MAKALAH DEGRADASI LAHAN Dalam memenuhi tugas mata kuliah:
Dasar Ilmu Tanah
Disusun Oleh:
Rifka Amalia (2310631090031) Rufi Ana (2310631090036) Syifa Shofiyah (2310631090042)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SINGAPERBAGSA KARAWANG 2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat-Nya yang telah membantu kami menyelesaikan makalah ini yang berjudul “DEGRADASI LAHAN” yang merupakan tugas mata kuliah Dasar Ilmu tanah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Muharam, M.P.
Selaku dosen pengampu mata kuliah Pembelajaran Dasar Ilmu Tanah, dan kepada semua rekan- rekan yang telah berkontribusi dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai Degredasi Lahan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu kami sangat berharap kepada semua pihak agar bisa menyampaikan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan makalah yang kami susun ini. Kami berharap makalah ini bisa bermanfaat dan memperdalam pemahaman pembaca mengenai teori Estimasi Parameter.
Karawang, 16 Mei 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
BAB I...4
PENDAHULUAN...4
1.1 Latar Belakang...4
1.2 Rumusan Masalah...4
1.3 Tujuan...4
BAB II...5
PEMBAHASAN...5
2.1 Definisi Degradasi Lahan...5
2.2 Penyebab Degradasi Lahan...5
2.3 Pengendalian dari Degradasi Lahan...8
BAB III...11
PENUTUP...11
3.1 Kesimpulan...11
3.2 Saran...11
DAFTAR PUSTAKA...12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat berpengaruh untuk membentuk suatu ekosistem yang bisa mempengaruhi dalam suatu aktivitas manusia. Melakukan pendayagunaan pada sumber daya alam melalui eksploitasi, memakai suatu komponen di dalam suatu ekosisten terutama pada lahan, pada akhirnya akan ada perubahan dalam ekosistem tersebut yang berdampak keseluruh jaringan sistem kehidupan.
Salah satu dampak dari penyalahgunaan lahan yaitu Degradasi Lahan, yang merupakan proses kehilangan dan penurunan produktivitas lahan yang sifatnya bisa sementara bahkan tetap.
Lahan terdegradasi ini dimana kemampuan lahan yang menurunnnya status sumber daya alam diakibatkan dari berubahnya kondisi pada tanah, adanya rusak pada sumber mata air dan juga adanya pengurangan keanekaragaaman pada flora atau fauna bahkan terjadi perubahan bentuk pada organisme.
Lahan terdegradasi bukan saja merupakan lahan yang tidak produktif, tetapi juga dapat menjadi sumber bencana, mulai dari kekeringan, banjir, tanah longsor, sampai kebakaran yang bisa berdampak terhadap terjadinya percepatan pemanasan global. Akibat negatif adanya lahan terdegradasi tidak hanya dirasakan di lokasi di mana lahan terdegradasi berada, tetapi menyebar sangat jauh dan luas. Dampak degradasi lahan di kawasan Puncak-Bogor, banjirnya sampai Jakarta, dan efek pemanasan global dirasakan sampai di Eropa (WWF 2008; Arsyad 2010;
Utomo 2012).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu definisi dari Degradasi Lahan?
2. Apa saja penyebab dari Degradasi Lahan?
3. Bagaimana cara pengendalian dari Degradasi lahan?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa itu definisi Degradasi Lahan.
2. Mengetahu apa saja penyebab dari Degradasi lahan.
3. Mengetahui cara pengendalian untuk Degradasi Lahan.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Degradasi Lahan
Degradasi lahan (land degradation) adalah berkurangnya kemampuan lahan untuk menghasilkan manfaat dan keuntungan dari penggunaan lahan tertentu di bawah perlakuan khusus dari pengelolaan lahan kerusakan lahan biasanya menandakan kemunduran kapasitas produksi dari lahan baik secara temporer maupun secara permanen (Talakua dan Osok, 2017). Menurut Wahyunto dan Dariah (2014), degradasi lahan disebabkan oleh tiga aspek yaitu fisik, kimia dan biologi.
Degradasi fisik terjadi dalam bentuk pemadatan, pergerakan, ketidakseimbangan air, terhalangnya aerasi dan drainase, dan kerusakan struktur tanah. Degradasi kimiawi terjadi akibat dari asidifikasi, pengurasan dan pencucian hara, ketidakseimbangan unsur hara dan keracunan, salinisasi dan pemasaman, alkanisasi serta pencemaran. Sedangkan degradasi biologis antara lain disebabkan karena karbon organik tanah, penurunan keanekaragaman hayati tanah dan vegetasi, serta penurunan karbon biomas. Selain itu, Sitorus et al. (2011) mengatakan bahwa degradasi lahan
juga terkait penurunan produktivitas lahan yang sifatnya sementara maupun tetap, yang dicirikan dengan penurunan sifat fisik, kimia dan biologi. Akibat lanjut dari proses degradasi lahan adalah timbulnya areal-ereal yg tidak produktif yang disebut lahan kritis.
2.2 Penyebab Degradasi Lahan
Terjadinya degradasi lahan tentu tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi ada faktor yang menyebabkannya. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari aktivitas manusia, industri, maupun alam. Berikut beberapa dari penyebab degradasi lahan:
A. Erosi
Erosi tanah merupakan penyebab kemerosotan tingkat produktivitas lahan DAS bagian hulu, yang akan berakibat terhadap luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas. Penggunaan lahan diatas daya dukungnya tanpa diimbangi dengan upaya konservasi dan perbaikan kondisi lahan sering akan menyebabkan degradasi lahan Misalnya lahan didaerah hulu dengan lereng curam yang hanya sesuai untuk hutan, apabila mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian tanaman semusim akan rentan terhadap bencana erosi dan atau tanah longsor. Erosi tanah oleh air di Indonesia (daerah tropis), merupakan bentuk degradasi lahan yang sangat dominan.
Erosi tanah merupakan faktor utama penyebab ketidak-berlanjutan kegiatan usahatani di wilayah hulu. Erosi yang intensif di lahan pertanian menyebabkan semakin menurunnya produktivitas usahatani karena hilangnya lapisan tanah bagian atas yang subur dan berakibat tersembul lapisan cadas yang keras. Penurunan produktivitas usahatani secara langsung akan diikuti oleh penurunan pendapatan petani dan kesejahteraan petani. Disamping menyebabkan ketidak- berlanjutan usahatani di wilayah hulu, kegiatan usahatani tersebut juga menyebabkan kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan di wilayah hilir, yang akan menyebabkan ketidak-berlanjutan beberapa kegiatan usaha ekonomi produktif di wilayah hilir akibat terjadinya pengendapan sedimen, kerusakan sarana irigasi, bahaya banjir dimusim penghujan dan kekeringan dimusim kemarau.
B. Pencemaran Agrokimia
Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian dapat disebabkan karena penggunaan agrokimia (pupuk dan pestisida) yang tidak proporsional. Pada tahun enampuluhan terjadilah biorevolusi dibidang pertanian, yang dikenal dengan revolusi hijau dan telah berhasil merubah pola pertanian dunia secara spektakuler, yaitu dengan dikenalkannya penggunaan agrokimia, baik berupa pupuk kimia maupun obat-obatan (insektisida). Memang dengan revolusi hijau tersebut, produksi pangan dunia meningkat dengan tajam, sehingga telah berhasil mengatasi kekhawatiran dunia akan adanya krisis pangan. Namun dampak penggunaan agrokimia mulai dirasakan saat ini. Dampak negatip dari penggunaan agrokimia antara lain berupa
pencemaran air, tanah, dan hasil pertanian, gangguan kesehatan petani, menurunya keanekaragaman hayati, ketidak berdayaan petani dalam pengadaan bibit, pupuk kimia dan dalam menentukan komoditas yang akan ditanam.Penggunaan pestisida yang berlebih dalam kurun yang panjang, akan berdampak pada kehidupan dan keberadaan musuh alami hama dan penyakit, dan juga berdampak pada kehidupan biota tanah. Hal ini menyebabkan terjadinya ledakan hama penyakit dan degradasi biota tanah. Perlu difikirkan pada saat ini residu pestisida akan menjadi faktor penentu daya saing produk-produk pertanian yang akan memasuki pasar global.
C. Pencemaran Industri
Pencemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian dapat juga disebabkan karena kegiatan industri. Pengembangan sektor industri akan berpotensi menimbulkan dampak negatip terhadap lingkungan pertanian kita, dikarenakan adanya limbah cair, gas dan padatan yang asing bagi lingkungan pertanian. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa gas buang seperti belerang dioksida (SO2) akan menyebabkan terjadinya hujan asam dan akan merusak lahan pertanian. Disamping itu, adanya limbah cair dengan kandungan logam berat beracun (Pb, Ni, Cd, Hg) akan menyebabkan degradasi lahan pertanian dan terjadinya pencemaran dakhil. Limbah cair ini apa bila masuk ke badan air pengairan, dampak negatipnya akan meluas sebaranya. Penggalakan terhadap program kalibersih dan langit biru perlu dilakukan, dan penerapan sangsi bagi pengusaha yang mengotori tanah, air dan udara.
D. Pertambangan dan galian C
Usaha pertambangan besar sering dilakukan diatas lahan yang subur atau hutan yang permanen. Dampak negatif pertambangan dapat berupa rusaknya permukaan bekas penambangan yang tidak teratur, hilangnya lapisan tanah yang subur, dan sisa ekstraksi (tailing) yang akan berpengaruh pada reaksi tanah dan komposisi tanah. Sisa ektraksi ini bisa bereaksi sangat asam atau sangat basa, sehingga akan berpengaruh pada degradasi kesuburan tanah.
Semakin meningkatnya kebutuhan akan bahan bangunan terutama batu bata dan genteng, akan menyebabkan kebutuhan tanah galian juga semakin banyak (galian C). Tanah untuk pembuatan batu bata dan genteng lebih cocok pada tanah tanah yang subur yang produktif. Dengan dipicu dari rendahnya tingkat keuntungan berusaha tani dan besarnya resiko kegagalan,menyebabkan lahan- lahan pertanian banyak digunakan untuk pembuatan batu bata, genteng dan tembikar. Penggalian tanah sawah untuk galian C disamping akan merusak tata air pengairan (irigasi dan drainase) juga akan terjadi kehilangan lapisan tanah bagian atas (top soil) yang relatif lebih subur, dan
meninggalkan lapisan tanah bawahan (sub soil) yang kurang subur, sehingga lahan sawah akan menjadi tidak produktif.
E. Alih fungsi lahan
Konversi lahan pertanian yang semakin meningkat akhir-akhir ini merupakan salah satu ancaman terhadap keberlanjutan pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam berusaha tani dan tingkat keuntungan berusahatani relatif rendah. Selain itu, usaha pertanian dihadapkan pada berbagai masalah yang sulit diprediksi dan mahalnya biaya pengendalian seperti cuaca, hama dan penyakit, tidak tersedianya sarana produksi dan pemasaran.
Banyak areal lumbung beras nasional kita yang beralih guna seperti dipantura dan seperti pusat pembangunan di dalam pinggir perkotaan. Daerah pertanian ini umumnya sudah dilengkapi dengan infrastruktur pengairan sehingga berproduksi tinggi. Alih guna lahan sawah ke areal pemukiman dan industri sangat berpengaruh pada ketersedian lahan pertanian, dan ketersediaan pangan serta fungsi lainnya.
2.3 Pengendalian dari Degradasi Lahan A. Konservasi Tanah
Konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan persyaratan yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sifat fisika, kimia tanah dan keadaan topografi lapangan menentukan kemampuan untuk suatu penggunaan dan perlakuan yang diperlukan. Untuk penilaian tanah tersebut dirumuskan dalam sistem klasifikasi kemampuan lahan yang ditujukan untuk; mencegah kerusakan tanah oleh erosi, memperbaiki tanah yang rusak dan memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar dapat dipergunakan secara lestari.
Tindakan konservasi tanah berarti menjaga agar struktur tanah tidak terdispersi, yang dapat dilakukan dengan cara mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan. Beberapa usaha yang dilakukan untuk mengendalikan erosi, yaitu;
a. Menutup tanah dengan tumbuhtumbuhan dan tanaman atau sisa-sisa tanaman, agar tanah terlindung dari daya rusak butir-butir hujan yang jatuh. Butir-butir hujan yang jatuh diusahakan tidak langsung mengenai tanah sehingga tanah tidak terdispersi. Di samping itu dengan adanya tanaman penutup tanah (sisa sisa tanaman yang dapat menutup tanah), akan menghindari butiran tanah untuk ikut terbawa aliran permukaan,
b. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap penghacuran butiran tanah dan terhadap pengangkutan butir tanah oleh aliran permukaan serta memperbesar daya tanah untuk menyerap air di permukaan tanah, dan
c. Mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi ke dalam tanah (Arsyad, 2010).
B. Pemberdayaan Lahan Gambut
Lahan gambut mempunyai multifungsi yakni fungsi hidrologi, produksi, dan ekologi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia (Masganti 2013). Lahan gambut memiliki kemampuan untuk menyimpan air dalam jumlah besar sekaligus melindungi dari banjir. Area ini juga mampu menjaga ketersediaan pasokan air bersih sehingga sangat penting untuk dipertahankan, gambut juga sebenarnya merupakan gudang karbon paling besar yang terbentuk selama ribuan tahun. Lahan gambut yang terdegradasi pada dasarnya adalah lahan yang telah mengalami penurunan ketiga fungsi tersebut akibat aktivitas manusia. Ada lima indikator yang digunakan untuk menilai apakah lahan gambut telah terdegradasi atau tidak, yakni pertama, sudah ada penebangan pohon, kedua ada jalan logging, bekas kebakaran, kondisi laban kering/tidak tergenang, dan adanya bekas penambangan (Wahyunto et al. 2014).
Untuk pemanfaatan gambut buat pertanian hanya bisa pada gambut dangkal yang terletak pada kawasan ekosistem gambut. Pemerintah pusat dan daerah perlu jadikan Peta Fungsi Ekosistem Gambut yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai dasar pemilihan lokasi. Jadi, program ini tak perlu mengorbankan perubahan fungsi ekosistem gambut terlebih pada gambut dalam di fungsi lindung.
C. Pembenahan Tanah
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas lahan yang telah terdegradasi adalah penggunaan pembenah tanah dikombinasi dengan teknik konservasi tanah dan air, pengelolaan bahan organik, system pemupukan berimbang spesifik lokasi berdasarkan hasil uji tanah dan kebutuhan tanaman. Manfaat langsung penggunaan pembenah tanah bagi Pembangunan pertanian adalah memperbaiki/meningkatkan produktivitas lahan kritis, sehingga produksi tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai) dan tanaman lainnya dapat ditingkatkan dan ketergantungan impor komoditas terutama tanaman pangan secara bertahap dapat dikurangi (Prihatini et al. 1987;
Suwardi, 1997a; Al-Jabri, 1990; Rachman et al. 2006).
Arsyad (2000) mengemukakan bahwa konsep penggunaan pembenah tanah untuk merehabilitasi lahan terdegradasi adalah: (1) pemantapan agregat tanah guna mencegah erosi dan pencemaran, (2) merubah sifat hydrophobic atau hydrophilic, sehingga mampu meningkatkan kapasitas tanah menahan air (water holding capacity), (3) meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), sehingga unsur hara dalam tanah tidak mudah tercuci dan dapat diserap akar tanaman.
D. Teknologi Kerapatan Tanaman
Teknologi kerapatan tanaman adalah teknologi yang ramah lingkungan dan bersifat insitu, yang diperlukan untuk mengatasi degradasi lahan dan menciptakan lingkungan berkelanjutan, karena kerapatan tanaman berhubungan dengan erosi dan longsor. Berdasarkan kajian pencegahan degradasi lahan perlu beberapa aspek konservasi tanah yang dapat disarankan dalam rangka peningkatan produktivitas tanah. Seperti pembuatan teras gulud atau bangku dapat digunakan batu sebagai penguat teras. Atau pada wilayah peternakan penguat teras dapat dikembangkan rumput pakan ternak seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), Setaria sp dan Paspalum notatum.
Disamping itu perlu dibuat terjunan air setiap 25meter dan SPA (Saluran Pembuangan Air).
Rorak/slot mulsa pembuatan lubang diantara tanaman tahunan atau pada teras bagian atas yang berfungsi sebagai penyimpan air/resapan air. Disamping itu berfungsi untuk membuang serasah tanaman agar dapat digunakan sebagai mulsa atau pupuk pada tanaman tahunan dan tanaman semusim. Rorak dapat dibuat dekat guludan, selain berfungsi sebagai resapan air juga sebagai penghambat aliran permukaan,
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Degradasi lahan adalah berkurangnya kemampuan lahan untuk menghasilkan manfaat dan keuntungan dari penggunaan lahan tertentu di bawah perlakuan khusus dari pengelolaan lahan.
Degradasi lahan dapat disebabkan oleh tiga aspek, yaitu fisik, kimia, dan biologi. Faktor-faktor yang menyebabkan degradasi lahan antara lain erosi, pencemaran agrokimia, pencemaran industri, pertambangan, dan alih fungsi lahan.
Untuk mengendalikan degradasi lahan, mewujudkan konservasi tanah dan pemberdayaan lahan gambut. Konservasi tanah meliputi penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan perlakuannya sesuai dengan persyaratan yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sementara itu, pemberdayaan lahan gambut meliputi perlindungan fungsi hidrologi, produksi, dan ekologi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia.
3.2 Saran
Perlu dilakukannya pembelajaran lebih lanjut mengenai materi degradasi lahan yang mengkaji mengenai ciri-ciri lahan yang terdegradasi serta pencegahan dan penanganan apabila hal tersebut terjadi dalam bidang pertanian. Bagaimana dampak yang ditimbulkan terhadap tanaman jika menanam pada lahan yang terdegradasi. Kami harap makalah ini dapat menjadi sumber ilmu yang bermanfaat dalam memahami materi dari Mata Kuliah Ilmu Tanah mengenai degradasi lahan dan hubungannya dengan bidang pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
[1] M. A.-J. S. H. Tala’ohu, "MENGATASI DEGRADASI LAHAN MELALUI APLIKASI PEMBENAH TANAH (Kajian Persepsi Petani di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur)," JURNAL ZEOLIT INDONESIA, vol. 7, pp. 22- 34, 2008.
[2] A. D. Wahyunto, "Degradasi Lahan di Indonesia: Kondisi Existing, Karakteristik, dan," Jurnal Sumberdaya Lahan, vol. Vol. 8 , p. No. 2, 2014.
[3] M. R. A. A. K. Rusdi Rusdi, "Degradasi Lahan Akibat Erosi pada Areal Pertanian di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar," Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan, vol. Vol. 2, p. No. 3, 2013.
[4] F. A. H. M. Nursila Amanda, "REVITALISASI DEGREDASI LAHAN GAMBUT PASCA KEBAKARAN HUTAN DI PROVINSI RIAU," pp. 171-177, 2022.
[5] D. Erfandi, "Aspek Konservasi Tanah dalam Mencegah Degradasi Lahan padaLahan Pertanian Berlereng," pp. 125-140, 2016.