Sehubungan dengan hal tersebut, permasalahan dalam tulisan ini adalah untuk membahas secara teoritis mengenai paradigma reformasi hukum pidana substantif dalam sistem hukum nasional. 8 Barda Nawawi Arief, 2012, RUU KUHP Baru A Restrukturisasi Sistem Peradilan Pidana Indonesia, Program Magister Hukum Undip, Semarang, hal.9. Hakikat reformasi hukum pidana substantif Reformasi hukum pidana substantif adalah pembaharuan produk hukum yang menggantikan peraturan perundang-undangan peninggalan kolonial yang filosofinya mengandung nilai-nilai liberal.
Reformasi hukum pidana bertujuan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan hukum nasional berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi perencanaan hukum dan perancangan hukum.15. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa dalam pembangunan hukum pidana nasional dalam konteks sistem hukum nasional, hendaknya digunakan paradigma yang berorientasi pada nilai-nilai Pancasila untuk mencapai keseimbangan dua tujuan. Dua tujuan hukum pidana yang diinginkan dalam paradigma reformasi hukum pidana menekankan pada perlindungan sosial (social defence) untuk mencapai kesejahteraan sosial (social kesejahteraan) dan individualisasi pidana.
Pancasila sebagai standar tertinggi sistem hukum nasional merupakan bekal penghayatan nilai-nilai hukum, untuk mewujudkan harmonisasi pokok-pokok hukum pidana sistem nilai tertinggi. Gambaran hierarki dalam menentukan nilai-nilai harmonis yang akan dibakukan dalam hukum pidana dapat diuraikan sebagai berikut. Paradigma reformasi hukum pidana nasional adalah pengembangan nilai-nilai substantif dari ketentuan norma hukum dalam hukum pidana, khususnya ketentuan norma hukum pidana substantif.
Berbagai Aspek Perkembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyongsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia), Pustaka Magister, Semarang, 2012.
PENANGGULANGAN KEJAHATAN TERORISME
PENDEKATAN AGAMA)
Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam oleh pelaku kejahatan.31 Perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana harus dinyatakan dengan jelas dalam undang-undang. Menurut perkembangannya, bentuk-bentuk tindak pidana tidak hanya terdapat dalam KUHP yang kemudian penulis sebut dengan singkat KUHP, tetapi juga di luar KUHP yang ditetapkan sebagai tindak pidana khusus atau hukum pidana khusus. Hanya hukum pidana khusus yang dapat diartikan secara sederhana sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana yang terkandung dalam undang-undang khusus.
Wantjik Saleh v Aziz Syamsuddin, sebagaimana dikutip Ruslan 98 Renggong, Hukum Pidana Khusus, edisi ke-1. Selain itu, menurut Pompey dan Utrecht, hukum pidana khusus adalah hukum pidana yang diatur dalam undang-undang, yang mempunyai penyimpangan terhadap ketentuan umum dalam KUHP.33 Salah satu tindak pidana yang termasuk dalam tindak pidana khusus adalah terorisme. Dalam hukum pidana, dikenal dua cara penanganan kejahatan, yaitu melalui jalur pidana (hukum pidana) dan melalui jalur non-pidana (di luar/di luar hukum pidana).”40 Saat ini, Indonesia lebih menganut jalur pidana. jalur.
38 Barda Nawawi Arief, Antologi Kebijakan Hukum Pidana: Perkembangan Konsep KUHP Baru, (Jakarta: Kencana, 2014), hal. Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa hal yang menjadi permasalahan yaitu apa yang menjadi penyebab terjadinya kejahatan teroris. Serta bentuk kebijakan pemerintah apa yang dapat diterapkan dari sudut pandang non-kriminal dalam menanggulangi kejahatan teroris.
Dari pendapat Paulus di atas terlihat bahwa konflik agama dan ideologi menjadi salah satu penyebab terjadinya kejahatan teroris. 43 Sukawarsini Djelantik, Terorisme; Tinjauan Psiko-Politik, Peran Media, Kemiskinan, dan Keamanan Nasional, dikutip dari Ari Wibowo, Hukum Pidana Terorisme, Kebijakan Formulatif Hukum Pidana dalam Mengatasi Tindak Pidana Terorisme di Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012), hal . . Apabila sifat deliknya sudah merupakan tindak pidana, asas ini dapat dimaknai sebagai kebijakan yang integratif, yaitu memadukan secara simultan pendekatan hukum pidana dan hukum non-pidana dalam menanggulangi kejahatan.
Undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme tidak memenuhi asas tersebut karena hanya menekankan pada pendekatan hukum pidana, tanpa mengatur sama sekali pendekatan di luar hukum pidana. Terorisme yang berlatar belakang agama atau ideologi tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan peradilan pidana yang cenderung represif. Oleh karena itu, untuk menangani kejahatan terorisme secara lebih efektif, diperlukan kebijakan tanpa hukuman.
Kebijakan non-kriminal dalam pendekatan keagamaan dalam menanggulangi kejahatan teroris dapat dilaksanakan dengan melakukan evaluasi terhadap pendidikan agama, baik kurikulumnya, gurunya maupun lembaga pendidikan yang memuat pendidikan agama. Ari Wibowo, Hukum Pidana Terorisme, Perumusan Kebijakan Peradilan Pidana dalam Mengatasi Kejahatan Teroris di Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012).
TINJAUAN TERHADAP PENJATUHAN SANKSI PIDANA
PENJARA BAGI ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN
HUKUM
Hukum pidana Indonesia merupakan salah satu negara yang menerapkan dua jenis sanksi pidana secara bersamaan, yaitu hukum pidana (hukuman) dan tindakan (tindakan). Dengan menerapkan sistem dua jalur maka sanksi pidana yang dijatuhkan akan lebih mencerminkan keadilan bagi pelaku, korban dan masyarakat. Setiap anak yang melakukan tindak pidana dan masuk ke sistem peradilan pidana harus diperlakukan secara manusiawi, sebagaimana diatur dalam UU No.
Sanksi hukum selanjutnya dapat dibedakan berdasarkan bidang hukumnya, misalnya sanksi perdata, sanksi administratif, sanksi pidana. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dalam buku ini pengertian sanksi pidana meliputi segala jenis kejahatan dan perbuatan yang diatur dalam hukum pidana, keduanya. Berdasarkan jenis sanksi yang digunakan, hukum pidana Indonesia menggunakan dua kategori sanksi pidana secara bersamaan, yaitu pidana (Straf) dan tindakan (Maatregel).
Secara khusus (pencegahan khusus) tujuan penerapan sanksi pidana dan sanksi penindakan terhadap pelaku tindak pidana adalah agar terpidana tidak mengulangi tindak pidananya, dan dapat tetap hidup. Sedangkan fungsi penerapan sanksi pidana secara umum (general preventif) yaitu terhadap masyarakat termasuk korban antara lain agar masyarakat atau korban memperoleh keadilan, memperbaiki atau memulihkan keadaan (fungsi rehabilitatif). yang dilindungi negara, dan anggota masyarakat lainnya tidak melakukan tindak pidana. Hal inilah yang mendasari penjelasan mengapa sistem jalur ganda mensyaratkan adanya kesetaraan antara sanksi pidana dan sanksi tindakan.74.
Sudarto mencontohkan, munculnya mazhab modern hukum pidana melahirkan jenis sanksi pidana baru dalam hukum pidana yang disebut “tindakan” atau tindakan atau matregel.81 Mengenai sanksi berupa tindakan terhadap anak, Jonkers berpendapat bahwa mempertimbangkan bahwa di Indonesia tidak ada tindak pidana yang khusus. Bagi anak, perbuatan (maatregel) merupakan inti dari hukum pidana anak. Meskipun dalam tataran praktis perbedaan antara sanksi pidana dan sanksi pidana sering kali cukup kabur, namun pada tataran dasar pemikiran keduanya pada hakekatnya berbeda. Dengan kata lain sanksi pidana sebenarnya merupakan respon terhadap suatu perbuatan, sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat antisipatif terhadap pelaku perbuatan tersebut.
Apabila fokus sanksi pidana tertuju pada pelanggaran yang dilakukan seseorang melalui pembebanan penderitaan (agar yang bersangkutan jera), maka fokus sanksi tindakan diarahkan pada upaya pemberian bantuan agar dia berubah. Jonkers, bahwa sanksi pidana terfokus pada hukuman yang diterapkan atas kejahatan yang dilakukan, sedangkan sanksi tindakan mempunyai tujuan sosial. Sanksi pidana bertujuan untuk memberikan penderitaan khusus (bijzonder leed) kepada pelaku agar ia merasakan akibat perbuatannya.
Dengan demikian, perbedaan pokok antara sanksi pidana dan sanksi pidana adalah ada tidaknya unsur bersalah, bukan ada tidaknya unsur penderitaan. Singkatnya, sanksi pidana ditujukan pada gagasan untuk menghukum pelaku perbuatannya, sedangkan sanksi tindakan ditujukan pada gagasan untuk melindungi masyarakat.
ANALISIS PENEGAKAN HUKUM TERPADU TINDAK
KONSTITUSI
Melalui penegakan hukumlah hukum menjadi kenyataan, yaitu kepastian hukum (rechtssifierteit), kegunaan (zwarckmassighkeit), dan keadilan (rechtigkeit). Penegakan hukum adalah kegiatan harmonisasi nilai-nilai yang dituangkan dalam kaidah-kaidah dan sikap bertindak yang kokoh sebagai rangkaian penjabaran nilai yang tiada habisnya, untuk menciptakan, menopang, dan memelihara kehidupan bermasyarakat yang damai, maka penegakan hukum juga harus demikian. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XII/2014 menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup dilakukan secara terpadu antara penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan kejaksaan, di bawah koordinasi Menteri.
Bagaimana Penyidikan Kejahatan Lingkungan Hidup Dilakukan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XII/2014 dan Kaitannya dengan Keputusan Bersama tentang Penegakan Hukum Terpadu dalam Kejahatan Lingkungan Hidup di Indonesia. Saat ini masih sering dilakukan penyidikan secara perorangan oleh penyidik Polri dalam praktik penegakan Hukum Pidana Lingkungan Hidup di Indonesia. Padahal, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XII/2014 telah menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup dilakukan secara terpadu antara penyidik pegawai negeri sipil, polisi, dan kejaksaan di bawah koordinasi menteri.
Sejak putusan MK tersebut, tidak boleh lagi ada penyidik tunggal dalam penegakan hukum pidana lingkungan hidup, namun dapat dilaksanakan secara holistik. 34; Dalam rangka penuntutan pidana terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup, dapat dilakukan penuntutan pidana secara terpadu antara penyidik negara, kepolisian, dan penuntut umum yang dikoordinasikan oleh Menteri." 34; Dalam rangka penuntutan pidana terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup , kejahatan, termasuk tindak pidana “Tindak pidana lain yang timbul akibat pelanggaran undang-undang ini dilakukan dalam penuntutan pidana secara terpadu antara penyidik negara, kepolisian, dan kejaksaan dengan berkoordinasi dengan menteri.”
Penegakan hukum adalah kegiatan harmonisasi nilai-nilai yang dituangkan dalam aturan dan sikap yang tetap sebagai rangkaian penerjemahan nilai yang tiada habisnya, untuk menciptakan, memelihara, dan memelihara kehidupan bermasyarakat yang damai. “Dalam rangka penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup, termasuk tindak pidana lain yang timbul akibat pelanggaran undang-undang ini, dilakukan penegakan hukum secara terpadu antara penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan kejaksaan di bawah koordinasi menteri.” Penerapan peraturan perundang-undangan terpadu juga dilakukan dengan tujuan agar penegakan hukum lingkungan hidup dapat berjalan dengan baik, oleh karena itu frasa “bisa” dalam UUPPLH bertentangan dengan marwa atau semangat UUPPLH itu sendiri dalam hal menjaga dan melindungi mutu. lingkungan.
Menurut Keith Hawkin, Penegakan hukum bidang lingkungan hidup (dalam Koesnadi Hardjasoemantri) menyatakan bahwa penegakan hukum lingkungan hidup pada dasarnya dapat dilihat dari dua sistem atau strategi yang ditandai dengan perbaikan peraturan dan pemberian sanksi (penal-style sanctioning). Tentang penegakan hukum secara terpadu terhadap pelaku kejahatan kebakaran hutan dan/atau lahan di bidang kejahatan lingkungan hidup. Bahwa dalam pasal 1 angka 1 Keputusan Bersama ini menegaskan bahwa Penegakan Undang-undang Kebakaran Hutan dan/atau Lahan Terpadu dalam Lingkup Kejahatan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut Gakkumdu Karhutla dalam lingkup kejahatan lingkungan hidup adalah penegakan hukum terpadu. dari tindak pidana. pembakaran hutan dan/atau lahan.