• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Kejahatan dalam Kriminologi

N/A
N/A
Run Rain

Academic year: 2025

Membagikan "Definisi Kejahatan dalam Kriminologi"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Inisiasi Tuton ke – 2

Mata Kuliah : Kriminologi

Program Studi : Ilmu Hukum

Fakultas : HISIP

(2)

Defenisi Kejahatan

1. Sudut pandang yuridis formal

(normatif )

2. Sudut pandang Sosiologis

3. Sudut pandang Psikologi

(3)

Secara yuridis formal:

 Kejahatan adalah perbuatan yang mencakup beberapa unsur, yakni:

1. Perbuatan antisosial yang melanggar hukum pidana / undang-undang pada suatu waktu tertentu.

2. Perbuatan yang dilakukan, baik dengan sengaja maupun tidak dengan sengaja.

3. Perbuatan yang merugikan masyarakat, baik secara ekonomi, fisik, jiwa dan sebagainya.

4. Perbuatan yang diancam dengan hukuman oleh negara.

 H al ini berarti kejahatan merupakan perbuatan manusia yang bertentangan / melanggar kaidah-kaidah hukum (pidana).

 Dengan demikian, setiap perbuatan, terlepas dinilai oleh masyarakat

adalah buruk, jika perbuatan tersebut tidak diatur dan dikategorikan oleh hukum pidana sebagai perbuatan yang dilarang, maka perbuatan tersebut tidak dapat dianggap sebagai suatu kejahatan.

Penjelasa

n

(4)

Sifat khusus yang membedakan hukum pidana dari kumpulan kumpulan norma-norma tentang tingkah laku manusia lainnya, terletak pada:

1. Politically  unsur yang harus ada dalam hukum pidana 2. Spescificity  unsur untuk lebih memperjelas perbedaan

antara hukum pidana dengan hukum sipil.

3. Uniformity / regularity  bahwa untuk memberikan

keadilan, tidak membedakan orang perorangan / proses pelaksanaan hukum akan diselenggarakan dengan tidak

memperhatikan status orang telah melakukan atau dituduh melakukan kejahatan.

4. Penal sanction / Sanksi hukum  unsur yang

menggambarkan bahwa pelanggar hukum akan dihukum atau setidak-tidaknya diancam dengan hukuman oleh negara.

Penjelasa

n

(5)

Sifat khusus yang membedakan hukum pidana dari kumpulan kumpulan norma-norma tentang tingkah laku manusia lainnya, terletak pada:

1. Politically  unsur yang harus ada dalam hukum pidana 2. Spescificity  unsur untuk lebih memperjelas perbedaan

antara hukum pidana dengan hukum sipil.

3. Uniformity / regularity  bahwa untuk memberikan

keadilan, tidak membedakan orang perorangan / proses pelaksanaan hukum akan diselenggarakan dengan tidak

memperhatikan status orang telah melakukan atau dituduh melakukan kejahatan.

4. Penal sanction / Sanksi hukum  unsur yang

menggambarkan bahwa pelanggar hukum akan dihukum atau setidak-tidaknya diancam dengan hukuman oleh negara.

Penjelasa

n

(6)

Pembedaan Kejahatan

Unsur-unsur yang harus ada agar

suatu perilaku dikatakan kejahatan

7. H arus ada hubungan yang ditetapkan UU

6. H arus ada hubungan kasualitas antara kerugian yang dilarang UU dengan

misconduct yang voluntair.

5. H arus ada hubungan kesatuan antara hubungan kejadian di antara mens rea &

conduct

4. Mens rea (maksud jahat) harus ada

3. H arus ada suatu perbuatan nyata dilakukan yang menimbulkan akibat- akibat yang merugikan

2. Kerugian harus dilarang oleh UU &

harus dinyatakan dengan jelas dalam hukum pidana.

1. Kerugian

(7)

Defenisi Kejahatan dari sudut pandang Sosiologi:

 Garofalo (1984), Kejahatan adalah pelanggaran terhadap perasaan- perasaan tentang rasa kasihan dan rasa kejujuran.

 Brown (1990), Kejahatan merupakan suatu pelanggaran terhadap suatu kebiasaan yang mendorong dilaksanakannya sanksi pidana.

 Thomas (1981), Kejahatan merupakan suatu tindakan yang bertentangan dengan rasa solidaritas kelompok di mana si individu dianggap sebagai anggota kelompok sendiri.

Penjelasa

n

(8)

Kejahatan sebagai suatu masalah sosio-legal dapat digolongkan berdasarkan:

1. Berat ringannya (di USA diistilahkan dengan felonies and misdemeanor ). Kejahatan ini tergolong tindak pidana

kejahatan dan tindak pidana pelanggaran.

2. M ereka yang dirugikan, dapat dibagi dalam:

a. Yang merugikan individu

b. Kejahatan terhadap negara, mencakup kejahatan terhadap keagungan (dignity) dan keamanan negara (security )

c. Kejahatan terhadap kesejahteraan sosial (social welfare) 3. Apakah kejahatan tersebut adalah kejahatan yang tradisional

atau merupakan kejahatan bentuk baru (kontemporer ).

Penjelasa

n

(9)

Dengan demikian, dari sudut pandang Sosiologi:

Kejahatan adalah salah satu masalah yang paling gawat dari kondisi disorganisasi sosial, karena penjahat bergerak dalam

aktivitas-aktivitas yang membahayakan bagi dasar-dasar pemerintahan, hukum / UU, ketertiban dan kesejahteraan

sosial,kejahatan merupakan salah satu bagian dari disorganisasi sosial yang perlu mendapat fokus perhatian.

Penjelasa

n

(10)

Kejahatan dari sudut pandang Psikologi:

 Cerminan dari pelaku manusia di dalam masyarakat, berkaitan dengan kegiatan kejiwaan individu yang tidak selaras dengan norma-norma

pergaulan masyarakat

 Kejahatan merupakan perbuatan yang abnormal. Jika dipandang dari

sudut pelakunya, maka penampilan perilaku abnormal ini terjadi karena beberapa kemungkinan, misalnya: karena faktor psikopatologik (perilaku kejahatan pada penderita sakit jiwa/kelainan jiwa karena faktor rendahnya kondisi IQ –nya) dsb.

 Kejahatan juga dapat terjadi karena faktor kegiatan jiwa yang wajar, tetapi lebih cenderung /lebih terdorong untuk menyetujui perbuatan melanggar hukum  biasanya dilakukan oleh penjahat-penjahat profesional.

Penjelasa

n

(11)

1. Legalistik

2. Norma Tingkah Laku 3. Social Harm

4. Pelanggaran Hak Asasi Manusia 5. Deviance dan Social Control 6. Masalah Sosial

7. Dosa atau Jahat 8. Chaos

Beberapa pendekat

an

definision al yang

paling sering ditemui

dalam konteks batasan kriminolo

gi

(12)

The H idden Crimes (Kejahatan

tersembunyi)

 Kejahatan - kejahatan yang tidak dilaporkan atau tidak terungkap di hadapan aparat penegak hukum.

Faktor-faktor yang memungkinkan timbulnya the hidden crimes:

1. Kejahatan pada hakikatnya bersifat pribadi (secret device), akibatnya pelaku akan dengan sungguh-sungguh / dengan sekuat tenaga

merahasiakan perbuatannya, sehingga sukar diketahui orang.

2. Ada juga pihak yang dirugikan yang tidak ingin kejahatan yang menimpanya itu diketahui oleh orang lain / pihak berwajib.

3. Ada perasaan tidak senang untuk melaporkan kejadian kejahatan kepada pihak yang berwajib, karena keengganan menjadi saksi dan bahkan

dicurigai oleh pihak berwajib bahwa dirinya terlibat dengan perbuatan jahat tersebut.

4. Ada pendapat umum yang menyatakan tidak menyukai diberlakukannya aturan-aturan hukum tertentu, seperti larangan bermain judi.

(13)

The H idden Crimes (Kejahatan

tersembunyi)

 Kejahatan - kejahatan yang tidak dilaporkan atau tidak terungkap di hadapan aparat penegak hukum.

Faktor-faktor yang memungkinkan timbulnya the hidden crimes:

5. Berbagai kejahatan yang pada hakikatnya memang berat untuk dapat dilaporkan oleh pelanggarnya sendiri  membawa senjata illegal, dsb.

6. Adanya kondisi kesadaran pelaporan yang tidak stabil atau tidak konstan (fluktuatif), sehingga partisipasi pelaporan oleh masyarakat naik turun.

7. Adanya keengganan dari pihak korban untuk melaporkan kejahatan yang menimpa, karena merasa malu, takut akan ancaman, takut akan balas

dendam dari pelaku, atau adanya hubungan sosial khusus dengan pelaku

 masih saudara, dsb.

lanjutan

Contoh the hidden crimes:

perkosaan

(14)

ARTI & STATUS PEN JAH AT

(15)

PEN JAH AT (CRIM IN AL)

2. Aspek

Intelegentia.

(Vollmer)

1. Aspek Yuridis

6. Aspek Filsafat (Socrates)

5. Aspek Sosial (Mabel Elliot) 4. Aspek

Relegious

(J.E. Sahetapy) 3. Aspek Ekonomi

(Parson)

(16)

PEN JELASAN:

Aspek Yuridis.

Penjahat dalam pengertian Yuridis Orang-orang yang melanggar peraturan atau Undang-undang pidana dan dinyatakan bersalah oleh pengadilan serta dijatuhi hukuman.

Aspek Intelegentia.

M enurut Vollmer sebagai seorang tokoh di bidang kriminologi

mengatakan bahwa penjahat adalah orang yang dilahirkan tolol dan tidak mempunyai kesempatan untuk merubah tingkahlaku karena baginya tidak dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan anti sosial yang merugikan individu.

Aspek Ekonomi

M enurut Parson penjahat adalah orang yang mengancam kehidupan dan kebaikan orang lain dan membebankan kepentingan ekonominya pada masyarakat disekelilingnya.

(17)

PEN JELASAN:

Aspek Relegious.

J.E. Sahetapy menyatakan bahwa penjahat adalah orang-orang yang berkelakuan anti sosial, dimana perbuatannya bertentangan dengan norma- norma kemasyarakatan dan agama serta merugikan dan mengganggu

ketertiban umum.

Aspek Sosial.

Tokohnya M abel Elliot menyatakan penjahat adalah orang-orang yang gagal dalam menyesuaikan diri dengan norma-norma masyarakat, sehingga tingkah lakunya tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat.

Aspek Filsafat.

Socrates mengatakan bahw apenjahat adalah orang-orang yang suka melakukan perbuatan bohong (pembohong)

(18)

Penjahat dalam konteks yang luas tidak hanya mereka yang telah melanggar undang-undang, akan tetapi juga mereka yang bersikap

anti sosial

 Elliot (1952), mengemukakan bahwa tidaklah cukup hanya menentukan bahwa penjahat adalah mereka yang dipidana, bahwa mereka telah

melanggar undang-undang. Perlu ditambahkan suatu ciri-ciri yang khas lain yaitu bahwa penjahat ini adalah mereka yang tidak mau mengakui nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Banyak orang, walaupun berada di luar penjara, tetapi mempunyai ciri-ciri tertentu, misalnya sifat egoistik, yang hanya mementingkan diri sendiri. Falsafah mereka adalah “Apakah keuntungannya untuk saya?”

 Lebih lanjut Elliot mengemukakan: “Orang seperti ini pada dasarnya memang anti-sosial. Orang-orang seperti inilah yang merupakan

“penjahat” yang tidak terhukum, sedangkan para residivis yang tidak tertangkap adalah penjahat yang sebenarnya. Sebab orang-orang

seperti ini yang telah mengatur hidupnya tanpa mengindahkan nilai- nilai sosial”.

Batasan & Ciri Penjahat

(19)

Klasifikasi Penjahat

1. Status sosial pelau kejahatan 2. Tingkat Kerapihan Organisasi 3. Kepentingan pencarian nafkah 4. Aspek kejiwaan pelaku kejahatan 5. Aspek Kebiasaan

6. Aspek tertentu dari sifat perbuatannya

7. Umur dar Pelaku Kejahatan

KLASIF IKAS I PEN JAH AT,

M enurut:

(20)

Penjelasan

1. Klasifikasi penjahat menurut kelas sosialnya, antara lain :

a. White Collar Criminal atau Elite Criminal, yaitu pelaku kejahatan yang

tergolong mempunyai status sosial tinggi dan kedudukan terhormat dalam suatu masyarakat.

o Pada umumnya mereka melakukan kejahatannya dalam rangka pelaksanaan pekerjaannya.

o Para pelaku kejahatan yang mempunyai status sosial yang tinggi ini juga dinamakan the upper class criminal atau penjahat tingkat atas.

b. Lower-class Criminal, yakni para pelaku kejahatan yang tidak mempunyai status sosial tinggi di masyarakat.

o Pada umumnya jenis kejahatan yang dilakukan oleh mereka adalah yang terkait dengan motif ekonomi. 

o Lower-class criminal ini biasanya meliputi kejahatan jalanan (street crimes).

o Kejahatan juga biasanya termasuk jenis kejahatan yang tidak direncanakan atau bersifat spontan.

(21)

Penjelasan

2. Klasifikasi penjahat menurut Tingkat Kerapihan Organisasi

a. Organized Criminals, yaitu para pelaku kejahatan yang tergabung dalam kejahatan terorganisasi. M ereka melakukan tindak kejahatannya dengan menggunakan dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen, seperti

adanya perencanaan, koordinasi, pengarahan, dan pengawasan yang dikendalikan oleh kelompok mereka.

b. N on-Organized Criminals, yakni para pelaku kejahatan yang dalam aktivitasnya bersifat individual dan tidak terorganisasi.

3. Klasifikasi penjahat menurut Kepentingan Pencarian Nafkah a. Professional Criminals, yaitu para pelaku kejahatan yang telah

menjadikan kejahatan sebagai profesinya, sebagai mata pencaharian pokoknya.

b. N on-Professional Criminals, yakni para pelaku kejahatan yang

melakukan kejahatan secara insidental saja. Dengan kata lain, mereka melakukan kejahatan tidak sebagai mata pencaharian tetapi hanya

didorong oleh situasi dan kondisi tertentu pada suatu waktu, tempat, dan keadaan tertentu.

(22)

Penjelasan

4. Klasifikasi penjahat menurut Aspek Kejiwaan Dari Pelaku Kejahatan

a. Episodic Criminals, yakni pelaku kejahatan yang melakukan kejahatannya sebagai akibat dorongan perasaan/emosi yang mendadak tak terkendali. Misalnya, seorang ayah yang

membunuh seorang laki-laki sewaktu ia melihat perempuannya diperkosa oleh laki-laki tersebut.

b. Mentally Abnormal Criminals, yakni pelaku kejahatan yang jiwanya abnormal, misalnya orang yang psikopatis.

c. Non Malicious Criminals, yakni para pelaku kejahatan yang melakukan kejahatan karena menurut keyakinan mereka perbuatan tersebut bukan merupakan kejahatan. Misalnya

seorang pengikut aliran sesat dari kepercayaan tertentu yang melakukan hubungan seks bebas sesama anggota aliran itu

karena mereka percaya bahwa mereka harus saling mengasihi meskipun tidak terikat oleh perkawinan.

(23)

Penjelasan

5. Klasifikasi penjahat menurut Aspek Kebiasaan Dilakukannya Kejahatan:

a. Habitual Criminals, yakni orang yang melakukan kejahatan, baik dalam arti yuridis maupun dalam arti kriminologis, secara terus- menerus sebagai kebiasaan. Misalnya seorang pelacur, pemabok, penjudi, dan sebagainya.

b. Non-Habitual Criminals, yakni para pelaku kejahatan yang melakukan kejahatan bukan karena kebiasaannya tetapi ditentukan oleh kondisi dan situasi tertentu.

(24)

Penjelasan

6. Klasifikasi penjahat menurut Aspek Tertentu Dari Sifat Perbuatannya

a. Casual Offenders, yakni orang-orang yang melanggar ketertiban masyarakat. M isalnya orang yang melanggar jam malam,

mengadakan pesta tanpa ijin dan sebagainya. Sebenarnya perbuatan- perbuatan semacam ini ditinjau dari sudut yuridis bukanlah termasuk sebagai kejahatan.

b. Occasional Criminals, yakni para pelaku kejahatan yang melakukan kejahatan ringan. M isalnya, mengendarai kendaraan bermotor dan menabrak orang yang mengakibatkan luka ringan, atau melanggar lampu lalu lintas.

c. Smuggler, yaitu penyelundup. Penyelundup ialah orang yang

memasukkan atau mengeluarkan sesuatu (biasanya barang, tetapi dapat juga orang/manusia) dari atau ke luar negeri tanpa ijin dari pemerintah/yang berwajib (illegal importer dan Illegal exporter).

(25)

Penjelasan

7. Klasifikasi penjahata menurut Umur Dari Pelaku Kejahatan a. Adult Offenders atau Adult Criminal, yakni para pelaku kejahatan

yang berdasarkan ketentuan hukum dari suatu masyarakat termasuk golongan orang-orang yang telah dikategorikan sebagai orang

dewasa.

b. Juvenile Delinquent atau Juvenile Offenders, yakni para pelaku yang melakukan kejahatan atau perbuatan-perbuatan anti sosial lainnya yang berdasarkan ketentuan hukum dari suatu masyarakat termasuk golongan anak-anak atau remaja.

(26)

SEKIAN &

TERIMA

KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Demikian pula kejahatan dan penjahat dipandang dari sudut Hukum, artinya kejahatan adalah perbuatan. yang dilarang UU pidana, sedangkan penjahat adalah orang yang

Korupsi memiliki dampak yang sangat luar biasa dalam kehidupan, sehingga digolongkan sebagai extra ordinary crime (kejahatan luar biasa).. Untuk

Menurut Sigmund Freud, psikologi kriminal adalah dengan menggunakan teori psikoanalisa menghubungkan antara delinquent (kejahatan) dan perilaku kriminal dengan

Dari sudut pandang hukum pidana internasional, kerangka analisis terkait pertanggungjawaban negara atau pihak non-negara atas kejahatan internasional yang dilakukan oleh

a. Dari sudut pandang yuridis, pasar merupakan tempat atau bursa saham-saham diperjual-belikan. Dari sudut pandang pedagang, dari sudut pandang ini menyatakan

Upaya POLRI dalam menanggulangi kejahatan pencurian pada masa pandemi COVID-19 Yang ditinjau menurut perspektif Kriminologi adalah Kepolisian sebagai pelaksana hukum

Pendekatan yang dipakai dalam aliran ini adalah psikologi yang lebih menekankan, bahwa kejahatan terjadi karena.. perbedaan tingkat

ASPEK KRIMINOLOGI KEJAHATAN KESUSILAAN TERHADAP ANAK PEREMPUAN DI KOTA BATAM Studi Perkara Nomor: 322/Pid.Sus/2021/Pn.Btm PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU