• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen Tentang Hukum Perdata WARIS

N/A
N/A
inbom 123

Academic year: 2023

Membagikan "Dokumen Tentang Hukum Perdata WARIS"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Kelompok XIII

WARIS

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah : Hukum Perdata

Dosen Pengampu : Sabaruddin Ahmad, S.Sy., MH.

DISUSUN OLEH MAYA NUR HALIFAH

1902130041

M. FAQIHUDDIN IBNU SABIL 1902130028

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI PALANGKARAYA FAKULTAS SYARIAH

HUKUM EKONOMI SYARIAH KELAS B

2020 M/1441 H

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat , hidayah, dan inayah-Nya kepada kepada kami, sehingga kami bisa selesaikan makalah ini mengenai Waris. Makalah ini sudah selesai kami susun dengan bantuan dari berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah ikut berkontribusi didalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari seutuhnya bahwa masih jauh dari kata sempurna baik dari segi susunan kalimat maupun tatanan bahasanya.

Oleh karena itu kami sangat berharap saran dan kritik yang membangun dari pembaca sehingga kami bisa melakukan perbaikan makalah ini sehingga menjadi makalah yang baik dan benar.

Akhir kata kami meminta semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan serta wawasan baru bagi para pembaca dan terutama bagi diri kami sendiri. Sehingga kedepannya kami sanggup memperbaiki maupun meningkatkan isi makalah yang memiliki wawasan yang luas dan baik lagi.

Palangka Raya, Maret 2020

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI...ii

BAB I... 1

PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan... 1

D. Manfaat Penulisan... 2

E. Metode Penulisan... 2

BAB II...3

PEMBAHASAN... 3

A. Pengertian Waris... 3

B. Sistem Kewarisan...4

C. Harta Warisan... 5

D. Ahli Waris...5

Ahli Waris Hukum Perdata...6

Ahli Waris Hukum Islam... 8

BAB III...12

PENUTUP... 12

Kesimpulan...12

Saran... 12

DAFTAR PUSTAKA...13

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pada saat ini umat manusia sedang menghadapi tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern. Tak lupa pula hal-hal yang berkaitan dengan hukum, dimana didalamnya mengatur pola serta tingkah laku manusia seperti halnya dalam hukum perdata yang mengatur tentang waris didalamnya.

Mengenai waris itu sendiri kita perlu mengkaji lebih dalam dari hal pengertiannya kemudian bagaimana dengan sistem kewarisannya, pembagian siapa saja yang menjadi ahli waris serta berapa bagian yang akan didapat olehnya dan apa saja yang dapat menjadi harta warisan.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas kami ingin membahas lebih dalam mengenai :

1. Pengertian Waris.

2. Bagaimana dengan Sistem Kewarisan ? 3. Siapa itu Ahli Waris ?

4. Apa itu Harta Warisan ? C. Tujuan

1. Diharapkan pembaca dapat memahami apa itu waris.

2. Diharapkan pembaca dapat mengetahui bagaimana sistem kewarisan.

3. Diharapkan pembaca dapat mengetahui siapa itu ahli waris.

(5)

4. Diharapkan pembaca dapat mengetahui apa itu harta warisan.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan ini diharapkan akan dapat berguna dalam

 Memberikan kontribusi konsepsional mengenai pengetahuan hukum perdata bidang waris.

 Memberikan sumbangan pemikiran mengenai sistem kewarisan .

 Memberikan pandangan yang menyeluruh dan final mengenai ahli waris serta permasalahan-permasalahan seputar harta warisan.

E. Metode Penulisan

Metode pengkajian kerangka pengetahuan hukum perdata dibidang waris ini menggunakan metode studi pustaka yaitu menggunakan beberapa jenis buku untuk mendukung pemahaman mengenai bahasan ini baik berupa buku dalam bentuk konvensional maupun elektronik.

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Waris

Waris atau bisa disebut dengan Warisan merupakan harta peninggalan yang ditinggalkan seseorang dengan sebab meninggal dunia.

Warisan bisa segala sesuatu peninggalan baik asset maupun hutang yang ditinggalkan oleh pewaris (orang yang meninggal) dan diwasiatkan kepada ahli waris, wujud warisan tersebut dapat berupa harta (harta yang bergerak dan harta tidak bergerak) dan termasuk juga hutang (kewajiban). Harta yang bergerak seperti kendaraan, logam mulia, sertifikat deposito dan lain sebagainya. Harta tidak bergerak seperti rumah dan tanah. Hutang seperti hutang kepada pihak ke bank, saudara dan lain sebagainya. Jadi warisan tidak selalu hal-hal yang dapat mensejahterakan kepada orang yang mewarisinya, namun juga berupa tanggung jawab yang belum selesai yang harus diselesaikan oleh ahli warisnya.

Warisan sendiri juga dapat menyelesaikan masalah namun juga bisa menjadi penambah masalah bagi keluarga yang ditinggalkan. Hal tersebut dikarenakan perbedaan pendapat mengenai pembagian tanggung jawab hingga pembagian harta waris. Pewaris tidak boleh seenaknya sendiri dalam membagi waris, ahli waris juga tidak bisa menuntut untuk minta bagian tertentu atau lebih besar. Dan untuk membagi warisan dengan adil maka sudah ditetapkan dalam kitab undang-undang hukum perdata mengenai warisan tersebut.

(7)

Hukum waris merupakan suatu hukum yang mengatur peninggalan harta seseorang yang telah meninggal dunia diberikan kepada yang berhak, seperti keluarga dan masyarakat yang lebih berhak.1 Di Indonesia sendiri terdapat 3 (tiga) sistem pewarisan, yaitu hukum waris adat, hukum waris perdata dan hukum waris Islam. ketiganya memiliki beberapa perbedaan mengenai unsur-unsur pewarisan, salah satunya yaitu mengenai ahli waris. Dalam hal ini kami menjelaskan hukum waris perdata sesuai dengan kitab undang-undang hukum perdata, serta hukum waris Islam yang sesuai dengan Al-qur’an dan Hadist.

B. Sistem Kewarisan

Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata ada dua cara untuk mendapatkan warisan, yaitu:

 Sebagai ahli waris menurut Undang-undang.

 Karena ditunjuk dalam surat wasiat (testament).

Cara yang pertama dinamakan mewarisi menurut Undang-undang atau “ab intestato” dan cara yang kedua dinamakan mewarisi secara

“testamentair”. Dalam hukum waris berlaku suatu asas, bahwa hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan. Dengan kata lain hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dinilai dengan uang saja.2

C. Harta Warisan

1Ter Haar.Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Diterjemhakan oleh K. Ng. Soebekti Proesponoto.

Jakarta: Pradnya Paramita, 1982. Hal. 231.

2Subekti.Hukum Perjanjian. Cet.19. Intermasa: Jakarta, 2002. Hal. 95

(8)

Kata “warisan” diambil dari Bahasa Arab—Al-miirats—yang artinya perpindahan sesuatu kepada orang atau kaum lain. Bentuk warisan tersebut bisa bermacam-macam, antara lain pusaka, surat wasiat, dan harta.

Biasanya dibuat ketika pemilik masih hidup, lalu dibagikan ketika ia meninggal dunia.

Dalam istilah fara’id, harta warisan disebut juga tirkah atau peninggalan. Kata ini berarti segala sesuatu yang diwariskan oleh seseorang setelah meninggal dunia. Sementara tirkah dimaknai sebagai harta si mayit sebelum digunakan untuk pemakaman, pelunasan utang, serta wasiatnya. Kalau sudah dikurangi semua itu, artinya harta siap dibagikan (al-irst).

Jika wujud warisan tersebut berupa harta, ada dua jenis yang bisa dibagikan kepada ahli waris. Pertama adalah harta bergerak berupa kendaraan, sertifikat deposito, dan logam mulia. Sebaliknya, kekayaan tidak bergerak berbentuk rumah, tanah, serta utang.

D. Ahli Waris

Ahli waris merupakan orang yang menerima harta warisan. Sudah diatur ketetapan dan ketentuannya dalam hukum waris adat, hukum waris perdata, dan hukum waris Islam, dimana ketiganya memiliki konsep yang berbeda, seperti hukum waris perdata yang menyatakan bahwa “Seseorang menjadi ahli waris menurut hukum waris perdata disebabkan oleh

(9)

perkawinan dan hubungan darah, baik secara sah maupun tidak. Orang yang memiliki hubungan darah terdekatlah yang berhak untuk mewarisi.”3

Ahli Waris Hukum Perdata a) Golongan ahli waris :

1. Ahli waris golongan I

Ahli waris yang termasuk golongan ini ialah mereka anak-anak pewaris yang meliputi keturunannya dalam garis lurus ke bawah dan janda/duda. Pada golongan ini dimungkinkan terjadinya pergantian (seorang cucu yang menggantikan anak yang telah meninggal terlebih dahulu dari si pewaris) dengan catatan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menggantiakan tempat seseorang yang masih hidup, misalnya seorang anak yang menggantikan hak waris ibunya yang masih hidup, dan jika sang ibu menolak menerima warisan maka sang anak hanya bertindak sebagai diri sendiri dan bukan menggantikan kedudukan ibunya.4

2. Ahli waris golongan II

Ahli waris yang termasuk dalam golongan ini ialah ayah, ibu, dan saudara-saudara pewaris.

3. Ahli waris golongan III

Dalam hal ini yang termasuk ialah kakek dan nenek dari garis ayah serta kakek dan nenek dari garis ibu.

4. Ahli waris golongan IV

3Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 852

4Ibid, Pasal 847

(10)

Pada golongan terakhir ini yang menjadi ahli waris ialah sanak saudara dari ayah dan sanak saudara dari ibu sampai derajat ke enam.

b) Syarat-syarat menjadi ahli waris yaitu : 1. Memiliki hak atas harta

- Ab intestato, atau ahli waris yang mendapatkan bagian menurut ketentuan yang diatur dalam undang-undang sebagaimana golongan I sampai dengan IV.

- Testamener, atau ahli waris yang mendapatkan bagian berdasarkan wasiat dari pewaris yang dibuat semasa hidupnya.

- Anak yang masih dalam kandungan ibunya, maka dianggap telah dilahirkan apabila untuk kepentingan si anak dalam menerima bagian dalam harta warisan.5

2. Orang yang tidak berhak menjadi pewaris

- Mereka yang telah dihukum karana membunuh atau melakukan percobaan pembunuhan terhadap pewaris.

- Mereka yang pernah divonis bersalah karena memfitnah pewaris serta melakukan kejahatan yang diancam hukuman lima tahun atau lebih.

- Mereka yang mencegah pewaris untuk membuat atau mencabut surat wasiat.

(11)

- Mereka yang terbukti menggelapkan, merusak, atau bahkan memalsukan surat wasiat dari pewaris.6

c) Hak yang dimiliki oleh ahli waris ialah :

 Hak untuk menuntut pemecahan harta peninggalan.

Kesepakatan untuk tidak membagi warisan ialah dalam waktu lima tahun, setelah itu dapat diadakan kesepakatan kembali diantara para ahli waris.7

 Hak saisine

Seseorang yang dengan sendirinya karena hukum mendapatkan harta benda, segala hak, dan piutang dari pewaris, namun seseorang dapat menerima atau menolak bahkan mempertimbangkan untuk menerima suatu warisan.8

 Hak beneficiary

Hak untuk menerima warisan dengan meminta pendaftaran terhadap hak dan kewajiban, hutang, serta piutang dari pewaris.9

 Hak hereditas petitio

Hak untuk menggugat seseorang atau ahli waris lainnya yang menguasai sebagian atau seluruh harta warisan yang menjadi haknya.10

Ahli Waris Hukum Islam

6Ibid, Pasal 838

7Ibid, Pasal 1066

8Ibid, Pasal 833

9Ibid, Pasal 1023

10Ibid, Pasal 834

(12)

Dalam hukum waris Islam menjelaskan beberapa point mengenai siapa saja yang menjadi ahli waris seperti orang yang mempunyai hak sebagai ahli waris dalam hukum Islam dibagi menjadi 4 (empat) faktor utama yaitu :

a. Adanya perkawinan, suami ahli waris istri dan begitu pula sebaliknya istri ahli waris suami.

b. Adanya nasab atau hubungan darah.

c. Wala’ atau orang yang telah memerdekakan budak, dan dia tidak meninggalkan ahli warisnya.

d. Hubungan secara Islam, orang Islam yang meninggal dunia tidak meninggalkan ahli waris, dan harta warisannya diserahkan kepada baitul mal untuk kepentingan umat Islam.11

Dalam hal ini di Indonesia telah disepakati bahwa point ke tiga mengenai perbudakan tidak ada. Kemudian mengenai ahli waris yang berdasarkan nasabnya merupakan mereka yang mendapatkan hak harta warisan karena adanya hubungan darah dengan pewaris. Selanjutnya jika memperhatikan mengenai ahli waris ini, maka akan terbagi menjadi tiga yaitu :

a. Hubungan garis keturunan ke bawah.

Keturunan pewaris yang terdiri dari anak, cucu, cicit, dan seterusnya ke bawah, baik laki-laki maupu perempuan.

b. Hubungan garis keturunan ke atas.

(13)

Keturunan ke atas seperti ayah dan ibu, kakek dan nenenk, buyut laki-laki dan perempuan, sampai kesepuluh dalam budaya jawa sendiri disebut sebagaisimbahgalih asem.

c. Hubungan garis keturunan kesamping.

Keturunan ke samping merupakan anak beserta keturunan dari saudara pewaris baik laki-laki maupun perempuan, pewaris beserta keturunannya yang disebut keponakan pewaris, disamping itu juga termasuk saudara laki-laki maupun

perempuan ayah atau ibu yaitu paman dan bibi beserta keturunannya.

Berdasarkan pengelompokan ahli waris di atas maka dalam kompilasi hukum Islam dapat di buatkan tabel mengenai hak yang akan didapatkan oleh pewaris yaitu :

SEBAB HUBUNGAN

AHLI

WARIS SYARAT

PEROLEHAN HARTA

WARIS

DASAR HUKUM Qur’an /

Hadits

Pasal KHI A

Perkawinan

1. Istri / Janda Bila tidak ada anak/cucu

1/4 An-Nisa:

12

180 Bila ada

anak /cucu

1/8 2. Suami /

Duda

Bila tidak ada anak/cucu

1/2 An-Nisa:

12

179 Bila ada

anak/cucu

1/4 B Nasab /

Hubungan Darah

1. Anak Perempuan

Sendirian 1/2 An-Nisa:

11

176 Dua atau

lebih 2/3

2. Anak

Laki-laki Sendirian Ashobah (sisa seluruh harta setelah dibagi

An-Nisa:

2/1 antara 11

(14)

pembagian lain) laki-laki

dan

perempuan 3. Ayah

Kandung

Tidak ada anak/cucu

1/3 An-Nisa:

11

177 Ada

anak/cucu

1/6 4. Ibu

Kandung Tidak ada

anak/cucu 1/3 An-Nisa:

11 178

Ada

anak/cucu 1/6 Bersama

ayah kandung

1/3 dari sisa sesudah diambil istri/janda atau suami/ duda 5. Saudara

laki-laki atau perempuan se-ibu

Sendirian 1/6 An-Nisa:

12

181 Dua atau

lebih

1/3 6. Saudara

perempuan kandung atau se-ayah

Sendirian 1/2 An-Nisa:

12 Dua atau

lebih

2/3 7. Saudara

laki-laki kandung atau se-ayah

Sendirian Ashobah (sisa seluruh harta setelah dibagi dengan

pembagian lain)

An-Nisa:

12 2/3 laki-laki

dan

perempuan 8. Cucu /

keponakan (anak saudara)

Menggantik an

kedudukan orangtuanya yang

menjadi ahli waris

Sesuai yang diganti kedudukanya sebagai ahli waris

Ijtihad 185

(15)

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Hukum waris berbicara mengenai pengertian tentang apa itu waris dari segi hukum, karena di Indonesia sendiri terdapat 3 (tiga) hukum waris yaitu hukum waris Islam, hukum waris adat, dan tentu saja hukum waris perdata.

Hukum waris perdata mengacu pada kitab undang-undang hukum perdata, baik dari sistem kewarisannya, kemudian pembagian ahli waris serta bagian yang akan didapatkan dan tak lupa pula dengan apa saja yang termasuk kedalam harta warisan terdiri dari harta (kekayaan) serta piutang (kewajiban) yang di tinggalkan oleh pewaris kepada si ahli waris. Sedangkan dalam hukum waris Islam menerangkan pembagian waris berdasarkan Al-qur’an dan Hadits mulai dari pengertiannya, kemudian sistem kewarisannya, pembagian ahli waris serta bagian yang akan didapatkan serta hal apa saja yang bisa dikategorikan sebagai harta warisan.

Saran

Dalam penulisan ini kami penulis memiliki beberapa point yang menjadi perhatian terpenting yaitu mengenai literasai tentang waris terutama di point berapa bagian ahli waris dan siapa saja yang menjadi ahli waris, karena masih banyak yang kurang memahami pembagian terutama dibagian nasab keluarganya sendiri. Serta bagi instansi terkait yang berkaitan dengan hukum perdata setidaknya bisa mengadakan program literasi kepada masyarakat sekitar mengenai waris tersebut.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Subekti.Hukum Perjanjian. Cet.19. Intermasa: Jakarta, 2002.

Fuady, Munir.Konsep Hukum Perdata.Cet. 1. Rajawali Pers: Jakarta, 2014

Tutik, Titik Triwulan. Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional. Kencana:

Jakarta, 2010.

Diterjemahkan oleh R. Subekti dan R. Tjitrosudibio Kitab Undang – Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) Pasal 2, 833, 834, 838, 847, 852, 1023, 1066, cetakan ke – 36, Jakarta, Pradnya Paramita, 2005.

Ter Haar. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Diterjemhakan oleh K. Ng.

Soebekti Proesponoto. Jakarta: Pradnya Paramita, 1982.

Hadikusuma, Hilman.Pengantar Hukum Adat.Maju Mundur: Bandung, 1992.

Subekti.Pokok-pokok Hukum Perdata.PT. Intermasa: Jakarta, 1987

https://m.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4ecc7cf50640b/empat-golongan- ahli-waris-menurut-kuh-perdata/diakses tanggal 8 Maret 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Kedudukan anak perempuan dalam sistem waris adat Bali adalah anak perempuan tidak mempunyai hak sebagai ahli waris terhadap harta warisan orang tuanya sesuai dengan

Keterangan dari Bapak Mudzani, bahwa pembagian waris secara perdamaian yang mereka gunakan biasanya berujung pada kesepakatan untuk membagi sama rata antara ahli waris

Dengan demikian Allah menetapkan bahagian harta warisan melalui dua sebab yaitu; pertama berdasarkan kedekatan ahli waris dengan sipewaris, maka anak mendapat hak

membagi harta warisan dari Almarhumah Asnah kepada ahli waris menurut undang-undang saja yang mana masing-masing mendapatkan 1/5 bagian, sedangkan di dalam

Contoh: Jika pewaris meninggalkan satu orang istri dan 2 orang anak, maka masing2 ahli waris tersebut akan mendapat harta waris yang dibagi rata, yaitu

Menurut syariat Islam istri tersebut tidak berhak menjadi ahli waris, karena hal-hal yang menghalangi ahli waris dalam menerima warisan adalah salah satunya perbedaan agama

pembagian warisan secara hukum perdata barat lebih menekankan memberikan hak waris kepada keluarga yang sedarah atau yang terikat perkawinan, hal ini dianggap

ahli waris mewarisi secara individu, sistem kewarisan kelompok dimana para ahli waris secara kolektif bersama-sama mewarisi harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi kepemilikannya