• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia

N/A
N/A
moh dede

Academic year: 2024

Membagikan "Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia - Titi Surti Nastiti

DEWI SRI DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT INDONESIA Goddess Sri in Indonesian Society Belief

Titi Surti Nastiti

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Jl. Raya Condet Pejaten No. 4 Pasar Minggu Jakarta Selatan [email protected]

Naskah diterima: 20/05/2020; direvisi: 03/06/2020;

disetujui: 03/06/2020; publikasi ejurnal: 26/06/2020

Abstract

In Hinduism, Goddess Sri is known as the wife of Lord Vishnu. There were found several statues made from stone and bronze called “Dewi Sri” (Goddess Sri) in Indonesia. Judging from the hand positions and attributes of the statue of Goddess Sri found in Indonesia, iconographically they are different from Goddess Sri statue found in India. The assumption is that the depiction of Dewi Sri in Indonesia has always been related as the Goddess of Fertility or the Goddess of Rice. Paying homage to the Goddess of Rice or the Goddess of Fertility had already existed before Hindu-Buddhist influences came to the archipelago.

Therefore, when the siplin (statue maker) depicting Goddess Sri as the Goddess of Rice, the siplin has a different concept from Goddes Sri as the wife of Lord Vishnu, although Goddess Sri as the Goddess of Rice is also believed to be the wife of Lord Vishnu. The depiction of Goddess Sri is inseparable from the concept of her as the Goddess of Rice that has been worshipped from the Prehistoric Period, therefore Goddess Sri has a distinctive attribute that depicts this, which is her left hand holding a sprig of rice. The purpose of writing this paper is to find out the description of Goddess Sri as the Goddess of Rice in the beliefs of Indonesian society and its tradition up to now. This paper used a qualitative and analytical descriptive method, while to describe the statue iconographic analysis is used. From the result of this study, it can be described how the belief of Goddess Sri in the Indonesian Society as a Goddess of Rice which is very closely related to fertility plays an important role in agriculture.

Keywords: Goddes Śrī, Indonesian society, Hindu-Buddhist iconography Abstrak

Dewi Sri dalam agama Hindu, dikenal sebagai istri Dewa Wisnu. Arca “Dewi Sri” baik berbahan batu maupun perunggu ditemukan di beberapa tempat di Indonesia. Berdasarkan sikap tangan dan atribut arca Dewi Sri yang ada di Indonesia, secara ikonografis berbeda dengan arca Dewi Sri dari India. Asumsinya adalah karena penggambaran Dewi Sri di Indonesia dikaitkan dengan Dewi Kesuburan atau Dewi Padi. Penghormatan kepada Dewi Kesuburan atau Dewi Padi sudah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha datang ke Nusantara.

Pembuat arca dalam menggambarkan Dewi Sri sebagai Dewi Padi mempunyai konsep yang berbeda dengan Dewi Sri sebagai istri Wisnu, meskipun Dewi Sri sebagai Dewi Padi ini dipercaya sebagai istri Wisnu. Penggambaran Dewi Sri tidak terlepas dari konsep Dewi Padi yang telah dipuja dari Masa Prasejarah, sehingga Dewi Sri mempunyai atribut yang khas yaitu tangan kirinya memegang setangkai padi. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui penggambaran Dewi Sri dalam kepercayaan masyarakat Indonesia dan tradisinya sampai saat ini. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dan deskriptif analitis, sedangkan untuk mendeskripsikan arca dipakai analisis ikonografi. Hasil penelitian ini dapat digambarkan bagaimana kepercayaan Dewi Sri dalam masyarakat Indonesia sebagai Dewi Padi yang sangat erat kaitannya dengan kesuburan memegang peranan penting dalam pertanian.

Kata Kunci: Dewi Sri, masyarakat Indonesia, ikonografi Hindu-Buddha

(2)

2 Tumotowa Volume 3 No. 1, Juni 2020: 1 - 12

PENDAHULUAN

Kata Sri diambil dari bahasa Sansekrta śrī yang artinya kesuburan (prosperity), kekayaan (welfare), keberuntungan (good fortune), kesehatan (wealth), keindahan (beauty), personifikasi (personification) (Liebert, 1976).

Śrī dalam bahasa Sanskerta dipakai juga sebagai awalan dalam menyebut nama orang terhormat atau orang suci, misalnya Śrī Krisna. Kata Sri sebagai awalan untuk menyebut nama orang terhormat juga dikenal dalam Bahasa Indonesia, misalnya Sri Baginda, Sri Rama, dan lain-lain.

Dewi Sri di Indonesia dihubungkan dengan mitos tentang asal muasal tumbuhan, terutama padi. Mitos ini berasal dari beberapa daerah Indonesia, dan ceritanya hampir sama, yaitu tentang tumbuhan yang berasal dari tubuh seorang wanita. Mitos ini berhubungan dengan pemujaan kesuburan, terutama pada masyarakat berbudaya agraris di seluruh dunia yang sudah sangat tua usianya. Padi merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting yang diperkirakan berasal dari India atau Indocina sekitar 1500 SM (Shadily, 1984). Mitos mengenai padi, di Jawa dan Bali pada umumnya dihubungkan dengan Dewi Sri. Dewi Sri yang dikenal sebagai dewi padi ini menjadi dewi yang sangat dipuja dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali. Tokoh Dewi Sri dikenal dalam berbagai cerita pada ketiga masyarakat tersebut yang dihubungkan dengan asal muasal padi.

Cerita Dewi Sri tertua terdapat dalam teks Tantu Panggelaran. Teks itu mengisahkan tentang keadaan Pulau Jawa ketika baru diciptakan. Dewa-dewa turun ke Pulau Jawa untuk menyempurnakannya. Batara Wisnu dengan Batari Sri menjelma menjadi raja di Mdang Gana bernama Sang Kandyawan dengan permaisurinya. Mereka dikaruniai lima orang putra. Suatu hari, kelima putranya membunuh burung kesayangan ibunya. Tembolok burung tersebut mengeluarkan empat macam biji-bijian berwarna kuning, hitam, putih, dan merah. Biji berwarna kuning itu menjadi kunyit, biji berwarna hitam, putih, dan merah tumbuh menjadi padi (Pigeaud, 1924).

Berkaitan dengan Dewi Sri, dalam khasanah ikonografi Indonesia ditemukan arca Dewi Sri yang secara ikonografi berbeda penggambarannya dengan Dewi Sri di India.

Berdasarkan hal tersebut, pertanyaan penelitian ini adalah mengapa terdapat perbedaan penggambaran arca Dewi Sri di Indonesia

dengan India? Bagaimana kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap Dewi Sri sebagai Dewi Padi? Tujuan penulisan ini adalah menggambarkan bagaimana kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Pemujaan kepada Dewi Laksmi sebagai Dewi Padi di India, hanya terdapat di Orissa dan Bengali (Tate, 2016).

METODE

Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dan analisis deskriptif, sedangkan untuk mendeskripsikan arca Dewi Sri digunakan analisis ikonografi. Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2000). Analisis ikonografi dilakukan dengan mempelajari ciri- ciri suatu benda yang menggambarkan tokoh dewa atau orang suci atau simbol-simbol keagamaan tertentu dalam bentuk lukisan, relief, mozaik, arca, dan benda lainnya (Tim Penyusun, 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN Arca Dewi Sri

Dewi Sri dikenal sebagai istri Dewa Wisnu yang dipercaya sebagai Dewa Pelindung dalam Trimurti agama Hindu. Dewi Sri dikenal juga dengan nama Dewi Laksmi, sehingga terjadi penggabungan dua nama menjadi Dewi Sri Laksmi pada masa Hindu awal. Selain itu, Dewi Sri Laksmi dikenal juga dengan nama Gaurī dan Gayalaksmi. Sri yang digambarkan sebagai salah satu aspek dari Dewa Wisnu disebut dengan Śrīdhāra (Liebert, 1976).

Dewi Sri dalam ikonografi Hindu digambarkan memegang śrīphala (buah bilwa atau kawista) dan teratai. Ia ditemani dua perempuan yang membawa chaurī (alat pengebut lalat) dan dua atau empat gajah yang membawa ghata (kendi). Dewi Laksmi digambarkan bertangan dua, empat atau delapan.

Atributnya adalah sangkha (cangkang kerang) dan teratai jika bertangan dua. Apabila bertangan empat, ia membawa cakra, sangkha, teratai, dan bunga pala atau membawa mahālungga (sejenis buah lemon), teratai, dan bejana berisi minuman para dewa, atau teratai, buah bilwa, sangkha, dan bejana berisi ambrosia (makanan para dewa).

(3)

3

Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia - Titi Surti Nastiti

Apabila Dewi Sri digambarkan bertangan delapan, membawa busur, bunga pala, panah, teratai, cakra, shangka, alu kayu, dan tongkat penghalau (Gupte, 1972).

Śrī disebut juga dengan nama Śrīdewī yang merupakan personifikasi dari dharmapāla perempuan, sehingga ia dianggap sebagai dewi pelindung terutama oleh Dalai Lama dalam agama Buddha sekte Lama. Ia juga dikenal sebagai Singhawaktrā, Makarawakrtā, dan salah seorang dewi dari Dākinī (dewi empat musim).

Śrīdewī digambarkan dalam bentuk menakutkan berwarna biru dengan kendaraan berupa kuda putih atau biru. Atribut yang biasa dikenakan berupa daṇḍa, kāpala, candra, gadā, kangkala, khadga, khatwangga, mayūrapattra, nāga, nakula, trinaya, triśirah (kadang-kadang), dan wajra (separuh) (Liebert, 1976).

Beberapa arca “Dewi Sri”, baik dari batu maupun perunggu ditemukan di Indonesia, di antaranya adalah arca Dewi Sri dari Candi Barong, Yogyakarta, arca batu dan perunggu koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, arca perunggu koleksi Museum Nasional. Arca Dewi Sri dari Candi Barong berjumlah dua buah dan dibuat dari batu (Pramastuti, 2005). Arca pertama, Dewi Sri digambarkan duduk dalam posisi paryangka di atas padmāsana. Tangannya empat, tangan kanan terletak di depan dengan sikap waramūdra, tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka.

Tangan kanan belakang memegang kamandalu (kendi) dan tangan kiri belakang memegang setangkai padi. Arca kedua, digambarkan dalam posisi duduk bersila di atas padmāsana. Namun, bagian atasnya sudah tidak utuh lagi. Tangannya dua, tangan kanan memegang kamandalu dan tangan kiri memegang setangkai padi. Memakai kirītamakuta, anting, kalung, kelat bahu, gelang siku, dan channawīra.

Arca Dewi Sri koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, sandaran sebelah kanan patah. Leher arca tadinya patah dan telah disambung kembali. Dewi Sri dilukiskan duduk dalam posisi paryangka di atas padmāsana. Terdapat śirascakra berbentuk oval di belakang arca. Sri digambarkan bertangan empat, tangan kanan belakang memegang sangkha dan tangan kiri belakang memegang setangkai padi. Tangan kanan depan bersikap waramūdra tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka. Memakai kirītamakuta,

anting, kalung, kelat bahu, gelang siku, dan channawīra (Gambar 1).

Gambar 1. Dewi Sri koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta

(Sumber: Penulis, n.d).

Arca perunggu Dewi Sri koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta disebutkan sebagai koleksi Museum Radya Pustaka, Solo ketika diidentifikasi W.F. Stutterheim. Arca Dewi Sri digambarkan duduk di atas padmāsana dengan posisi paryanka, memakai kiritamakuta dan perhiasan berupa kalung, gelang siku, gelang, anting, dan channawīra. Terdapat prabha berbentuk oval dengan hiasan lidah api di belakangnya, dan di atas kepalanya terdapat payung. Tangannya dua, tangan kanan dalam sikap waradamudrā dan tangan kiri memegang setangkai padi (Gambar 2). Stutterheim mengidentifikasi arca ini sebagai arca Wasudhārā (Stutterheim, 1934) bukan arca Dewi Sri. Pendapat tersebut disanggah oleh Hariani Santiko. Menurut Hariani Santiko, jika arca itu adalah arca Wasudhārā seharusnya pada mahkotanya terdapat relief Aksobhya atau Wairocana (Santiko, 1977). Wasudhārā dalam agama Hindu disebut dengan Bhūdewi (dewi kesuburan) atau sebagai sakti Dewa Kuwera (Liebert, 1976). Namun, dalam pantheon agama Buddha Mahāyāna, Wasudhārā adalah emanasi dari Aksobhya atau Ratnasambhawa, sebagai sakti dari Jambala atau Wajrasattwa. Menurut Sādhanamālā, Wasudhārā digambarkan memakai perhiasan lengkap dengan mahkota yang ada relief Aksobhya sebagai tanda emanasi Dhyani Buddha, bertangan dua, tangan kanan dalam sikap waradamudrā dan tangan kiri memegang setangkai gandum (Liebert, 1976;

Santiko, 1977)

(4)

4 Tumotowa Volume 3 No. 1, Juni 2020: 1 - 12 Gambar 2. Dewi Sri koleksi Museum Sonobudoyo,

Yogyakarta (Sumber: OD 6497).

Arca perunggu Dewi Sri koleksi Museum Nasional digambarkan dalam posisi paryanka di atas padmāsana, memakai jatamakuta dan perhiasan berupa kalung, gelang siku, gelang, anting, dan channawīra. Terdapat prabha berbentuk oval dengan hiasan lidah api di belakangnya, dan di atas kepalanya terdapat payung. Tangannya dua, tangan kanan dalam sikap waradamudrā dan tangan kiri memegang setangkai padi (Scheurleer & Klokke, 1988).

Dengan ditemukannya arca Dewi Sri sebagai pasangan Wisnu di Candi Barong, Yogyakarta dapat dipastikan bahwa arca Dewi Sri di Indonesia adalah Dewi Sri istrinya Wisnu bukan Wasudhārā. Secara ikonografis, pengarcaan Dewi Sri di Indonesia lebih mirip dengan Wasudhārā daripada Dewi Sri istri Wisnu. Hal tersebut kemungkinan disebabkan silpin (pembuat arca) pada masa Jawa Kuno mempunyai konsep sendiri mengenai Dewi Sri yang dihubungkan dengan pemujaan terhadap padi. Penghormatan kepada Dewi Kesuburan (Mother Goddess) sudah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha datang ke Nusantara, yaitu sejak masuknya penyebaran budidaya padi di Asia pada Masa Prasejarah. Dewi Kesuburan masa itu dihubungkan dengan hasil pertanian berupa padi sehingga timbul pemujaan terhadap Dewi Padi yang kemudian berkembang menjadi mitos- mitos tentang asal-mula padi. Pembuat arca mengambil konsep Dewi Sri yang telah ada dalam agama Hindu dianggap sebagai Dewi Kesuburan atau Dewi Padi dalam masyarakat

Nusantara pada masa itu. Penggambaran secara ikonografis Dewi Sri tidak sama dengan Dewi Sri dalam agama Hindu tetapi lebih mirip dengan Wasudhārā. Sikap duduk dan atribut Dewi Sri sama dengan Wasudhāra. Bedanya jika tangan kiri Wasudhārā memegang setangkai gandum maka tangan kiri Dewi Sri memegang setangkai padi, dan tidak memakai mahkota berelief Aksbobhya atau Wairocana seperti Wasudhārā.

Mitos Asal-Usul Padi Jawa Barat

Banyak cerita yang dihubungkan dengan Dewi Sri atau Dewi Pohaci di Jawa Barat seperti Wawacan Pohaci, Cariyos Sawargaloka, Wawacan Sanghyang Sri, Wawacan Puhaci Dangdayang, Wawacan Dewi Sri dan Wawacan Sulanjana (Ekajati, 2000; Kartakusuma, 2001;

Sukanda-Tessier, 1991). Salah satu cerita mitos yang populer adalah Wawacan Sulanjana, diceritakan bahwa Sang Hyang Tunggal atau Batara Guru dengan patihnya Narada dari Kerajaan Jagat Raya akan membuat Bale Pancawarna (Kalsum, 2013). Setiap dewa dan dewi diminta untuk bekerja membangun Bale Pancawarna. Namun, Dewa Anta (Dewa Ular) tidak bisa ikut bekerja karena tidak memiliki tangan dan kaki sehingga ia menangis dan tetesan air matanya berubah menjadi telur.

Ketiga butir telur tersebut dipersembahkan kepada Batara Guru atas usul Batara Narada.

Telur tersebut dibawa dengan cara dimasukkan dalam mulutnya. Di tengah perjalanan Dewa Anta bertemu dengan seekor elang yang menyapanya. Karena mulutnya penuh berisi telur, ia tidak menjawab pertanyaan burung elang. Burung elang marah dan mencakar Dewa Anta mengakibatkan dua butir telur pecah dan jatuh ke bumi menjadi Kalabuat dan Budug Basu. Kalabuat dan Budug Basu dipelihara oleh Sapi Gumarang. Batara Guru memerintahkan Dewa Anta mengerami telur yang tersisa hingga menetas menjadi bayi perempuan yang diberi nama Dewi Sri. Dewi Sri diserahkan kepada Batara Guru, disusui oleh Dewi Uma dan diasuh oleh Dewi Esri.

Dewi Sri atau Dewi Pohaci setelah dewasa menjadi gadis cantik yang membuat Batara Guru jatuh cinta. Batara Narada memikirkan agar Batara Guru tidak menikahi Dewi Sri, maka ia memberi buah kholdi pada Dewi Sri sampai Dewi Sri ketagihan dan meninggal. Mayat Dewi Sri diurus oleh Aki Bagawat dan dikubur di

(5)

5

Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia - Titi Surti Nastiti

Banyu Suci. Kuburan Dewi Sri kemudian tumbuh padi dan tanaman lainnya. Semar dan anak-anaknya diperintahkan membawa seluruh tanaman tersebut untuk ditanam di Pakuan yang diperintah oleh Prabu Siliwangi, sehingga Pakuan menjadi negara yang subur makmur kerta loh jinawi. Dampu Awang ingin membeli padi, tetapi Prabu Siliwangi menolaknya karena padi adalah titipan Batara Guru. Dampu Awang bersekutu dengan hama padi untuk menyerang Pakuan, namun berkat Sulanjana putra Batara Guru padi tersebut dapat dilindungi.

Jawa Tengah

Versi cerita mitos yang dihubungkan dengan Dewi Sri dalam masyarakat Jawa salah satunya adalah cerita Sri Sedana. Sedana berasal dari bahasa Sanskerta, Sādhana yang merupakan nama lain dari Wisnu (Stutterheim, 1956).

Dalam Sri Sedana diceritakan Dewi Sri, istri Batara Wisnu mendapat tugas untuk mengajarkan kepada manusia cara bercocok tanam. Ia turun ke bumi menjadi putri raja Medang Kamulan dengan nama Sri juga dan mempunyai saudara laki-laki bernama Sedana.

Sedana diusir dari istana dan dikutuk menjadi ular karena menolak untuk menikah. Sri sangat sedih dan pergi dari istana untuk mencari saudaranya. Dalam perjalanannya, Sri diganggu oleh raksasa yang bernama Kala Srenggi (Kala Gumarang) yang kemudian dikutuk oleh Sri menjadi babi hutan. Kala Srenggi masih terus mengejar Sri meskipun telah berbentuk babi hutan, sehingga Sri minta pertolongan kepada Batara Guru. Batara Guru mencabut nyawa Sri dan tubuhnya masuk ke dalam tanah, dan di tempat menghilangnya tubuh Sri tumbuh padi.

Kala Srenggi tahu bahwa padi adalah tubuh Sri maka ia selalu merusaknya. Sadana dalam wujudnya sebagai ular selalu melindungi padi dengan membunuh babi hutan (Santiko, 1977).

Madura

Mitos asal usul padi dari Madura dimulai dari Batara Guru menciptakan seorang perempuan cantik yang diberi nama Ratna Dumilah. Kecantikan Ratna Dumilah menyebabkan Batara Guru jatuh cinta kepada ciptaannya sendiri dan ingin memperistrinya.

Ratna Dumilah mengajukan tiga syarat, yaitu makanan yang tidak membosankan, pakaian yang tidak pernah rusak, dan gamelan yang dapat berbunyi sendiri. Batara Guru yang tidak

bisa memenuhi syarat tersebut memaksa untuk menjamah Ratna Dumilah. Sebelum sempat dijamah, Ratna Dumilah meninggal. Tempat dikuburkannya Ratna Dumilah tumbuh kelapa, padi, enau, bambu, dan umbi-umbian.

Batara Guru kemudian bertemu dengan Dewi Sri, istri Dewa Wisnu. Ia tertarik pada kecantikan Dewi Sri, dan mengejar Dewi Sri yang menolaknya. Dewi Sri mengutuknya menjadi babi hutan. Meskipun telah berubah wujud, ia tetap mengejar Dewi Sri. Dewi Sri tidak kuat lagi berlari, dan meminta dikembalikan ke Kayangan. Tempat hilangnya Dewi Sri tumbuh tanaman padi. Sementara itu, dari babi hutan tersebut muncul hama tanaman seperti belalang, tikus, dan sebagainya. Untuk mengatasi hal tersebut, Dewi Sri sering mengirim ular sawah ke bumi. Para petani biasanya tidak membunuh ular sawah karena dapat mengusir hama yang menyerang tanaman mereka (Sartini, 2012).

Bali

Cerita Dewi Sri di Bali mirip dengan mitos dari daerah Jawa Barat. Selain disebut sebagai Dewi Sri, dalam masyarakat Hindu di Bali, ia disebut juga Sri Sadhana atau Rambut Sadhana, Dewi Danu, atau Dewa Ayu Manik Galih. Adapun ceritanya disebutkan sebagai berikut, Batara Guru, pemimpin para dewa di Kayangan, akan mendirikan bangunan baru di kayangan. Ia meminta semua dewa ikut menyumbang bahan bangunan yang diperlukan.

Dewa Anta tidak dapat menyumbang bahan bangunan karena tidak dapat membawa bahan bangunan karena ia tidak punya tangan dan kaki.

Dewa Anta menghadap ke Batara Narada sambil menangis, dan air matanya berubah menjadi tiga butir telur. Dewa Narada memerintahkan Dewa Anta membawa telur tersebut kepada Barata Guru dengan cara memasukkan dalam mulutnya.

Dewa Anta bertemu burung garuda yang mengajukan pelbagai pertanyaan di tengah perjalanannya, tetapi Dewa Anta tidak dapat menjawab karena mulutnya terdapat telur. Dewa Anta berusaha menjawab pertanyaan garuda, sebutir telur jatuh dan pecah menjadi babi hutan.

Telur yang tersisa diberikan kepada Batara Guru yang berubah menjadi bayi perempuan yang diberi nama Nyi Pohaci. Nyi Pohaci disusui oleh Dewi Uma, istri Batara Guru. Nyi Pohaci setelah dewasa menjadi perempuan cantik, dan Batara Guru ingin

(6)

6 Tumotowa Volume 3 No. 1, Juni 2020: 1 - 12

memperistrinya. Karena takut menjadi bencana dan agar rumah tangga Batara Guru dan Dewi Uma terjaga, maka Nyi Pohaci diracun dan dikuburkan di bumi. Dari kuburannya muncul beraneka tumbuhan yang berguna bagi manusia, dari kepalanya tumbuh pohon kelapa, hidung, bibir dan telinganya muncul berbagai tanaman rempah dan sayur mayur, dari rambutnya tumbuh rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum, dari payudaranya tumbuh tanaman buah-buahan, sedangkan dari pusarnya tumbuh tanaman padi. Umat manusia mulai memuja, memuliakan dan mencintai Dewi Sri yang baik hati, karena dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan sejak saat itu (Sartini, 2012).

Kalimantan

Asal mula tanaman padi di Kalimantan dihubungkan dengan kisah Putri Liung.

Diceritakan di Desa Tanah Lingo mengalami bencana kelaparan karena kemarau panjang.

Masyarakat desa bermusyawarah dengan kepala desa yang bernama Datu Baru Taun, diketahui bahwa penyebab bencana adalah ulah manusia yang banyak melanggar aturan leluhur. Dosa tersebut dapat diampuni jika mengurbankan seorang manusia. Anak Datu Baru Taun, Putri Liung, menyerahkan dirinya untuk dikurbankan.

Datu Baru Taun sedih karena yang akan dikurbankan adalah putri semata wayangnya, namun demi keselamatan desanya akhirnya dia mengikhlaskannya.

Upacara dilakukan di lapangan yang ada di luar desa disaksikan semua warga desa. Putri Liung dibawa ke tempat upacara setelah semua penduduk desa berkumpul, kemudian ditusuk sampai mati, namun ia tidak menjerit sedikit pun. Tubuhnya tersungkur ke tanah dengan darah yang bercucuran. Tubuh Putri Liung segera dikuburkan, ketika mereka memberi penghormatan terakhir ke Putri Liung tiba-tiba guntur menggelegar diiringi hujan lebat.

Penduduk desa menganggap bahwa dosa-dosa mereka sudah diampuni. Beberapa waktu kemudian, di permukaan tanah Putri Liung jatuh, tumbuh tanaman padi (Dongeng Cerita Rakyat, 2017).

Sumatera Utara

Alkisah di suatu desa ada seorang janda miskin mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Si Beru Dayang. Desa mereka

dilanda kekeringan sehingga seluruh penduduk desa kelaparan suatu ketika. Si Beru Dayang meninggal dunia karena kelaparan, ibunya sangat sedih atas kematian anaknya dan berlari terjun ke sungai, tubuhnya menjelma menjadi ikan. Kemudian terjadi lagi kemarau panjang sehingga bencana kelaparan kembali melanda desa itu. Diceritakan ada dua orang anak yang kelaparan mengorek tanah untuk mendapatkan makanan. Mereka mendapatkan sebuah labu dari dalam tanah, ketika akan dibelah labunya meledak dan mengeluarkan suara yang mengatakan untuk memotong halus buah labu kemudian ditanam. Mereka mengikuti suara gaib menanam potongan buah labutersebut, yang kemudian keluar tanaman padi. Padi menjadi makanan pokok penduduk desa tersebut sejak saat itu, dan mereka percaya bahwa padi itu adalah jelmaan dari Si Beru Dayang (Yetti, 2014).

Ende, Flores

Selain mitos asal-usul padi yang dihubungkan dengan dewa-dewi, ada beberapa mitos yang tokohnya laki-laki, di antaranya mitos dari masyarakat Ende, Flores. Dikisahkan di Lio Ende, ada dua bersaudara yang sudah yatim piatu bernama Bobi (laki-laki) dan Nombi (perempuan). Hidup mereka tidak karuan, sehingga Ndoi janda yang tinggal di Monikuru merasa kasihan dan merawat mereka. Suatu ketika datang musim kemarau yang sangat panjang, banyak orang kelaparan. Mereka mencari penyebabnya mengapa sampai terjadi kemarau panjang. Akhirnya masyarakat dan seorang tuan tanah bernama Mosalaki menyimpulkan bahwa kemarau panjang ini terjadi karena ada yang berzinah. Mereka menduga Bobi dan Nombi telah melakukan perbuatan mesum (insect), karena mereka hidup berdua sebelum dipelihara oleh Ndoi. Atas perintah Mosalaki, Bobi dan Nombi dapat ditangkap, kemudian dibawa ke puncak Gunung Kelinida. Bobi ditempatkan di sisi timur dan Nomba di sisi barat sebelum dibunuh. Mekipun kedua anak tersebut telah dibunuh, namun hujan tidak kunjung datang. Mereka memutuskan untuk menengok makam Bobi dan Nombi.

Setibanya di sana, mereka melihat tanaman yang berwarna kuning yang belum pernah mereka lihat, yaitu padi.

Mereka membawa pulang padi, dan setelah dikupas oleh Ndale dan Sera, keluarlah

(7)

7

Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia - Titi Surti Nastiti

biji-bijian berwarna putih dan merah yang diasosiasikan oleh mereka penjelmaan daging dan darah Bobi dan Nombi. Mereka tidak berani memakannya, namun setelah dimusyawarahkan bersama Mosalaki, agar tidak beresiko mereka sepakat beras tersebut harus dimakan oleh seorang janda yang bernama Pare. Pare awalnya tidak mau makan karena takut mati keracunan, namun karena diancam oleh masyarakat dan Mosalaki maka ia akhirnya makan beras tersebut. Pare makan beras tersebut diikuti oleh Wole, yang kemudian diikuti oleh masyarakat di kampung itu. Beras tersebut kemudian menjadi makanan utama bagi kampung tersebut.

Masyarakat di sekitarnya yaitu dari daerah Lise, Mbuli, dan Tenda akhirnya mengikuti mereka makan beras. Versi lainnya menyebutkan bahwa darah yang berasal dari Bobi dan Nombi menjadi beras merah, tulangnya menjadi umbi-umbian, gigi dan rambutnya menjadi jagung, dan jantungnya menjadi pisang.

Menurut P. Sareng Orin Bao, Bobi dan Nombi adalah samaran dari Dewi Padi. Nama asli Dewi Padi adalah “Ine Pare” atau “Ine Mbu”, putri dari Ine Kaja dan Ame Ratu. Ame Ratu adalah adik dari Konde Laki, penguasa Gunung Kelimutu. Ine Pare bersedia mengorbankan dirinya di Gunung Keli Ndota yang dikeramatkan, di wilayah Lio utara, agar masyarakat mendapatkan bahan makanan. Pada akhirnya dari jasadnya munculah tanaman padi yang menjadi makanan pokok masyarakat. Ine Pare memiliki dua saudara yang ketiganya dijadikan juga menjadi nama jenis padi. Ine Pare atau Ine Mbu menjadi sejenis padi yang bernama

‘pare mbu’, kemudian kedua saudaranya yang bernama Ndale dan Sipi, menjadi nama padi juga yang bernama ‘pare ndale’ dan ‘pare sipi’ (Bao, 1969).

Pulau Kei, Maluku

Alkisah, di Pulau Kei, Maluku ada seorang pemuda bernama Letwir. Suatu hari ia berburu dengan membawa seekor anjing dan anjingnya jatuh ke dalam sungai. Letwir terjun ke sungai dan mencari anjingnya sampai ke dasar sungai yang disebut Dasar Pratala. Ia bertemu dengan seorang perempuan tua yang memberi Letwir beras putih dan beras merah untuk dimakan di sana. Letwir menolak karena berasnya masih mentah.

Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia, sampai suatu hari mereka bertengkar

sehingga mereka memutuskan untuk berpisah.

Letwir minta izin istrinya untuk membawa padi ke bumi, namun istrinya melarangnya. Ia mencoba menyembunyikan dalam lipatan sarung namun ketahuan. Akhirnya ia berhasil membawa beberapa butir padi dengan memasukkan ke lubang hidungnya. Ia menanam biji padi yang tumbuh dengan subur sampai di bumi. Masyarakat Maluku percaya bahwa padi berasal dari Dasar Pratala (Yetti, 2014). Padi sebenarnya bukan makanan pokok orang Kei.

Hanya sebagian kecil saja yang menanam padi, agaknya karena ada pengaruh dari Jawa atau Bali maka ada mitos tentang padi.

Upacara Penghormatan pada Dewi Sri Bagi masyarakat pendukung kebudayaan agraris, terutama pada masyarakat Jawa dan Bali, agar kesuburan tanah tetap terjaga dan mendapatkan hasil panen yang melimpah dilakukan ritual atau upacara untuk penghormatan kepada Dewi Sri. Tradisi untuk menghormati Dewi Sri yang dianggap sebagai Dewi Padi yang memelihara dan melindungi padi masih terus berlangsung sampai sekarang.

Upacara yang berhubungan dengan penanaman padi sampai panen. Setiap daerah mempunyai tradisi yang berbeda dalam melakukan upacara penghormatan pada Dewi Sri. Berikut ini, diuraikan bagaimana penghormatan kepada Dewi Sri mulai dari menanam sampai panen dalam masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali, karena upacara penghormatan masyarakat pada Dewi Sri dengan mengadakan upacara hanya ada di Pulau Jawa dan Bali.

Masyarakat Sunda

Masyarakat Sunda, dari dahulu dikenal dua penanaman padi, yaitu huma dan sawah.

Tradisi berhuma adalah tradisi orang Sunda yang dikenal dengan masyarakat berladang. Upacara penghormatan kepada Dewi Sri yang lebih dikenal dengan sebutan Sri Pohaci atau Nyi Pohaci (singkatan dari Nyi Pohaci Sanghyang Sri) masih dilakukan oleh masyarakat di Jawa Barat, terutama masyarakat adat seperti masyarakat Baduy, Ciptagelar Kasepuhan, Banten Kidul, Kampung Naga, Garut, Cigugur, Kuningan dan lainnya. Upacara penghormatan pada Dewi Sri dilakukan mulai dari pengolahan tanah sampai pasca panen.

Upacara dimulai sejak pengolahan tanah mulai dari mempersiapkan tanah untuk ditanami

(8)

8 Tumotowa Volume 3 No. 1, Juni 2020: 1 - 12

hingga memasukkan padi ke dalam lumbung.

Tahapan pengolahan sawah pada masyarakat Sunda dimulai dari nyacar, mopok, ngawalajar (mencangkul pertama), mindo (mencangkul kedua), ngeueuman taneuh (merendam tanah), ngangler (membalikan tanah), ngararata (meratakan tanah), ngabelehem, nyaplak, babut, tandur, nyaian (mengairi), ngayuman, ngaberak (memupuk), ngabaladah (menyaingi pertama), ngarambet mindo (menyiangi kedua), mangkas (menebas daun-daun padi yang tampak rindang), tunggu pare (menghalau burung), melet (mengikat sekeliling padi agar tidak roboh kena angin), panen, ngakut (mengangkut), dan terakhir memasukkan padi ke dalam lumbung (Rosidi, 2000). Sebelum melakukan setiap tahapan biasanya dimulai dengan berdoa, juga minta ijin kepada yang menguasai (nu ngageugeuh) tanah dan juga untuk Dewi Sri.

Upacara memberkati bibit padi dilakukan dengan menyanyikan beberapa pantun/kidung yang dimaksudkan untuk mengundang Dewi Sri agar mau turun ke bumi dan memberkati benih padi di beberapa daerah di Jawa Barat.

Masyarakat Baduy mengawali penanaman padi dengan memainkan angklung. Setelah itu, menanam bibit padi yang disebut mitembeyan tandur (menanam benih) yang dikerjakan oleh kaum perempuan.

Upacara besar biasanya dilakukan setelah panen, misalnya di Desa Linggamukti, Kabupaten Purwakarta ada upacara yang disebut mitembeyan, yaitu upacara untuk mengungkapkan rasa syukur telah diberi panen yang melimpah dan juga penghormatan kepada Nyi Pohaci (Dewi Padi) berupa sajen (sesaji).

Ucapan rasa syukur telah panen di Kecamatan Rancakalong dilakukan dengan mengadakan upacara ngalaksa dan memainkan tarawangsa.

Tarawangsa adalah seni jentreng yang berfungsi sebagai “hiburan” kepada Dewi Sri (Heryana, 2014). Upacara setelah panen di beberapa daerah disebut mapag sri (menjemput sri), misalnya daerah Dawuan, Majalengka. Upacara ini merupakan pernyataan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilakukan dengan mengarak boneka sebagai simbol Dewi Sri mengelilingi kampung. Usai pergelaran dilanjutkan dengan selamatan dan acara memperebutkan air yang berasal dari tujuh mata air yang dipercaya masyarakat sebagai obat untuk segala macam penyakit dan tolak bala (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, 2011).

Malamnya diadakan pagelaran wayang kulit.

Upacara mapag sri di daerah Indramayu dan Cirebon hampir serupa dengan Dawuan, hanya selain menanggap wayang kulit juga menanggap tari topeng (Tosu, 2014).

Pola pertanian dengan sistem huma di Jawa Barat, masih dapat dilihat di daerah Banten dan di beberapa daerah Jawa Barat bagian selatan. Upacara dalam ngahuma yang biasa dilakukan di Banten Selatan: Pertama, memberi tanda area yang ditanami dengan upacara narawas, dilanjutkan dengan membersihkan lahan yang akan ditanami (nyacar). Kemudian, mengumpulkan ranting (nyukuh) dan rumput untuk dikeringkan lalu dibakar (ngaduruk).

Tahap berikutnya membuat lubang kecil untuk ditanami padi yang disebut ngaseuk dengan upacara ngaseuk pare. Setelah padi tumbuh, ada masa memelihara tanaman dengan menyiangi rumput atau ngored munggaran yang didahului dengan upacara ngirab sawah. Upacara berikutnya pada saat ngored ngarambas disebut upacara ngubaran pare (mengobati padi).

Upacara terakhir berupa upacara mipit pada saat panen yang dilakukan kaum perempuan dengan menggunakan ani-ani. Setelah padi kering, dibawa ke lumbung (ngaleuitkeun pare) untuk disimpan (Samasyari, 2016).

Upacara setelah panen, baik panen di sawah maupun huma pada desa-desa adat di Jawa Barat terdapat upacara yang disebut seren taun. Upacara seren taun tidak selalu sama dari desa adat yang satu dengan lainnya. Orang-orang datang ke kepala adat sambil membawa hasil pertanian atau peternakan sehari sebelum upacara. Pertunjukan pantun diadakan malam harinya. Upara dimulai keesokan harinya dengan iring-iringan yang berangkat dari dangau tempat padi hasil panen. Calung renteng ditabuh sebelum berangkat diikuti oleh orang yang memikul padi dan alat-alat pertanian diringi oleh angklung dan dogdog lojor. Kaum perempuan telah siap menyambut iring-iringan tersebut dengan tutunggulan gondang, yaitu menabuh lesung dengan alu di dekat lumbung. Para penabuh angklung menyanyi dan menari bersahutan dengan penabuh gondang. Setelah itu, barulah upacara nginebkeun, yaitu menyimpan padi di lumbung dan seorang perempuan tua menyanyikan rajah memohon izin menempatkan Dewi Padi ke lumbung (Rosidi, 2000).

(9)

9

Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia - Titi Surti Nastiti

Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa dalam mengolah tanah pertanian banyak melakukan upacara ritual sebagai penghormatan pada Dewi Sri. Upacara ini banyak ragamnya, namun pada hakekatnya hampir sama hanya dengan variasi-variasi tertentu yang membedakannya. Upacara dimulai dari menabur benih, pada waktu perawatan dan pada siklus-siklus sesudahnya, sampai saat tanaman dipanen. Petani percaya bahwa Dewi Sri dalam wujud biji padi yang ditanam di tanah bertemu dengan Dewa Wisnu dalam wujud air.

Upacara pertama adalah upacara menabur benih biasanya dilakukan oleh laki-laki. Orang yang mau menabur benih mengambil 9 butir padi, satu butir ditanam di tengah dan delapan butir lainnya ditanam di delapan penjuru mata angin. Upacara selanjutnya diadakan ketika akan tandur (menanam padi). Upacara ini disiapkan sajen yang berupa bubur putih, pisang batu, sirih dan kapur sirih, dan bunga. Sajen di bawa ke sawah dan diletakkan di dekat persemaian.

Pemimpin upacara kemudian membaca doa sambil membakar kemenyan. Sajen kemudian dibagi menjadi beberapa bagian dan diletakkan di sudut kotak-kotak sawah sebagai sajen untuk penjaga sawah. Sisa sajen dibagikan kepada para pekerja di sawah (Tabloid Desa, 2016). Upacara pada saat padi mulai berbuah yang dalam istilah bahasa Jawa meteng (bunting), berupa bubur putih atau telur yang diletakkan di tulakan.

Sesajen diletakkan di dekat daun lego-lego atau legundi yang dibakar dengan maksud untuk mengusir roh jahat atau penyakit.

Upacara wiwitan dilakukan menjelang panen sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri yang telah menumbuhkan dan memelihara padi sampai panen. ‘Wiwitan

berarti ‘wiwit’ adalah ‘mulai’, jadi memulai memotong padi sebelum panen diselenggarakan.

Bumi sebagai sedulur sikep, dimaksudkan bagi orang Jawa bumi dianggap sebagai saudara yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya untuk kehidupan.

Upacara wiwitan dilakukan merupakan persembahan kepada Dewi Sri sebagai wujud rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen yang telah diberikan. Upacara dipimpin oleh Mbah Kaum (orang tertua) di desa yang akan melakukan panen. Perlengkapan upacara berupa kendi berisi air, ani-ani, bunga mawar, kemenyan, seikat jerami, serta kain untuk

membungkus padi yang dipotong Mbah Kaum.

Mbah Kaum membaca doa sambil membakar kemenyan dan membakar seikat jerami yang sudah disiapkan. Air di dalam kendi disiram ke sudut-sudut kotak sawah yang siap dipanen sambil terus membacakan doa. Setelah itu, memotong padi sebagai simbol bahwa padi sudah siap dipanen. Petani yang akan panen membagikan makanan yang sudah disiapkan kepada warga sekitar setelah upacara selesai.

Setiap warga boleh mengikuti tradisi wiwitan tersebut tanpa terkecuali dan memakan makanan yang sudah disiapkan. Makanan yang disajikan yaitu nasi gurih, ayam kampung, urap, ikan asin, tahu, tempe, rempeyek, telur, dan lain-lain, serta jajanan yang dibungkus dengan daun pisang atau daun jati (Ashari, 2016).

Gambar 3. Sesajen pada upacara wiwitan sebelum panen

(Sumber: Penulis, n.d).

Upacara terakhir ketika akan memasukkan padi ke dalam lumbung, berupa kenduri yang dihadiri oleh warga dan dipimpin oleh sesepuh warga. Peserta datang dengan menggunakan pakaian adat tanpa keris. Setelah itu, padi dimasukkan di dalam lumbung disertai persembahan untuk Dewi Sri berupa ampo (tanah liat dikeringkan), prang atau kenye (wadah untuk menginang), cermin, sisir, dan suri, boreh (param kunyit), dan bedak dari tepung beras dan kencur (Tabloid Desa, 2016).

Masyarakat Bali

Puspawati dalam Majalah Bali Post (Puspawati, 2015), menuliskan mengenai upacara penghormatan kepada Dewi Sri di Kecamatan Tabanan, Bali yang merupakan lumbung padi Bali. Penghormatan pada Dewi Sri dimulai dengan upacara mapag toya (menjemput air dari sumber mata air). Upacara ini biasanya

(10)

10 Tumotowa Volume 3 No. 1, Juni 2020: 1 - 12

diikuti oleh seluruh anggota subak, yang dilanjutkan dengan kempelan, yaitu kegiatan membuka saluran air ke sumber aliran air di hulu subak yang kemudian dialirkan ke sawah.

Upacara selanjutnya ngendag tanah carik, yaitu upacara memohon keselamatan kepada Tuhan saat membajak tanah sawah dan dilakukan oleh masing-masing anggota subak. Ketiga upacara tersebut dilaksanakan pada bulan Ketiga (September).

Upacara ngurit, yaitu upacara pembibitan yang dilakukan oleh semua anggota subak pada masing-masing tanah garapannya dilakukan pada bulan Kelima (sekitar November). Awal bulan Kepitu (awal bulan Januari) dilakukan upacara ngerasakin, yaitu upacara membersihkan kotoran (leteh)setelah selesai membajak sawah. Upacara pangawiwit, yaitu upacara mencari hari baik untuk mulai menanam padi yang juga dilakukan sekitar bulan Kepitu dilakukan setelah itu. Upacara ngekambuhin, yaitu upacara meminta keselamatan anak padi yang berumur 42 hari dilakukan pada bulan Kewulu (Februari), dilanjutkan dengan pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar padi dapat tumbuh dengan baik. Upacara penyepian, yaitu upacara memohon keselamatan agar padi terhindar dari hama dilakukan bulan Kesanga (Maret). Setelah itu, pada bulan Kedasa (Maret atau April) dilakukan upacara pangerestitian nyegara gunung di Pura Luhur Petali dan Pura Luhur Pekendungan.

Upacara masaba dilakukan sebelum panen pada bulan Kedasa oleh anggota subak di sawahnya masing-masing, dan ngadegang Batari Sri (Batara Nini), yaitu upacara secara simbolis memvisualisasikan Dewi Sri sebagai Lingga-Yoni. Upacara selanjutnya adalah nganyarin, yaitu upacara mulai panen pada bulan Sada (bulan Juni) oleh anggota subak pada masing-masing sawahnya. Terakhir adalah manyi, yaitu kegiatan memanen padi di bulan Juli. Selesai panen padi dilakukan upacara seperti upacara mantenin, yaitu upacara menaikkan padi ke lumbung atau upacara menyimpan padi di lumbung yang dilaksanakan pada bulan Karo atau Agustus (Puspawati, 2015).

KESIMPULAN

Dewi Sri dalam tradisi budaya masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali dianggap sebagai Dewi Padi yang sangat dihormati. Setiap pengolahan sawah maupun huma ada upacara-upacara tertentu yang dilakukan untuk menghormati Dewi Sri. Meskipun dalam beberapa cerita mitos, Dewi Sri dianggap sebagai istri Dewa Wisnu. Namun, secara ikonografis Dewi Sri yang dikenal masyarakat Nusantara, bukanlah Dewi Sri yang digambarkan di India. Pembuat arca (silpin) dalam menggambarkan Dewi Sri memakai konsep Dewi Kesuburan atau Dewi Padi yang telah dikenalnya, sehingga ia membuat atribut khusus untuk arca Dewi Sri, yaitu memegang setangkai padi di tangan kirinya.

Pemujaan terhadap Dewi Padi yang telah dikenal sejak Masa Prasejarah, pada saat pengaruh Hindu-Buddha datang ke Indonesia dapat dikatakan bahwa sosok Dewi Padi dipadankan dengan sosok Dewi Sri yang dikenal sebagai Dewi Kesuburan. Sampai saat ini sayangnya belum ada penelitian ikonografi mengenai arca Dewi Sri yang dikaitkan dengan fungsinya dalam pertanian.

Penamaan tokoh Dewi Sri dalam setiap masyarakat tidak sama. Masyarakat Jawa dan Bali disebut Dewi Sri, masyarakat Sunda disebut Dewi Pohaci atau Dewi Pohaci Sanghyang Asri.

Semua cerita mitos mengenai asal-usul padi yang dihubungkan dengan Dewi Sri, berasal dari masyarakat yang pengaruh Hindu-Buddhanya sangat kuat seperti masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali. Masyarakat yang pengaruh Hindu- Buddhanya tidak begitu kuat atau tidak ada sama sekali, nama tokohnya bukan Dewi Sri. Selain itu, yang menjadi tokoh tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki.

*****

(11)

11

Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia - Titi Surti Nastiti

DAFTAR PUSTAKA

Ashari, A. (2016). Tradisi Wiwitan Cara Masyarakat Jawa Bersyukur atas Hasil Panen.

https://www.tribunnews.com/tribunners/2016 /01/06/tradisi-wiwitan-cara-masyarakat-jawa- bersyukur-atas-hasil-panen

Bao, P. S. O. (1969). Nusa Dipa :nama pribumi Nusa Flores (warisan purba). Nusa Indah.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. (2011). Upacara

Mapag Sri.

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/

dest-det.php?id=429&lang=id

Dongeng Cerita Rakyat. (2017). Cerita Dongeng Jaman Dulu Asal Mula Padi.

https://dongengceritarakyat.com/cerita- dongeng-jaman-dulu-asal-mula-padi/

Ekajati, E. S. (2000). Direktori Edisi Naskah Nusantara. Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Yayasan Obor Indonesia.

Gupte, R. S. (1972). Iconography of the Hindus, Buddhist and Jains. B.D. Taraporevala sons &

co. Private Ltd.

Heryana, A. (2014). 2012. “Mitologi Perempuan Sunda”, Patanjala 4(1):159-169. Patanjala, 4(1).

https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30959/pata njala.v4i1.129

Kalsum. (2013). Rasa Kebersamaan dan Konsep Kesejahteraan Bersama dengan Pemuliaan terhadap Padi dalam Wawacan Sulanjana.

Prosiding Seminar Naskah Kuna Nusantara

“Pangan Dalam Naskah Kuna Nusantara".

Kartakusuma, R. (2001). Perempuan dan Religi:

Apresiasi Urang Sunda kepada Sang Ibu (Ambu/Pohaci Sanghyang Asri). Diskusi Ilmiah Arkeologi Dinamika Perempuan Nusantara.

Liebert, G. (1976). Iconographic dictionary of the Indian religions: Hinduism, Buddhism, Jainism (Studies in South Asian culture, 5). In J. E. van L. Leeuw (Ed.), Studies in South Asian Culture. E.J. Brill.

Moleong, L. J. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif (18th ed.). Remaja Rosdakarya.

Pigeaud, T. G. T. (1924). De Tantu Panggelaran, Oud-Javaansche Prozageschricht uitgegeven.

Verstaalt en toegelicht. University of Leiden.

Pramastuti, H. et all. (2005). Barong: Candi Wisnu di Bukit Kapur. Balai Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Puspawati. (2015). “Ritual Bertani di Bali. Dari

“Mapag Toya” hingga “Mantenin” Padi".

Majalah Bali Post.

Rosidi, A. et all. (2000). Ensiklopedi Sunda. Alam, Manusia, dan Budaya termasuk Budaya Cirebon dan Betawi. Pustaka Jaya.

Samasyari. (2016). Mata Pencaharian Masyarakat Sunda.

https://samasyari.blogspot.com/2016/11/mata -pencaharian-masyarakat-sunda.htm

Santiko, H. (1977). Dewi Sri. Unsur Pemujaan Kesuburan pada Mitos Padi. Majalah Ilmu- Ilmu Sastra Indonesia, 7(3).

Sartini. (2012). Nilai-nilai Kearifan Lokal pada Hubungan Antara Mitos Dewi Sri dan Eksistensi Seni Tradisional di Indonesia.

https://repository.ugm.ac.id/96950/

Scheurleer, P. L., & Klokke, M. J. (1988). Divine Bronze : Ancient Indonesian Bronzes From AD 600-1600. E.J. Brill.

Shadily, H. (1984). Ensiklopedi Indonesia. In Ensiklopedi Indonesia. Ichtiar Baru-Van Hoeve dan Elsevier Publishing Projects.

Stutterheim, W. . (1934). De Oude-Collectue van Resink Wikens. Djawa, 14(1).

Stutterheim, W. F. (1956). Studies in Indonesian Archaeology. Martinus-Nijhoff.

Sukanda-Tessier, V. (1991). Sukanda-Tessier, V.

1991. “Figur Prabu Siliwangi dalam Mite Dewi Sri/Padi: Tinjuan Kritis tentang beberapa Naskah”. In V. Sukanda-Tessier &

H. M. Ambary (Eds.), Proceeding: Seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Siliwangi.

Pemerintah Jawa Barat, École Française D’Éxtrême-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Tabloid Desa. (2016). Tabloid Desa. tabloid- desa.com/wp

content/uploads/2016/11/Tabloid-DESA- 20.pdf

Tate, K. (2016). Sacred Palces of Goddess: 108 Destinations. The Consortium of Collective Consiousness.

Tim Penyusun. (2008). Metode Penelitian Arkeologi (2nd ed.). Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Tosu, M. (2014). Mapag Sri - Ritual Menyambut Datangnya Panen Di Indramayu.

Yetti, E. (2014). Motif Asal-Usul Tanaman Padi dalam Tiga Cerita Rakyat Indonesia. Kandai, 10(1).

https://doi.org/https://doi.org/10.26499/jk.v10 i1.312

(12)

12 Tumotowa Volume 3 No. 1, Juni 2020: 1 - 12

Referensi

Dokumen terkait

(… Dewi Sri juga menyiapkan ajiannya untuk melawan. Sapigumarang mengeluarkan babi hutan yang berwujud gaib untuk menyerang prajurit Galuh. Dewi Sri juga mengeluarkan

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kelayakan pengembangan usaha padi yang berintegrasi dengan sapi potong di Kelompok Tani Dewi Sri dan menganalisis kelayakan

Dari kegiatan magang yang telah dilaksanakan di Dewi Sri Flora oleh penulis, dapat diuraikan bahwa dalam berbudidaya tanaman Aglaonema meliputi beberapa proses yang

pada tokoh Dewi Sri, yang dipercaya sebagai dewi padi. Bagi kebanyakan masyarakat petani Sunda di Jawa Barat, Dewi Sri bukanlah seorang tokoh fiktif. Mereka percaya

Diletakkan dalam konteks ini, kaum perempuan yang tergabung dalam KWT Dewi Sri telah membuktikan diri sebagai agent of change bagi masyarakat karena mereka

Dewi Sri dianggap bisa mengendalikan bahan makanan di bumi, terutama padi yang menjadi bahan makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia.. Cerita Dewi Sri ini dikenal sebagai

Untuk itu, penelitian ini lebih difokuskan pada karakter Dewi Sri dari perspektif narasi dan visual dalam pandangan masyarakat Jawa Timur serta figurnya sebagai ilah dan

Dewi Sri Tunjungsari-Pendidikan IPS-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta- Penilaian Sikap Dan Keterampilan Mata Pelajaran IPS Pada K13 | 9 dalam berpendapat. 3= = bertanggung jawab