• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dlr tr

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Dlr tr "

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh

Liana Fitrianingsih NIM. 151.141.232

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

MATARAM 2019

(2)

Skripsi

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk melengkapi persayaratan mencapai

Gelar sarjana

Oleh Liana Fitrianingsih NIM: 151.141.232.

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2019

(3)

Metode Bervadasi Pada Pembelajran Akidah AHdak Di Ketas VItr B Puti MTs Darul Musthoh NW R€pok

Alas

Kcc, Narmada Lombok Baraf Tahun Pelajaratr 2011 12018" telah memerutflyarat dan disetujui unhrk diuji.

Diset1rjui pada tqn qgal 07 - 0l- 2019

Dr. 11 M. Nrbir. M.P NIP. 195208rsr98{n31(M

Dos€n Pembimbiry tr

/ ,al$'

Dlr tr

Zivad. M. Ac.

NrP. r9700424197031003

iit

(4)

FIal

: Ujiotr Skipsi

Yrtrg Teftormat Rektor IAIN Mrtaram di Mataram

Asssalamu'alakum Wr. Wb.

Dsampaikan dengan hormat, s€telah melakukan bimbiagan, arahan, dan koreksi. Maka kami berpendapat bahwa sloipsi saudara:

Nama Mahasiswa : Liana Fitrianingsih

NIM

:

l5t

141232

JurusanrProdi

: Pendidikan Agaoa Islam/Sl

Judul

:

Penerapan Metode Bervariasi Pada Pembelajarat Akidah Akhlak Di Kelas

VIII B

Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Kec.Namuda Lombok Barat Tahun Pel4iaran 2017 D018.

Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang Muagasya,/r Slripsi Fakultas IlDu Taftiyah dao Keguruatr UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skipsi ini dryat x,geta d;irnunaqasyahkat.

Wassalamu' alqikum, Wr. Wb.

Dosen Pembimbing

]I

/ru'

Drs. H. Zivad.

M-{g

NrP.19700828199703r003

IIIP. 195208151980031004

(5)

Narmada Irmbok Barat Tahun PelajaEn 201812019" yang diajukan oleh Liana Fitrianingsih,

NIM

151.141.232, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbi),ah dan K€guruan UIN Matarain telah dimunaqasyahkan pada ha.i Jum'at, tanggal l lJmuari 2019 dan telah dinyatakan memcnuhi s)€ral untuk mencapai gelar sarjana Pendidikan.

(+, ,fE,

CD' h-l

'y'

Dewan Munaqasyah

l.

Ketua Sidang/

Pemb. I

2.

Seloetaris sidang/

Pemb. II

3.

Penguji I

4.

Peneuji II

Dr. H.M. Natsir. M,Pd.

NIP: 195208151980031004 Drs. H. Zivad. M.As.

NIP. 19700828 r 997031003

Dr. sYuki M. Pd.

NrP. t9621231 l99l 1031025

H.M, Taisir M. Ae.

NtP. 197412312005 t t 0l4

Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Tarbi!

2311993032

(6)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah peneliti haturkan kehadirat Allah SWT. karna berkat Ridho-nyalah akhirnya peneliti mampu menyelesaikan skripsi yang merupakan tugas akhir di bangku kuliah sebagai persyaratan untuk meraih gelar serjana Strata 1 (S1)

Shalawat serta salam peneliti haturkan kepada junjungan umat Islam di seluruh belahan dunia ini dan sepanjang masa, yakni baginda Rasulullah SAW yang telah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia demi mencapai idealis kehidupan yang hakiki, baik di dunia yang fana ini maupun di akhirat nanti.

Dalam upaya menyelesaikan kesempatan ini peneliti ingin menghaturkan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. H.M. Natsir, M.Pd, selaku pembimbing pertama dan Drs.H.Ziyad, M.Ag.

selaku pembimbing kedua yang telah banyak meluangkan waktu dan memberikan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

2. Dra Hj. Lubna M.Pd. selaku Dekan UIN Mataram, dan Pembantu Dekan, beserta staf-stafnya yang telah banyak memberikan bantuan selama berada di lingkuan kampus UIN Mataram.

3. Dr. H.Mutawali, M.Ag. selaku Rektor skripsi ini, peneliti memahami dan menyadari sepenuhnya bahwa tanpa adanya campur tangan dari berbagai pihak tidak akan mungkin karya ini dapat terselesaikan, baik itu berupa bantuan modal,

(7)

ix

material maupun spiritual. Oleh karena itu, dalam UIN Mataram yang telah melakukan berbagai kebajikan yang meringankan mahasiswa dalam urusan perkuliahan di UIN Mataram.

4. Bapak dan ibu dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan dengan tulus selama penulis mengikuti perkuliahan di UIN Mataram, serta karyawan dan karyawati yang telah memberikan bantuan kepada penulis.

5. Taupan Jayadi, SP.d selaku Kepala MTs Darul Mustofa NW Repok Atas yang menerima peneliti untuk meneliti di lokasi tersebut sehingga skripsi ini bisa terselesaikan dengan lancar.

6. Kepada sahabat-sahabatku, serta semua teman-teman yang telah memberikan motivasi sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini dengan lancar.

Tiada kata yang pantas terucap selain jazakumullah khairan katsiro,atas ridhonya semoga skripsi ini bermanfaat bagi peneliti khususnya dan bagi pembaca Pada umumnya

Mataram,……,……..,2019

Peneliti

(8)

HALAMAN SAMPUL……….. i

HALAMAN JUDUL………..ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING………...iii

NOTA DINAS PEMBIMBING……….. iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI vi

HALAMAN MOTTO...vii

HALAMAN PERSEMBAHAN……… viii

KATA PENGANTAR ix

DAFTAR ISI x

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR LAMPIRAN xii

ABSTRAK xiii

BAB I PENDAHULUAN A.Konteks Penelitian 1

B. Fokus Penelitian 5

C.Tujuan Dan Manfaat Penelitian 6

D.Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 7

E. Telaah Pustaka 8

F. Keangka Teori 1. Konsep Penerapan Metode Bervariasi 11

2. Pembelajaran Akidah Akhlak 23

G.Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian 35

2. Kehadiran Peneliti 35

3. Sumber Data 36

(9)

6. Validitas Data 43

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN A.Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Singkat MTs Darul Mustofa NW Repok Atas 46

2. Letak Geografis MTs Darul Mustofa NW Repok Atas 47

3. Data Guru dan Pegawai MTs Darul Musthofa NW Repok Atas 47

4. Keadaan Siswa Siswi MTs Darul Musthofa NW Repok Atas 49

5. Visi dan Misi MTs Darul Musthofa NW Repok Atas 51

6. Struktur Organisasi MTs Darul Musthofa NW Repok ATas 52

7. Sarana dan Prasarana MTs Darul Musthofa NW Repok Atas 52

B. Metode Bervariasi Yang Digunakan Guru Akidah Akhlak Di Kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Kec. Narmada Lombok Barat...56

C.Penerapan Metode Bervariasi Pembelajaran Akidah Akhlak Di Kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Kec. Narmada Lombok Barat………...58

BAB III PEMBAHASAN A. Metode Bervariasi Yang Digunakan Guru Akidah Akhlak Di Kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Kec. Narmada Lombok Barat………...67

B. Penerapan Metode Bervariasi Pada Pembelajaran Akidah Akhlak Di Kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Kec. Narmada Lombok Barat………...69

(10)

B. Saran-saran 76

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(11)

Tabel 2. Keadaan Siswa-Siswi MTs Darul Musthofa

Tabel 3. Data Siswi Kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa Tabel 4. Keadaan Sarana dan Prasarana MTs Darul Musthofa

Tabel 5. Kondisi Perlengkapan Administrasi Tata Usaha MTs Darul Musthofa Tabel 6. Keadaan Alat-alat Penunjang Belajar Mengajar MTs Darul Musthofa

(12)

Kartu Konsul Proposal Dan Skripsi Surat Permohonan Izin Penelitian Surat Izin Penelitian

Surat Keterangan Penelitian

(13)

xiii ABSTRAK

Penerapan Metode Bervariasi Pembelajaran Akidah Akhlak Di Kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa NW Repot Atas Kec. Narmada Lombok

Barat Oleh

LIANA FITRIANINGSIH 151.141.232.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh keterangan terkait dengan beberapa hal yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini yaitu: Pertama, untuk mengetahui metode apakah yang divariasikan oleh guru akidah akhlak di kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas, kedua, untk mengetahui bagaimanakah penerapan metode bervariasi pembelajaran Akidah Akhlak di kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi dan wawancara digunakan untuk mencari data tentang penerapan metode bervariasi pada pembelajaran akidah akhlak di kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode bervariasi dilakukan guru akidah akhlak dengan menggabungkan tiga metode dalam satu kali pertemuan, adapun metode yang dirvariasikan itu adalah metode ceramah, drill dan demonstrasi.Metode bervariasi merupakan cara yang digunakan guru akidah akhlak untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.

Dengan penerapan metode bervariasi siswi diharapkan menjadi lebih aktif pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Sehingga tujuan pembelajaran mudah tercapai.

Kata Kunci : Penerapan Metode Bervariasi Pada Pembelajaran Akidah Akhlak .

(14)

vii Motto:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum Sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar-Ra’du:11).1

1 Kementerian Agama RI. Al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Semarang:CV Raja Publising, 2011), h.225.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Setiap lembaga pendidikan baik pendidikan agama maupun pendidikan umum mempunyai tujuan yang sama yaitu membentuk manusia yang berkualitas.

Pendidikan pada hakikatnya adalah pembentukan kepribadian manusia, memanusiakan manusia dalam arti yang sesungguhnya. Karena itu, pendidikan mestilah menyoroti pengembangan seluruh potensi manusia baik jasmani maupun rohani.

Pendidikan memiliki potensi untuk membentuk karakter pribadi seseorang, karena pada dasarnya prilaku seseorang merupakan produk dari akal pikiran (pengetahuan)-nya. Seseorang akan melakukan suatu perbuatan (amal, action) berdasarkan apa yang diketahuinya, atau paling tidak akan meniru-niru atau melakukan sesuatu yang menyerupai apa yang diperolehnya dengan indranya.

Dengan demikian, pendidikan dapat mencetak seseorang menjadi sholeh secara individu dan sholeh secara sosial, bersikap terbuka dan menerima keragaman realitas budaya, etnis, dan keragaman pemahaman agama. Di samping itu, pendidikan juga dapat mencetak pribadi-pribadi yang ekslusif, tertutup dan tidak menerima keragaman realitas, mengklaim kebenaran (truth

(16)

claim) hanya pada apa yang dianutnya atau kelompoknya sehingga tidak jarang konflik dan tindak kekerasan terjadi. 2

Usaha pendidikan yang sudah berjalan sekian abad di Indonesia pasti membutuhkan peninjauan kembali untuk mengadakan penyesuaian pada tuntunan baru sejalan dengan perkembangan budaya bangsa. Memperbarui tujuan strategis dari pendidikan islam, yaitu tujuan yang menciptakan manusia beriman yang meyakini suatu kebenaran dan berusaha membuktikan kebenaran tersebut melalui akal, rasa, feeling, dan kemampuan untuk melaksanakannya melalui amal yang tepat dan benar atau disebut amal shaleh yang tepat dan benar yang berarti baik atau pengetahuan benar yang membentuk sikap dan prilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Pembentukan sikap dan prilaku dalam kehidupan sehari-hari dapat di- tandai dengan karakteristik pendidikan, yaitu tidak hanya mengajarkan atau mentransformasikan ilmu dan keterampilan serta kepekaan rasa (budaya) dan/atau agama, melainkan pendidikan seyogyanya memberi perlengkapan kepada anak didik untuk memecahkan persoalan yang sudah tanpak sekarang maupun yang akan tanpak di masa yang akan datang.3

Untuk melaksanakan tugas dalam meningkatkan peroses belajar-mengajar, guru merupakan figur sentral dalam mengantarkan peserta didik kepada tujuan yang mulia. Nana Sayodih Sukmadinata menyebutkan: “guru memegang peranan kunci bagi keberlangsungan pendidikan”. 4 Di tangan para gurulah

2 Abdul Wahid & Atun Wardatun, Tendensi Teks: Ambiguitas Visi Sosial Buku PAI SMU Depag Rid an Hasil Bahsul Masail NU. (Mataram: Alam Tara Institute, 2009), h. 5.

3 H. Zaenuddin Ali, Pendidikan Agama Islam, Bumi Aksara (Bandung, 2008). h. 43.

4 Ramayulis, Profesi & Etika Keguruan, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), h. 10.

(17)

terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan belajar- mengajar di sekolah, serta pada tangan merekalah bergantungnya masa depan karier para peserta didik yang menjadi tumpuan para orang tuanya. Guru memikul tugas tanggung jawab yang tidak ringan. “Disamping dia harus membuat pandai peserta didiknya secara akal (mengasah kecerdasan IQ) dia juga harus menanamkan nilai-nilai iman dan akhlak yang mulia. Untuk itu guru harus memahami peran dan tugasnya, memahami kendala-kendala pendidikan dan cara untuk mengatasinya”. 5

Salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah menerapakan metode bervariasi dalam mengajar dan harus sesuai serta tepat dengan materi pembelajaran yang diajarkan.

Adapun keterampilan memberi variasi yang dijelaskan dalam buku karangan Kunandar, yaitu “usaha guru untuk menghilangkan kebosanan siswa dalam menerima pelajaran melalui variasi gaya mengajar, penggunaan media, pola interaksi kegiatan siswa, dan komunikasi nonverbal (suara, mimik, kontak mata, dan semangat)”.6

Didalam proses belajar mengajar, “variasi ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam gaya mengajar seorang guru, melihat media apa yang digunakan, dan prubahan dalam pola interaksi. Variasi ini lebih bersifat proses daripada produk.”7 “Kalau tujuan pembelajaran mencakup domein (ranah) dengan berbagai jenjang penguasaan maka disarankan untuk memakai

5 Ibid., h. 10

6 Kunandar, Guru Profesional (implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Sukses dalam Sertifikasi guru), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h. 27

7 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak didik dalam Interaksi Eduktif, (Jakarta:

PT.Rineka Cipta, 2000), h. 124

(18)

berbagai jenis metode pada setiap penyajian apalagi kalau siswanya sangat bervariasi”.8

Berdasarkan survei awal pada tanggal April 2018, guru-guru di MTs Darul Musthofa sudah menerapkan metode bervariasi karena banyaknya ranah-ranah yang harus dikuasai oleh peserta didik, seperti ranah kognitif, apektif, dan ranah psikomotorik, jadi guru di MTs Darul Musthofa merubah cara mengajarnya salah satunya dengan menggunakan banyak metode pada saat mengajar dan hal ini yang membuat peserta didik lebih semangat dan aktif didalam kelas.9

Pada saat pak Arthamadi selaku guru akidah akhlak mengajar di kelas, peneliti melihat para siswi kelas VIII B putri sangat semangat dan aktif dalam mengikuti pelajaran karena pak Arthamadi selaku guru akidah akhlak pada saat mengajar tidak monoton kepada satu atau dua metode saja, melainkan menggunakan banyak metode dalam artian sudah menerapkan metode bervariasi, sehingga tujuan pelajaran yang diharapkan bisa tercapai.10

Jenis metode yang divariasikan oleh guru akidah akhlak kelas VIII B putri diantaranya adalah metode ceramah, metode drill dan metode demonstrasi , pada dasarnya metode bervariasi ini merupakan suatu istilah yang sering diucapkan oleh mayoritas guru, karena metode yang divariasikan itu tidak diterapkan secara bersamaan sekaligus, akan tetapi secara bertahap misalnya saja seperti yang peneliti lihat pada saat pak Arthamdi selaku guru

8 Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester (SKS), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 127.

9 Observasi , 8 April 2018.

10 Observasi , 8 April 2018.

(19)

akidah akhlak menerapkan metode secara bertahap seperti, menerapkan metode ceramah terlebih dahulu untuk ranah kognitif, selanjutnya menerapkan metode driil untuk ranah apektik dan kemudian menerapkan metode demonstrasi untuk ranah psikomotorik.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengangakat penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Bervariasi Pada Pembelajaran Akidah Akhlak Di Kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2017/2018”.

B.Fokus Penelitian

Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka terdapat beberapa perumusan masalah sebagai berikut:

1. Metode apakah yang divariasikan oleh guru akidah akhlak dalam membina akhlakul karimah siswi kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Tahun Pelajaran 2017/2018?

2. Bagaimanakah penerapan metode bervariasi pada pembelajaran Akidah Akhlak dalam membinaan akhlakul karimah siswi kelas VIII B putri di MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Tahun Pelajaran 2017/2018?

(20)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui metode yang divariasikan oleh guru akidah akhlak dalam membinaan akhlakul karimah siswi kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Tahun Pelajaran 2017/2018 .

b. Untuk mengetahui penerapan metode bervariasi pada pembelajaran Akidah Akhlak bagi pembinaan akhlakul karimah siswi kelas VIII B putri di MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Tahun Pelajaran 2017/2018 c. Untuk mengetahui hasil pembinaan akhlakul karimah siswi kelas VIII B

putri melalui penerapan metode bervariasi di MTs Darul Musthofa NW Repok Atas Tahun Pelajaran 2017/2018?

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

Menambah Khazanah Ilmu pengetahuan dalam penerapan metode bervariasi membina akhlakul karimah siswa.

b. Manfaat Praktis

1) Bagi guru, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam, khususnya dalam pembinaan akhlakul karimah dengan memberikan tauladan yang baik pada siswa.

2) Bagi peneliti sebagai calon orang tua, dan calon guru pendiidkan agama Islam, diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengatasi

(21)

masalah-masalah yang timbulkan dalam pelaksanaan membentuk akhlakul karimah siswa.

3) Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi lembaga untuk bisa membina akhlakul karimah siswa.

4) Sebagai salah satu syarat, guna mendapat gelar sarjana SI Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk memperjelas arah penelitian ini, maka perlu dibatasi ruang lingkup masalah yang akan diteliti. Adapun ruang lingkup masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Jenis metode bervariasi yang digunakan oleh oleh guru akidah akhlak dalam membina akhlakul karimah siswi kelas VIII B putri di MTs Darul Musthofa NW Repok Atas.

b. Penerapan metode bervariasi pada pembelajaran akidah akhlak bagi pembinaan akhlakul karimah siswa kelas VIII putrid di MTs Darul Musthofa NW Repok Atas.

2. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di MTs. Darul Musthofa NW Repok Atas.

Pemilihan lokasi penelitian di MTs. Darul Musthofa NW Repok Atas ini didasarkan pada observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, yang dimana peneliti melihat para siswi kelas VIII B putri sangat aktif dan semangat dalam mengikuti pelajaran akidah akhlak, karena guru akidah akhlak

(22)

sudah menerapkan metode bervariasi dalam pembelajarannya pada siswi kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa di dalam kelas, adapun metode yang divariasikan diantaranya metode ceramah, metode drill dan metode demonstrasi.

E. Telaah Pustaka

Telaah pustaka dilakukan untuk “menjelaskan posisi penelitian yang akan dilaksanakan diantara hasil-hasil penelitian atau buku-buku yang terdahulu yang bertopik senada. Tujuannya untuk menegaskan kebaruan, orisinilitas, dan urgensi penelitian bagi pengembangan ilmu terkait. Jadi pustaka yang di telaah harus memiliki signifikansi dan relevansi dengan fokus penelitian”.11

Adapun karya ilmiah yang memiliki kemiripan atau yang terkait dengan penelitian ini adalah:

1) Skripsi yang diteliti Nurlaili Mufidah dengan judul: “Penerapan Metode Bervariasi Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas V MI Al-Mutmainnah Pekat Tahun Pelajaran 2012/2013”. 12 dengan judul penelitian yang diteliti penulis “ Penerapan Metode Bervariasi Pada Pembelajaran Akidah Di Kelas VIII B Putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas”, ditemukan adanya kesamaan maupun perbedaan baik dilihat dari variabel masalah, maupun pendekatan sehingga mempengaruhi hasil penelitian.

11 IAIN Mataram, Pedoman Penulisan Skripsi, (Mataram: Tim Penyusun, IAIN Mataram, 2015. h. 15.

12 Nurlaili Mufidah, Penerapan Metode Bervariasi Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Kelas V MI Al-Mutmainnah Pekat (Skripsi), (IAIN Mataram: 2013).

(23)

Persamaannya sama-sama mengarah pada penerapan metode bervariasi pada pembelajaran Akidah Akhlak.

Perbedaannya jika pada penelitian yang dilakukan oleh Nurlaili Mufidah pelaku penerapan metode bervariasi dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akidah akhlak kelas V MI Al- Mutmainnah Pekat adalah dalam rangka meningkatkan prestasi belajar, sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti adalah hanya sebatas menerapkan metode bervariasi pada pembelajaran akidah akhlak di kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas.

Dengan adanya persaman dan perbedaan di atas, dapat dipastikan adanya data terkait dengan teori akidah akhlak, sedangkan terkait data lainnya tentunya berbeda, mengingat perbedaan fokus penelitian.

2) Skripsi Siti Raihana Mutrofin dengan judul “Penerapan Metode Bervariasi Terhadap Efektifitas Pembelajaran Fiqih Pada Siswa Kelas VIII MTs NW Kabar Kec. Sakre Lombok Timur Tahun Pelajaran 2010/2011 ”. 13 judul penelitian yang diteliti penulis yaitu “Penerapan Metode Bervariasi Pada Pembelajaran Akidah Akhlak Di Kelas VIII putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas”, ditemukan adanya kesamaan dan perbedaan baik dilihat dari variabel masalah, maupun pendekatan, sehingga mempengaruhi hasil penelitian.

Persamaannya adalah sama-sama mengarah kepada penerapan metode bervariasi, sama-sama menerapkan pendekatan kualitatif.

13Siti Raihana Mutrofin, Penerapan Metode Bervariasi Terhadap Efektifitas Pembelajaran Fiqih Pada Siswa Kelas VIII MTs NW Kabar Kec. Sakre Lombok Timur (Skripsi), (IAIN Mataram: 2011).

(24)

Perbedaanya, jika pada penelitian yang dilakukan oleh Siti Raihanun Mutrofin pada penerapan metode bervariasi terhadap efektifitas pembelajaran fiqih pada siswa kelas VIII MTs NW kabar adalah untuk memgetahui efektifitas pembelajaran fiqih, sedangkan peneliti adalah hanya sebatas penerapan metode bervariasi pada pembelajaran akidah akhlak di VIIIB putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas. Dengan adanya persamaan dan perbedaan diatas, dapat dipastikan adanya data terkait dengan teori akidah akhlak, sementara terkait data lainnya tentunya berbeda, mengingat perbedaan fokus penelitian.

(25)

F. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan perspektif teoritik yang secara paragmatik, dipakai untuk menegaskan dan menguraikan relevansi teoritik dari teori-teori terpilih dengan fokus yang sedang diteliti oleh peneliti, diantara kerangka teoritik yang peneliti perlu paparkan yang bertitik tolak pada fokus penelitian antara lain:

1. Konsep Penerapan Metode Bervariasi a. Pengertian Metode Bervariasi

Metode bervariasi adalah “seorang guru yang dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunkan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola intraksi guru dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk”.14

b. Metode-metode yang divariasikan guru akidah akhlak kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas

Adapun jenis-jenis metode yang digunakan guru akidah akhlak di kelas VIII B putri MTs Darul Musthofa NW Repok Atas diantaranya adalah :

Metode yang pertama diterapkan guru akidah akhlak adalah metode ceramah, Metode Ceramah adalah, “penerangan dan penuturan secara lisan oleh pendidik terhadap kelas.” 15 Dengan kata lain dapat pula dimaksudkan, bahwa metode ceramah itu adalah “suatu cara

14 Syaiful Bahri Djamarah, dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2014), h. 161.

15 Ibid., h. 299.

(26)

penyajian atau penyampaian informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh pendidik terhadap peserta didiknya.”16

Dalam metode ceramah ini guru memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu tertentu, (waktunya terbatas) dan tempat tertentu pula. Dilaksanakan dengan bahasa lisan untuk memeberikan pengertian terhadap sesuatu masalah, karena itu cara tersebut juga sering di sebut dengan metode kuliah, sebab ada persamaan guru mengajar dengan seorang dosen/maha guru memberikan kuliah kepada mahasiswa/mahasiswinya.17

Kemudian, ketika metode ceramah ini digunakan, murid duduk, melihat dan mendengar serta percaya bahwa apa yang diceramahkan atau yang dijelaskan guru tersebut adalah benar, didalam metode ceramah ini murid menjadi pasif cuma menerima penjelasan dari guru saja.

Pada setiap metode pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Adapun kelebihan dari metode ceramah adalah:

1) Suasana kelas berjalan dengan tenang karena peserta didik melakukan aktifitas yang sama, sehingga pendidik dapat mengawasi peserta didik sekaligus.

2) Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama, dengan waktu yang singkat peserta didik dapat menerima penjelasan sekaligus.

3) Pelajaran bisa dilaksanakan dengan cepat, karena dalam waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang banyak.

4) Pleksibel dalam penggunaan waktu dan bahan, jika bahan banyak sedangkan waktu terbatas dapat dibicarakan pokok-pokok permasalahannya saja, sedangkan bila materi sedikit sedangkan waktu yang panjang, dapat dijelaskan lebih mendetail.18

16 Ibid., h. 299.

17 Zakiyah Daradjad,dkk, Metodik Khusus Pengajaran…, h. 289

18Ibid., h.301

(27)

Kelemahan metode ceramah adalah:

1) Dalam pengajaran yang dilakukan dengan metode ceramah.

Perhatian hanya berpusat pada guru dan guru dianggap murid selalu benar. Disini tampak bahwa guru lebih aktif sedangkan murid pasif saja.

2) Pada metode ceramah ada unsure paksaan, karena guru berbicara (aktif) sedangkan murid hanya mendengar, melihat dan mengutif apa yang dibicarakan murid.

3) Untuk Sekolah Dasar metode ceramah ini, jika dilaksanakan 100%

tidak baik, karena segala sesuatu akan ditelannya tanpa kritik bahkan mungkin muridnya sama sekali tidak mengerti apa yang diceramahkan gurunya. 19

Selanjutnya guru akidah akhlak menerapkan metode drill/latihan, Penggunaan istilah “Latihan” sering disamakan artinya dengan istilah

“Ulangan”. Padahal maksudnya berbeda. “Latihan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah untuk sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pelajaran tersebut.”20

Menurut Moh. Sholeh Hamid: “Metode latihan atau drill, juga bisa disebut dengan metode training”. Metode ini merupak “metode yang digunakan guru untuk mengajar dalam upaya menanamkan berbagai kebiasaan atau keterampilan tertentu kepada para siswa.

Dengan begitu, mereka akan menguasai keterampilan atau kebiasaan baru, sehingga dapat dijadikan bekal dalam kehidupan mereka kelak.”21

19 Ibid., h. 289-299

20 Zakiyah Daradjat, Metodik Khusus…, h. 302.

21 Moh. Sholeh Hamid, Metode Edu Tainment, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), h. 216

(28)

Adapun kelebihan metode drill/latihan adalah sebagai berikut:

1) Peserta didik akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya.

2) Dapat menimbulkan rasa percaya diri bahwa para peserta didik yang berhasil dalam belajarnya telah memiliki suatu keterampilan khusu yang berguna kelak dikemudian hari.

3) Pendidik lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan mana peserta didik yang disiplin dalam belajarnya dan mana yang kurang dengan memperhatikan tindakan dan perbuatan peserta didik disaat berlangsungnya pengajaran.22

Kelemahan metode drill/latihan adalah sebagai berikut:

1) Menghambat perkembangan dan daya inisiatif murid.

2) Kurang memperhatiakan penyesuaian dengan lingkungan 3) Membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kaku dan otomatis.

4) Membentuk pengetahuan verbalis dan mekanis.23

Metode yang terakhir guru akidah akhlak terapkan adalah metode demonstrasi, Metode Demonstrasi adalah “metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik.”24

Memperjelas pengertian tersebut “dalam perakteknya dapat dilakukan oleh guru itu sendiri atau langsung oleh anak didik.”25 Dengan metode demonstrasi guru atau murid memperlihatkan pada seluruh anggota kelas sesuatu proses, misalnya bagaimana cara solat yang sesuai dengan contoh sholatnya Rasul. “Sebaiknya dalam mendemonstrasikan pelajaran tersebut guru lebih dahulu

22 Ramayulis, Metodologi Pendidikan…, h. 349

23 Zuhairini,dkk, Metodik Khus Pendidikan Agama, (Malang: Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, 1981), h. 107

24 Zakiyah Daradjat,dkk, Metodik Khusus…, h. 296.

25 Ibid., h. 296

(29)

mendemonstrasikan yang sebaik-baiknya, lalu murid ikut memperaktikan sesuai dengan petunjuk”.26

Adapun kelebihan metode demonstrasi adalah sebagai berikut:

1) Keaktifan peserta didik akan bertambah, lebih-lebih kalau peserta didik ikut disertakan.

2) Pengalaman peserta diidk bertambah karena peserta didik turut membantu pelaksanaan suatu demonstrasi sehingga ia menerima pengalaman yang bisa mengembangkan kecakapannya.

3) Pelajaran yang diberikan lebih tahan lama. Dalam suatu demostrasi, peserta didik bukan saja mendengar suatu uraian yang diberikan oleh pendidik tetapi juga memperhatikannya bahkan turut serta dalam pelakasanaan suatu demonstrasi.

4) Pengertian lebih cepat dicapai. Peserta didik dalam menaggapi suatu proses adalah dengan mempergunakan alat pendengar, penglihatan, dan bahkan dengan perbuatannya sehingga memudahkan pemahaman peserta didik dan menghilangkan sifat verbalisme dalam belajar.

5) Perhatian peserta didik dapat dipusatkan dan titik yang dianggap penting oleh pendidik dapat diamati oleh peserta didik seperlunya.

Sewaktu demonstrasi perhatian peserta didik hanya tertuju kepada suatu yang didemonstrasikan sebab peserta didik lebih banayak diajak mengamati proses yang sedang berlangsung dari pada hanya semata-mata mendengar saja.

6) Mengurangi kesalahan-kesalahan. Penjelasan secara lisan banyak menimbulkan salah paham atau salah tafsir dari peserta didik apalagi kalau menjelaskan suatu peruses. Tetapi dalam demonstrasi, disamping penjelasan dengan lisan juga dapat memberikan gambaran konkrit.

7) Beberapa masalah yangmenimbulkan pertanyaan atau masalah dalam diri peaerta didik dapat terjawab pada waktu peserta didik mengamati proses demonstrasi.

8) Memghindari “coba-coba dan gagal” yang banyak memakan waktu belajar, disamping praktis dan fungsional, khususnya bagi peserta didik yang ingin berusaha mengamati secara lengkap dan teliti atau jalnnya sesuatu.27

Kelemahan metode demonstrasi adalah sebagai berikut:

1) Metode ini membutuhkan kemampuan yang optimal dari pendidik untuk itu perlu persiapan yang matang.

26 Ibid., h. 296-297

27 Ramayulis, Metologi Pendidikan…, h. 314.

(30)

2) Sulit dilaksanakan kalau tidak ditunjang oleh tempat, waktu dan peralatan yang cukup.28

c. Tujuan Metode bervariasi

Penggunaan variasi terutama ditunjukkan terhadap perhatian siswa, motivasi, dan belajar siswa. Adapun tujuan menerapkan metode bervariasi adalah:

1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar

Didalam proses belajar mengajar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberkan sangat dituntut. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.29

Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai faktor memang mempengaruhinya. Misalnya faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi diluar kelas yang dirsaakan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru.30

Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung

28 Ibid., h. 314.

29 Ibid.., h. 161.

30 Ibid.., h. 161.

(31)

tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tercapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa bisa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberika dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan didalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah

“masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran”.31

Jadi dapat disimpulkan bahwa guru harus selalu memperhatikan variasi mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.

2. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinya Motivasi Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi didalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak didalam diri setiap siswa selama pengajaran berlangsung.32

Dalam proses belajar mengajar di kelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenangi, tetapi untuk

31 Ibid.., h. 162.

32 Ibid.., h. 162

(32)

bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalah bagi guru setiap kali mengadakan pertemuan.

Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswa yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan.33

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena didalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi instrinsik. Siswa yang demikian dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan berbagai ganguan yang ada disekitarnya tidak dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.34

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi didalam dirinya, maka motivasi instrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Jadi disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebgai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.35

3. Membentuk Sikap positif Terhadap Guru dan Sekolah

Merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang tidak senang terhadap seorang

33 Ibid.., h. 162

34 Ibid., h. 162-163.

35 Ibid., h. 163.

(33)

guru. Sikap negatif ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada siswi, konsekuensinya bidang study yang dipegang oleh guru tersebut juga tidak disenangi. Acuh tak acuh selalu ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut memberikan materi pelajaran kelas.36

Kurang senangnya seorang siswa terhadap guru bisa jadi disebabkan gaya mengajar guru yang kurang bervariasi. Gaya mengajar guru tidak sesuai dengan gaya belajar siswa. Metode mengajar yang digunakan itu-itu saja. Misalnya, hanya menggunakan metode ceramah setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain. Tanya jawab, resitasi, dan lain-lain.37

Ketika mengajar, guru selalu duduk dengan santainya dikursi, tidak peduli bagaimana tingkah laku dan perbuatan anak didik, adalah jalan pengajaran yang cepat membosankan. Guru kurang dapat menguasai keadaan kelas. Kegaduhan biasanya terjadi pada sudut-sudut kelas. Akibatnya jalan pengajaran kurang menguntungkan bagi kedua belah pihak, yaitu guru dan siswa.

Guru gagal menciptakan suasana mengajar yang emngaakibatkan kreaktifitas dan keairahan belajar siswa. Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru.

36 Ibid., h. 163.

37 Ibid., h. 163.

(34)

Siswa ingin selalu dekat dengan gurua, ketiadaan guru di sekolah tidak jarang dipertanyakan siswa merasa rindu untuk selalu dekat dengan guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuaidengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa.

Disela-sela penjelasan selalu diselangi humor dengan pendekatan edukatif, jauh dari sikap permusuhan. 38

4. Memberikan Kemungkinan Pilihan dan Fasilitas Belajar Individual

Sebagai seorang guru dituntut mempunyai berbagai keterampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar.

Penguasaan metode mengajar yang dituntut kepada guru tidak hanya satu atau dua metode tetapi lebih banyak dari itu. Karena diakui, pengusaan metode mengajar dalam jumlah yang banyak lebih memungkinkan guru untuk melakukan pemilihan metode, mana yang akan dipakai dalam rangka menunjang tugasnya mengajar di kelas. penguasan terhadap bagaimana menggunakan media merupakan keterampilan lain yang juga diharuskan bagi seorang guru. Demikian juga penguasaan terhadap berbagai pendekatan dalam mengajar di kelas.39

Penguasaan dari ketiga keterampilan tersebut (metode, media, dan pendekatan), memudahkan bagi guru melakukan

38 Ibid., h. 163-164.

39 Ibid., h. 164.

(35)

pengembangan variasi mengajar. Tetapi juga sebaliknya, maka sulitlah bagi guru mengembangkan variasi mengajar untuk menciptakan lingkunga belajar yang kondusif.40

Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah, fungsinya sebagai alat bantu pengajaran dan alat peraga, sebagai sumber belajar adalah sisi lain dari perannya yang tidak pernah guru lupakan. Lengkap tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan yang harus guru lakukan. Sangat terbatasnya fasilitas belajar cendrung lebih sedikit alternative yang tersedia untuk melakukan pemilihan. Misalnya, kurangnya buku yang tersedia untuk suatu bidang study menyebabkan metode mencatat lebih dominan dan sulit bagi guru untuk melakukan pendekatan individual. Maka alternative yang sangat terpaksa guru lakukan adalah memilih metode ceramah dan Tanya jawab, ketimbang tidak ada kegiatan sama sekali.41

5. Mendorong Anak Didik Untuk Belajar

Menyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru, kewajiban belajar adalah tugas anak didik. Kedua kegiatan ini menyatu dalam sebuah intraksi pengajaran yang disebut instraksi edukatif.

Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang

40 Ibid., h. 164.

41Ibid., h. 164-165.

(36)

mampu mendorong anak didik untuk selalu belajar hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar.42

Belajar memerlukan motivasi sebagai pendorong bagi anak didik adalah motivasi instrinsik yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan. Namun sayangnya jarang ditemukan bahwa semua anak didik mempunyai motivasi instrinsik yang sama. Artinya, setiap anak yang hadir dikelas selalu membawa motivasi yang berbeda. Perbedaan motivasi itu terlihat dari sikap dan perbuatan mereka ketika meneima materi pelajaran dari guru.

Gejala adanya anak didik yang kurang senang menerima pelajaran dari guru tidak harus terjadi, karena hal itu akan menghambat proses belajar mengajar. Disinilah diperlukan peranan guru, bagimana upaya menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong anak didik untuk senang dan bergairah belajar.

Untuk hal ini, cara akurat yang mesti guru lakuakan adalah mengembangkan variasi mengajar, baik dalam gaya mengajar, dalam pengunaan media, dan bahan pengjaran, maupun dalam instraksi guru dengan anak didik. Ketiga komponen variasi mengajar sebgaimana yang telah disebutkan diatas tentu saja menyerat kegiatan belajar anak didik kedalam berbagai pengalaman yang menarik.43

42 Ibid., h. 165.

43 Ibid., h. 165-166.

(37)

d. Prinsip Penggunaan Metode Bervariasi

Agar kegiatan pelajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar, tentunya saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar.

Yang dimana prinsip-prinsip pengunaan variasi mengajar itu adalah sebagai berikut:

1. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan , selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi semua itu untuk mencapai tujuan belajar.

2. Menggunakan variasi secara lancer dan berkesinambungan, sehingga momen proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidak terganggu.

3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktur dan direncanakan oleh guru. Karena itu memerlukan penggunaan yang luwes, spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. Biasanya bentuk umpan balik ada dua, yaitu:

a) Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa.

b) Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pembelajaran.44

2. Pembelajaran Akidah Akhlak a. Pengertian Pembelajaran

Sebelum penulis menguraikan lebih jelas tentang pembelajaran, perlu dijelaskan juga tentang pengertian belajar dan mengajar menurut beberapa ahli.

Sudjana juga mendifinisikan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam disposisi atau kecakapan baru peserta didik karena adanya usaha

44 Ibid., h. 166-167.

(38)

yang dilakukan dengan sengaja dari pihak luar.45 Sedangkan pengertian mengajar menurut Hamalik dalam bukunya Dasar-Dasar pengembangan Kurikulum menjelaskan bahwa mengajar adalah:

1. Menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah;

2. Mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah

3. Usaha pengorganisasian lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.

4. Memberikan bimbingan kepada murid.

5. Kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.

6. Suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.46

Sedangkan penggunaan istilah pembelajaran lebih mengacu pada upaya menempatkan peserta didik sebagai pihak yang aktif (student centred education) dalam perannya menjadi pembelajar.47 Adapun pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an”

menjadi “pembelajaran’ yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.48

Dari pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada

45 Choirul Fuad Yusuf (ed.), Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (SMP) (Jakarta:Panacitasatria, 2007), h. 3.

46 Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Rosdakarya(Bandung, 2008), h.25.

47 Choirul Fuad Yusuf (ed.),inovasi pembelajaran pendidikan…, ,h.5.

48 http://krisnaI.blog.uns.ac.id/2009/10/19/pengertian-dan-ciri-ciri-pembelajaran/.di akses tanggal 13 Januari 2019, jam 10.30 wita.

(39)

suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.49

Rudi Susilana mengemukakan bahwa Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar.50

Oemar Hamalik juga mengemukakan bahwa Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.51

Pengertian senada juga dikemukakan oleh Gagne dan Briggs bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian pristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar sisiwa yang bersifat internal.52

49 Ibid

50 Rudi Susilana & Cepi Riyana, Media Pembelajaran. (CV. Wacana Prima. Bandung), h.

1. 51 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara, (Jakarta, 2008), h. 57

52 http://krisna.I...

(40)

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang belaku dalam waktu yang relatif lama dan karena adanya usaha.53 Kegiatan pembelajaran lebih menekankan kepada semua pristiwa yang dapat berpengaruh secara langsung kepada efektifitas belajar siswa; dengan kata lain pembelajaran adalah upaya guru agar terjadi pristiwa belajar yang dilakukan oleh siswa.54

Dalam menciptakan situasi agar kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien guru perlu mempertimbangkan secara strategis agar dapat diwujudkan situasi kondusif yang memungkinkan proses interaksi berlangsung dengan baik. Untuk dapat mewujudkan situasi yang kondusif guru perlu mengupayakan agar:

1) Siswa senantiasa menaruh minat dan perhatian 2) Siswa turut serta aktif dalam pengalaman belajar

3) Guru memberikan pengalaman yang terpadu dalam proses belajar 4) Timbulnya dorongan yang positif pada diri siswa untuk belajar.55

Dalam hal ini Shaleh, menekankan agar:

“Dalam proses pembelajaran, sisiwa harus diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do ) denga meningkatkan interaksi dengan lingkungannya baik lingkungan fisik, sosial, maupun budaya

53 Ibid

54 Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa; Visi Misi dan Aksi.

(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 217

55 Ibid

(41)

sehingga mampu membangun pengetahuan (learning to know) dan kepercayaan dirinya (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi (learning to live together) akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajmukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keaneka ragaman dan perbedaan hidup”.56

b. Pengertian Akidah Akhlak

Pengertian Aqidah Akhlak terdiri dari dua kata yaitu aqidah dan akhlak yang mempunyai pengertian secara terpisah yaitu:

Secara etimologis (bahasa) kata aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu aqidatun yang berakar dari kata aqada-ya’qidu-aqdan-aqidatan.

Aqdan berarti ikatan, perjanjian dan kokoh, setelah terbentuk menjadi aqidah yang berarti keyakinan atau sesuatu yang wajib dipercayai atau diyakini hati tanpa keraguan.

Sedangkan secara terminologi atau istilah syara’ aqidah ialah: iman yang kokoh terhadap segala sesuatu yang disebut dalam Al-Qur’an dan hadis shahih yang berhubungan dengan tiga sendi Aqidah Islamiyah, yaitu: 1. Ketuhanan, meliputi sifat-sifat Allah SWT, nama-nama-Nya yang baik dan segala pekerjaan-Nya. 2. Kenabian, meliputi sifat-sifat Nabi, keterpeliharaan mereka dalam menyampaikan risalah, beriman tentang kerasulan dan mukjizat yang diberikan kepada mereka, dan beriman dengan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. 3. Alam

56 Ibid, h.225

(42)

kebangkitan atau alam rohani, yaitu membahas tentang alam yang tidak dapat dilihat oleh mata.57

Dalam pengertian lain sebagaimana diketahui bahwa dasar pokok utama dalam islam adalah aqidah atau keyakinan, dan secara khusus aqidah berarti kepercayaan dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Menurut Arifin Zainal Dzamaris, aqidah adalah istilah suatu yang dianut oleh manusia dan diyakini apakah berwujud agama atau yang lainnya.58

Pengertian senada juga disampaikan oleh Ahmad Adib Al Arif bahwa aqidah adalah beberapa urusan yang harus dibenarkan oleh hati yang mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan, dan tidak tercampur sedikitpun dengan keraguan. Lebih jelas dia menambahkan bahwa aqidah adalah sebuah perkara yang secara umum dapat diterima kebenarannya oleh akal pikiran dan logika manusia serta berdasarkan wahyu Allah SWT.59

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa aqidah islam merupakan dasar-dasar pokok keyakinan/kepercayaan hati muslim yang bersumber dari ajaran islam. Dasar-dasar itu wajib dipegang teguh oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan yang mengikat.

57 http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2108600-tujuan-pendidikan-aqidah- akhlak/#Ixzz!VuVYMTDo, diakses tanggal 13 Januari 2019, pukul 10.35 wita.

58 Ibid

59 Ahmad Adib Al-Arif. Akidah Akhlak. (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2009), h. 2

(43)

Selanjutnya yang kedua pengertian akhlak, kata akhlak dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.60 Secara etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa arab jamak dari “khuluqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.61

Secara terminologi, beberapa pakar mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:

1. Ibnu Maskawih mengemukakan, bahwa akhlak adalah:

Aritnya: Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dahulu.62

2. Imam Al-Ghazali mengemukakan bahwa:

Artinya: Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang, dengan tidak memerlukan pertimbangan atau pikiran lebih dahulu.63

3. Ahmad Amin mengemukakan,

Artinya:

60 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus BEsar Bahasa Indonesia.

(Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 20.

61 Ahmad Mustofa, Akhlak Tasawuf. (Pustaka Setia, Bandung, 2008). h. 11-12.

62 Ibid

63 Ibid

(44)

“Sementara orang mengetahui bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak”. 64

Menurutnya kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah imbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya, masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang yang lebih besar. Kekuatan inilah yang bernama akhlak.

4. Asmaran juga mengemukakan, bahwa akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik. Yaitu sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik, disebut akhlak mulia, atau perbuatan buruk, disebut ahklak yang tercela sesuai dengan pembinaannya.65

Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa seluruh difinisi akhlak sebagaimana tersebut diatas tidak ada yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi yaitu sifat yang tertanam dalam yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan.

64 Zaharuddin AR dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar Ilmu Akhlak. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 4

65 Asmaran, Pengantar Studi Akhlak. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h. 1

(45)

c. Tujuan Pembelajaran Akidah Akhlak

Para ahli pendidikan dalam Islam berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk akhlak. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibnu Miskawaih yang dikutip oleh Muhammad Azmi adalah:

Tujuan pembinaan akhlak yaitu terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara sepontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik, sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati dan sempurna. Jadi tujuan pembinaan akhlak yang ingin dicapai dalah bersifat menyeluruh yakni mencakup kebahagiaan hidup manusia dalam arti yang seluas- luasnya.66

Islam memberi tuntutan agar berakhlak mulia, berakhlak mulia ini sangat ditekankan kareana memiliki manfaat yang banyak seperti membawa kebahagiaan bagi individu juga sekaligus membawa kebahagiaan bagi masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain bahwa akhlak utama yang ditampilkan seseorang tujuannya adalah “untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sesungguhnya Pendidikan Akhlak selama ini telah diterapkan melalui pendidikan agama. Bahkan Rasulullah diutus dimuka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak dan memperbaiki aqidah umat manusia.67 Sebagaimana yang di sabdakan Rasulullah dalam hadisnya:

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

66 Muhammad Azmi, Pembinaan Akhlak,,,h. 62.

67 http://zanikhan.multiply.com/journal/item/3658.diakses tanggal 13 Januari, 2019, pukul 11.00 wita.

(46)

Akhlak Islam, karena merupakan sisitem akhlak yang berdasakan kepada kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar dari pada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar atau sumber pokok dari pada akhlak adalah al-Qur’an dan al-Hadits (As-Sunnah) yang merupakan sumber utama dari agama itu sendiri.68 Kedudukan Al- Qur’an dan Hadits sebagai sumber akhlak ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an, dianteranya QS. Al-Ahzab ayat 21 sebagai berikut.

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.69

Di dalam QS. Al-Qalam ayat 4, Allah Swt. Berfirman.

Artinya:

Dan Sesungguhya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.70

Dari firman Allah dan sabda Rasul di atas, memberikan ilustrasi bahwa untuk mencapai kebahagiaan hanya dengan jalan mentaati Allah (taqwa „alallah) yakni dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, sebagaimana yang tertera dalam

68 Haidari Putra Daulay, Pendidikan Islam…, h.

69 Al-Aliyy, Al-Qur‟an dan Terjemahannya. (Bandung Diponegoro, 2005), h. 336

70 Al-Aliyy, Al-Qur‟an dan Terjemahannya….h.451.

(47)

pedoman dasar hidup bagi setiap muslim yakni Al-Qur’an dan Al- Hadits. Tidak diragukan lagi bahwa segala perbuatan atau tindakan manusia apapun bentuknya pada hakekatnya adalah bermaksud mencapai kebahagiaan. Dalam Islam kebahagiaan, drajat yang tinggi yang ditempuh oleh manusia terletak pada akhlaknya. Dengan demikian, tujuan dari akhlak adalah hendak menciptakan manusia agar menjadi makhluk yang tinggi dan sempurna akhlaknya serta membedakannya dari makhluk-makhluk yang lain.

d. Jenis-jenis Akhlak

Akhlak dapat dibagi berdasarkan sifatnya dan berdasarkan objeknya. Berdasarkan sifatnya, akhlak terbagi menjadi dua bagian, Pertama, akhlak mahmudah (akhlak terpuji) atau akhlak karimah (akhlak mulia). Yang termasuk akhlak karimah, diantaranya:

Ridha kepada Allah, cinta dan beriman kepada Allah, beriman kepada Malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, takdir, taat beribadah, selalu menepati janji, melaksanakan amanah, berlakau sopan dalam ucapan dan perbuatan, qonaah (rela terhadap pemberian Allah), tawakkal (berserah diri), sabar, syukur, tawadhu’ (merendahkan hati), dan segala perbuatan yang baik menurut pandangan Al- Qur’an dan Hadist”.71

Kedua, akhlak mazmumah (akhlak tercela) atau akhlak sayyi’ah (akhlak yang jelek). Adapun yang termasuk akhlak mazmumah adalah:

“kufur, syirik, murtad, fasik, riya’, takabbur, mengadu domba, dengki

71 Rosihon Anwar, Akidah Akhlak…, h. 212

(48)

atau iri, kikir, dendam, khianat, memutus silaturrahmi, putus asa, dan segala perbuatan tercela menurut pandangan islam”.72

Berdasarkan objeknya akhlak dibedakan menjadi dua: Pertama, akhlak kepada Khaliq. Kedua, akhlak kepada makhluk, yang terbagi menjadi:

1) Akhlak kepada Rasulullah 2) Akhlak terhadap keluarga 3) Akhlak terhadap diri sendiri

4) Akhlak kepada sesama/orang lain dan 5) Akhlak terhadap lingkungan alam.73

e. Ruang Lingkup Pembelajaran Akidah Akhlak Kelas VIII MTs Adapun ruang lingkup materi pembelajaran Akidah Akhlak kelas VIII MTs pada semester ganjil adalah sebagai berikut:

1. Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT 2. Akhlak Terpuji Kepada Diri Sendiri 3. Akhlak Tercela Kepada diri Sendiri.74

Sedangkan ruang lingkup materi pembelajaran Akidah Akhlak kelas VIII MTs pada semester genap adalah sebagai berikut:

1. Iman Kepada Rasul-Rasul Allah SWT 2. Mukjizat dan Kejadian Luar Biasa 3. Akhlak Terpuji Kepada Sesama Manusia 4. Akhlak Tercela kepada Sesama Manusia.75

72 Ibid., h. 212

73 Ibid., h. 213.

74 Silabus Akidah Akhlak Kelas VIII MTs Darul Musthofa.

75 Silabus Akidah Akhlak Kelas VIII MTs Darul Musthofa.

(49)

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.

Yang dimaksud dengan pendekatan kualitatif atau penelitian kualitatif adalah:

penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena atau gejala atau peristiwa tentang yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, motivasi, tindakan, dan sebagainya, secara holistik, dan dengan cara deskriptif atau menggambarkan suatu peristiwa itu dengan kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.76

Penelitian kualitatif ini digunakan karena peneliti memaparkan data dalam bentuk kata-kata, mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah diperoleh.

2. Kehadiran Peneliti

Peneliti sebagai orang yang melakukan observasi mengamati dengan cermat terhadap obyek penelitian. Untuk memperoleh data tentang penelitian ini, maka peneliti terjun langsung ke lapangan. “Kehadiran peneliti dalam penelitian ini berperan sebagai instrumen kunci dalam pengumpulan data, maka kehadiran peneliti mutlak adanya di lapangan”.77 Sebelum peneliti hadir di lapangan peneliti memperoleh izin terlebih dahulu dari pihak-pihak atau instansi-instansi terkait yang bertanggung jawab sesuai dengan prosedur yang berlaku. Peneliti hadir sebagai

76 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2015), h. 6.

77 Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitan Pendidikan (Bandung : CV Pustaka Setia, 2004), h.10.

Gambar

Tabel 2. Keadaan Siswa-Siswi MTs Darul Musthofa

Referensi

Dokumen terkait

Keharmonisam keluarga untuk meningkatkan tingkah laku akhlak anak remaja yaitu mengajarkan anak remaja berbuat sopan kepada orang tua.5 Dengan adanya keharmonisan keluarga dapat

We have computed confidence intervals based on the Wald procedure, profile likelihood and bootstrap methods for the parameters of the model 3.1, based on the week 2 data in Table A3,