CACING TANAH
Pengelompokan Cacing tanah 1. Berdasarkan cara makannya
a. detritivor (pemakan sisa tanaman/serasah) b. Geophages (pemakan tanah)
2. Berdasarkan tipe ekologinya
a. Epigaisis (tipe serasah)
yaitu cacing yang hidup dalam serasah
permukaan, banyak ditemukan pada kedalaman lebih kurang 5 cm
Contoh. Dendrobaena octaedra, Allolobophora
caliginosa, A.chlorotica, A.rosea, Lumbricus castaneus, L.rumbellus.
b. Endogaisis (tipe tanah mineral)
yaitu yang aktif dalam lapisan tanah mineral, hidup pada lapisan permukaan hingga kedalaman 30 cm
dalam tanah
contoh. Lumbricus terestris
c. Anezisis (tipe penggali dalam)
yaitu yang hidup secara vertikal (bergerak dari
lapisan dalam dan lapisan tanah permukaan), mampu membuat lubang permanen, vertikal yang bisa mencapai kedalaman 1-2 m
Contoh. Allolobophora longa, A.nocturna, Eisenia rosa, Octolasion lacteum, O.cyaneum
Morfologi
-Bertubuh tanpa kerangka yang tersusun dari segmen-segmen
-Bersifat hemaprodit (mempunyai kelamin ganda). Meskipun demikian tetap diperlukan 2 ekor cacing untuk berkembang biak
-Bila dewasa bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelum (tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (selubung bulat) berisi telur dan ova (bakal telur)
-Pernafasan terjadi melalui kulit
-Dari saat telur menetas sampai cacing menjadi dewasa diperlukan waktu 6 – 18 Bulan.
Tanda panah menunjukkan posisi klitelum
Jenis dan Klasifikasi
Cacing tanah termasuk Invertebrata Phylum : Annelida
Ordo : Oligochaeta Kelas : Clitellata
- Berukuran beberapa cm sampai panjang > 2 m
Famili : Megadrilla ada 10 famili, berukuran lebih
besar, hidup di daratan, dikenal sebagai cacing tanah (earth worm)
Spesies : sekitar 1800 (umum dijumpai Lumbricus terrrestris berwarna merah dan Allolobophora
caleginosa berwarna merah jambu)
Famili : Microdrila ada 7 famili, berukuran lebih kecil, hidup di dalam air
Faktor-faktor ekologis
Faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi cacing tanah - Kemasaman (pH) tanah; umumnya cacing tanah hidup
pada pH sekitar 7 (contoh Eisenia futida), namun ada juga yang hidup pada pH masam (contoh Dendrobaena octaedra pH < 4,3);
Toleransi spesies cacing tanah berdasarkan kemasaman:
* Toleran (lebih tahan terhadap kemasaman):
Bimastos eiseni, D.octaedra, Lumbricus rubida, B. lonbergi, B.beddarti
* peka (tidak tahan terhadap kemasaman) : Allobophora caliginosa, A.nocturna,
A.chlorotica, A.longa, A.rosea
-Kelembaban tanah ; bervariasi tergantung spesies -Temperatur; bervariasi tergantung spesies (optimal
sekitar 20oC)
- Bahan organik (bervariasi tergantung spesies);
L.rubellus menyukai serasah segar, A.caliginosa menyukai serasah mulai melapuk
- Tekstur tanah (cacing tanah menyukai tanah dengan tekstur lempung)
- Suplai nutrisi
Semua hal tersebut di atas mempengaruhi distribusi cacing tanah disamping daya jelajah dari cacing tanah tersebut
A.caliginosa daya jelajah 6 m/th, A.chlorotica 4 m/th
CACING TANAH SEBAGAI BIOAMELIORAN
Amelioran adalah bahan yang dapat meningkatkan
kesuburan tanah secara fisik, kimia ataupun biologi tanah
A. Peran cacing tanah dalam siklus bahan organik
1. Fragmentor (menceraiberaikan bahan organik) 2. Pencerna dan pencampur bahan organik di dalam perutnya
3. Stimulator humifikasi (pembentukan humus) 4. Mineralisasi N (perombakan bahan bahan yang mengandung Nitrogen)
B. Sebagai Penyubur Tanah
1. Pendalaman solum tanah subur
- Perpindahan tanah lapisan bawah ke lapisan atas akibat pergerakannya
- Adanya liang yang dibuat cacing menyebabkan sistem aerasi dan drainase tanah menjadi lebih baik sehingga ketersediaan oksigen membaik
- Adanya aktivitas keluar masuk liang yang membawa serasah
- adanya sekresi lendir yang menempel pada dinding liang
- kotorannya dapat menjadi substrat dari mikrobia sehingga akan meningkatkan kesuburan biologis tanah
2. Agregasi dan Struktur tanah
- adanya sekresi internal yang menyemen (mengikat) partikel-partikel tanah pada saat melalui sistem
pencernaan cacing
- adanya Ca-humat yang disintesis dalam sistem
pencernaannya dari bahan organik yang sedang melapuk lewat aktivitas kelenjar kalsiferus Ca, yang berfungsi
sebagai penyemen partikel tanah
- adanya aktivitas bakteri pengahasil bahan-bahan penyemen (contoh. Perekat polisakarida)
Hal ini berdampak positif terhadap aerasi dan drainase tanah (menjaga ruang pori tetap baik, sehingga
membantu ketersediaan oksigen dan air bagi pertumbuhan tanaman)
3. Kotoran cacing dan ketersediaan hara
Kotoran hasil pencernaan cacing sebanyak 15
ton/ha/th selama periode 75 tahun dengan ketebalan 20 cm
*Bentuk kotoran cacing tergantung kepada spesiesnya Jumlahnya tergantung kepada habitatnya masing-
masing
C. Sebagai Pembenah tanah
Cacing tanah bisa diintroduksi
(dipindahkan/diinokulasikan) pada tanah-
tanah lain untuk meningkatkan kesuburan
tanah
Tabel . Produksi kotoran cacing pada berbagai habitat
Negara habitat Kotoran (ton/ha)
Jerman Kebun
Padang rumput Tanah lempung Tanah Pasir
91.6 91.4 5.2 5.8 Inggris Padang rumput tua 18.8-40.4
India Kebun (lempung berpasir) Padang rumput
1.4-5.0 3.9-77.8 Swiss Kebun
Padang rumput
17.8-91.2 17.8-81.0 Mesir Delta sungai Nil 268.2-2600
Sumber : Hanafiah, K.A., 2005
Tabel 3. Sifat kimia kotoran cacing dan lapisan tanah sekitarnya (Sumber : Lunt dan Jacobson (1994 dalam Hanafiah, 2005)
Sifat kimia Kotoran cacing Lapisan 0-15 cm
Lapisan 20-40 cm
N-Total (%) C-organik (%) Nisbah C/N Nitrat (ppm N) P-tersedia (ppm) K-tersedia (ppm) Ca-tertukar (ppm) Ca-total (%)
Nisbah Ca-tertukar : Ca Total
Mg tertukar (ppm) Mg-Total (%)
Nisbah Mg tertukar : Mg Total
KTK (me/100g) KB (%)
pH
0.35 5.17 14.7 21.9 150.0 358.0 2793.0
1.19 25.6 492.0 0.545 9.19 4.67 92.9 7.0
0.25 3.35 13.8 4.7 20.8 32.0 1993.0
0.88 24.4 162.0 0.511 3.24 3.82 74.1 6.36
0.08 1.11 13.8 1.7 8.3 27.0 481.0
0.91 6.1 69.0 0.548
1.29 1.63 55.5 6.05