Farmasi Sumber : www.idx.co.id (Data diolah)
0 1 2 3 4 5 6 7
2016 2017 2018 2019 2020
Current Ratio (CR)
Bedasarkan gambar 1.1 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai Current Ratio (CR) pada sub sektor Farmasi yang etrdaftar di Bursa Efek Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun 2016 sampai tahun 2020. Pada tahun 2016 nilai rata-rata CR beradda diposisi 2,77, pada tahun 2017 mengalami kenaikan menjadi 2,78, ditahun 2018 mengalami kenaikan kembali menjadi 6,32 , Pada tahun 2019 mengalami penurunan dengan 3,3 , namun pada tahun 2020 mengalami penurunan dengan nilai 2,08.
Adapun fenomena dari data diatas presentase rata-rata nilai Curret Ratio (CR) tahun 2016-2020 pada perusahaan farmasi mengalami nilai Currrent Ratio (CR) yang tidak stabil, hal ini disebabakn karna rendah nya laba pada tahun 2020 sehingga menyebabkan menurunnya nilai CR (www.idx.co.id)
ROA merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi perusahaan dengan memanfaatkan aktiva dalam kegiatan operasional perusahaan (yussi,2014).
Berikut adalah grafik perkembangan Rata-rata Return On Asset (ROA) pada perusahaan farmasi tahun 2016-2020.
Gambar 1.2 Rata-rata ROA pada perusahaan farmasi Sumber : www.idx.co.id (Data diolah)
Berdasarkan gambar 1.2 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai Return On Asset (ROA) pada subsektor perusahaan farmasi periode 2016- 2020 mengalami fluktuasi. Ditahun 2016 rata-rata Return on asset (ROA) berada di posisi 0,19 kemudian pada tahun 2017 mengalami kenaikan menjadi 0,98 namun pada tahun 2018 mengalami kenaikan kembali menjadi 1,3 kemudian pada tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 0,19, sedangkan di tahun 2020 mengalami kenaikan yang berada diposisi 0,33
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4
2016 2017 2018 2019 2020
Return On Asset (ROA)
Adapun fenomena dari data diatas presentasi dari rata-rata nilai Return On Asset (ROA) Tahun 2016 sampai 2020 pada perusahaaan subsektor farmasi yang stabil, hal ini dikarnakan ekuitas atau modal lebih besar dari pada laba bersih. Sehingga perusahaan dapat dikatakan tidak cukup mampu mengelola modal.
(www.ix.co.id)
EPS merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham (Katsmir, 2012).
Semakin besar nilai EPS akan semakin baik juga kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba Bagi pemegang saham.
Berikut adalah grafik rata-rata perkembangan EPS pada perusahaan farmasi tahun 2016-2020.
Gambar 1.2 Rata-rata EPS pada perusahaan farmasi Sumber : www.idx.co.id (Data diolah)
0 5 10 15 20 25 30
2016 2017 2018 2019 2020
Earning Per Share (EPS)
Bedasarkan gambar 1.3 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai Earning Per Share (EPS) pada sektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mengalami fluktuatif dari tahun 2016-2020. Pada tahun 2016 rata-rata nilai EPS berada di posisi 1,7 pada tahun 2017 mengalami penurunan 1,6, ditahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 2,9, pada tahun 2019 mengalami penurunan dengan nilai 2,5 namun pada tahun 2020 mengalami penurunan kembali dengan nilai 1,8.
Adapun fenomena dari data diatas presentase dari rata-rata nilai Earning Per Share (EPS) tahun 2016 sampai 2020 pada perusahaan farmasi mengalami nilai EPS yang tidak stabil hal ini disebabkan karna rendah nya laba bersih pada tahun 2017 sehingga meyebabkan menurun nya nilai EPS (www.idx.co.id).
DER berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam dengan pemilik perusahaan (Kasmir,2012). Semakin tinggi rasio ini semakin rendah pendannaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Rasio ini juga menujukan kesehatan keuangan perusahaan dengan perbandingan utang dan modal sendiri (Adrianus,2019).
Berikut adalah grafik perkembangan rata-rata DER pada perusahaan farmasi pada tahun 2016-2020
Gambar 1.4 Rata-rata nilai DER perusahaan Farmasi Sumber : www.idx.co.id (Data diolah)
Bedasarkan gambar 1.4 diatas dapat dilihat bahwa nilai DER (Debt to Equity Ratio) pada subsektor farmasi pada tahun 2016-2020 mengalami fluktuatif. Pada tahun 2016 nilai rata-rata DER berada di posisi 1,20 kemudian pada tahun 2017 mengalami penurunan 0,85, tahun 2018 rata- rata nilai DER mengalami kenaikan kembali menjadi 1,15 dan ditahun 2019 mengalami penurunan kembali menjadi 0,89 namun ditahun 2020 mengalami peningkatan nilai rata-rata DER berada diposisi nilai 0,93.
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4
2016 2017 2018 2019 2020
Debt to Equity Ratio (DER)
Adapun fenomena dari data diatas presentase rata-rata nilai DER (Debt to Equity Ratio) tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 pada perusahaan subsektor farmasi yang tidak stabil dikarnakan nilai DER terus diatas nilai 1 yang menandakan bahwa DER perusahaan farmasi pada tahun 2016 sampai dengan 2018 memiliki tingkat hutang yang lebih tinggi (www.idx.co.id).
Rasio Keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relvan dan signifikan (Harahap,2009), Rasio- rasio keuangan sangat penting bagi analisis eksternal yang menilai suatu perusahaan dari laporan-laporan keuangan yang diumumkan, karna rasio menggambarkan hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lain, penilaian yang dilakukan antara lain meliputi ROA, ROE, CR, PER dan DER. Dalam hal ini kemampuan manajemen memperoleh nilai pasar lebih besar dari pengeluaran kas, manajemen aktiva dan investasi serta manajemen biaya, Melalui rasio keuangan banyak manfaat yang dapat diraih:
Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang “PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL RASIO
KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM (PADA PERUSAHAAN FARMASI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA”
1.2 Rumusan Masalah
Bedasarkan uraian latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagi berikut :
1. Apakah Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah Return On Asset (ROA) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
4. Apakah Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dilakukan adalah :
1. Untuk menguji apakah variabel Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk menguji apakah variabel Return On Asset (ROA) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk menguji apakah variabel Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Untuk menguji apakah variabel Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap harga saham perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik dari segi teoritis maupun praktis.
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini digunakan untuk memperdalam pengetahuan dalam manajemen keuangan khusus nya agar mengetahui pengaruh harga saham pada suatu perusahaan.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Perusahaan :
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak perusahaan sebagai dasar masukan atau dasar untuk meningkatkan kinerja perusahaan yang dapat dilihat dari rasio keuangan yang baik menunjukan prospek bagus bagi perusahaan dimasa yang akan datang.
b. Bagi Penulis : hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman penelitian tentang dasar pengambilan keputusan investasi bagi seorang investor dipasar modal.
c. Bagi Akademis
Pengaruh ini dapat menambah pengetahuan mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham.