• Tidak ada hasil yang ditemukan

Delya Ghiats A 62922016 Journal Reading

N/A
N/A
luthfia ayu

Academic year: 2023

Membagikan "Delya Ghiats A 62922016 Journal Reading"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

JOURNAL READING

Comparative efficacy of azithromycin versus clarithromycin in combination with beta lactams to treat community-acquired pneumonia in hospitalized

patients: a systematic review

Disusun Oleh:

Nama: Delya Ghiats Arnaini NPM : 62922016

Pembimbing:

dr. Agus Sukamto, SpPD Penilai:

dr. Buyung Arief Hamzah, Sp.PD

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RSAU DR ESNAWAN ANTARIKSA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GUNADARMA

PERIODE 04 DESEMBER – 10 FEBRUARI 2023

(2)

REVIEW JURNAL DAN TELAAH JURNAL Tabel 1. Penilaian Journal Reading

FORMULIR JOURNAL READING

Penilai dr. Buyung Arief Hamzah, Sp.PD Tangga

l

Dokter muda Delya Ghiats Arnaini NPM 62922016

Judul artikel Comparative efficacy of azithromycin versus clarithromycin in combination with beta lactams to treat community-acquired pneumonia in hospitalized patients: a systematic review Jurnal Journal of International Medical Research Tabel 2. Aspek Penilaian Journal Reading

No. Aspek Penilaian Bobot Nilai Maksimal Skor

1. Kesesuaian pemilihan jurnal dengan kasus dan kompetensi dokter umum

10% 0-2

2. Penguasaan terhadap isi jurnal 30% 0-6

3. Telaah kritis 60%

a. Validity 0-4

b. Importance 0-4

c. Applicability 0-4

Total 20

Tanda Tangan Penilai

(dr. Buyung Arief Hamzah, Sp.PD)

(3)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Pneumonia atipikal diperkenalkan untuk menggambarkan presentasi klinis yang tidak biasa dari infeksi saluran pernapasan bawah, di mana tidak dikenal organisme penyebab yang spesifik. Istilah ini populer setelah Dr. Hobart Reimann menerbitkan artikelnya pada tahun 1938. Awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang berbeda secara klinis dari manifestasi biasa, tetapi kemudian didefinisikan lebih baik pada tahun 1940-an sebagai entitas klinis yang terpisah, ditandai dengan onset perlahan gejala konstitusional dan pernapasan bersamaan dengan pola radiografi yang tidak biasa.1

Pneumonia atipikal adalah pneumonia yang disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak dapat dideteksi dengan pewarnaan Gram dan tidak dapat dikultur menggunakan metode standar pada umumnya. Mikroorganisme patogen penyebab pneumonia atipikal pada umumnya adalah Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Legionella pneumophila.2,3

B. Epidemiologi

Sekitar 5% hingga lebih dari 20% pasien yang menderita pneumonia atipikal adalah kelompok community-acquired pneumonia (CAP). Angka kejadian infeksi ini pada tahun 2012 bervariasi di negara-negara berpendapatan tinggi, mulai dari 0,02 hingga 4,02 per 100.000 penduduk. Sebuah studi melibatkan 4337 pasien dari 21 negara menemukan bahwa kejadian pneumonia akibat Legionella mencapai 22%. Di Spanyol, studi lain yang melibatkan 3523 pasien selama 12 tahun menemukan bahwa 18% dari pasien dengan patogen teridentifikasi mengidap pneumonia atipikal, menyumbang 7,5% dari total populasi.4

C. Etiologi

Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh organisme patogen, seperti virus, bakteri, atau bakteri atipikal. Organisme patogen dapat masuk ke paru-paru melalui udara, aspirasi, atau gangguan pertahanan tubuh. Pneumonia

(4)

atipikal dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, antara lain Mycoplasma pneumoniae, Legionella sp, Chlamydophila pneumoniae, Coxiella brunette, dan Francisella tularensis.2

D. Patofisiologi

Saluran pernapasan bagian bawah merupakan lingkungan yang tidak steril dan selalu terpapar patogen dari lingkungan. Pada situasi bakteri menyerang parenkim paru pada tingkat alveolar, hal ini dapat menyebabkan pneumonia bakteri.

Respons inflamasi tubuh terhadap invasi bakteri ini memicu sindrom klinis pneumonia. Untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme, sistem pertahanan bekerja sama dalam paru-paru dengan pertahanan mekanis (seperti rambut di hidung dan lendir di nasofaring dan orofaring) dan pertahanan kimia (seperti surfaktan).5,6

Sistem pertahanan paru juga melibatkan sel imun, termasuk makrofag alveolar yang membunuh bakteri. Jika bakteri dapat melewati pertahanan, maka terjadi respon inflamasi yang melepaskan sitokin yang dapat menyebabkan gejala konstitusional, seperti demam. Sitokin ini juga bertanggung jawab atas kebocoran membran alveolar-kapiler yang dapat mengakibatkan sesak napas.

Mikroorganisme atipikal sulit diisolasi dan diobati karena sifat intraselulernya.

Mikroorganisme ini juga dikelompokkan berdasarkan presentasi subakut dan gejala konstitusional yang serupa.5,6

E. Gejala Klinis

Pasien sering kali datang dengan gejala konstitusional yang berlangsung lama.

Meskipun tidak dapat diprediksi secara pasti, secara umum pasien yang mengalami infeksi atipikal akan mengalami gejala secara bertahap dan memiliki tanda-tanda prodromal seperti sakit tenggorokan, sakit kepala, batuk tanpa lendir, dan demam ringan. Pada pemeriksaan terdapat area konsolidasi yang terdeteksi melalui pemeriksaan auskultasi atau radiologis. Selain itu, terdapat juga gejala di luar sistem kardiopulmoner seperti pada infeksi Mycoplasma dapat berupa ruam dan miringitis bulosa, sementara pada infeksi Legionella dapat mengalami masalah pencernaan dan gangguan keseimbangan elektrolit.6

(5)

F. Penatalaksanaan

Antibiotik adalah terapi lini pertama untuk pneumonia. Pemilihan antibiotik yang tepat tidak hanya bergantung pada aktivitas bakterisida atau bakteriostatik in vitro, tetapi juga pada kemampuannya menembus membran sel jaringan.7

(6)

DAFTAR PUSTAKA 1. Dueck NP, Epstein S, Franquet T, Moore CC, Bueno J. Atypical

pneumonia: Definition, causes, and imaging features. Radiographics.

2021;41(3):720-741. doi:10.1148/rg.2021200131

2. Miyashita N. Atypical pneumonia: Pathophysiology, diagnosis, and treatment. Respiratory Investigation. 2022;60(1):56-67.

doi:https://doi.org/10.1016/j.resinv.2021.09.009.

3. Nyoman BI, Putu SP, Bagus SI. Pneumonia Atipikal. In: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI); 2016.

4. Garin N, Marti C, Skali Lami A, Prendki V. Atypical Pathogens in Adult Community-Acquired Pneumonia and Implications for Empiric Antibiotic Treatment: A Narrative Review. Microorganisms. 2022;10(12).

doi:10.3390/microorganisms10122326

5. Sattar SBA, Sharma S. Bacterial Pneumonia. StatPearls Publishing. 2023.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513321/.

(7)

6. Stamm DR, Stankewicz HA. Atypical Bacterial Pneumonia. StatPearls Publishing. 2023. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532239/.

7. Sharma L, Losier A, Tolbert T, Dela Cruz CS, Marion CR. Atypical Pneumonia: Updates on Legionella, Chlamydophila, and Mycoplasma Pneumonia. Clinics in Chest Medicine. 2017;38(1):45-58.

doi:10.1016/j.ccm.2016.11.011

(8)

TELAAH JURNAL

Judul Jurnal : Comparative efficacy of azithromycin versus clarithromycin in combination with beta lactams to treat community-acquired pneumonia in hospitalized patients: a systematic review

Penulis : Jumana Al-Salloum, Syed Wasif Gillani, Rana Kamran Mahmood, Shabaz Mohiuddin Gulam

Publikasi : Journal of International Medical Research 2021 Penelaah : Delya Ghiats Arnaini

Tanggal telaah : 12 Desember 2023

I. Deskripsi Artikel A. Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian adalah untuk mengevaluasi apakah kombinasi azitromisin dan beta-laktam dapat secara efektif dibandingkan kombinasi klaritromisin dan beta-laktam dalam mengobati pasien dengan community- acquired pneumonia.

B. Hasil Penelitian

Tingkat keberhasilan pengobatan untuk kombinasi azitromisin dan beta- laktam setelah 10 sampai 14 hari adalah 87,55% dan untuk kombinasi klaritromisin dan beta-laktam setelah 5 sampai 7 hari terapi adalah 75,42%.

C. Kesimpulan Penelitian

Terapi kombinasi dengan azitromisin menunjukan tingkat keberhasilan klinis yang lebih besar. Namun, pengobatan menggunakan kombinasi klaritromisin dan beta-laktam menghasilkan waktu rawat inap yang lebih singkat. Oleh karena itu, makrolida yang dikombinasikan dengan beta-laktam harus dipilih berdasarkan data kerentanan dari fasilitas perawatan.

(9)

II. Telaah Jurnal

A. Fokus Utama Penelitian

Penelitian ini mengevaluasi apakah kombinasi azitromisin dan beta-laktam dapat secara efektif dibandingkan kombinasi klaritromisin dan beta-laktam dalam mengobati pasien dengan community-acquired pneumonia.

B. Elemen yang Mempengaruhi Tingkat Kepercayaan Suatu Penelitian 1. Gaya Penelitian

a. Sistematika penulisan : 1) Abstract / Abstrak 2) Introduction / Pengantar 3) Method / Metode

4) Result / Hasil 5) Discussion / diskusi 6) Conclusion / Kesimpulan b. Tata Bahasa :

Tata bahasa dan penulisan dalam penelitian cukup baik 2. Penulis :

Jumana Al-Salloum, Syed Wasif Gillani, Rana Kamran Mahmood, Shabaz Mohiuddin Gulam

3. Judul :

a. Kelebihan : Judul singkat, padat, dan jelas. Sudah mencakup inti dari isi penelitian yang dilakukan

b. Kekurangan : Tidak ada kekurangan 4. Abstrak :

a. Kelebihan : Abstrak sudah mencangkup tujuan atau pertanyaan yang ingin dijawab oleh peneliti, metode penelitian/ penulisan, dan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian.

b. Kekurangan : Tidak ada kekurangan

(10)

C. Elemen yang Mempengaruhi Kekuatan Suatu Penelitian 1. Tujuan atau Masalah Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kombinasi azitromisin dan beta-laktam dapat secara efektif dibandingkan kombinasi klaritromisin dan beta-laktam dalam mengobati pasien dengan community-acquired pneumonia.

2. Pertanyaan Penelitian atau Hipotesis

Apakah penggunaan terapi kombinasi azitromisin dan beta-laktam dapat secara efektif dibandingkan kombinasi klaritromisin dan beta-laktam dalam mengobati pasien dengan community-acquired pneumonia?

3. Sasaran

Mengetahui dan mengevaluasi tentang kombinasi azitromisin dan beta- laktam dapat secara efektif dibandingkan kombinasi klaritromisin dan beta-laktam dalam mengobati pasien dengan community-acquired pneumonia.

4. Pertimbangan Etik

Studi ini merupakan review sistematik sehingga persetujuan etik dan consent dari pasien tidak diperlukan.

5. Metode Penelitian

a. Desain Penelitian : Systematic Literature Review

b. Tinjauan sistematis ini dilakukan dengan mencari literatur medis yang diterbitkan pada tahun 2000-2020

c. Literatur yang digunakan berjumlah tujuh uji klinis yang memenuhi kriteria inklusi

d. Data dikumpulkan menggunakan data extraction dan analisis menggunakan metode acak

6. Teknik Penentuan sampel : a. Kriteria Inklusi :

(11)

1) Pasien dengan diagnosis community-acquired pneumonia (CAP) 2) Pasien yang dirawat di rumah sakit

3) Menerima pengobatan dengan kombinasi azitromisin dan beta- laktam atau kombinasi klaritromisin dan beta-laktam

b. Kriteria Eksklusi :

1) Pasien dengan pneumonia yang membutuhkan ventilasi mekanik 2) Pasien yang dirawat secara rawat jalan

7. Variabel Penelitian

a. Variabel Dependen : Efikasi pengobatan pada pasien dengan community-acquired pneumonia (CAP)

b. Variabel Independen : Kombinasi azitromisin dan beta-laktam dan kombinasi klaritromisin dan beta-laktam

8. Hasil dan diskusi a. Seleksi Penelitian

Dari 40 penelitian teridentifikasi dari pencarian utama dan sekunder, ditemukan sebanyak 6 penelitian merupakan duplikat dan 17 penelitian memiliki desain selain randomized controlled trial (RCT). Sehingga dipilih 7 penelitian yang menggunakan desain RCT dengan teks yang lengkap dimasukkan ke dalam telaah jurnal.

(12)

b. Karakteristik Penelitian

Semua penelitian yang disertakan dilakukan antara tahun 2002 dan 2014. Semua penelitian merupakan uji coba multicenter, kecuali penelitian Lin et al. Tiga penelitian berasal dari Amerika Serikat, dan masing-masing satu dari China, Swiss, Belanda, dan Brasil. Setiap penelitian menggunakan kombinasi makrolida dan beta-laktam pada kelompok intervensi, sedangkan pada kelompok pembanding menggunakan fluoroquinolon atau makrolida lain, kecuali jika pembanding penelitian adalah kontrol kelompok. Lama pasien dirawat di rumah sakit dilaporkan dalam lima penelitian, dan tingkat keberhasilan klinis dilaporkan dalam semua penelitian yang disertakan.

c. Pemilihan Beta-Laktam dan Penggunaannya dalam Terapi Kombinasi

Dalam tinjauan sistematis ini, semua penelitian yang disertakan diterbitkan antara tahun 2002 dan 2014. Pasien yang menerima terapi dengan azitromisin menerima dosis 500 mg per hari. Pasien yang menerima terapi dengan klaritromisin diberikan dosis antara 300 mg dan 1000 mg per hari. Dosis klaritromisin yang serupa diberikan melalui rute intravena (IV), dimana rute oral serupa dengan rute IV untuk pasien yang dirawat karena CAP. Azitromisin diberikan secara IV sedangkan klaritromisin diberikan secara oral atau IV. Kombinasi makrolida termasuk dengan inhibitor penisilin-laktamase atau beta- laktam berbasis sefalosporin, dan ceftriaxone.

(13)

d. Tingkat Keberhasilan Klinis

Hasil utama penelitian ini adalah tingkat keberhasilan klinis di antara semua uji coba yang disertakan. Tingkat keberhasilan klinis sebesar 87,55% setelah 10 atau 14 hari diberikan terapi pada penelitian yang menggunakan kombinasi azitromisin dan beta-laktam, sedangkan pada penelitian dengan kombinasi klaritromisin dengan beta-laktam mencapai tingkat keberhasilan sebesar 75,42% setelah 5 atau 7 hari terapi. Lin et al melaporkan tingkat keberhasilan sebesar 77% untuk klaritromisin, dan Rubio et al melaporkan tingkat keberhasilan sebesar 95,5% untuk azitromisin.

Tingkat keberhasilan klinis dalam uji coba kombinasi berbasis makrolida didefinisikan sebagai penyembuhan klinis pada akhir terapi, yaitu hilangnya tanda dan gejala pneumonia termasuk dispnea, batuk, sputum, dan demam. Keberhasilan ini dilaporkan sebagian besar pada pasien dengan skor PSI III atau IV.

(14)

e. Mikroorganisme Penyebab

Lima dari tujuh penelitian meneliti organisme penyebab pada semua pengobatan. Di antara semua organisme, S. pneumoniae umumnya ditemukan di kedua kelompok makrolida, tetapi S. pneumoniae lebih banyak ditemukan pada kelompok klaritromisin-beta-laktam dibandingkan dengan kelompok azitromisin. Pada kelompok azitromisin-beta-laktam, Hemophilus influenzae lebih banyak daripada kelompok klaritromisin-beta-laktam. Namun, kedua regimen memiliki efek membunuh yang sama pada Mycoplasma pneumoniae.

(15)

f. Lama Perawatan di Rumah Sakit

Data untuk lamanya perawatan di rumah sakit diambil dari lima uji klinis. Pasien yang dirawat dengan rejimen azitromisin menghabiskan lebih banyak masa perawatan di rumah sakit dibandingkan dengan pasien yang dirawat dengan rejimen berbasis klaritromisin. Rata-rata lama perawatan di rumah sakit adalah 8,45 pada azitromisin dan 7,25 hari pada klaritromisin.

g. Kualitas Metodologi dan Risiko Bias dalam Studi Individu

Kualitas studi dinilai menggunakan SIGN. Tujuh studi RCT dimasukkan dalam penelitian ini berdasarkan penilaian menggunakan SIGN. Lima studi berkualitas tinggi, dua studi berkualitas sedang, dan tidak ada studi dalam kategori kualitas rendah. Semua reviewer setuju untuk memasukkan tujuh studi ini untuk analisis lebih lanjut. Semua studi yang disertakan adalah uji coba open-label, dan tidak ada pengobatan yang disamarkan. Peserta dalam semua studi diacak ke dalam kelompok pengobatan, kecuali satu studi (Rubio et al) karena tidak ada pembanding yang digunakan. Secara keseluruhan, hasil semua studi secara langsung dapat diterapkan pada kelompok pasien yang menjadi target dalam setiap studi.

D. Penilaian VIA (Validity, Importancy, Applicability)

(16)

1. Validity

a. Was there a well defined and representative sample?

Tidak, sampel yang digunakan tidak mencakup informasi mengenai karakteristik demografis dan klinis pasien (seperti usia, jenis kelamin, komorbiditas, keparahan CAP) secara jelas.

b. Was the outcome objectively measured?

Ya, outcome dari penelitian ini bagus untuk memberikan terapi yang baik. Kombinasi azitromisin dan beta-laktam lebih baik dalam mengobati CAP. Namun, kombinasi klaritromisin dan beta-laktam lebih baik dalam hal lama perawatan pasien di rumah sakit.

c. Was there an adjustment for other co-founders that could have influenced the result?

Ya, hal ini disebabkan dari pendataan tidak lengkap mengenai desain penelitian yang digunakan untuk menentukan apakah terdapat faktor confounding.

2. Importance

a. Is this study important?

Ya, penelitian ini penting karena memberikan bukti yang kuat bahwa kombinasi makrolida dan beta-laktam efektif dalam mengobati CAP.

3. Applicability

a. Are your patient so different frome thos studied that the result may not apply to them?

Ya, penelitian ini bisa digunakan pada pasien setempat

b. Is your environment so different from the in the study that the methods could not be use there?

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dikarenakan pada penelitian ini hanya diambil dari Amerika Serikat, China, Swiss, Belanda, dan Brasil.

E. Kesimpulan

a. Sesuai atau tidak

(17)

Sesuai

b. Dapat digunakan atau tidak Dapat digunakan

Referensi

Dokumen terkait

Wakaf produktif juga dapat didefinisikan yaitu harta yang dapat digunakan untuk kepentingan produksi baik dibidang pertanian, perindustrian, perdagangan dan jasa yang

Petani awalnya memiliki pengetahuan yang minim pada pertanian baik dari segi benih, pupuk maupun obat pemberantas hama yang digunakan, kemudian dengan pelaksanaan program

Skoring Centor modifikasi dapat digunakan sebagai pedoman untuk mendiagnosis faringitis akut SBHGA maupun nonSBHGA secara klinis sehingga dapat mereduksi pemakaian

Sebenarnya hujan asam ialah istilah yang digunakan untuk menggambarkan campuran asam nitrit dan surfit yang turun dari atmosfer ke bumi baik dalam bentuk basah

Suatu teknik yang digunakan untuk menyatakan atau menggambarkan dan menyimpan record-record dalam sebuah file... Secara umum keempat teknik dasar tersebut berbeda

(a) Dalam penggunaan simbol verbal berupa terminologi agama, ada beberapa istilah yang digunakan secara berbeda antara pemain satu dengan lainnya, misalnya:

Prinsip akuntansi adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan akuntansi secara keseluruhan baik itu metode, prosedur, serta ketentuan yang mengandung teori atau pun

MARC authority berbeda dengan MARC bibliografiss, MARC authority dirancang untuk mengarahkan pengguna kepada bentuk atau istilah kendali yang digunakan dalam sistem,