KELOMPOK 1
Menganalisis penyebab terjadinya keruntuhan kerajaan Majapahit di Indonesia
Adapun penyebab Keruntuhan Kerajaan Majapahit disebabkan oleh beberapa faktor,Faktor- faktor itu meliputi:
a) Faktor Politik
Dalam negeri, kesatuan Majapahit itu berkat kekuatan Gajah Mada, tetapi setelah Gajah Mada Meninggal, banyak daerah Cina yang otonom tak membayar pajak dan meninggalkan Majapahit.
b) Faktor Ekonomi
Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, sudah mulai berdirinya kerajaan-Kerajaan yang bercorak agama islam. Karena itu, para pengikut Majapahit sudah mulai meninggalkan Majapahit sedikit demi sedikit untuk berpindah ke kerajaan Islam tersebut.
c) Faktor Agama
Perbedaan ideologi, Penyebaran Islam di Asia Tenggara, melalui jalur perdagangan yang lebih dulu terpengaruh adalah bandar, maka bandar Majapahit beragama Islam, tetapi Majapahit masih Hindu. Para Bandar pun menentang Majapahit dan meninggalkan Majapahit
d) Faktor Perselisihan
Sebelum Majapahit runtuh terjadi perang saudara (perang paregreg) pada tahun 1405- 1406 antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Yang akhirnya Wirabhumi meninggal dunia
Terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an.
Pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468
JAWABAN:
Adapun Faktor pokok utama dari keruntuhan kerajaan Majapahit adalah disebabkan oleh perang saudara yang terjadi sesudah kematian Hayam W uruk. Perang saudara yang dikenal sebagai perang Paregreg itu akibat daripada persoalan warisan pemerintahan yang lebih layak memimpin kerajaan Majapahit.Perang saudara terjadi akibat dari keinginan untuk menduduki tahta kerajaan. Pada masa Hayam W uruk masih hidup, dia telah mewasiatkan bahwa sesudah beliau wafat tahta kerajaan akan diteruskan oleh menantunya yakni Wirakramawardana suami dari puteri Kasumawardani. Namun Hayam W uruk juga meningalkan warisan dari selirnya yang bernama Raja Wirabumi yang ditempatkan disebelah timur Jawa. Maka wujud dua keluarga dari keturunan yang sama. Hal ini menyebabkan berlaku pergolakan politik diantara kuasa pusat yang diperintah oleh W irakramawardana dan kuasa peringkat daerah yang diperintah oleh W irabumi dan akhirnya terjadi perang saudara. Maka setelah pergolakan diantara dua keluarga maka, terjadilah perang saudara pada tahun 1404-1406 M yang dikenal sebagai perang Paregreg.
Akibat perang saudara mengakibatakan saling menjatuhkan antara saudara satu dengan yang lainnya.
Pertanyaan Ke Kelompok 2:
Setelah berakhirnya pemberontakan kuti, Apakah ada cita-cita dari Gajah Mada itu sendiri untuk mempersatukan kerajaa-kerajaan atau wilayah yang ada di Nusantara?
KELOMPOK 2
Menginterprestasikan proses terjadinya peristiwa pemberontakan kuti dalam kepemimpinan Gadjah Mada di Kerajaan Majapahi
Peran Gajah Mada dalam peristiwa pemberontakan Kuti terhadap Kerajaan Majapahit yaitu:
Dalam pemberontakan Ra Kuti nama Gajah Mada mulai disebut-sebut dalam kitab Pararaton sebagai orang yang berperanan dan terampil untuk mengatasi masalah,Saat pemberontakan Ra Kuti terjadi, Gajah Mada belum menjabat sebagai mahapatih yang nantinya turut mengantarkan Majapahit ke masa kejayaan. Posisi Gajah Mada saat itu adalah anggota pasukan pengamanan raja alias Bhayangkara. Aksi pemberontakan Ra Kuti membuat ibu kota Kerajaan Majapahit porak-poranda dan Jayanagara berada dalam situasi berbahaya.
Di sinilah peran Gajah Mada disebut-sebut sangat penting dalam upaya penyelamatan takhta Majapahit. Gajah Mada bertugas pada saat yang tepat dengan menunjukkan loyalitas dan keberaniannya dalam melindungi Raja Jayanegara. Gerakan kudeta yang dilakukan oleh para Dharmaputra jelas mengancam nyawa Raja Jayanagara. Maka, sang raja harus diselamatkan.
Pasukan Bhayangkara yang berjumlah 16 orang, termasuk Gajah Mada, menjalankan operasi intelijen penyelamatan Jayanagara, demikian diulas Pitono Hardjowardojo dalam buku bertajuk Pararaton (1965). Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara mengamankan Raja Jayanagara ke desa bernama Badander. Ada referensi yang menyebut bahwa Badander berada di wilayah Bojonegoro, namun ada pula yang meyakini desa itu terletak di Jombang.
Setelah memastikan Raja Jayanagara aman di Badander, dengan pengawalan sebagian anggota Bhayangkara, Gajah Mada kembali ke pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Di ibu kota istana yang terletak Mojokerto itu, Gajah Mada menjalankan taktik jitunya untuk memastikan bahwa rakyat tidak mendukung pemberontakan Ra Kuti. Gajah Mada mengumpulkan para pemimpin daerah dan mengabarkan bahwa Raja Jayanegara telah wafat dalam pelarian. Dari sinilah Gajah Mada yakin bahwa rakyat mencintai Raja Jayanagara dan tidak senang dengan gerakan kudeta yang dilakukan oleh Ra Kuti. Setelah menjelaskan bahwa raja sebenarnya selamat, Gajah Mada segera menyusun strategi untuk menumpas pemberontakan. Hingga akhirnya, dalam tempo yang tidak terlalu lama, istana dapat direbut kembali oleh pasukan pimpinan Gajah Mada dari penguasaan kawanan pemberontak. Ra Kuti tewas dalam pergolakan itu.
JAWABAN:
Pada masa terjadinya pemberontakan Sadeng, Gajah Mada diangkat menjadi pejabat perdana menteri (maha patih) Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sedang sakit. Gajah Mada ditugasi memimpin penumpasan pemberontakan Sadeng. Gajah Mada berhasil melaksanakan tugas itu. Beliau diangkat menjadi maha patih. Saat dilantik, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Dalam sumpah itu tersirat cita-cita Gajah Mada mempersatukan Nusantara. Adapun yang dimaksud dengan Nusantara ketika itu adalah Hasta Dwipa Nusantara (delapan pulau), yaitu Malaka, Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara), Maluku, dan Irian (Gurun). Untuk mewujudkan cita-cita itu, Gajah Mada membangun armada laut. Karena memiliki angkatan laut yang kuat, Kerajaan Majapahit dikenal sebagai kerajaan maritim. Pimpinan armada laut dipercayakan kepada Empu Nala. Dengan armada yang kuat, Majapahit berhasil menaklukkan Dompo pada tahun 1340 dan Bali pada tahun 1343.
Pertanyaan ke Kelompok 1:
Apa faktor pokok utama yang menjadi keruntuhan dari kerajaan Majapahit,selain yang disebutkan kelompok penyaji tersebut?