• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagram Segitiga dan Kesetimbangan Cair-Cair

N/A
N/A
Mutiara Indah

Academic year: 2024

Membagikan "Diagram Segitiga dan Kesetimbangan Cair-Cair"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/284371757

Kuliah Pepindahan Massa 2015: EKSTRAKSI (#2&3) - Diagram Segitiga, Kesetimbangan Cair-Cair dan Contoh Ekstraksi dalam Mixer-Settler

Chapter · November 2015

DOI: 10.13140/RG.2.1.1171.9125/1

CITATIONS

0

READS

11,981 1 author:

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

parallel plate plasma projectView project

Dissertation of Nelson Saksono: CARBONATE Scale and PresipitationView project Setijo Bismo

University of Indonesia 231PUBLICATIONS   514CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Setijo Bismo on 25 November 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

Diagram Segitiga

dan

Kesetimbangan Cair-Cair

• Membuat Diagram Segitiga dan Cara Membacanya

• Kesetimbangan Cair-Cair dalam Diagram Segitiga

• Contoh dalam Ekstraksi Cair-Cair

Setijo Bismo – DTK FTUI

25 Nopember 2015

(3)

Pendahuluan tentang Cara Membuat dan Membaca:

Diagram Segitiga

Diagram terner direpresentasikan dalam sebuah segitiga, dengan ketiga sudutnya mewakili komposisi, dari ketiga KOMPONEN yang terlibat di dalamnya, seperti Asam Asetat, Air, dan Kloroform. Ketiga SUDUT yang merepresentasikan ketiga komponen tersebut diberi label A, B, dan C.

Kelebihan penggunaan Diagram Segitiga dalam presentasi komposisi:

ketiga variabel dapat diplot dalam grafik dua dimensi.

dapat digunakan untuk membuat diagram fasa.

(4)

[#1] - Reprentasi Konsentrasi dalam

Diagram Segitiga

(5)

[#2] - Reprentasi Konsentrasi dalam

Diagram Segitiga

Hasil penjumlahan konsentrasi (fraksi berat) adalah diagram terner ke kanan dengan semua skala ini. Perhatikan bahwa garis merah berat tidak termasuk dalam segitiga akhir ini. Juga mengamati bahwa diagram terner dibaca berlawanan arah jarum jam.

Perhatikan ke-4 titik dalam Diagram Segitiga di kiri bawah ini:

1. 60 %-A 20 %-B 20%-C 100%

2. 5 %-A 40 %-B 35%-C 100%

3. 10 %-A 70 %-B 20%-C 100%

4. 0.0 %-A 25 % B- 75%-C 100%

(6)

[#3] - Reprentasi Konsentrasi dalam

Diagram Segitiga

Namun, yang umum digunakan, diagram terner biasanya tidak memiliki

"Skala A", "Skala B", dan "Skala C”. Juga, bahkan nomor pun persen tidak ada. Jadi, kita harus belajar untuk membaca diagram ini tanpa semua alat bantu tersebut.

Maka, tentukanlah persentase untuk masing- masing titik-titik berikut!

5. 70 %-A 20 %-B 10 %-C 100 % 6. 60 %-A 40 %-B 0 %-C 100 % 7. 30 %-A 50 %-B 20%-C 100 % 8. 10 %-A 15 % B 75%-C 100 %

(7)

Prinsip Diagram Kesetimbangan dalam Ekstraksi (#1):

Kesetimbangan Cair-Cair dalam Diagram Segitiga

Kehadiran PELARUT BARU (komponen cair yang ketiga) kadang- kadang dapat sangat berguna dalam mengubah kelarutan timbal balik dari dua komponen lainnya.

Sebagai contoh:

Noda berminyak pada sepotong pakaian. Kita dapat coba mencuci pakaian dengan air, tetapi minyak dan air relatif tidak larut sehingga minyak akan tetap berada pada pakaian dan tidak larut dalam air. Jadi bagaimana caranya kita dapat mengusir minyak keluar?

Cobalah tambahkan

deterjen, sebagi surfaktan (molekul yang

memiliki ujung-ujung ionik dan organik), yang akan membantu

ketiga komponen larut satu sama lain.

(8)

Prinsip Diagram Kesetimbangan dalam Ekstraksi (#2):

Kesetimbangan Cair-Cair dalam Diagram Segitiga

Sebaliknya, kita dapat menambahkan suatu PELARUT (komponen KETIGA) untuk mengurangi kelarutan suatu KOMPONEN sehingga dapat memisahkan (ekstraksi) dari

“larutan asal”-nya. Dalam hal ini, dapat ditambahkan komponen ketiga yang akan membuat dua komponen lainnya menjadi kurang larut satu dengan lainnya.

Sebagai contoh:

Jika kita TAMBAHKAN “garam” (senyawa ionik) ke dalam

campuran

HEKSANOLAIR (yaitu: larutan heksanol dalam air),

maka kelarutan ALKOHOL akan turun secara signifikan karena ion

dapat larut dengan baik dalam air sebaliknya senyawa organik

tidak menyukai LARUTAN “ionik”.

(9)

Prinsip Diagram Kesetimbangan dalam Ekstraksi (#2):

Kesetimbangan Cair-Cair dalam Diagram Segitiga

(10)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (1)

Kelarutan dari tiga komponen cairan merupakan informasi penting untuk merancang proses ekstraksi cair-cair, yaitu untuk pemisahan bahan kimia yang berguna. Kelarutan dari campuran tiga komponen cair tersebut ditampilkan pada sebuah segitiga sama-sisi berikut ini:

Garis BIRU:

Untuk <B>

Garis MERAH:

Untuk <C>

Garis HIJAU:

Untuk <A>

Titik campuran terner dengan komposisi: 60 %-B, 20 %-A dan 20%-C.

(11)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (2)

CAIRAN “satu fasa”:

KOMPONEN (A) ”murni”

(12)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (3)

Fasa CAIRAN “tunggal”:

A

10 % b

x  

B

80 % b

x  

C

10 % b

x  

(13)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (4)

Fasa CAIRAN “tunggal”, campuran BINER:

A

40 % b

x  

B

60 % b

x   ; dan

C

0 %

x 

(14)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (5)

CAIRANdua fasa”:

fasa #1 mengandung

A

6 % b

x  

B

24 % b

x  

C

70 % b

x  

fasa #2 mengandung

A

83 % b

x  

B

11 % b

x  

C

6 % b

x  

(15)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (6)

Fasa CAIRAN “jenuh” (tunggal): dengan komposisi:

A

8 % b

x  

B

33 % b

x  

C

59 % b

x  

(16)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (7)

CAIRAN “dua fasa”, dengan - fasa #1 terdiri atas

x

A

 16 % x

B

 52 %

x

C

 32 % dan - fasa #2 terdiri atas x

A

 55 % b  x

B

 35 %

x

C

 10 % b 

(17)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (8)

CAIRAN “dua fasa”, masing-masing membentuk campuran BINER A-C:

- fasa #1 mengandung x

A

 0 5 , %

x

B

 0 %

x

C

 99 5 , % dan - fasa #2 mengandung x

A

 93 % b 

x

B

 0 %  b

x

C

 7 %  b

(18)

Posisi Konsentrasi dalam Ekstraksi Cair-Cair (9)

Fasa CAIRAN “jenuh” (tunggal):

dengan komposisi:

A

56 % b

x  

B

34 % b

x   ; dan

C

10 % b

x  

(19)

ATURAN TUAS dalam Diagram Segitiga

Aturan Tuas (lever rule) dapat berlaku dalam diagram fasa: jika dimisalkan, suatu aliran campuran terner dengan komposisi yang diwakili oleh titik A pada diagram kesetimbangan di bawah ini, memasuki settler (gambar bawah tengah) yang kemudian akan menghasilkan “dua lapisan cairan” (organik dan anorganik) yang berada dalam kesetimbangan ke dalam aliran B (di bawah) dan C (di atas). Karena kedua aliran tersebut berada dalam kesetimbangan, maka komposisinya dapat diwakili oleh ujung-ujung “tie line” seperti yang ditunjukkan pada diagram segitiga di sebelah kiri. Maka, perbandiangan atau rasio dari ketiga laju alir (massa ataupun molar) dapat dinyatakan sebagai “rasio lengan tuas” (ingat: lengan harus berlawanan titik tumpu dari titik yang dimaksud).

Persamaan di sebelah kanan adalah rasio laju alir C/B dan C/A dalam fraksi massa yang diperoleh dari diagram segitiga.

(20)

Contoh #1: Ekstraksi Cair-Cair

Suatu aliran umpan (F) dengan laju 100 kg/jam mengandung campuran A dan B, kemudian dicampur dengan 100 kg/jam air (= W, sebagai komponen C) untuk mengekstrak B ke dalam fasa air (pelarut = komponen C). Aliran yang keluar di bagian ATAS dari mixer/settler adalah fasa organik yang kaya akan A dan di bagian BAWAH adalah fase air (anorganik) yang mengandung 25%-b B. Hitunglah laju aliran produk dan komposisi umpan dengan menggunakan “aturan tuas” pada diagram terner di halaman berikut ini.

Mixer/Settler:

F

(100 kg/jam)

W

(100 kg/jam)

Organik

(Q1)

Anorganik

(Q2)

(21)

Contoh #1: (lanjutan..)

(22)

Contoh #1: (Gambar Mixer-Settler)

(23)

Langkah-langkah Penyelesaian (1):

Ketiga relasi persamaan diperlukan untuk pemecaan masalah yang berasal dari diagram fasa, dengan pertimbangan (asumsi) bahwa dua aliran yang keluar dari mixer/settler berada dalam kesetimbangan. Untuk penyelesaian masalah ini, maka langkah- langkahnya adalah sebagai berikut:

Langkah 1:

Cari aliran air pada diagram fase. Karena aliran keluar kaya akan C, berarti posisinya berada di sisi diagram fasa yang paling dekat dengan titik C. Selain itu juga, karena berada dalam kesetimbangan dengan aliran lain, maka posisi tersebut harus di “kubah fasa”

(puncak) dengan komposisi B dari 25% mol. Didapatkan suatu titik dengan komposisi biru 25% pada kubah fasa. Komposisi titik ini adalah 25% B, 5% A dan 70% C.

(24)

Langkah-langkah Penyelesaian (2):

Langkah 2:

Selanjutnya, diketahui juga bahwa aliran kaya A berada dalam kesetimbangan dengan aliran ini, sehingga pada ”tie line” yang sama tetapi di sisi berlawanan dari kubah fasa. Kita ikuti ”tie line” ke sisi lain dari kubah fasa dan menemukan komposisi aliran ini menjadi 82% A, 11% B dan C 7%. Perhatikan, bahwa tujuan ekstraksi telah tercapai, yaitu dengan menghilangkan banyak komponen B dari A ke C.

Langkah 3:

Temukan komposisi umpan. Campuran terner akan tetap berada di ”tie line” yang sama, namun berada di suatu tempat di wilayah dua fase. Karena dicampurkan 100 kg C dengan 100 kg dari aliran A + B, maka komposisi nominal campuran di separator adalah 50% mol C.

Kita sekarang hanya dapat memilih dari titik di mana ”tie line

melintasi garis merah 50%. Kita temukan komposisi menjadi 20 B% dan 30% A (dan tentu saja 50% C). Rasio B ke A adalah 2/3, sehingga secara C-bebas, komposisi akan 40 B% dan 60% A. Ini adalah komposisi umpan awal.

(25)

Langkah-langkah Penyelesaian (3):

Langkah 4:

Selesaikan neraca massa terkait ektraksi satu tahap tersebut, untuk menhitung laju alir produk. Hal ini dapat dilakukan langsung pada diagram segitiga dengan menggunakan aturan tuas (komposisi segaris). Rasio fasa air untuk umpan diberikan oleh panjang lengan berlawanan untuk tahap C selama total panjang ”tie line”, atau Q2 / 200 kg/hr = (50-7)/(70-7) = 0,68 (di mana dapat kita gunakan C atau komposisi merah untuk mengevaluasi panjang dua ”tie line”). Dapat juga kita gunakan penggaris untuk mengukur panjang atau menggunakan komposisi biru atau hijau. Perhatikan, bahwa metode- metode tersebut sebenarnya akan memberikan hasil yang sama.

Dengan demikian, Q2 = (200 kg/hr)(0.68) = 136 kg/jam dan Q1 = 64 kg/jam.

(26)

Neraca Massa (Ekstraksi Tahap TUNGGAL)

Coba Soal berikut:

(27)

NERACA MASSA

(28)

SOAL#2 – Ekstraksi Tahap Tunggal

(29)

View publication stats View publication stats

Gambar

Diagram Segitiga
Diagram Segitiga
Diagram Segitiga
Diagram Segitiga
+2

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 4.3 menunjukkan bahwa ekstraksi fenol dengan menggunakan pelarut aseton konsentrasi 70%, didapatkan nilai rendemen ekstraksi fenol dari limbah cair

Peneltian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi kesetimbangan padat-cair yang terjadi pada sistem inklusi urea, ditinjau dari model kesetimbangan termodinamik asam

Gambar 4.3 menunjukkan bahwa ekstraksi fenol dengan menggunakan pelarut aseton konsentrasi 70%, didapatkan nilai rendemen ekstraksi fenol dari limbah cair

Data – data yang diperoleh dari penelitian laboratorium (meliputi persamaan kesetimbangan Y, konsentrasi Y dalam larutan umpan, dan efisiensi ekstraksi) digunakan

Peneltian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi kesetimbangan padat-cair yang terjadi pada sistem inklusi urea, ditinjau dari model kesetimbangan termodinamik asam

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, penelitian kesetimbangan uap-cair sistem biner etanol + gliserol yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan

dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga samasisi yang disebut

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah menyajikan data prediksi kesetimbangan cair-cair pada sistem baru menggunakan model UNIFAC DMD untuk pemisahan asam laktat dengan