• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deng Xiaoping Dalam Memimpin China

N/A
N/A
Zacky Ilham

Academic year: 2025

Membagikan "Deng Xiaoping Dalam Memimpin China"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

DENG XIAOPING DALAM MEMIMPIN CHINA

Disusun oleh:

Andi Muhammad R. Patarai (E061221073) Edlyn Betylista Syamsudi (E061221049)

Muh. Trizky Zulhijas (E061221093) Putri Rizka Nurwijedah Kadir (E061221034)

Syaza Aulia Marsyanda (E061221052) Safira Nadhila Firdhausa (E061221024)

Zacky Ilham (E061221032) Dosen Pengampu:

Dr. H. Husain Abdullah, M.Si.

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

2023

(2)

a. China periode Deng Xiaoping

Deng Xiaoping lahir pada tanggal 22 Agustus 1904 di Guang’an, Provinsi Sichuan dengan nama Deng Xixian. Keluarganya adalah orang Hakka Sichuan, dengan leluhur yang berasal dari Meixian. Berasal dari keluarga petani kaya, Deng bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok saat menempuh pendidikan sekolah menengah. Ia berkesempatan belajar di Prancis (1920-1924) dan Uni Soviet (1925-1926) serta aktif dalam pergerakan komunis. Ia kembali ke negaranya pada tahun 1926 menjadi pelaksana militer di Soviet Jiangxi, daerah otonomi komunis di barat daya Tiongkok yang didirikan tahun 1931 oleh Mao Zedong.

Deng Xiaoping mengikuti Long March tahun 1934-1935 ketika pasukan komunis di bawah Mao berperang melawan pasukan nasionalis di pihak Chiang Kai-shek. Long March bertujuan ke basis baru di Provinsi Shaanxi, barat laut Tiongkok. Perang dengan Jepang pecah pada tahun 1937 dan Deng menjabat pemimpin Pasukan Revolusioner Tiongkok. Dari tahun 1937 sampai 1945 ia ditunjuk oleh sekretaris Komite Pusat Partai Komunis untuk menjabat petinggi di divisi Tentara Rute Kedelapan. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Deng terlibat dalam perang saudara antara komunis dan nasionalis. Ia menjadi salah satu komandan militer yang berhasil mengalahkan pasukan Chiang Kai-shek di Tiongkok daratan. Pada tahun 1949, ia menjadi salah satu anggota Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok dan Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok pertama.

Deng Xiaoping mengambil alih kepemimpinan tertinggi Cina setelah kematian Mao Zedong pada tahun 1976. Ia menghadapi perlawanan dari faksi-faksi radikal dan konservatif di dalam partai yang ingin melanjutkan garis keras Mao. Ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya dan mengamankan posisinya sebagai "penguasa tertinggi" generasi kedua, Deng dikenal sebagai seorang reformis yang berani mengubah kebijakan ekonomi dan politik Tiongkok. Ia mengkritik kegagalan Revolusi Besar Proletar dan Revolusi Budaya yang dipimpin oleh Mao Zedong. Ia mengusulkan untuk membuka Tiongkok ke dunia luar dan memasukkan unsur-unsur pasar bebas ke dalam sistem sosialis. Ia juga mendukung modernisasi di bidang pertanian, industri, pertahanan, dan sains dan teknologi.

Membangun China merupakan gambaran selama masa jabatan Deng Xiaoping, sepeninggalan Mao China mengalami tahun-tahun beratnya bencana kelaparan serta manajemen ekonomi terpusat yang gagal diwariskan kepada Deng merupakan imbas kebijakan lompatan jauh kedepan

(3)

dan revolusi budaya gagasan Mao yang membayangi. Fokus Deng dalam membangun China lalu mengambil jalan yang berbeda dengan sosialisme terpusat yang mengutamakan pemerataan rakyat selama era Mao, Deng mengutamakan pertumbukan ekonomi guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan rakyat. Deng Xiaoping meluncurkan program reformasi ekonomi dan pembukaan Cina ke dunia luar pada tahun 1978. Ia mengubah sistem ekonomi Cina dari sistem perencanaan sentral (planned sosialism) yang kaku menjadi ekonomi pasar sosialis yang lebih fleksibel dan dinamis. Ia juga memperkenalkan kebijakan "satu negara, dua sistem" untuk menyelesaikan masalah Hong Kong dan Makau. Ia juga memperbaiki hubungan Cina dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat .

Reformasi Deng Xiaoping membawa dampak positif bagi perkembangan ekonomi dan sosial Cina. Cina berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengurangi kemiskinan, memodernisasi sektor-sektor strategis, dan meningkatkan peran Cina di dunia. Cina juga menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, Namun, reformasi Deng Xiaoping yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas di samping persamarataan khas negara sosialis juga menimbulkan PR tersendiri. Cina menghadapi masalah-masalah seperti ketimpangan sosial ekonomi dalam tiga kategori daerah timur, tengah, barat, lalu pencemaran lingkungan, dan ketegangan etnis. Cina juga mengalami krisis politik pada tahun 1989 ketika terjadi demonstrasi pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen selepas kematian sekjen Hu Yaobang dan dilantiknya Zhao Ziyang yang pro-demokrasi berakhir dengan penindakan keras oleh militer. Deng Xiaoping selaku ketua komisi militer bertanggung jawab atas keputusan untuk menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Deng Xiaoping meninggal pada tanggal 19 Februari 1997 di Beijing. Ia dianggap sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah Tiongkok. Ia dihormati sebagai "pemimpin inti" generasi kedua setelah Mao Zedong. Ia juga diakui sebagai "arsitek utama" reformasi dan pembukaan Tiongkok yang membawa negara itu ke arah kemajuan dan kemakmuran.

b. Estafet Kekuasaan

Pada tahun 1949, revolusi komunis memicu perang sipil di Tiongkok antara Kuomintang yang berkuasa dan Partai Komunis Tiongkok. Perang sipil ini pada akhirnya dimenangkan oleh kaum komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong, yang sangat menentukan sistem pemerintahan Tiongkok di era milenium. Kemenangan Mao Zedong mempengaruhi munculnya revolusi

(4)

kebudayaan proletar yang secara konsisten dilakukan untuk menghancurkan segala jenis warisan budaya sejak ribuan tahun yang lalu. Di bawah kepemimpinan Mao Zedong, Tiongkok berusaha menghapuskan budaya tradisional untuk menjadi budaya baru pada poros Marxisme-sosialisme.

Setelah kematian Mao Zedong, Deng Xiaoping melanjutkan kepemimpinan Republik Rakyat Tiongkok.Di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, Tiongkok semakin tegas dalam proses globalisasi budaya. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya intensitas investasi asing di Tiongkok yang ditunjukkan dengan munculnya banyak kios yang memajang simbol-simbol asal Barat.

Selain China, seluruh dunia juga sedang mengalami masa "McDonaldisasi" karena hampir tidak ada negara di dunia yang tidak memiliki McDonald's. Selain itu, Deng Xiaoping juga menindas kelompok yang menentang pemerintahannya. Contoh riil yang nyata adalah tragedi Tiananmen yang terjadi pada tanggal 04 Juni 1989, dimana para kaum intelektual China yang menentang pemerintahan Deng Xiaoping dimusnahkan dalam rangka untuk meredam gerakan reformasi China.

Kemudian, pada tahun 1992, Deng Xiaoping melakukan terobosan dalam menentukan masa depan Tiongkok yang dikenal dengan “perjalanan ke selatan”. Dalam hal ini, Deng berhasil menyerukan kepada rakyat Tiongkok untuk melakukan apa yang disebut “gaige, kaifang” atau

“reformasi dan membuka diri”, agar lawan politiknya tidak bisa berkutik dan Tiongkok terus bergerak maju dengan gemuruhnya globalisasi. Di akhir masa jabatan Mao Zedong, situasi politik di Tiongkok adalah perebutan pengaruh dan dominasi di antara para pemimpin Partai Komunis Tiongkok, terutama di kalangan gang of four, sebuah fraksi yang dipimpin oleh Jiang Qing (istri Mao Zedong) melawan fraksi Deng Xiaoping. Pertarungan politik ini bermula dari gagasan Deng Xiaoping untuk melakukan reformasi ekonomi dan mempertimbangkan kembali “revolusi proletar” yang dianggap gagal memperbaiki infrastruktur ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Tiongkok. Sementara itu, Jiang Qing menilai Deng Xiaoping adalah sosok yang dipengaruhi ideologi pasar bebas atau kapitalisme Barat dan harus disingkirkan dari Partai Komunis China. Persaingan ini meningkat setelah kematian Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai. Namun Deng Xiaoping akhirnya berhasil merebut kekuasaan Partai Komunis Tiongkok dari gang of four setelah Insiden Tiananmen.

Insiden Tiananmen pada tanggal 5 April 1976 merupakan gerakan protes yang dipimpin oleh masyarakat yang tidak puas dengan kebijakan fraksi Jiang Qing yang melarang masyarakat

(5)

berduka atas meninggalnya Perdana Menteri Zhou Enlai karena dianggap sebagai ancaman terhadap kebijakan Revolusi Kebudayaan. Selain itu, kejadian ini juga berdampak signifikan terhadap peningkatan reputasi Deng Xiaoping. Fraksi Jiang Qing percaya bahwa gerakan ini direncanakan dan dipimpin oleh sekutu Zhou Enlai, Deng Xiaoping. Gerakan rakyat ini kemudian dianggap oleh Mao Zedong dan fraksi Jiang Qing sebagai gerakan budaya anti proletar dan kelompok kavaleri kapitalis, sehingga segera dibubarkan dengan cara kekerasan. Namun, setelah kematian Mao Zedong dan jatuhnya kekuasaan gang of four pada Oktober 1976, Deng Xiaoping berhasil merebut kekuasaan. Gerakan ini kemudian dianggap sebagai wujud dari patriotism.

Pengangkatan Deng Xiaoping sebagai pemimpin Republik Rakyat Tiongkok setelah Mao Zedong tentu saja merevisi secara signifikan kebijakan pemerintah Tiongkok, baik dalam maupun luar negeri. Pada masa Mao Zedong terlihat kebijakan-kebijakan yang dilakukannya lebih ditujukan untuk memperkuat rezim komunis guna memperkuat posisi pemerintahannya baik di dalam negeri maupun internasional. Karena alasan ideologis dan geopolitik yang mirip dengan Uni Soviet, Mao Zedong menerapkan strategi bersekutu dengan Uni Soviet pada tahun 1950-an untuk melawan dan menghentikan kelompok kapitalis Amerika dan menganggapnya sebagai musuh.

Namun pada tahun 1969, kebijakan Mao berubah setelah timbul ketegangan di kawasan perbatasan China-Soviet sehingga berujung pada perang kedaulatan antara kedua negara di kawasan sengketa tersebut. Pasalnya, ancaman yang dilancarkan kedua negara adidaya ini sangat membahayakan kedaulatan Tiongkok hingga memaksa pemerintahan Mao Zedong membentuk aliansi dengan Amerika Serikat untuk menghadapi Blok Soviet.

Pada tahun 1980-an, Deng Xiaoping meyakini bahwa masa revolusi dan perang yang selalu dibicarakan Mao Zedong telah berakhir dan berganti pada periode perdamaian dan pembangunan.

Deng berpendapat bahwa Tiongkok perlu mengubah strateginya, yang awalnya berpihak pada salah satu negara adidaya (Amerika Serikat) untuk tidak berpihak pada faktor ideologi apa pun, melainkan menawarkan persahabatan kepada semua negara, termasuk 'Uni Soviet'. Saat ini, Deng Xiaoping mengurangi anggaran militer pemerintah untuk meningkatkan pembangunan dalam negeri dan memperkuat perekonomian Tiongkok. Deng mengajak seluruh negara untuk berinvestasi secara luas di Tiongkok dengan jaminan keamanan dan fasilitas yang memuaskan dari pemerintahannya. Pada tanggal 27 Maret 1993, kepemimpinan pemerintah pusat Tiongkok diserahkan kepada penerus Deng Xiaoping, yaitu Jiang Zemin. Kepemimpinan Jiang menjadi

(6)

terkenal setelah para veteran Partai Komunis Tiongkok menyerahkan jabatan mereka kepada Jiang Zemin karena usianya yang sudah lanjut. Kepemimpinan Presiden Jiang Zemin kemudian berhasil menunjukkan betapa besarnya kebutuhan Tiongkok untuk berintegrasi ke dalam komunitas internasional.

c. Kebijakan era Deng Xiaoping

Pada awal tahun 1990-an, pemimpin Tiongkok saat itu Deng Xiaoping, menetapkan pedoman kebijakan luar negeri Tiongkok, "Tetap rendah hati, lakukan sesuatu" (tao guang yang hui, you suo zuo wei). Sejak peristiwa itu, selama lebih dari satu dekade, kebijakan luar negeri Tiongkok secara umum mengikuti mantra "Tetap rendah hati" yang berkonsentrasi pada penciptaan lingkungan eksternal yang menguntungkan untuk pembangunan ekonomi di dalam negeri. Meskipun sulit untuk mengatakan bahwa kebijakan luar negeri Tiongkok telah mengalami perubahan besar, namun dapat dikatakan bahwa, "Lakukan sesuatu" menjadi bagian yang lebih penting dari kebijakan luar negeri Tiongkok.

Kematian Mao Zedong pada tahun 1976, Deng Xiaoping menjadi pemimpin Tiongkok yang mengeksplorasi "jalur" untuk pembangunan ekonomi "jalur cepat" Tiongkok, dengan merevolusi kebijakan pendahulunya yang mendekati ekonomi internasional kapitalistik. Namun dengan pemerintahan satu partai yang berkelanjutan. Dalam ranah kebijakan luar negeri Tiongkok, ia dengan tepat mengikuti tujuan Mao Zedong untuk mengejar prestise Tiongkok dan membangun kembali keunggulan nasional. Deng muncul sebagai arsitek kebijakan luar negeri Tiongkok yang dirubah selama periode antara 1978 dan 1990. Dia menghentikan dukungan praktis untuk setiap perlengkapan revolusioner di luar negeri dan secara signifikan membatasi bantuan berbagai aspek kepada negara-negara Dunia Ketiga. Dia menjalankan urusan luar negeri dengan cara yang paling matang dan seimbang ketika berhubungan dengan dunia luar; terutama dengan dua negara adidaya dan Barat. Dia memutuskan untuk merenungkan "kebijakan luar negeri yang independen". Fakta ini tidak boleh diabaikan bahwa di bawah kepemimpinan bersejarah Deng, Komunisme di Tiongkok selamat dari keruntuhan rezim Komunis di Eropa Timur yang diawali dengan pembubaran Uni Soviet. Tiongkok berhasil melewati fase puncak Perang Dingin; bahkan muncul sebagai negara adidaya yang baru.

(7)

Deng Xiaoping melakukan beberapa tindakan sebagai bentuk respon dari kekacauan pemerintahan Mao Zedong terutama dari kegagalan revolusi kebudayaan. Tindakan awal yang dilakukan adalah memisahkan partai dari pemerintahan. Hal tersebut dilakukan dengan alasan agar terdapat ruang untuk ekonomi pasar untuk berkembang dan mengurangi campur tangan partai dalam kebijakan pemerintah. Dengan hal tersebut, dilakukan untuk mencapai pemerintahan yang lebih efisien. Pada tahun 1980, Deng Xiaoping mengemukakan alasan pentingnya memisahkan partai dari pemerintah. Deng Xiaoping mengungkapan pentingnya untuk membedakan tanggung jawab partai dan tanggung jawab pemerintah. Dengan adanya pemisahan tersebut, dipercaya akan menciptakan sebuah sistem pemerintahan yang berjalan lebih efisien dan efektif. Partai hanya berfokus pada tugas intinya berupa perumusan kebijakan dan ideologi. Sedangkan pemerintah dapat fokus pada pelaksanaan kebijakan dan memberikan pelayanan kepada rakyat.

Secara lebih lanjut, reformasi pada sistem politik dilakukan untuk memenuhi beberapa tujuan berikut, yaitu: mengurangi pemaksaan politik di seluruh sistem, upaya mengurangi korupsi serta memperkuat elemen rasional/legal, meningkatkan kapasitas pengambilan keputusan, dan memperbaiki serta memperkuat legitimasi;

1. Mengurangi pemaksaan politik pada seluruh sistem

Mengurangi pemaksaan politik pada seluruh sistem diawali dengan pengahapusan label pada sekelompok orang berdasarkan pada kriteria politik yang ada. Hal tersebut dilakukan untuk memulihkan hak dan reputasi negatif yang diterima pada masa revolusi kebudayaan. Label-label sebagai tuan tanah, kapitalis, dan sayap kanan memberikan kesulitan pada kelompok tersebut untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Pemulihan dilakukan dengan rehabilitsasi dan pengembalian kewarganegaraan secara penuh pada kelompok yang mendapat label politik tersebut. Hal itu memuat pada pemulihan anggota partai yang dicap sebagai kontra revolusi pada saat revolusi kebudayaan. Mengurangi pemaksaan politik lainnya terletak pada upaya meningkatkan kebebasan berdiskusi dan berpendapat yang lebih terbuka terutama dalam masalah kebijakan publik. Adanya diskusi dan pertukaran pandangan yang lebih beragam secara terbuka melalui beberapa media dan forum.

(8)

2. Upaya mengurangi korupsi dan memperkuat elemen rasional/legal

Upaya mengurangi korupsi dan memperkuat elemen rasional/legal dilakukan sebagai respon akan kekacauan yang ditinggalkan saat revolusi kebudayaan. Sejak tahun 1978, telah dilakukan sebuah upaya untuk melakukan revalitasi sistem politik dan melakukan perbaikan dalam sistem tata kelola, dan serta memasukkkan individu yang memiliki bakat kedalam kepemimpinan. Hasil utama selaama revolusi kebudayaan adalah bagaimana korupsi yang berdasarkan pada kekuasaan politik menjadi sebuah karakter penting dalam sistem politik Tiongkok. Hal tersebut dapat dilihat dengan semakin banyaknya hubungan patron-klien dan hubungan faksional sebagai sebagai suatu cara utama dalam melakukan kegiatan politik. Korupsi yang makin marak tejadi menimbulkan dampak negatif pada sistem poltik yang ada. Salah satu dampaknya adalah sulit untuk menempatkan individu yang memiliki kualifikasi pada posisi kepemimpinan. Beberapa aturan- aturan resmi memang secara tertulis memiliki kekuatan untuk mengatasi masalah korupsi tersebut, namun dalam pengaplikasiannya terbukti relatif lemah.

Pemerintah Tiongkok melakukan beberarap tindakan untuk mengatasi hal tersebut, yaitu pembentukan sebuah Komisi Inspeksi Disiplin untuk memberantas kasus korupsi yang terjadi dalam partai, perubahan aturan dalam keanggotaan serta pelatihan partai, penjernihan partai, dan melakukan pembaruan proses dalam pemilihan sebuah posisi dalam pemerintahan. Tindakan ini termasuk mengurangi pejabat pemerintah yang memiliki multi fungsi serta melakukan sebuah peremajaan dan adanya tindakan untuk meningkatkan Pendidikan bagi pejabat eksekutif. Tindakan tersebut mencangkup dengan pejabat yang berusia tua dengan pejabat yang lebih muda yang memiliki pendidikan yang lebih baik. Tujuan dari tindakan-tindakan tersebut adalah mengurangi adanya pemusatan kekuatan dan meningkatkan transparasi dalam sistem politik. Seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memenuhi tujuan memperkuat elemen rasional/legal dalam penunjukan personel dan perumusan hasil kebijakan. Seluruh tindakan tersebut dilakukan untuk melakukan perubahan dalam struktur kepemimpinan dan kebijakan Tiongkok, hal tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan dalam mempersiapkan peralihan kemimpinan serta mendorong moderenisasi dengan sumber daya manusia yang berkualifikasi.

3. Meningkatkan Kapasitas Pengambilan Keputusan

Sejak penyataan yang diberikan Deng Xiaoping pada tahun 1978 mengenai “mencari kebenaran dari fakta dan menjadikan praktik sebagai dasar untuk mencari kebenaran”,

(9)

dilakukan untuk meningkatkan pengambilan keputusan yang lebih pragmatis dalam sistem politik. Beberapa tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pengambilan keputusan meliputi:

 Meningkatkan kebebasan berbicara terutama pada pejabat di tingkat yang lebih rendah agar dapat mengemukakan pendapatnya sehingga dapat dicapai pengambilan sebuah keputusan yang lebih pragmatis.

 Pemisahan tanggung jawab secara rasional diantara anggota komite partai dengan pemerintah sehingga tidak ada pemaksaan kepentingan pribadi antar sesame anggota komite.

 Desentralisasi keputusan, pengambilan keputusan tidak lagi bergantung pada pusat, namun kini dapat diambil oleh komite partai dan pemerintah daerah setempat yang lebih mengerti situasi dari daerah tersebut.

 Peningkatan Pendidikan, adanya agen-agen politik yang memiliki pendiidikan yang lebih tinggi diharapkan dapat meningkatkan kualitas dalam pengambilan keputusan.

4. Memperbaiki dan Memperkuat Legitimasi

Upaya untuk mengatasi krisis letimigasi telah dilakukan oleh pemerintah Tiongkok pada akhir tahun 1970-an. Upaya reformasi dilakukan dengan memiliki tujuan untuk mengembalikan dan memperkuat sistem legitimasi sistem politik Tiongkok dengan berbagai Langkah berikut:

 Pemerintah Tiongkok berusaha meningkatan sistem politik berjalan lebih efisien, pragmatis, dan rasional. Upaya tersebut diharapkan akan mendapatkan dukungan dari sebagian masyarakat.

 Pemerintah berupaya mengatasi korupsi untuk meningkatkan kembali tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem birokrasi pemerintah.

 Peningkatan ekonomi dan standar hidup masyarakat merupakan salah satu dasar legitimasi dalam pemerintahan.

Selama perumusan kembali kebijakan luar negeri, Deng Xiaoping secara ketat mengikuti visi Mao Zedong yang menganjurkan adanya hubungan yang kuat antara faktor politik dalam negeri dan pendekatan diplomatik terhadap urusan luar negeri. Melalui fenomena khusus yang meliputi Tiongkok ini, aspirasi kepemimpinan politik yang didominasi oleh pengaruh sejarah dan sosial-

(10)

politik negara; semua yang mengarah pada keputusan kebijakan luar negeri negara tersebut cukup menyoroti keinginan hirarki Tiongkok untuk tetap mengikuti lingkungan yang berubah dengan cepat dalam politik internasional. Sementara itu, pada saat yang sama memastikan pentingnya budaya dan tradisi Tiongkok. Ada desakan yang tak kenal takut di antara para pemimpin Tiongkok di semua tingkatan, bahwa budaya Tiongkok harus diberi prioritas utama sambil membandingkannya dengan budaya asing yang mungkin dimasukkan ke dalam budaya Tiongkok untuk dikesampingkan. Deng Xiaoping menggunakan gagasan ini dan memanfaatkan usahanya untuk menerapkan "Open Door Policy". Tetapi, sementara itu, menekankan kembali adopsi

"Sosialisme dengan karakteristik Tiongkok"; pergeseran dari Maoisme radikal ke bentuk Sosialisme yang lebih moderat. Salah satu aspek terpenting yang harus diberikan kepada Deng Xiaoping adalah sifat-sifat kepribadiannya yang pragmatis dan positif yang membuatnya unggul di bawah lingkungan yang penuh tekanan. Menyadari sensitivitas lingkungan politik dalam negeri Tiongkok ditambah dengan ketajaman ideologis yang dimiliki oleh para pemimpin tingkat menengah dan bawah Partai Komunis Tiongkok.

Sejak saat itu, Tiongkok telah memulai reformasi besar-besaran yang berfokus pada empat sektor utama: pertanian, industri, ilmu pengetahuan serta teknologi, dan pertahanan. Namun, untuk melakukan hal ini pendidikan harus direformasi terlebih dahulu. Sebagai tanggapan, pemerintah Cina menghapuskan wajib kerja setelah sekolah menengah dan membuka kesempatan untuk mengikuti ujian masuk universitas tanpa memandang status sosial. Ini adalah perubahan besar dari era Mao, ketika segala aktivitas yang berhubungan dengan sains dan teknologi dipandang dengan skeptis. Pemerintah Tiongkok menyadari bahwa Tiongkok membutuhkan bakat dan keterampilan, bukan kesetiaan pada partai atau ideologi, untuk maju.

Selama masa kepresidenan Deng, Tiongkok memfokuskan reformasi ekonominya pada sektor pedesaan, karena sebagian besar orang Tiongkok masih tinggal di daerah pedesaan. Tidak mengherankan jika reformasi lahan dipandang sebagai tonggak penting dalam memperbaiki kondisi ekonomi Tiongkok. Reformasi Deng mencakup desentralisasi dan pengenalan mekanisme ekonomi pasar, seperti sistem tanggung jawab rumah tangga, di mana orang bisa mendapatkan uang dari produk yang mereka hasilkan. Kebijakan modernisasi empat sektor Deng berbeda secara signifikan dari pendekatan Mao yang menekankan industrialisasi. Deng dan para pemimpin lainnya menerapkan pendekatan yang lebih seimbang.

(11)

Untuk mencapai tujuan reformasinya di tiga bidang lainnya (industri, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pertahanan nasional), Cina telah menerapkan kebijakan keterbukaan yang cukup 'radikal' terhadap komunitas internasional. Kebijakan ini kemudian dikenal sebagai Kebijakan Pintu Terbuka. Seperti namanya, Cina mulai membuka peluang untuk investasi asing demi keuntungan ekonominya sendiri. Kebijakan pintu terbuka ini memberikan dampak positif bagi Tiongkok, memungkinkan pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi, investasi asing, dan hubungan yang baik dengan negara-negara lain, terutama Barat. Selain itu, kombinasi dari kebijakan pintu terbuka dan reformasi domestik telah mengangkat ratusan juta orang dari kemiskinan dan meningkatkan pendapatan rata-rata dengan cepat. Kebijakan Deng Xiaoping meletakkan dasar bagi kebangkitan Tiongkok di abad ke-21.

Tak hanya itu, Deng juga dikenal karena menormalkan hubungan dengan Barat yang secara eksklusif bergantung pada kebijaksanaannya yang pragmatis. Dia mempertahankan sikap yang seimbang dan menekankan kembali visi Mao Zedong yang mengkonseptualisasikan, "one country and two systems". Dia dengan terampil mengalahkan sentimentalisme nasionalis dengan meyakinkan kembali dominasi "One China Policy", sementara pada saat yang sama, dia secara diplomatis meyakinkan Barat bahwa sistem demokrasi di Taiwan, Hong Kong, dan Makau akan hidup berdampingan dengan sistem sosialis. Dengan kata lain, "Open Door Policy" Deng Xiaoping patut mendapat perhatian khusus yang mengubah negara Tiongkok menjadi salah satu dari dua kekuatan global teratas di dunia; sebuah realitas yang tidak dapat disangkal dalam tatanan internasional yang berlaku. Kebijakan ini terbukti menjadi "pintu gerbang" yang mengarah pada pendekatan kebijakan luar negeri yang seimbang dan diartikulasikan dengan baik berdasarkan keputusan pragmatis, yang mencerminkan perbedaan yang jelas dari antagonisme historis terhadap Barat dan isolasionisme Mao Zedong yang bertujuan untuk memfasilitasi dunia untuk mengakses Tiongkok. Kepemimpinan Tiongkok di bawah Deng Xiaoping mengambil keputusan revolusioner untuk membuang masa lalu dengan memperbaiki hubungan dengan saingan beratnya, yaitu Jepang dan Amerika Serikat, serta menormalkan hubungan yang beraneka ragam dengan dunia Barat, terutama dengan fokus utama pada Uni Soviet dan negara-negara maju di Eropa. Kebijakan ini memainkan peran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam memperkuat pembagian teknologi sehingga mempercepat pengembangan sumber daya manusia melalui usaha pertukaran pelajar.

Cina menunjukkan ketajaman yang luar biasa dalam menghubungkan aspek-aspek politik yang beragam dan aspirasi teknologi-ekonomi dengan tujuan kebijakan luar negeri nasional; sebuah

(12)

keputusan strategis besar yang mengarahkan Cina ke jalur dominasi global yang menandai pergeseran paradigma.

d. Dinamika Ekonomi Baru

Pada bidang perekonomian pergantian tampuk kekuasaan negara dari periode kekuasan Mao kepada kekuasaan Deng Xiaoping dalam pemerintahan negara China mengusung rencana baru yang berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, Kebijakan terkenal tercipta dalam periode ini yang mewakili indentitas perekonomian China yakni “Open Door Policy”. Kebijakan Open Door Policy membuka peluang bagi masuknya investasi swasta terhadap ekonomi China, merupakan bentuk kebijakan luar negeri China untuk dapat mentransformasikan ekonomi China yang semula tertutup dengan kekuasaan diatur pusat (Planned Sosialism) menjadi berorientasi pasar dengan membuka sektor-sektor ekonomi dalam penerimaan modal swasta pada beberapa zona wilayah ekonomi yakni Shenzen, Zhuhai, Shantou, dan Xiamen. Sistem ini menempatkan perlunya pembatasan intervensi pemerintah terhadap beberapa sektor ekonomi belajar dari hasil kurang baik periode Mao Zedong.

Pembukaan keran peluang investasi swasta dalam perekonomian ini direncanakan oleh Deng terhadap rencana pertumbuhan ekonominya yakni empat modernisasi yaitu, bidang pertanian, bidang industri, bidang iptek, dan bidang pertahanan yang menggantikan konsep “revolusi kebudayaan” Mao, empat modernisasi merupakan konsep pribadi Deng pada awal kekuasaannya sebelum diresmikan oleh PKC pada 1978 resmi menggantikan revolusi kebudayaan Mao, bentuk- bentuk implementasi kebijakan ekonomi empat modernisasi adalah:

1. Pemberian hak kepada petani untuk menjual hasil panennya ke pasar bebas setelah memenuhi setoran kewajibannya terhadap negara.

2. Merubah haluan industri China yang semula berpusat pada industri berat menjadi terhadap industri pertanian dan ringan, sasaran utama tetap pada industri berat namun diberlakukan industri tersebut untuk mendukung sektor pertanian.

3. Memberi porsi hak keputusan yang lebih besar kepada pimpinan industri dan organ-organ daerah.

4. Modernisasi iptek dengan perluasan kurikulum belajar dengan penambahan disiplin keilmuan disamping doktrin-doktrin maosisme.

(13)

5. Pembukaan kembali ujian masuk sekola dan perguruan tinggi dengan menghapuskan kebijakan wajib bekerja setelah tamat sekolah era Mao.

6. Penciutan dan modernisasi angkatan bersenjata tiongkok sebagai upaya mengendalian pengeluaran pada anggaran yang berlebihan.

Dalam menjalankan kekuasaan Deng tidak menggenjot cita-cita kesamarataan Mao namun kepada dedikasi pertumbuhan ekonomi China dengan ungkapan terkenalnya “tidak masalah kucing itu hitam atau putih, selama bisa menangkap tikus dia kucing yang hebat” dalam ungkapan terkenal tersebut Deng memperkenalkan konsep “One Country Two System” yang merujuk pada perlunya adopsasi kapitalisme pada sistem ekonomi menanggalkan ekonomi sosialis tunggal saat itu, daerah seperti Hongkong dan Makau yang sudah terlebih dulu bersistem ekonomikan kapitalisme menjadi rujukan membuat program ekonomi, maka dibentuklah Zona Ekonomi Spesial (SEZ) yakni wilayah-wilayah pertama diterapkannya oper door policy pada penanaman investasi swasta yakni daerah provinsi Guangdong dan provinsi Fujian.

e. Kesimpulan

Sebagai Pemimpin tertinggi China setelah era Mao Zedong berakhir, Deng Xiaoping selaku penerus kekusaaan membawakan jalur pemerintahan yang berbeda dalam menggerakkan negara China sejumlah kebijakan berani dilakukan guna menanggulangi warisan pemerintahan Mao Zedong yang menghasilkan tahun-tahun berat bagi China sebab eksekusi yang gagal terhadap rencana pemerintahannya yakni lompatan jauh kedepan dan revolusi kebudayaan. Deng Xiaoping tidak ingin meneruskan ide Mao mengenai kesamarataan sosialis Mao dan lebih memilih mengembangkan pertumbuhan ekonomi China guna meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas rakyat, denngan demikian open door policy, one country two system serta empat modernisasi bidang pertanian, industri, iptek, dan pertahanan dia jalankan selama masa pemerintahannya mengubah negara tirai bambu China menjadi lebih terbuka bagi pihak luar menjalankan apa yang ia yakini sebagai sosialiasme dengan karakteristik China.

f. Pertanyaan dan Jawaban Pertanyaan:

1. Muhammad Raka Abdillah Korompot: Apa yang dimaksud dengan pemimpin tertinggi RRC yang disebutkan sebagai penguasa utama di Negara China? Apakah itu presiden?

(14)

Mengapa Deng Xiaoping yang tidak pernah menjadi presiden dapat menjadi pemimpin tertinggi?

2. Salsabillah Kamaluddin: Bagaimana perubahan kekuasaan selama transisi pemerintahan dari Mao Zedong menuju Deng Xiaoping mempengaruhi ideologi politik rakyat China?

Jawaban:

1. Zacky Ilham: Sebagai Negara yang menjalankan pemerintahan berbasis pada ideologi komunis China menerapkan politik partai tunggal dalam pemerintahannya yakni PKC (Partai Komunis China) lalu secara sistem pemerintahan sebagai negara republik kepala negara dijabat oleh Presiden sedangkan kepala pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri (PM), PM menjalankan urusan dalam negeri China serta memimpin kabinet kementrian yang berjalan sedangkan presiden menjalankan tugasnya sebagai kepala negara dengan menjari juru diplomasi China di dunia internasional (mengurusi hubungan luar negeri), dengan demikian terlihat bahwa kekuasaan terbesar dalam sistem pemerintahan China dimiliki oleh PM sebagai kepala seluruh urusan dalam negeri didukung oleh pernyataan Mao Zedong sendiri yang mengatakan bahwa jabatan preside nada agar China bisa tetap dilihat sebagai kelompok negara republic membuat semakin terasanya Presiden sebagai jabatan untuk keperluan seremonial saja. Namun pernyataan ini tidaklah tepat perlu diingat bahwa China menerapkan sistem partai tunggal yang berarti keseluruhan pejabat dari lingkup paling dasar hingga tertinggi berasal dari partai yang sama yakni PKC (Partai Komunis China) dan dalam jabatan dalam partai ini dikepalai oleh Sekretaris Jenderal yang mengacu pada orang yang menjabat sebagai ketua PKC dan menjadi kepala anggota dalam dewan tujuh orang Politbiro yang hasil rapat mereka menjadi pembuat keputusan tertinggi bagi China, ini membuat setiap keputusan yang dihasilkan dalam rapat Politbiro ditaati oleh keseluruhan instrument dalam PKC termasuk PM China sehingga setiap pekerjaan yang dilakukan dan dihasilkan oleh PM serta jajaran kabinetnya merupakan atas hasil keputusan yang sesuai dengan hasil rapat Politbiro yang diketuai sekjen PKC, hal ini menunjukan sekjen PKC sebagai pemegang kekuasaan yang dominan dalam catur perpolitikan China lalu jika demikian Deng Xiaoping yang notabenenya tidak pernah menjadi baik Sekjen, PM, maupun Presiden dipandang sebagai Pemimpin Tertingi China hal ini adalah karena dia pernah memiliki kekuatan tertinggi atas keseluruhan kekuataan dan pertahanan China,

(15)

Deng dapat mengerahkan senjata nuklir, militer serta polisi secara penuh China melalui jabatan yang dia jabat ini yakni sebagai ketua komisi militer pusat sebuah jabatan dalam PKC yang memiliki kuasa dalam segala urusan yang menyangkut militer dan mempertahankan China, Insiden Tiananmen pada 1989 dapat menjadi referensi untuk menengok bagaimana empat jabatan yang telah dipaparkan dapat memperlihatkan eksistensinya sebagai Pemimpin Tertinggi China, Zhao Ziyang yang saat itu menjabat sebagai PM dan Sekjen PKC didapati condong setuju dengan mahasiswa yang ingin diadopsinya demokrasi pada China tidak dapat berbuat banyak pada pengeluaran darurat militer Deng yang menyebabkan insiden Tiananmen dan langsung diturunkan dari jabatan Sekjen dan PM lalu mendekam di penjara setelahnya, sejak saat ini peraturan baru terlahir mengenai jabatan Ketua komisi militer, Sekjen, dan presiden harus dijabat oleh orang yang sama dan menghasilkan trinitas Pemimpin Tertinggi China yakni dia yang menguasai setiap kekuasaan dalam ketiga jabatan tersebut yakni militer, dalam negeri, dan luar negeri China. Sehingga kesimpulannya Pemimpin Tertinggi China mengacu kepada dia yang dapat mengerahkan pengaruhnya paling besar pada China saat itu ini mengacu pada trinitas jabatan dan pada saat lalu kekuasaan Deng atas keseluruhan militer dan pertahanan menegaskan kekuasaan (ini didukung oleh keputusan Sekjen generasi sebelum Zeng Ziyang yang menyerahkan keputusan kekuasaannya dalam membangun China kepada Deng) yang dominan dalam negara yang otoriter seperti China.

2. Zacky Ilham: Deng pernah menegaskan bahwa secara ekonomi China dapat menggunakan sosialisme maupun kapitalisme tidak ada yang salah untuk digunakan selama untuk kemajuan China guna mencapai cita-cita kesejahteraan bangsa namun dia menegaskan bahwa bidang social politik atau berideologi bagi China hanya satu yakni masyarakat tanpa kelas dalam kesejahteraan kolektif yakni komunisme. Pembukaan peluang pihak swasta dalam ekonomi China semata-mata merupakan keinginan Deng untuk bahwa rakyat China yang berhati merah (komunisme) bukanlah hanya merah saja dan seperti se-ekor bebek yang mengikut gerombolannya dalam tuntunan sang pengembala namun haruslah memiliki kualitas yang menunjukkan bahwa dia berhak atas kehidupan sejahtera yang dia cita-citakan dan secara kolektif hal ini akan membuat kolaborasi masyarakat dalam mewujudkan cita-cita kesejahteraan kebersamaan yang pantas, inilah cita-cita dia yang menyerahkan cita-cita komunis kepada setiap individu untuk ambil bagian dalam setiap langkah mewujudkannya

(16)

sesuai yang mereka mau tidak lagi mengikut saja, dari planned socialism menjadi socialism market. Artinya tidak terjadi perubahan secara politik selama peralihan kekuasaan sebab masyarakat tetap menjalankan komunisme mereka hanya belajar untuk menjadi seorang merah yang berkapasitas untuk dapat menjalankan usaha kesejahteraan mereka itu merupakan hal yang harus diupayakan oleh diri mereka sendiri.

Referensi

Absor, N. Wahyudin. Hidayat, A. Permana, R. (2022). Kebangkitan Tiongkok Sebagai Raksasa Baru Dunia Tahun 1976-2013. Universitas Indraprasta PGRI. Jakarta

Dani, F. Kumajaya. 2017. Lompatan Strategis China Dalam Komunikasi Global.Yogyakarta:

Samudra Biru

Kirshner, J. (2012). The Tragedy of Offensive Realism: Classical Realism and the Rise of China. European Journal of International Relations. European Journal of

International Relations, 18(1), 53-75.

Lieberthal, K. (1984). China’s Political Reforms: A Net Assessment. The Annals of The American Academy of Political an Social Science, 476.

Pradana, M. (2022). Politik Luar Negeri Tiongkok Sejak Tahun 1978: Transisi, Rebalancing dan Aktivisme. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Jakarta

Raza, A. (2023). Foreign Policy of China in the 21st Century – A Descriptive Study on Its Evolution. The Chinese Journal of International Politics, 7-8.

Wibawa, A. Arisanto, P. (2019). Upaya Tiongkok dalam Mengatasi Ketimpangan Pembangunan Antardaerah pada Masa Kepemimpinan Jiang Zemin dan Hu Jintao. Universitas Teknologi Yogyakarta. Yogyakarta

Yongnian, Z. (1999). Political Incrementalism: Political Lessons from China’s 20 Years of Reform. Third World Quaterly, 20(6).

Referensi

Dokumen terkait

Alasan utama saya dalam membahas sistem perpolitikan Antara China dengan Jepang adalah: China mengalami masa politik serta sejarah yang paling lama dibandingkan

Bab 2 terdiri dari biografi Khairuddin At-Tunisi dan latar sejarah saat Khairuddin hidup yang meliputi masa muda, pendidikan dan karir politiknya serta kondisi sosial dan

Dokumen ini membahas tentang sejarah dan perkembangan media sosial di masa

Dokumen ini membahas tentang Anggur Longyan, jenis anggur putih yang banyak dibudidayakan di China untuk pembuatan minuman wine atau

Dokumen ini membahas tentang sejarah Indonesia dari masa kemerdekaan hingga masa

Dokumen ini membahas sejarah perkembangan Al-Quran dari masa pewahayan hingga masa

Dokumen ini membahas tentang sejarah Dinasti Abbasiyah dan peran pendidikan pada masa kejayaan