BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia adalah negara kepulauan, yang terdiri dari pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian, dan masih banyak kepulauan kecil yang termasuk dalam wilayah kenegaraan Republik Indonesia.
Salah satu pulau di Indonesia adalah pulau Kalimantan yang lazim disebut
“Borneo” dan berada di garis khatulistiwa, terkenal dengan sebutan “Jamrud”
khatulistiwa. Pulau Kalimantan terdiri dari 4 bagian; yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, selain empat wilayah yang termasuk dalam wilayah kenegaraan Republik Indonesia (Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan), daerah yang berada di pulau Kalimantan adalah Sabah, Serawak, dan Brunai Darussalam. Ketiga daerah ini (Sabah, Serawak, dan Brunai Darussalam) bukanlah bagian dari Negara Republik Indonesia, akan tetapi merupakan bagian dari Negara Malaysia.
Kalimantan terbagi atas empat wilayah propinsi yaitu propinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, dengan masing-masing Ibukota ; Samarinda (Kalimantan Timur), Pontianak (Kalimantan Barat), Palangkaraya (Kalimantan Tengah), dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan).
Propinsi Kalimantan Timur yang memiliki luas wilayah kurang lebih 211.440 Km2 terletak di daerah katulistiwa antara 113.44’ bujur timur dan 119.00’
Bujur barat dan 4.241 – 2.25 lintang utara. Dibagian sebelah utara berbatasan dengan Negara Sabah / Malaysia. Sebelah timur membentang dataran rendah sepanjang lebih kurang 500 mil menyusuri pantai laut selatan dan selat Makasar, yang merupakan perbatasan disebelah timur, sedangkan sebelah barat membentang dinding pegunungan Iban dan pegunungan Muller, sebelah timur berbatasan dengan laut Sulawesi dan selat Makasar yang merupakan alur perhubungan strategis untuk perdagangan lintas nasional dan internasional.
Kondisi geografis Kalimantan Timur terdiri dari dataran rendah, perbukitan dan pegunungan. Di sebelah barat terdapat bentangan pegunungan Iban dan pegunungan Muller, yang merupakan batas alam dan wilayah Sabah / Malaysia Timur. Di sebelah selatan membujur pegunungan Muller yang merupakan batas alam dengan propinsi Kalimantan Selatan. Selanjutnya beberapa pegunungan dan gunung-gunung yang berada di bagian tengah, dengan beberapa puncak gunung yang tinggi, merupakan batas alam bagi daerah kabupaten dan kota. Hamparan dataran rendah terdapat pada daerah aliran sungai yang mengalir di antara daerah pegunungan tersebut.
Kalimantan Timur mempunyai sejarah tersendiri, berbeda dengan propinsi- propinsi lainnya di Negara Indonesia ini. Perkembangan sejarah politik dan budaya tersebut antara lain adanya kerajaan tertua (abad ke IV) yaitu kerajaan Mulawarman yang terletak di Muara Kaman, dengan raja yang terkenal, Mulawarman Nala Dewa. Kekuasaan raja Mulawarman ini terus belangsung secara turun temurun hingga keturunannya yang ke – 25, raja yang bernama Maharaja Derma Setia (Abad ke XIII) dengan kerajaan Kutai Ing Martapura.
Menjelang kepudaran kerajaan tersebut telah berdiri beberapa kerajaan di Kalimantan Timur, diantaranya adalah kerajaan Kutai Kartanegara (Dijaitan Layar), Kerajaan Berau, Kerajaan Bulungan,dan Kerajaan Pasir. Semua kerajaan- kerajaan tersebut berlangsung dan memerintah diwilayahnya masing-masing tanpa ada peperangan diantara mereka. Hingga masuknya Belanda dan menjajah Kalimantan Timur ini pada tahun 1844. Kemudian Jepang pada tahun 1941 – 1945. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan dilakukan oleh seluruh rakyat, bahkan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan itu sendiri, puncaknya pada peristiwa Sanga-Sanga (Januari 1947). Sementara federasi Kalimantan Timur yang di bentuk Belanda merupakan gabungan 4 kerajaan di Kalimantan Timur, malah menjadi bumerang bagi Belanda sendiri karena bukan negara federasi yang terbentuk, ke 4 kerajaan tersebut menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia di Yogyakarta (April 1947). Sistem pemerintahan pun mengalami transisi, dari mulai kerajaan, kemudian menjadi daerah istimewa (1956), dan akhirnya menjadi kabupaten (1960). Kerajaan yang 4 semula menjadi kabupaten Kutai, kabupaten Berau, kabupaten Pasir, dan kabupaten Bulungan,
dan ditambah kotapraja Samarinda dan kotapraja Balikpapan. Semua kabupaten dan kotapraja tersebut berada di bawah naungan propinsi Kalimantan Timur (Januari 1957).
Masalah ini diangkat dari persoalan kebudayaan khas Kalimantan Timur.
Budaya yang diangkat dari peradaban suku asli Kalimantan Timur atau lebih dikenal dengan sebutan suku Dayak. Kebudayaan sendiri adalah adat istiadat, kebiasaaan dan tata cara hidup suatu masyarakat.
Berbagai ragam kebudayaan lahir di Negara Indonesia yang merupakan Negara Kepulauan. Wujud dari kebudayaan seperti yang dikatakan oleh Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi (2000 : 186) ada tiga, salah satunya adalah wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Salah satu aspek kebudayaan yang telah diwujudkan adalah kesenian, yang dijadikan ciri khas dari masing-masing suku di Indonesia, khususnya suku Dayak yang ada di Kalimantan. Salah satu bentuk kesenian itu adalah seni ragam hias. Yang menjadi simbol dan ciri khas dari masing-masing suku Dayak.
Ragam hias suku Dayak Kalimantan Timur mempunyai pola khas tersendiri dan disetiap pola / bentuk seni ragam hiasnya mengandung arti tersendiri pula. Ragam hias itu sendiri telah menjadi suatu simbol yang memiliki makna luhur. Ragam hias suku Dayak Kalimantan Timur memiliki tingkat keunikan dan kerumitan yang berbeda dengan seni ragam hias daerah lainnya seperti daerah kepualuan Jawa, Sumatra dan lainnya. Seperti contohnya dapat kita lihat dalam motifnya, ragam hias dari pulau Jawa lebih banyak menggunakan alur daun atau garis melengkung yang menyerupai sulur tanaman, awan, dan lain sebagainya, sedangkan daerah Sumatra, ada beberapa yang menggunakan simbol hewan, tetapi juga banyak yang cenderung menggunakan motif seperti halnya di Pulau Jawa.
Pembahasan ini dimaksudkan agar masyarakat luas dapat lebih mengenal seni ragam hias yang ada di suku Dayak, yang terutama terdapat dalam ragam hias kain, pakaian, di bangunan dan bahkan sebagai tatoo di anggota tubuh.
Suku Dayak sendiri adalah penduduk yang konon datang dari daerah bagian Utara dan Selatan Pulau Kalimantan. Di Kalimantan Timur, suku Dayak terbagi atas 6 rumpun suku Dayak, yaitu suku Dayak Bahau, suku Dayak Kenyah,
suku Dayak Kayan, suku Dayak Banua, suku Dayak Tunjung, dan suku Dayak Punan. Mereka tersebar luas di seluruh wilayah Kalimantan Timur. Suku Dayak Bahau dan suku Dayak Kenyah yang berasal dari Utara wilayah Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Sementara suku Dayak Banua, suku Dayak Tunjung dan suku Dayak Punan berasal dari daerah Selatan (selat Malaka).
1.2. Identifikasi Masalah
Cerminan bahwa suku Dayak Bahau bukanlah lagi menjadi suatu suku yang terisolasi, seperti yang diungkapakan oleh Dr. Yekti Maunati (2004 : 7) bahwa Pemerintah Orde Baru juga telah mengadopsi representasi tentang orang- orang Dayak ini sebagai sebuah masyarakat yang primitif, tidaklah benar. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai media dan cara untuk mengangkat kebudayaan Dayak dalam berbagai aspek dan kesempatan.
Dengan adanya perkembangan teknologi dan perubahan waktu, banyak hal telah berubah di sistem kehidupan masayarakat Indonesia, salah satunya dalam sistem tata kehidupan masyarakat Dayak. Berbagai fenomena sosial muncul dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan modernisasi.
Sementara itu bentuk-bentuk ragam hias yang dimiliki suku Dayak Bahau Kalimantan Timur yang tidak jauh berbeda dengan daerah Kalimantan lainnya, akan tetapi tetap saja memiliki ciri khas tersendiri pun telah terkena imbas adanya perkembangan IPTEK.
Kita akan mendapati bahwa keunikan ragam hias suku Dayak Bahau kini tidak hanya dapat dilihat ditempat asalnya yaitu desa Tering, kecamatan Long Iram, kabupaten Kutai. Tetapi ragam hias ini sudah mulai keluar dari tempat beradanya suku Dayak Bahau, karena salah satu bangunan yang dimiliki oleh pemerintahan kota Samarinda, memakai ragam hias suku Dayak Bahau pada ornamen bangunannya. Apa yang terjadi pada ragam hias suku Dayak Bahau ini, dengan adanya perkembangan teknologi dan perubahan waktu. Akankah tetap berupa ragam hias yang mengandung arti dan niali filosofi, seperti halnya ketika ragam hias ini diciptakan.
Perkembangan dan perubahan waktu, telah membuat ragam hias suku Dayak Bahau tidak hanya digunakan oleh suku Dayak Bahau itu sendiri, tetapi oleh pemerintah kota Samarinda juga telah diterapkan pada salah satu ornamen bangunan pemerintahannya. Gedung yang dimaksud adalah gedung serba guna BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita) yang terletak di jalan M. Yamin No. 04 Samarinda Kalimantan Timur.
1.3. Perumusan Masalah
Dari uraian identifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan sebagai berikut.
Bagaimana bentuk dan fungsi seni ragam hias suku Dayak Bahau setelah diaplikasikan pada bangunan gedung serba guna BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita) ?
1.4. Pembatasan Masalah
Berbagai corak ragam hias yang tercermin pada ornamen bangunan, pakaian, tatoo, pernak pernik hiasan yang biasa dipakai oleh para wanita suku Dayak Bahau, alat-alat perang dan berburu, peralatan untuk membuat anyaman, alat musik, serta peralatan rumah tangga lainnya.
Ada berbagai macam jenis bentuk ragam hias yang dimiliki oleh suku Dayak Bahau, sesuai dengan fungsi dimana diletakannya ragam hias ini. Tetapi ragam hias yang di bahas dalam penulisan ini hanya ragam hias Naga Asoq yang terdapat pada ornamen bangunan adat suku Dayak Bahau, yang kemudian diaplikasikan pada salah satu bangunan pemerintah samarinda, yaitu gedung serba guna BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita).
1.5. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian sebagai sarana untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi, digunakan metode penelitian kualitatif, yang mengukur suatu permasalah bukan dengan banyaknya jumlah yang dapat dihitung, tetapi seberapa besar permasalahan yang akan dibahas. Alasan menggunakan metode
penelitian kualitatif karena masalah ini berkaitan dengan ilmu sosial, yang melihat perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Untuk menganalisis masalah-masalah yang dikemukakan, maka digunakan tehnik analisis Deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan informasi yang relevan dengan permasalahan penelitian.
Dan untuk mengetahui seni ragam hias suku Dayak dan perbedaannya dengan seni ragam hias suku bangsa lainnya, dilakukan langkah-langkah berikut;
setelah data-data yang berhubungan dengan objek penelitian diperoleh, maka untuk selanjutnya data-data tersebut diolah untuk dianalisis.
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penyusunan Skripsi ini, tentunya penulis menggunakan teknik-teknik pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Studi lapangan
Yaitu suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari hasil penelitian langsung melalui :
Wawancara langsung dengan nara sumber yang berada di lingkungan objek penelitian yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas. Salah satunya adalah Bapak Risyahibban, beliau adalah penulis buku “Album Ragam Hias Suku Modang”, Bapak Sarnawi atau biasa disebut Pak Nawi, beliau adalah salah satu dosen pengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Samarinda.
Penulis juga melakukan wawancara melalui pesawat telepon bersama Bapak Mohammad Helmi, beliau adalah salah seorang pegawai di gedung BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita), dan ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (P3M) dari Politeknik Negeri Samarinda, yang juga salah satu dosen diperguruan tinggi di Samarinda dan merupakan orang asli Samarinda.
Observasi, yaitu dengan melakukan peninjauan secara langsung pada objek yang diteliti untuk mengatahui lebih jauh gambaran
tentang seni ragam hias suku Dayak Bahau yang sesungguhnya.
Tepatnya di desa Tering, kecamatan Long Iram, kabupaten Kutai, Kalimantan timur.
2. Studi pustaka
Yaitu suatu cara pengumpulan data melalui studi kepustakaan / studi literatur dengan melihat buku-buku referensi, data kebudayaan, pendapat, artikel-artikel surat kabar dan literatur lainnya. Untuk mendapatkan dasar pengertian serta teori-teori yang diperlukan sebagai pelengkap data utama yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.
Menurut Dr. Yekti Maunati (2004 : 249) masyarakat Dayak telah menjadi sasaran wisata etnik di Kalimantan Timur. Orang dapat dengan mudah menemukan artefak-artefak Dayak dipotret pada berbagai jenis produk. Sementara Victor King (1993) mencatat bahwa selain memiliki makna ritual, ukiran kayu, lukisan, tenunan, dan benda-benda Dayak lainnya juga dijual sebagai cindeamata.
1.6. Maksud dan Tujuan
Maksud penelitian ini adalah untuk mencari data dan informasi yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini. Dan pengembangan studi mengenai kebudayaan daerah, khususnya Kalimantan Timur yang dihuni oleh suku Dayak.
Serta memahami ragam hias yang dimiliki oleh suku Dayak, khususnya suku Dayak Bahau Kalimantan Timur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi dalam kebudayaan suku Dayak Bahau, khususnya dalam ragam hias suku Dayak Bahau. Dan fenomena apa yang terjadi pada perkembangan kebudayaan yang mempengaruhi perubahan serta pergeseran nilai dan fungsi, serta bentuk visual dari ragam hias suku Dayak Bahau.
1.7. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan terutama di bidang ilmu desain dan seni, khususnya tentang ragam hias pada ornamen banguanan, ditinjau dari segi visual.
Menambah pengetahuan khasanah budaya tentang ragam hias yang dimiliki oleh suku bangsa di Indonesia, khususnya suku Dayak Bahau Kalimantan Timur. Dan penelitian ini juga diharapkan bisa menambah pengetahuan tentang khazanah kebudayaan yang ada di Indonesia.
1.8. Sistematika Penulisan
Bab 1 membahas tentang latar belakang, identifikasi, perumusan masalah, pembatasan masalah, metode penelitian, maksud dan tujuan, serta manfaat penulisan.
Bab 2 membahas tentang pengertian ragam hias juga membahas tentang Ragam hias suku Dayak Bahau, dan jenis-jenis ragam hias suku Dayak Bahau, serta mengkaji ragam hias suku Dayak Bahau yang paling utama, yaitu Naga Asoq ditinjau dari segi visual.
Bab 3 membahas aplikasi ragam hias pada ornamen bangunan suku Dayak Bahau dan membahas tentang aplikasi seni ragam hias suku Dayak Bahau pada ornamen bangunan pemerintahan kota Samatrinda, dalam hal ini adalah gedung serba guna BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita).
Bab 4 membahas tentang pergeseran nilai makna dan fungsi ragam hias suku Dayak Bahau setelah diaplikasikan pada bangunan pemerintahan kota Samarinda, serta perubahan bentuk ragam hias suku Dayak Bahau setelah diaplikasikan pada bangunan pemerintahan kota Samarinda.
Bab 5 membahas tentang kesimpulan dan saran.