JPI: Jurnal Psikologi Islam Vol. 01, No. 02 (2023), pp. 39-58
ISSN. (Online); ISSN. Print) DOI:
Homepage: https://ojs.iainbatusangkar.ac.id/ojs/index.php/jps:
DAMPAK PERSELINGKUHAN TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK
1*Ghina Imtinan 1, 2* Mutia Aini Ahmad 2,
1 Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar 2 Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar
*E-mail: [email protected]
Received: 07 Oktober 2023 Revised: 06 November 2023 Accepted: 30 November 2023
Abstract
Children's psychological development is development related to conditions that can affect children's daily lives both in the circle of friends and the surrounding community. There are so many factors that can affect the psychological development of children, including the family environment which will be the closest factor in the psychological development of children. Because basically the family is the first place for children to socialize after being born. The family is the first place for children regarding the social environment. If a child is in a harmonious and happy family, he will experience good psychological development, he will grow into a child who is physically, mentally and behaviorally healthy. However, it will be inversely proportional to children who grow and develop in an inharmonious family environment, such as the occurrence of an affair from one of their parents or both parents having an affair. These problems will have a tremendous impact, both on the perpetrators of the affair themselves, their partners and their children. Children will become victims of the infidelity committed by their parents. The impacts that will be obtained by the child include: there will be a child's distrust of a marriage relationship or distrust of the opposite sex, will cause anger and hatred in the child towards parents who have an affair, will cause indifference to their environment, children will close himself from the environment, the child will experience stress and the worst the child will experience depression. From the impact that the child gets, it will affect the development of the child in the future, both physically, psychologically and mentally. Efforts that can be made to maintain household harmony and maintain children's psychological development can be done by parents by building and maintaining small family harmony, by doing positive things together, spending weekends traveling together, being open to one another. So that the household is harmonious and the development and growth experienced by children is good and healthy physically, mentally and in behavior for the future.
Keywords: Affair, Perkembangan Psikologis Anak, Children Abstract
Perkembangan psikologis anak adalah perkembangan yang berkaitan dengan kondisi yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari anak baik di lingkungan pertemanan dan lingkungan masyarakat yang ada di sekitarnya. Banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis anak, diantaranya adalah lingkungan keluarga yang akan menjadi faktor terdekat dalam perkembangan psikologis anak. Karena pada dasarnya keluarga adalah tempat pertama bagi anak untuk bersosialisasi serelah dilahirkan. Keluargalah tempat pertama bagi anak mengenai lingkungan sosial. Jika anak berada dalam keluarga yang harmonis dan Bahagia ia akan mengalami perkembangan psikologis yang baik, ia akan tumbuh menjadi anak yang sehat secara fisik, mental, dan perilakunya. Namun akan berbanding terbalik dengan anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, seperti terjadinya perselingkuhan dari salah satu orang tuanya atau kedua orang tuanya melakukan perselingkuhan. Dari permasalahan tersebut akan memberikan dampak yang luar biasa, baik terhadap diri pelaku perselingkuhan itu sendiri,
terhadap suatu hubungan pernikahan atau tidak mempercayai lawan jenisnya, akan menimbulkan rasa marah dan benci dalam diri anak terhadap orang tua yang melakukan perselingkuhan, akan menimbulkan sikap acuh tak acuh terhadap lingkugannya, anak akan menutup dirinya dari lingkungan, anak akan mengalami stress dan yang paling parah anak akan mengalami depresi. Dari dampak yang didapatkan sang anak itu akan mempengaruhi perkembangan anak kedepanya, baik secara fisik, psikologis dan metal anak.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dan menjaga perkembangan psikologis anak dapat dilakukan oleh orang tua dengan cara membangun dan menjaga keharmonisan keluarga kecil, dengan melakukan hal-hal positif bersama, menghabiskan akhir pekan dengan berpergian bersama, saling terbuka. Agar rumah tangga terjalin harmonis dan perkembangan serta pertumbuhan yang dialami anakpun baik dan sehat secara fisik, mental dan perilakunya untuk masa depannya.
Kata Kunci: Perselingkuhan, Perkembangan Psikologis Anak, Anak.
Pendahluan
Perkembangan psikologis anak merupakan perkembangan yang berkaitan dengan kondisi yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari seorang anak di lingkungannya. Dan perkembangan psikologis seseorang anak juga akan beragam. Setiap anak memiliki perkembangan psikologis yang berbeda-beda. Perkembanga tersebut tidak terbatas pada pertumbuhan fisiknya saja, melainkan terdapat pertumbuhan yang berlangsung secara rohaniah menuju kematangan melalui pertumbuhan yang dialami oleh anak, pematangan anak, serta pembelajaran sang anak (Desmita, 2016).
Faktor yang mampu mempengaruhi keadaan psikis anak diantaranya: faktor internal dan faktor ekternal (Mansur, Saim, & Riyaldi, 2021). Faktor eksternal ini meliputi lingkungan yang ada disekitarnya, baik lingkungan masyarakat, lingkungan pertemanannya, dan lingkungan keluarga.
Yang paling mempengaruhi psikologis anak adalah lingkungan keluarga. Karena keluargalah yang pertama kali menjadi tempat bagi anak dalam bersosialisasi atau lingkungan sosial pertama bagi anak. Dan anak akan memiliki kondisi psikologis yang baik jika seandainya keluarganya harmonis, keluarganya bahagia, dan keluarganya memberikan kenyamanan terhadap dirinya, namun akan berbanding terbalik dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis terjadinya perselingkuhan dalam rumah tangga yang diketahui oleh anak. Hal itu akan menghambat perkembangan psikologis anak secara baik dan akan terganggu dalam perkembangannya. Jika tidak ditangani sejak dini akan berdampak hingga ia tumbuh dewasa.
Dampak yang akan muncul ketika ia dewasa diantaranya ketakutan untuk berumah tangga.
Menurut Syamsuri dan Yitnamurti (2017), salah satu ketidakharmonisan keluarga adalah perselingkuhan. Perselingkuhan adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan, pengkhianatan terhadap suatu hubungan, dan pemutusan kontrak. Faktor penyebabnya antara lain masalah
perkawinan, tujuan perselingkuhan itu, kepribadian pelaku dan psikodinamikanya serta tindakan seksual yang dilakukannya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perselingkuhan yaitu jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, umur, finansial, keyakinan agama, dan budaya. Jenis perselingkuhan bisa emosional, seksual, dan campuran dari emosional dan seksual. Pencegahan yang dapat dilakukan menggunakan kontrol sosial. Dampak dari perselingkuhan di bidang kesehatan adalah penyakit menular seksual misalnya HIV, herpes, klamidia dan hepatitis. Efek psikologis dari masalah ini dapat mempengaruhi pelaku, pasangan, dan bahkan anak-anak.
Akibat perselingkuhan adalah perceraian.
Fenomena perselingkuhan di kalangan masyarakat semakin meningkat seolah sudah menjadi trend atau sudah menjadi suatu hal yang biasa dikehidupan saat ini. Siapapun dapat dengan mudah menemukan dan melakukan kasus perselingkuhan tanpa memandang usia, status sosial, status hubungannya dengan orang lain, tingkat pendidikan dan jenis kelamin.
Perkembangan kasus perselingkuhan merupakan salah satu bentuk disharmoni rumah tangga, karena dalam disharmoni rumah tangga tersebut terdapat pihak-pihak yang merasa lebih lemah sehingga menimbulkan penyakit menular seksual dan perilaku primitif. Pernikahan sejati adalah ikatan suci yang mengikat dua orang bersama melalui janji atau komitmen (Muhajah, 2016).
Fenomena tersebut juga hampir setiap hari muncul di berbagai media berita yang menyampaikan berita hangat mengenai perselingkuhan yang terjadi di kalangan selebritis. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Natalia & Nuzuli (2022) tercatat lebih dari 200 pemberitaan mengenai perselingkuhan sejak 17 Februari-14 Juli 2021 yang terjadi di Indonesia.
Perselingkuhan banyak dilakukan oleh laki-laki, namun bukan berarti seorang perempuan tidak melakukan tindakan tersebut. Dari data yang terdapat (dalam Khasanah, 2019) terlihat untuk akhir-akhir ini sering sekali terjadi perselingkuhan yang dilakukan oleh perempuan, peningkatan kasus perselingkuhan pada perempuan banyak yang terjadi perempuan yang bekerja. Hasil survei Travis dan Sad terhadap wanita menikah di bawah usia 40 tahun menemukan bahwa 27% wanita tidak bekerja atau bekerja paruh waktu sedang menjalin hubungan, dibandingkan dengan 47% perempuan yang bekerja. Pengetahuan tentang banyaknya perselingkuhan yang dilakukan para wanita ini semakin diperjelas oleh hasil studi Majalah Wanita Baru (New Woman) menunjukkan bahwa 57% wanita pekerja menemukan penipu mereka di tempat kerja dan sisanya di luar tempat kerja.
Dari data tersebut bukan berarti hanya perempuan saja yang melakukan perselingkuhan.
Dan banyak juga perselingkuhan yang pelakunya adalah laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian Ramdhani (2019) (dalam Dewanggana & Setyawan, 2021) kepada 57 responden seorang anak yang memiliki orang tua yang berselingkuh, ditemukan ada 57,9% anak yang mengetahui perselingkuhan ayah, ada 12,3% anak yang mengetahui perselingkuhan ibu, dan ada 15,8% anak yang mengetahui perselingkuhan kedua orang tuanya. Ramadhani (2019) (dalam Dewanggana &
Setyawan, 2021) mengatakan bahwa anak tetap akan mengetahui perselingkuhan orang tuanya baik secara ekslusif maupun non ekslusif, meskipun orang tua tidak ada niat untuk melibatkan anak dalam masalah perselingkuhan mereka. Perselingkuhan orang tua kemudian dapat memberikan berbagai dampak pada anak-anak yang mengetahuinya.
Menurut Muhajah, 2016 anak merupakan korban yang paling menderita dari kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh orang tua. Karena seorang anak yang belum bisa memahami kehidupan harus kehilangan kasih sayang dari orang tuanya yang bertengkar karena permasalahan perselingkuhan yang terjadi.
Menurut Hartanti & Salsabila, 2020, bagi seorang anak keluarga merupakan tempat baginya untuk mendapatkan rasa kenyamanan, mendapatkan perhatian, mendapatkan rasa kasih sayang dari kedua orang tuanya serta tempat bagi anak untuk bergantung. Ketika rumah tangga mengalami keretakan yang di akibatkan dari adanya perselingkuhan yang terjadi, maka anak akan mengalami kegangguan dalam perkembangannya menuju remaja apalagi dalam perkembangan psikisnya.
Menurut Dewanggana & Setyawan (2021), perselingkuhan orang tua dapat memberikan akibat atau dampak terhadap anaknya untuk berperilaku yang membahayakan keselamatan maupun kesehatan dirinya seperti melakukan hubungan seksual, mengkonsumsi minuman berakohol, dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Dampak dari perselingkuhan yang dialami oleh anak dapat bergantung kepada gender, usia anak, dan kebudayaan di mana anak tumbuh dan berkembang.
Metode Penelitian
Metode penelitian adalah literatur review. Tinjauan pustaka berisi uraian teori, teori dan bahan penelitian lainnya yang dirangkum dari bahan sumber yang digunakan sebagai dasar kegiatan penelitian ini. Kajian pustaka atau literature review digunakan dalam penelitian ini, yang mengevaluasi konsep dan teori berdasarkan literature pada topik yang diteliti. Dalam penelitian ini Tujuan dari tinjauan pustaka adalah untuk membangun konsep dan teori yang terkandung dalam penelitian. Literatur review adalah sebuah metode untuk meninjau dan mengevaluasi sumber-sumber tulisan yang dimaksudkan guna memahami tren, isu, teori, dan metode yang terkait dengan topik tertentu. Studi Kepustakaan (Library Research). Menurut Mestika Zed (2003), Studi pustaka atau kepustakaan dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Studi kepustakaan juga dapat mempelajari berbeagai buku referensi serta hasil penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti (Sarwono, 2006). Studi kepustkaan juga berarti teknik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan (Nazir, 2003). Sedangkan menurut Sugiyono (2012) studi kepustakaan merupakan kajian teoritis, referensi serta literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan budaya, nilai dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti.
Hasil
Perselingkuhan
Menurut KBBI, Selingkuh diartikan sebagai tingkah laku dan tingkah laku selalu menyembunyikan sesuatu untuk keuntungan pribadi, tidak jujur, berbohong dan curang. Dalam Muhajah, 2016, Perselingkuhan, dalam terminologi, adalah aktivitas seksual dan emosional yang dilakukan oleh orang-orang yang berkomitmen pada hubungan berkomitmen yang dipandang sebagai pelanggaran terhadap keyakinan atau norma yang berkaitan dengan eksklusivitas emosional dan seksual.
Menurut Ismiati (2008) perselingkuhan adalah adanya orang ketiga yang mengganggu kehidupan perkawinan dari dua individu. Bila di antara suami istri tidak bisa mencari solusi dan saling memaafkan, toh perceraian adalah jalan terbaik untuk mengakhiri pernikahan.
Pada dasarnya setiap orang menginginkan kehidupan yang normal. Seseorang secara alami mengikuti aturan di lingkungan sosial, termasuk aturan dalam keluarga, tetapi kehidupan sosial, status, status sosial, dan pengalaman bisa merubah seseorang. Bahkan dalam kehidupan berumah tangga, jika suami setia, keadaan yang awalnya harmonis bisa berubah menjadi konflik dan pergumulan. Kenyataan ini terkadang sulit untuk diatasi (Muhajah, 2016).
Menurut Riyadi & Mansur (2021) Perselingkuhan adalah hubungan terlarang antara orang- orang, baik yang sudah menikah atau belum menikah, dengan orang yang bukan pasangannya.
Pada saat sekarang ini, kata perselingkuhan juga digunakan untuk hubungan yang tidak setia didalam sebuah rumah tangga. Perselingkuhan merupakan aspek dan sumber masalah dalam keluarga. Perselingkuhan adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasangan. Kasus perselingkuhan biasanya ditandai dengan perubahan sikap pasangan. Perubahan sikap yang paling jelas dan umum dalam suatu hubungan adalah kecenderungan untuk merahasiakan sesuatu dari pasangan dan keluarga, berperilaku untuk bertahan dan membohongi pasangan dan keluarga.
Ada begitu banyak masalah di rumah seperti: perselingkuhan, KDRT, perceraian dan banyak lainnya. Masalah yang terjadi didalam rumah tangga tersebut memiliki dampak yang luas, baik terhadap pasangan maupun anak. Menurut Surya, 2009 (dalam Muhajah, 2016) Selingkuh adalah peristiwa yang sangat menyakitkan bagi semua orang yang terlibat, pasangan dan anak-anak tidak hanya menjadi korban atau konsekuensi dari hubungan tersebut, tetapi masyarakat juga mengutuk perbuatan perselingkuhan itu. Kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam bisnis dipenuhi melalui hubungan. Dengan melakukan perselingkuhan akan memberikan anggapan bahwa masalah yang dihadapi akan terselesaikan, tetapi sebenarnya karena perselingkuhan tersebutlah yang merupakan cara yang tidak tepat dan akan menimbulkan permasalahan baru dalam rumah tangga.
Menurut widhayanti & Hendrati (2011) kehidupan pernikahan atau berumah tangga yang bersuasana harmonis dan hangat tentunya menjadi dambaan setiap pasangan suami istri, namun kebahagiaan yang diimpikan tidak serta merta dapat terwujud dan tidak mudah untuk dicapai, karena setiap pernikahan menghadapi berbagai masalah dan cobaan yang dapat menimbulkan konflik. dan masalah antar pasangan. Salah satu konflik ini adalah perselingkuhan.
Islam yang merupakan agama dengan nilai dan aturan hidup yang menyatakan bahwa perselingkuhan adalah suatu keadaan yang tidak diperbolehkan dan suatu perbuatan yang
dilarang keras. Zina adalah dosa dan melanggar norma agama (Muhajah, 2016). Seperti Firman Tuhan Qs. Ayat Al-Isra (32):
ةَش ِّح اَف َن اَك ٗهَّنِّا ىٰۤ ن ِّ زلا اوُب َرْقَت َلَ َو لْيِّبَس َءٓاَس َو ۗ
Yang artinya: “dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.
Hubungan asmara berupa perselingkuhan dianggap zina karena menimbulkan masalah dalam kehidupan keluarga dan menjauhkan terwujudnya keluarga Sakinah, Mawadda, Warahah.
Allah SWT berfirman dalam QS. at-Tahrim ayat 6 yang mengajarkan kita untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksaan Neraka yang sangat pedih.
اَهُّي َاٰۤ ي ةَكِّئٓ لَم اَهْيَلَع ُة َر اَج ِّحْل ا َو ُس اَّنلا اَهُد ْوُق َّو ا ر اَن ْمُكْيِّلْه َا َو ْمُكَسُفْنَا ا ْٰۤوُق ا ْوُنَم ا َنْيِّذَّلا ْمُه َرَمَا ٰۤاَم َ هاللّٰ َن ْوُصْعَي َّلَ د اَدِّش ظ َلِّغ
َن ْو ُرَم ْؤُي اَم َن ْوُلَعْفَي َو Artinya: “wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang suami dan ayah sebagai kepala keluarga wajib menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka (Muhajah, 2016).
Faktor-faktor penyebab terjadinya perselingkuhan dalam rumah tangga
Menurut Surya (dalam Muhajah, 2016) perselingkuhan biasanya terjadi pada anggota keluarga yang kurang kuat sifat religiusnya, lemahnya dasar kasih sayang, komunikasi yang tidak seimbang dan harmonis, sikap egois kedua pasangan, perasaan labil dan tidak mampu beradaptasi dengan hubungan tersebut. Selain itu, faktor dari lingkungan yang kurang menguntungkan dapat mempengaruhi munculnya suatu hubungan perselingkuhan. Misalnya, seorang anak yang tumbuh dalam keluarga berselingkuh biasanya merupakan individu yang belum dewasa (matang) dan ketika ia beranjak dewasa cenderung melakukan hal yang sama, yaitu berselingkuh. Dalam hal membesarkan anak, perselingkuhan adalah lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan anak. Dalam situasi seperti itu, sulit bagi anak untuk menemukan contoh dan pedoman hidup.
Dalam Muhajah, 2016, faktor-faktor terjadinya perselingkuhan antara lain:
1. Adanya peluang dan kesempatan. Ketika seseorang yang tidak mendapatkan atau tidak trepenuhi kebutuhannya dari pasanganya, dia akan mencari cara untuk mendapatkan atau memenuhi hal-hal yang tidak dia peroleh dari pasangannya. Dan ketika ada peluang serta kesempatan yang bisa dia manfaatkan, maka dia akan memanfaatkan peluang dan kesempatan tersebut untuk pemenuhan kebutuhannya tadi.
2. Terjadinya konflik dengan pasangan. Dalam hal membesarkan anak, perselingkuhan adalah lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan anak. Dalam situasi seperti itu, sulit bagi anak untuk menemukan contoh dan pedoman dalam hidup. Seiring berjalannya waktu akan muncul keinginan untuk melampiaskannya atau memenuhinya di luar dan bersama orang lain. Di lingkungan yang modern seperti saat ini, rumah tangga atau pernikahan biasanya dibentuk berdasarkan gengsi, hanya karena keluarga kaya atau kekayaan. Pasangan itu mungkin menyembunyikan masalah atau perselisihan yang muncul dalam rumah tangga mereka, tetapi kedua pasangan mencari pelampiasan nafsu mereka dengan pasangan yang selingkuh.
3. Psikiater mengatakan bahwa banyak terjadi gangguan mental dan saraf yang disebabkan oleh masalah seksual. Gangguan seksual dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit psikosomatis yang berakibat pada gangguan kesehatan fisik. Jadi, kesehatan emosional sangat bergantung pada pengelolaan sisi seksual dengan bijak.
4. Abnormalitas atau animalistis seks. Saat ini video-video porno bisa didapatkan dengan mudah. Banyak suami dengan sembunyi-sembunyi menonton video porno tanpa diketahui oleh istri. Akhirnya seorang suami mendapatkan informasi cara berhubungan seks ala barat yang serba vulgar dan cenderung tidak manusiawi (animalistis). Hal menjadi salah satu abnormalitas seks mengakibatkan ketidakcocokan di tempat tidur. Serta ketidakpuasan pasangan dalam berhubungan seks.
5. Iman Kosong. Kekosongan iman adalah penyebab dari semua perilaku manusia yang jahat. Demikian pula, masalah atau konflik dalam pernikahan adalah tanda-tanda buruknya pembentukan iman. Iman memastikan bahwa seseorang dengan bangga tetap berada di jalan yang benar karena orang beriman merasa bahwa Tuhan memperhatikan semua tindakannya, mencegah orang beriman untuk melakukan zina atau melakukan perbuatan yang mendekati zina.
6. Hilangnya rasa malu pada diri seorang individu. Malu merupakan sebagian dari iman.
Permasalahan yang akan timbul dari sebuah perselingkuhan di dalam rumah tangga yaitu perceraian. Dari perceraian yang terjadi akan berdampak menyakitkan bagi pihak yang terlibat seperti pasangan, keuarga, dan anak. Perceraian juga dapat menyebabkan stres dan trauma bagi individu saat mereka memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Dalam Sarbini dan Wulandari, 2014 Perceraian adalah penyebab stres terbesar kedua setelah kematian pasangan. Pasangan yang bercerai cenderung lebih siap untuk bercerai daripada anak-anak mereka. Karena sebelum pasangan bercerai, biasanya dilakukan pertimbangan Panjang dalam rumah tangga, agar pasangan siap secara lahir batin. Namun tidak dengan anak, mereka harus menerima keputusan orang tuanya tanpa ada pikiran atau bayangan bahwa hidupnya akan berubah.
Menurut Sarbini dan Wulandari (2014) pengaruh yang dirasakan oleh seorang anak secara psikis yang disebabkan oleh orang tuanya yang bercerai, antara lain sebagai berikut:
Merasa tidak aman. Perasaan ini tentang keuangan dan masa depan karena sang anak menganggap masa depan mereka suram. Alasannya, dia tidak lagi mendapat perhatian dari orang tuanya, sehingga saat seorang anak sampai pada masa remaja, anak akan menghiraukan serta tidak peduli dengan keluarganya. Sang anak juga cenderung introvert (menarik diri dari lingkungan sosialnya) baik lingkungan keluarga, masyarakat dan pertemanannya karena ia tidak lagi merasa aman dalam lingkungan sosialnya dan memandang lingkungan tersebut sebagai hal- hal negatif yang dapat mengancam kehidupannya. Oleh karena itu, anak merasa tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, sehingga merasa ditipu dan mengembangkan ide- ide negatif anak tentang lingkungan sekitarnya
Ada perasaan berupa penolakan dalam keluarga. Anak korban perceraian keluarga ditelantarkan oleh keluarganya karena perubahan sikap orang tuanya. Orang tuanya sudah memiliki kekasih baru yaitu ayah tiri atau ibu tiri yang membuat sang anak merasa terlantar dan kehilangan orang tua kandungnya. Keceriannya menghilang dan hanya ada kesedihan dalam dirinya. Seperti yang dikemukan dalam Sarbini dan Wulandari, 2014, perceraian merupakan suatu sebuah proses yang terjadi sebelum pisah dan bisa menjadi pengalaman buruk dan menyedihkan yang menimbulkan stres dan efek psikologis yang buruk pada anak.
Marah. Berkaitan dengan perceraian, anak tidak dapat mengontrol emosinya dengan baik, sehingga anak sering marah tanpa sebab, banyak teman dekat yang menjadi sasaran kemarahannya. Sehingga efek psikologis pada anak menjadi mudah tersinggung dan mudah tersinggung karena emosinya tidak terkendali. Ini karena pengalamannya melihat orang tuanya
sering bertengkar. Itu terjadi ketika orang tua marah di depan anak-anak mereka. Anak melampiaskan amarahnya pada orang lain karena tingkah laku anak mengikuti tingkah laku orang tuanya dan orang yang melihat tingkah laku orang tuanya. Psikis anak tidak hanya terganggu, perilakunya juga berubah. Akibatnya, anak menjadi mudah marah, marah dan tindakannya menjadi agresif, diam atau sembunyi, tidak senang lagi, sakit jiwa dan tidak bergaul. keluar bersama teman-temannya.
Sedih. Seorang anak sedih ketika orang tuanya berpisah atau bercerai, dan mereka merasa kehilangan saat pubertas. Seorang anak yang orang tuanya bercerai akan menunjukkan gejala fisik dan stress akibat perceraian orang tuanya, seperti insomnia (susah tidur), kehilangan nafsu makan, semua karena kesedihan yang mereka rasakan. Karena fase anak usia 6 sampai 17 tahun adalah fase dimana mereka belajar beradaptasi dengan lingkungannya. Namun, perceraian orang tua menimbulkan luka emosional yang menyakitkan bagi sang anak. Kesedihan yang dialami anak-anak mempengaruhi kehidupan mereka di kemudian hari. Kesedihan yang dialami anak mempengaruhi interaksi sosialnya dimana pada masa remaja anak mengalami masa trauma, misalnya bingung (insecure) dengan teman sebayanya atau jenis lainnya.
Kesepian. Tanpa kasih saying dari ke 2 orang tua, seseorang anak niscaya akan merasa kesepian. Seorang anak sangat membutuhkan kasih sayang dan bimbingan dari orang tuanya untuk masa depannya. Misalnya, seorang anak yang baru saja masuk sekolah dasar, biasanya anak akan membutuhkan orang tuanya untuk memberikan bimbingan kepada anaknya dalam menyelesaikan tugasnya. Namun hal ini berbeda dengan anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya yang bercerai, sang anak akan merasa kesepian, walaupun sang anak tersebut diasuh oleh keluarga dari salah satu orang tuanya atau dirawat oleh pihak lain antara ayah atau ibu sebagai orang tua tunggal.
Karakteristik Perselingkuhan
Menurut Widhayanti & Hendrati (2011), perselingkuhan lebih banyak terjadi atau dilakukan oleh laiki-laki atau suami terhadap perempuan atau istrinya. Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh suami yang tidak jujur atau membohongi diri sendiri dan orang lain, perilaku ini terjadi secara diam-diam dalam hubungan dengan wanita lain sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Hal tersebut seperti: hubungan rahasia seseorang
merasa terancam rahasianya dan berusaha membela diri atau bertindak, misalnya dengan mengatakan bahwa pertanyaan pasangan bukanlah interogasi, melainkan interogasi.
Menurut Satiadarma (dalam Muhajah, 2016) pelaku perselingkuhan akan mencoba menghindari hal-hal yang membuatnya mengungkapkan perilakunya. Pelaku selingkuh juga akan menambah kewaspadaan terhadap potensi ancaman, pelaku perselingkuhan membuat skema baru untuk berbohong kepada pasangannya terus-menerus agar pasangannya tidak mengetahui perilakunya tersebut. Dalam Muhajah, 2016 adanya sebuah kerahasiaan yang menegaskan bahwa dalam suatu hubungan terdapat perselingkuhan dan sikap kerahasiaan tersebut memperkuat sikap untuk melanjutkan hubungan perselingkuhan yang dilakukan.
Karakteristik dari perselingkuhan yang dikembangkan oleh Allport (dalam Widhayanti &
Hendrati, 2011) adalah:
1. Seringnya pasangan terlambat berada di rumah Jika pasangan Anda sering pulang larut malam, selalu berikan alasan untuk bekerja lembur.
2. Memberikan alasan “dinas luar”. Sering melakukan perjalanan ke luar kota dengan alasan pekerjaan dan ketika pasangan mau mendampingi atau menemani maka akan timbul penolakkan dengan berbagai macam alasan.
3. Terjadi perubahan sikap pada pasangan. Perubahan sikap pasangan Anda, tiba-tiba menjadi panas atau dingin.
4. Ketika panggilan datang dari seseorang, pasangan berbicara dengan lembut, merasa tegang menjawab panggilan, dan menjauh dari pasangan karena panggilan tidak mau didengar oleh pasangan.
5. Adanya perubahan dalam berhubungan suami istri. Pasangan akan menunjukkan gejala- gejala seksual diluar kontrol.
Perkembangan-perkembangan yang terjadi pada anak
Hurlock (dalam Masganti, 2015) menyatakan terdapat 5 tahap perkembangan anak-anak yang terjadi yaitu:
1. Periode prenatal yaitu periode kehamilan sampai lahir. Saat ibu mengandung, masih berbentuk janin hingga di lahirkan. Periode ini di awali dengan sel sperma yang menempel pada sel telur. Kemudian terus berkembang menjadi janin hingga lahirlah seorang bayi.
2. Masa bayi ini di mulai sejak kelahiran seorang anak pada akhir minggu kedua.
3. Akhir minggu kedua kelahiran. Anak-anak berusia antara 0 dan 3 tahun memiliki perkembangan mental yang sulit dipengaruhi oleh orang dewasa. Pada usia ini anak mengalami kepekaan yang kuat, misalnya ketika melihat sesuatu tergeletak di atas meja, mereka menangis atau mengembalikan benda tersebut ke tempat semula. Selama ini, anak-anak juga mengalami kepekaan yang besar terhadap detail, di mana ia melihat sedetail mungkin apa yang ditempelkannya pada suatu benda, misalnya memegang, mencium, atau menjilat Dalam hal ini anak juga mengalami kepekaan pada tangan dan kakinya, dalam hal ini anak ingin menggunakan tangannya untuk banyak hal.
4. Anak usia dini, yang terjadi ketika anak berusia 2-6 tahun. Dengan anak usia 3-6 tahun, anak dapat dihubungi dan situasi atau lingkungan tertentu dapat mempengaruhinya.
Masa ini ditandai dengan anak yang lebih individual dan memiliki kecerdasan yang cukup untuk bersekolah. Anak seusia ini juga sudah belajar banyak kosakata untuk bisa berbicara dengan lancar.
5. Akhir masa anak-anak yang terjadi saat usia 6 tahun, 10 tahun atau 12 tahunan. Pada usia ini seorang anak sudah mampu berfikir dengan sendiri, bertambah perkembangan dan pertumbuhan fisiknya, dan sudah dapat menilai sesuatu hal.
Moeslichatoen R (dalam Syaodih, 2020) menyebutkan ciri-ciri pertumbuhan kejiwaan seorang anak yaitu:
1. Sudah mulai berkembangnya kemampuan seorang anak untuk memenuhi kebutuhan fisiknya secara sederhana.
2. Mampu mengenal dan mengetahui kehidupan sosial dan pola sosial dominan yang terlihat seperti: suka berteman, taat aturan, tahu hak dan kewajibannya, bisa bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.
3. Mulai mengerti bahwa dia berbeda dengan anak lain.
4. Masih bergantung kepada orang lain serta masih memerlukan perlindungan dan rasa aman serta kasih sayang dari orang lain.
5. Tidak mampu membedakan antara sesuatu yang nyata dengan imajinasi.
6. Mempunyai kemampuan meniru dan mengikuti kesibukan orang dewasa (dalam bentuk atau kegiatan yang sederhana) di sekitarnya melalui kegiatan bermain.
7. Sudah mampu menyelesaikan persoalan atau permasalahan dengan berpikir berdasarkan hal-hal kongkrit.
8. Sudah mampu menyesuaikan respons emosi terhadap peristiwa yang dialami sehingga anak terlatih untuk lebih mengontrol dan mengarahkan ekspresi emosi.
9. Keinginan untuk menggunakan lingkungan fisik dan sosialnya mulai tumbuh, yang ditandai dengan seringnya anak meminta sesuatu kepada orang-orang disekitarnya untuk mendapatkan informasi atau pengalaman.
Perkembangan yang terjadi pada seorang anak (Desmita, 2016) sebagai berikut:
1. Perkembangan kognitif, yaitu perkembangan yang berkaitan dengan beberapa perkembangan lainnya seperti:
a. Perkembangan persepsi. Perkembangan ini berkaitan dengan kemampuan memahami atau mencari makna dari segala sesuatu hal yang diperoleh melalui panca indera.
Semua informasi yang ada atau terjadi di lingkungan itu akan diterima oleh anak.
Informasi itu dimulai dari panca indera, kemudian diterima di otak. Ketika anak yang menjadi korban dari orang tua yang berselingkuh akan menganggap bahwa rumah tangga itu hanya akan menimbulkan masalah saja, seperti kekecewaan terhadap pasangan dan anak akan menganggap bahwa rumah tangga itu tidak menyenangkan.
b. Perkembangan memori. Perkembangan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam menyimpan dan mempertahankan informasi yang diterimanya atau yang didapatnya dari lingkungan. Ketika anak yang menjadi korban dari orang tua yang berselingkuh ia akan mengingat hal yang terjadi pada kedua orang tuanya hingga ia dewasa.
c. Perkembangan atensi. Perkembangan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam perspektif atau langkah bagi anak untuk memproses informasi yang ada atau yang diperolehnya.
d. Perkembangan metakognitif. Lidnillah berpendapat bahwa perkembangan metakognitif merupakan perkembangan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami tentang kognitif dirinya, bagaimana kognitifnya bekerja serta bagaimana mengaturnya.
2. Perkembangan psikososial yaitu perkembangan yag berkaitan dengan beberapa perkembangan yang lainnya seperti:
a. Perkembangan emosi. Perkembangan ini berkaitan dengan reaksi perasaan seorang anak ketika anak sedang berinteraksi dengan orang lain yang ada di sekitar lingkungannya (Mulyani, 2013). Beberapa anak yang menjadi korban perselingkuhan
orang tuanya, akan mudah meluapkan emosi marah kepada orang yang ada di sekitarnya.
b. Perkembangan tempramen. Perkembangan yang berkaitan dengan kemampuan anak dalam melakukan pendekatan dengan orang lain atau memberikan respon terhadap lingkungannya. Ketika seorang anak yang merupakan korban perselingkuhan dari orang tuanya ia akan susah melakukan pendekatan dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Ketika ada orang yang berusaha mendekat kepadanya, sang anak akan mencoba menjauhi orang tersebut, karena dia tidak akan mudah untuk mempercayai orang lain. Sang anak akan susah ketika didekati oleh orang lain.
c. Perkembangan hubungan dengan orang tua. Perkembangan ini berkaitan dengan bagaimana pola asuh orang tua terhadap anaknya. Dari pola asuh yang di terapkan orang tua terhadap anak akan berdampak terhadap hubungan anatara anak dengan orang tuanya. Ketika orang tua berselingkuh anak akan mencoba menutup dirinya karena dia tidak mempercayai orang tuanya.
d. Perkembangan hubungan dengan teman sebaya. Perkembangan ini akan dipengaruhi oleh lingkungan pertemanannya, baik di tempat sekolah maupun di lingkungan rumahnya. Di mana tingkah laku anak akan di pengaruhi oleh lingkungan pertemananya. Dan ketika anak berada di lingkunngan pertemanan yang tidak sesuai dengan dirinya, dia akan mencoba menjauh dna mencari teman lainnya. Ketika anak memiliki masalah keluarga seperti perselingkuhan yang dilakukan oleh orang tuanya, anak akan merasa malu untuk berteman dengan teman-teman sebayanya. Akan muncul rasa takut pada dirinya, takut dijauhi, takut tidak diterima oleh teman- temannya. Ada Sebagian anak yang merupakkan korban dari kasus perselingkuhan orang tuanya memilih untuk tidak memiliki teman.
e. Perkembangan gender. Perkembangan yang berkaitan dengan jenis kelamin. Dimana perkembangan ini dipengaruhi oleh genetik, sosial dan kognitif. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pemahan terhadap anak mengenai gender yang ada di lingkungan, perbedaan anatar gender (Pujisatuti, 2014).
f. Perkembangan moral. Menurut Hurlock (dalam Rakihmawati & Yusmiatinengsih, 2012) perkembangan moral adalah perkembangan perilaku yang sesuai dengan aturan
yang ada di lingkungan sosial, perilaku moral ini dikendalika oleh konsep moral peraturan perilaku kebiasaan bagi individu di suatu budaya.
Dampak perselingkuhan bagi anak
Dampak yang akan terjadi dari perselingkuhan sangat banyak, baik untuk pelaku, pasangannya dan anaknya. Dampak perselingkuhan terhadap anak (Muhajah, 2016) antara lain:
1. Korbandarihubungan perseingkuhanyangterjadi,yangpalingmenderita,adalahsanganak.
Jikaorangtualainberselingkuhsaatanaktersebutdewasa,mungkinadakonsekuensiyang tidak benar-benar memengaruhi anak tersebut. Tapi tidak seperti anak kecil, dampaknya terasa.Halinimembuatsanganakbingung,bimbangdantidaknyamankarenakeluarganya tidakbisalagimemberikancontohyangbaik.Anak-anakdapatmenolakuntukmengkhianati orangtuadankeluargamereka.
2. Kemarahan seoranganak terhadaporang tuanya dapat menimbulkandampaklain,seperti:
pelecehan seksual. Contohnys, seorang anak perempuan yang membenci ayahnya karena telahmenyakitihatiibunya.Seoranganakmungkinmembencisemualaki-lakidankemudian mulai menyukai sesama jenis atau perempuan, atau anak tersebut mungkin tidak ingin menjalinhubungandenganlawanjenis,sepertipacar.B.perkawinan,anaktidakpercayalagi denganperkawinankarenamelihathubungankeduaorangtuanya.
3. Orangtuaadalahpanutanbagianak.Jikaorangtuaberselingkuh,itujelasbukancontohyang baik.Tetapi,anakdapat"meniru"iniselamapernikahan.Akan memungkinkanjugaseorang anakberpikirbahwa“orangtuasayatidakpernahberselingkuh,jaditidakmasalahjikasaya berselingkuh”.
4. Akibat kejadian kedua, anak bisa merasa sangat tertekan, stress, tertekan dan down.
Perasaan tertekan seperti itu dapat menenangkan anak, ia tidak mau bersosialisasi, dan prestasiakademiknyamemburuk
5. Anakyangmenjadikorbanperselingkuhanorangtuanyatidakselamanyadiam,adajugaanak yang memberontak, karena jiwa anak yang masih labil, anak yang stress berat juga bisa menggiringnya ke pergaulan yang buruk. Seperti: seks bebas, narkoba atau bahkan kriminalitas.
6. Trauma dari perselingkuhan yang terjadi atau yang dilakukan oleh orang tua tidak hanya memengaruhiperasaanpasanganyangbarusajabertengkar,tetapijugaanak-anak.Trauma anak bisa berupa ketakutan anak untuk menikah atau menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Green (2015) (dalam Dewanggana & Setyawan, 2021) mengatakan bahwa anak yang mengetahui ayahnya berselingkuh, dikemudian hari dia akan meniru perilaku dari ayahnya. Hal itu disebabkan karena seorang ayah adalah figure pada setiap perilaku anak-anaknya, sehingga hal apapun yang dilakukan oleh seorang ayah akan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan moral dan mental anaknya. Seorang anak akan sangat membutuhkan arahan dari orang tuanya, ketika orang tuanya melakukan perselingkuhan, maka anak akan salah memahami suatu pemahaman moral tentang seksual. Dari tindakan perselingkuhan yang terjadi akan memberikan pengaruh terhadap hubungna anak dengan orang tua yang melakukan perselingkuhan, karena akan timbul rasa marah dan benci dalam diri ana katas tindakan orang tuanya tersebut.
Menurut Hartanti & Salsabila, 2020, dampak antara fisik dan psikis anak akan saling berkaitan karena dengan kondisi pdikis anak yang tidak baik-baik saja seperti strees, depresi yang merupakan sebagai dampak dari perselingkuhan yang dilakukan oleh orang tuanya akan berdampak juga terhadap fisik anak atau pertumbuhan fisik anak. Anak yang terganggu psikisnya seperti stress dan depresi tadi akan malas makan atau hilangnya nafsu makan pada dirinya, itu akan mempengaruhi proses pertumbuhan fisiknya. Anak dapat mengalami kekurang gizi yang diakibatkan tidak terpenuinya gizi anak.
Upaya menanggulangi perselingkuhan
Menurut Muhajah (2016) upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi perselingkuhan dan terganggunya psikologis anak, maka dapat dilakukan upaya pencegahan seperti:
1. Menjaga keharmonisan dalam rumah tangga dengan mencintai dan menyayangi pasangan dan anak, menerima kekurangan pasangan.
2. Tanamkan niat dan tekad dalam diri orang tua untk menjaga keharmonisan rumah tangga, mempertahankan rumah tangga, dan membahagiakan keluarga kecil demi masa depan bersama.
3. Memutuskan perselingkuhan jika sudah terjadi, dan mengingat ada anak dan pasangan.
4. Kesediaan diri untuk berubah sebagi orang tua yang lebih baik lagi untuk anak maupun menjadi pasangan yang lebih baik lagi.
5. Menghindari peluang terjadinya perselingkuhan, bisa dilakukakn dengan sering berlibur diakhir pekan bersama pasangan dan anak.
6. Berada bersama dengan pasangan atau sering pergi pacaran berduaan dengan pasangan, agar hubungan lebih dekat dan terjaga.
7. Membina komunikasi yang baik dalam rumah tangga dengan cara membicarakan segala hal dengan pasangan atau membicarakan kejadian-kejadian yang terjadi di tempat kerja, menceritakan keluh kesah, menceritakan hal apa yang perlu di perbaiki kedepannya dengan pasangan untuk keharmonisan rumah tangga.
Sangat penting peranan orang tua dalam pertumbuhan dan perkembangan serta menjaga psikologis anak, karena itu haruslah siap sebelum menjalankan rumah tangga, mempersiapkan diri secara fisik, mental, finansial dan merasa sudah mampu dalam menjalankan kewajiban sebagai pasangan serta sebagai orang tua bagi anak-anak.
Kesimpulan
Tindakan perselingkuhan di rumah memiliki konsekuensi serius baik itu terhadap pasangan, diri sendiri maupun terhadap anak. Anak juga akan menjadi korban dalam masalah ini. Perselingkuhan akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap anak seperti dampak terhadap psikologisnya.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari adanya perselingkuhan dalam rumah tangga diantaranya:
1. Menjaga keharmonisan dalam berumah tangga dengan berkomunikasi secara baik kepada pasangan, membicarakan hal-hal yang dapat didiskusikan dengan baik kepada pasangan untuk keharmonisan rumah tangga kedepannya dan untuk masa depan anak.
2. Menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan dengan pasangan dan anak untuk mempererat hubungan dengan pasangan dan anak.
3. Mendengarkan keluh kesah pasangan dengan baik dan memberikan pandangan positif terkait masalah yang sedang dihadapi.
4. Dengan mencintai pasangan dan anak, menerima kekurangan pasangan.
Oleh karena itu sangat penting sekali peranan dari orang tua dalam mengasuh, membimbing dan menjaga anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Dan orang tua harus mampu mempertahankan, menjaga dan menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.
Daftar Pustaka
Amrillah, T. (2017). Memahami Psikologi Perkembangann Anak Bagi Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Jurnal An-Nahdhah, 11(2),
Andriani, D. &Rochani, S. (2010). Skema Perselingkuhan dan Intensi Untuk Menikah Pada Wanita Dewasa Muda yang Orang Tuanya Berselingkuh. Jurnal Psikologi, 3(2), 172- 173.
Apriyanto. (2017). Perkembangan Psikologi Anak Akibat Perceraian Orang Tua (Studi Pada Keluarga Yang Bercerai di Perumdan 2 Tanjung Raya Permai Bandar Lampung. Skripsi, 2.
Andriani, D., & Rochani, S. (2010). Skema Perselingkuhan Dalam Pernikahan dan Intensi untuk Menikah Pada Wanita Dewasa Muda yang Orangtuanya Berselingkuh. Jurnal Psikologi Volume 3 No. 2, 175.
Anggraini, A. P. (2018, 01 08). Lifestyle : Mengapa Pasangan yang Harmonis bisa bercerai? Diambil
kembali dari Kompas.com:
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/08/125000720/mengapapasangan-yang- harmonis-bisa-bercerai
Atinkson, R., Atinkson, R., & Hilgard, E. (1983). Pengantar Psikologi Edisi Kedelapan . Diterjemahkan oleh Nurjannah Taufiq, Agus Dharma. Amerika Serikat: Harcourt, Inc.
Bastian, A. (2012). Perselingkuhan sebagai Kenikmatan Menyesatkan. Jurnal Psikologi Perkembangan 8(2):
Desmita. (2016). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Dewanggana, N. K., & Setyawan, I. (2021). “Pengalaman Anak Laki-laki Dengan Ayah Yang Berselingkuh” Intrepretative Phenomenological Analysis. Jurnal Empati, 10(5), 311.
Gifari, A. Selingkuh Nikmat yang Terlaknat. 24-31.
Hartanti, S. S., & Salsabila, V. (2020). Analisis Kondisi Fisik dan Psikis Terhadap Anak Korban Broken Home. Seminar Nasional Edusainsteks. FMIPA UNIMUS 2020: 564.
Ismiati. (2018). Perceraian Orang Tua dan Problem Psikologis Anak. Jurnal At-Taujih Bimbingan dan Konseling Islam, 1(1), 5.
Khasanah, M. (2019). Motif Perselingkuhan Dalam Pernikahan (Studi Kasus Tentang Perselingkuhan Seorang Istri di Desa Kranggan, Kec. Pekuncen, Kab. Banyumas). Skripsi, 3-4.
Lidnillah, D. A. M. Perkembangan Metakognitif dan Pengaruhnya Pada Kemampuan Belajar Anak. 3.
Mansur, M. A, Sair & Riyaldi, S. R. (2021). Faktor Penyebab Perselingkuhan Suami Istri dan Upaya Penangananya di KUA Kecamatan Rupat. XVII(1), 64-65.
Masganti. (2015). Psikologi Perkembangan Anak Jilid 1. Medan: Perdana Publishing.
Muhajarah, K. (2016). Perselingkuhan Suami Terhadap Istri dan Upaya Penanganannya.
Sawwa 12(1), 24-38.
Mulyani, N. (2013). Perkembangan Emosi Sosial Pada Anak Usia Dini. Insania, 18(3), 425.
Natalia, W. K., & Nuzuli, A. K. (2022). Konstruksi Pemberitaan Kasus Perselingkuhan Nissa Sabyan dan Ayus Sabyan di Tribunnews.com. Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(2), 220.
Pujisatuti, T. (2014). Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Identitas Gender Anak. Jurnal Syi’ar 4(10):54-55.
Rakihmawati & Yusmiatinengsih. (2012). Upaya Mneingkatkan Perkembangan Moral Anak Usia Dini Melalui Mendongeng Di TK Dharmawanita. Jurnal Ilmiah, 7(1), 20.
Sarbini, W. & Wulandari, K. (2014). Kondisi Psikologis Anak Dari Keluarga yang Bercerai, Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa.
Satiadarma, M. P. Menyikapi Perselingkuhan: 11.
Surya, M. (2009). Bina Keluarga. Bandung: Graha Ilmu.
Syamsuri, M. V. & Yitnamurti, S. (2017). Perselingkuhan Dalam Sudut Pandang Psikiatri (Infidelity From Psychiatric Perception). Jurnal Psikiatri Surabaya, 52.
Syaodih, E. (2020). Psikologi Perkembangan. 4-5.
Widhayanti, P. Y. & Hendrati, F. (2011). Hubungan Kematangan Pribadi Dengan Perselingkuhan Suami. Jurnal Psikolog